Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Mengapa Bung Karno Tak Mau Memukul Soeharto
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah
Pages: 1, 2, 3
PROJECT-D
TINDAKAN Soeharto menyelewengkan Surat Perintah 11 Maret 1966 sangat menyakiti perasaan Bung Karno. Sejumlah petinggi militer yang masih setia pada Sukarno ketika itu pun merasa geram. Mereka meminta agar Sukarno bertindak tegas dengan memukul Soeharto dan pasukannya. Tetapi Sukarno menolak.

Sukarno tak mau terjadi huru-hara, apalagi sampai melibatkan tentara. Perang saudara, menurut Sukarno, adalah hal yang ditunggu-tunggu pihak asing—kaum kolonial yang mengincar Indonesia–sejak lama. Begitu perang saudara meletus, pihak asing, terutama Amerika Serikat dan Inggris akan mengirimkan pasukan mereka ke Indonesia dengan alasan menyelamatkan fasilitas negara mereka, mulai dari para diplomat kedutaanbesar sampai perusahaan-perusahaan asing milik mereka.

Kesaksian mengenai keengganan Sukarno menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi manuver Soeharto disampaikan salah seorang menteri Kabinet Dwikora, Muhammad Achadi. Saya bertemu Achadi, mantan menteri transmigrasi dan rektor Universitas Bung Karno itu dua pekan lalu di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Achadi bercerita dengan lancar kepada saya dan beberapa teman. Air putih dan pisang rebus menemani pembicaraan kami sore itu.

Komandan Korps Komando (KKO) Letjen Hartono termasuk salah seorang petinggi militer yang menyatakan siap menunggu perintah pukul dari Sukarno. KKO sejak lama memang dikenal sebagai barisan pendukung utama Soekarno. Sampai kini kalimat Hartono: “hitam kata Bung Karno, hitam kata KKo” yang populer di masa-masa itu masih sering terdengar hingga kini.

Suatu hari di pertengahan Maret 1966, Hartono yang ketika itu menjabat sebagai Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut itu datang ke Istana Merdeka menemui Bung Karno. Ketika itu Achadi dia sedang memberikan laporan pada Sukarno tentang penahanan beberapa menteri yang dilakukan oleh pasukan yang loyal pada Soeharto.

Mendengar laporan itu, menurut Achadi, Bung Karno berkata (kira-kira), “Kemarin sore Harto datang ke sini. Dia minta izin melakukan pengawalan kepada para menteri yang menurut informasi akan didemo oleh mahasiswa.”

“Tetapi itu bukan pengawalan,” kata Achadi. Untuk membuktikan laporannya, Achadi memerintahkan ajudannya menghubungi menteri penerangan Achmadi. Seperti Achadi, Achmadi juga duduk di Tim Epilog yang bertugas menghentikan ekses buruk pascapembunuhan enam jenderal dan perwira muda Angkatan Darat dinihari 1 Oktober 1965. Soeharto juga berada di dalam tim itu.

Tetapi setelah beberapa kali dicoba, Achmadi tidak dapat dihubungi. Tidak jelas dimana keberadaannya.

Saat itulah Hartono minta izin untuk menghadapi Soeharto dan pasukannya. Tetapi Bung Karno menggelengkan kepala, melarang.

Padahal masih kata Achadi, selain KKO, Panglima Kodam Jaya Amir Machmud, Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji, dan beberapa panglima kodam lainnya juga bersedia menghadapi Soeharto.

“Bung Karno tetap menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak mau terjadi pertumpahan darah, dan perang saudara.”

Kalau begitu apa yang harus kami lakukan, tanya Achadi dan Hartono.

Bung Karno memerintahkan Hartono untuk menghalang-halangi upaya Soeharto agar jangan sampai berkembang lebih jauh. “Hanya itu tugasnya, Hartono diminta menjabarkan sendiri. Yang jelas jangan sampai ada perang saudara,” kata Achadi.

Adapun Achadi yang tak bisa kembali ke rumahnya di kawasan Pancoran yang sedang diduduki pasukan Soeharto diperintahkan Bung Karno bermalam di guest house Istana. Bung Karno juga mengatakan akan menggelar rapat kabinet keesokan harinya. Dalam rapat yang juga akan dihadiri Soeharto itu, Achadi diminta untuk menyampaikan laporan tentang penahanan beberapa menteri.

“Kamu berani bicara di depan Soeharto,” tanya Bung Karno pada Achadi.

“Siap,” jawab Achadi.

