Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Mahabrata
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah > Sejarah Dunia
Pages: 1, 2
hara
R : Terima kasih Ibu, Ibu telah memberikan saat-saat yang paling suci dalam hidupku kini perintahlah Radheya

K : Tidak anakku, Ibu tidak memberimu perintah tapi Ibu akan memintamu melakukan sesuatu.

R : Katakanlah Ibu apa yang harus aku lakukan

K : Ikutlah bersama Ibu ke Pandava, mereka adalah saudaramu, Ibu akan memberi tau Yudhistira bahwa kau adalah Putra tertua ku, hilangkan kebencianmu selama ini kepada Arjuna, berperanglah di pihak Pandawa yang pasti akan menang, Dunia akan melihat engkau bersatu kembali dengan saudara saudaramu, mereka akan melihat dirimu bersatu dengan Arjuna, didunia ini siapa yang bisa mengalahkan Kalian berdua, kalian akan Jaya seperti Khrisna – Balarama, menangkan perang ini lalu perintahlah seluruh dunia karena kau lah Pewaris Tahta Kerajaan. Yudhisthira akan menjadi Yuvaraja (Putra mahkota) dan memegang Payung kebesaranmu, Arjuna akan menjadi kusirmu, Bhima akan menjadi kepala Pengawal, sedangkan si kembar akan selalu setia melayanimu.............

Radheya terdiam, betapa Hidup ini penuh misteri, selama ini dia hidup dengan pandangan orang yang menilai rendah dirinya karena hanya seorang ”Sutaputra” (putra kusir kereta), namun dalam 2 hari terakhir dua orang mulia (Khrisna dan Kunti) datang menawarkan Dunia kepadanya. Godaan yang begitu besar, namun Radheya tak bergeming

R : Ibu aku sangat ingin menuruti perintahmu, tapi aku tidak bisa

K : mengapa anakku? Aku akan mengakui pada dunia bahwa kau adalah putra tertua ku.......

R : Ibu tidakkah kau tau betapa aku membencimu, atas perlakuanmu padamu.... aku menyimpan kemarahan ini bertahun tahun. Aku menderita karena kelahiranku. Namun ketika hari ini kau datang semua kemarahanku itu lenyap bagai butiran salju yang jatuh di gurun pasir yang tandus
Dunia mengenalku sebagai Sutaputra, nama ini menodai kelahiranku yang sebenarnya, saat menginjak remaja kau bertanya pada Ibuku Radha ” Ibu mengapa aku ingin sekali menjadi seorang pemanah bukan menjadi kusir kereta seperti ayah ?”
Saat itu lah aku tau bahwa Ibuku Radha bukanlah ibuku, namun cinta kasihnya melebihi cinta kasih seorang ibu kepadaku........... karena itu aku bangga dengan nama Radheya nama yang aku bawa sampai mati
Lalu aku pun berkelana, untuk menuntut ilmu memanah, namun tidak ada yang mau mengajariku
Drona menolakku karena aku adalah seorang ’Sutaputra’, nama yang melekat dan menyakiti hatiku ini semua karena ketidakadilan mu padaku ”
Kemudian aku menghadap Bhargawa (Parasurama ) beliau mau mengajariku karena aku mengaku sebagai Brahmana, tetapi ketika Beliau tau aku bukan seorang Brahmana beliau mengutukku bahwa aku akan melupakan Mantra yang sangat aku perlukan.
Disamping itu seorang Brahmana mengutukku bahwa roda keretaku akan terbenam dan aku terbunuh pada saat aku tidak siap, seperti hal nya sapi Brahmana itu yang aku bunuh.
Saat aku kembali ke Astina, saat itu adalah waktu Perlombaan ketangkasan Para Pangeran Astina.
Jiwa Pemanahku bergolak melihat kesombongan Arjuna yang bangga akan keahliannya, akupun menantangnya lalu semua orang tau bahwa aku hanyalah seorang putra kusir, mereka menghina dan mencemoohkan aku terutama Bhima mu yang tersayang, mereka menilai aku bukan lah lawan yang pantas bagi Arjuna.
Saat itu lah Duryodhana yang Agung datang padaku, mengakui aku sebagai sahabatnya dan mengangkatku sebagai Raja Anga, Duryodhana lah orang yang mengangkat derajatku saat semua orang merendahkan ku, dia hanya meminta Hati ku sebagai balasanya, dan Mulai saat itu Hati ku milik sang Raja, Majikan sekaligus sahabatku Pangeran Duryodhana.
Ibu Tidakkah kau mengenalku saat itu ? aku yakin kau pasti mengenalku dari Kavaca ( Baju Pelindung ) dan kundala (anting-anting) yang kukenakan, namun dengan alasan yang kau ketahui sendiri saat itu Ibu diam membisu
Namun mengapa sekarang kau datang padaku.............????
Di Dunia ini hanya ada dua cinta terpenting bagi Radheya, cintaku kepada Ibu ku Radha dan Cintaku kepada Sahabat sejatiku Duryodhana.
Aku tidak pernah dan tidak berani berpikir akan ada cinta yang lebih agung datang dalam kehidupanku.
Aku tidak bisa meninggalkan Duryodhana untuk bergabung dengan saudara saudaraku yang baru aku temukan sesuai dengan permintaanmu ibu”

