Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Resensi Buku
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Community > BlueFame Localizations > Aceh
Vermont
Mari geutanyo diskusi seputar buku-buku berkualitas yang wajib dimiliki
Vermont
The Icarus Girl




Judul asli : The Icarus Girl
Penulis : Helen Oyeyemi

Barangkali sebagian dari kita pernah memiliki teman khayalan saat kita masih kecil dahulu. Menurut ilmu psikologi, itu adalah gejala kejiwaan yang wajar terjadi dan hampir setiap anak mengalaminya. Saya sendiri tidak ingat, apakah saya pernah memilikinya. Namun, sekarang saya sering memerhatikan keponakan saya berumur lima tahun beberapa kali terlihat seperti sedang bercaka-cakap dengan seseorang yang tidak tampak. Entah, apakah ia tengah berada dalam fase "teman khayalan" itu?

Dalam novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng karya Jostein Gaarder, tokohnya juga punya seorang teman khayalan yang terus "ada" sampai si tokoh dewasa dan tua. Teman khayalannya itu seorang lelaki kecil setinggi satu meter dan selalu membawa-bawa tongkat. Ia muncul biasanya pada waktu sang tokoh membutuhkan guna menyelamatkannya dari situasi tertentu yang dirasa tidak aman dan tidak nyaman.

Begitu juga dalam A Beautiful Mind, kisah nyata kehidupan John Nash, pemenang nobel bidang ekonomi yang harus dirawat di rumah sakit jiwa karena dianggap mengidap kelainan jiwa. Ia mempunyai seorang teman khayalan, gadis kecil pirang dengan bonekanya.

Dari kedua buku tersebut, kiranya teman khayalan itu tidak hanya milik anak-anak kecil saja dan pada tahap tertentu hal tersebut bisa jadi merupakan penyakit kejiwaan.

Novel The Icarus Girl garapan Helen Oyeyemi juga bercerita seputar teman khayalan seorang gadis cilik, Jessamy Harrison. Jess, demikian gadis itu disapa, baru berumur delapan tahun, beribukan Sarah asal Nigeria dan ayah Daniel Harrison, orang Inggris asli.

Untuk ukuran gadis 8 tahun, Jess tampak sedikit "berbeda" dibandingkan teman-teman seusianya. Ia pendiam, suka menyendiri, dan senang sekali membaca (novel favoritnya : Little Women). Sebagai peranakan kulit hitam, ia kerap mendapat masalah dalam pergaulan dengan teman-teman di sekolahnya. Ia tidak suka kelasnya. Ia merasa jauh lebih nyaman berada di dalam lemari pakaian ibunya daripada di dalam kelasnya.

Suatu hari, ia bersama kedua orang tuanya pergi mengunjungi kakeknya di Nigeria. Sebenarnya ia sudah menolak ikut, akan tetapi ibunya ingin mereka semua pergi dan berkenalan dengan keluarga besarnya di Nigeria. Jess tidak pernah menduga, di Nigeria ini ia bertemu dan bersahabat dengan Titiola (yang kemudian dipanggilnya TillyTilly).

TillyTilly muncul pertama kali di Rumah Anak Laki-laki, yakni satu unit bangunan tua dan lapuk yang sudah tidak pernah dipakai lagi. Letaknya tidak jauh dari rumah induk keluarga besar kakeknya. Sejak itu mereka pun berikrar untuk saling setia sebagai sahabat.

Persahabatan mereka terus berlanjut hingga Jess kembali Ke London, Inggris. Beberapa hari setelah kepulangannya, TillyTilly muncul dengan rok kotak-kotak hijau putih seperti murid sekolah. Jess yang senantiasa merasa kesepian dan sendiri tentulah gembira sekali dengan kehadiran "temannya" itu. TillyTilly benar-benar memenuhi janjinya untuk selalu setia. Ia bahkan membalaskan sakit hati Jess pada teman-teman dan guru yang suka mengejeknya. Karena TillyTilly tidak terlihat oleh orang lain, maka Jess-lah yang harus menanggung segala akibat perbuatan TillyTilly yang menjadi sangat posesif.

Lama-kelamaan perilaku Jess semakin terlihat aneh. Di sekolah dan di rumah selalu saja mendapat masalah. Akhirnya, ibunya membawa Jess ke seorang psikolog, Dr. McKenzie, yang mendiagnosis kasusnya sebagai kasus multiple personality disorder atau kepribadian ganda. Kesimpulannya, TillyTilly itu adalah alter ego Jessamy yang muncul setiap kali Jessamy merasa terancam dan marah.

Saya hampir setuju dengan Dr.McKenzie kalau saja tidak ada peristiwa permen jelly baby itu.

Novel (psikologi) yang menarik dengan racikan bumbu thriller lumayan menegangkan. Setidaknya berhasil memicu rasa penasaran pembaca akan bagaimanakah akhirnya, terutama demi mengetahui apa atau siapakah sebenarnya TillyTilly. Betulkah ia hanya teman khayalan atau satu kepingan pribadi Jessamy yang terbelah? Atau lebih jauh lagi, ia adalah arwah penasaran yang merasuki raga dan jiwa Jessamy?

Ketegangan terbangun sedikit demi sedikit seiring dengan perubahan karakter TillyTilly dari seorang gadis manis menjelma posesif dan kejam. Kita dibuat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Salah satu faktor yang membuat novel ini menarik adalah karena tokohnya anak-anak. Rasanya, ada kepolosan dan kejujuran tersendiri yang tidak terdapat dalam cerita-cerita dengan tokoh orang dewasa. Ingat saja misalnya, To Kill A Mockingbird (Harper Lee) atau Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi).

Dalam novel ini, Helen Oyeyemi sempat menyinggung perihal rasialisme yang terjadi di Inggris. Ia juga mengangkat budaya dan tradisi Nigeria untuk mendukung cerita agar tersedia alasan dan penjelasan logis di bagian-bagian yang bersifat mistis.

Helen Oyeyemi adalah penulis kelahiran Nigeria (1984) yang kemudian menetap di London, Inggris. The Icarus Girl merupakan karya debutannya yang ia tulis saat masih duduk di bangku SMU.

Satu pertanyaan : mengapa judulnya The Icarus Girl ya? Apakah ini menggambarkan Jessamy yang selalu ingin terbang bebas seperti Icarus, anak Daedalus dalam mitologi Yunani yang ingin menggapai matahari dengan sayap lilinnya

source: Endah Sulwesi
Vermont
LASKAR PELANGI Two Thumbs Up!!!



Judul Buku : Laskar Pelangi
Pengarang : Andrea Hirata

Laskar Pelangi, walau dengan kualitas kertas di bawah buku Sang Pemimpi maupun Edensor, adalah ”ruh” awal yang diletakkan oleh Andrea untuk buku selanjutnya : Sang Pemimpi dan Edensor. Walau di dalam Sang Pemimpi dan Edensor, tokoh-tokoh awal Laskar Pelangi hanya disinggung sedikit, dan seakan sambil lalu. ”Ruh” awal sesungguhnya adalah jiwa atau pribadi si tokoh cerita : Ikal. Ikal tokoh tengil, cerdas, rendah hati, mudah penasaran terhadap sesuatu yang baru, suka bertualang, romantis, bertanggungjawab, mempunyai kegigihan dalam mencapai sesuatu, dan secara visual berambut keriting. Kegigihan dan kepercayaan akan tercapainya sesuatu digambarkan bukan serta merta tumbuh dari diri Ikal, namun di-”inisiasi” oleh tokoh-tokoh dan kondisi lingkungan Ikal sehari-hari. Tokoh Ikal terbaca sebagai Andrea Hirata. Karena Andrea bercerita mengalir seperti bila Sdr. Sunaryo Broto bercerita soal jalan-jalannya di Mesir, ataupun bila saya sendiri bercerita tentang pengalaman saya dengan lancar, seakan kenangan tersebut terekam kembali di pelupuk mata. Dalam http://pencintabuku.wordpress.com bahwa Andrea mengaku novel ini awalnya hanya merupakan catatan kenangan terhadap masa kecilnya di Belitong (bahkan juga pengalaman kehidupan dewasa yang dialaminya baru-baru saja dalam Edensor, dan agak baru dalam Sang Pemimpi)
Laskar Pelangi sesungguhnya adalah wajah kehidupan sebagian besar anak-anak Indonesia di era tahun 70 – 80’an, atau bahkan saat ini. Hidup prihatin, itu bagi kacamata orang dewasa yang mapan, dan menjadi ”emangnya gue pikirin” dan ”enjoy-enjoy saja” bagi anak-anak. Yang penting bermain dan bergembira, makan seadanya, kalau lelah tidur. Beres deh!. Walaupun pengalaman Andrea lebih spektakuler karena dia hidup di pulau yang keras namun indah : Pulau Belitong. Saya bayangkan betapa penghuni pulau tersebut kadang ”merasa sendirian” bila berjalan memutari pulau Belitong yang dikelilingi oleh lautan luas! Namun si Ikal and his gang-nya memanfaatkan kondisi lingkungan ini dengan penuh keceriaan dan syukur (yang awalnya mungkin suatu bentuk kepasrahan dari kondisi keseharian yang selalu dihadapi), yang nantinya akan bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Andrea menggambarkan bagaimana kondisi pendidikan dari yayasan Muhammadiyah dengan sangat menyentuh. Ibu guru Muslimah yang mempunyai semangat tinggi mendorong siswa-siswanya agar menjadi seorang yang ”berhasil” dengan semangat tanpa tanda jasa (mengingatkan saya akan Bapak saya, baik sebagai seorang pendidik ataupun sebagai orang Muhammadiyah yang juga terlibat dalam yayasan pendidikan Muhammadiyah dan bersemangat ’45, tak jauh berbeda dengan Pak Harfan dan Bu Muslimah).
Dalam Laskar Pelangi kita diajak oleh Ikal untuk bertualang bersama anggota Laskar Pelangi yang lain : Lintang, Trapani, Mahar, Borek, Kucai, Sahara, A Kiong, Syahdan, dan Harun. Sepuluh anak. Memenuhi syarat agar SD Muhammadiyah Belitong masih tetap ada! Dalam Laskar Pelangi ini Ikal berkenalan dengan A Ling, kekasih platonisnya, yang selalu menyemangati hidup Ikal hingga dalam buku Edensor (mungkin hingga sekarang).
Seputar kehidupan PN (sebutan untuk Perusahaan Negara Timah Belitong) dikupas tuntas sesuai kaca mata Ikal yang terang benderang dengan metafora-metafora-nya yang pede habis.

Kehidupan sebagai anak pegawai rendahan PN, anak laut, siswa yang belajar di bawah gedung sekolah reyot (namun dinaungi oleh pohon filicium yang rindang dan merupakan satu komunitas yang dipenuhi oleh keceriaan hidup berbagai makhluk), bermain di saat hujan, perlombaan antar sekolah, dan euforia kemenangan khas anak-anak, memenuhi cerita ceria Ikal di masa anak-anak (SD) hingga menjelang remaja (SMP). Di Bab akhir Laskar Pelangi, Ikal bercerita tentang duabelas tahun kemudian setelah lulus SMP, dan bagaimana potret kesepuluh pasukan Laskar Pelangi di saat itu.
Vermont
Sang Pemimpi Two Thumbs Up!!!



Judul Buku : Sang Pemimpi (Seri Kedua Laskar Pelangi)
Pengarang : Andrea Hirata


Sang Pemimpi, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Dengan warna cover yang agak suram (abu-abu) dibandingkan cover buku pertama yang cerah merah jambu dengan siluet sekelompok anak bermain di pinggir laut. Cover ini bergambar seorang pria gagah yang merenung di ujung jalan kayu yang menjorok ke laut. Pose yang mengingatkan saya akan patung The Little Mermaide di pelabuhan Kopenhagen dengan versi lain (mungkin ini ide Andrea yang pernah juga singgah di Denmark selama berkeliling Eropa terobsesi oleh A Ling, tokoh cinta platonisnya, dalam buku ketiga : Edensor). Bercerita tentang seputar kehidupannya di masa SMA dan kebanggaannya dapat bersekolah di SMA Bukan Main, SMA Negeri Belitong. Sebuah SMA favorite di Pulau Belitong.
Dalam Sang Pemimpi, tokoh-tokoh pemberani tidak lagi berjumlah sepuluh orang lagi, namun ”hanya” tiga orang. Tanpa satupun dari kesembilan anak di Laskar Pelangi muncul lagi sebagai tokoh bersama Ikal. Mungkin karena keterbatasan mereka untuk dapat mendaftarkan diri ke sekolah menengah atas. Sesuai dengan kenyataan dalam masyarakat kita hingga hari ini bahwa tingkatan pendidikan tersebut masih dianggap cukup tinggi dan memerlukan biaya yang cukup besar. Hanya Ikal, Arai, dan Jimbron saja dari kampung mereka yang dapat melanjutkan ke SMA. Dalam buku pertama, saya tidak begitu mengerti mengapa Arai sama sekali tidak disebut-sebut oleh Andrea, padahal Arai sudah diangkat sebagai anak oleh Ayah Ikal pada saat Ikal juga masih SD. Sebagai pembaca, saya anggap cerita Laskar Pelangi ”seakan terputus” dengan Sang Pemimpi dalam hal satu ini. Dalam Sang Pemimpi, peran Arai sangat terlihat jelas dalam kehidupan Ikal, seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi. Persahabatan ketiga orang ini begitu unik. Arai digambarkan sebagai sosok yang tegar, penyayang, dan optimis. Sedangkan Jimbron, bertubuh besar, namun penakut, dan terobsesi akan kuda. Semangat hidup Ikal cukup banyak tergantung pada Arai. Saudara jauh yang sangat menyayangi dan melindunginya. Walau perawakan mereka hampir sama ”kecilnya”.
Dalam buku Sang Pemimpi banyak pengalaman lucu yang diceritakan oleh Andrea perihal Ikal, Arai, dan Jimbron. Soal bersembunyi dari kejaran guru galak, sampai masuk ke box pendingin ikan, sembunyi-sembunyi melihat film orang dewasa di bioskop yang membuat berdesir darah mudah mereka, hingga soal detik-detik penerimaan rapor mereka yang juga mempertaruhkan harga diri orang tua mereka masing-masing, karena ini menyangkut rangking di sekolah yang diumumkan di depan seluruh orang tua murid!


