candrakha
Mar 16 2008, 03:52 AM
Sabtu, 15 Mar 2008,
Kisah Bayi-Bayi yang Lahir ketika Orang Tuanya Dibelit Kemiskinan
Sri Harus Rela Bayi Kembarnya Jadi Milik Bersama
Di Surabaya, seorang ibu terpaksa memberikan bayi kembar yang baru dilahirkannya kepada orang lain karena tak mampu mengasuh. Di Makassar, seorang ibu tak bisa membawa pulang bayi yang baru dilahirkannya di rumah sakit karena tak punya sepeser pun duit untuk membayar biaya persalinan.
Dedy H.S.- Suryanta, Surabaya
Seandainya boleh memilih, bayi-bayi yang baru dilahirkan pasti akan minta kepada Tuhan agar berada dalam suasana yang serba berkecukupan serta kedua orang tua yang penuh perhatian.
Tapi, inilah takdir. Setiap bayi yang lahir punya garis hidup masing-masing. Seperti yang dialami bayi kembar Fernando-Fernanda (bukan Rivaldo dan Aldo, seperti diberitakan di halaman Metropolis 14/3). Umur mereka kini baru 25 hari.
Ketika melahirkan, Sri Herudianti, sang ibu, dalam kondisi tak punya uang. Perempuan 27 tahun yang tinggal di kawasan Pondok Benowo Indah, Surabaya, itu sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik plastik. Suaminya minggat sejak dia mengandung dua bulan.
Ketika tiba waktu melahirkan, Sri sama sekali tidak ada persiapan, terutama untuk biaya persalinan. "Untuk belanja sehari-hari saja sering tidak cukup," cerita Sri, yang kini tinggal bersama Dedy, adiknya.
Sri melahirkan di rumahnya. Saat itu, awalnya, dia memanggil dukun beranak. Tapi, karena orok yang akan keluar ternyata kembar, si dukun beranak itu kesulitan. Lantas, dipanggillah bidan. Maka, bayi kembar itu pun lahir.
Karena ditolong bidan, biaya persalinan pun membengkak. Saat itu, Sri panik sekali karena tak mampu membayar biaya yang disodorkan bidan.
Dalam kondisi seperti itu, Sri menghubungi Maya Astuti, 31, temannya yang tinggal di kawasan Balongsari Krajan, agak jauh dari rumah Sri. Sehari-hari, Maya menunggui salon kecil-kecilan miliknya sendiri.
Kepada Maya, Sri mengatakan terus terang, dia tak akan sanggup menghidupi bayi kembarnya. Apalagi, setelah melahirkan, dia menanggung utang biaya persalinan.
Maya pun iba terhadap penderitaan Sri. Dia berinisiatif merawat bayi kembar itu meski kondisi ekonominya juga tergolong pas-pasan.
Di rumah petaknya yang hanya berukuran 3 meter x 2 meter, Maya tinggal bersama Jefry, anaknya yang berumur 14 tahun, dan Ny Masnah, ibu angkatnya. Rumah petak itu sekaligus dijadikan salon. Lantai satu untuk salon sekaligus kamar tidur, sedangkan lantai dua untuk jemuran dan menyimpan barang. Dalam sehari, dari hasilnya membuka salon, Maya mengaku mendapatkan Rp 30 ribu-Rp 50 ribu.
"Mendengar cerita Sri, saya iba. Saya beri dia Rp 550 ribu untuk mengganti biaya persalinan. Kedua anaknya saya rawat," cerita Maya kepada Jawa Pos yang kemarin mendatangi rumah petaknya.
Setelah uang diberikan, bayi kembar itu lantas diboyong ke rumah petak Maya. Tiga minggu lebih berada di rumah Maya, hal yang tak diduga terjadi. Tiba-tiba, aparat kepolisian mendatangi rumah Maya, Kamis lalu (13/3). Polisi langsung menangkap Maya dan mengamankan bayi kembar tersebut. Tak lama berselang, polisi juga menciduk Sri (baca JP 14/3). Saat itu, polisi menduga Maya dan Sri terlibat dalam kasus penjualan bayi. Penangkapan Maya dan Sri dilakukan setelah polisi mendapatkan informasi dari tetangga Maya. Menurut informasi itu, Maya memberikan uang Rp 550 ribu kepada Sri. Inilah yang awalnya dijadikan bukti bahwa diduga terjadi penjualan bayi.
