CATATAN SI BOY 1
Dikarang-karang oleh hermawan (onthelistdepok@gmail.com)
CHAPTER 1 : NEW BEGGINING
Pagi itu sang mentari kembali hadir ke singgasananya. Cahayanya yang masih redup tampak menembus dedaunan, menyeruak kabut pagi yang masih memanjakan orang yang tidur di dalam selimutnya. Tapi bagi Boy godaan seperti itu kurang manjur baginya. Ia udah bertekad hari ini ngga mau lagi telat kuliah, walaupun ia harus menebus dengan mandi di pagi buta, salah satu hal yang Boy benci.
Setelah siap – siap Boy lalu mengeluarkan Ine yang setia menemani kemanapun Boy pergi. Dihidupkannya motor kesayangannya itu barang 5 menit, sebelum Boy dan Ayahnya berangkat. Sebenarnya Boy ngga mau ngerepotin Ayahnya dengan mengantar Boy ke kampus. Tapi daripada Ine ditinggal di kantong parkir nungguin Boy seharian, mending Ine di rumah, khan bisa nganter kemana – mana demikian pikir Boy.
Ine pun berjalan pelan dibawah kendali Ayah Boy menyusuri kota Jogja dengan santai, ngga seperti kalo Boy yang pake, biar cepet asal selamet. 30 menit kemudian Ine mulai memasuki kampus Boy. Kampus yang cukup dikenal oleh masyarakat dengan sebutan kampus biru, kampus rakyat, dsb. Klo menurut Boy seh Indonesia kecil, karena di kampus ini berkumpul mahasiswa yang asalnya dari Sabang sampai Merauke bahkan ada yang berasal dari luar negeri.
CHAPTER 2 ; HARI BUMI DI GADJAH MADA
Boy lalu bilang ke Ayahnya supaya jemputnya setelah Boy nelfon ke rumah. Ayahnya mengangguk kemudian kembali menggeber Ine meninggalkan Boy yang harus jalan kaki menuju jurusannya. Yach hari ini semua kendaraan yang bermesin dilarang masuk kampus. Demi memperingati Hari Bumi maka mulai pukul 07 – 10.00 semua kendaraan dengan bahan bakar bensin dan solar tanpa kecuali harus dititipin di kantong parkir yang terletak di luar lingkungan kampus.
Selama Boy berjalan kaki, banyak kejadian lucu terjadi, diantaranya ada sejumlah panitia yang sedang mendorong mobil pengangkut sampah yang setiap harinya mengangkut sampah di lingkungan kampus. Kebayang ngga gimana capek dan baunya? Boy nyengir, ia merasa geli sekaligus salut buat mereka. Jogja emang udah kotor. Polusi ada dimana – mana. Bahkan sekarang para bikers harus menutup hidungnya dengan kain agar debu dan asap dari bus atau mobil ga mereka makan mentah – mentah.
Keadaan ini jauh banget waktu Boy masih imut dulu (dulu imut2x sekarang amit2x ^_^), dimana masih ada pedati yang ditarik sapi lalu lalang mengangkut hasil bumi. Masih banyak ikan yang bermain di sungai yang airnya bening. Namun semuanya itu hanyalah masa lalu yang cuma bisa dikenang dan dirindukan. Kemajuan peradaban manusia dan industrialisasi kadang ngga memikirkan dampak dari limbah dan polusi. Terlebih pohon2x yang tinggi diganti cerobong asap pabrik, sawah disulap menjadi kawasan industri. Bahkan gunungpun minder karena gedung pencakar langit mulai menjamur.
Tak terasa Boy udah tiba di kampusnya. Kampus yang cukup panas udaranya dikarenakan terlalu banyak pohon yang diganti menjadi beton bertingkat. Udah gitu ceweknya dikit lagi he ... he ...he ...
Menit berganti jam... Pukul 13 setelah sholat Boy berjalan ke arah lembah UGM. Rupanya Boy kangen dengan yang namanya jalan kaki, habis kemanapun Boy pergi selalu ditemani oleh Ine yang ngga pernah ngecewain, paling hanya ngambek klo bensinnya habis.
CHAPTER 3 : MISS YOU LIKE CRAZY
Memasuki lembah tiba2x pandangan Boy tertambat pada sosok cewek yang lama ngga ia lihat. Cewek yang udah menjadi temen deket Boy tapi karena kesibukan masing2x akhirnya ngga pernah jalan bareng lagi.
“Indah.....!” teriak Boy diseberang jalan. Boy seneng sekali bisa melihat wajah yang udah ia rindukan selama ini.
“Hai... Sini...!” kata Indah sambil melambaikan tangannya. Setengah berlari Boy menghampiri temen lamanya ini.