Betapa Andrea pandai sekali membuat pembaca terharu, membayangkan bagaimana ayah Ikal selalu memakai baju safari satu-satunya yang semalaman sudah diuapin dengan daun pandan untuk acara penerimaan rapornya, dengan mengayuh sepeda sejauh 30 km menuju SMA Bukan Main. Di akhir Bab, Andrea menggambarkan kepergian Ikal dan Arai untuk memeluk mimpi-mimpi mereka, seperti beribu-ribu penduduk Indonesia, menuju kota harapan, kota metropolitan : Jakarta!
Vermont
Edensor Two Thumbs Up!!!



Judul buku: Edensor (seri ketiga laskar pelangi)

Penulis: Andrea Hirata


Buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi telah diluncurkan. Andrea Hirata, penulisnya, memberinya judul Edensor, adalah nama sebuah desa ‘khayalan’ dalam novel Seandainya Mereka Bisa Bicara (Herriot) yang pernah dibaca Andrea. Penggambaran tentang desa tersebut rupanya sangat mengesankan lelaki asal Belitong ini sehingga terbawa terus ke dalam mimpi-mimpinya dan ia berharap satu hari nanti bisa menemukan desa seperti Edensor.



Oleh karena Edensor ini diniatkan sebagai sekuel dari Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, maka inti kisahnya masih mengenai ‘perjuangan’ penulisnya–yang di buku bernama Ikal–menuntut ilmu memenuhi dahaganya akan pendidikan tinggi.



Ikal dan Arai sebagaimana telah disinggung sedikit di Sang Pemimpi akhirnya berhasil lulus tes memperoleh beasiswa dari Uni Eropa dan berhak melanjutkan kuliah master mereka di Universite de Paris Sorbonne, Prancis. Pengalaman kedua pemuda Melayu selama ngendon di Prancis inilah yang dibeberkan dalam Edensor.



Bagi Ikal dan Arai, ini merupakan lawatan pertama mereka ke luar negeri. Dan Eropa, negeri empat musim dengan keindahan tersendiri telah memukau keduanya sehingga mereka nekat mbambung (menggembel) sebagai backpacker untuk menelusuri setiap lekuk-likunya. Berbekal kostum ikan duyung hasil kreasi Nona Famke Somers–manusia pertama yang menyambut mereka di Belanda–mereka pun mengelana mengelilingi separuh bumi, dari Eropa menyeberang ke benua hitam, Afrika. Busana putri duyung ini adalah properti ngamen dalam rangka mendulang euro untuk mengongkosi perjalanan mereka.



Seperti lazimnya sebuah “catatan perjalanan”, Edensor menyuguhkan kisah-kisah unik mengesankan dari tempat-tempat yang sempat disinggahi kedua pemuda udik ini. Maka tak ayal lalu muncul berbagai peristiwa kocak yang mengundang senyum dikulum akibat ‘gegar budaya’ sebagai buntut dari perbedaan musim (cuaca), kultur, agama, dan kebiasaan-kebiasaan.



Ah ya, mengapa saya menyebutnya “catatan perjalanan”? Itu lantaran sebagian besar isi perut Edenso–terlepas apakah di dalamnya telah terjadi perkawinan antara fakta dan fiksi–merupakan uraian yang mirip catatan perjalanan. Memang ada juga bab-bab masa Ikal kuliah, tetapi tidak mendapat porsi banyak. Andrea justru lebih khusyuk dengan kisah petualangannya.



Pengembaraan dimulai dari Prancis menuju Negeri Kincir Angin. Dari sini mereka terus ke utara, ke Jerman, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia, lantas ke Rusia. Di kampung halaman para balerina ini, mereka ketiban sial, ditangkap polisi, kehabisan bekal, dan kelaparan sehingga harus mengunyah dedaunan pohon plum agar tetap panjang umur.Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa menarik lainnya. Umpamanya, saat tiba di Rumania, mereka berjumpa Pak Toha, orang Banyumas yang oleh sebab perbedaan pandangan politik dan ideologi, terpaksa kabur menyelamatkan diri ke negara sosialis itu. Di sana, ia bekerja sebagai pembasmi kecoa. Atau misalnya ketika sampai di Swiss, Ikal sempat “ditawar” 375 euro oleh seorang gay untuk satu kali kencan.



Sebagai sebuah “catatan perjalanan”, Edensor sungguh bacaan yang menghibur. Menjadi semakin lengkap (sebagai catatan perjalanan) dengan kemunculan beberapa foto obyek wisata, seperti: patung bocah yang sedang pipis (manneken pis) di Belgia dan patung perunggu Juliette di Verona, Italia.



Masih mengandalkan kekuatan metafora, bumbu humor, dan sentuhan emosional, Andrea Hirata memaku pembaca untuk ikut serta menikmati petualangan Ikal sampai khatam sembari ikut mencari sang kekasih hati, A Ling, untuk akhirnya menemukan arti cinta yang sesungguhnya: pada deretan botol obat kuat pria, di rumah bordil, atau pada sebuah papan nama binatu.



Jika hendak membandingkan dengan dua karya sebelumnya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Edensor sudah jauh lebih baik untuk urusan ‘logika’. Andrea kelihatan lebih matang mempersiapkan buku ini sehingga nyaris tak terdapat lagi “bolong-bolong” yang mengganggu pembacaan, meskipun bobot ceritanya terasa lebih ringan dan cair. Beberapa ‘keajaiban’ yang ditampilkan terasa masuk akal oleh penjelasan-penjelasan yang telah disiasati sebelumnya, bukan sesuatu yang muncul secara ujug-ujug.



Pesan moral yang masih setia diusungnya adalah ihwal ketabahan dan keberanian meraih cita-cita. Jangan takut bermimpi, karena mimpi-mimpi itu akan memimpin kita menuju kenyataan. Percayalah, dengan mekanismenya sendiri semesta akan membantu mewujudkan segala cita-cita dan impian kita. Kata pepatah lama, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Keberhasilan Ikal dan Arai merengkuh impian–sekolah tinggi di luar negeri, menjelajah bumi sampai Afrika dengan segala keterbatasan ekonomi–agaknya satu contoh yang patut diteladani. Tak berlebihan rasanya jika saya menyebutnya sebagai kisah yang sungguh inspiratif.

exgelo
tetralogi Laskar Pelangi memang luar biasa. dua jempol! kisah yang amat menggelora dan mengharu biru.....hebat andrea hirata!!!!:))
Vermont
An Affair to Forget
Judul : An Affair to Forget – Mencintai saja tak pernah cukup
Penulis : Armaya Junior

http://bp3.blogger.com/_D54w_K_rzek/R9Tvre...0/An+Affair.jpg

Hal pertama yang kubayangkan ketika seorang perempuan dikhianati adalah marah besar, bahkan bukan tak mungkin menggugat cerai suaminya. Tapi ketika pengkhianatan itu menimpa Anna, sahabatku, semua itu tak kutemukan darinya. Sebagai perempuan mandiri dan tegar, dia memilih jalan yang bagi orang lain terasa mustahil, yaitu berusaha mencari informasi tentang perempuan selingkuhan suaminya dan..berteman dengannya.

Awalnya tak ada yang salah dengan pernikahan Toni dan Anna, sembilan tahun sudah pernikahan yang mereka lewati. Keluarga yang romantis dan bahagia, dua anak, dan perekonomian yang mapan karena Toni dan Anna sama-sama bekerja dan memiliki karir yang menjanjikan. Namun tiba-tiba Anna melihat keganjilan atas perilaku suaminya. Naluri kewanitaannya sebagai seroang istri mengatakan bahwa Tony telah berselingkuh dengan wanita lain.

Dengan bantuan sahabatnya, Anna mencoba membuktikan kecurigaannya. Dan ternyata benar, Toni, suaminya berselingkuh. Tak dapat dipungkiri kalau ia merasakan pedih dan sakit hati. Namun Anna bukanlah tipe wanita yang cengeng. Ia tidak larut dalam kesedihan, melainkan berusaha untuk mengembalikan suaminya ke dalam pelukannya kembali.

Akhirnya Anna berhasil menemukan wanita selingkuhan suaminya. Ia adalah seorang klien suaminya yang bernama Dini. Namun apa yang dilakukan Anna bukanlah melabrak Dini, atau mengancam suaminya agar segera meninggalkan Dini atau bercerai dengannya. Tidak! Anna justru melakukan tindakan yang sama sekali diluar dugaan siapapun. Ia tekan rasa pedih dan sakit hatinya, alih-alih menaruh dendam dan amarah kekasih suaminya, Anna malah menjalin persahabatan dengan Dini, wanita yang jelas-jelas ingin merengut kebahagiaan rumah tangganya.

Perselingkuhan memang merupakan masalah terbesar dalam keutuhan suatu rumah tangga dan merupakan penyebab utama perceraian. Banyak sudah kisah perselingkuhan diangkat dalam ranah fiksi, namun yang membuat novel ini istimewa adalah bagaimana akhirnya sebuah perselingkuhan diakhiri dengan cara yang tidak lazim seperti yang sering kita dengar dan baca baik di kisah-kisah nyata maupun kisah-kisah fiksi.

Melalui kisah yang dinarasikan oleh tokoh “Aku” selaku sahabat Anna, pembaca akan diajak mengikuti perjuangan Anna untuk merebut kembali suaminya ke pelukannya. Walau bercerita kepedihan soerang wanita namun tidak ada narasi cengeng dalam novel ini. Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah tokoh yang tegar, berpendidikan, dan memiliki gaya hidup modern.

Kehidupan masyarakat metropolis menengah keatas dengan gaya hidup yang bebas tergambarkan juga melalui semua tokoh dalam novel ini. Hubungan one night stand untuk mendapatkan seks dan cinta sesaat merupakan hal yang lumrah. Kencan yang berakhir dengan hubungan seks bukan hal yang aneh. Kalaupun ada penyesalan karena telah melakukan hubungan seks, itupun bukan karena tokohnya ingat akan dosa, melainkan karena hubungan persahabatan yang mungkin akan rusak akibat seks.

Karenanya novel ini benar-benar hanya dapat dibaca oleh mereka yang telah berpikir secara dewasa. Deskripsi hubungan seks dan adegan percumbuan walau disampaikan dengan halus namun sanggup membawa pembacanya masuk dalam imajinasi kenikmatan cinta.

Namun dibalik kehidupan bebas para tokoh-tokohnya, ada satu hal yang menarik dan menggugah kesadaran pembacanya. Melalui kisah cinta Anna dan Toni yang begitu romantis dan menggebu-gebu ternyata hal itu tak otomatis membuat rumah tangga mereka bebas dari hantaman badai. Ternyata mencintai saja tak cukup. Ada beberapa hal yang tentunya akan kita peroleh setelah membaca novel ini.

Armaya Junior memang pencerita yang mahir, kita akan dibuat betah menikmati novel ini dan selalu dibuat bertanya-tanya bagaimana kira-kira peristiwa selanjutnya dari kejadian-kejadian yang terjadi di novel ini. Amarya tampaknya juga mahir dalam mendeskripsi detail sebuah tempat atau peristiwa. Selain deksrpisi percumbuan yang memabukkan , pembaca juga diajak masuk dalam detail mengenai rumah dan furniturnya. Dan satu lagi yang unik, pembaca diajak sejenak masuk dalam dunia Akuntansi lewat dialog tokoh-tokohnya.

Novel dengan materi politik, filsafat, budaya, kedokteran, hukum, dll sering kita baca. Namun novel dengan muatan Akuntansi ? rasanya dalam ranah fiksi tanah air, baru Amara Junior yang melakukannya. Salut untuk penulis yang telah melakukan terobosan ini. Bagi pembaca yang mengenal dunia akuntansi hal ini tentu saja sangat menarik, namun bagi mereka yang tidak mengenal permasalahan akuntansi hal ini menjadi bagian yang membosankan.

Namun jangan khawatir, materi akuntansi dalam novel ini tidaklah banyak. Hanya ada dua bagian, di kisah-kisah awal dan di bagian akhir ini. Nah, di bagian mendekati akhir novel (hal 163-165) inilah yang tampaknya agak mengganggu kenikmatan membacanya. Ketika emosi pembaca sudah memuncak ingin segera mengetahui akhir dari kisah ini, tiba-tiba penulis kembali memasukkan dialog akuntansi, walau tak banyak namun cukup mengganggu. Mungkin sebaiknya materi akuntansinya dipadatkan saja dibagain-bagian awal agar emosi pembaca tak terganggu.

Akhirnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel yang menurut penulisnya diangkat dari kisah nyata plus materi akuntansi ini telah hadir dan menyemarakkan khazanah sastra kita. Jika mau dicermati dan dimaknai, apa yang telah disajikan oleh penulisnya bukanlah sekedar novel cinta yang menghibur belaka, ada sebuah pesan yang tampaknya ingin disampaikan, selain mencerdaskan pembacanya dengan materi akuntansinya, novel ini juga membuka pikiran pembacanya bahwa ada alternatif lain dalam memecahkan masalah. Mencintai saja tak pernah cukup untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Seperti yang terdapat di lembar terakhir novel ini, Anna mengungkap bahwa ia mau kisah cintanya ini dibukukan agar bisa berbagi kepada banyak orang, “Aku mau share pengalaman biar semua perempuan tahu alternatif memelihara pernikahan mereka” (hal 237)

Tentang Penulis

Armaya Junior adalah nama pena dari Ardian Syam, yang saat ini bekerja di sebuah BUMN terkenal di Medan dan memiliki latar belakang pendidikan Magister Akuntasi
Ia dikenal sebagai seorang penulis buku-buku motivator, “Kacamata Kuda” (Amara Books,2006), Instrumen Orang Sukses (LP-FEUI, 2007), selain itu artikel-artikel motivasinya juga dapat dibaca di www.bukakacamatakuda.blogspot.com. atau di www.andriewongso.com .

