Sebenarnya aku ragu mau post artikel ini, karena membingungkan dan translate-ku yang amburadul. Tapi karena aku dah terlanjur translate, jadi sayang juga klo gak di-post. Artikel Aslinya berjudul
The True History of Atlantis oleh
Prof. Arysio Nunos dos Santos....terus terang aja aku juga bingung karena terkesan antara Atlantis dan Lemuria itu sama saja..(???)
THE TRUE HISTORY OF ATLANTISCatatan: Bencana hebat akibat api dan air yang disebutkan di essay ini merupakan kajian ilmiah. Mereka secara luas dijadikan bukti dalam catatan geologis, yang secara umum diterima oleh geologi modern. Bencana hebat ini menjadi pemunah massal dari semua spesies, terutama bagi sebagian besar mamalia yang hidup di jaman es Pleistocene, sekitar 11.600 tahun yang lalu. Sekitar 70% dari mamalia besar dahulu menjadi langka pada masa itu, dan kemungkinan juga termasuk dua spesies manusia, Neandertals dan Cro-Magnons.
Penyebab berakhirnya zaman es Pleistocen kemungkinan adalah sebuah letusan besar dari Gunung Krakatau (atau mungkin gunung lain), yang telah memisahkan pulau Jawa dan Sumatra di Indonesia.
Ledakan raksasa Krakatau ini secara luas menjadi dongeng dan tradisi seperti halnya Atlantis dan Paradise (Surga?), yang tentu saja terletak di suatu wilayah di dunia ini. Letusan raksasa semacam ini diingat seperti halnya letusan gunung dari Paradise (= Gn. Krakatau, Atlas, Sinai, Zion, Alborj, Qaf, Golgotha, Meru (Semeru?)) dan bencana besar yang diakibatkannya, yang secara mengerikan dikatakan sebagai banjir dan kebakaran universal.
Letusan Gunung Krakatau menyebabkan gelombang tsunami raksaksa, yang menghancurkan dataran rendah Atlantis dan Lemuria. Letusan ini juga memicu berakhirnya zaman es karena debu akibat letusan ini menutupi gletser kontinental. Debu yang menutupi gletser ini memicu pencairan es karena debu ini meningkatkan absorbsi panas dari sinar matahari (Hal ini bisa dipahami karena debu berwarna gelap, dan warna gelap lebih menyerap panas). Air dari pencairan gletser ini mengalir ke lautan danmeningkatkan permukaan air laut sekitar 100-150 meter dan menyebabkan tekanan yang luar biasa pada lapisan keras kerak bumi. Tekanan ini menyebabkan pecahan/patahan di lapisan lemah kerak bumi, sehingga memicu erupsi lain serta gempa besar. Hasil dari seluruh rangkaian peristiwa itu adalah akhir dramatis zaman es Pleistocene, serta pemunahan masal makhluk hidup.
PengantarSeluruh negara di semua masa percaya pada keberadaan Paradise (Surga) Purba di mana manusia memulai dan mengembangkan peradaban pertama. Cerita ini, nyata dan benar, tercantum dalam Al-Kitab dan Kitab Suci agama Hindu seperti Rig Veda, Puranas dan banyak yang lain. Bahwa Surga ini berada “toward the orient” (maksudnya apaan ya??, “Menghadap Dunia Timur”??), tidak seorang pun yang meragukannya kecuali beberapa ilmuwan yang pantang menyerah yang mempertahankan pendapatnya bahwa beberapa peradaban berkembang secara terpisah di tempat-tempat seperti Eropa, Amerika dan ditengah samudera Atlantik.
Di Orient (Dunia Timur)-lah pertanian (padi dan pembibitan) dan penjinakan hewan ditemukan. Penemuan dua hal krusial ini menyebabkan manusia tinggal (baca: tidak berpindah-pindah/nomaden) sehingga melahirkan peradaban dan pembentukan kota pertama. Kota pertama ini menurut Al-Kitab disebut Henok atau Chenok, (“The Abode of the Pure” di Dravida) sampai Cain.
