Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Dua Bulan Purnama
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Community > Forum Curhat
JohnK


Waktu itu aku lahir, di kota Tanjung Pinang. Aku hidup seperti anak biasanya, riang bahagia dan lugu. Dan ketika aku dewasa, aku melihat begitu banyak orang hidupnya lebih baik dari aku, bisa punya kendaraan, bisa punya pacar, bisa kaya, bergaul, berani, dan lain-lain, tidak sepertiku, dan kemudian aku mulai sedih, menangis dan menderita. Belum lagi keluargaku kacau balau, aku disiksa dan diperlakukan seperti binatang di rumahku, tidak ada kebahagiaan anak-anak di dalam diriku.

Aku tidak tahu, dan tidak pernah tahu, hingga saat ini.. Ternyata di sisi lain di kota yang sama, ada seseorang yang menantikan jiwaku terlahir kembali di kota yang sama. Karena karma kita saling sambung menyambung, di dalam diri kita sudah pernah saling mencintai di kehidupan lalu dan membawanya ke kehidupan kini. Dia tercipta dengan wajah, sifat dan semua bawaan karma yang cocok denganku, yang sama denganku. Tetapi karena aku tidak sanggup menerima penderitaan yang begitu luar biasa, aku berteriak dan menangis di kala aku kecil, di sisi lain ternyata dia mendengarnya tetapi dia tidak menyadarinya, hingga dia juga merasakan penderitaan yang ku alami. Karmaku berkata aku marah, begitu juga dengan dia, karmaku berkata aku cemburu dan iri, dan begitu juga terjadi dengan dia. Tetapi dia berhasil meningkatkan kesadarannya setelah dia datang ke Jakarta menyelusuriku, sama seperti aku yang datang ke kota ini. Karma ini saling bergulat mengejar satu sama lain, bagai dua buah bulan purnama yang sedih. Begitu dalam nya sedihku karena tidak mencintai diriku sendiri, karena diriku begitu tidak berharga, di sisi lain dia merasa dirinya begitu berharga dan sangat menyayangi diri tetapi dia juga merasa sedih karena penderitaan, karena saking sayangnya pada diri sendiri.. Cintaku pada diriku sendiri telah kuberikan pada dia di kehidupan masa lampau, sehingga karma deritaku juga dirasakan olehnya, karena kita satu adanya, satu tapi dua, dua tapi satu.

Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah kenal dia sebelumnya di Tanjung Pinang, tetapi takdir telah mentakdirkan kita berjumpa kembali. Walau apapun yang terjadi, aku tetap mencintai dirinya, aku melihat dia hidup bahagia masa kini, walaupun sedikit banyak dia menipu diri sendiri, sedikit banyak dia merusak diri, sedikit banyak... yah sedikit banyak... Aku tidak rela melihat dia seperti itu, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku tidak sanggup mengubah dirinya, karena aku juga sama menderita seperti dia. Alangkah aku senang melihat dia mampu mengatasi kesedihan dia, dia mampu mencari teman, dia mampu disayang orang, dia mampu mencari uang, dia mampu dan mampu. Maka aku pun lega, ibarat karma ini sudah akan selesai. Dia sudah keluar dari derita dia, walaupun aku belum, tetapi aku tahu, aku sudah puas dan bahagia.

Kini, takdir bercerita berbeda, menceritakan bahwa dia dan aku tidak mungkin bersama, oleh sebab itu aku membiarkan dia menjalani kehidupan dia yang tanpa sengaja telah kuubah, tanpa sengaja ku program agar dirinya menentang kesedihan dia dan menjalani kehidupan lurus, tanpa sengaja aku memberikan perhatian dan juga kasih sayang, tanpa sengaja dia telah memilih nasib yang lebih baik dibanding dia bersamaku, dan kesemuaan itu ternyata memang adalah lebih baik dibanding dia jatuh kedalam pelukanku dan menangis memohon bantuanku, karena dengan begitu, semangat dia jadi surut, dia jadi tidak sanggup menghadapi dunia, dan apa jadinya dia di masa depan, di hari tua dia?