Sebagai penulis motivasi ia kini mencoba masuk dalam ranah fiksi. Sebelumnya Armaya memang pernah menulis beberapa puisi dan cerpen di muat di beberapa koran Medan. Mengapa sampai menulis novel? Berdasarkan pengamatannya, ia beranggapan masyarakat kita lebih menyerap pesan apapun lewat media fiksi (seperti cerpen, novel, sinetron, film TV maupun film bioskop). Maka selain menyampaikan pesan lewat media-media serius seperti buku motivasi, ia mencoba menyampaikan lewat novel.

Karena ditantang oleh seorang temannya untuk membuat sebuah novel dengan muatan akuntansi, dan anggapan sebagian besar orang bahwa akuntansi tidak menarik untuk diceritakan, darah akuntannya lalu menggelegak untuk menjawab tantangan tersebut. Maka lahirlah novel perdananya ini dengan muatan akuntansi didalamnya.

Kabarnya Armaya tengah mempersiapkan dua buah novel berikutnya yang juga memasukkan unsur-unsur akuntansi di dalamnya. Selain itu, ia juga sedang menulis buku akuntansi dengan metode yang menyenangkan. Dengan gaya bercerita, dan sebanyak mungkin menghindari kata-kata yang berat, dan diimbuhi dengan komik.

Jika Armaya Junior a.k.a Ardian Syam konsisten menulis novel dengan muatan akuntansi secara menarik, bukan tak mungkin akan terbit genre baru dalam dunia sastra tanah air, yaitu genre SASTRA AKUNTANSI !
Falculus
gw suka ayat-ayat cinta habiburrahman el shirazi...tapi pilemnya benar2 mengecewakan..potong sana-sini...bintangnya terutama fahri (feddy nuril) bener2 ancur...akting nangis aja ga becus.... mungkin ada baiknya pilem kaya gini dipegang oleh bang dedy mizwar atau garin nugroho....

Vermont
ACEH SEPANJANG ABAD
Karya: H.M.SAID



Buku berjudul “Aceh Sepanjang Abad” buah karya H. Mohammad Said (17 Agustus 1905 - 26 April 1995) yang menjadi salah satu “buku pintar” mengenai sejarah, sosiologi dan antropologi Aceh kini hadir kembali dalam cetakan ketiga.

Torehan ilmiah populer dari wartawan otodidak, yang juga salah seorang tokoh pers nasional sebagai penggerak Kantor Berita ANTARA di wilayah Sumatera (1946-1948), kemudian mendirikan Harian Waspada di Medan, Sumatera Utara (11 Januari 1947), tersebut pertama kali terbit pada 17 Agustus 1961. Ada pun cetakan keduanya pada 17 Agustus 1979, yang berentang waktu 18 tahun dari cetakan perdana, dan 48 tahun dari awal hingga cetakan ketiga.

Buku tersebut tercatat sebagai literatur utama kalangan pakar di berbagai perguruan tinggi Indonesia maupun luar negeri, termasuk Cornell University dan University of Chicago di Amerika Serikat (AS), yang membahas Aceh.

Dalam cetakan ketiga, “Aceh Sepanjang Abad” terbagi menjadi dua jilid, yakni 490 halaman pada Jilid Pertama dan 526 di Jilid Kedua. Tribuana Said, MDS bersama Ida Tumengkol, B.Comm, M.Hum yang notabene adalah putra dan putri pasangan H. Mohammad Said dengan Ny. Ani Idrus.

Tribuana Said dalam acara bedah buku “Aceh Sepanjang Abad” di Banda Aceh pada 12 November 2007 mengemukakan, penulisan buku tersebut oleh ayahnya bertujuan meluruskan sejarah sesuai fakta yang sebenarnya terjadi di Aceh, karena sebelumnya banyak karya penulis Aceh –terutama bangsa Belanda– hanya mengisahkan Aceh sesuai versi mereka saja.

Sebagai editor, Tribuana dan Ida membatasi penyuntingan “Aceh Sepanjang Abad” cetakan ketiga pada penyederhanaan kalimat guna memudahkan penyerapan dan pemahaman pembacanya, sedangkan substansi buku –baik data yang digunakan maupun kajian dan cara pandang H. Mohammad Said– tidak dilakukan perubahan.

Tribuana Said, yang sejak 21 Agustus 2002 menjabat Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), mengakui pula bahwa buku karya ayahnya itu sekalipun mencakup banyak hal –terutama menyangkut semangat perlawanan rakyat Aceh menghadapi serangan bangsa Portugis dan penjajahan Belanda–, namun masih banyak hal lainnya yang perlu diperluas, misalnya mengenai peran perempuan Aceh belum banyak tertuang.

Dengan kata lain, “Aceh Sepanjang Abad” agaknya patut menjadi bahan bacaan utama bagi anak bangsa negeri ini, yakni memandang Aceh dari “kacamata” bangsa sendiri. Apalagi, H. Mohammad Said sebagai penulisnya dan Tribuana Said sebagai penanggungjawab penyuntingan di cetakan ketiga adalah sosok tokoh pers nasional, yang secara profesional sangat memahami apa yang disebut dengan cara menyajikan data, fakta dan sumber berita/tulisan yang memberikan “makna” bagi pembaca/khalayaknya.

Selain itu, ibarat judulnya “Aceh Sepanjang Abad”, maka H. Mohammad Said tampaknya berhasil menyajikan karya tulis yang bisa mengetengahkan Aceh bagi pembacanya di antar-abad, yakni pembaca abad ke-20 dan pembaca kini di abad ke-21.
Vermont
The Lost Army of Cambyses

Judul: The Lost Army of Cambyses
oleh: Paul Sussman



THE LOST ARMY OF CAMBYSES
Misteri Pasukan Cambyses, Pasar Gelap Artefak Kuno, dan Terorisme

Pada 523 SM, Kaisar Persia Cambyses mengirim sejumlah pasukan melintasi padang pasir di Gurun Barat, Mesir, untuk menghancurkan peramalan di Siwa. Pasukan tersebut tak pernah tiba di sana. Menurut legenda, lima puluh ribu tentara lengkap dengan peralatan perangnya itu diterjang badai pasir dan hilang selamanya.

Dua setengah milenium kemudian, serangkaian pembunuhan terjadi di Mesir: seonggok mayat yang termutilasi terdampar di tepian Sungai Nil di Luxor; seorang pedagang barang antik dibunuh secara biadab di dalam tokonya di Kairo; dan seorang arkeolog Inggris bernama Michael Mullray tewas di lokasi penggalian kuno di Saqqara.

Kejadian-kejadian tersebut tampak tak berkaitan satu sama lain. Tetapi, Inspektur Yusuf Khalifa dari kepolisian Luxor memendam curiga. Begitu juga putri sang arkeolog, Tara Mullray, seorang ahli zoologi di Inggris. Mereka lalu mengadakan penyelidikan guna mengungkap misteri di balik peristiwa tersebut. Setelah menemukan kepingan hieroglif yang aneh, mereka pun mendapati petunjuk penting.

Akankah kejadian-kejadian misterius itu terungkap? Apa kaitan antara pasukan Cambyses yang lenyap dua setengah milenium silam dengan maraknya peristiwa pembunuhan di Mesir era kini? Dan, siapa dalang serta apa kepentingan di balik berbagai pembunuhan tersebut?
Vermont
A Long Way Gone: Memoar Seorang Tentara Anak-Anak

Judul: A Long Way Gone: Memoar Seorang Tentara Anak-Anak
oleh: Ishmael Beah



Di dalam lebih dari 50 konflik penuh kekerasan di dunia ini, diperkirakan ada 300.000 personel tentara anak-anak. Ishmael Beah adalah salah satunya. Dia terpaksa menjadi seorang tentara anak-anak karena perang saudara di negerinya, Sierra Leone, telah merenggut keluarganya. Pilihannya hanya ada dua: menjadi tentara salah satu pihak, atau mati.

Seperti apakah perang di mata para tentara anak-anak? Bagaimana anak-anak bisa berubah menjadi seorang pembunuh? Bagaimana pula mereka bisa berhenti membunuh dan kembali menjadi warga sipil? Tentara anak-anak sudah ditulis profilnya oleh para jurnalis, namun hanya sedikit yang berada di dalam neraka itu dan berhasil keluar dengan selamat untuk kemudian menceritakannya kepada dunia. Ishmael Beah menuliskannya untuk Anda.

***
Ismael Beah menjadi tentara anak-anak pada umur 12 tahun. Dia direkrut oleh pasukan pemerintah Sierra Leone untuk melawan pasukan pemberontak. Bersama anak-anak lain, Beah dididik menjadi mesin pembunuh tanpa rasa takut. Mereka dilatih membunuh tawanan tanpa mengenal belas kasihan. Untuk meningkatkan keberanian dan kekuatan, mereka dijejali dengan berbagai macam narkoba, seperti amphetamine, mariyuana, dan campuran kokain dengan bubuk mesiu yang dikenal dengan nama brown brown. Setelah mengisap brown-brown, anak-anak ini berubah menjadi pembantai yang kejam dan mampu tidak tidur hingga berhari-hari.

Bagi anak-anak ini, kekacauan akibat perang saudara di negeri itu menjadikan mereka berada di posisi sulit. Setelah orangtua dan tetangga mereka dibantai, kampung halaman mereka dibumihanguskan, pilihannya hanya ada dua. Masuk ke dalam salah satu kelompok pasukan atau mati dibunuh salah satu dari mereka.

Inilah kisah seorang anak yang kehilangan masa kanak-kanaknya, kemudian BERHASIL mendapatkannya kembali.

TENTANG PENULIS
Ishmael Beah adalah anak yang terpaksa bergabung dengan pasukan pemerintah untuk bisa memperoleh makanan dan bertahan dalam suasana perang
Vermont
Into the Wild

Into the Wild: Kisah Tragis Sang Petualang Muda
oleh: John Krakauer



Apa yang ada dalam benak seorang pemuda cerdas, sarjana berpredikat cum laude, ketika dia meninggalkan kehidupannya, keluarga yang mencintainya, dan mengasingkan diri ke alam liar? Mengapa dia menanggalkan kenyamanan peradaban dan semua atribut duniawi, dengan menyumbangkan semua tabungannya, membakar sisa uang tunai yang dia miliki, serta meninggalkan mobil kesayangannya di tengah hutan begitu saja?

Chritopher McCandless menjelma menjadi Alexander si Petualang Super -- menggantungkan hidup pada alam sepenuhnya, mengabaikan risiko apa pun, dan mencoba bertahan di tengah kebekuan dan kesunyian Alaska, The Last Frontier, dataran kejam yang tak kenal belas kasihan. Akankah petualangan ini membawa dia pada makna kehidupan? Ataukah ini hanya kegialaan kompleks seorang pemuda yang nyentrik yang haus sensasi?

Vermont
Peace in Aceh: A Personal Account of the Helsinki Peace Process

Peace in Aceh: A Personal Account of the Helsinki Peace Process
oleh: Damien Kingsbury



Following nearly three decades of conflict and a series of failed ceasefire agreements, on 15 August 2005, the separatist Free Aceh Movement (GAM) and the Government of Indonesia reached an historic peace agreement to end the fighting and to give Aceh a high degree of genuine autonomy. The catalyst for the talks that produced this agreement was the devastating tsunami of 26 December 2004, which left almost 170,000 dead or missing in Aceh and destroyed most of the populated low-lying areas. Despite the massive destruction, the peace talks were conducted under an intensified military campaign. GAM made a major concession to the talks by announcing early that it was prepared to negotiate an outcome other than complete independence. The Indonesian side, however, under pressure from the military and "nationalists" in Jakarta, pressed for GAM to accept a minor reworking of the status quo. The international community, meanwhile, just pressed for a settlement. In the end, the Indonesian government also compromised, and the two parties reached an agreement that was intended to end the fighting and to address many, if not all, of GAM's outstanding claims. Despite opposition to the talks process, and to compromise, the outcome was increasingly seen both in Jakarta and in Aceh as a "win-win" situation, and as a further significant step in Indonesia's continuing process of reform and democratization. Peace in Aceh offers an insider's personal account of that peace process and is required reading for anyone wishing to understand this troubled province. DR. DAMIEN KINGSBURY is Associate Professor in the School of International and Political Studies and Director of International and Community Development at Deakin University, Victoria, Australia. He was political adviser to GAM for the peace talks and assisted in drafting and negotiating key elements of the peace agreement. Dr. Kingsbury has published extensively on Indonesian politics, the military and regional security issues, including The Politics of Indonesia (3rd edition 2005), Violence in Between: Conflict and Security in Archipelagic Southeast Asia (2005), and Power Politics and the Indonesian Military (2003)
Vermont
Senja di Himalaya

Judul : Senja di Himalaya
Judul Asli : The Inheritance of Loss
Penulis : Kiran Desai


Senja di Himalaya adalah novel terjemahan dari The Inheritance of Loss karya penulis asal India Kiran Desai (37). Novel ini memenangkan Man Booker Prize for Fiction 2006. Penghargaan untuk novel terbaik sepanjang tahun yang ditulis oleh warga negara di negara persemakmuran Inggris dan Irlandia dimana novel tersebut harus diterbitkan dalam bahasa Inggris dan tidak dipublikasikan sendiri.

Novel ini merupakan sebuah kisah-kisah paralel yang berlatar India pasca-kolonial dan Amerika Serikat. Bersetting tahun 1980-an di perkampungan Kalimpong di pegunungan Himalaya, ceritanya berkisar pada beberapa tokoh utama dalam novel ini. Jemubhai Petel, atau yang dalam novel ini disebut ‘Sang hakim’ adalah laki-laki tua mantan hakim lulusan Cambridge yang kini menghabiskan masa pensiunnya di sebuah rumah tua yang diberi nama Cho Pyu bersama anjing kesayangannya dan seorang jurumasak setianya

Sai Petel, gadis berusia 16 tahun, cucu sang hakim yang menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan terpaksa harus meninggalkan sekolahnya dan tinggal bersama sang hakim di Cho Pyu. Di tempat kakeknya ini Sai jatuh hati pada Gyan guru les matematikanya , seorang mahasiswa Nepal dari sebuah perguruan tinggi ternama.

Tentu saja hubungan antara Sai dan Gyan tidak direstui oleh sang hakim karena perbedaan status, terlebih karena Gyan adalah orang Nepal, warga minoritas kelas dua dimata sang hakim. Walau awalnya Gyan mencintai Sai, namum Lambat laun sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya, apalagi kelak Gyan akan bergabung dengan kelompok separatis yang memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa Nepal.

