Berikut resensi buku terbaru dari Syaamil, siapa tahu ada yang membutuhkan. ......
Membaca sinopsis di belakang buku ini sudah membuat bulu kuduk merinding. Apatah lagi dengan membaca halaman demi halaman, dari sebuah fragmen yang dialami oleh penulisnya. Anda boleh saja merasa ngilu. Atau tiba-tiba saja mengalir bulir air mata dari pelupuk mata. Manusiawi sekali jika kita memiliki empati yang tinggi. Namun, bukan itu saja yang ingin dibagi oleh sang penulis, ketika ia menceritakan detail “penderitaan” yang ia alami. Padanya ada semangat ikhlas. Dalam sakitnya ada semangat syukur. Dalam pasrahnya ada semangat tak mudah menyerah. Bahkan ketika dokter menyuruhku tidur, kukatakan aku takut napasku terhenti. Dan tanggapan dokter itu yang kemudian membuatku tertegun. ”Biar Allah yang mengatur kapan napasmu akan terhenti. Tak ada yang perlu ditakutkan.” Subhanallah. .. kata-katanya membuatku tersadar akan arti kepasrahan. Dan ketika aku tak tahu bagaimana caranya bernapas. Allah membuatku tersadar akan arti kepasrahan (hal 29).
Banyak kita temui sebuah reaksi ”perlawanan” ketika seseorang mengetahui ada penyakit berat yang sedang dialaminya. Sebuah reaksi manusiawi, yang dialami banyak orang, ketika divonis oleh sang dokter tentang penyakitnya. Pun hal ini terjadi pada penulis. Apalagi penulis menggambarkan dengan gamblang, saat vonis tersebut disampaikan. Ia yang datang sendirian, dengan keyakinan bahwa penyakitnya dapat disembuhkan dengan minum obat secara teratur. Andaikan dokter itu mau berkata, ”Tenang ya, banyak kok yang bisa sehat kembali dengan menjalani cuci darah. Masalah rezeki biar Allah yang mengatur,” mungkin kakiku akan lebih ringan dilangkahkan, mungkin dadaku tidak akan sesesak saat itu, mungkin bulir bening ini masih bisa kutahan. (hal 7)
Sebuah pesan yang layak direnungkan oleh para dokter ketika menghadapi pasiennya.
Dari buku setebal 138 halaman ini, kita dapat mengambil banyak pengajaran (tarbiyah). Mungkin selama ini kita anggap hal biasa, atau mungkin sepele. Dan ketika aku tahu bagaimana caranya bernapas. Allah memberi tarbiyah terbesar bagi hidupku (hal 29). Kembali Allah mentarbiyah aku saat itu.... Pernahkah aku berpikir tentang nikmatnya minum? Betapa menyenangkan bisa minum sebanyak yang kumau... (hal 33). Sekarang Allah kembali mengajariku tentang satu hal. IKHTIAR. Dan aku berikhtiar untuk suatu kebaikan bagi kehidupan dan kematianku. (hal 39).
Buku ini diperkaya dengan berbagai cerita penuh hikmah dan ibrah (pelajaran) dari beberapa ”sahabat” penulis. Mereka adalah sesama pasien yang harus menjalani cuci darah. Ada yang berakhir kematian. Banyak pula yang menularkan semangat dan perjuangan. Kisah nyata yang mengharu biru. Tak lupa, beberapa cuplikan yang sarat informasi untuk diketahui pembaca terangkum dalam tiap subjudul. Tentang gagal ginjal, tentang terapi pengganti ginjal, tentang air minum, tentang diet makanan, dan sebagainya. Sekelumit keceriaan saat cuci darah juga disajikan secara ringan dan mengundang tawa. Buku kecil yang penuh doa dan harapan. Buku kecil yang siap menjadi teman, saat kita membutuhkan charger kehidupan. Buku yang dapat menjadi bahan renungan, untuk menjaga dan mensyukuri nikmat kesehatan yang diberikan Tuhan.