Menguji Ketulusan Suami-Istri, Mudah
Apa yang dilakukan seorang istri ketika mendapati sang suami
menderita sakit? Tentu selain kehendak Allah yang menyembuhkan, obat dari dokter
yang membantu penyembuhan, adalah sentuhan hangat dan pelayanan yang tulus dari
sang istri-lah yang membuat suami bersemangat untuk kembali sehat.
Ia begitu ikhlas membasuh setiap peluh yang bergulir disekujur tubuh suaminya.
Jika perlu ia takkan memejamkan matanya sedetikpun untuk menjaga dan memastikan
dirinya menangkap setiap keluhan sang suami saat sakit. Istri begitu setia
menemani suaminya agar tetap merasa hangat saat menggigil kedinginan atau bahkan
melindungi, mendekapnya saat ketakutan akan bayang-bayang kematian, maklum, saat
sakit biasanya setiap orang akan merasa dekat dengan kematian.
Dengan tulus sang istri menyuapi makan suaminya, membopongnya ke kamar kecil,
memandikannya bahkan jika perlu menggantikan sementara posisi sang suami mencari
nafkah jika suami menderita sakit cukup lama. Padahal disaat yang sama,
anak-anak mereka tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang orangtuanya,
bimbingan dan belaian hangat serta didikan dan tutur lembut ibu mereka. Itu
semua dijalani sang istri tanpa sedikitpun keluhan.
Dari semua yang dilakukannya, tergambar indah ketulusannya. Bahwa sikap manisnya
tidak hanya saat sang suami sehat, cintanya tetap dan tidak berubah meski sang
suami dalam kondisi tak berdaya, bahkan kelembutannya makin terasa menghangatkan
tubuh suami yang lemah. Kasih dan sayangnya begitu membangkitkan gairah suami
untuk sembuh dari sakit, perhatiannya tidak berkurang setitikpun. Saat itulah
sang suami menyadari, betapa makhluk lembut yang sering tidak diperhatikannya
itu, begitu tulus dan ikhlas atas dasar cinta dan kasih sayang yang kuat.
Kemudian bandingkan ketika si istri yang menderita sakit. Belum tentu setiap
suami mampu memberikan ketulusan yang sebanding dengan apa yang pernah diberikan
istrinya. kebanyakan suami berpikir, dengan membawa sang istri kedokter atau
membiayai rawat inap di rumah sakit, ia telah menunjukkan perhatian dan kasih
sayangnya.
Kebanyakan suami juga, lebih sering meminta bantuan perawat untuk membasuh peluh
istrinya, memandikan, menyuapi makannya dan melayani kebutuhannya selama sakit.
Ia juga, lebih cenderung menitipkan anak-anak ke neneknya atau saudara yang lain
saat istri sakit. Selain itu, ia pun sibuk menelepon sanak famili untuk
bergantian menjagai istrinya di malam hari. Bisa dipahami jika saat jam kerja,
karena setiap laki-laki harus mencari nafkah.
Ketahuilah, istri juga butuh kasih sayang yang tulus seperti yang pernah ia
berikan kepada suaminya, baik saat sehat terlebih saat menderita sakit. Istri
juga ingin diperhatikan, ia juga ingin suaminya selalu menemani disaat-saat
sendiri dan kesepian, apalagi saat dicekam derita. Ia mungkin sering menangis
dalam deritanya, namun saat itu kita tengah terlelap, dalam sakitnya juga
seringkali ia tak memejamkan matanya memikirkan anak-anaknya, tangannya sibuk
membelai kepala sang suami yang tertidur disampingnya sambil mengkhawatirkan
kesehatan suaminya. Tak lupa sesekali ia mengingatkan agar suaminya tidak lupa
makan dan banyak beristirahat.
Nah, jika demikian, tentu kita tahu dan bisa mengukur batas ketulusan kita
terhadap istri selama ini. Tentu ada bahkan banyak pula suami-suami yang begitu
tulus dan cintanya mengurusi istri, jika demikian, tulisan diatas hanya
mengingatkan saja, agar para suami tetap mempertahankan ketulusannya itu. (Bayu
Gautama).