Sementara itu ribuan kilometer dari Kalimpong yang terpencil, Biju, anak dari juru masak sang hakim sedang berjuang memperoleh kehidupan yang layak sebagai seorang imigran gelap di New York – Amerika Serikat. Biju tersaruk-saruk dalam belantara kota New York dan bekerja sebagai pelayan restoran secara berpindah-pindah untuk menghindari kejaran pihak imigrasi. Satu-satunya penghubung antara Biju dengan ayahnya hanyalah melalui surat menyurat. Biju tak pernah mengeluh apapun soal kehidupannya kepada ayahnya, sehingga ayahnya selalu menganggap Biju telah hidup sukses di Amerika.

Kehidupan di Kalimpong yang damai terusik ketika kelompok separatis Nepal berdemonstrasi utnuk memperjuangkan kemerdekaannya. Demonstrasi damai tiba-tiba berubah menjadi kerusuhan. Kekerasan merebak di seluruh Kalimpong. Jam malam diberlakukan. Kalimpong terputus dari dunia luar. Disaat kerusuhan inilah Biju akhirnya memutuskan untuk pulang ke India untuk menemui ayahnya.

Kerusuhan ini juga menyebabkan hubungan antara Sai dan Gyan yang tergabung dalam kelompok separatis Nepal menjadi goyah. Terpengaruh oleh pandangan kelompoknya dan sikap sang hakim dan Sai yang kebarat-baratan membuat Gyan membenci keduanya.

Kisah diatas ditulis oleh Kiran Desai dalam novelnya ini dengan gaya bahasa percakapan yang sederhana antar tokoh-tokohnya, namun Desai juga menampilkan setting pendukungnya seperti tempat, karakter dan latar karakter tokoh-tokohnya dengan sangat detail. Paradoks inilah yang oleh para juri Booker Man Prize 2006 dianggap mampu membelenggu pembaca untuk bersimpati pada tokoh-tokoh dengan konfliknya masing-masing.

Dari tokoh Sang Hakim / Jemubhai Petel, kita akan disodorkan pada sosok India yang sudah kehilangan identitas ke-indiaannya dan mengalami post power syndrome ketika telah pensiun karena dia menganggap dirinya lebih tinggi statusnya dibanding masyarakt sekitarnya.

Sai Petel, Biju dan Gyan mewakili tokoh generasi muda India yang gamang, mencari jati diri diantara pertentangan nilai-nilai barat dan timur, dan efek sosial dan psikologis yang dirasakan oleh mereka karena berada di wilayah ‘antara’ budaya barat dan timur.

Salah satu bagian yang menarik dari novel ini adalah karakter Biju dan deskripsi kehidupannya sebagai imigran gelap di Amerika. Melalui karakter Biju kita akan mengetahui bagaimana para pemuda India sebagian besar beranggapan bahwa Amerika adalah tanah impian untuk meraih kesuksesan. Karenanya mereka berjuang mati-matian untuk memperoleh Green Card. Bagaimana Biju berjuang untuk memperoleh Green Card sangat menarik dan penuh dengan humor yang getir.

Ketika Green card gagal diperoleh, Biju dan sebagian besar kawan-kawannya tetap berangkat ke Amerika dengan cara illegal. Resikonya mereka harus pandai-pandai menyembunyikan diri dari pihak imigrasi Amerika. Atau kalau perlu mereka akan menikahi nenek-nenek warga Amerika guna memperoleh kewarnganegaraan Amerika. Selain itu, mereka yang telah berhasil tinggal di Amerika harus berusaha menghindar teman-teman sekampungnya yang baru datang ke Amerika karena khawatir mereka akan ditumpangi dan menimbulkan kesulitan baru ditengah kehidupan mereka yang sudah sedimikian sulit.

Seperti umumnya novel-novel peraih penghargaan sastra internasional, novel ini bukan novel yang mudah untuk dikunyah. Alur kisah tokoh-tokohnya tidak linier, kadang mundur jauh kebelakang lalu kembali lagi ke masa kini, sehingga perlu konsentrasi ekstra untuk membacanya. Kisahnyapun seakan hanya berputar-putar pada kehidupan tokoh-tokohnya, tak heran pembaca yang kurang sabar akan merasa jenuh dan tak tahan untuk menamatkan novel ini.

Ternyata kesulitan untuk menikmati novel inipun diakui oleh Kiran Desai sendiri. Dalam wawancaranya dengan wartawan Tempo - Angela Dewi (Koran Tempo, 28 Okt 2007), ketika Angela dengan jujur mengungkap bahwa ia butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan novel ini. Dengan tertawa Desai menyatakan, “Anda pembaca ke seribu yang berkata seperti itu”.

Menurut Desai novel keduanya ini yang dikerjakannya selama 7 tahun ini adalah hasil dari coretan-coretan panjang pada kertas setebal 1500 halaman dengan konflik yang lebih kompleks dari novel jadinya. Dan sebagian dari apa yang dikisahkannnya merupakan pengalaman pribadinya. Rumah Cho Oyu di Kalimpong memang benar-benar ada dan Desai pernah menginap selama beberapa hari disana.

Dengan kompleksitas pada novelnya ini Desai tampaknya mencoba menangkap makna hidup di wilayah antara timur dan barat dan bagaimana rasanya menjadi imigran. Apa jadinya sesuatu yang bukan barat diberi sentuhan dan terpapar pada hal-hal berbau barat. Apa jadinya jika orang-orang yang biasa hidup dalam kemiskinan tiba-tiba berada di negara yang kaya. Hal yang sebenarnya sudah terjadi saat kolonial Inggris menyentuh India, lalu sekarang terjadi lagi saat Amerikanisasi mulai menyentuh kehidupan orang India.
Vermont
A Thousand Splendid Suns
Judul : A Thousand Splendid Suns
Penulis : Khaled Hosseini


Di ranah perbukuan internasional sebelum tahun 2003, tak seorangpun mengenal Khaled Hosseini, pria kelahiran Afghanistan lulusan San Diego School of Medicine yang sempat membuka praktik selama 10 tahun sebagai seorang dokter di Amerika. Namun di pertengahan tahun 2003 namanya tiba-tiba menjadi buah bibir dimana-mana. Bukan karena kepiawaiannya menangani masalah medis, melainkan karena kemahirannya merangkai cerita yang dirawinya menjadi sebuah novel yang diberinya judul “The Kite Runner “ (2001).

Novel perdananya yang berlatar belakang persabatan dua bocah Afghanistan disela-sela berkecamuknya perang saudara di Afghanistan meraup sukses luar biasa dan menjadi buku terlaris sepanjang 2005. The Kite Runner bertengger selama lebih dari 2 thn di daftar New York Times bestseller. Terjual lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. Filmnya sendiri telah dibuat oleh Paramount Picture, dan kabarnya akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada Februari 2007.

Kesuksesan TKR mengantar Khaled Hosseini menjadi duta besar keliling UNHCR yang salah satu tugasnya mengunjungi para pengungsi di sejumlah negara yang sedang berada dalam konflik termasuk Afghanistan. Di tanah kelahirannya ini ia sempat mewawancarai sejumlah wanita Afghan yang kelak akan mengilhaminya untuk membuat novel keduanya yang diberinya judul A Thousand Splendid Suns

Novel ini mengambil setting di Afganistan antara tahun 1964 hingga tahun 2003. Tokoh utamanya adalah dua orang perempuan bernama Mariam dan Laila. Keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, usia yang berbeda, dan memiliki sifat yang bertolak belakang, namun sebuah peristiwa akhirnya mempertemukan mereka dan membuat keduanya harus menjalani berbagai kepedihan hidup ditengah situasi perang yang memporak porandakan kota dimana mereka tinggal.

Bab-bab pertama pertama novel ini mengisahkan kisah Mariam, seorang harami (anak haram) hasil hubungan gelap Jalil dan Nana, antara majikan dan pembantunya. Karenanya Nana disingkirkan oleh keluarga Jalil dan tinggal di sebuah desa terpencil bersama Mariam. Sedangkan Jalil hidup bersama ketiga istri sahnya di Herat. Walau Jalil tak pernah mengakui Mariam sebagai anaknya secara sah, namun seminggu sekali Jalil tetap mengunjunginya.

Saat Mariam akan berulang tahun yang ke 15, ia meminta agar ayahnya mengajaknya menonton film Pinokio di bioskop milik ayahnya di Herat. Jalil menjanjikannya. Namun malangnya saat yang dinanti-nantikannya berbuah kekecewaan, ayahnya tak datang untuk menjemputnya. Mariam nekad pergi sendiri menuju Herat untuk menemui ayahnya. Kenekatan Mariam harus dibayar mahal, sepulang menemui ayahnya, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri.

Setelah ibunya meninggal, Mariam diasuh oleh ayahnya. Namun bukan kebahagiaan yg ditemuinya. Ketiga istri Jalil tak menerima kehadiran Mariam. Ia dianggap aib bagi keluarganya, karenanya mereka mendesak Jalil untuk segera menikahkan Mariam dengan Rasheed, seorang duda tua pengusaha sepatu di Kabul. Inilah taktik bagi ketiga istri Jalil untuk menghapuskan jejak skandal memalukan suami mereka. Membuang Mariam ke Kabul yang berjarak enam ratus limapuluh kilometer dari Herat dengan menikahkannya.

Mariam akhirnya menikah dengan Rasheed. Awalnya tak ada yang meresahkan dalam pernikahan mereka kecauli sikap Rahseed yang over protektif terhadap Mariam. Karena Rasheed pernah kehilangan anak laki-laki dari pernikahannya terdahulu, ia berharap memiliki anak laki-laki dari Mariam. Sayangnya harapan Rasheed sirna karena berkali-kali Mariam mengalami keguguran. Sikap Rasheed menjadi berubah, selalu murung dan lekas marah. Kehidupan pernikahan mereka menjadi tak bahagia. Kesalahan sekecil apapun yang dibuat Mariam membuat Rasheed tak segan-segan memukul, menampar, atau menendang Mariam.

Lalu ada pula tokoh Laila, seorang gadis berusia sembilan tahun yang cerdas yang dilahirkan dari keluarga yang sadar akan pentingnya pendidikan. Laila tinggal bersama ayah dan ibunya di Kabul, dua orang kakak laki-lakinya gugur ketika berjuang bersama Mujahidin melawan Soviet. Hal ini menyebabkan ibunya menderita kepedihan yang amat dalam sehingga ibunya menutup diri dan nyaris gila. Laila juga bersahabat dengan seorang pria yang bernama Tarig yang seiring dengan bertambahnya usia mereka, mereka saling jatuh cinta.

Ketika Laila berusia lima belas tahun sebuah tragedi memisahkan Laila dari keluarganya dan kekasihnya Tariq. Laila kemudian diasuh oleh Rasheed dan Mariam yang rumahnya tak jauh dengan rumah Laila. Tanpa memerhatikan perasaan Mariam, Rasheed akhirnya menikahi Laila dan mulailah babak baru dalam kehidupan Mariam dan Laila. Awalnya Mariam selaku istri yang dimadu membenci Laila, apalagi Rasheed semakin merendahkan posisi Mariam dengan mengharuskan Mariam untuk melayani segala keperluan Laila.

Namun lambat laun kebencian Mariam pada Laila luntur ketika akhirnya keduanya mendapat perlakuan yang kasar dari Rasheed. Kekerasan dalam rumah tangga mewarnai kehidupan mereka. Mariam dan Laila harus mengalami penderitaan yang berlipat, selain mengalami penindasan dari suaminya sendiri, mereka juga harus bertahan mengahadapi situasi diluar yang tidak menguntungkan bagi para wanita. Kesamaan nasib yang mereka alami ini akhirnya melahirkan sebuah persahabatan yang membuat mereka memiliki kekuatan untuk mengarungi kerasnya hidup hingga seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding menampakkan cahayanya.

Persahabatan antara Mariam dan Laila dan bagaimana mereka berjuang untuk mempertahankan hidup mereka inilah yang menjadi inti cerita dari novel kedua Khaled Hossaeini ini. Sebenarnya kisah yang diangkat oleh Hosseini ini adalah kisah melodrama yang umum. Kisah keluarga berpoligami dimana terdapat kecemburuan dan kekerasan dalam rumah tangga layaknya sinetron-sinetron TV.

Namun dari sebuah tema melodramatik yang umum, dengan piawai Kahled Hosseini berhasil mengemas kisahnya dengan gambaran latar belakang situasi politik dan realitas sosial Afghanistan sejak Soviet masih berkuasa hingga jatuhnya Taliban. Latar inilah yang membuat novel ini memiliki daya tarik tersendiri dan istimewa. Jika saja tanpa deskripsi latar realitas Afghanistan bisa dipastikan novel ini hanyalah sekedar kisah drama dengan pergolakan emosi yang menyentuh hati pembacanya (walau tak sekuat The Kite Runner).

Dibanding dengan novel pertamanya, latar belakang kehidupan sosial dan politik di novel ini tampak lebih detail dan kronologis. Khaled merinci tahun dan pihak-pihak yang bertikai pada saat itu. Ia juga menyelipkan nama-nama riil tokoh politik dan pejuang-pejuang baik dari pihak Najibullah, Mujahidin, dan Taliban. Dengan demikian pembaca awam dapat memahami berbagai pergantian pemerintahan di Afghanistan secara kronologis.

Pembaca juga diajak melihat bagaimana gambaran penderitaan rakyat Afghanistan akibat peperangan yang terus berkecamuk, roket-roket berjatuhan di kota Kabul, penduduk sipil meregang nyawa dengan tubuh yang tercerai berai, gerak kaum perempuan dibatasi dimana Taliban mewajibkan semua wanita untuk tinggal di dalam rumah sepanjang waktu, tidak boleh bersekolah dan tidak boleh bekerja. Sedangkan laki-laki diwajibkan memelihara janggut, memakai serban, dll.

