Bro, Korea Utara memang sangat menarik untuk dibahas.
Negara ini bisa dibilang sangat terisolasi dan hanya memiliki sedikit hubungan diplomatik terhadap negara lain.
Indonesia juga bisa dikatakan merupakan salah satu negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Korea Utara dikarenakan sejarah Indonesia pada saat orde lama (Sukarno) yang mengagungkan kekuatan dari negara-negara berkembang yang baru lepas dari jeratan neo kolonialisme (The New Emerging Forces)

Ada satu blog dari salah satu orang Indonesia yang beruntung pernah menjejakkan kakinya di negara tertutup itu (Siska Silitonga) coba dibaca dulu deh.. lumayan buat pencerahan

QUOTE(http://mysumpit.blogspot.com/2006/12/laporan-dari-korea-utara.html)
Selama ini kita mengenal Korea Utara sebagai salah satu negara yang paling tertutup di dunia. Negara komunis ini hanya memiliki hubungan dengan sangat sedikit negara lain. Politik isolasi ini dianggap merupakan cara penguasa negara ini memperoleh kekuasaan absolut.
Sampai Kamis, 12 Januari 2006 lalu, para wartawan yang ingin meliput kunjungan Presiden Korea Utara Kim Jong-il di China masih belum menemukan jejaknya. Sebuah jaringan TV Hongkong berspekulasi, pemimpin komunis ini mungkin menuju kota Guangzhou di China Selatan. Kabar lain menyebutkan dia berada di Beijing atau di Rusia. Anehnya pemerintah China juga turut merahasiakan kedatangan tamu negara satu ideologi itu.
Kunjungan kenegaraan yang dirahasiakan memang biasa dilakukan pemimpin Korea Utara. Sikap itu sesuai dengan sistem pemerintahannya yang tertutup. Negara itu terisolasi dari pergaulan internasional, warganya tidak punya akses ke dunia luar. Banyak orang yang ingin mengunjungi negeri itu, khususnya yang datang dari Amerika, ditolaknya. Di luar kebiasaan itu, awal September tahun lalu, bersamaan peringatan 60 tahun partai komunis berkuasa, pemimpin Pyongyang berkenan memperlihatkan Festival Arirang kepada dunia.
Koresponden Radio 68 H Jakarta, Siska Silitonga adalah salah seorang yang beruntung dapat berkunjung ke Pyongyang dan melihat dari dekat keadaan masyarakat disana. Dalam liputannya untuk program Asia, ia menulis berbagai hal menarik yang dilihatnya.
Di pesawat yang membawanya ke Pyongyang, awak kabin mengumumkan tentang minuman yang disajikan.
"Selain melindungi kita dari segala penjuru, pemimpin besar kami Kim Jong Il, bapak yang pemurah kepada rakyatnya menunjukkan kebaikannya dengan menyaring air minum. Demi menolong dan merawat kesehatan rakyatnya ia telah berupaya keras. Sekarang di Korea Utara, tanah penuh harapan, warga bisa minum air bersih berkat cinta abadi pemimpin besar Kamrad Kim Jong Il." Siska dan penumpang asing lainnya kaget mendengarnya.
Di bandara Pyongyang yang kecil, ia disambut oleh seorang wanita, "Selamat datang ke negeri kami”. Anehnya, penjemput tadi dengan cepat memisahkan dia dari jurnalis asing lainnya, “Mereka orang Amerika dan kamu bukan”.
Saat hendak ke luar dari bandara, petugas mengambil telepon seluler dan memerika semua tas dan buku atau barang-barang yang dianggap tidak pantas masuk ke negeri itu Selama di sana, Siska didampingi dua pemandu yang selalu menguntitnya.