Dengan berlinang airmata Kunti bertanya

K : Mengapa anakku..........???

Terdengar suara dari langit, Surya Dewa Matahari berkata ” Anakku Turutilah kemauan Ibumu, bergabunglah dengan Pandawa ”
Namun Radheya tidak bergeming

R : Ibu ,Aku terikat jalinan jutaan untai benang dengan Sahabatku Duryodhana, satu satunya orang di dunia ini yang menjadikan aku sahabatnya tanpa peduli aku seorang Sutaputra, bergantung padaku Dia telah memulai perang ini, dunia mengenalku sebagai sahabat sang Raja, Duryodhana malah ingin berbagi Singasana yang sama denganku, aku tidak bisa memungkiri kebahagiaanku melewati hari hari bersama sang Pangeran.
Namun kini Ibu datang padaku dengan cinta yang membuat temaram cinta yang aku tau selama ini
Aku akan tetap berada disamping Duryodhana untuk melunasi hutangku, hutang cinta dan terima kasih adalah hutang yang sangat sulit untuk dibayar
Katakanlah ibu , begitu agungkah cinta seorang Ibu hingga membuat aku begitu bimbang, tapi Radheya tidak akan merubah pendiriannya , sekarang janganlah berkata2 apa apa lagi aku tidak ingin menyakitimu dengan kata kataku ”

Radheya menutup kedua matanya dan menangis, Kunti tertunduk lemas air matanya bercucuran tak terhingga, mereka kembali berpelukan dalam tangis.

Sesaat kemudian Radheya melepaskan pelukannya

R : Ibu tangisan ini tidak baik untukku, seorang Ibu hanya boleh menangisi anaknya yang sudah mati, aku akan tetap bersama sahabatku dan aku tau akhir hidupku
Aku tau bahwa kami semua yang berpihak pada Duryodhana akan dikirim ke alam Yama (kematian) kami akan kalah, aku tau itu Ibu
Namun jalan satu satunya orang hidup didunia ini adalah mengukir nama Baiknya, kemasyuran........... jika aku bergabung dengan Pandawa aku akan kehilangan nama baik yang telah aku ukir selama ini, apapun Takdir yang telah ditetapkan, seseorang tidak boleh menyerah untuk mempertahankan dan mencari Nama Baik dan kemahsyuran, itulah jalan yang aku tempuh selama ini, aku menginginkan nama baik.
Ibu Restuilah aku berikan aku anugerah :
”Bahwa namaku akan di ingat sepanjang manusia masih hidup di dunia ini, kemahsyuran ku akan abadi sepanjang sejarah”

Dengan Hati yang hancur lebur Kunti merestui permintaan putranya

R : Terimakasih ibu, namun ini tidaklah benar........... biasanya akulah yang memberikan anugerah kepada orang2 yang datang padaku setelah aku selesai memuja Ayahku, kini aku akan memberimu anugerah yang setara dengan Permintaanmu sesuai dengan kemampuanku, engkau menginginkan hatiku, tapi hatiku bukan miliku, hatiku milik sahabatku Duryodhana
” Engkau akan Tetap memiliki lima Putera, Yudhistira, Bhima,Nakula dan Sahadeva Tidak akan aku bunuh dalam perang, mereka tidak akan mati ditanganku, tapi tidak dengan Arjuna, pertarungan diantara kami harus terjadinya.......... itulah satu satunya cara untuk melunasi hutang kepada sahabatku Duryodhana, namun bagaimana pun hasilnya kau akan tetap punya lima Putera, dengan Aku tanpa Arjuna, ataupun Dengan Arjuna tanpa Radheya puteramu Tetap akan lima, itulah anugerahku ”

