KAU punya banyak cara untuk membuatku tergila-gila.
Aku mungkin memang gila karena tak pernah bisa
benar-benar melupakanmu. Meski hanya sekejap.
Meski cuma sekilap.
“Selamat pagi,” ucapku riang. Sebentar menunggu,
lalu suaramu yang girang muncul di speaker Hp.
“Hai, tumben.”
“Senang mendengarmu lagi.”
“Ada angin apa?”
“Aku berada di tiga ratus meter menuju kantormu.
Kau punya tiga menit untuk memutuskan, membolehkan
aku mampir, atau menolak karena satu hal. Aku akan
lurus kalau kau tak mengijinkan.”
Kau terkekeh. “Baiklah, simpan tiga menitmu. Kau boleh
mampir. Asal jangan berlagak seperti penjahat. Di lobi
kantor banyak satpam.”
Aku menutup telepon sambil mengingat-ingat, mengapa
jari-jariku tergoda meneleponmu setelah hampir setahun
aku menyembunyikanmu dalam relung paling jauh.
Mencoba memusnahkan kegetiran yang selalu hadir tiap
kita bertemu. Kegetiran yang selalu tak berusia lama,
sebab beberapa waktu kemudian tekad untuk tak kembali
menemuimu seolah ditelan bumi.
12 November 2007
[Na, takdir ternyata kejam, ya ...]