Tak hanya pembatasan gerak terhadap wanita, apresiasi seni dan kebudayaanpun diharamkan. Dilarang menyanyi, dilarang menari, para musisi dipenjara. Karya-karya seni yang dianggap bertentangan dengan Islam dihancurkan, bahkan Taliban tak segan-segan meluluh lantakkan patung Budha raksaksa di Bamiyan yang merupakan situs sejarah terbesar Afganistan yang berusia dua ribu tahun. Berbagai gambaran situasi Afghan itulah yang turut membangun kisah Mariam dan Laila menjadi semakin kuat, menyentuh sekaligus berwawasan karena menyajikan potret kehidupan masyarakat Afghanistan secara utuh.

Tema yang diangkat di novel ini pun tampaknya lebih dekat dengan kondisi di Indonesia dimana masalah poligami dan kekerasan dalam rumah tangga juga masih menjadi problema dalam kehidupan perempuan di Indonesia. Karenanya bukan tak mungkin novel yang hingga kini masih bertengger dalam bestseller versi the New York Times ini di Indonesia akan lebih laris dibanding The Kite Runner.

Hanya berselang 7 bulan semenjak dirilisnya novel aslinya, terjemahan novel ini kini telah beredar di toko-toko buku. Penerbit Qanita masih mempercayakan novel kedua Khaled ini diterjemahkan oleh penerjemah yang sama dengan novel pertamanya, yaitu Berliani M. Nugrahani. Langkah yang tepat karena setidaknya penerjemah telah memiliki modal dan pengalaman dalam menerjemahkan karya Khaled yang penuh dengan kalimat-kalimat indah dan menyentuh.

Bagi penerjemah sendiri menurut pengakuannya ia tak menemui kesulitan yang berarti dalam menerjemahkan novel ini. Dalam blognya ia mengungkap, bahwa menerjemahkan novel ini adalah sebuah petualangan yang sangat berkesan baginya. Ia menambahkan bahwa menerjemahkan novel ini adalah salah satu mimpi yang jadi kenyataan buat semua penerjemah. Dengan antusiasme yang besar dari penerjemahnya tak heran jika novel diterjemahkan dengan sangat baik sehingga pembaca tidak akan menemui kesulitan untuk menikmati novel ini.

Sebuah review atas novel ini yang dimuat di koran Sindo ( 20/1/2008) yang ditulis Denny Ardiansyah mengungkap bahwa penerjemah novel ini abai dalam menerjemahkan kosa kata dalam bahasa Afghanistan. Namun saya rasa hal ini tidaklah tepat, memang novel ini menyertakan puluhan kosa kata Afghanistan namun pada kalimat berikutnya apa yang dimaksud dalam kata-kata asing tersebut selalu dijabarkan. Jadi walau tanpa terjemahan dan tanpa glosarry, pembaca pasti akan memahami makna kalimat tersebut. Dan lagi ketika saya mencek ke naskah aslinya yang ditulis Khaled dalam bahasa inggris, Khaled pun tak menerjemahkan secara langsung kosa kata Afghan tersebut kedalam bahasa Inggris.

Akhirnya novel ini memang sangat layak untuk diapresiasi. Apa yang disajikan oleh Khaled pada novel ini membawa kita pada makna sebuah persahabatan dan pengorbanan cinta, kesabaran tanpa batas, penderitaan kaum perempuan karena kekerasan dalam rumah tangga dan kungkungan rezim otoriter, semangat hidup di tengah pudarnya harapan, dan ironi pahit sebuah peperangan yang selalu digagas atas nama keadilan namun selalu berbuah penderitaaan bagi warga sipil.
Vermont
Dong Mu
Judul : Dong Mu
Penulis : Jamal



5 Juli 2006, Korea Utara meluncurkan tujuh rudal percobaan. Rudal itu jatuh di perairan antara laut Jepang dan Semenanjung Korea. Seluruh dunia gempar karena khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir. Insiden internasional ini membuat badan International Atomic Energy Agency (IAEA), salah satu organ PBB untuk urusan energi nuklir yang bermarkas di Wina segera mengambil langkah strategis sesuai tanggung jawabnya sebagai badan yang mengawasi pemanfaatan energi nuklir.

Eero Heiskanen , kepala Departemen of Safeguards IAEA menugasi Herman, staff IAEA asal Indonesia yang bekerja di departemen tersebut, untuk berangkat ke Korea guna menyelidiki ada tidaknya hulu ledak nuklir yang terpasang di rudal percobaan tersebut.

Di Seoul Herman bergabung dengan Kang Jin Sob, counterpart-nya di Korea Atomic Research. Ia juga bertemu dengan kawan lamanya, Prof Rukayadi – mikrobiolog Indonesia yang bekerja dan mengajar di sebuah Universitas di Seoul. Belum lagi Herman dan Kang Jin Sob melakukan tugas resminya tiba-tiba Herman memperoleh informasi kalau Robert Campbell, agen CIA yang sedang menyamar menjadi agen IAEA diculik oleh Kim Song Gi, agen intelejen Korut yang korup. Kim menuntut nyawa Robert Campbell ditukar dengan 50 kg uranium, jumlah yang cukup untuk dipasangkan di dua rudal berhulu ledak nuklir.

Tanpa diduga Kim menginginkan Herman sebagai mediatornya. Karena menyangkut warga negara Amerika maka markas tentara Amerika di Seoul menugaskan Mayor Snyder menyusun misi penusupan ke Korut untuk pembebasan Robert Campbell. Untuk itu Mayor Synder membentuk tiga tim (A,B,C), Herman, Prof Rukayadi, Kang Jin Sob, dan Park Yong Chul, seorang tentara korsel, masuk dalam Tim C yang bertugas untuk mengiriman uranium ke sarang penculik.

Belum lagi operasi yang dipimpin Mayor Synder menjalankan tugasnya, tiba-tiba pihak Pentagon membatalkan rencana operasi tersebut. Pentagon memiliki rencana lain, mereka menginginkan operasi militer besar-besaran dari wilayah Korea Selatan untuk membebaskan Campbell. Tentu saja ini beresiko memancing perang terbuka dan memicu pihak Korut untuk menggunakan rudal nuklirnya. Pihak Korsel sendiri tampaknya keberatan dengan operasi militer ini.

Sebuah ide gila tiba-tiba muncul di benak Prof Rukayadi. Ia mengusulkan untuk menyusup secara diam-diam ke Korut dan membebaskan Robert Campbell mendahului operasi militer Amerika. Jika mereka berhasil membebaskan Campbell, tentu saja tidak diperlukan lagi operasi militer besar-besaran. Jika tidak berhasil, nyawa mereka taruhannya dan kemungkinan terjadinya perang dan Korut menggunakan rudal nuklirnya semakin terbuka.

Ide gila ini akhirnya dilaksanakan, Herman, Prof Rukayadi, Kang Jin Sob, Park Yong Chu menyusup ke wilayah Korut dengan membawa 25 kg uranium (setengah dari yang dituntut si penculik). Petualangan yang benar-benar berbahaya. Diantara keempat orang ini hanya Park Yong Chu yang berlatar belakang militer dan mahir menggunakan senjata, sementara yang lainnya hanya bermodalkan tekad dan keberanian semata.

Kisah diatas adalah inti cerita dari Dong Mu , novel ke 5 dari novelis produktif – Jamal - , karya-karya sebelumnya yang telah diterbitkan adalah Lousiana-Lousiana (Grasindo,2003), Rakkaustarina (Grasindo,2004), Fetussaga (Grasindo, 2005), Epigram (Gramedia, 2006), dan yang akan segera terbit, novel ke 6-nya yang berjudul : Darul (Bentang Pustaka).

Jamal yang kerap mengambil setting luar negeri di tiap novel-novelnya kini mengajak pembacanya berkelana ke negeri ginseng Korea. Berbeda dengan novel-novel terdahulunya yang kerap berlatar belakang kisah cinta, dan geger budaya tokoh-tokohnya selama hidup di luar negeri, kini Jamal menghadirkan kisah petualangan spionase yang dibalut dengan krisis nuklir di semenajung Korea.

Seperti halnya tokoh Herman, dkk dalam novelnya ini yang nekad melakukan misi berbahaya, Jamal yang dalam kesehariannya mengajar sebagai dosen desain interior di sebuah univeritas swasta di bandung termasuk penulis yang nekad mengarang sebuah cerita tentang krisis nuklir. Sebuah tema yang jauh dari kesehariannya dan jarang atau bahkan tidak pernah disentuh oleh pengarang kita yang lain.

Selain ceritanya yang seru, novel ini banyak menyajikan dialog-dialog yang menambah wawasan pembacanya dalam hal nuklir. Salah satu keistimewaan jamal dalam novel-novelnya adalah menyajikan materi-materi yang tampaknya berat menjadi ringan karena dikemas dalam bentuk dialog antar tokoh-tokohnya. Demikian pula dalam Dong Mu, semua yang ingin disampaikan jamal pada pembacanya dikemas dalam dialog yang ringan dan mudah dipahami.

Dong Mu sendiri adalah frasa dalam bahasa Korea yang bisa berarti Kamerad, atau juga bisa diartiken sebagai teman. Judul yang tepat karena memang novel ini menceritakan pertemanan Herman dengan Prof Rukayadi dan sepak terjangnya dalam membebaskan seorang agen CIA yang diculik atas perintah Dong Mu (Kamerad) Kim Song Gi.

Salah satu yang menarik dalam novel ini adalah materi tentang kebijakan nuklir, baik kebijakan di negara-negara maju pemilik senjata nuklir, juga kebijakan nuklir di engara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam novel ini terungkap bahwa Indonesia sebenarnya memiliki tambang uranium di Kalimantan Barat, namun kita hanya bisa menggalinya untuk kemudian diekspor ke negara maju. Sayangnya ”…petinggi negeri kita dan masyarakat belum melihat nuklir sebagai energi alternatif, karena kita masih punya yang lain seperti gas alam atau panas bumi yang melimpah…..Padahal bila dipakai energi listrik, tidak akan terjadi byar pet seperti yang selama ini terjadi. Energi nuklir itu sangat efisien. “ (hal 32) .

Pembnangunan reaktor nuklir di negara berkembang jika dimanfaatkan untuk tujuan pembangunan memang sangat bermanfaat, namun energi nuklir juga memiliki resiko yang besar jika dikelola dengan serampangan. Untuk itu melalui tokoh Herman dalam makalahnya yang disampaikannya di Konferensi Energi Nulir di Wina Austria terungkap bahwa pembangunan nuklir di negara berkembang memiliki resiko karena umumnya disiplin dan etos kerja yang relatif lemah . Kelemahan ini bagi reaktor nuklir sangat berbahaya karena diperlukan rutinitas dengan disiplin tinggi untuk pengawasan dan pemeriksaan instalasi. (hal 52).

Disinggung pula bahwa negara-negara berkembang yang tidak memiliki energi minyak sangat layak menerima bantuan dan kesempatan dalam mengurangi ketergantungan kepada minyak, dengan demikian utang mereka akan berkurang, dan itu artinya kemakmuran bangsa dan neraga miskin dapat diraih. (hal 53).

Selain tentang kebijakan nuklir dan manfaat pembangunan nuklir di negara-negara berkembang, novel ini mengungkap pula soal diplomasi nuklir, pertikaian politik tingkat dunia sehubungan dengan ambisi pengembangan nuklir, pasar uranium gelap, peta rudal-rudal yang dimiliki Korut, lanskap daerah perbatasan korea utara dan selatan, kritik terhadap kebijakan politik Amerika, dll. Dan yang tak kalah menarik adalah kisah petualangan Herman dan kawan-kawannya menyusup ke Korea Utara. Dalam hal ini jamal menyajikannya dengan seru, lengkap dengan kejutan-kejutan di akhir cerita seperti novel2 spionase umumnya.

Kehadiran tokoh Prof. Rukayadi sebagai sahabat Herman yang bekerja sebagai mikrobiolog juga turut menyemarakkan novel ini, selain sedikit disinggung soal penelitian kandungan berbagai tanaman indonesia yang digunakan sebagai jamu , Prof Rukayadi dengan keahliannya sebagai mikrobiolog juga turut berperan penting dalam operasi penyelamatan Robert Campbell.

Hanya saja awal keterlibatan Porf Rukayadi dalam operasi ini terlihat sedikit dipaksakan. Saat Herman dijemput oleh pihak militer Amerika untuk dibawa ke Yongsan, Herman mendesak agar Prof Rukayadi ikut menemaninya. Hal ini langsung disetujui oleh orang yang menjemput Herman tanpa berkonsultasi dengan atasannya. Sungguh tindakan yang ceroboh bagi sebuah operasi intelejen. Padahal untuk operasi rahasia yang melibatkan CIA, Amerika, dan militer Korea Selatan, rasanya tak mungkin dapat dengan begitu saja melibatkan orang seperti Prof Rukayadi yang jelas-jelas bidang pekerjaannya berbeda dengan urusan operasi ini. Namun untunglah kejanggalan ini kelak tertutupi oleh peran penting Prof Rukayadi dalam menjalankan operasi ini.

Satu lagi yang mungkin terasa kurang digali dalam novel ini adalah dampak lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir dan senjata nuklir. Tampaknya novel ini lebih condong ke arah politik dibanding ke dampak lingkungannya. Jika saja Jamal memberikan diskripsi yang agak detail untuk kerusakan lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir dan dampak lingkungan jika sebuah negara melakukan uji coba rudal berhulu ledak nuklir, tentunya novel ini akan semakin lengkap, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui soal kebijakan dan pertikaian nuklir tapi mengetahui juga akibat bagi lingkungan yang rusak dari pemanfaatan energi nuklir yang salah.
Di novel kelimanya ini juga, tampaknya Jamal meninggalkan ciri khasnya di keempat novel terdahulunya. Biasanya Jamal selalu menyelipkan unsur-unsur desain bangunan atau produk dalam tiap novelnya. Di novel DongMu, ciri khas Jamal ini tak muncul, padahal ada yang sedikit bisa diangkat seperti desain lokal/tradisinonal di korea seperti istana, atau mungkin bangunan-bangunan modern yang terdapat di korea dll.