Radheya menghela nafas panjang, dengan tatapan sedih Kunti memandangnya

R : Tapi ibu aku tahu, Arjuna akan tetap bersamamu, dibawah lindungan Khrisna Pandawa akan aman seperti Bayi dalam rahim ibunya, mereka akan selamat melewati Perang besar ini
Sedangkan kami yang memihak Duryodhana sudah dikutuk, kami akan mati............
Engkau mungkin sudah tau Ibu....
Aku juga telah dikutuk
Guruku Bhargawa (Parasurama) telah mengutukku ” bahwa aku kan melupakan mantra senjata yang aku perlukan disaat saat genting.
Lalu seorang Brahmana mengutukku, bahwa roda kereta ku akan ditelan Bumi dan aku dibunuh oleh musuh saat aku tidak siap.
Selain dua kutukan tadi Indra Raja Dewata telah meminta Kavaca ( Baju pelindung) dan Kundala (anting2) yang akan melindungi aku dari kematian.
Dan kemarin Khrisna datang dengan cinta yang Agung menggoyahkan perisai hatiku dan hari ini kau datang dengan kasih seorang Ibu yang kau hempaskan dan menghancurkan Tameng Hatiku, satu satunya senjata ku untuk melawan Pandawa adalah kebencianku kini semuanya telah hancur, bagaimana aku bisa berhadapan dengan Arjuna yang kini dimataku adalah seorang anak kecil yang mengulurkan tangannya dengan penuh cinta.
Ibu katakanlah
Dengan semua itu bagaimana aku bisa selamat dari perang ???

Kini mata Radheya terang tanpa airmata, dengan suara pelan meyakinkan Kunti

R : Ibu janganlah sedih, apa yang sudah digariskan oleh Para Dewa tidak ada yang bisa merubahnya, tidak juga Cintamu yang Agung, aku harus bertarung dengan Arjuna dan aku akan mati ditangannya
Sekarang pulanglah Ibu ku sayang, jangan sampai ada orang yang melihat kau datang menemui aku, biarlah dunia tetap menganggapku ”Sutaputra” tapi dirimu dan aku tahu bahwa Radheya adalah putera Kunti dan Surya, biarlah rahasia kelahiranku lenyap bersama kematianku ”

Tubuh Kunti begitu lemas, Radheya berkali kali harus memapahnya, Dia telah kehilangan puteranya selama ini dan setelah menemui Radheya dia semakin kehilangan, Pertemuan mereka hanyalah kebahagiaan sesaat seperti sinar kilat menyambar lalu lenyap saat Dunia masih gelap. Kunti dengan segala kegetiran meninggalkan Puteranya yang Mulia..............

Selesai
IZRO'IL
wah bgus bro hara..
ini ada sdikit cerita tentang karna/radheya/suryaputra/basukarna, ane dpt dr http://www.javawayang.org/?page_id=112

Beberapa jam sebelum sebelum pagi, sebelum gelombang pertempuran meledak lagi di Kurusetra, Karna tepekur sendirian di dalam kemahnya. Istrinya tidur pulas di peraduan. Karna tahu, hidupnya tak lama lagi. Karena itu, ia menulis sepucuk surat kepada Surtikanti istrinya.

“Peramal menujum aku akan tewas dalam perang ini. Tapi jangan dengarkan mereka, Surtikanti. Dengarkanlah aku. Nasib mungkin memihak musuh. Tapi aku akan menghadapi mereka - juga bila harus melalui mati.

“Mati, saat ini, rasanya bukan lagi soalku, Istriku. Mungkin karena alasan perangku lebih besar ketimbang hidup. Atau setidaknya alasan itu adalah alasan kehidupan sendiri: aku berperang untuk mengukuhkan siapa aku. Di pagi nanti, Karna tewas atau Karna menang, keduanya akan menentukan siapa dia. Sebab, siapa sebenarnya aku, Surtikanti, selama ini, selain seorang yang tak jelas kastanya, tak jelas asal-usul, tak jelas kaumnya?

“Jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat. Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya - bukan karena ia telah selesai dirumuskan.

Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku. Bagiku, Surtikanti, Kodrat adalah sesuatu yang tidak ada; dewa-dewa tak pernah menyabdakannya. Telah kuduga itu ketika namaku masih Si Radheya. Dulu.

“Kini bisa kuceritakan kepadamu apa yang terjadi pada Si Radheya, ketika ia berumur 16 tahun: hari itu ia tahu bahwa ibunya bukanlah ibunya yang sebenarnya, dan bapaknya — seorang sais — bukanlah bapaknya yang sebenarnya. Ia anak pungut, Surtikanti.

