Help - Search - Members - Calendar
Full Version: inilah alasan mengapa wayang kulit bentuknya nggak jelas
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah
likke
Pada zaman hindu, sebelum islam berkembang di jawa sebenarnya bentuk wayang jawa mirip bentuk makhluk hidup. Tapi hal itu bertentangan dengan ajaran islam, dalam ajaran islam dilarang membuat gambar binatang/manusia. maka terjadi perdebatan antara sunan giri yang melarang wayang karena gambarnya mirip manusia, dengan sunan kalijogo yg bersikeras mengadakan pertunjukan wayang untuk menarik minat masyarakat.

Akhirnya sunan kalijogo membuat jenis wayang baru yg bentuknya seperti skrg, yang gak mirip manusia, gak mirip binatang, wallahualam
Allelujah Haptism
Sumbernya dari mana yah Confused.gif
drum_chupid
oooop baguzz ni buat pelajaraan......adik saya niiiiiii/////
Cassa
@Likke: hmmmm.. postingan ente emang ada benernya bro... coz ane pernah denger yang seperti itu.. tapi ane minta ente kasih sumber yang jelas yee klo buat topic baru.. jangan sampe itu adalah opini ente sendiri.. Peace.gif karena topic ente itu bisa jadi sesuatu yang sensitif..

tolong di edit topic ente... Peace.gif
likke
sumbernya adalah komik walisanga yg kubaca 12an tahun yg lalu (validitasnya emang tdk terjamin),
ditambah penjelasan guru senirupaku waktu SMP, katanya kesenian lukisan dan patung makhluk bernyawa tidak berkembang dimasa kerajaan2 islam di jawa karena dianggap bertentangan dgn syariat islam, itulah sebabnya rakyat jawa yg ahli membuat patung (lihat candi2) tapi pada masa kerajaan2 islam hampir tdk meninggalkan patung binatang/manusia, kecuali dari kalangan kejawen..
sedangkan di bali masih berkembang pesat
Cassa
besok" lagi tolong klo mau buat suatu topic baru disertakan sumber yang jelas.. karena klo ndak jelas sumbernya kadang bisa menimbulkan keributan... untuk masalh wayang yang ente sebutkan tadi ini ada salah satu sumber yang sedikit menjelaskan... Peace.gif

QUOTE
Wayang beber
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Wayang Beber adalah seni wayang yang muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam dan masih berkembang di daerah daerah tertentu di Pulau Jawa. Dinamakan wayang beber karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh tokoh dalam cerita wayang baik Mahabharata maupun Ramayana.

Konon oleh para Wali di antaranya adalah Sunan Kalijaga wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi Wayang Kulit dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamentik yang dikenal sekarang, karena ajaran Islam mengharamkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta diberi tokoh tokoh tambahan yang tidak ada pada wayang babon (wayang dengan tokoh asli India) diantaranya adalah Semar dan anak-anaknya serta Pusaka Hyang Kalimusada. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang. Perlu diketahui juga bahwa Wayang Beber pertama dan masih asli sampai sekarang masih bisa dilihat. Wayang Beber yang asli ini bisa dilihat di Daerah Pacitan, Donorojo, wayang ini dipegang oleh seseorang yang secara turun-temurun dipercaya memeliharanya dan tidak akan dipegang oleh orang dari keturunan yang berbeda karena mereka percaya bahwa itu sebuah amanat luhur yang harus dipelihara.

Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_beber


jadi mohon di perhatikan klo besok" membuat topic baru yee bro... untuk kali ini masih ane maklumi... Peace.gif
Heil Cяew
@cassanova: wayang beber itu beda sama wayang kulit.. ngaco ah ente..

