Lanjutan
The True History of Atlantis.. pelajaran sejarah lagi.....

Apa yang Terjadi Selama Zaman PleistoceneMari kita rekapitulasikan (mengikhtisarkan) apa yang terjadi selama Zaman Es Pleistocene.
Ini adalah bagaimana Zaman Es bermula. Dirubah menjadi awan oleh panas matahari, air laut di bawa ke benua-benua oleh angin, dan diturunkan menjadi hujan atau salju. Pada zaman es ini, air hujan/salju ini tertahan oleh glacier (es) dan menutupi wilayah tersebut (benua) hingga setebal satu atau dua mil. Semakin lama permukaan air laut turun hingga 100-150 meter, atau bahkan lebih, hingga dasar benua terlihat di permukaan.
Seperti Laut Cina Selatan yang kedalamannya jarang melebihi 60 meter, seperti yang terlihat di Gambar 1. Ketika zaman es berakhir, proses di atas berbalik, sungai es (glacier) meleleh dan mengalir cepat ke lautan, sehingga dasar benua yang tadinya terlihat kembali tenggelam.
Seperti yang kita lihat, dunia bekerja seperti filip-flop atau ayunan, selalu bergerak dinamis di antara panas dan dingin yang ekstrem. Cukup menarik, inilah kehidupan yang selalu berada pada keseimbangan, menunjukkan feedback negatif yang menanggulangi kecenderungan dunia untuk membeku ataupun mendidih. Dalam hal ini, jika CO2 (karbondioksida) bertambah kadarnya di atmosfir, temperatur cenderung naik (Efek Rumah Kaca). Fenomena ini tepat seperti yang kita amati pada planet Venus yang panas/mendidih (sizzling Venus), yang atmofernya hampir seluruhnya adalah CO2. Di Mars, yang atmosfernya (dan mungkin kehidupannya) telah musnah akibat bencana luar biasa (yang mungkin disebabkan oleh hantaman meteorit dengan ukuran planetoidal/sebesar planet) merupakan kebalikan dari Venus yang panas.
Dimanapun kehidupan berada, seperti di Bumi, dalam keadaan normal, meningkatnya kadar CO2 di atmosfer berakibat meningkatnya fotosintesis. Tumbuhan tumbuh dengan cepat, mengolah kelebihan CO2 sehingga kadarnya turun. Hal tersebut akan berbalik jika kadar CO2 turun oleh karena sebab tertentu. Fotosintesis berkurang dan pertumbuhan tumbuhan terganggu, jumlah plankton di lautan pun akan berkurang dan akan membebaskan CO2.
Akan tetapi, biar bagaimanapun, keseimbangan di bumi bekerja dengan batas yang rigid (kaku), dan adanya gangguan terhadap keseimbangan itu akan dapat memicu terjadinya zaman Es maupun Panas. Seperti halnya flip-flop dan timbangan, suatu perubahan akan diikuti dengan feedback yang bertolak belakang sehingga kondisi akan kembali ke normal, hingga terjadi suatu perubahan lagi.
Pada zaman Es, hampir keseluruhan permukaan bumi ditutupi oleh es, sinar matahari dipantulkan kembali ke angkasa, sehingga mengurangi jumlah panas matahari yang diserap oleh bumi. Temperatur bumi terus menerus turun dan jumlah glacier meningkat. Dalam kertidak-beradaan kehidupan, kita melihat contoh ekstrem pada planet tetangga, Venus dan Mars. Seperti yang telah disebutkan di atas, Venus panas seperti neraka dan Mars dingin membeku.
Akibat Zaman EsAkibat dari Zaman Es serta perkembangan dan berkurangnya glaciers kontinental tidak diketahui dengan jelas. Tetapi berdasarkan mitos, berakhirnya Zaman Es adalah dikarenakan letusan Gunung Atlas, yang letusannya memusnahkan benua Atlantis kembar (The Twin Atlantises) dari peta.
Gunung Atlas –“The Pillar of Heaven” yang menghiasi Lemurian Atlantis– merupakan gunung vulkanis yang sangat besar di wilayah yang sekarang dikenal sebagai busur kepulauan Indonesia. Lebih tepatnya, gunung ini adalah Krakatau yang sangat mengerikan, bahkan sampai sekarang gunung ini masih hidup dan sangat aktif, walaupun sebelumnya pernah mengalami letusan yang sangat dahsyat di masa/zaman Atlantis. Setelah letusan dahsyat tersebut, Krakatau tenggelam di bawah laut dan berubah menjadi caldera raksasa yang sekarang membentuk selat Sunda di antara Jawa dan Sumatera.