“Gimana khabarnya?” sapa Boy sambil mengulurkan tangannya. Dipandanginya sosok didepannya lekat2x, dalam hati Boy terkesan dengan Indah yang makin bersinar ini.
“Yach seperti yang kamu lihat Boy!” Indah menyambut tangan Boy. “Kamu sendiri gimana, masih suka avonturir kemana2x?” tanya Indah usil. Ia langsung tahu hobi Boy karena mereka emang udah lama kenal. Merekapun kemudian asyik ngobrol kesana – kemari. Sampai ketika Boy menanyakan tentang sobat Indah, tiba2x mendung menyelimuti hatinya. Wajah yang tadinya berseri – seri sekonyong2x berubah menajdi murung. Boy ngga tega melihat temen baiknya ini sedih.
“Kenapa In, ada masalah dengan temen kamu yach?” tanya Boy. Cerita donk, aku masih care ke kamu koq!” lanjutnya.
Indah diam, wajahnya tertunduk, sepertinya ia benar2x sedang mengalami cobaan yang berat. Dengan penuh kasih disentuhnya dagu Indah lalu dengan lembut diangkatnya dagu itu sehingga keduanya saling bertatapan.
“In, ngomong donk, kali aja aku bisa bantuin, khan kita udah lama ngga kasih kabar satu sama laen!” kata Boy dengan sabar.
Indah kembali terdiam, membisu hanya sorot matanya mengisyaratkan ia sedang terluka. Boy makin kasihan dengan keadaan Indah.
“In, kamu ngga lupa dengan janji kita khan?” tanya Boy memecah kebisuan.
Indah menggeleng lemah, lalu berkata “I’ve promised you that I’ll never give up no matter how hopeless, right?”1
“Yup!” kata Boy mantap. “Nach udah mau cerita khan?”kata Boy yang udah pengen cepet2x menghapus duka di wajah sobatnya ini.
“Aku udah mulai rapuh Boy. Dulu aku yang begitu tegar dan mandiri mulai goyah akibat cobaan yang sering aku alami. Sosok Indah yang dulu dapet menyelesaikan masalahnya sendiri sekarang bener2x membutuhkan seseorang yang kuat yang dapat melindungiku dan memberiku rasa nyaman bila aku berasa di sisinya. Ngerti khan Boy maksudku?” tanya Indah setelah ia bercerita panjang lebar.
“Iya, kamu lagi butuh satpam khan?” kata Boy asal2xan.
“Aaahh Boy!” tiba2x Indah mendaratkan cubitan ke lengan Boy. Sebenarnya Boy udah tahu gimana reaksi Indah klo lagi sebel, tapi ia udah lama ngga bercanda kaya gini maka diikhlasin aja lengennya membiru karena cubitan Indah mendarat dengan sukses.
“Aduh, In gemes seh gemes, tapi jangan sakit donk nyubitnya” protes Boy.
“Ah bilang aja udah kangen, ngomong minta lagi aja koq susah banget seh?” Indah mulai kambuh lagi GR nya.
“Nach gitu donk In, klo senyum khan tambah cakep!” puji Boy lega karena Indah udah bisa diajak becanda lagi. Raut wajah yang tadinya mendung sekarang mulai cerah kembali.
CHAPTER 4 ; CURHAT SANG BIDADARI
Lalu Indah menceritakan bahwa sejak kuliah di Jokja ini, ia sering nolak cowok yang menyatakan cinta padanya. Alasan Indah sederhana, ia pengen focus ke study dulu. Lalu muncul Boy yang kacau, usil tapi mau ngertiin dan ngejagain ini ternyata memberi kesan di hati Indah. Tukeran kaset, catatan, makan bareng dsb. Singkatnya mereka udah deket, tapi faktor religi dan prinsiplah yang membikin mereka tetep temenan aja.
Setelah Boy pergi, Indah pun mulai menyibukkan diri dengan studinya. Ia pun banyak memiliki sobat baru yang membuat kenangan tentang Boy pelan2x mengendap. Namun saat ini Indah bener2x sendirian. Di saat ia suntuk dengan kuliah, di saat ia ngga ada waktu buat refreshing, ngga ada temen yang menghiburnya. Di saat ia sedang terpuruk ngga ada seseorang yang melindunginya. Dan di saat ia sedang putus asa tak ada yang perduli apalagi membesarkan hati dan menyalakan lagi semangat hidupnya.
“Aku benar2x sendirian Boy!” kata Indah lirih mengakhiri ceritanya.
Hati Boy diliputi penyesalan setelah mendengar kisah hidup Indah. Ia jadi merasa bersalah karena telah meninggalkan Indah sendirian. Boy lalu mencoba menenangkan jiwa sohibnya ini.