SUMBER
Heil Cяew
wow... this is a great history.. which I never read in school..
thanks bro.. Applause.gif

anyway.. sebutkan sumbernya please..
PROJECT-D
^
udah saya edit pak president,, silahkan di klik sumber smile.gif
Allelujah Haptism
Bro lanjutannya donk BigGrin.gif

Penasaran neh BigGrin.gif

The Skywatcher
Keren bos
svnhvn
lanjut bos.. makin hari makin ketahuan kudetanya suharto..
zaibis
salut sama jiwa besar Bung Karno.. indonesia.gif

lanjutannya Bro..
bocahgembul
bener nih...

gw pernah diceritain soal ini ama opa gw...
ksembilan
lagi lagi saya melihat bagai mana seorang pemimpin besar menyelesaikan sebuah persoalan
danar
QUOTE (zaibis @ Feb 4 2008, 06:19 PM) *
salut sama jiwa besar Bung Karno.. indonesia.gif

lanjutannya Bro..


Iya men...kita tunggu jiwa besarnya bung karno untuk minta maaf waktu ngerahin rakyat indonesia jadi romusha waktu jaman jepang, kita tunggu permintaan maaf bung karno waktu ngerubah demokrasi jadi demokrasi terpimpin biar jadi presiden seumur hidup, kita tunggu jiwa besarnya bung karno untuk menyadari kemiskinan rakyatnya hingga inflasi sampai 600 % sementara presidennya malah beli senjata buat perang daripada beli beras buat rakyat ....kita tunggu permintaan maaf itu walau dari keturunannya, minimal kayak si tututlah yang minta maaf atas nama bapaknya
rekti_badut
baru tau...thanks tambahan ilmunya..
nuplaya
g jg perna dgr, saat itu bokap g cerita angkatan laut ma angkatan udara jg ngedukung soekarno..kl ampe soekarno 'fight' soeharto, pasti jd perang saudara
buditag
mudah-mudahan Soeharto dimaafin deh sama tuhan...
aq salut ama Bung Karno dengan kebesaran jiwanya demi menyelamatkan bangsa
dia rela mengalah sama Soeharto


siiip
Lestat de Lioncourt
wah....ya nga bisa dong saudara ......
pak harto mendapat mandat langsung dari pak karno tentang supersemar (surat perintah sebelas maret)sedangkan pak harto sendiri yang dipilih berdasarkan para sesepuh indonesia karena dia telah berjasa banget buat indonesia,dan klo dia menyelewengkan mandat tersebut mungkin bukan hukum indonesia yang akan menghukum dia tetapi hukum karma yang akan dia terima atas penyelewengan surat tersebut.....
manstein
waah... nice...

tapi kalau boleh tahu sumbernya dari mana ya Bro...

trims
PROJECT-D
saya lanjutin ya (males bikin thread baru)
sumber : klik

Untuk Kedua Kalinya Istana Merdeka Dikepung Pasukan Soeharto

RENCANA Sukarno menggelar sidang Komando Operasi Tertinggi (KOTI) tanggal 14 Maret 1966 gagal total. Seperti beberapa hari sebelumnya, tanggal 11 Maret 1965, Istana Merdeka kembali dikepung oleh pasukan pendukung Soeharto dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang dikenal dengan nama Kopassus.

Tadinya dalam rapat yang urung digelar itu Sukarno bermaksud menjelaskan posisi dan arti Surat Perintah 11 Maret 1966 yang diberikannya kepada Soeharto. Dia juga bermaksud mengklarifikasi kabar yang menyebutkan pasukan Soeharto, dengan menggunakan SP 11 Maret, telah melakukan penangkapan terhadap sejumlah menteri. Laporan tentang penangkapan menteri ini disampaikan oleh menteri transmigrasi yang juga rektor Universitas Bung Karno (UBK) dan anggota Tim Epilog, Muhammad Achadi.

Begitu mengetahui rumahnya juga diduduki oleh pasukan pendukung Soeharto, Achadi yang sehari-hari dikawal oleh Resimen Pelopor (Menpor) Polri, mendatangi rumah menteri/panglima angkatan kepolisian Irjen Sutjipto Judodihardjo untuk mendapatkan penjelasan mengenai apa yang terjadi.

Mendengar laporan tentang penangkapan menteri, Sutjipto Judodihardjo lalu menyarankan agar Achadi menemui Sukarno keesokan harinya di Istana Merdeka.

Begitulah, kata Achadi pada suatu sore dua pekan lalu di Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Dia pun mengikuti saran Sutjipto dan melaporkan penangkapan-penangkapan itu kepada Sukarno keesokan harinya.

Sukarno yang sehari sebelum itu mendapatkan laporan berbeda dari Soeharto, meminta agar Achadi tidur di guest house Istana Merdeka. Dia juga meminta agar Achadi memberikan laporan dalam rapat KOTI keesokan hari. Kata Bung Karno, Soeharto pun akan hadir dalam rapat itu.

Tetapi, seperti yang telah diceritakan di atas, rapat itu gagal digelar. Istana Merdeka kembali dikepung oleh pasukan pro Suharto. Sementara Bung Karno, merasa dirinya berada dalam ancaman, meminta Komandan KKO Mayjen Hartono mengawalnya ke Istana Bogor.