Nama “Tanah Suci”, kota paling pertama ini sama seperti di dalam budaya Hindu (Shveta-dvipa, Sukhavati, Atala dll.). Bahkan di budaya Ameridian, Tanah Suci “Yvymaraney” adalah tempat lahir legendaris dari Tupi-Guarani, Indian Brazil, seperti halnya Aztlan adalah tempat asal dari Maya Yukatan kuno. Manusia sebenarnya muncul sekitar 3 juta tahun lalu dan segera menyebar ke seluruh Eurasia dan daerah lainnya, dan mencapai di Far Orient (Timur Jauh) dan Australia sekitar 1 juta (atau lebih) tahun yang lalu.
Indonesia, Lokasi Eden Setelah manusia bermigrasi dari daerah savana Afrika, manusia menemukan tempat yang kondisi iklimnya cocok untuk berkembang, yaitu di Indonesia dan di pulau-pulau sekitarnya. Di sinilah mereka menemukan pertanian dan peradaban. Semua ini terjadi pada zaman Pleistocene yang berakhir 11.600 tahun yang lalu.
Pleistocene (dari bahasa Yunani yang berarti “paling baru”) juga disebut sebagai Era Anthropozoic atau Quaternary atau Zaman Es. Sepanjang zaman itu yang terjadi dalam kurun waktu 20 ribu tahun, permukaan air laut hanya sekitar 100-150 meter di bawah permukaan air laut saat ini. Dengan begitu, pada saat itu banyak pulau dan wilayah di sekitar yang masih tergabung, yang membentuk benua raksasa, lebih besar dari gabungan Asia Kecil dan Libya, persis seperti pendapat Plato mengenai Atlantis dalam dua buah catatan dialog yakni: buku Critias dan Timaeus.
Dengan berakhirnya zaman es Pleisocene, gletser yang menutupi separuh Amerika Utara dan Eurasia mencair yang menyebabkan naiknya permukaan air laut (100-150 meter). Dengan kenaikan permukaan laut ini, Atlantis tenggelam dan menghilang bersama sebagian besar populasinya, yang berdasarkan data dari Plato sekitar 20 juta orang.
Eden adalah Benua Atlantis Bangsa Lemuria (Lemurian Atlantis)Lebih persisnya, benua yang tenggelam ini adalah “Lemurian Atlantis”, benua yang lebih besar diantara dua (benua) Atlantis yang disebutkan oleh Plato. Lemuria menjadi padang rumput yang sangat luas (mungkin karena sapuan air laut yang meluap) yang oleh bangsa Yunani disebut sebagai bidang Elysian, sementara bangsa Mesir menyebutnya bidang Alang-Alang (Sekhet Aaru) atau Pulau Nenek Moyang (The Ancestral Land – “To-Wer”), surga seberang lautan dimana sebelumnya mereka tinggal, di Zep Tepi (di masa purba). Benua yang tenggalm itu menjadi Pulau Kematian, yang seram, daerah yang ditinggalkan, di mana tidak ada pelaut yang berani mendatangi, “The Land of No Return”.
Menariknya Pulau Nenek Moyang (Ancestral Land atau Serendip) adalah sebutan dari bangsa Dravidia untuk Taprobane (Sumatra), pulau dimana bangsa Hindu sebelumnya meletakkan Surga sucinya, yang tenggelam karena sebuah bencana besar (cataclysm). Tempat suram (tempat berbahaya yang masih berada di atas permukaan air) diberi nama Sheol (Neraka) oleh bangsa Yahudi, “Pulau yang Diberkati” (Makarion Nesos) atau Hades (Neraka) oleh Bangsa Yunani, Amenti atau “Perahu Lebar dan Dangkal” oleh bangsa Mesir, Dilmun oleh bangsa Mesopotamia, Hawaiki oleh bangsa Polinesia, Svarga oleh bangsa Hindu dan seterusnya.
