Ujicoba bom vakum juga menjadi penanda bahwa era perang terbuka yang melibatkan pasukan, hanya tinggal sejarah.
Sebuah penelitian atas konflik yang terjadi saat ini dan di masa depan menunjukkan bahwa strateginya telah berubah menjadi operasi serangan cepat di wilayah yang kecil dengan batas-batas yang tidak jelas.
Sudah tidak penting lagi untuk menempatkan armada tank dan ratusan artileri di setiap kilometer wilayah pertempuran.
Serangan massif menjadi pembuka jalan bagi senjata berteknologi tinggi untuk menyerang unit-unit kecil dan instalasi musuh.
Senjata nuklir memang akan terus memainkan peran penentu. Tapi senjata konvensional (non-nuklir) yang juga sama mematikannya, juga dikembangkan untuk mencapai tujuan-tujuan strategis.
AS dan Rusia sekarang ini sedang bergerak untuk meningkatkan kemampuan senjata konvensional. Dua tahun lalu, Washington memutuskan untuk memasang hulu ledak konvensional pada rudal kapal selam "Trident-2", tapi Pentagon mengalami masalah politik serius dan akhirnya terpaksa menghentikan program ini.
Sekarang, militer AS sedang mengembangkan bom penetrasi tinggi yang mampu menghancurkan bunker bawah tanah yang kuat. Sementara Moskow lebih memfokuskan diri pada bom vakum eksotis.
AS pernah menggunakan bom vakum pada era 1960-an selama perang Vietnam. Sistem "TOS-1 heavy flame" buatan Rusia membakar hulu ledak dalam perang di Afghanistan pada tahun 1980-an, dan juga pernah digunakan untuk menyerang pejuang Chechnya pada tahun 1990-an dan awal 2000.
Bom vakum juga dikenal sebagai hulu ledak panas, mengandung campuran hidrokarbon. Mereka dilepaskan ketika bom meledak 10 meter di atas permukaan tanah, bercampur dengan oksigen di atmosfer dan membentuk ledakan aerosol yang keras menghasilkan awan berdiameter 20 meter dan tinggi 3 meter. Awan ini terbentuk sekitar 100-140 milidetik kemudian.
Ledakan ini mengakibatkan gelombang supersonik yang bergerak dengan kecepatan tiga kilometer per detik dan menyebabkan tekanan luar biasa hingga 30 kilogram per sentimeter persegi.
Daya hisap yang kuat terbentuk setelah awan ledakan menghancurkan udara dan partikel solid.
Ledakan ini membentuk awan jamur yang sama dengan ledakan nuklir. Ketika AS memakai bom vakum di Irak selama 'Operasi Badai Gurun', wartawan menyebut sebuah hulu ledak nuklir taktis telah diledakkan.
Walaupun komponen bom panas tidak dapat secara efektif menghancurkan berbagai hambatan, mereka digunakan untuk mendapatkan hasil yang menghancurkan bagi personel militer.
Pada beberapa kasus, awan aerosol ini tidak meledak akibat hujan dan angin kencang, tapi dapat menjadi racun bagi makhluk hidup.
Setelah ledakan, orang-orang yang selamat tetap terkena dampak gelombang ledakan yang kuat. Menurut dokter, ledakan semacam itu menghasilkan cacat fisik, seperti tuli dan kebutaan, kerusakan jantung dan alat pernapasan, pendarahan dalam dan kerusakan organ internal lainnya.
Senjata nuklir juga dapat menciptakan efek vakum yang sama. Sebagai contoh, dua hulu ledak nuklir dapat meledak dengan cepat, dan ledakan kedua akan terjadi pada lingkungan padat dan menyebabkan kerusakan yang luar biasa dibandingkan yang diperkirakan.
"Father of All Bombs" is the nickname of a Russian-made air-delivered thermobaric weapon that is claimed to be four times more powerful than the U.S. military's GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast bomb (MOAB or the "mother of all bombs"), making it the most powerful publicly-known conventional (non-nuclear) weapon in the world. In describing the bomb's destructive power, Russian deputy armed forces chief of staff Alexander Rukshin is quoted as saying, "all that is alive merely evaporates."
It was successfully field-tested in the late evening of September 11, 2007, when it was apparently dropped from a Tupolev Tu-160 heavy bomber with a parachute and exploded. Russia says the weapon yields the equivalent of 44 tons of TNT using 7.8 tons of a new type of high explosive, claimed to be created applying nanotechnology. In comparison, the MOAB produces the equivalent of 11 tons of TNT from 8 tons of high explosive. The blast radius of 300 m is twice as large as the MOAB.
Defense analysts question both the yield of the bomb and whether it could be deployed by a Tupolev bomber. Photos and video of the bomb suggest that it is designed to be deployed out of the back of a slow moving cargo plane, and bomb-test video released by the Russians never shows both the bomb and the Tupolev bomber in the same camera shot.
Although its effect has been compared to that of a nuclear weapon, it is comparable only to the lowest yield settings of the lowest yield nuclear weapons. The M-388 Davy Crockett, one of the smallest nuclear devices deployed, had a selectable yield between 10-20 tons of TNT (smaller than the FOAB) to up to 500 tons of TNT (over ten times larger than the FOAB). The FOAB only has around 0.3 percent of the energy of the atomic bomb used against Hiroshima (a yield of 13 kilotons of TNT), which itself is considerably smaller than most modern nuclear weapons (which are usually measured in the hundreds of kilotons range, upwards into the megaton range).

TU-160 Black Jack

FATHER OF ALL BOMB

B-2 Spirit

MOTHER OF ALL BOMB
all.. tambahin lg ya..