Menurut cerita Achadi, Soeharto sempat mendatangi Bung Karno dan meminta agar Bung Karno tetap tinggal di Istana Merdeka. “Keadaan di luar tidak aman,” begitu kata Soeharto seperti ditiru Achadi.

Tetapi Bung Karno yang sudah curiga dengan keadaan tak menggubris kata-kata Soeharto. Dia tetap melangkah ke luar menuju mobil yang akan membawanya ke Bogor.

Di halaman Istana Merdeka, menurut informasi yang diperoleh Achadi kemudian dari Pak Parto, supir Bung Karno, hampir saja terjadi bentrokan antara pasukan KKO dengan RPKAD.

Begitu melihat mobil Sukarno hendak meninggalkan halaman, sekelompok tentara pro Soeharto dengan senjata dalam posisi siaga mendekat hendak menghentikan laju mobil. Namun mereka memilih mundur setelah tahu bahwa Komandan KKO Hartono juga ikut mengawal Bung Karno.

“Kalau Bung Karno disikat, Hartono pasti akan melakukan action. Dia punya satu kompi yang bersiaga di silang Monas,” cerita Achadi.

Sementara itu, melihat Bung Karno meninggalkan Istana Merdeka, Achadi juga tak mau tinggal berlama-lama di Istana yang sudah terkepung. Dia memilih segera menghindar.

Dengan pengawalan Menpor, Achadi mengikuti rombongan Bung Karno ke Bogor. Tetapi karena Istana Bogor juga dikepung tentara, Achadi memilih melanjutkan perjalanan ke markas Menpor di kawasan puncak.

“Di tempat itu saya menunggu langkah Hartono menghalang-halangi gerak pasukan Soeharto, seperti yang diperintahkan Bung Karno. Tapi kan kita akhirnya tidak bisa ngapa-ngapain,” kata Achadi lagi.

Keesokan harinya, 15 Maret 1966, Soeharto resmi mengumumkan penangkapan menteri-menteri yang dituding terlibat dalam peristiwa pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira muda Angkatan Darat, dinihari 1 Oktober 1965.
PROJECT-D
Apakah Tiga Rektor Universitas Bung Karno Kaki Tangan Soeharto

MELIHAT Istana Bogor juga dikepung pasukan “liar” pendukung Soeharto, Achadi memilih melanjutkan perjalanan ke markas Resimen Pelopor di Mega Mendung, Puncak Bogor.
Menteri transmigrasi dan koperasi Kabinet Dwikora itu memilih menunggu kabar dari Komandan KKO Hartono yang diminta Sukarno “hanya” menghalang-halangi langkah Soeharto dan pasukannya, dan wajib menghindari perang saudara.Setelah menginap satu malam di markas Menpor, keesokan harinya Achadi memilih masuk Jakarta lagi. Dia menemui teman-temannya sesama eksponen Tentara Pelajar (TP), termasuk Pangdam Jaya Amir Machmud. Selain sebagai teman Achadi dari eksponen TP, Amir Machmud juga merupakan rektor UBK cabang Banjarmasin.“Saya kenal baik dengan dia. Setelah G30S pun, saya yang ikut mengusulkan pada Bung Karno agar Amir Machmud diangkat jadi Pangdam Jaya menggantikan Umar Wirahadikusuma yang menjadi Pangkostrad menggantikan Soeharto,” kenang Achadi pada suatu sore dua minggu lalu di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Selain Amir Machmud, dua pentolan Angkatan Darat yang juga menjabat sebagai rektor cabang UBK adalah M. Yusuf (Makassar) dan Basuki Rahmat (Surabaya). Adalah Achadi, sebagai rektor kampus pusat UBK yang melantik ketiga jenderal itu sebagai rektor cabang UBK di daerah.

Dan ketiga rektor cabang UBK ini juga yang, kabarnya, diminta oleh Soeharto menemui Bung Karno di Istana Bogor tanggal 11 Maret 1966. Dari kunjungan ketiga orang inilah lahir yang kemudian dikenal dengan nama SP 11 Maret.

Versi lain menyebutkan bahwa SP 11 Maret lahir pada dini hari 1 Oktober 1966. Empat otang jenderal: Mayjen TNI Basuki Rachmat, Mayjen TNI Maraden Panggabean, Brigjen TNI Amir Machmud dan Brigjen TNI M Yusuf menemui Bung Karno di Istana Bogor.

Sementara M Yusuf menyodorkan sebuah map berwarna merah jambu yang berisi sebuah dokumen, Panggabean dan Basuki Rachmat menodongkan pistol FN-46 ke arah Bung Karno.