@likke: lagi2 ente bikin kerjaan.. ini sejarah bro.. tolong pake sumber yang jelas.. jangan pake wallahualam.. jujur gw ga suka sama cara loe yang bikin room sejarah kayak room obrolan warung kopi yang nggak jelas juntrungannya! Waiting.gif
Allelujah Haptism
BigGrin.gif mending juga di close ini warung kopi BigGrin.gif
nyeplesinnyamuk
QUOTE (likke @ Feb 19 2008, 10:06 AM) *
Pada zaman hindu, sebelum islam berkembang di jawa sebenarnya bentuk wayang jawa mirip bentuk makhluk hidup. Tapi hal itu bertentangan dengan ajaran islam, dalam ajaran islam dilarang membuat gambar binatang/manusia. maka terjadi perdebatan antara sunan giri yang melarang wayang karena gambarnya mirip manusia, dengan sunan kalijogo yg bersikeras mengadakan pertunjukan wayang untuk menarik minat masyarakat.

Akhirnya sunan kalijogo membuat jenis wayang baru yg bentuknya seperti skrg, yang gak mirip manusia, gak mirip binatang, wallahualam


kayaknya wa pernah denger de bro.....betul sih..karena islam ngelarang bentuk yang mirip sekali dengan mahluk hidup
The Skywatcher
Ngopi nyok
Lexius1980
mbah... kopi hitamnya satu dong dan pisang gorengnya 10 dibungkus yah LMAO.gif

kopi... kopi... dingin dingin gini enak ngapain yah Thinking.gif
jaka_horny
masuk akal juga sih.....
Cassa
QUOTE (The Crew @ Feb 21 2008, 10:35 PM) *
@cassanova: wayang beber itu beda sama wayang kulit.. ngaco ah ente..


weleh si boss... lah emang ndak sama boss... kan penjelasan di atas tidak bilang sama.. BigGrin.gif
smongko
bener bro....
Koga Manjidani
dari dollo likke ga pernah berubah....
edayax
@ likke
info na bener...
hanya saja kurang lengkap krn ga da sumber yg jelas...
gw dulu pernah baca wkt sma di buku "sejarah wali songo" dan "penyebaran islam di nusantara" tapi lupa karangan sapa...
ne ada di google gw search dikit....

(http://www.geocities.com/athens/delphi/7409/sejarah.htm)
sekilas sejarah
wayang di indonesia

wayang berasal dari kata wayangan
yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan cerita
sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar
karena sumber aslinya telah hilang
(yang ngilangin bukan saya, lhoo . . . :-) :-) )
di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme
menyembah 'hyang', itulah inti-nya
dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman
dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun 'merti desa'
agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala
(masih ingat lakon 'sudamala', kan?)
di tahun (898 - 910) M wayang sudah menjadi wayang purwa
namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang
seperti yang tertulis dalam prasasti balitung
sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara
(terjemahan kasaran-nya kira-kira begini :
menggelar wayang untuk para hyang
menceritakan tentang bima sang kumara)
di jaman mataram hindu ini,
ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi)
pada masa raja darmawangsa, 996 - 1042 M
mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa
dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna
lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa
di masa raja erlangga

sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya
mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda
yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh
tak puas dengan itu saja,
mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa
dan kemudian serat gatutkacasraya
menurut serat centhini,
sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke rontal
(daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali)
di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas jawi
(saya juga tidak tahu, apa arti 'kertas jawi' ini )
dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian
masa-masa awal abad sepuluh
bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa
kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu
yang membuat 'naik'-nya pamor tokoh 'dewa'
yang kini 'ditempatkan' berada di atas 'hyang'
abad duabelas sampai abad limabelas
adalah masa 'sekularisasi' wayang tahap satu
dengan mulai disusunnya berbagai mithos
yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa
abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua
kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa
dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak
( 1500 - 1550 M )

