Caparison ‘sepertinya’ lebih mengkhususkan diri ke gitar-gitar ‘heavy metal’ , Untuk artisnya sendiri Caparison cenderung memilih yang berasal dari ‘aliran garis keras’ seperti Michael Romeo, Cristopher Amott, Mattias Eklundh, Adam Dutkiewicz, James Murphy dan lain-lain.
Saya mencoba Dellinger pertama kali dengan memakai setting amp yang sama seperti saya memainkan Ibanez. Tidak ada yang dirubah sama sekali. Setelah tune yang benar, barulah saya pindah ke distortion channel dengan langsung nge-jreng open chord. Kesan pertama ... holy shit! Tone-nya berotot sekali! Output yang dihasilkan pick up bridge sangat kuat! Maybe ... just maybe ... setara dengan pick up X2N Dimarzio.
Tone gitar ini tidak ‘bassy’ walaupun memakai Mahogany, tapi bright dengan punch yang optimal, mungkin fretboard Ebony memberi kontribusi yang sangat besar untuk kadar brightness ini. Intinya untuk memainkan plam mute yang chunky dengan Dellinger akan memberikan kepuasan yang maksimum! Gitar ini memang dibuat untuk memainkan chunky ritem seperti jenis musik modern heavy metal seperti yang sedang ‘in’ sekarang ini.
Tidak ada note yang blur walaupun kita strumming dengan memakai emosi yang tinggi. Semuanya keluar tegas, padat, dan fokus. Ketika dicoba bermain solo, tone Dellinger tetap berotot. Baik pick up bridge maupun neck sama-sama mempunya output yang besar. Bisa dikatakan note-note tingginya tajam dan sadis. Tidak ada kesan warm seperti RG (ini yang saya missing dari Dellinger). Somehow, untuk soloing saya lebih prefer ke tone warm, tidak tajam, but… this is Caparison, you are now in different world.
Ketika dicoba tone beningnya dengan switch ke clean channel, in full humbucker model, Dellinger biarpun high output ternyata tidak kotor. Tone-nya padat, fat, tapi tidak kotor. But hey! Siapa yang mau memainkan petikan dengan full humbucker? Jadi saya tidak akan bahas lebih jauh lagi.
Pindah ke coil split dengan menekan knob tone-nya, di posisi humbucker bridge, tone-nya seperti pick up single di strat bridge, cukup twanggy tapi maintain power, bening dan berotot. Sayangnya untuk coil split di posisi middle, well ... I don’t know how to describe it. I never like ‘in between ‘ sound anyway, tapi yang pasti tone tetap bulet dan padat, namun tidak fokus! Hal ini tidak terjadi ketika di-set pada coil split di neck pick up. Tone pada setting ini ternyata enak untuk memainkan petikan bening. Soft-nya membuat kita ingin berlama-lama bermain petikan. Padahal sebenarnya gitar ini bukan dibuat untuk itu.
Kesimpulannya, dari sisi konstruksi Caparison Dellinger II sangat solid, beautiful craftsmanship, not a child’s play. Untuk tone, Dellinger II, 80%-nya digunakan untuk jenis musik metal dan sisanya untuk jenis musik lainnya. Tapi dengan coil splitter, Caparison Dellinger II sebenarnya bisa digunakan untuk jenis musik apapun. Dan yang terpenting, playbility Caparison Dellinger II sangat superb!
PS : @ Sepenth surepenth , Lo cobain dah guitar Ini...