Aku pernah punya sepatu. Pemberian ibu. Warnanya putih susu dengan bulatan bola warna merah di ujungnya. Lucu. Manis. Cocok di kakiku yang emang tawar. Jadi, kalo manis dicampur ke dalam sesuatu yang tawar, hasilnya pasti takkan mengecewakan! Iya kan, Mbak, Mas Koki???
Sepatu itu aku lihat pertama kali di situs i-bei, sebuah portal penjualan barang- barang langka. Penjualnya ada di Pasar Minggu, Jakarta. Aku yang emang seorang penggemar sepatu, tentu saja nggak bisa nahan keinginan untuk tidak segera membeli barang kesukaanku tersebut. Maka, malam itu, setelah mematikan komputer, aku langsung ngacir nyari ATM. Mau nyairin uang. Sekalian nikmatin udara segar. Aku belum ngantuk.
Tapi, trouble!!! Pin-ku ditolak. Uangku nggak bisa cair. Nggak tahu kenapa. Pada mesin ATM-nya ada konfirmasi gitu kalo UANG BUKANLAH BENDA CAIR. So, aku pun nyari mesin ATM yang lain. Ternyata, sama saja. Aku sih hanya bisa bersabar. Nggak terburu-buru amat, kok! Lagian masih ada hari esok, demikian aku menghibur diri.
" Nad, sepatu Kamu yang rasa stroberi itu udah dikembalikan belum ama Cinta???"
" Belum tuh! Padahal aku udah kangen banget! Huuuuhhh...Dasar Cinta! Katanya pinjam cuma satu hari, nggak tahunya satu minggu. Siapa sih yang nggak gondok, coba?!"
" Loh, emangnya Kamu sempat gondok juga, ya? Kok, aku nggak pernah liat leher Kamu bengkak gitu? Kamu pasti mengada-ada!"
" Dasar Tulaliiiittttt...!!! Mikir aja superlemot gitu! Emangnya otak Kamu dikasih RAM berapa sih?! Atau jangan-jangan Kamu masih pake pentium dua?"
" Ih, Kamu kok sarkastik banget sih! Ngomong secara konvensional gitu kek? Seperti orang kebanyakan gitu? RAM? Pentium dua? Maksudnya, apa?!"
" Hill, aku heran. Di jaman multicore seperti ini, ternyata masih ada juga orang se-lettoy Kamu, ya? RAM aja nggak tau! Pentium apalagi. Chating? E-mail? Blogging? Brontox? Borax?" Aku sengaja makin memperlebar ketidaktahuan Hill, si lettoy dari gua hantoy.
" Nah, kalo yang terakhir Kamu sebutin tadi, aku maaah...tau!!!"
" Apa?"
" Itu kan sejenis makanan manis yang terbuat dari santan kelapa, dengan berbagai campuran dan potongan buah di dalamnya, lalu dimasak dengan empat gelas air di atas kompor yang membara, diaduk merata hingga mendidih membusa, kemudian diangkat dan siap deh dihidangkan, biassa, pas bulan puasa..."
" Itu kolax!!! Bukan borax..."
" Yaps! Betul sekali!!! Tapi, karena campuran bahannya banyak, jadilah kolaxboraxi a la Hill, si jago upil!!!"
" What's? Jadi Kamu tambahin upil juga?"
" So pasti!!! Biar tambah nyummieee... Kamu mau aku bikinin?"
" Hiiiiiiiiikksss....Hueeeeeeeeekkksss....jangan sampe deh!"
" Eh, kembali ke……………………………………….sepatu Kamu!"
" Tadi, sampai mana ya?" Aku pura-pura lupa. Mau ngetes ingatan si Hill.
" Tadi sampai upil. Oh, nggak, sepatu stroberi Kamu!!! Belum dibalikin Cinta kan?"
Ternyata, masih ingat juga.
" Iya, neh! Cinta kok gitu ya! Padahal Udah aku kasih tenggat waktu sampe Senin kemarin, tapi belum dibalikin juga. Dassarrr!!!"
" Padahal aku juga mau pinjem."
" Maksud loh??? Pinjem?"
" Iya! Kamu jangan pelit gitu dong! Koleksi sepatu Kamu kan banyak. Puluhan rasa lagi. Nah, karena rasa-rasa yang lain udah pernah aku coba, so, tinggal stroberi aja yang belum..."
" Kamu pikir, Kamu itu siapa, heeeeehh?"
" Masa' Kamu nggak tau! Aku itu Hill. Si jago ngupil. Hey hey, Kamu nyadar nggak? Banguuuun!!!"
" Astaga..."