Kisah ini disampaikan Soekardjo Wilardjito, salah seorang anggota Dinas Security Istana Bogor beberapa tahun lalu. Soekardjo mengatakan dirinyalah yang mengetuk pintu kamar Bung Karno untuk memberitahu kehadiran empat jenderal itu. Dia pun menyaksikan bagaimana proses penandatangan dokumen itu. Ketika Panggabean dan Basuki menodongkan pistol mereka ke arah Bung Karno, Soekardjo juga mencabut pistol FN 46 miliknya. Tapi Bung Karno mencegah.

Setelah mempelajari dokumen itu Bung Karno, seperti testimoni Soekardjo pada Bernas, berkata, “Ya sudah kalau memang saya harus menyerahkan pada Harto. Tapi kalau situasinya sudah baik, mandat ini kembalikan kepada saya.”

Sebelum meninggalkan Istana Bogor, keempat jenderal itu memberi hormat sambil berkata, “Terima kasih.”

Benarkah kisah ini? Benarkah tiga jenderal yang juga jadi rektor cabang Universitas Bung Karno itu adalah kaki tangan Soeharto?

Kembali ke Achadi.

Tanpa mengetahui bagian yang bertahun-tahun kemudian baru diceritakan Soekardjo, Achadi meminta agar Amir Machmud menemui Soeharto untuk mendapatkan klarifikasi atas apa yang terjadi, serta mengapa dirinya juga ikut diincar. Saat itu, Achadi mengatakan, dirinya masih punya dugaan bahwa yang sedang bermain untuk mengeruhkan suasana adalah pihak lain yang dia tidak tahu.

Menurut Amir Machmud, Soeharto mengatakan Achadi tidak akan diapa-apakan, dan karenanya dipersilakan kembali ke Jakarta. Saat itu Soeharto menduga, Achadi sedang berada di sebuah tempat di Jawa Tengah.

Tapi Achadi memilih untuk tidak menampakkan batang hidung. Lalu kurir kedua dikirim. Achadi tidak menceritakan siapa kurir kedua yang dikirimnya untuk bertemu Soeharto. Kali ini sang kurir datang dengan laporan bahwa Achadi akan dimintai keterangan tentang informasi yang menyebut dirinya memiliki pasukan liar. Achadi menduga, yang dimaksud dengan pasukan liar itu adalah anggota Menpor yang mengawalnya dan teman-temannya sesama eksponen TP.

Maka pada suatu hari di awal Mei 1966 Achadi pun menemui Kepala Polisi Militer Kodam Jaya Letkol Sukotjo Tjokroatmodjo. Kepada Sukotjo, Achadi menjelaskan duduk persoalan mengapa dia bersembunyi, mulai dari penangkapan-penangkapan terhadap menteri, sampai kegagalan rapat KOTI. Mendengar cerita itu, menurut Achadi, Sukotjo yang pensiun dengan pangkat mayor jenderal dan kini aktif di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) itu terkejut juga.

Namun begitu, karena harus menjalankan tugas, Sukotjo tetap membawa Achadi ke kawasan Guntur. Setelah satu malam diinterogasi di Guntur, keesokan harinya Achadi dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi Utomo. Lalu dipindah berturut-turut ke RTM Nirbaya dan Cimahi, sebelum akhirnya ditahan di LP Cipinang.

“Saya kira setelah menjelaskan soal informasi tentang pasukan liar itu, saya akan dibebaskan. Rupanya tidak. Malah diteruskan dan dibablaskan.”

Dia dipenjara begitu saja, tanpa pernah sekalipun dihadapankan ke pengadilan. Penangkapan atas dirinya juga tidak disertai dengan surat keputusan pencopotan dirinya dari posisi menteri.

“Saya ini kan menteri. Tapi ditangkap begitu saja. Status menteri saya juga tidak pernah dicopot oleh Bung Karno. Mestinya kan harus ada SK pemberhentian dari Presiden. Soeharto sebagai pemegang SP 11 Maret tidak punya hak menangkap menteri, dan memenjarakan orang tanpa proses hukum.”

Setelah 10 tahun mendekam dalam penjara Orde Baru, akhirnya 4 Mei 1976, Achadi dikeluarkan dari LP Cipinang.

Eksistensi UBK itu mengalami pasang surut. Di era 1960-an sudah ada yang namanya Universitas Bung Karno (UBK). Rektor pertamanya adalah Muhammad Achadi, yang kemudian menjadi Menteri Transmigrasi dan Koperasi di Kabinet Dwikora I dan Kabinet Dwikora II.

Selain di Jakarta, UBK juga punya kampus di beberapa daerah, antara lain di Surabaya, Makassar dan Banjarmasin.

Menyusul kejatuhan Bung Karno, kampus ini pun dibubarkan oleh Orde Baru. Dan cerita tentangnya tidak pernah terdengar lagi. Bukankah Orde Baru telah melarang ajaran Bung Karno?