Caldera raksasa ini –sepanjang 150km penuh– merupakan “Daerah Bawah Laut Berapi” (Vadava-Mukha) seperti yang sudah diulas sebelumnya. Letusan raksasa ini bukan hanya merupakan mitos-mitos di seluruh dunia yang menceritakan tentang akhir dari Atlantis (Paradise). Bencana besar semacam ini di suatu wilayah di dunia telah dibuktikan oleh adanya sabuk tektite dan lapisan abu vulkanis yang menutupi wilayah samudra Hindia, Australia, Indonesia dan Asia Tenggara.
Abu dan Debu yang dilepaskan oleh letusan raksaksa yang terbawa oleh angin, menutupi glacier-glacier di Asia Utara dan Amerika Utara dengan lapisan gelap zat karbon. Akibatnya, penyerapan sinar matahari meningkat dan glacier-glacier yang menutupi daerah Tropis akhirnya meleleh.
Thermal Runaway and the Quaternary ExtinctionsProses melelehnya glacier jauh dengan cara berpikir para Geolog dari sekolah Darwinian. Air akibat glacier yang meleleh mengalir dengan cepat ke lautan dan menyebabkan tekanan sangat besar pada kerak bumi. Lempeng bumi pecah dan terbelah di banyak tempat, mengaktifkan/membentuk gunung api, gempa bumi dan tsunami raksasa. Kejadian mengerikan ini terus berlanjut, didorong oleh kekuatan yang dimilikinya, sampai pada akhirnya berhenti dan bumi telah mengakhiri zaman es. Pada kejadian yang sangat mengerikan ini, sekitar 70% dari spesies mamalia besar menjadi langka.
Geolog menamai kematian massal pada akhir zaman es ini dengan sebutan ”Quartenary Extinctions”. Akan tetapi mereka gagal menjelaskan penyebap pastinya, dan tidak ada dari lusinan literatur teori ilmiah yang mampu menjelaskan penyebab dari zaman es yang dapat diterima oleh konsensus ilmiah. Dari beberapa spesies yang punah, ada beberapa yang luar biasa, seperti mammoth, mastodon, harimau ”saber-toothed”, beruang gua, kukang raksasa, lusinan spesies camelid, cervid, cavalid dan kemungkinan besar Neandertal dan manusia Cro-Magnon, yang menjadi punah pada saat itu dengan penyebab yang tidak diketahui secara pasti dan hanya dapat dihubungkan dengan kejadian mengerikan pada saat berakhirnya zaman es itu.
Selanjutnya ada dua paragraf yang sangat susah aku translate, mungkin ada yang bisa membantu

(maklum bahasa inggrisku pas-pasan):
No, the ancient myths in no way overstate the universal extent and violence of the Flood cataclysm. The worldwide mass extinctions of the end of the Quaternary (the Pleistocene Ice Age) attest, most unequivocally, that the brutalitity of the cataclysm was truly Velikovskian in extent, if not in nature.
And the instances of both Mars and Venus are Celestial witnesses of what may indeed happen to the Earth if we persist in abusing her the way we presently do. Are these two planets the Two Witnesses mentioned in the Book of Revelation (11:8), "their corpses exposed in the streets of the Great City (the skies?) for all to see and marvel"? I would not know, but I fear they could well be so. Aren’t these witnesses of permanent death on a planetary scale indeed perhaps the scariest thing in the entire sky?
Runtuhnya Gunung Suci OsirisGunung Atlas adalah Gunung Suci Surga (Paradise) yang digambarkan sebagai Great pyramid. Osiris mati, beristirahat di dalam Gunung Suci, mewakili Atlantis yang mati, terkubur dan termakamkan oleh letusan raksasa Gunung Suci Atlas. Gunung Atlas adalah sama dengan Gunung Meru pada tradisi Hindus, gunung yang berbentuk seperti piramid yang menopang langit.
Tentu saja, kata Mesir untuk piramid, M’R yang kemungkinan besar dibaca MeRu sebagai mana nama Hindunya yang disimulasikan dengan monumen (piramid). Orang Mesir kuno tidak mengeja huruf vokal pada Hieroglif-nya, maka sangat mungkin M’R mewakili gunung Meru, gunung Surga (Paradise) yang telah meledak.
Di Tradisi Hindu, Gunung Meru berperan sebagai Stambha, tiang Surga. Gunung Meru (atau Kailasa = “Tengkorak” = “Calvary”) juga berperan sebagai penopang Pohon Kosmis dimana Lelaki Kosmis (Purusha) disalibkan, seperti Yesus di salib-nya. Gunung Meru juga merupakan Gunung Suci Surga, terus menerus dilukiskan di India selama letusannya, mandalas indah seperti Shri Yantra. Gambar Bunga Lotus Emas sering terlihat di lukisan mereka yang dianggap sebagai jamur atomis dari ledakan kosmis, yang telah dibahas di artikel “The Secret of the Golden Flower” (moga2 nantinya bisa aku translate lagi...)