CHAPTER 5 ; SETETES EMBUN DI PADANG PASIR
“In, kamu ngga usah sedih dengan keadaan kamu sekarang.Klo aku mutusin sendirian karena aku ngga mau menyakiti orang yang aku sayangi. Maksudnya di dunia ini khan ngga ada yang abadi. Nach klo ada pertemuan pasti ada perpisahan. Di saat kita bertemu dengan seseorang lalu orang itu kemudian menjadi bagian dari hidup kita dan kita terlalu terbiasa dengan selalu disertainya. Suatu saat nanti klo kita udah pisah dengan orang tersebut kita akan bener2x merasa sedih dan kecewa, nach aku ngga mau mengalami hal ini. Oleh karena itu aku mutusin untuk menjadi temen aja. Tapi klo kamu butuhin aku tinggal panggil aja, aku pasti dateng koq” jelas Boy. Indah lalu menatap Boy lekat2x. Ia sepertinya pangling dengan sosok di depannya. Boy yang dulu sering curhat, berkeluh kesah ternyata sekarang udah menjadi pria dewasa.
“In, ....” lanjut Boy. “Kamu ngga perlu takut bahwa nilaimu berbeda dengan orang lain. Aku dulu sering berpikir bahwa aku ini banyak banget kekurangannya dan ngga ada yang bisa aku banggain dari diriku. Namun Tuhan pasti menciptakan kelebihan di balik kekurangan kita tersebut” kata Boy serius. Tampak Indah masih mendengarkan dengan sungguh2x juga.
“Masih mau dengerin In?” tanya Boy. Indah mengangguk pasti, tampaknya cahaya hidupnya mulai bersinar lagi. “In, kita memerlukan keberanian yang sangat besar untuk terpisah dari kelompok dan temen2x kita. Keberanian untuk hidup mandiri itulah senjata terampuh kita. Trus janganlah kamu anggap ini semua sebagai penderitaan. Kita harus tetap optimis soalnya kesempatan sering datang saat kita menderita. Dengan prinsip tersebut kita akan lupa bahwa saat ini kita sedang sendirian. Kita juga ngga perlu menangis untuk menjadi tegar” jelas Boy sampe dia merasa haus karena kebanyakan ngomong.
“Boy kamu dapet pikiran itu dari mana?” tanya Indah yang merasa Boy yang dia kenal dulu ngga sejauh ini pikirannya. Lalu Boy cerita, dia banyak sekali dapet pelajaran dan ilmu dari avonturirnya.
“Tapi Boy, kamu ngga cape tuh?” indah mengingatkan.
“Ngga juga, klo kita seneng ngga terasa capeknya koq, lagian temenku tambah banyak loh!” Boy nyombong neh ceritanya.
“Wuu... dasar buaya!” Indah kesel karena tahu pasti temen2x Boy pasti cewek. Mungkin sifat Boy yang supel dan mau menerima siapa saja yang bikin cewek betah disekitar Boy.
CHAPTER 6 : J A P
“Makasih In, buat pujiannya!” ujar Boy sambil nyengir lalu melepas ikatan rambutnya. Tampak rambut Boy yang panjang mulai beterbangan dipermainkan angin (jadi rada2x centil neh).
“Tambah gondrong Boy, mo nyaingin aku yah?” kata Indah sambil ikut2ax mainin rambutnya.
“Ngga, lagi pengen manjangin rambut aja, khan asyik klo drummer rambutnya gondrong. Lagian rambutku khan lumayan bagus (Boy muji dirinya sendiri, abis ga ada yang muji seh).
“Boy, kenapa kamu masih mengarungi samudera, melawan badai dan topan sendirian, padahal ngga cuma cuma satu dua pelabuhan tenang yang dapat kamu jadikan tempat berlabuh?” tanya Indah tiba2x.
Boy kaget mendapat situasi kaya gini. Emang seh Boy dulu pernah cerita ke Indah klo tiap ia mo kenalan ma cewek lain pasti suara hatinya bilang “Jangan Boy khan ada Indah!”. Indah pun pernah bilang klo saat itu ia juga lagi suka ma seseorang tapi Indah ngga nyebutin nama cowok tersebut. Angan2x Boy sirna saat ia menyadari klo Indah sedari tadi menunggu jawaban atas pernyataannya tersebut. Boy lalu berusaha agar memberi jawaban yang jangan sampai membuatnya kehilangan sohib kentalnya ini.