Awal 1980-an, UBK kembali berdiri. Kali ini Rachmawati yang tampil. Kampusnya ada di kawasan Bukit Duri. Tetapi, Orde Baru tetap tak berkenan. Pada saat pendaftaran mahasiswa, tentara diturunkan untuk membubarkan calon mahasiswa, dan menutup kembali kampus itu.

Waktu berputar hingga sampailah kita di tahun 1999, setahun setelah Soeharto mengundurkan diri. Kali ini Rachmawati melihat ada peluang baru untuk menghidupkan kembali UBK.

Habibie, yang dulu disekolahkan oleh Bung Karno ke Jerman merasa perlu untuk menyambut inisiatif Rachma. Maka kemudian diresmikanlah UBK. Tidak tanggung-tanggung, peresmiannya dilakukan di Istana Merdeka.

Demikian penjelasan tambahan dari saya. Terima kasih.

Teguh Santosa
Heil Cяew
QUOTE (danar @ Feb 28 2008, 01:49 PM) *
QUOTE (zaibis @ Feb 4 2008, 06:19 PM) *
salut sama jiwa besar Bung Karno.. indonesia.gif

lanjutannya Bro..


Iya men...kita tunggu jiwa besarnya bung karno untuk minta maaf waktu ngerahin rakyat indonesia jadi romusha waktu jaman jepang, kita tunggu permintaan maaf bung karno waktu ngerubah demokrasi jadi demokrasi terpimpin biar jadi presiden seumur hidup, kita tunggu jiwa besarnya bung karno untuk menyadari kemiskinan rakyatnya hingga inflasi sampai 600 % sementara presidennya malah beli senjata buat perang daripada beli beras buat rakyat ....kita tunggu permintaan maaf itu walau dari keturunannya, minimal kayak si tututlah yang minta maaf atas nama bapaknya


Gw suka ada pendapat yang beda seperti ini Applause.gif
Kecuali untuk masalah pengerahan romusha jaman jepang itu ada urusan apa dengan Bung Karno?
Memangnya ada bukti beliau yang mengerahkan rakyat Indonesia untuk jadi romusha jepang?
danar


QUOTE (The Crew @ Mar 2 2008, 05:53 PM) *
QUOTE (danar @ Feb 28 2008, 01:49 PM) *
QUOTE (zaibis @ Feb 4 2008, 06:19 PM) *
salut sama jiwa besar Bung Karno.. indonesia.gif

lanjutannya Bro..


Iya men...kita tunggu jiwa besarnya bung karno untuk minta maaf waktu ngerahin rakyat indonesia jadi romusha waktu jaman jepang, kita tunggu permintaan maaf bung karno waktu ngerubah demokrasi jadi demokrasi terpimpin biar jadi presiden seumur hidup, kita tunggu jiwa besarnya bung karno untuk menyadari kemiskinan rakyatnya hingga inflasi sampai 600 % sementara presidennya malah beli senjata buat perang daripada beli beras buat rakyat ....kita tunggu permintaan maaf itu walau dari keturunannya, minimal kayak si tututlah yang minta maaf atas nama bapaknya


Gw suka ada pendapat yang beda seperti ini Applause.gif
Kecuali untuk masalah pengerahan romusha jaman jepang itu ada urusan apa dengan Bung Karno?
Memangnya ada bukti beliau yang mengerahkan rakyat Indonesia untuk jadi romusha jepang?



Pada kasus pengerahan romusha memang bung karno sendiri mengakuinya, tujuannya untuk memperkuat bibit militer pada PETA dan heiho, pertanyaannya adalah apakah hal ini relefan? tradisi militer di indonesia sudah berkembang sejak jaman kerajaan2 ditanah air dan jaman penjajahan jepang, memperkuat militansi militer bangsa dengan cara bekerja sama pengerahan romusha menurutku sesuatu yang tidak dapat diterima.

Gw ga bermaksud melawan minestream ya ada bro, tapi gw hanya ingin kita bersikap adil dan mawas diri bahwa semua pemimpin selalu punya sisi baik dan sisi buruk, sukarno dan harto punya cerita yang sama....hebat pada masa awal dan jadi diktator pada saat kekuasaan begitu memabukkan. Suka atau tidak suka,terlepas dari caranya, pengambilalihan kekuasaan dari sukarno ke suharto pada masa itu menurutku adalah yang terbaik, bayangkanlah saat itu betapa menderitanya rakyat,ketika kebutuhan pangan langka, ekonomi hancur karena ambisi perang, sementara militer terpecah-pecah dalam faksi-faksi dan berselingkuh dengan politisi...dari sisi apapun ini susah untuk dibiarkan, harus ada yang mengambil tindakan