Pemerintah Korut memperbolehkan jurnalis asing datang ke Pyongyang dengan satu alasan: meliput Festival Arirang. Mereka menyebutnya ”pertunjukan paling hebat di bumi”. Festival itu sendiri adalah campuran pertandingan gimnastik, akrobatik dan tari-tarian. Sekitar 100.000 orang terlibat dalam pertunjukkan di stadion terbesar di dunia itu. Sekitar 20.000 anak membolak-balik kartu besar dengan kecepatan tinggi, menghasilkan layar raksasa yang memuat gambar dan slogan komunis. Sementara itu, anak-anak lain menyanyi dan menari, memuji pemimpin mereka: Presiden Kim Jong Il dan mendiang ayahnya, Kim Il Sung.
Rakyatnya memanggil Kim Il Sung sebagai “Bapak Korea”. Dalam pertunjukkan itu, ia digambarkan sebagai pahlawan yang membebaskan Korut dari penjajahan Jepang dan Amerika. Tahun 1945 dianggap sebagai tahun kemerdekaan mereka. Saat itu, Kim Il Sung berhasil mengusir Jepang dari Korea. Tetapi dalam buku sejarah mereka, tidak dijelaskan bahwa saat itu merupakan akhir dari Perang Dunia II, dimana Jepang menyerah pada sekutu.
Pertunjukkan Arirang terus berlangsung. Ratusan anak-anak menari dalam balutan kostum renang, menikmati suasana musim panas. Citra Pyongyang di malam hari ditampilkan sebagai kota ceria dan sejahtera. Para petani digambarkan menari dan menyanyi dengan gembira, atas hasil panen yang berlimpah. ”Terima kasih kepada Presiden Kim Jong Il”, seru pemandu.
Tetapi ini bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Organisasi Pangan Dunia atau FAO melaporkan banyak rakyat Korut yang hidup di bawah kemiskinan. Mereka menderita akibat bencana alam, kekurangan pangan serta terbatasnya bahan bakar dan energi. Pemerintah sangat bergantung bantuan asing untuk menghidupi rakyatnya. Setiap hari, bahan pangan harus dijatah untuk setiap keluarga. Jumlah anak yang kekurangan gizi sangat tinggi. Menurut WHO, sekitar 40 persen anak-anak balita mengalami pertumbuhan yang terhambat.
Kito Hiroshi, pendiri NGO yang membantu pengungsi Korea Utara yang berbasis di Tokyo mengungkapkan bahwa banyak sekali pengungsi disepanjang perbatasan Cina dan Korea Selatan. Mereka keluar dari persembunyian untuk mencari makan, pakaian dan perlindungan. Tetapi mereka tidak dapat kembali lagi karena tidak punya lahan dan pekerjaan. Tidak ada yang bisa dimakan atau yang dapat diberikan ke keluarga mereka.
Pada hari berikutnya, Siska bergabung dengan rombongan wisatawan China mengunjungi kota kecil Kaesong. Di sana, ia melihat para wanita mencuci baju di sungai. Anak-anak berlarian di jalanan yang kosong, dan sejauh mata memandang yang terlihat tentara berseragam. Di luar bus ia melihat banyak orang mengais tanah pertanian mencari rumput dan tanaman yang masih bisa dimakan. Musim panen sudah usai dan semua hasil pertanian sudah diambil negara. Mereka berharap ada sesuatu yang tertinggal yang bisa dimakan.
Kito Hiroshi memastikan ada jutaan orang di negeri itu yang miskin dan kelaparan.
Orang-orang yang sudah mengunjungi kota lain diluar Pyongyang mengatakan bahwa monumen-monumen megah dan apartemen-apartemen di kota itu hanya untuk menunjukkan bahwa siapa yang setia kepada pemerintah berhak hidup layak.
Kito Hiroshi, berpendapat, "Pyongyang hanyalah alat untuk menunjukkan bahwa apa yang disebut Republik Sosialis Korea Utara dibangun dengan sangat cantik dan diperuntukkan bagi warga yang terpilih. Namun jika anda keluar Pyongyang anda akan melihat sisi lain kehidupan rakyat di sana."
Nona Kim, seorang pemandu bercerita ia berusaha keras untuk bisa diterima sebagai anggota partai komunis yang berkuasa. Siska lalu bertanya apa persyaratannya? "Asalkan anda mau bekerja keras dan percaya pada ideologi partai, semua bisa diterima menjadi anggota," ujarnya.