Exodus Besar-BesaranKoloni terbesar dari bangsa Lemuria adalah Atlantis, berdiri di India, pada masa kejayaan bangsa Lemuria yang telah mencapai titik puncak kehebatan manusia. Atlantis dan Lemuria mengalami masa kejayaan selama satu era zodiak penuh (2.160 tahun), hingga terjadi bencana besar yang menghancurkan mereka di akhir masa Pleistocene, 11.600 tahun lalu.
Orang-orang yang selamat dari bencana yang menenggelamkan Lemuria melarikan diri meninggalkan Surga mereka yang sudah hancur ke India, lokasi Atlantis. Akan tetapi akibat bencana besar yang mengakhiri zaman es ini, menyebabkan mencairnya es di gunung himalaya yang mengakibatkan banjir besar di sungai-sungai Asia, menyumbangkan daerah yang tak layak untuk tempat tinggal manusia. Banjir besar ini membinasakan sisa Atlantis (di India) yang pada awalnya juga terbinasakan oleh kebakaran hebat di Indonesia akibat meletusnya gunung Krakatau serta tsunami diakibatkannya.
Sekali lagi, orang-orang yang selamat dari rentetan bencana besar tersebut melarikan diri, selama millenia berikutnya, ke daerah-daerah terpencil macam Mesir, Mesopotamia, Palestina, Afrika Utara, Eropa, Asia Utara, Near Orient (Timur Dekat??), bahkan ke Oseaniua dan Amerika. Beberapa melarikan diri dengan berjalan kaki, dalam rombongan besar, yang lain menggunakan kapal seperti Nabi Nuh atau Aeneas dengan armadanya, untuk mendirikan peradaban besar lain di dunia kuno.
Peradaban-peradaban besar yang kita tahu di Lembah Hindus, Mesir, Mesopotamia, Asia Kecil, Yunani, Roma, Meksiko, dan Amerika, semua adalah koloni baru bangsa Atlantis yang selamat dari bencana besar yang telah menghancurkan Surga Kembar, Atlantis dan Lemuria. Tentu saja orang-orang ini berusaha untuk membuat surga baru (Eden) di koloni baru mereka.
Orang-orang ini menamai dan membangun daerah koloninya yang baru seperti nama-nama dan bangunan mereka sebelumnya. Oleh karena itu, kita tetap menemukan sisa-sisa Atlantis di mana-mana, dari Brazil dan Amerika Utara sampai Spanyol, Crete, dan bahkan Afrika dan Eropa Utara. Semua peradaban kuno ini menyebutkan Pahlawan Peradaban mereka seperti Manu, Nuh, Aeneas, Oannes, Hotu Matua, Quetzalcoatl, Kukulkan, Bochica dan tentu saja Atlas dan Herkules. [bersambung]
Baru segitu yang berhasil aku translate. Agak membingungkan khan??? Klo dianggap menarik, aku nanti coba translate lagi. Cuma aku akui, selai bhs inggrisku jelek, kata2 yang digunakan juga susah

Okay.... dari artikel di atas terkesan antara Lemuria n Atlantis sama... atau di situ Atlantis hanya terkesan sebagai nama benua (moga aku ga salah ngerti). Tapi aku mendapat "timeline" peradaban.....

Dari timeline tersebut terlihat bahwa peradaban Lemuria ada lebih dulu dari pada Atlantis.... Apakah berarti Atlantis keturunan Lemuria? Lalu bagaimana juga dengan peradaban Etheric, Reptoid, Dinoid, Hybornea??
Wallahua'lam bisawab
@Agattuso Milanisti
Mengenai otak Bangsa Atlantean/Atantis, kayaknya aku pernah liat hipotesis skemanya deh....tak cari dulu ah....
Peace.....