Pelajaran sudah amat mahal kita dapat dari kedua rezim ini , dan semua dibayar dengan darah rakyat, tinggal kitalah saat ini yang harus mengambil hikmah dari pelajaran itu...agar hal ini tidak terulang lagi
Segho_Lover
@Danar : yah bener juga bo..semua punya dua sisi yang saling berlawanan

@Crew : Tumben kalem... LMAO.gif
Heil Cяew
@danar: go ahead bro.. ini buat pencerahan kita semua untuk tidak terlalu mengkultuskan seseorang individu.. bagaimanapun Sukarno juga manusia.. BigGrin.gif
NuNo Azz
Biar bagaimanapun suharto adalah bapak pembangunan..
kadalmania
klo dpt utangan triliunan dr amrik
monyet juga bisa jd bpk pembangunan hehehe TalkingEarOff.gif
liat aja saat ini pemerintah kelimpungan mbayar utang yg dikorup suharto & sons plus kroni2nya
rocky_ep05
seharusnya kita terimah kasih terhadap pemimpin kita...
yang telah membela negara ini sampai akhir hayat..
biar pun mereka pakai politik apa... ato korupsi apa asal rakyat aman dan sentosa kayak dulu..
dak banyak yang kelaparan...
edayax
wah...
baru tau gw...
ky na buku sejarah wkt skul en kul ga selengkap ini deh...
thx bro...
btw, mang kopassus dari dulu pendukung soeharto,,,
ampe beliau meniggal pun yg paling berwenang hanya kopassus dalam segala urusan...
teguh_timur
Aloha,
Salam kenal.
Saya baru bergabung dengan BlueFame...
Terima kasih tulisan saya sudah diposting disini.
Bagi yang ingin membaca kisah-kisah lain, dapat membuka blog saya: http://teguhtimur.wordpress.com.

Yang suka sejarah Indonesia, disana ada pojok SOEKARNO dan pojok SOEHARTO.

Sedikit tambahan, kisah berjudul "Apakah Tiga Rektor UBK..." berakhir pada kalimat: Setelah 10 tahun mendekam dalam penjara Orde Baru, akhirnya 4 Mei 1976, Achadi dikeluarkan dari LP Cipinang.

Sementara bagian di bawahnya adalah keterangan tambahan yang saya buat untuk menjawab pertanyaan seorang komentator. Dan dalam versi aslinya, ada keterangan CATATAN TAMBAHAN yang menghubungi dua bagian ini.

Tulisan-tulisan saya, khususnya ttg SUKARNO dan SOEHARTO ini dimuat pertama kali di www.myrmnews.com, sebelum dipajang di blog pribadi saya.

Tanggung jawab atas materi tulisan ada pada diri saya.

Mahalo.

madotzilla
hmm ..bangke busuk ... ketauan jg bau-nya ..... soeharto skrg dah membusuk .... i love soekarno ... he's great leader in the world ... amrik aja keder sm soekarno .... bangkitlah soekarno2 muda .. lawan penindasan amrik di dunia ....
Heil Cяew
QUOTE (teguh_timur @ Mar 9 2008, 01:05 AM) *
Aloha,
Salam kenal.
Saya baru bergabung dengan BlueFame...
Terima kasih tulisan saya sudah diposting disini.
Bagi yang ingin membaca kisah-kisah lain, dapat membuka blog saya: http://teguhtimur.wordpress.com.

Yang suka sejarah Indonesia, disana ada pojok SOEKARNO dan pojok SOEHARTO.

Sedikit tambahan, kisah berjudul "Apakah Tiga Rektor UBK..." berakhir pada kalimat: Setelah 10 tahun mendekam dalam penjara Orde Baru, akhirnya 4 Mei 1976, Achadi dikeluarkan dari LP Cipinang.

Sementara bagian di bawahnya adalah keterangan tambahan yang saya buat untuk menjawab pertanyaan seorang komentator. Dan dalam versi aslinya, ada keterangan CATATAN TAMBAHAN yang menghubungi dua bagian ini.

Tulisan-tulisan saya, khususnya ttg SUKARNO dan SOEHARTO ini dimuat pertama kali di www.myrmnews.com, sebelum dipajang di blog pribadi saya.

Tanggung jawab atas materi tulisan ada pada diri saya.

Mahalo.


Terima kasih atas artikelnya pak teguh
Pencerahan buat saya dan kami semua..