Ternyata aku cuma bermimpi. Terlalu terobsesi ama sepatu. Hingga semuanya aku bawa dalam tidur. Tambahan pula, tadi malam aku cape banget. Nongkrong di depan komputer lima jam, biz itu sempat keluar nyari uang di ATM, bukannya dapet uang, justru ban sepeda motorku gembos, dan harus aku larikan ke tukang tambal ban, nugu setengah jam, pulang-pulang udah jam dua belas malam. Mami ngomel-ngomel. Papi pun ikut bawel. Cica dan Cici, dua adikku, ikut –ikutan rewel, ngomentarin aku. Satu keluarga, kompak, belum tidur. Alasannya, untuk nungguin aku. Tapi, karena diomelin habis-habisan, BT dosis tinggi langsung nyerang aku. Obat satu-satunya, tidur!!! Tapi, eh...aku malah telat bangunnya. Jam sembilan nyerempet dikit. Huaaaaah...untung hari Minggu.
Upsss!!! Aku teringat kembali pada sepatu yang tadi malam aku liat di i-bei. Sepatu yang manis, lucu, juga dengan rasa istimewa. Kalau tidak salah, rasa cherry. Duh, jadi pengen deh punya! Eiiitsss... Tapi...
Segera kuhidupkan komputer. Nyambungin ke internet. Jebret...jebret... Enter!!! Aku masukkan key word " cherry girly shoesy" di search. Enter!
Blank!
Sepatunya nggak ada! Loh, kok bisa?
Aku ulangi lagi memasukkan kata kuncinya. Kali ini pake bahasa Indonesia. " Sepatu Cewek rasa Cherry". Enter!
Yesss!!! Ketemu! Tapi...di situ ada konfirmasi.
" Sepatu ini sudah terjual seharga 2 juta Rupiah pada malam Minggu, pukul 03:01. Bagi Anda yang menginginkan Sepatu Rasa Cherry ini, tunggu tahun depan lagi. Pas lagi musim buah cherry!!!"
" Haaaaaaaaaaaaaahhh??? Mamiiiiiiiiiiiiiii.......!!! Oh, tidak!!!"
" Ada apa, Sayang?" Mami masuk tiba-tiba dengan mendobrak pintu yang emang aku kunci. Pintu itu hancur berkeping-keping olehnya. Tapi, aku nggak konsen ke sana! Di kepalaku cuma ada satu kata. Sepatu.
" Mi, coba liat! Ini... Ini nggak mungkin, Mi!!!" kataku sambil menunjuk ke arah layar komputer.
" Oh, ini toh!" Mamaku berkata dengan senyum teraneh tersungging di bibirnya.
" Mami kok, justru senang gitu kelihatannya... Bukannya bantuin ikut histeris gitu, kek!"
" Sayang... Coba buka lemari sepatu Kamu!"
Bagai terhipnotis, aku segera mendekati lemari sepatuku. Tepatnya, kamar sepatu. Sebab semua koleksi sepatuku aku taruh di sebuah kamar berukuran 6x7 meter itu.
" Mami..."
" Di atas meja kaca dekat jendela... Pojok kanan." ujar seperti bisa membaca pikiranku.
" Haaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!! Mammmmi... I...ni...???"
" Yeah, itulah jus sepatu buatan Mama!!! Spesial buat Kamu..."
Sebuah ember besar merah berisi rendaman sepatu-sepatuku begitu menyolok di depan mataku. Aku nggak percaya seribu persen. Ini lelucon yang bener-bener udah kelewat batas. Aku nggak terimaaaaaaaaaaaaaaaaa........
" Mami, ini just kidding, kan?" ujarku dengan nada datar. Aku tahan kua-kuat emosiku.
" Bukan, Yang! Ini Juz Sepatu Rasa Buah Istimewa! Mami yakin, Kamu bakal suka. Apalagi sehabis bangun gini, bikin badan jadi seger tuh!"
" Mami, sekali lagi, ini just kidding, kan?" Kali ini nadaku sedikit meninggi.
" Bukan, Sayang! Ini Juz Sepatu…Rasa Buah...Istimewa!!!" kata Mama, kali ini dengan nada beriklan.
" Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii......................." aku teriak sejadi-jadinya.
" Oya, satu lagi! Karena hari ini ulang tahun Kamu, maka selain Juz Sepatu Rasa Buah Istimewa itu, Mami juga punya hadiah yang lebih spesial lagi buat Kamu..."
“ Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………………… Apa-apan siiiiiiiiiihhh!!!”
Mami tak menggubrisku. Dia keluar dari kamar sepatuku. Sementara aku tetap berdiri, mematung. Dunia seperti berhenti berputar. Tak mampu kupandangi ember yang berisi sepatu-sepatu rasa buah milikku itu.
" Nih, coba Kamu buka!" Tiba-tiba Mami masuk lagi. Di tanggannya ada sebuah kado yang dibungkus pake kertas koran. Inikah kado spesial dari Mami untuk aku???
Emosiku belum juga teredam. Dengan manyun dua puluh empat karat yang masih nempel di wajahku saking karatannya, maka aku pun menyambut pemberian Mami. Segera saja aku robek-robek pembungkusnya dengan nafsu. Tepatnya, aku cakar-cakar, kayak singa laper yang lagi dapet mangsa.
Aku…
Nggak bisa kerkata apa-apa
Ini lebih dari sekedar yang aku duga
Mami, ae lova yu’a!!!