ternyata banyak kaidah wayang yang berbenturan dengan ajaran islam
maka raden patah memerintahkan mengubah beberapa aturan wayang
yang segera dilaksanakan oleh para wali secara gotongroyong
wayang beber karya prabangkara (jaman majapahit) segera direka-ulang
dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan
(di wilayah kerajaan demak masa itu,
sapi tidak boleh dipotong
untuk menghormati penganut hindu yang masih banyak
agar tidak terjadi kerusuhan berthema sara . . . )
gambar dibuat menyamping, tangan dipanjangkan,
digapit dengan penguat tanduk kerbau, dan disimping
sunan bonang menyusun struktur dramatika-nya
sunan prawata menambahkan tokoh raksasa dan kera
dan juga menambahkan beberapa skenario cerita
raden patah menambahkan tokoh gajah dan wayang prampogan
sunan kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu
kini terdiri dari batang pisang, blencong, kotak wayang, dan gunungan
sunan kudus kebagian tugas men-dalang
'suluk' masih tetap dipertahankan,
dan ditambah dengan greget saut dan adha-adha
pada masa sultan trenggana
bentuk wayang semakin dipermanis lagi
mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan
(tadinya hanya digambarkan di kulit kerbau tipis)
susuhunan ratu tunggal, pengganti sultan trenggana, tidak mau kalah
dia ciptakan model mata liyepan dan thelengan
(joan crawford pun mestinya bayar royalti pada dia, nih !)
selain wayang purwa sang ratu juga memunculkan wayang gedhog
yang hanya digelar di lingkungan dalam keraton saja
sementara untuk konsumsi rakyat jelata
sunan bonang menyusun wayang damarwulan
jaman kerajaan pajang memberikan ciri khas baru
wayang gedhog dan wayang kulit mulai ditatah tiga dimensi
(mulai ada lekukan pada tatahan)
bentuk wayang semakin ditata :
raja dan ratu memakai mahkota/topong
rambut para satria mulai ditata, memakai praba
dan juga mulai ditambahkan celana dan kain
di jaman ini pula lah sunan kudus memperkenalkan wayang golek dari kayu
sedang sunan kalijaga menyusun wayang topeng dari kisah-kisah wayang gedog
dengan demikian wayang gedog pun sudah mulai memasyarakat di luar keraton
di masa mataram islam wayang semakin berkembang
panembahan senapati menambahkan berbagai tokoh burung dan hewan hutan
dan rambut wayang ditatah semakin halus
sultan agung anyakrawati menambahkan unsur gerak pada wayang kulit
pundak, siku, dan pergelangan wayang mulai diberi sendi
posisi tangan berbentuk 'nyempurit'
dengan adanya inovasi ini muncul pula tokoh baru :
cakil, tokoh raksasa bertubuh ramping yang sangat gesit dan cekatan
sultan agung anyakrakusuma, pengganti beliau, ikut menyumbang
bentuk mata semakin diperbanyak
dan pada beberapa tokoh dibuat beberapa wanda (bentuk)
setelah semua selesai dilaksanakan, diciptakan seorang tokoh baru
raksasa berambut merah bertaji seperti kuku
yang akhirnya disebut 'buta prapatan' atau 'buta rambutgeni'
(catatan hms :
mungkinkah ini ada kaitannya
dengan berdirinya voc di tahun 1602 ? )
berbagai inovasi dan reka-ulang wayang masih terus berlangsung
dari jaman mataram islam sampai jaman sekarang
a.l. dengan munculnya ide-ide 'nyeleneh' para dhalang
berbagai peralatan elektronis mulai ikut berperan
dalam tata panggung maupun perangkat gamelan
begitu pula dalam hal tata pakaian yang dikenakan
oleh ki dhalang, pesinden, maupun para juru karawitan
dalam hal skenario-nya pun senantiasa ada pergeseran
sehingga kini sudah semakin sulit dihakimi
mana yang cerita 'pakem' dan mana 'carangan'
(cerita tentang asal-usul semar, misalnya,
ada beberapa versi yang semuanya layak untuk dipelajari )
tapi siapa sih yang bisa disebut 'berwenang menghakimi' ?
walau demikian, garis besar struktur dramatika-nya agaknya relatif tetap
pathet nem, pathet sanga, lalu pathet manyura
relatif standar dan tetap
seperti juga mengenai inti filsafatnya sendiri :
wayang adalah perlambang kehidupan kita sehari-hari
by:harmiel m soekardjo
anak_cecil
wow..

bener2x nambah pengetahuan tentang indonesia tercinta ini..

jangan sampe wayang itu mati yah..
tombo_ngantuk
betul bro...
jojo8228
setauku, info ini memang bener....
thank's buat bro @edayax yang dah melengkapi infona...