Tapi, tuduhan itu ternyata tak dikuatkan bukti-bukti lain. Kemarin, aparat kepolisian dari Polresta Surabaya Utara membebaskan Maya dan Sri (selengkapnya tentang perkembangan kasus ini, baca di halaman Metropolis).
Kini bayi kembar itu tetap diasuh Maya. "Anak ini sekarang punya tiga ibu. Saya, ibu kandungnya sendiri, dan juga ibu angkat saya," kata Maya.
Dia mengaku sempat trauma terhadap peristiwa penangkapan oleh polisi. "Saya kan niatnya menolong. Malah berurusan dengan polisi," ujarnya.
Maya juga menyesalkan beberapa tetangganya yang gegabah melapor ke polisi dan menuduhnya menjadi pelaku penjualan bayi. "Itu semua fitnah," tegasnya.
Sri mengaku, selama bayi kembarnya dirawat Maya, dia berjanji akan datang dua hari sekali untuk menjenguk. "Saya harus rela Fernando dan Fernanda menjadi milik bersama," tuturnya.
Nasib yang dialami Sri hampir sama dengan yang dialami Basse. Wanita 35 tahun yang tinggal di Pulau Kodingareng, Kecamatan Ujungpandang, Kotamadya Makassar, Sulawesi Selatan, itu juga berasal dari keluarga tak mampu.
Ceritanya, Senin lalu (10/3), dia melahirkan anak ketiganya di Rumah Bersalin (RB) Rakyat BKIA di Jl Tentara Pelajar, Makassar.
Sebenarnya, Basse ingin melahirkan di rumahnya dengan ditangani dukun beranak. Tapi, saat itu dia mengalami perdarahan sehingga harus dirujuk ke rumah sakit. Saat itu, tak ada pilihan lain. Apalagi, suami Basse sedang melaut.
Di rumah sakit, Basse melahirkan bayi laki-laki dengan berat badan 2,6 kilogram. Basse pun senang. Tapi, tak lama berselang, wajah Basse berubah murung. Sebab, dia harus membayar biaya persalinan sebesar Rp 301 ribu. Mengandalkan suami, jelas tak memungkinkan. Karena tak juga bisa membayar biaya persalinan, bayi Basse pun terpaksa tak bisa dibawa pulang.
"Saya hanya bisa menangis dan berdoa, semoga ada yang membantu kami," harapnya.
"Suami saya bekerja sebagai nelayan. Penghasilannya sangat tidak menentu," ceritanya sambil sesenggukan.
Apalagi, di rumahnya, tinggal lima anggota keluarga. Mereka adalah orang tua Basse bernama Muna, Adik Basse bernama Anti, 10, dan Indah, 5, serta dua anak Basse, Rama, 7, dan Wanda, 5.
Berbeda dengan Sri, Basse tak akan menyerahkan bayinya kepada orang lain untuk dirawat meski dia hidup serba pas-pasan. "Saya nanti akan bekerja apa saja, yang penting halal," katanya.
Wanda, salah seorang perawat di RB Rakyat BKIA, menceritakan, saat bersalin, Basse sama sekali tak punya persiapan. Bahkan, Wanda terpaksa memanfaatkan baju daster untuk diikatkan ke pinggang Basse usai melahirkan.
Peralatan bayi lainnya pun tak punya. Jangankan bedak, selimut saja tak ada. "Karena tak bisa membayar, dia (Basse) belum bisa pulang dari rumah sakit," kata Wanda.