Terlepas dari kekurangan diatas, novel ini secara umum sangat bermanfaat dalam memperluas cakrawala berpikir pembacanya dalam hal kebijakan nuklir . Selain itu melalui tokoh utama dalam novel ini, yaitu Herman sebagai lulusan Fisika Kuantum di Universitas Tokyo yang bekerja sebagai staff IAEA, dan Prof Rukayadi sebagai mikrobiolog yang bekerja dan mengajar di Korea Selatan tentunya akan membangun kesadaran pembacanya bahwa cendekiawan Indonesia ternyata bisa juga berkiprah dan diakui keilmuwannannya di negara-negara maju.

Tokoh Herman dan Prof Rukayadi bukanlah tokoh fikif, mereka benar-benar tokoh riil yang ‘dipinjam’ jamal untuk menghidupkan novelnya ini. Herman adalah karakter dari Suhermanto Duliman yang kini bekerja di Nuclear Safeguards Inspector International Atomic Energy Agency (IAEA) di Wina Austria. Sedangkan Prof Rukayadi, adalah karakter dari Yaya Rukayadi, seorang microbilogist and carponist, dan penerima Seoul Honorary Citizenship, yang kini tinggal dan mengajar di Seoul Korea Selatan.

Apa yang diangkat oleh Jamal dalam novelnya kali ini, baik soal nuklir dan kiprah manusia indonesia di negara maju patutlah dihargai. Tak heran jika novel ini mendapat apresiasi yang baik dari Kusmayanto Kardiman, selaku Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Dalam endorsmentnya Menristek Kusmayanto menulis bahwa : “….buku ini mengasyikan untuk dibaca sampai tamat dan pembaca akan dapat banyak pelajaran dan kebanggan dari kisah kiprah anak-anak Indonesia yang berkarya nyata di luar negeri, khususnya Korea”.
Vermont
Drunken Monster
Judul : Drunken Monster (Catatan Harian)
Penulis : H. Pidi Baiq



Pidi baiq itu pahlawan komikus indie bandung, dan bisa jadi indonesia yang paling sableng yg pernah sy kenal.ngomongin komik bandung.ngga lepas dari pidi. Buku ini kumpulan catatan hariannya pidi yg ada di multiply dia.dijamin ngakak, maklum ngga waras.kalo di jogya ada eko nugroho(indie juga) di bandung harus sebut satu nama “pidi”.

Demikian SMS yang saya terima dari salah seorang kawan saya yang menginformasikan buku Drunken Monster – Pidi Baiq. Tertarik dengan SMS tersebut, ditambah lagi dengan membaca kata pengantar buku ini yang diupload di beberapa milis perbukuan yang menyatakan bahwa “Ini Buku Berbahaya”, membuat saya makin penasaran ingin membacanya.

Bersyukur karena tak terlalu lama kemudian saya menerima sebuah buntelan dari Mizan yang ternyata isinya buku Drunken Monster!. Segera saja saya membacanya, dan benar apa yang dikatakan orang-orang yang sudah membacanya, ternyata buku catatan harian Pidi Baiq ini memang benar-benar gila dan lucu!

Buku catatan harian Pidi Baiq yang memiliki seabrek pengalaman ini (mantan vokalis band indie The Panasdalam, mantan Dekan sebuan Universitas di Bandung, anggota Tim Kreatif Project-P, Staf Ahli di Bimbel Villa Merah, konsultan di galeri seni dan budaya SPACE 59, serta ilusrator di Penerbit Mizan) sejatinya berasal dari seluruh jurnal hariannya di http://pidibaiq.multiply.com ini berisi 18 kisah-kisah keseharian seorang Pidi Baig.

Kesemua kisahnya membuat saya tertawa-tawa dalam hati, bahkan beberapa kisah sanggup membuat saya tertawa dengan keras sehingga membuat orang-orang di sekitar saya terheran-heran hehe…

Sebenarnya tidak ada kisah yang bombastis, tidak ada kisah yang mengada-ngada, semua kisah berangkat dari keseharian Pidi Baig seperti mengantar anak ke sekolah, naik kereta ke jakarta, obrolan dengan temannya, derita karena sakit, dll. Namun Pidi dengan keisengan dan cara berpikirnya yang memang usil membuat keseharian yang biasa-biasa saja menjadi kejadian-kejadian yang lucu dan menarik untuk dibaca.

Pidi memang unik, cara berpikirnya aneh, apa yang tidak terpikirkan oleh kita, terpikirkan oleh Pidi dengan keisengannya yang lucu. Pidi juga memiliki keberanian yang luar biasa untuk mengungkap dan bertindak apa yang dipikirkannya itu terhadap siapapun lawan bicaranya yang ia temui mulai dari tukang parkir, tukang becak, satpam, penjual rokok, hingga Rosi, istrinya sendiri. Semuanya dijadikannya objek kejahilannya. Untuk hal ini saya percaya bahwa Pidi memang ‘gila’ dan super jahil!

Selain itu cara penuturan Pidi pun tak lazim. Kalimat-kalimatnya meluncur melanggar tata bahasa Indonesia yang baku, semuanya seakan berjumpalitan semau-maunya. Pidi bermain-main dengan kalimat. Ia sering menjelaskan apa yang sebenarnya tidak perlu dengan kalimat-kalimat yang irit dan lugas. Karenanya bagi yang belum biasa membaca tulisan-tulisannya akan terasa sulit memahami apa yang dimaksud Pidi. Namun jangan khawatir kesulitan itu akan segera sirna ketika kita telah terbiasa membacanya.

Namun dibalik keunikan kalimatnya dan kelucuan kisah-kisahnya, ada juga beberapa kisah yang membuat saya tertawa dalam haru. Dibalik keisengan Pidi, sesuai dengan bunyi ucapan namanya “Pidi Baiq”, Pidi memang benar-benar baik dan dermawan. Ia tak segan-segan memberikan sejumlah uang yang cukup besar pada orang-orang kecil yang ditemuinya seperti tukang parkir, tukang becak, sopir taksi, tukang ojek, dll. Kisah yang paling membuat saya terharu adalah ketika Pidi mengantar tukang becak jalan-jalan ke kota dan mengantarnya satu persatu ke rumah masing-masing. (Monggo Mirno-hal 146)

Di buku ini yang semua kisahnya bersetting di Bandung, Pidi juga sempat menyentil realitas yang ada di kota Bandung, misalnya dalam kisah “Mengejar Kereta” , ia berseloroh bahwa gedung-gedung tua di sepanjang Braga sangatlah indah dan anggun. Ia heran mengapa gedung-gedung peninggalan penjajah malah bagus sehingga ia berpikir untuk mengajukan proporsal,

“Atau kita ngajuin proposal aja Bang?”
“Buat?”
“Buat Pemerintah Belanda atau Inggris lah. Minta kita dijajah lagi! Biar bangunannya kuat. Biar tata kotanya beres. Biar taman kotanya bagus!” (hal 67).

Memang dalam kisah-kisahnya, Pidi memang tak hanya menawarkan kelucuan dan keisengannya, melainkan ada nilai-nilai kehidupan yang terbungkus dalam candanya. Siapa yang berpikir kritis dan mau sedikit berjerih memaknainya, pastilah akan memperolehnya.

Buku ini cocok untuk dibaca siapa saja. Bagi mereka yang kadang berpikir terlalu serius anggaplah buku ini sebagai penyeimbang dan sebuah tawaran agar bisa sedikit lebih ‘gila’ dan tak terlalu serius menghadapi kehidupan ini.

Dari segi buku-buku bergenre humor di Indonesia, mungkin inilah buku humor yang lain daripada yang lain. Salut untuk penerbitnya yang berhasil menemukan ‘kelainan’ dari sebuah catatan harian di media internet yang kini marak dibukukan. Yang pasti buku ini tutur menyemarakkan khazanah dunia perbukuan kita.

Ah, saya terlalu serius, pokoknya bacalah dan nikmatilah buku ini tanpa dibebani oleh berbagai komentar tentang buku ini yang tampaknya mulai bermunculan baik di media-media cetak maupun blog-blog pribadi. Lupakan ulasan saya ini segera dan bacalah bukunya, dan selamat memasuki alam pikir dan keseharian Pidi Baiq yang gila, ganjil, dan lucu.
Vermont
Miracle: Menantang Maut

Miracle: Menantang Maut
oleh: Gola Gong



Perempuan berwajah rusak.
Gambar bus terbakar.
Burung gagak.

Setelah secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan berwajah rusak, Kinar mendapat penglihatan-penglihatan yang berisi pertanda buruk. Tidak ada seorang pun yang memercayainya. Kinar hanya dianggap cewek freak yang minta perhatian. Hingga peristiwa-peristiwa itu menjadi nyata.

Bus yang berisi teman satu kelasnya terbakar. Semua penumpangnya mati. Mereka yang selamat, satu per satu mati. Kinar dan beberapa temannya yang masih hidup dikejar-kejar kematian.

Harus ada yang mengubah rancangan kematian. Atau, semua harus MATI!
Vermont
Da Vinci Code

Da Vinci Code
Dan Brown



Sebuah novel yang mengandung isu agama selalu mengundang kontorversi dan meledak di pasaran. Begitu pula dengan Da Vinci Code. Semenjak diterbitkan novel kontroversial ini menjadi novel terlaris di tahun 2003 dengan angka penjualan mencapai 5,7 juta ekslempar!

Novel ini menceritakan terbunuhnya Jacques Sauniere seorang Kurator seni terkenal di museum Louvre, Paris. Sebelum menghembuskan nafasnya Sauniere meninggalkan beberapa kode rahasia yang secara langsung akan menyeret pakar Simbologi Harvard, Robert Langdon dan seorang kryptolog (pemecah kode) Sophie Neveu untuk memecahkannya. Langdon dan Sophie mencoba memecahkan kode-kode rahasia yang ditinggalkan Sauniere, mereka terpana ketika menyadari ternyata kode tersebut terkait dengan misteri yang tersembunyi di balik karya-karya terkenal Leonardo Da Vinci. Kode-kode rahasia itu juga akhirnya menguak konspirasi terbesar tentang sejarah agama Kristen dan perkumpulan rahasia yang menyangkut nama-nama besar seperti Leonardo Da Vinci, Isaac Newton dan Victor Hugo mengenai sebuah kebenaran kuno yang disembunyikan selama berabad-abad karena diyakini dapat mengguncangkan dunia
Vermont
Opik Sok Cool Nih !
Judul : Opik Sok Cool Nih!
Penulis : Jurie G Jarian



Sinopsis

Novel ini merupakan kisah cinta plus petualangan menangkap sekelompok teroris. Tokoh utamanya Opik, seorang mahasiswa di sebuah universitas di Bandung. Opik dideskripsikan sebagai sosok yang atletis, rileks, suka bercanda dan taat beribadah. Latar belakangnya yang berasal keluarga pesantren di sebuah desa sifat dan karakternya tumbuh sesuai dengan ajaran agamanya. Fisik dan kepribadiannya yang menarik inilah yang membuat dirinya banyak dilirik para gadis-gadis, namun Opik terkesan cuek dalam urusan pasangan hidup sehingga belum juga memiliki seorang pacar.

Bella, adik kelasnya beda jurusan, adalah salah satu mahasiswa yang tertarik dengan Opik. Berbeda dengan Opik, Bella dilahirkan dari keluarga diplomat yang modern. Lahir di London, besar di Paris dan akhirnya atas kesadarannya sendiri memilih kuliah di Bandung. Karena lama tinggal di Eropa otomatis perilaku dan gaya berpakaiannya pun sangat modis. Ia tak segan-segan menggoda Opik baik melalui sms maupun secara terang-terangan agar Opik mau menjadi pacarnya. Namun Opik tetap cool terhadap Bella. Baginya Bella bukanlah gadis tipenya, apalagi cara berpakaian Bella yang seksi membuat Opik tak bersimpati padanya.

Dimasa liburan panjang selepas UAS (Ujian Akhir Semester), Opik mudik ke kampung halamannya di kaki gunung Sawal Sementara itu Bella yang telah jenuh dengan kehidupan kota memilih mengisi liburannya dengan mengikuti PPK (Paket Pesantren Kilat) bersama temannya disebuah desa di wilayah Tasikmalaya. Kesempatan ini juga dipergunakan oleh Bella untuk belajar mengaji, dan mengubah cara berpakaiannya menjadi lebih santun. Tanda diduga oleh Bella, ternyata desa tempat PPK adalah desa dimana Opik dilahirkan.

Sementara Bella dan kawan-kawannya mengikuti PPK, Opik dan Aan, teman sekampungnya, mendapat tugas penting dari Abah Sirod selaku pimpinan pesantren di sebuah desa di selatan gunung Sawal yang juga adalah kakek dari Opik. Abah Sirod diam-diam mencurigai beberapa santri senior yang telah lama tak mengikuti pengajian malam di pesantrennya.

Kecurigaan abah Sirod ini dilandasi perkembangan di tanah air dimana sedang berkembang ajaran jihad yang dipahami dari sisi yang paling keras, yaitu jihad dalam bentuk berjuang langsung secara fisik/perang! Tugas Opik dan Aan adalah menyelidiki dan mencari tahu apa sesungguhnya kegiatan para santri senior yang telah lama tak terlibat dalam aktifitas pesantren pimpinan abah Sirod. Bukan misi yang mudah karena mereka harus menghadapi teman-teman masa kecil mereka sendiri yang kini memiliki keyakinan yang kokoh untuk berjuang menegakkan agama dengan jalan kekerasan.
Vermont
Saraswati
Judul : Saraswati
Penulis : Kanti W. Janis



Beberapa minggu yang lalu sebuah paket sampai di meja kerja saya. Paket itu ternyata berisi dua buah buku baru dari penerbit AKOER. Satu buku tebal berjudul Digitarium – Baron Leonard, satu lagi buku tipis berjudul Saraswati karya Kanti W. Janis.