Peace smile.gifsmile.gif
api100
Bener Bro, gue setuju.
Sunan kalijogo memang memakai wayang sebagai salah satu media menyebarkan agama islam. Jadi beliau membuat agar wayang tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Info lain , sebenernya ngga cuma bentuknya aja yang diubah , tapi ada beberapa ceritanya juga. Misal, kakak tertua dalam pandawa lima yaitu yudhistira memiliki jurus yang tidak bisa dikalahkan oleh adik2nya yaitu kalimosodo, kalo diartikan kalimat syahadat. Ini yang cerita bokap yang kebetulan penggemar wayang kulit Tounge.gif
mazor
banyak info kongsi sama2.
yuichiro
pantesen bentuk wayang aneh2 ;p
vandhall
akulturasi budaya jawa dengan islam
kalong99
ooooooooo.....Thinking.gif
yukiohduelz
QUOTE (edayax @ Mar 12 2008, 11:30 PM) *
@ likke
info na bener...
hanya saja kurang lengkap krn ga da sumber yg jelas...
gw dulu pernah baca wkt sma di buku "sejarah wali songo" dan "penyebaran islam di nusantara" tapi lupa karangan sapa...
ne ada di google gw search dikit....

(http://www.geocities.com/athens/delphi/7409/sejarah.htm)
sekilas sejarah
wayang di indonesia

wayang berasal dari kata wayangan
yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan cerita
sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar
karena sumber aslinya telah hilang
(yang ngilangin bukan saya, lhoo . . . :-) :-) )
di awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme
menyembah 'hyang', itulah inti-nya
dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman
dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun 'merti desa'
agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala
(masih ingat lakon 'sudamala', kan?)
di tahun (898 - 910) M wayang sudah menjadi wayang purwa
namun tetap masih ditujukan untuk menyembah para sanghyang
seperti yang tertulis dalam prasasti balitung
sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara
(terjemahan kasaran-nya kira-kira begini :
menggelar wayang untuk para hyang
menceritakan tentang bima sang kumara)
di jaman mataram hindu ini,
ramayana dari india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi)
pada masa raja darmawangsa, 996 - 1042 M
mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa
dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna
lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa
di masa raja erlangga

sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya
mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda
yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh
tak puas dengan itu saja,
mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa
dan kemudian serat gatutkacasraya
menurut serat centhini,
sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke rontal
(daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali)
di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas jawi
(saya juga tidak tahu, apa arti 'kertas jawi' ini )
dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian
masa-masa awal abad sepuluh
bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa
kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu
yang membuat 'naik'-nya pamor tokoh 'dewa'
yang kini 'ditempatkan' berada di atas 'hyang'
abad duabelas sampai abad limabelas
adalah masa 'sekularisasi' wayang tahap satu
dengan mulai disusunnya berbagai mithos
yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa
abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua
kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa
dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak
( 1500 - 1550 M )

