sang pertapa kini turun menapaki gunung menuju sebuah kota yang lama t'lah ditinggalkannya
melihat kembali kehidupan setelah dua dasawarsa mendekatkan diri pada alam
memandang peradaban yang kini t'lah berubah
yang s'lama ini hanya terdengar dari sang bayu yang mengalir semilir
rona merah melintas dihadapannya
melihat manusia yang kini t'lah menjelma
menjadi seperti monster hitam yang gelap dan menakutkan
membunuh, merampas, dan menenggelamkan pesona kebajikan dalam angkara
dia hanya tertunduk dan terdiam sesaat
masih adakah warisan leluhur akan kemegahan belas kasih dan kesetiaan pada mereka?
sang merak hanya dapat tertawa melihatnya
pada seonggok tulang dibalut daging yang lusuh dan berkarat
hilang sudah yang diharapkan
akan kemegahan masyarakat yang dulu dia banggakan
lirih suara dari paru-paru
tak hentaskan bilur yang menetes di dahinya
mungkin dia harus kembali ntuk bertapa
menghabiskan sisa hidupnya pada alam
dunia ini tak lagi miliknya
karena kebajikan kan tertindas oleh kerasnya peradaban
mungkin dia harus turut menjadi setan kehidupan
karna dapat memberikan penghidupan yang layak bagi mereka yang terluka
atau mungkin dia harus terus menanti
hingga pada saatnya sang penyelamat datang untuknya
sang pertapa tua
sungguh malang nasib mu
menghabiskan waktu ntuk inspirasi kehidupan yang indah
terbuang sia-sia oleh zaman