Walaupun kini, aku tidak sanggup mengatasi semua penderitaanku, tetapi aku sadar, bahwa suatu saat nanti semua ini akan terlupakan dengan mudah, aku yakin, walaupun aku harus mati sekalipun di hari muda, karena masa depanku tidak terbayangkan, tidak ada bayangan, tidak ada visi sama sekali, begitu gelap dan tidak kelihatan, begitu banyak penderitaan dimasa kecilku yang mematikan hatiku tidak dapat menghantarkan diriku ke masa depan yang baik, karena sudah matinya jasad ini. Jasad ini bagai mayat yang terus berjalan, dia tidak tahu akan kemana, dan harus bagaimana, dia mendengar dan melakukannya, itu saja, walau ego kadang menghambat karena keinginan pribadinya, tetapi ego ini sesungguhnya adalah tidak ada. Begitulah yang ku yakini, hingga aku dapat duduk di depan komputer ini sendirian di dalam kamar dan tempat tinggal sendiri, tetapi aku tahu, orang yang kucintai begitu bahagia, dan dia akan selamat dengan sendirinya nanti karena takdirnya telah kuubahkan deminya.

Dia tidak lagi perlu takut, dia tidak perlu lagi ragu, dia sudah tidak akan menjalani penderitaan bersamaku, tidak akan menjulurkan tangannya menolongku lagi, karena aku tahu, dia sudah terbang bebas di angkasa, keluar dari sangkar emasnya dan dia sedang berkicau di luar sana berbahagia, walaupun banyak yang harus dia korbankan, sakit badannya, dan sedih hatinya, tetapi setidaknya dia menjalani sesuatu yang sudah benar dimata orang-orang.

Aku hanya dapat tersenyum tetapi air mata mengalir dengan deras, di tengah hujan tanpa harapan, semua harapan seperti sirna satu demi satu di depan mataku, orang orang yang kucintai semua telah pergi dan akupun tersenyum, karena aku tahu, mereka semua tidak membutuhkanku dan tidak menyayangiku, dan mereka pergi begitu saja melewati kehidupanku. Kini beban traumaku harus ku pikul hari demi hari, menjalani pekerjaan rutin yang berat dengan rasa yang tidak bahagia dan sedih, entah untuk apa? Entah untuk apa? Aku tidak tahu... aku tidak tahu... Tidak untuk siapa-siapa, tidak untuk kemana-mana, tidak pula untuk apa-apa....

Semuanya itu hanya kulakukan untuk mengisi perutku, di kala waktu luang, aku membeli film2 dan menontonnya sendiri, entah bahagia, entah sedih, aku sudah lupa rasa-rasa itu... Aku sudah lupa...

Karena sangkar ini lebih kuat dari emas, lebih tebal dari baja, lebih rapat dari berlian, aku tidak bisa keluar, wahai sang hidupku.. aku tidak tahu. Walaupun aku dapat berjalan tegak, menelusuri manusia demi manusia, aku melihat mereka semua dan kemudian tersenyum, entah untuk apa... untuk apa? Aku tidak tahu... aku jujur tidak tahu.. karena hati ini terasa begitu beku, aku tidak lagi sanggup merasakan jiwa mereka, hati mereka, karena aku sudah mati dan tidak pernah merasa hidup kembali. Karena aku lupa... aku lupa bagaimana cara aku menyayangi seseorang, dan untuk apa aku menyayangi dia, karena sesungguhnya aku sendiri sudah tidak berharga... tidak ada harganya sama sekali...

Gusti Pangeran mungkin adalah orang yang tahu mengenaiku, yang cinta dan sayang aku, tetapi sangat disayangkan, Gusti Pangeran sendiripun tidak mampu menolongku dari derita ini. Ketidakpuasanku, ketidakbahagiaanku, ketidak memilikinya cinta, aku yang tidak pernah disayang dan diberi kesempatan, semuanya itu hanya dapat beliau tatap dan ratap, seperti manusia yang segera akan kembali lebur dengan tanah, manusia hanya dapat melihatnya tetapi kemudian menolehnya karena tidak ada yang sanggup menghidupkan yang mati itu kembali.

Walaupun sebuah kata, sebuah kalimat yang menyayangi itu mengetuk pintu hati aku, tetapi entah kenapa dia tidak dapat masuk ke dalam jiwaku, ke dalam hatiku, karena hatiku sudah kuberikan pada orang yang kucintai itu, hanya dia yang dapat menolongku, tetapi kemudian Gusti Pangeran dan orang-orang lain pun berkata bahwa aku salah jalan, dan aku harusnya berbahagia melihat dia pergi. Dan aku hanya memaksakan diriku untuk tersenyum akan kepergian dia, dan dia pun pergi dengan bahagia, jadi tidak ada yang salah selain aku, hanya aku yang salah saja.