ternyata banyak kaidah wayang yang berbenturan dengan ajaran islam
maka raden patah memerintahkan mengubah beberapa aturan wayang
yang segera dilaksanakan oleh para wali secara gotongroyong
wayang beber karya prabangkara (jaman majapahit) segera direka-ulang
dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan
(di wilayah kerajaan demak masa itu,
sapi tidak boleh dipotong
untuk menghormati penganut hindu yang masih banyak
agar tidak terjadi kerusuhan berthema sara . . . )
gambar dibuat menyamping, tangan dipanjangkan,
digapit dengan penguat tanduk kerbau, dan disimping
sunan bonang menyusun struktur dramatika-nya
sunan prawata menambahkan tokoh raksasa dan kera
dan juga menambahkan beberapa skenario cerita
raden patah menambahkan tokoh gajah dan wayang prampogan
sunan kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu
kini terdiri dari batang pisang, blencong, kotak wayang, dan gunungan
sunan kudus kebagian tugas men-dalang
'suluk' masih tetap dipertahankan,
dan ditambah dengan greget saut dan adha-adha
pada masa sultan trenggana
bentuk wayang semakin dipermanis lagi
mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan
(tadinya hanya digambarkan di kulit kerbau tipis)
susuhunan ratu tunggal, pengganti sultan trenggana, tidak mau kalah
dia ciptakan model mata liyepan dan thelengan
(joan crawford pun mestinya bayar royalti pada dia, nih !)
selain wayang purwa sang ratu juga memunculkan wayang gedhog
yang hanya digelar di lingkungan dalam keraton saja
sementara untuk konsumsi rakyat jelata
sunan bonang menyusun wayang damarwulan
jaman kerajaan pajang memberikan ciri khas baru
wayang gedhog dan wayang kulit mulai ditatah tiga dimensi
(mulai ada lekukan pada tatahan)
bentuk wayang semakin ditata :
raja dan ratu memakai mahkota/topong
rambut para satria mulai ditata, memakai praba
dan juga mulai ditambahkan celana dan kain
di jaman ini pula lah sunan kudus memperkenalkan wayang golek dari kayu
sedang sunan kalijaga menyusun wayang topeng dari kisah-kisah wayang gedog
dengan demikian wayang gedog pun sudah mulai memasyarakat di luar keraton
di masa mataram islam wayang semakin berkembang
panembahan senapati menambahkan berbagai tokoh burung dan hewan hutan
dan rambut wayang ditatah semakin halus
sultan agung anyakrawati menambahkan unsur gerak pada wayang kulit
pundak, siku, dan pergelangan wayang mulai diberi sendi
posisi tangan berbentuk 'nyempurit'
dengan adanya inovasi ini muncul pula tokoh baru :
cakil, tokoh raksasa bertubuh ramping yang sangat gesit dan cekatan
sultan agung anyakrakusuma, pengganti beliau, ikut menyumbang
bentuk mata semakin diperbanyak
dan pada beberapa tokoh dibuat beberapa wanda (bentuk)
setelah semua selesai dilaksanakan, diciptakan seorang tokoh baru
raksasa berambut merah bertaji seperti kuku
yang akhirnya disebut 'buta prapatan' atau 'buta rambutgeni'
(catatan hms :
mungkinkah ini ada kaitannya
dengan berdirinya voc di tahun 1602 ? )
berbagai inovasi dan reka-ulang wayang masih terus berlangsung
dari jaman mataram islam sampai jaman sekarang
a.l. dengan munculnya ide-ide 'nyeleneh' para dhalang
berbagai peralatan elektronis mulai ikut berperan
dalam tata panggung maupun perangkat gamelan
begitu pula dalam hal tata pakaian yang dikenakan
oleh ki dhalang, pesinden, maupun para juru karawitan
dalam hal skenario-nya pun senantiasa ada pergeseran
sehingga kini sudah semakin sulit dihakimi
mana yang cerita 'pakem' dan mana 'carangan'
(cerita tentang asal-usul semar, misalnya,
ada beberapa versi yang semuanya layak untuk dipelajari )
tapi siapa sih yang bisa disebut 'berwenang menghakimi' ?
walau demikian, garis besar struktur dramatika-nya agaknya relatif tetap
pathet nem, pathet sanga, lalu pathet manyura
relatif standar dan tetap
seperti juga mengenai inti filsafatnya sendiri :
wayang adalah perlambang kehidupan kita sehari-hari
by:harmiel m soekardjo






thx bwat info yg lebih lengkap
Kimosamose
Dari buku sejarah yang pernah gue baca, sunan kalijaga sudah mengantisipasi biar tidak bertentangan dengan syariat islam, maka semua wayang yang dibuatnya pasti ada tanda goresan 2 dilehernya yang artinya sudah disembelih/mati. jadi dianggap sebagai benda mati
Azrael
emang biasanya nonton wayang dari depan yah? bukannya enak kalo liat bayangannya? lebih imajinatif sih.