Siapa Baron Leonard dan Kanti W Janis ?. Setelah membaca sedikit keterangan tentang penulisnya di sampul belakang kedua buku tersebut, barulah saya tahu bahwa kedua penulis ini adalah penulis muda yang masing-masing baru melahirkan novel perdananya. Salut untuk penerbit AKOER yang konsisten memberi kesempatan kepada penulis-penulis baru untuk menerbitkan karyanya. Sebelumnya sudah ada dua nama yang novel perdananya diterbitkan oleh AKOER yaitu Akmal Nasery Basral – Imperia, dan Andhika Pramajaya – Narkobar, The Motivator

Setelah menimang-nimang mana dulu yang akan saya baca, akhirnya saya memutuskan membaca terlebih dahulu novel Saraswati karena lebih tipis, dan juga karena saat ini saya sedang membaca novel tebal – The Historian (Elizabeth Kostova). saya juga tertarik dengan endorsment dari penerbit di cover belakang buku Saraswati yang ditulis sbb :

“Terus terang kami terperangah ketika membacanya pertama kali. Secara tradisi biasanya kisah cinta, hanya memiliki 2 akhir penyelesaian. Apakah berakhir dengan “happy ending” atau tragedi perpisahan. Dalam Saraswati, Kanti keluar dari jalur tradisi ini. Secara tidak terduga Kanti menawarkan klimaks alternatif yang baru.”

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk membaca novel ini. Saraswati menceritakan persahabatan dan kisah cinta antara Saraswati dengan Disam. Saraswati adalah anak tunggal dari pasangan suami istri yang berasal dari Bali, sedangkan Disam seorang peranakan Belanda yang ayahnya berasal dan berkebangsaan Belanda.

Persahabatan mereka berawal saat mereka masih kecil dimana Disam (10 tahun) terjatuh dari sepedanya tepat di depan rumah Saraswati yang pada saat itu berusia 15 tahun. Dengan telaten Saraswati merawat luka-lika Disam, dan semenjak itulah mereka bersahabat. Disam memiliki keluarga yang tidak harmonis, ayah dan ibunya kerap bertengkar, sedangkan Saraswati selalu merasa kesepian karena kedua orang tuanya sering bepergian. Untuk mengusir kesepiannya Saraswati mengisi hari-harinya dengan melukis. Disam yang depresi akibat keluarganya dan Saraswati yang selalu kesepian membuat persahabatan mereka kian kental. Namun sayangnya persahabatan mereka terputus secara tiba-tiba Saraswati menghilang begitu saja dari rumahnya tanpa memberi kabar pada Disam.

Setelah persahabatan mereka terputus berbagai kejadian menimpa keluarga mereka. Orang tua Disam bercerai, sedangkan kedua orang tua Saraswati meninggal karena kecelakaan. Namun mereka berhasil keluar dari masa-masa sulitnya dan menjalani kehidupannya masing-masing. Saraswati tetap melukis sambil bekerja di sebuah galeri lukisan. Disam dengan bermodal wajah indonya yang tampan menjadi seorang model.

Setelah tujuh tahun kehilangan kontak, tiba-tiba mereka bertemu kembali. Pertemuan ini menjalin kembali persahabatan antara mereka berdua yang sempat terputus selama tujuh tahun. Karena bukan lagi anak kecil, persahabatan mereka lambat laun menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka. Namun baik Disam maupun Saraswati belum menyadari sepenuhnya apakah mereka benar-benar saling mecintai atau tidak.

Belum yakin dengan apa yang mereka rasakan, Saraswati kedatangan ‘tuniang’-nya (nenek) bersama seorang pria (Bisma) yang merupakan cucu dari sahabat Tuniang di Bali. Rupanya kedatangan Tuniang bersama Bisma ke Jakarta memiliki misi tersembunyi. Tuniang ingin agar Saraswati berkenalan dengan Bisma dan menjodohkannya. Hadirnya Bisma membuat cemburu Disam hingga akhirnya Disam maupun Saraswati menyadari bahwa sesungguhnya benih cinta diantara mereka telah tumbuh.

Sayangnya Saraswati labil dalam pendiriannya, disatu pihak ia mencintai Disam, dilain pihak ia ingin membahagiakan Tuniang sebagai pengganti kedua orangtuanya yang telah meninggal.

Cerita terus bergulir. Siapa yang akhirnya akan dipilih Saraswati ?

Tema cinta dalam novel ini menurut saya sebuah tema yang umum. Walau ditulis oleh seorang novelis baru, kisahnya ditulis dengan lancar dan mengalir. Pergulatan batin antara Disam dan Saraswati tersaji dengan menarik dan mampu mengajak pembacanya memahami apa yang mereka rasakan.

Di pertengahan cerita penulis mengajak pembacanya untuk berjalan-jalan ke Bali sambil menyaksikan prosesi ngaben seorang puteri raja Bali. Bagi saya, ini nilai tambah dari novel ini. Dengan agak mendetail penulis mendeskripsikan prosesi ngaben sehingga memberi pengetahuan baru bagi saya mengenai prosesi sakral yang sudah menjadi obyek wisata yang paling banyak diminati oleh para turis dalam dan luar negeri. Seandainya bagian ini dieksplorasi lebih dalam lagi tentunya akan lebih menarik

Lalu bagaimana dengan endingnya yang dikatakan keluar dari tradisi kisah cinta?
Endingnya memang tak terduga, namun saya tak melihatnya sebagai sesuatu yang istmiewa seperti yang dikatakan oleh penerbit pada deskripsi novel ini sebagai ending yang keluar dari tradisi kisah cinta.

Mungkin saya yang salah, atau kurang peka dalam mengapresiasi novel ini khususnya dalam endingnya. Karena itu saya mengajak teman-teman yang telah membaca novel ini untuk mendiskusikan lebih lanjut. Apakah benar novel ini memiliki ending yang tidak biasa?

Namun telepas dari soal endingnya. Saya menilai bahwa novel ini adalah novel yang baik dan enak dibaca. Sebagai novel perdana Kanti W janis, novel ini merupakan modal awal yang sangat baik untuk profesinya sebagai seorang penulis. Jika dilihat dari gaya berutur, penggunaan kalimat-kalimat narasi dan dialognya, semua itu mampu menyeret pembacanya kedalam kompleksnya kisah percintaan antara dua pribadi yang memiliki masa lalu yang kelam.
Vermont
The Alchemist

Judul : Sang Alkemis
Pengarang : Paulo Coelho



Karya klasik modern Paulo Coelho ini memang cukup memukau. Novel garapan penulis Brazil ini berkisah tentang suka duka peziarahan bocah kecil bernama Santiago, bocah gembala di Andalusia, mencari harta karun. Perjalanan dimulai dari Spanyol menuju Tangier. Perjalanan panjang memakan ribuan kilometer. Di rentetan jejak langkahnya, Santiago bertemu dengan beragam orang dan beragam pengalaman unik. Ia menyeberangi gurun Mesir. Di sebuah oasis, ia mengalami perjumpaan yang menentukan dengan seorang Alkemis. Di gurun, ia pun menemukan kekasih hatinya, Fatima. Perjumpaan-perjumpaan yang menjadi ruang pembelajaran secara spiritual soal pencapaian cita-cita hidup.
Kejutan pertama ketika Santiago berjumpa dengan orangtua bernama Melchizedek. Obrolan dibuka dengan topik buku yang ditenteng bocah itu. Dari buku itu, ada perhatian soal usaha mewujudkan Legenda Pribadi. Masing-masing orang punya Legenda Pribadi atau mimpi dan cita-citanya. Orangtua yang mengaku Raja Salem itu melihat banyaknya ketidakmampuan orang untuk memilih Legenda Pribadinya. Bahkan, banyak orang yang akhirnya menyerahkan hidupnya pada nasib. Orangtua itu juga menasihati, saat orang menginginkan sesuatu, alam semesta bersatu untuk membantu orang itu meraihnya.
Santiago terus berjuang menggapai mimpinya. Ia terus membaca tanda tanda kehidupan, seperti yang Melchizedek katakan, untuk cita-citanya itu. Sebelum berpisah, Melchizedek memberikan dua buah batu penolong membaca tanda. Keduanya diberi nama Urim dan Thummim. Raja tua berbaju lusuh itu hanya berpesan, “Jangan pernah berhenti bermimpi, ikutilah pertanda.”
Anak muda ini melanjutkan perjalanan ke Tangier, sebuah kota pelabuhan di Afrika. Di sana, ia bekerja di sebuah toko kristal. Perjumpaan dengan si empunya toko membuat Santiago semakin terbuka pada cita-citanya. Si empunya toko digambarkan sebagai orang merasa terlambat untuk mewujudkan Legenda Pribadinya. Ia takut pada perubahan. Ia lebih menikmati hidupnya di ruang tokonya selama 30 tahun. Konon, ia punya mimpi untuk pergi ke Mekah dengan menyusuri gurun, dan mengitari Kabah tujuh kali. Tapi, ia ragu dan takut gagal. Ia memutuskan tinggal memimpikannya saja.
Setelah bekal dirasa cukup, Santiago melanjutkan perjalanan. Ia bertemu dengan lelaki Inggris yang bertahun-tahun mencari Sang Alkemis, Batu Filsuf, dan Obat Hidup. Kata orang, Alkemis termasyur ada di Arab, di oasis Al-Fayoum. Pada momen ini, Santiago menemukan gadis gurun bernama Fatima. Ia jatuh cinta. Santiago memberanikan diri bilang cinta. Fatima berujar, “Seorang dicintai karena ia dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai.” Lagi-lagi, sebuah refleksi mendalam yang masuk dalam novel ini.
Pada fase padang gurun ini, dimana dilatari perang antar suku, Santiago berjumpa dengan penunggang kuda. Tak lain adalah Sang Alkemis. Sebuah perjumpaan yang sangat menentukan. Keduanya terlibat dalam dialog-dialog menarik yang menambah bobot pada novel ini. Novel ini mampu melibatkan pembaca untuk terlibat dalam dialog dan berrefleksi atas kehidupannya sendiri. Tak lain karena apa yang didialogkan dalam novel ini dekat sekali dengan kehidupan pembaca. Tentunya, pembaca seperti Santiago mempunyai mimpi dan cita-cita dalam hidupnya.
Sang Alkemis mengatakan, untuk memahami Jiwa Buana, jiwa meraih cita-cita, orang harus mempunyai keberanian. Mewujudkan impian memang tidak mudah, bahkan menakutkan. “Memang menakutkan dalam mengejar impianmu, kau mungkin kehilangan semua yang telah kau dapatkan,” kata Alkemis. Bagi Alkemis, hanya satu hal yang membuat mimpi tidak dapat diraih, yakni perasaan takut gagal. Santiago mendapat pelajaran berharga dari Sang Alkemis. Tapi, setelah mendapat bekal berharga itu, apakah Santiago berhasil menemukan harta karun dan mewujudkan mimpinya?
Novel ini memang layak dimasukan dalam genre novel spiritual tentang realisasi sebuah impian. Paulo Coelho berhasil dalam mengawinkan refleksi spiritual dengan sastra. Mengajak pembaca tidak hanya menikmati hiburan kisah saja, tetapi terlibat dalam narasi karena apa yang dibaca tak lain adalah cermin kehidupan. Kekuatan ini pula yang tampak dalam novelnya yang lain, ‘Veronika Memutuskan Mati’, ‘Di Tepi Sungai Piedra, Aku Duduk Tersedu’ dan ‘O Zahir.’ Coelho pun dianggap sebagai satu dari lima pengarang terbesar sepanjang sejarah dan meraih beragam penghargaan
Vermont
Orang Orang Sisilia - The Sicilian
oleh: Mario Puzo



Sinopsis Buku:
Kisah kehidupan orang-orang Sisilia yang romantis, meski penuh darah, balas dendam, dan pengkhianatan.Tahun 1950. Michael Corleone tiba di pengujung masa pengasingannya di Sisilia. Godfather memerintahkannya membawa serta seorang pelanggar hukum muda bernama Salvatore Guiliano kembali ke Amerika. Namun kehidupan Guiliano dihiasi jaring-jaring berdarah penuh kekejaman dan vendetta. Di Sisilia, Guiliano adalah Robin Hood zaman modern yang melawan korupsi, pemerintah Roma---dan melawan Cosa Nostra. Di pulau yang penuh berserakan puing kuil kuno peninggalan bangsa Yunani ini, jalan hidup Michael Corleone terjalin erat dengan legenda Salvatore Guiliano: sang kesatria, pencinta, Siciliano sejati.
Vermont
Sang Godfather - The Godfather
oleh: Mario Puzo



Sinopsis Buku:
Godfather adalah sang pemimpin Mafia bernama Don Vito Corleone, pria pemurah yang tak kenal ampun dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan.Ia pria yang ramah, "logis", adil---dan pemimpin kelompok paling mematikan di Cosa Nostra.Pusat komando Godfather berada di Long Island, tempat ia memimpin kerajaan bawah tanah raksasa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal, perjudian, taruhan pacuan kuda, dan serikat buruh. Tiran, pemeras, pembunuh---ia memberikan persahabatannya (tak ada yang berani menolak) dan menentukan mana yang benar dan mana yang salah (pembunuhan halal dilakukan demi keadilan).The Godfather memaparkan kehidupan Mafia New York City: perebutan kekuasaan, penghargaan terhadap keluarga, cinta, dan loyalitas, dan berbagai konsekuensi hidup di tengah pembunuh, korupsi, dan balas dendam. Para tokohnya merupakan karakter-karakter kompleks yang memiliki harapan, impian, dan ketakutan, tapi juga merupakan pembunuh keji.
Vermont
A Beautiful Mind
A Beautiful Mind - Kisah Hidup Seorang Genius Penderita Sakit Jiwa yang Meraih Hadiah Nobel
oleh: Sylvia Nasar



Sinopsis Buku:
Buku pemenang National Book Critics Circle Award 1998 untuk Biografi, dan finalis Pulitzer Prize

Buku yang menjadi inspirasi film produksi DreamWorks dan Universal Pictures yang dibintangi oleh Russell Crowe

John Forbes Nash, Jr. adalah salah satu genius matematika Amerika Serikat paling menonjol di antara teman-teman segenerasinya. Pada usia dua puluh satu tahun ia adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang cemerlang, bandel, menyebalkan, sekaligus sangat eksentrik di Princeton University ketika ia menemukan beberapa prinsip matematika-yang kini disebut kesetimbangan Nash-yang sangat penting untuk teori permainan atau same theory.

