Barrack Hussein Obama: Mungkinkan Menjadi PresidenBarrack Hussein Obama lahir di Honolulu (Hawai) pada tahun 1961. Ayahnya yang juga bernama Barack Obama (senior) berasal dari Kenya (Afrika) dan ibunya berasal dari Kansas (USA), keduanya sama-sama kuliah di Universitas Hawai. Ketika Barack Obama berusia dua tahun kedua orang tuanya berpisah, kemudian bercerai. Ayahnya lalu kuliah di Harvard untuk meraih gelar Phd, kemudian kembali ke Kenya. Sedangkan ibunya menikah dengan seorang mahasiswa asing asal Indonesia yang bernama Lolo Soetoro, lalu pindah ke Jakarta.
Barack Obama, Jr. tinggal di Indonesia selama 4 tahun sejak 1967, kemudian tinggal di Honolulu (Hawai) bersama kakeknya. Mungkin ayah dari Barack Obama adalah seorang muslim, karena itu sang anak diberi nama Hussein, nama yang biasa digunakan umat islam, yang juga merupakan nama salah satu cucu Rasulullaah SAW. Tapi karena terpisah dari sang ayah sejak berumur 2 tahun, maka Barack Obama junior mengikuti agama kakeknya dari pihak ibu, yaitu kristen.
Saat ini Barack Obama menjadi salah satu nominasi kandidat calon presiden dari Partai Demokrat di Amerika Serikat.
Biografi Barack Hussein Obama Junior, The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming the American Dream (2006), telah sembilan pekan bertengger di urutan teratas buku nonfiksi terlaris versi The New York Times. Bangsa Amerika Serikat tak pernah bosan didongengi kisah "Obambi" ini.
Film Bambi bercerita tentang seekor anak rusa yang lugu yang terpaksa berkenalan dengan kejamnya rimba belantara. Obama calon presiden favorit Partai Demokrat meski dianggap mentah politik.
Ibu Obama bulé asal Kansas, ayahnya Muslim asal Kenya, dan bapak tirinya asal Indonesia. Waktu kecil ia hidup melarat di Jakarta, saat dewasa hidup berlimpah sebagai pengacara top lulusan Harvard.
Setiap orang terkesiap mendengar ia menyebutkan "Hussein Obama" (mirip Saddam Hussein dan Osama bin Laden) sambil mengulurkan tangan saat kampanye menjadi anggota DPR di Springfield, Illinois. Kini ia "Obambi Kecil" yang siap menghadang "Raksasa Hillzilla" Hillary Clinton.
Buku Hope ibarat skripsi berpredikat summa cum laude yang meluluskan Obama sebagai pemimpin masa depan. Anda tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami perkembangan politik mutakhir negeri Abang Sam.
Karier politik Obama tidaklah seringan bahasa yang dia pakai di dalam bukunya. Ia terpilih sebagai Senator Negara Bagian Illinois setelah meniti karier dari bawah, mengingatkan orang pada kisah sukses ala "mimpi Amerika".
Obama bukan dari keluarga politik yang mapan seperti trah Bush atau Kennedy. Namun, ia dielu-elukan sebagai penjelmaan dari Presiden John Fitzgerald Kennedy.
Kennedy terkenal dengan kalimat "jangan tanya apa yang negara lakukan kepada kamu, tetapi tanyalah apa yang kamu lakukan untuk negara". Obama meroket ketika dipilih sebagai pengucap pidato kunci pada Konvensi Partai Demokrat tahun 2004.
"Tak ada orang hitam Amerika dan orang putih Amerika dan orang Latin Amerika dan orang Asia Amerika—yang ada hanyalah Amerika Serikat," kata Obama di hadapan peserta konvensi. Kalimat pamungkas ini sering dikutip hampir setiap orang yang berjumpa dengannya.
Saya tak punya pilihan lain kecuali memercayai inilah visi Amerika. Sebagai anak lelaki hitam dan perempuan putih, sebagai orang yang lahir di Hawaii yang multirasial bersama saudara tiri yang separuh Indonesia tetapi kerap dikira orang Meksiko atau Puerto Riko, mempunyai ipar dan keponakan keturunan China, memiliki saudara-saudara yang wajahnya mirip Margaret Thatcher... saya tak bisa setia hanya kepada ras tertentu.""
Obama meniti seutas tali di atas jurang pemisah antara liberalisme versus konservativisme. Ia bukan "Reagan Democrat" dan juga tak masuk lingkar dalam mantan Presiden Bill Clinton.
Lewat Hope ia menyegarkan kembali harapan bangsa AS yang pesimistis menyaksikan pertikaian ideologis kanan melawan kiri. Obama tak mengajukan pemikiran-pemikiran strategis, hanya menulis refleksi seorang warga yang "tak pernah berhenti resah".
Sebuah refleksi menarik terdapat dalam bab The World Beyond Our Borders. Obama, tak bisa lain, menulis sebuah esai panjang mengenai tanah airnya yang ketiga (setelah AS dan Kenya), yakni Indonesia.
Ia ingin dipandang sebagai calon presiden yang paham masalah internasional. Sepanjang sepuluh halaman ia mengulas evolusi Indonesia dari sebuah kampung besar, lalu menjadi antek politik dan ekonomi AS, kemudian mengalami krisis moneter dan reformasi, sampai menjadi negara yang tak toleran lagi.
Rumahnya di sebuah kampung Jakarta tak berkakus duduk, di halaman belakang ada beberapa ekor ayam peliharaan, dan di dekat jendela banyak jemuran bergelantungan.
"Jenderal-jenderal Indonesia membungkam hak asasi, birokrasinya penuh korupsi," tulis Obama.
"Tak ada uang untuk masuk ke sekolah internasional, saya masuk sekolah biasa dan bermain dengan anak-anak pembantu, penjahit, atau pegawai rendahan," tulisnya. Waktu keluarganya "naik kelas", barulah Obama menikmati enaknya jok mobil hasil jerih payah ayah yang keluar dari TNI untuk menjadi karyawan biasa.
Kini Indonesia tak sama lagi. "Indonesia terasa jauh dibandingkan dengan 30-an tahun yang lalu. Saya takut ia menjadi tanah yang asing," tulis Obama.
Obama bukan tanpa kelemahan. Banyak warga Afrika-Amerika di AS menilai ia "kurang hitam" karena tak 100 persen menjadi dewasa di sana.
Usianya yang 45 tahun juga dianggap terlalu muda untuk bertempur melawan Joseph Biden (64), Chris Dodd (62), Dennis Kucinich (60), Bill Richardson (59), Hillary Clinton (59), Tom Vilsack (56), atau John Edwards (53). Ada gagasan ia magang dulu jadi calon wakil presiden, mendampingi "Hillzilla".
Analis James Carville mengatakan, strategi politik Demokrat sering mengulang litani yang itu-itu juga dengan gaya yang menjemukan. Kontras dengan Presiden George W Bush yang tampil sebagai "konservatif yang bergairah" yang berani mengambil keputusan sekalipun sering ndableg.
Itulah sebabnya rakyat AS berharap kepada Obama yang sengaja menulis judul The Audacity of Hope. "Keberanian itulah yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Semangat berharap itulah yang mengikat cerita tentang keluarga saya dengan cerita tentang Amerika dan yang mengikat cerita mengenai saya dengan para pemilih yang ingin saya wakilkan."
Sumber :
http://athoillah-habib.blogspot.com/2008/0...mungkinkan.html