“In, sebenarnya aku lelah dengan semua ini, lelah dengan ketidak pastian dan hidup terlunta2x. Tapi aku pikir ini adalah yang terbaik bagiku, paling tidak untuk saat ini. Di saat kita menemukan seseorang yang dekat dengan kita, mau mengerti dan memahami kita, bahkan sampai menjadi salah satu alasan kita untuk hidup lebih lama. Namun di dunia ini semuanya serba mungkin untuk berakhir, saat pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan, karena itu aku ngga mau nantinya aku akan sendirian setelah selama ini aku terus bersama dengan orang yang aku sayangi. Aku ngga mau nantinya hanya akan merasakan suatu kesedihan dan kenestapaan bila belahan jiwa kita pergi. Lagian masih banyak jalan yang belum kulalui, masih panjang langkah yang hendak ku tempuh, karena itu aku ngga mau menghentikan langkahku sampai di sini. Mungkin teman adalah bentuk yang terbaik untuk menggambarkan hubungan kita. Lewat persahabatan kita akan tampil apa adanya, kita ngga akan berpura2x suka dengan sesuatu padahal di belakang kita sangat membencinya. Aku juga ngga mau menambah orang yang aku sayangi bersedih hanya karena seorang cowok bernama Boy ini”
CHAPTER 7 : WIN – WIN SOLUTION
Lalu keduanya terdiam. Indah sepertinya sedang merenungkan kata2x Boy barusan, sedangkan Boy punya niat untuk jalan kaki sampe rumah ( hi.. hi.. hi.. ngga nyambung). Boy kemudian bersiul menenandungkan lagunya The Beatles “Let It Be”. Lamunan Indaah berubah jadi senyum geli saat siulan Boy tiba2x false.
“In..kamu tahu lagu ini khan?” tanya Boy setelah bibirnya tambah monyong beberapa cm.
Indah mengangguk, lalu bernyanyi sebentar “.....let it be 4x speaking words of wisdom let it be...” rupanya hasil latihan paduan suara gereja ngga sia – sia, buktinya suara Indah bener2x merdu.
“Aduh ngga ku ku dech denger suara kamu, jadi pengen ....” Boy ngga ngelanjutin kata2xnya. Roman wajahnya berubah merah pura2x malu padahal Boy nahan kentutu loh he.. he.. he..
“Jadi pengen dengerin lagi Boy?” rayu Indah.
“Ngga, pengen mukul!” kata Boy sembari jitak kepala Indah, tapi Indah udah tanggap. Ia ngga mau kepalanya benjol dijitakin Boy, malahan gantian Boy yang dijitakin. Akibatnya bentuk kepala Boy tambah ngga karuan, makanya ia manjangin rambut biar ngga begitu kentara kacaunya.
“In lagu ini diciptain ama Paul ketika The Beatles diambang kehancuran”. Boy menarik nafas dalam lalu dikeluarkannya lagi, tampaknya ia sedang berkonsentrasi untuk mengganti wajah konyolnya dengan roman serius. “Di saat sedih atau menderita seperti apapun pasti akan ada setitik cahaya untuk kita. Oleh karena itu kita harus percaya akan datangnya hari itu dan biarkan saja apa yang terjadi pada hari ini (let it be)”. Boy ngga ngerti kenapa ia jadi melankonis kaya gini. Mungkin ia pengen membagi empati kepada Indah yang sedang down. Indah sendiri merasa senang, ia merasa bersyukur bisa bertemu, bercanda, dan dapet spirit dari Boy. Suatu hal yang membuat hatinya hangat kembali. Lama sudah ia menunggu seseorang yang dapat memotivasi hidupnya. Hari ini penantian Indah terbalas sudah.
“In, bus kamu dateng tuh!” kata Boy mengingatkan.
“Oh iya, makasih banget Boy, aku udah baekan koq!” sambil naek bus ia pesen “Boy klo sempet dateng ke kost yah, tapi telfon dulu, aku mo nyiapin surprise buat kamu!”
“OK dech, hati2x yah!” kata Boy sambil melambaikan tangannya, mengantar sosok Indah yang mulai berbaur dengan penumpang bus lainnya.
Satu kisah baru telah terukir di hati Boy. Seorang Indah telah menambah warna lukisan perjalanan hidup di sanubari Boy. Sore itu Boy hendak beristirahat sejenak, meninggalkan horizonnya yang masih berwarna biru. Perpaduan langit dan laut. Dimana birunya langit terkaca pada birunya laut dan sebaliknya. Atau mungkin kedua2xnya terkaca pada bening mata seorang gadis : kamu!2
Catatan kaki :
1. Taken From TITANIC
2. Taken From BALADA SI ROY “TRAGEDI RANSEL BIRU” By GOLA GONG
Djogjakarta, April 2000
Nama dan cerita hanyalah fiksi belaka, bila ada kemiripan dengan novel lainnya mohon dimaafkan
Ditunggu commentnya
Thanks!
