
The Real! Transplan Hati
Ganti Hati A La Dahlan Iskan
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: JPBOOKS, Oktober 2007
Tebal: viii + 328 hal
MEMBACA buku ini seperti kita didongengin petualangan yang cukup seru, serius, haru dan mengerikan—tentu ada sedikit geli dan lucunya—soal urusan hidup dan kesehatan. Ingat kesehatan. Setelah baca buku ini pasti semua orang waras sepakat sehat itu penting dan harus dijaga sejak dini. Ganti Hati adalah sebuah cerita, tutur nasehat—atau apalah, dari seorang Dahlan Iskan yang punya the real! pengalaman seputar transplantasi liver. Bagaimana ia menanggung derita penyakit ini sejak lama, tapi tak cukup banyak orang dekat yang tahu. Terpenting dari ceritanya adalah suspense (ketegangan-ketegangan) saat-saat ia hendak menjalani pembedahan. Tapi, bukan Cak Iskan kalau pembaca tidak diajak ngalor-ngidul dulu.
Cerita punya cerita, lantaran terkena virus hepatitis B dan harus menjalani operasi transplantasi hati (liver), pernik-pernik hidupnya semasa kecil ikut terceritakan dalam rubrik “Dahlan Iskan, Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver” yang telah menjadi buku ini. Sifat dan kesederhanaan hidup keluarga Cak Iskan juga ditemukan di beberapa tulisan ini. Anda ndak tau mungkin ternyata basic spiritual yang ditekuni keluarganya ialah tarekat Syathariah, dan dengan itu bagaimana semangat seorang Dahlan Iskan benar-benar berangkat dari suatu konsentrasi keseriusan memenangkan hidup—hingga dalam saat-saat menjalani transplantasi livernya ini. Bukan sembarang pilihan jika tidak mengikutkan kecemasan bagi orang-orang sekitarnya, tapi itu sudah dalam perhitungannya. Demikianlah keberanian Cak Iskan.
Banyak orang, saat itu berkumpul, berdoa panjang-panjang akan keselamatan proses transplantasi itu, tapi apa doa Cak Iskan saat itu “Tuhan, terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah!” Ternyata ini tiket ketenangan yang membawa proses transplantasi ini dari suspense-nya menuju surprise—hingga cerita ini dibukukan!
Tak banyak kesempatan memang, apalagi “posisi pengalaman” seperti yang didapat oleh seorang Dahlan Iskan, bagi orang-orang yang baik gagal melakukan transplantasi (ya tentu, mati) atau yang berasil melakukannya. Tapi cak Iskan benar-benar memanfaatkan hal ini untuk berbagi cerita (yang menyemangatkan!), misalnya, bagaimana ia sudah dimatikan selama tiga jam tapi belum juga proses dimulai. Dan di situ tentu ada keberanian—tidak hanya keberanian mengambil keputusan transplantasi yang memang sudah merisaukan itu, tapi juga keberanian menceritakan kembali.
Seperti tutur ini, “Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan, selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Cairan itu merupakan kelebihan cairan rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang bercecer dan berkeliaran.” Tidak mungkin Cak Iskan tidak mengamati kondisi itu langsung dan kondisi-kondisi ngeri lainnya. Pasti ia melihat tubuhnya sendiri “diobrak-abrik” oleh tim bedahnya; seperti ia bercerita seorang tetangganya yang bernasib sama teriak-teriak kesakitan hendak mencabut selang-selang yang menancap di sisi lehernya masuk ke dalam tubuh—padahal sama seperti kondisi pada dirinya, dia seperti cukup tau dan sabar. Dan ia berhasil menceritakan itu. Hampir membaca buku ini seperti membaca peta-peta Rembrandt, saking taunya penulis atas keadaan yang dialaminya. Sampai-sampai seorang penyair Taufik Ismail menengarai “itu (buku ini) bukan saja novel nyata pengalaman hidup, tapi sesungguhnya ia zikrulmaut yang sangat dahsyat.”
Buku ini kumpulan tulisan yang dimuat selama 33 hari di harian Jawa Pos, dan jejaring media JPNN, akan banyak memberikan percikan semangat hidup—walaupun barangkali anda membaca perlu menundanya karena serius yang dialami—sebanyak, barangkali, tanggapan yang dikirim pembacanya melalui email tercatat 1.332 dan SMS sebanyak 7.590 (pas buku ini angkat cetak, setelahnya tak terhitung). Untungnya buku ini juga menyertakan tanggapan-tanggapan dari pembaca itu, tentu yang ini juga haru, seru, lucu, dan juga inspiratif! Anda membacanya perlu emosi kontemplasi untuk menjamah kedalamannya.***
Budiono, penulis adalah pecinta buku (budionoza@yahoo.co.id)