Pada usia tiga puluh satu tahun, tatkala sedang berada di puncak kariernya yang cemerlang serta tidak lama setelah menikah dengan seorang fisikawan muda yang cantik, Nash mendadak menderita mental breakdown yang sangat merusak dan belakangan didiagnosis menderita skizofrenia. Di bawah terpaan khayal-khayal yang menyiksa, dan membuatnya tidak berdaya, serta berulangkali harus meringkuk di balik tembok rumah sakit jiwa, Nash terpaksa menghabiskan tiga dasawarsa berikutnya sebagai sosok pendiam yang hanya sesekali muncul bak hantu di lingkungan kampus Princeton University.

Ketika usianya mencapai enam puluh tahun, kesehatannya semakin memburuk, dan keberadaannya praktis terlupakan, tiba-tiba dua keajaiban terjadi-yang pertama adalah kesembuhan yang hampir tak disangka-sangka dari skizofrenia, sedangkan yang kedua adalah keputusan Panitia Hadiah Nobel untuk menghargai prestasi gemilangnya di masa lampau. Dua mukjizat yang mengembalikan dunia kepadanya.

"Baru dua paragraf, tapi saya langsung terpikat! A Beautiful Mind sangat menarik, sangat menggugah, terutama ketika bercerita tentang kisah hidup Nash dan prestasi-prestasinya, serta wawasan simpatiknya yang mengagumkan ketika membahas kegeniusan dan skizofrenia."
-Oliver Sacks

"Sylvia Nasal bercerita tentang kehidupan Nash di Princeton sewaktu gairah intelektualnya tengah berkobar, tentang sumbangannya yang cemerlang pada teori permainan, dan, yang paling penting, ia mcmberikan penuturan yang menyentuh dan simpatik tentang masa ketika sang tokoh tenggelam ditelan badai skizofrenia."
Vermont
Pudarnya Pesona Cleopatra
Judul: Pudarnya Pesona Cleopatra
oleh: Habiburrahman El Shirazy



Sinopsis Buku:
Penulis Novel Best Seller "Ayat-ayat Cinta"
Novel Psikologi Islami Pembangun Jiwa

Subhanallah, mengikuti dua novel mini dalam buku ini hatiku serasa teraduk-aduk. Ada cekam keharuan yang mendalam. Ada rindu dendam cinta suci karena illahi. Ada senyum kebahagiaan sejati. Semua berkelebat, gerimis, aku dibuatnya. Ah, Raihana, andai kau Cleopatra....!

Sirsaeba Alafsana,
Penulis buku "Kado Ulang Tahun Kekasihku "

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam isak tangisku semua kebaikan Raihana selama ini terbayang. Wajahnya yang teduh dan baby face, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangisnya mengalirkan perasaan haru dan cinta. Ya cinta itu datang dalam keharuanku. Dalam keharuan terasa ada hawa sejuk turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu, pesona kecantikan Cleopatra memudar......

Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku oada Raihana. Membagi rinduku yang tiba-tiba memenuhi rongga dada. Air mataku berderai-derai. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang diiringi derai air mata yang tiada henti menetes di jalanan. Aku tak peduli. Aku ingin segera sampai dan melupakan semua rasa cinta ini padanya. Padanya yang berhati mulia. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan mengambil nafas panjang dan mengusap air mata. Melihat kedatanganku ibu mertua serta merta memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis.
" Mana Raihana, Bu ?"

Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang terjadi.
" Istrimu, Raihana istrimu dan anakmu yang dikandungnya ! "
" Ada apa dengan dia ! "
" Dia.......
Vermont
The Heavenly Couple
The Heavenly Couple : Air Mata Berburu Bahagia
oleh: Manije Armin



Sinopsis Buku:
Malam amat gelap dan jalan seolah tak berujung. Selama belum melewati perbatasan Iran, Malihe masih dilingkupi rasa khawatir. Meski sebenarnya, tempat mana pun tak ada beda baginya. Sudah lama kegelisahan besar menaungi hidupnya.

Malihe masih ingat betul saat duduk dalam akad nikah dan melihat wajah ceria Majid di cermin, tercetuslah ikrar pada Tuhan bahwa ia akan selalu bersama suami dalam suka ataupun duka. Malihe memang selalu ingat ucapan ibunya yang sekaligus jadi figur hidupnya itu: “Seorang gadis masuk rumah suaminya dengan pakaian pengantin dan harus keluar dari sana dengan kain kafan.”

Dan kini, menemani Majid menyelundup ke Turki bersama dua bocahnya, tekadnya seperti benar-benar diuji. Keterlibatan Majid dalam sebuah kelompok ekstrem sebelum menikah - atas bujukan dan propaganda adiknya, rupanya masih terus membuntuti takdir hidupnya. Ke mana pun suaminya dapat bekerja yang sebelumnya didapat dengan susah payahnya, selalu saja akhirnya mendapat kata putus: “Kau bermasalah dan dianggap berbahaya.” Situasi panas pasca perang (revolusi) memang tak kenal ampun terhadap orang yang terlanjur dicap ekstrem, meski yang bersangkutan telah tobat dan lepas tangan.

Kerikil tajam dan kawat berduri terus beruntun menghadang Malihe dan Majid, tapi mereka tetap memantapkan langkah, sekalipun harus hujan air mata.

Malihe dan Majid adalah potret air mata yang gigih berburu asa; juga upaya tulus canda dan tawa betapapun di tengah duka, dalam perjalanan berliku membangun masa depan.
Vermont
Kompor Mleduk Benyamin S
oleh: Tim Creative Library



Sinopsis Buku:
Benyamin S. merupakan salah seorang seniman serba bisa yang pernah dimiliki Indonesia. Mulai dari dunia film, tarik suara, hingga presenter.

Seorang sutradara, penulis skenario dan sekaligus pencipta lagu dengan budaya Betawi sebagai ciri khasnya. Di tengah maraknya budaya Barat, karya-karya Ben hingga kini masih fenomenal namun mulai terlupakan.

Diskografi ini hendak membangkitkan kembali semangat underground yang pernah diusung Ben dan menjadikan generasi indie sebagai dasar acuan budaya pop Indonesia.
Vermont
Khadijah
Karya: Dr. Muhammad Abduh Yamani



Sebuah kisah spektakuler bergaya novel, tentang kekasih agung yang tak tergantikan. Jauh di lubuk hatinya, sebuah energi cinta menembus zaman.
Khadijah adalah secercah bintang di tengah gelap gulitanya zaman jahiliyah, seorang saudagar kaya raya penganut agama Ibrahim as (hanif) yang mendapat gelar “perempuan suci” bahkan dari masyarakat kotor, yang merindu dendam akan datangnya cahya kenabian.

Jauh sebelum berlabuh ke pangkuan Rasul terakhir…..

Ketika itu petunjuk agung datang kepada Khadijah, tampak olehnya cahaya jatuh di kediamannya, menyinari segala sesuatu dan menyilaukan pandangan, ia terbangun dari tidurnya. Ia merasakan mimpi itu begitu nyata memenuhi kehidupannya dan semburatkan cahaya malam. Harap cemas menyergap dirinya.
Seperti kebiasaannya, Khadijah pergi mengadu kepada Waraqah bin Naufal. Ia tampak gelisah, lalu menceritakan secara utuh perihal apa yang disaksikannya. Mendengar cerita Khadijah, wajah Waraqah berseri menampakkan roman kebahagiaan, dan seperti biasa menyampaikan berita gembira,”Ini adalah berita gembira, wahai putri pamanku. Sesungguhnya mimpimu ini merupakan pertanda bahwa Allah akan memuliakanmu dengan sebuah cahaya yang akan masuk ke rumahmu. Dalam pandanganku, itulah “cahaya kenabian”.
Sebuah jiwa padanya himpun segenap cinta, kelembutan seorang ibu, ketulusan seorang kekasih, kehausan seorang pencari kebenaran, komitmen dan konsisten terhadap kebaikan, kecakapan seorang saudagar, kesetiaan dan pengorbanan jiwa dan harta yang terus mengalir….layaklah ia menjadi tambatan hati Panutan Segenap Alam…
Vermont
Cinderella Man
oleh: Marc Cerasini



Sinopsis Buku:
Based on an Extraordinary True Story

Jim Braddock, seorang petinju kelas berat-ringan, pernah memiliki karier bertinju yang sangat menjanjikan. Namun, ia terpaksa menggantungkan sarung tinjunya setelah mengalami serangkaian kekalahan dan patah tangan. Ketika AS memasuki era Depresi Hebat, Braddock melakoni pekerjaan kasar apa saja guna menghidupi istri dan ketiga anaknya, bahkan terakhir ia menjadi kuli di pelabuhan.Setelah lama tak bertarung, putaran roda takdir membawanya kembali ke atas ring menghadapi petinju peringkat dua penantang juara dunia... demi 250 dolar!

Yang menyedihkan, karena sama sekali tak punya uanguntuk membeli perlengkapan bertinju, ia harus mengenakan celana pinjaman dalam pertandingan itu.Tak disangka, ia menang. Semua orang dibuat kagum. Seakan tak memedulikan cedera tangannya yang terus mendera dan tubuhnya yang jauh lebih ringan ketimbang para lawannya, Braddock terus menang. Ia bertarung demi harapan dan mimpi-mimpi keluarganya, demi mengusir rasa lapar dari perut istri dan ketiga anaknya. Akhirnya, Braddock harus menghadapi Max Baer, juara dunia tinju kelas berat, yang terkenal karena telah membunuh dua orang lawannya di atas ring. Pertarungan ini sangat mungkin menghancurkannya. Namun, Cinderella Man harus melakukannya... demi orang-orang yang ia cintai.



Vermont
Kiamat Sudah Lewat

Kiamat Sudah Lewat: Suara Anak-anak Korban Tsunami Aceh
oleh: Debbie Sumual Patlis (editor)



Sinopsis Buku:
Kiamat sudah lewat. Suara Anak-anak Korban Tsunami Aceh. Membaca judulnya di etalase toko buku, saya sudah tertarik ingin membacanya. Cover dan judul buku ini cukup menarik dan mengundang keingintahuan pembaca. Covernya berwarna dasar putih dan bertuliskan nama anak-anak yang berbagi pengalaman dalam buku ini. Ada 20 anak, antara lain Rizqina Rosma, Martunis, Anggi Reza Harris, dll.

Buku ini merupakan hasil program Mercy Corp Indonesia yang berinisiatif mengadakan kegiatan menulis pengalaman bencana bagi anak-anak, untuk memulihkan kondisi sosial ekonomi anak-anak Aceh. Ada 462 cerita yang kemudian dipilih lagi 20 cerita yang menggugah oleh Editor untuk dimuat dalam buku ini.

Bab Surat-menyurat menampilkan surat-surat dan foto anak-anak sekolah di AS dan Kanada. Mereka mengirimkan surat untuk anak-anak Aceh. Isi suratnya antara lain mengungkapkan duka cita, keprihatinan, simpati dan doa mereka untuk anak-anak itu. Bahkan sebuah sekolah membuat dan mengirimkan ratusan gelang Harapan untuk anak-anak Aceh. Sungguh mengagumkan kepedulian mereka terhadap sesama.

Halaman awal menampilkan foto Presiden RI, Bapak SBY dan Presiden AS George W. Bush berfoto bersama. Di tangan pak SBY ada foto seorang anak yang selamat dari bencana.. Nada Luthfiyyah namanya. Nada membalas surat-surat simpati yang ditujukan padanya. Dan uniknya, surat itu tidak dikirimkan melalui pos ke AS tetapi dibawa langsung oleh SBY dan dibacakan di depan banyak orang.

Bab Kisahku adalah bagian utama yang berisi pengalaman anak-anak Aceh. Cerita pertama dituturkan oleh T.Aldilla Mayusti (usia 12 tahun), berjudul “Bola Voli Molten Pemberian Allah,” Aldi yang berasal dari Sigli ini menceritakan dengan detil saat-saat bencana itu terjadi. Saat nyaris tenggelam, ia terantuk sebuah benda yang ternyata bola voli yang dianggapnya pemberian dari Allah. Ia berpegangan pada bola voli itu. Alhamdulillah, Aldi dan keluarganya selamat, ia bahkan menyimpan bola itu dalam kotak kaca sebagai kenangan.

Selain itu, ada kisah dari Karimuddin (Usia 12 tahun). Judulnya “Semangat Baruku,” Karim disebut ayahnya si Pemberani. Karena ia tak takut melihat mayat dan berani embantu mengurus mayat korban. Suatu hari, ia bermain di rawa dengan perahu kayu buatannya, dan menemukan tengkorak manusia. Ia masukkan kerangka itu ke dalam plastik mayat dan menyerahkannya pada ayah.

Kesedihan. Kengerian yang dalam. Begitulah kesan yang saya dapat membaca pengalaman anak-anak ini. Mereka mengisahkan dengan detil bagaimana tragedi minggu pagi 26 Desember 2004 itu. Bagaimana gempa dahsyat. Air laut yang surut. Gelombang raksasa yang hitam menyeret apa saja yang dilewatinya. Rumah hancur. Mayat bergelimpangan. Teriakan minta tolong. Sungguh tak terbayangkan.

Ya, Anak-anak itu kehilangan segalanya. Rumah. Sekolah. Saudara. Orangtua. Sahabat. Namun, dibalik trauma, saya melihat keoptimisan mereka untuk terus hidup. Untuk maju. Subhanallah. Saya melihat semangat itu pada semua anak. Pada Nia Sylvia, dalam tulisannaya,”Buku Pelajaranku Yang Lenyap, Bukan Tekadku,” juga pada Ari Maulana, dalam “Kisah Anak Camp,”.

“Hari-hari kujalani dengan senyum, walaupun terkadang rasa takut itu ada, karena gempa terus-menerus. Namun aku tidak boleh lemah dan patah semangat, aku harus berjuang karena jalanku masih panjang. Hidup dari camp ke camp bukan halangan, yang penting sekolah terus dan ngaji tetap jalan,” begitu tulis Ari di akhir ceritanya. Sungguh, dari anak-anak ini kita belajar banyak. Empati terhadap sesama dan semangat mereka yang tak pernah padam. Benar, kiamat sudah lewat bagi mereka.
AndyDeris
klo bisa tampilin sinopsis buku2 yg mengulas masalah aceh smile.gif
Bangai
Kita Sambut Euro 2008

Falculus
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.