Bergabung dengan partai memang satu-satunya cara untuk bisa hidup lebih baik di negeri itu.
Seorang wisatawan dari Irlandia menceritakan kesannya setelah mengunjungi Pyongyang. "Saya merasa lebih seperti suasana keagamaan ketimbang politik, bagaimana cara mereka memuja Kim Jong Il dan Kim Il Sung. Sangat menarik untuk diamati, sangat aneh. Lihat saja anda tidak boleh membawa telepon seluler, dilarang meninggalkan hotel dalam situasi apapun tanpa pendamping. Rakyat Korea Utara harus hidup dalam situasi seperti ini. Mungkin dalam kenyataan kehidupan sehari-harinya lebih buruk lagi, sangat mengerikan.”
Bagaimanapun, pertunjukkan Arirang memberi sedikit kesempatan untuk melihat kondisi rakyat Korea Utara lebih dekat. “Semakin lama mengenal mereka, saya semakin sadar bahwa kenyataan yang mereka hadapi semakin jauh dari dunia luar. Rasanya seperti memasuki twilight zone, dimana waktu berhenti dan fakta menjadi kabur,” kenang Siska dalam laporannya.
Dua Rumpun Negara yang Berbeda
____________________________________________________________
Dalam perjalanannya ke Korea Utara, Siska Silitonga juga sempat mengunjungi Zona Demiliterisasi yang membagi dua semenanjung Korea. Lima puluh tahun setelah berakhirnya perang, semenanjung ini terpecah menjadi dua negara. Warga Korea bisa saja berbicara dalam bahasa yang sama, tetapi di saat wilayah Korea Utara menjalankan sistem komunis yang terisolasi dan miskin, Korea Selatan hidup makmur, terbuka dan demokratis.
Dalam perjalanan ke Zona Demiliterisasi Korea, Panmunjom, pemandu tur menjelaskan mengapa Korea Utara dan Selatan terpisah. Ia menerangkan bahwa perang Korea diciptakan oleh Amerika. Siska sempat bertanya, mengapa AS tidak ingin kedua Korea bersatu kembali. Pemandu menjawab, karena Amerika terus menduduki Korea Selatan dan ingin menjajah Korut untuk menguasai dunia. Dengan berani, Siska berkomentar bahwa Korea Selatan adalah negara demokratis dan mampu memutuskan masa depannya sendiri.
Bukan sesuatu yang mengejutkan. Sikap yang sama juga diperlihatkan oleh rezim Komunis terhadap Washington. Amerika selalu menjadi kambing hitam bagi masalah domestik dan luar negeri Pyongyang.
Letnan Kolonel Kim Gwan Il dari angkatan militer Korea Utara yang menemui wartawan di Zona Demiliterisasi, mengatakan bahwa perang Korea masih belum selesai, sampai Amerika Serikat mengubah kebijakannya terhadap Pyongyang.
Dalam buku sejarah, disebutkan bahwa perang Korea berlangsung pada awal 1950an. Saat itu, Uni Soviet mendukung Pyongyang untuk menjajah Korea Selatan. Tetapi Korea Utara memiliki versi sejarah yang berbeda bahwa AS memakai PBB untuk hancurkan Pyongyang.
Ambisi nuklir Korut agaknya semakin mempersulit hubungan Pyongyang dengan Washington. Proses perundingan enam negara masih berlangsung dan Korut masih menyalahkan AS.
Sebaliknya, hubungan antar Korea mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Seoul menawarkan bantuan ekonomi kepada tetangganya dalam perundingan multilateral. Turis Korea Selatan yang berkunjung ke Utara juga semakin banyak. Beberapa datang karena penasaran, yang lainnya ingin mencari keluarga mereka yang terpisah. Proses reunifikasi mulai terlihat perlahan, tapi Pyongyang masih menolak keabsahan pemerintah Seoul. Meskipun reunifikasi menjadi tujuan, mereka juga sulit menjembatani perbedaan ideologi.