Akibat dari ledakan raksasa, Gunung Meru (Atlas) terkosongkan dari magmanya dan runtuh seperti balon yang tertusuk. Puncaknya yang sangat besar tenggelam ke bawah lautan, berubah menjadi kaldera raksasa. Penelitian kami ke dunia kuno telah menunjukkan bahwa gunung api ini adalah Gunung Krakatau, yang masih aktif hingga sekarang dan telah meledak lagi seperti pada tahun 1883.
Arti dari Bencana Purba (Primordial Castration)Gunung Krakatau sekarang merupakan gunung api bawah laut yang berada di kaldera raksaksa yang membentuk selat sunda yang memisahkan Jawa dan Sumatra. Pada mitos-mitos Hindu, letusannya dan kejadian selanjutnya dialegorikan (allegorized) sebagai Bencana Purba yang mengubah Lingga Kosmis (Linga) menjadi Yoni Kosmis (Vulva). Dan Yoni Bumi sama dengan Khasma Mega Hesoid yang telah dijelaskan sebelumnya.
Kita melihat bagaimana tradisi kuno yang kelihatannya absurb (aneh) tentu saja jauh membuat lebih sense (perasaan??) dibandingkan dengan keterangan kasar dari ahli-ahli modern. Tradisi kuno ini juga secara tepat menunjukkan fakta yang menjurus ke legenda Atlas (Tiang Surga). Tidak dapat menyangga bumi yang populasi (dewanya?? =overpopulated of gods) berlebih, akhirnya Atlas runtuh dan menyebabkan langit runtuh ke bumi dan menghancurkannya.
Nama atlas berasal dari kata dasar Yunani “tla” yang berarti “untuk menyangga”, didahului oleh awalan negatif “a” yang berarti “tidak”. Maka, arti harfiah atlas adalah “sesuatu yang tidak dapat menyangga (langit)”. Oleh karena itulah mengapa Atlas (dan raksasa lain sepertinya) sering dilambangkan sebagai “lemah”, “kaki yang menyerupai ular”. Runtuhnya langit, tentu saja, merupakan sebuah alegori yang cerdas dari jatuhnya debu vulkanis dan bekas peninggalan ledakan gunung Atlas. Dalam mitos Hindu, satu lapisan yang mengubur lapisan sebelumnya, memunculkan surga dan dunia baru, seperti yang disebutkan pada Revelation.
Atlantis dan Kebangkitan PhoenixJudul di atas, tentu saja, merupakan pesan St. John dalam Revelation, mengenai Jerusalem. Jerusalem yang baru adalah Atlantis, terlahirkan kembali dari sintelnya (cinders), sebagaimana Phoenix, burung yang mewujudkan surga di mitos Yunani. Mitos ini tentu saja ditiru dari Mesir yang pada gilirannya menirunya dari India. India, dan lebih persisnya Indonesia, adalah lokasi yang benar dari keberadaan Phoenix, seperti halnya dengan relatif mudah untuk ditunjukkan, karena dari sanalah nama burung “Benu” (Mesir) dan burung Phoenix (Yunani).
Burung mistis ini disebut Vena dalam Rig Veda. Maka jika Phoenix benar-benar menyimbolkan Surga Atlantis yang terlahirkan kembali dari sintel (cinder)-nya sendiri, ketika kita percaya, maka hanya ada sedikit keraguan bahwa legenda ini adalah benar-benar Vedic (???), dan dimulai di India. Nama ini sama sekali tidak berarti bagi orang Mesir maupun Yunani, tetapi bagi lidah suci India, nama ini berarti gagasan dari Cinta (Eros) dan lebih tepatnya, matahari Keadilan (Sun of Justice) yang menyimbolkan kebangkitan Atlantis dari dalam air dari jurang purba yang sangat dalam. Dongeng ini membentuk intisari dari salah satu Jerusalem Surgawi, seperti halnya, katakanlah, mitos-mitos dari “Orphic Cosmogonies” (Ilmu terjadinya alam yang ophic??), dari orang-orang Mesir dan dari berbagai bangsa kuno.
Masih ada sambungannya, cuma panjang banget.... Beberapa bagian di atas juga aku potong (semoga tanpa mengurangi maksud isi artikel), karena banyak yang diulang2 dan ada yang pernah diposting oleh rekan lain.
Sebenarnya ragu juga post kelanjutan artikel ini, takut pada bosen karena kepanjangan, but semoga bermanfaat.
Peace
