
Menyikapi Pluralitas Secara Elegan
Etika AlQuran soal Keberagaman Agama
Penulis: Hendar Riyadi, MA
Penerbit: RMBooks
Tebal: xxx+254, Januari 200 hal
PLURARITAS agama terus menjadi perdebatan abadi hingga kini. Sebabnya adalah: karena masing-masing agama memiliki klaim kebenaran (claim of truth). Benturan, pertikaian, chaos, saling serang dan membinasakan menjadi muncul ke permukaan. Celakanya, benturan yang terjadi kemudian tidak hanya melibatkan agama, melainkan meluas hingga ke ranah kebudayaan dan peradaban.
Kenapa bisa demikian? Tidak bisakah pluralitas itu menjadikan kehidupan makin berwarna, indah dan tetap dalam bingkai kedamaian? Buku ini mencoba menjawab pertanyaan besar itu. Menurut Hendar, penyebab utama terjadinya tragedi kemanusiaan atas nama agama berpangkal pada metodologi interpretasi (penafsiran) teks-teks Kitab Suci yang cenderung bersifat parsial dan literal-skriptural. Model interpretasi demikian melahirkan cara pandang keagamaan yang eksklusif, tidak ramah dan cenderung benci terhadap orang-lain-agama (h. vi).
Sementara untuk pertanyaan kedua, penulis menjawabnya dengan menggali lebih dalam etika al-Qur’an yang sebenarnya, menurut dia, jauh dari kesan eksklusif. Tidak ada landasan teologis bagi masing-masing umat untuk eksklusif terhadap kebenaran yang dimiliki umat lain. Komaruddin Hidayat, dalam pengantar buku ini, menyatakan masing-masing agama memiliki kebenaran karena semuanya berasal dari Yang Maha Benar. Maka sikap eksklusif sama sekali tidak relevan.
Bagi Hendar, konsep kunci Islam dalam menyikapi pluralitas agama terbingkai dengan elegan pada “etika al-Qur’an”. Al-Qur’an yang diturunkan sebagai respons terhadap konteks amburadulnya moral-sosial masyarakat Arab, tak ayal banyak memuat komentar, pernyataan bahkan solusi dalam bentuk seruan-seruan moral.
Tauhid sebagai salah satu konsep kunci etika al-Qur’an pun kemudian bukan hanya dijadikan prinsip dasar metafisik (the principle of metaphisics), melainkan lebih sebagai prinsip dasar etika sosial (the principle of social ethic values). Di sini tauhid diposisikan sebagai dasar moralitas keberagaman dan kesetaraan kaum beriman (h. 124).
Hal yang sama juga berlaku untuk tetralogi Iman, Islam, Ihsan dan Taqwa. Tetralogi itu, lanjut Hendar, sebenarnya menjadi nilai universal spiritualitas agama-agama. Maka melalui tetralogi itu sejatinya akan tersebar kearifan, rasa aman, kedamaian dan keselamatan bagi yang lain di sekitarnya, termasuk bagi kaum beriman yang berbeda agama (h. 149).
Pluralisme dalam bingkai sikap keberagamaan yang inklusif bergerak baru sebatas pengakuan dan membiarkan umat agama lain ada atau berpartisipasi meng-ada-kan pemeluk agama lain secara aktif, coexistence. Maka tawaran sikap pluralis Hendar dalam buku ini, yang disebut melampaui pluralisme itu, lebih pada langkah praktis: pergumulan konkret dengan realitas sosial. Untuk itu ia mengetengahkan konsep berteologi yang inklusif-kritis-emansipatoris (h. 204-205).
Teologi ini hanya bisa terwujud lewat model penafsiran yang menjadikan realitas sosial sebagai basis pijakannya. Satu hal yang hendak ditemukan dalam model penafsiran demikian adalah terungkapnya visi liberasi Kitab Suci. Dari sini doktrin-doktrin keagamaan tidak lagi hanya dijadikan sebagai sebuah panduan moral atau paling jauh revolusi keimanan. Ia sekaligus dijadikan sebagai kritik atas realitas sosial-kultural yang timpang dan tidak manusiawi, untuk kemudian melakukan rekonstruksi dan transformasi sosial ke arah tatanan sosial yang berlandaskan moral, egaliter dan berkeadilan (h. 207).
Kehadiran buku ini patut diapresiasi sebagai model pembacaan yang –meski tidak sepenuhnya baru—segar. Penggalian yang begitu jauh terhadap teks-teks al-Qur’an untuk mengungkap sisi pluralis Islam menjadikan buku ini istimewa, di tengah kecenderungan kajian pluralisme agama yang berbasis pada pandangan-pandangan sekuler. Kata Komaruddin Hidayat, kehadiran buku ini diharapkan dapat menciptakan hubungan yang konstruktif antar-umat beragama yang, hingga kini, selalu menyimpan potensi konflik.***
Didi Ahmadi, Pekerja Perbukuan