Seorang ibu yang juga melahirkan persis di samping tempat tidur Basse menuturkan, hampir setiap malam Basse menangis karena tak punya uang. "Dia bingung tidak punya uang. Basse juga pernah bilang akan menitipkan anaknya di rumah sakit, lalu keluar mencari uang, untuk menebus biaya persalinannya," ujarnya seraya menolak menyebutkan identitasnya.
****sumber : Indopos****
Please Coment nya Dengan Nurani
hasbie
Mar 16 2008, 05:09 AM
lagi lagi uang.......lagi lagi uang........
bagoes_kha
Mar 17 2008, 08:56 AM
itulah negara kita!?,negara yang susah!?,apa2 harus ada duit,karena negara kita aja butuh duit,apalagi rakyatnya
Ordinary People
Mar 17 2008, 09:16 AM
masih banyak potret kehidupan seperti itu di indonesia.
itu yg salah pemerintah apa individu nya yah...??
marbun
Mar 22 2008, 09:03 AM
negara kita sedang miskin, pahit........tapi, semoga pahit ini adalah pahit jamu, pahit yang kelak bisa menyembuhkan luka negeri ini.............
CacingGulung
Mar 22 2008, 12:33 PM
ada kesalahan juga di pihak orang tua nya...
udah tau gak ada duit kok bkin anak....
ampunkk
Mar 22 2008, 09:24 PM
orang kere g bole pnya anak??
yang namanya manusia kan jg punya hak untuk untuk mempunyai keturunan...
tp dalam hak itupun mereka harus berpikir tanggung jawab yang harus diembannya kelak...
Falculus
Mar 22 2008, 09:34 PM
satu yg gw yakin..Tuhan akan memberi rejeki lebih bagi orang yg menikah apalagi punya anak...asal sang ortu (terutama si bapak) mau mencari rejeki tsb...
royu
Mar 23 2008, 12:16 PM
woy penguasa baca tuh......... presiden...... menteri....... dimana batang hidung mu disaat rakyat mu pada kelaparan
pikirin rakyat loo jgn mkn enak sendiri
makanya gabung disini BF mania.........
kaastangels
Mar 24 2008, 09:01 AM
kok ga ada bapak-ibu dokter baik hati kaya d sinetron2 d tivi itu y?
oncom123
Mar 24 2008, 11:29 PM
Kata menkeu negara kita punya harta 900 triliun tapi ko masih banyak rakyatnya yg sengsara ya
krebot ganteng
Mar 26 2008, 08:56 PM
buat BF'ers jgn pesimis donk, mari kita dukung, knp ngak kita buat acara ato apalah, untuk meringankan beban disekeliling kita, mulai dari yg kecil aja doloe..!! seperti memberi infaq, sumbangan atau langsung memberi bantuan. jgn ada berita begitu kita cuma bisa sedih, iba ataupun apalah pake acara mengolok2an pemerintah.
Mari kita bersama membangun Indonesia, bukannya gua sok2an. gua aja takut, klo gua nikah, trus ponya anak kasih makan apa, sedangkan kuliah aja makan ngak makan. toh juga diantara kita2 ini bakal ada yg jadi pemerintah. kita tau bahwa ada saudara kita yg begitu tapi krn sudah terlena dengan duit jadi kita tidak memikirkan begitu jg.
Jangan sampai waktu kita diatas [misal jadi anggota DPR ato apalah] kita pura2 tidak melirik kebawah. banyak orang2 begitu. padahal kita adalah orang2 yg mengatakan presiden ngak kaw liat penderitaan kami ini gmn. tapi ktika kita berada diatas malah kita yg pertama yg mengatakan " itu bukan urusan saya kan ada si a yg bisa urus masalah ini bebankan saja ke dia ngapain capek2".
Maksud saya bukan jelek, mari kita sama2 merasakan, setelah sama2 rasakan mari kita sama2 bertindak. setelah bertindak mari kita sama2 nikmati. ngak usah yg muluk2 dech seperti negara tetangga yg udah maju. yang penting kita sama2 memikirkannya.
maaf klo ada kata2 yg tidak enak...!!!
jimmz
Mar 26 2008, 08:59 PM
Posink aku liat si kebo ngepost panjang kale