Lupa Diri
Originally written by eroge
Originally written by eroge
“Jangan nakal-nakal ya di rumah,” ujar Anton sambil menepuk kepala Ina. “Aku cuma pergi sebentar kok. Nanti aku bawa kejutan buatmu.”
Ina yang penasaran langsung memberondongkan sederet pertanyaan dengan nada manja, tapi Anton tak juga menjawab. Ia hanya bisa menghela napas memandangi mobil Suzuki Swift warna perak yang dikemudikan Anton melaju dan menghilang di ujung gang. Rumah bertingkat dua ini langsung terasa sepi. Selain Ina hanya ada Bik Suti. Papa-Mama sedang mengikuti reuni SMA mereka di Semarang.
“Pagi, Sayang.”
Ina langsung merengut. Dengan jengkel ia menoleh ke kanan. Dari balik tembok pembatas rumah muncul kepala tetangga barunya yang menyebalkan.
“Sayang, kenapa sih kamu nggak pernah merindukanku seperti kamu merindukan si ceking itu?” tukas Tio sembari memamerkan senyum manisnya.
Ina melengos. Sebenarnya Tio tampan dan gagah, tapi sering kurang ajar. Masa si brengsek ini berani menggoda dan merayunya di depan Anton. Yang menyebalkan meski ia sudah protes keras, Anton tetap memperlakukan Tio dengan ramah.
“Kenapa kamu masih terus berharap sama dia? Apa kamu lupa kalau kamu cuma a…”
“Kamu pikir aku nggak ingat dengan statusku sebagai anak adopsi?”
Tio tertawa terbahak-bahak.
“Itu bukan halangan bagi kami untuk saling mencintai!”
“Ya ampun! Kenapa kamu nggak sadar juga kalau dia nggak mencintaimu?”
“Dia mencintaiku! Sangat-sangat mencintaiku!” bantah Ina dengan sengit.
“Dia cuma sayang padamu. Yang mencintaimu itu aku.”
“Tapi aku nggak mencintaimu tuh. Yang kucintai itu Anton.”
Tio menghela napas.
“Jangan lupa diri, In. Apa kamu nggak sadar kalau Anton nggak sama kayak kita. Lupakan dia sebelum kamu kecewa dan sakit hati. Dia nggak akan bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu.”
“Sinting! Pergi sana! Jangan ganggu aku lagi!” tukas Ina judes sambil masuk ke dalam. Ia tidak menoleh walau Tio terus memanggil-manggilnya.
* * *
Anton tersenyum lebar melihat Ina sudah menantinya di balik pintu dengan wajah tak sabar.
“Waduh, kamu sudah nggak sabar melihat kejutanku, ya?”
Ina hanya tertawa, tapi… tawanya segera surut. Ia mengendus-endus. Bau wangi seperti bunga jasmine bercampur mint. Baunya keras sekali seperti sumber bau wangi itu ada di sekitar sini! Jangan-jangan…
“Aku punya kejuta. Sebentar, ya. Babe, kemari dong.”
Ina terperangah melihat kemunculan sesosok gadis bertubuh langsing dari balik tubuh Anton. Gadis itu cantik sekali. Kulitnya putih mulus, rambutnya yang panjang terurai lemas di pundaknya, membingkai wajah oval dengan sepasang mata besar, hidung mancung dan bibir mungil. Mirip boneka Barbie saja. Rasa cemburu kontan membakar hati Ina.
“Ayo, kenalan dulu. In, ini Vera.”
“Kayaknya dia nggak suka sama aku,” ujar Vera dengan wajah ciut.
“Dia siapa?” tanya Ina dengan galak.
“Eh, nggak boleh galak begitu sama pacarku. Dia cantik kan?”
“Pacar? Kalau begitu aku ini siapamu?” sergah Ina dengan murka sambil menerjang Vera.
Vera menjerit ketakutan. Bik Suti menjerit kaget. Anton malah bengong. Ia sama sekali tidak menduga reaksi Ina seburuk itu. Untungnya ia hanya melongo selama dua detik. Sayang ia terlambat. Ia marah sekali melihat kulit pacarnya yang selembut sutra menjadi carut-marut gara-gara dicakar Ina. Dipukulnya mulut Ina sekeras mungkin.
Ina terperangah. Sebelumnya Anton tak pernah mengasarinya. Saking kagetnya, ia hanya terpaku diam. Tapi setelah Anton menyeretnya keluar rumah, ia meronta dengan sekuat tenaga.
“Hati-hati. Jangan-jangan di asudah gila,” bisik Vera ketakutan.
“Perempuan sialan! Dasar brengsek!” maki Ina.
Pada saat yang sama Anton juga memakinya. Anton sampai harus mengerahkan seluruh tenaga baru bisa menyeret dan mendorongnya keluar pintu depan. Blam! Si ceking membanting pintu dengan kesal.
“Sayang, kenapa kamu tega begini? Seharusnya Barbie sialan itu yang di luar, bukan aku. Apa kamu sudah lupa sama aku?”
Ina terus mengetuk pintu, meratap pilu dan mengemis-ngemis, tapi tidak ada yang mau membukakan pintu baginya.
“Sayang.”
Ina terpaku. Jangan-jangan sejak tadi Tio melihat semuanya. Ia tidak berani menoleh meski Tio terus memanggilnya dengan lembut. Ia merasa sangat malu.
“Sudah. Jangan sedih terus, Sayang. Dia memang nggak pantas untukmu. Kamu terlalu baik untuknya.”
Ina melirik tembok pembatas rumah. Seperti biasa kepala Tio melongok dari balik tembok. Namun mata yang biasanya mengeling genit kini menyorot teduh. Tio terus menghiburnya bahkan tak sekalipun berkata, “Sudah kubilang kan kalau dia nggak mencintaimu?” Ina terisak sedih. Ia malu untuk mengakui kalau keyakinannya akan cinta Anton salah total.
GUBRAK! PRANG!
Ina menoleh dan tercengang melihat Tio sudah berdiri di hadapannya. Rupanya Tio nekat melompati tembok dan mendarat di atas Anthurium raksasa dengan sukses. Helai-helai daun seharga jutaan rupiah itu kini sobek dan pot besar yang mewadahinya terguling hingga pecah. Tapi Tio tidak peduli. Ia terus menghampiri Ina yang kembali tertunduk malu.
“Jangan sedih, Sayang. Aku mencintaimu,” bisik Tio.
Ina mendongak dan melihat cinta yang tulus terpancar dari sepasang mata kecokelatan yang besar itu.
“Aku mencintaimu,” bisik Tio lagi.
Ina hanya diam namun membiarkan Tio menciumnya dengan lembut.
Anton yang keluar dari dalam rumah karena mendengar kehebohan, berteriak marah begitu melihat tanaman kebanggaan Mama hancur berantakan. Tanah dan kepingan pot berserakan di mana-mana. Gawat, apa kata Mama nanti?
Namun Tio dan Ina tak peduli. Keduanya sudah begitu dimabuk cinta hingga kehadiran Anton sama sekali tidak mengusik mereka.
“ANJING!!” maki Anton setelah dengan susah payah akhirnya berhasil juga mengusir keluar anjing husky milik tetangga yang sudah menggumuli anjing rottweiler betinanya.
TAMAT