Ada yang menduga, seorang putri bangsawan tinggi melahirkan bayi yang tak dikehendaki dan membuangnya ke air. Dan itulah aku. Aku menangis ketika semua itu dituturkan padaku oleh wanita yang selama ini kusebut ibuku. Ternyata, aku bukan lagi bagian seasal dari dirinya, betapapun ikhlasnya kasih sayang.

Dan mulai saat itu, aku kembali terbuang, seorang bocah yang hanyut, di sepanjang tepian.

“Lalu kucari ilmu, istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina. Meskipun kukatakan kepada Radha, ibuku, bahwa ilmu tak mengenal kasta, tak memandang harta — dan karena itu di sanalah aku akan bebas — sesungguhnya aku berjusta, juga pada diriku sendiri: diam-diam aku ingin ingkar kepada kelas orang-orang yang mengasihiku. Sebab, ternyata di dunia kita yang menyesakkan ini, Surtikanti, ilmu pun telah jadi lambang tentang mana yang rendah, mana yang tinggi.

“Aku datang berguru kepada Durna, tapi Durna menolakku karena aku bukan ningrat, bukan kesatria. Aku datang kepada Bhargawa, mengaku anak brahmana dan jadi muridnya - tapi kemudian ia mengutukku ketika ia menuduhku anak kesatria, kelas yang dibencinya itu, yang berbohong.

“Memang, setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku tindakan Pangeran Duryudana. Dialah yang mengangkatku jadi penguasa di Angga, istriku, dan dari sanalah aku seakan lahir kembali: kini benar aku bukan anak kasta yang dihinakan. Dan aku meminangmu.

“Ya, aku tahu mengapa Duryudana mengangkatku, ketika para Pandawa menghinaku, di pertandingan memanah di arena Hastina belasan tahun yang lalu itu; mereka menolak melawanku karena bagi mereka, anak sais tak berhak bertanding dengan anak raja.

Duryudana ingin memperlihatkan, di depan rakyat yang menonton, betapa tak adilnya para Pandawa. Dan Putra Mahkota Kurawa itu mungkin juga memperhitungkan aku bisa digunakannya buat menghadap musuhnya yang lima itu.

“Tapi apa pun niat hatinya, tindakannya adil dan kata-katanya benar: ‘Keberanian bisa datang dari siapa saja, karena seorang kesatria ada bukan hanya karena ayahbundanya, tapi toh bisa keluar dari batu gunung yang tak dikenal.

“Rasanya, akulah salah satu batu gunung itu, Surtikanti, yang menerbitkan perciknya sendiri. Inilah kemerdekaanku. Arjuna memilih pihaknya karena darah yang mengalir di tubuhnya, aku memilih pihakku karena kehendakku sendiri. Arjuna berperang untuk sebidang kerajaan yang dulu haknya, aku berperang bukan untuk memperoleh. Maka, jika aku esok mau, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”

Sampai di situ Karna berhenti; tangannya tergetar. Tapi segera ia mengusap busur panah di sisi duduknya. Kurusetra senyap. Malam mengerang kesakitan. Keesokan harinya, Karna memang gugur di tangan Arjuna, saudara seibunya.






IZRO'IL
QUOTE (nicart @ May 17 2008, 06:46 PM) *
QUOTE (jaka_horny @ Apr 2 2008, 02:22 PM) *
@bro Hara, ramayana lebih tua dari mahabharata yah??? soalnya ada kisah ketika bhimasena ketemu ama Hanoman yang udah tua, saudaranya seayah...


Kalo boleh, mo ikutan jawab nih. Iya, Ramayana itu lebih tua dari Mahabharata. Sebenarnya pusat dari Ramayana dan Mahabharata adalah pada titisan betara Wisnu, yaitu Sri Rama dalam Ramayana, dan Bhatara Kresna yang di masa Mahabharata. Betara Wisnu inilah sebenarnya orang dibelakang layar dari Ramayana dan Mahabharata.

Hanoman dan Bisma memang bener, saudara seayah, Betara Bayu.