Kalo asal muasal bentuknya kayak gitu gue rasa buat ngegampangin pencitraan di layar. Gak usah nyerempet ke agamawi deh, it is pure entertainment and marketing process.
kekez
gw setuju!
kekez
gw setuju!
clark12
ahahahaha
aneh - aneh aja niy infonya, g pikir emang dari dulunya emang wayang begituuuu... ehehehhe tapi kalo dipikir" kan bukan cuma indonesia yang punya wayang, kalo wayang kulit sih emanggg,, tapi begimana dengan wayang golek, yang mirip orang, ato wayang orang???
kalo gak salah di asia wayang memang menggila, di Cina ato jepang kalo gak salah juga punya wayang deh,,,, begimana tuh,,,,
n4eeL
gw juga setuju
akakakakakkaka
kocak nih
No LiMiTeD
Thank dah sharing tentang sejarah wayang kulit, moga2 aja dimasuk in kedalam mata pelajaran sejarah jadi biar tau anak sekarang
ridwanx
Menambah wawasan bro....
terutama wayang beber. kalo bisa cepat dipatenkan khas Indonesia jangan ampe Tamil malaysia mempatenkan duluan.
gimana dengan lain?
Setuju?
ken_the_12
salut deh sama mas bos yang ngepost topik ini,

two finger buat sodara @edayax...

budaya bangsa bagian dari sejarah,

dan tugas generasi muda melanjutkan tongkat estafet ini.

peace.
Sucks
thanks for the info...
fedrian
thaxs infonya bro
4mpat4mpat2dua
nice inpoh
konci euy
wah, keren juga nih..

thx atas infonya..
MissMimi
wow, infonya bner g neh?? sumber drmna kk?
eko yuli
anda mungkin keturunan dari Syeh Siti Jenar (abangan) ya??? jadi tau babat tanah leluhur??cb klo jaman sekarang, mgkn bentuknya kaya transformer!!!!kwekwekekkekewkekwew Just Kidding.gif
abangcyber
Aku pun jarang ambik tau benda2 ni.Sebab tak main wayang kulit pun
hang wira
aku pernah nonton wayang jawa dan wayang bali (wayang kulit) bentuknya sama saja, wayang bali udah ada sebelum walisongo ada jadi piye????
kalaupun ada yang beda antara wayang bali dan jawa hanya pada tokoh punakawannya saja yang lainnya sama kecuali hal2 tertentu semerti ajian kalimosodo dan perubahan nama drona menjadi durna dalam wayang jawa selebihnya sama
jadi selain trid ini yang di wiki juga bisa diperdebatkan (lagipula ada kononny) termasuk juga yang dipakai rujukan itu ngrujuknya darimana???


sebagai info selain wayang, macepat yang katanya ciptaan walisongo juga ada di bali dan lombok, dan banyak tembang sudah ada jauh sebelum jaman majapahit jadi klaim itu juga meragukan
aku berani ngasi info ini karena aku punya beberapa cetakan buku yang diterjamahin dari lontar bali
kalau walisongo menciptakan tembang bergaya macepat bisa jadi benar karena macepat bukanlah sebuah tembang tetapi tata titi nada
dan sampai sekarang di bali tembang2 macepat masih sering diciptakan
wegah
oh gitu sejaranya.
wegah
oh gitu sejaranya.
zeladin
Jangan sampe di klaim lagi ma tetangga usil bro
IZRO'IL
Ane coba tampilkan sejarah wayang.. coba liat dsini
Link: http://www.bluefame.com/index.php?showtopi...ayang&st=20
Sejarah dan Jenis2 wayang.
Sumber:
SumberClick to open spoiler!