Regards,
Crew Peace.gif
anak_cecil
Negeri kita ini bener bener penuh misteri yah..
Gun_awan
Wah..wah...jgn pada ribut deh
Mereka itu tetap Pemimpin2 bangsa yang harus dihormati...
Mereka kan sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa pada masanya masing2 yang tak mungkin bisa digantikan lagi...
ambil positifnya aja, sementara yg negatifnya (kyk listrik aja) jdkan pelajaran yg jgn di ulangi lg...OK BOZZ-BOZZ?
Solichin
Itulah negarawan sejati (bung Karno).... Tapi tindakannya yg arif... telah membuat Soeharto bergerak lebih leluasa.... dan meninggalkan catatan sejarah bangsa yg kelabu... KENAPA TIDAK DIBABAT SAJA DIA SAMPAI KE AKAR-AKARNYA
bangkumis
tau g yg dulu pegangin mic nya Achadi wkt ngomong ke soeharto wkt rapat kabinet...???
yg jelas bkn q tu...

CucakRowo
Kalo menurut gw mah nggak semata2 karena "jiwa besar", atau "pemimpin besar".. Tapi lebih ke "itung-itungan" yang nggak "masuk" aja.. Bung Karno bukan orang bodoh.. Dia pasti sudah itung-itungan dari awal.. Kalo dia ngelawan bisa menang nggak? Dia nggak bisa hanya mengandalkan AURI yang sudah cacat dimata publik dan hanya dapat mengandalkan ALRI yang notabene beliau juga nggak tau persis loyalitasnya.. Negara dikuasai oleh AD.. Siapa yang dapat mengendalikan Angkatan Darat, maka dia yang dapat mengambil alih kekuasaan.. (bukan begitu brows..??). Sementara Soeharto sudah mengendalikan sebagian besar kesatuan2 dalam AD. Ya susah dunk.. Udah gitu rakyat juga (menurut gw) udah "rada" gak percaya lagi dengan Soekarno (menurut bokap gw).. Yang dipikirin rakyat waktu itu cuma BAGAIMANA CARANYA SUPAYA BISA MAKAN..

Terlepas dari "licik, Culas, Curang".. tapi Soeharto waktu itu memang lihay.. Ditambah lagi dia diuntungkan oleh situasi. Itulah POLITIK KEKUASAAN.
komicrbt
QUOTE (nessaholic @ Feb 2 2008, 09:41 AM) *
TINDAKAN Soeharto menyelewengkan Surat Perintah 11 Maret 1966 sangat menyakiti perasaan Bung Karno. Sejumlah petinggi militer yang masih setia pada Sukarno ketika itu pun merasa geram. Mereka meminta agar Sukarno bertindak tegas dengan memukul Soeharto dan pasukannya. Tetapi Sukarno menolak.

Sukarno tak mau terjadi huru-hara, apalagi sampai melibatkan tentara. Perang saudara, menurut Sukarno, adalah hal yang ditunggu-tunggu pihak asing—kaum kolonial yang mengincar Indonesia–sejak lama. Begitu perang saudara meletus, pihak asing, terutama Amerika Serikat dan Inggris akan mengirimkan pasukan mereka ke Indonesia dengan alasan menyelamatkan fasilitas negara mereka, mulai dari para diplomat kedutaanbesar sampai perusahaan-perusahaan asing milik mereka.

Kesaksian mengenai keengganan Sukarno menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi manuver Soeharto disampaikan salah seorang menteri Kabinet Dwikora, Muhammad Achadi. Saya bertemu Achadi, mantan menteri transmigrasi dan rektor Universitas Bung Karno itu dua pekan lalu di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Achadi bercerita dengan lancar kepada saya dan beberapa teman. Air putih dan pisang rebus menemani pembicaraan kami sore itu.

Komandan Korps Komando (KKO) Letjen Hartono termasuk salah seorang petinggi militer yang menyatakan siap menunggu perintah pukul dari Sukarno. KKO sejak lama memang dikenal sebagai barisan pendukung utama Soekarno. Sampai kini kalimat Hartono: “hitam kata Bung Karno, hitam kata KKo” yang populer di masa-masa itu masih sering terdengar hingga kini.

Suatu hari di pertengahan Maret 1966, Hartono yang ketika itu menjabat sebagai Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut itu datang ke Istana Merdeka menemui Bung Karno. Ketika itu Achadi dia sedang memberikan laporan pada Sukarno tentang penahanan beberapa menteri yang dilakukan oleh pasukan yang loyal pada Soeharto.

Mendengar laporan itu, menurut Achadi, Bung Karno berkata (kira-kira), “Kemarin sore Harto datang ke sini. Dia minta izin melakukan pengawalan kepada para menteri yang menurut informasi akan didemo oleh mahasiswa.”

“Tetapi itu bukan pengawalan,” kata Achadi. Untuk membuktikan laporannya, Achadi memerintahkan ajudannya menghubungi menteri penerangan Achmadi. Seperti Achadi, Achmadi juga duduk di Tim Epilog yang bertugas menghentikan ekses buruk pascapembunuhan enam jenderal dan perwira muda Angkatan Darat dinihari 1 Oktober 1965. Soeharto juga berada di dalam tim itu.