Ikut ralat dkit bro.. bukan Bisma tapi Bima.
Bisma = Dewa Brata, anak Sentanu dengan Dewi Gangga. (masih leluhur pandawa)
Bima adalah salah satu dari pandawa.
kaca negara
kata-kata adipati Karna yang dikutip oleh bung IZRO'IL, menyentuh banget. klu dulu martabat, harga diri dan kebanggaan atas asal usul jadi yang utama, nggak seperti sekarang yang hampir semuanya di hitung sama perhitungan untung rugi dan dinilai dengan materi.

thx for sharing
JOYRIDER
kebetulan gw lumayan suka ma cerita mahabarata atau ramayana, emang yg gw tau ada perbedaan versi antara india ma cerita versi kita

gw dulu masih kecil baca komiknya niki kosasih (kl ga salah) soal mahabarata

banyak bgt sisi filosofisnya, gw salut ama bro2 yg ada di bluefame ternyata masih banyak yg suka ma cerita ini, karena kl bukan kita sapa lagi yg akan melestarikan cerita ini..

gw seneng ma kisah sugriwa-subali, ada yg bisa posting ceritanya ga ya??

thanks
hara
@ JOYRIDER

soal Subali dan Sugriva
yang versi mana nih ??? Thinking.gif
Wayang ato India.......... coz banyak perbedaanya meski jalan ceritanya serupa HeHe.gif

tapi gimana ya ?
thread ini kan bahas MAHABHARATA
klo ngomongin Subali ma Sugriva jadinya RAMAYANA dong... BigGrin.gif Idea.gif
JOYRIDER
@ bro hara

yup emang sih subali-sugriwa tu ramayana, ya sapa tau aja bisa numpang dsni, ato kl ga bro hara mau dengan sukarela bikin thread baru soal ramayana

hehehe...gw tunggu dengan senang hati

versi ceritanya yg gw masih sedikit inget versi wayang (jawa), syukur2 kl bro hara bisa kasih 2 versi itu

thanks before
wyndgn
om mau dong DVD-nya . . .

mengenai syarat dan lainnya tlg konfirmasi ke wyndgn@gmail.com
ato ke 085237518985

aq tunggu

thx

regard
WND


QUOTE (omni88jkt @ Jun 24 2008, 02:14 PM) *
Ada yang mau filmnya tdk? gw punya
kalau mau tinggal ganti duit DVDnya (total 5 DVD @ 5000) & ongkos kirim

note: Suara masih asli bahasa India tapi ada subtitlenya bahasa Inggris

wyndgn
om mau dong DVD-nya . . .

mengenai syarat dan lainnya tlg konfirmasi ke wyndgn@gmail.com
ato ke 085237518985

aq tunggu

thx

regard
WND


QUOTE (omni88jkt @ Jun 24 2008, 02:14 PM) *
Ada yang mau filmnya tdk? gw punya
kalau mau tinggal ganti duit DVDnya (total 5 DVD @ 5000) & ongkos kirim

note: Suara masih asli bahasa India tapi ada subtitlenya bahasa Inggris

ciko_xxx
wow keren Mahabharata

share Ramayana jg donk
tasyurrr
Alhamdulillah wkt kecil gw sempet baca ;
1. MAHABHARATA
2. BHARATAYUDHA
3. PANDAWA SEDA
jd gak terlalu bingung ngikutinnya...

Btw anak gw gue namain dgn tokoh itu loh...
Yg sulung : YUDHISTIRA
Yg bungsu : BIMA
lom nambah lagi coz gw kekurangan Inang (baca=Induk)...

Yg berminat jadi Induk silahkan PM gw di tasyurrr

ditunggu yaa...
tasyurrr
Alhamdulillah gw waktu kecil udah baca ;
1. MAHABHARATA
2. BHARATAYUDHA
3. PANDAWA SEDA
jdnya gak terlalu bingung bc ceritanya...

Btw gw namain anak gw pakai tokoh Pandawa loh..
Yg Sulung YUDHISTIRA
Yg Bungsu BIMA
lom bisa nambah lagi coz gw kekurangan Inang (=Induk)...
Yg mau daftar jd Induk silahkan cari gw di tasyurrr

ditunggu yaa...
jonbob58
weleh... mantaps ceritanya... Memang agak berbeda dengan versi Jawa tapi garis besarnya sama. Ada juga nih soal wayang di japblog.wordpress.com
Anserk8
whahahaha nga nyangka panjang begini, mengingat nama gw Kresna HeHe.gif
hara
QUOTE (Anserk8 @ Dec 12 2008, 01:27 AM) *
whahahaha nga nyangka panjang begini, mengingat nama gw Kresna HeHe.gif


berarti ntar bisa punya 4 Istri Utama dan 16.000 selir lho seperti Lord Krishna
thumbsup_anim.gif
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.