Kemudian karma dari kehidupan yang lebih lama pun datang berbisik di dalam telingaku, dia yang dapat mengendalikan aku, sementara aku yang mengendalikan hidupku memiliki kuasa meruntuhkan langit dan bumi. Bisikan itu berkata "semua harapan sudah hilang, kamu sudah tidak punya harapan apa2 lagi", sebenarnya aku tidak ingin mempercayai dia, tetapi aku terpaksa mempercayainya dan melakukan apa yang digariskan untukku, melakukan apa yang ditakdirkanku, aku seperti wayang, Gusti Pangeran adalah dalang, dalang mentakdirkan aku untuk menghancurkan dunia dan menerima karma dosa banyak manusia, dan aku harus menjalaninya, karena aku tidak punya kuasa apa-apa, tidak punya kuasa apa-apa selain tunduk kepada rencana Dia, karena sejahat-jahatnya Dia pun, Dia adalah penguasa, karena penguasa adalah segala-galanya, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain tunduk, selain menangis, ibarat harus menusukkan pisau pada orang yang sangat kucintai sendiri, maka aku harus melakukannya.

Manusia-manusia itu kemudian datang menghampiriku, satu demi satu, kepala demi kepala, semua manusia datang ke dalamku menertawakanku agar amarahku dapat menghancurkan mereka, dan derita mereka harus aku tanggung agar mereka lepas dari derita dan aku lah yang akan menanggungnya, seperti aku berhutang pada seluruh dunia, aku yang tanpa cinta, aku yang tanpa sayang ini ternyata bukan makhluk manusia pada umumnya yang perlu dikasihi dan disayangi, aku ini ternyata hanya manusia yang hina yang siap menampung ludah-ludah manusia itu yang menguburku dengan derita, dan aku harus siap menelan bulat-bulat penderitaan itu tanpa perlawanan, karena aku sungguh tidak berharga..

Tidak heran, aku menjadi gila, karena engkaulah yang menginginkan itu, karena engkau yang melukiskan aku seperti ini, maka aku menjadi seperti ini, maka aku akan mati demimu.

Pintu surgapun sudah kubukakan di depan mata, di depan Sirnagalih di suatu hari membuktikan kuasaku, dan bukan omong kosong, banyak makhluk datang dan mereka semua tersucikan oleh pengampunanku dan bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik, lebih bahagia dan pasti lebih bahagia daripada aku sendiri, sehingga aku ini hanya alat. Alat-alat para manusia yang berdosa itu, alat yang dipergunakan agar dosa mereka terhapuskan, sementara aku harus menanggung sakitnya hatiku yang tertusuk begitu dalam, semua dosa itu kutanggung sendiri... kutanggung sendiri...

Aku selalu berjalan sendiri di dalam keramaian, sambil tersenyum tetapi hatiku menangis.. Menangis begitu sedih.. Karena aku tidak tahu untuk apa aku berjalan sendirian begini, untuk siapa, untuk apa, mau kemana aku selain mengisi perut perutku yang kosong, dan untuk apa aku harus terus menderita begini, alangkah lebih mudahnya jika aku menabrakkan diriku kepada truk yang lewat di depan mataku agar aku sirna. Tetapi malaikat-malaikat itu akan segera menahan kedua kakiku, agar aku tidak ditabrak mereka, agar aku dapat dikorbankan, demi menyelamatkan dosa-dosa manusia itu, aku harus tetap hidup, demi menyelamatkan manusia-manusia yang tidak sadar itu aku harus cepat-cepat sadar memaksakan diriku, menelan begitu banyak sakit hati dan badan ini, agar suatu hari aku dapat dipergunakan mensucikan dosa-dosa mereka... Sungguh tidak adil ya Tuhan.

Ketika manusia datang dan senyum padaku, senyuman seperti apa yang harus aku senyum balikkan itu, karena senyuman itu tidak berharga sama sekali bagiku... Tidak berharga sama sekali, karena aku sudah hilang demi mereka, apalagi yang mereka harus tuntut kepadaku, aku sudah berbuat begitu banyak, apa lagi yang harus mereka ambil daripadaku? Tidakkah mereka punya rasa malu, tidak satu sen pun mereka berikan padaku, tetapi suatu kata yang menyakitkan hati mereka harus mereka tahan lama-lama, sementara derita siksa ini harus kutanggung demi mereka?