Tetapi setelah beberapa kali dicoba, Achmadi tidak dapat dihubungi. Tidak jelas dimana keberadaannya.

Saat itulah Hartono minta izin untuk menghadapi Soeharto dan pasukannya. Tetapi Bung Karno menggelengkan kepala, melarang.

Padahal masih kata Achadi, selain KKO, Panglima Kodam Jaya Amir Machmud, Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji, dan beberapa panglima kodam lainnya juga bersedia menghadapi Soeharto.

“Bung Karno tetap menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak mau terjadi pertumpahan darah, dan perang saudara.”

Kalau begitu apa yang harus kami lakukan, tanya Achadi dan Hartono.

Bung Karno memerintahkan Hartono untuk menghalang-halangi upaya Soeharto agar jangan sampai berkembang lebih jauh. “Hanya itu tugasnya, Hartono diminta menjabarkan sendiri. Yang jelas jangan sampai ada perang saudara,” kata Achadi.

Adapun Achadi yang tak bisa kembali ke rumahnya di kawasan Pancoran yang sedang diduduki pasukan Soeharto diperintahkan Bung Karno bermalam di guest house Istana. Bung Karno juga mengatakan akan menggelar rapat kabinet keesokan harinya. Dalam rapat yang juga akan dihadiri Soeharto itu, Achadi diminta untuk menyampaikan laporan tentang penahanan beberapa menteri.

“Kamu berani bicara di depan Soeharto,” tanya Bung Karno pada Achadi.

“Siap,” jawab Achadi.

SUMBER


kisah nya apa gak kebalik tu pak....???

peace
The_Smoker
wew bener2 pelajaran yang berharga bwat gw nhe
Bounty Hunter
gw sependapat ma bro danar. "power tends to corrupt" kekuasaan g boleh berlangsung lama, sehebat apapun sang pemimpin. Godaan tuk "full control" selalu ada. so gw setuju dgn aturan pemilu skrg yg membatasi 2 kali masa pemerintahan. jg buat pemerintahan yg lg berjalan kalo macem2 lgsg sikat aja, soalnya DPR yg diharap tuk menjadi check n balance ternyata cuma bisa "disfungsi ereksi". hasilnya y masuk koran mlulu gara2 korupsi. WTF.gif isn't it?
b4ndeng
Semua pemimpin ada kurang lebihnya:

Soekarno , politik nomer satu tp ekonomi kurang di perhatikan. ga heran klo bung Hatta mengundurkan diri... tp klo masalah hebat dan gaya... flamboyan benerrr, bule2 pada keder semua..

Seharto , politik pinter & ekonomi juga pinter, buktinya abis jadi presiden dlm bbrp taon inflasi bisa terkendali. jaman soekarno krismon spt 1997 itu sering. tp Keblinger dgn kekuasaan plus Korupsi anak2nya setelah memimpin 10 tahun.

Tp keduanya adalah negarawan, selalu memberikan jasa untuk negaranya.
Kalau Soekarno memilih mengalah untuk perang saudara, Soeharto juga memilih mundur untuk menghindari perang dgn rakyatnya padahal sebenarnya dia bisa krn militer di pegang semua. Bisa jadi sudah tua dan semangat tidak sehebat waktu muda.
tiko
Saya jadi bingung... apa yang saya dapatkan di bangku sekolah dulu ternyata fakta sejarah yang di ubah oleh pemerintah Suharto ''klo apa yg disebutkan diatas benar''. Tapi mengapa sumber sejarahnya cuma dari orang yang pernah diperlakukan tidak adil oleh pak Harto. Kalau bisa dari yang pro Suharto jg biar saya jadi tambah bingung ha ha ha ha
manfish
wah keren neh, ini dia pemimpin yang berjiwa besar....
drve_ch
nice bro keep post
cojelekz
menarik wat di simak ni tred
Ctrl Alt Dellete
jiwa besar sukarno hebat ya. kekuasaanya dirampas diberikanya
mr.ocol
4 Jempol buat Bung karno

dan semoga Bung Harto di trima di sisi tuhan yang maha esa


Di lanjut ya coy.... gw tnggu
wongkramat
sy tdk salut dgn pemikiran bung karno yg tdk mau ada perang saudara, kita bersaudara jo
soedibjo
yang terpenting adalah, membangun kelanjutan bangsa ini...
TheCross
4 jempol turun buat suharto
theartditor
Bung Karno, Bapak Bangsa dan Pemimpin terhebat yg pernah dimiliki bangsa ini...

Do'aku selalu menyertaimu Bung...
api100
Kira2 ada ngga ya calon presiden yang kyk Soekarno lagi yang bisa bikin pejabat2 sekarang lebih mementingkan bangsa dibanding pribadinya
devanta
boleh juga ceritanya
ferryy21
memang semua itu bagaikan dua mata uang logam yg sisi nya setajam silet
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.