[Close]


QUOTE (IZRO'IL @ Sep 16 2009, 01:30 PM) *
Sejarah Seni Pewayangan


Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.
Prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institute, Amsterdam, contoh prasasti ini dapat dilihat dalam lampiran buku Claire Holt Art in Indonesia:

Continuities and Changes,1967 terjemahan Prof.Dr.Soedarsono(MSPI-2000-hal 431).
Tertulis sebagai berikut:
Dikeluarkan atas nama Raja Belitung teks ini mengenai desa Sangsang, yang ditandai sebagai sebuah tanah perdikan, yang pelaksanaannya ditujukan kepada dewa dari serambi di Dalinan. Lagi setelah menghias diri dengan cat serta bunga-bunga para peserta duduk di dalam tenda perayaan menghadap Sang Hyang Kudur. “Untuk keselamatan bangunan suci serta rakyat” pertunjukan (ton-tonan) disakilan. Sang Tangkil Hyang sang (mamidu), si Nalu melagukan (macarita) Bhima Kumara, serta menari (mangigal) sebagai Kicaka; si Jaluk melagukan Ramayana; si Mungmuk berakting (mamirus) serta melawak (mebanol), si Galigi mempertunjukan Wayang (mawayang) bagi para Dewa, melagukan Bhimaya Kumara.

Pentingnya teks ini terletak pada indikasi yang jelas bahwa pada awal abad ke-10, episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana dilagukan dalam peristiwa-peristiwa ritual. Bhimaya Kumara mungkin sebuah cerita yang berhubungan dengan Bima boleh jadi telah dipertunjukan sebagai sebuah teater bayangan (sekarang: wayang purwa). Dari mana asal-usul wayang, sampai saat ini masih dipersoalkan, karena kurangnya bukti-bukti yang mendukungnya.

Ada yang meyakini bahwa wayang asli kebudayaan Jawa dengan mengatakan karena istilah-istilah yang digunakan dalam pewayangan banyak istilah bahasa Jawa. Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli Jawa. Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cempala, kepyak, wayang. Pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok sen-thong dan ruangan untuk pertujukan ringgit (pringgitan), dalam bahasa Jawa ringgit artinya wayang. Bagi orang Jawa dalam membangun rumahpun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang. Dalam buku Over de Oorsprong van het Java-ansche Tooneel - Dr.W Rassers mengatakan bahwa, pertunjukan wayang di Jawa bukanlah ciptaan asli orang Jawa. Pertunjukan wayang di Jawa, merupakan tiruan dari apa yang sudah ada di India. Di India pun sudah ada pertunjukan bayang-bayang mirip dengan pertunjukan wayang di Jawa.