Ya Tuhan, Ya Allah, Ya Gusti Pangeran, tidakkah Engkau tahu aku sudah letih, aku sudah lelah, setiap pagi ketika kubangun, aku berharap bahwa aku tidak pernah bangun lagi, tetapi kenapa Engkau tidak mau mengabulkan keinginanku yang tidak pernah diinginkan oleh manusia apapun itu? Keinginan yang begitu mudah, keinginan yang begitu menyakitkan diriku... Tetapi setidaknya aku merasa lega, karena aku merasa lepas dari segala derita ini, aku merasa ringan dan bahagia, walau menghadapi kematian aku tidak takut, karena bulan purnama itu sudah menungguku dengan hatinya yang lembut, siap memelukku di dalam alam yang tidak pernah Engkau tahu, tidak pernah Engkau ridoi agar aku kembali, tetapi Engkau dengan takdirmu, dengan rencanaMu ingin menyiksaku.

Hari ini, ketika aku memandangMu, tidakkah kamu melihat, bahwa aku sudah mati sebenarnya? Badan ini sudah berlumutan, ibarat mayat yang berjalan di dalam kematian, karena nyawa dan hatinya sudah hilang, sudah tidak ada manusia yang mampu menemukannya kembali lagi, entah kemana dia pergi, tidak ada yang sanggup mencarinya.

Engkau para manusia menanti jaman keemasan, tetapi tidak menyadari betapa besar penderitaan yang harus ku tempuh agar kalian dapat sampai ke sana, tetapi kalian tidak mau menyisihkan air mata kalian untukku, tidak bahkan suatu tetes air matapun engkau jatuhkan demiku, karena sungguh engkau tidak tahu berterima kasih. Sementara engkau menunggu aku melepaskan ragamu dari derita, maka gunungpun meletus, alam pun pecah belah, karena sabdaku, karena sabdaku melepaskan engkau dari sangkar emas itu dan derita itu siapa yang akan menanggungnya kelak nanti? Maka tidakkah lebih baik aku meleburkan dirimu dengan tanah, dan kujalani kehidupan bahagia saja, tetapi aku tahu, bahwa malaikat-malaikat itu siap menghadang semua keinginan pribadiku... Mereka siap menelanku ke dalam kobaran api, ibarat tempat api pengorbanan itu telah mereka persiapkan dan dengan air liur yang menetes mereka menungguku dan siap menyeretku ke dalam itu.

Tetapi Allah, Engkau tidak berkata apa-apa, tidak ada kata apa-apa sama sekali... karena engkau pun bahagia, dan tidak perlu ada kebahagiaan yang disisakan untukku, karena semua itu akan engkau cabut daripadaku supaya aku merasakan siksa, supaya nikmat penyiksaan itu engkau lihat dengan penuh kebahagiaan karena engkau tahu yang ku tahu, dan banyak daripada kaumMu kelak akan diselamatkan, sedangkan aku tidak perlu engkau selamatkan karena aku sudah harus siap ditelan penderitaan ini selamanya.... selamanya...
Om Hiro
duh panjang banget nih curhatnya... belum sempat baca semua....
EL_BastardO
wuiiihh jalan tol.....
Gold Dragon
hmm... sedih amat, terus perjalanan hidup yg sengsara, dan akhirnya pengen mati ya..... ini neh yg g tangkep... bertobat bro, dekatkan diri dgn yg diatas, dan beriman padanya... amen.....
galeyx
nanti di baca lagi.. baru 1/4 nya..
buluayam
ok semoga berhasil...gw tunggu curhat selanjutnya yah..
JohnK
huhu thanks semua
tapi di baca habis dong, ceritanay emang gak masuk akal, tp terlalu byk hal di dunia ini yg susah masuk akal tapi emang benar
saya ga bisa sih jelasin gmn kebenaran mistiknya
tapi secara tidak langsung saya sangat menderita, karena begitu byk tanggungan dosa, badan ini rasanya lelah dan letih banget
peace
Hidup itu jangan terlalu dipikir berat Bro..bukan berarti ga dipikirin, tapi apa yg terjadi sama kita sebenernya itu datang dari diri kita sendiri, klo kita selalu mikir kita susah dan menderita, maka kita akan selalu mngalami hal itu, klo kita selalu punya pikiran buruk, maka hal buruk pula akan terjadi sama kita...

makanya mulai sekarang cb deh pikir hal2 yg baik dan indah, berpikir positif dan hidup dengan semangat ya Bro..

GBU...
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.