Dr.N.J. Krom sama pendapatnya dengan Dr. W. Rassers,yang mengatakan pertunjukan wayang di Jawa sama dengan apa yang ada di India Barat, oleh karena itu ia menduga bahwa wayang merupakan ciptaan Hindu dan Jawa. Ada pula peneliti dan penulis buku lainnya yang mengatakan bahwa wayang berasal dari India,bahkan ada pula yang mengatakan dari Cina. Dalam buku Chineesche Brauche und Spiele in Europa – Prof G. Schlegel menulis, bahwa dalam kebudayaan Cina kuno terdapat pergelaran semacam wayang.
Pada pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 sebelum Masehi, ada pertunjukan bayang-bayang semacam wayang. Kemudian pertunjukan ini menyebar ke India, baru kemudian dari India dibawa ke Indonesia. Untuk memperkuat hal ini, dalam majalah Koloniale Studien, seorang penulis mengemukakan adanya persamaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokian), Wo-yong (Kanton), Woying (Mandarin), artinya pertunjukan bayang-bayang, yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa.
Meskipun di Indonesia orang sering mengatakan bahwa wayang asli berasal dari Jawa/Indonesia, namun harus dijelaskan apa yang asli materi wayang atau wujud wayang dan bagaimana dengan cerita wayang. Pertanyaannya, mengapa pertunjukan wayang kulit, umumnya selalu mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata? Dalam papernya Attempt at a historical outline of the shadow theatre Jacques Brunet, (Kuala Lumpur, 27-30 Agustus 19-69), mengatakan, sulit untuk menyanggah atau menolak anggapan bahwa teater wayang yang terdapat di Asia Tenggara berasal dari India terutama tentang sumber cerita. Paper tersebut di atas mencoba untuk menjelaskan bahwa wayang mempunyai banyak kesamaan terdapat di daerah Asia terutama Asia Tenggara dengan diikat oleh cerita-cerita yang sama yang bersumber dari Ramayana dan Mahabharata dari India. Sejarah penyebaran wayang dari India ke Barat sampai ke Timur Tengah dan ke timur umumnya sampai ke Asia Tenggara.
Di Timur Tengah, disebut Karagheuz, di Thailand disebut Nang Yai & Nang Talun, di Cambodia disebut Nang Sbek & Nang Koloun. Dari Thailand ke Malaysia disebut Wayang Siam. Sedangkan yang langsung dari India ke Indonesia disebut Wayang Kulit Purwa. Dari Indonesia ke Malaysia disebut Wayang Jawa. Di Malaysia ada 2 jenis nama wayang, yaitu Wayang Jawa (berasal dari Jawa) dan Wayang Siam berasal dari Thailand. Abad ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia, terutama para pedagangnya. Pada kesempatan tersebut orang-orang Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita maha besar India yaitu Mahabharata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit. Abad ke-9, bermunculan cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata atau Ramayana, yang telah diadaptasi kedalam cerita yang berbentuk kakawin tersebut, misalnya cerita-cerita seperti: Arjunawiwaha karangan Empu Kanwa, Bharatayuda karangan Empu Sedah dan Empu Panuluh, Kresnayana karangan Empu Triguna, Gatotkaca Sraya karangan Empu Panuluh dan lain-lainnya. Pada jamannya, semua cerita tersebut bersumber dari cerita Mahabharata, yang kemudian diadaptasi sesuai dengan sejarah pada jamannya dan juga disesuaikan dengan dongeng serta legenda dan cerita rakyat setempat. Dalam mengenal wayang, kita dapat mendekatinya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang terutama wayang kulit umumnya selalu diambil dari epos Mahabharata atau Ramayana. Kedua cerita tersebut, apabila kita telusuri sumber ceritanya berasal dari India. Mahabharata bersumber dari karangan Viyasa, sedangkan Epos Ramayana karangan Valmiki.

Peta Penyebaran Cerita Wayang dari Cina

(Lihat: buku Traditional Drama And Music of Southeast Asia – Edited by M.Taib Osman, Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Th. 1974 )


Hal ini diperkuat fakta bahwa cerita wayang yang terdapat di Asia terutama di Asia Tenggara yang umumnya menggunakan sumber cerita Ramayana dan Mahabharata dari India. Cerita-cerita yang biasa disajikan dalam wayang, sebenarnya merupakan adaptasi dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan cerita rakyat atau dongeng setempat. Dalam sejarahnya pertunjukan wayang kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara, misalnya untuk keperluan upacara khitanan, bersih desa, menyingkirkan malapetaka dan bahaya. Hal tersebut sangat erat dengan kebiasaan dan adat-istiadat setempat.Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada jaman raja-raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang tersebut seperti yang kita saksikan sekarang. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang. Hal ini juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang cukup tua. Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana bentuknya. Pertunjukan teater tradisional pada umumnya digunakan untuk pendukung sarana upacara baik keagamaan ataupun adat-istiadat, tetapi pertunjukan wayang kulit dapat langsung menjadi ajang keperluan upacara tersebut. Ketika kita menonton wayang, kita langsung dapat menerka pertunjukan wayang tersebut untuk keperluan apa. Hal ini dapat dilihat langsung pada cerita yang dimainkan, apakah untuk keperluan menyambut panen atau untuk ngruwat dan pertunjukan itu sendiri merupakan suatu upacara.
Wayang Cina, Muangthai, Kamboja
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.