Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Wak Besi
BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Roman
Ze_Low
Oleh : Sulaiman Pirawan


ORANG di Kampung Melugai memanggil lelaki bernama Manderaup itu, lebih dikenal dengan panggilan, Wak Besi. Nama panggilan itu, tersohor, karena, keakhliannya, menempa besi, membuat parang. Bukan cuma itu, termasuk memperbaiki parang atau golok yang rusak apakah lagi. Seperti tukang jahit, bisa juga memendek kaki celana, mengecilkan baju. Seperti itulah yang dilakukan Wak Besi. Usianya termasuk senja, 70 tahun. Sebuah gubuk beratap rumba di belakang rumahnya, di situlah Wak Besi nongkrong. Namanya pandai besi, sahabatnya, api, kikir, palu mau pun air pencelup besi yang berpijar.

Hampir tiga bulan terakhir ini, suara lentingan bagaikan serunai simponi abadi dari besi yang dipalu tidak lagi kedengaran. Sakit rasa nyeri di dada membuat Wak Besi berhenti. Gubuk itu pun tampak sepi, tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Isterinya, Taefah memang sudah lama menyuruhnya berhenti. Tapi Wak Besi cuek saja. Alasan isterinya masuk akal, karena suamiya sudah tua. Pekerjaan yang satu ini, termasuk mengandalkan tulang. Selain itu, harus berhadapan dengan semburan api yang menyala dari tungku.

Kalau sakit, gimana? keluh Taefah yang telah melahirkan tiga orang anak dari perkawinannya dengan Wak Besi. Ketiga-tiga anaknya itu sarjana semuanya juga sudah pindah ke kota terkait dengan pekerjaan masing-masing. Ketiga anaknya sudah berkeluarga. Dua diantaranya perempuan, yang tertua laki-laki.

“Sejak dulu, kerjaku memang menempa besi, Efah," jawab Wak Besi suatu hari.

“Kapan berhenti,” tanya perempuan masih menyirih itu menagih janji.

“Suka-sukaku,” Wak Besi berlagak enteng.

Begitu juga anak-anaknya berkali-kali mengingatkan ayahnya itu. Setidaknya ketika mereka rombongan mudik ke Melugai, waktu lebaran. Kamba, minta dengan sangat, agar ayahnya itu lengser dari gubuk di belakang rumah mereka. Tidak lupus senada dengan Kamba, Rafitah dan Wartini pun mengatakan hal yang sama. Di benak mereka selalu terngiang-ngiang, warga kampung itu pasti mengatakan, Wak Besi terabaikan dari peduli ketiga anaknya. Mungkin lebih pedas lagi, sudah jadi orang di kota, ayahnya dibiarkan bekerja sekeras. Apa ayahnya itu, seperti urat kawat bertulang besi?

Sejak ketiga anaknya memperoleh pekerjaan tetap, mereka, mencukupi kebutuhan kedua orang tuanya itu. Sikap yang demikian, salah satu bukti jika mereka bertiga, memang sangat peduli. Tapi Wak Besi bilang, dia menyukai pekerjaan yang satu itu. Dari membakar besi, menempa, mengikir, mengasah parang, awal kehidupan yang dijalaninya dan membesar anak-anaknya. Tidak dipungkirnya, jika untuk menyekolahkan ketiga anaknya, dia harus melegohkan empat bidang kebun karet waktu itu. Karena bagi Wak Besi, pendidikan itu, penting. Ilmu pengetahuan tidak bakal habis sampai ke liang kubur. Barangkali karena pendiriannya itu pula, Wak Besi pernah mendapat penghargaan, sebagai profil keluarga teladan, khususnya dalam dunia pendidikan. Kabar gembira itu pernah dimuat dalam surat kabar, juga di layar teve di kota tempat anaknya bekerja sekarang. Sejak berita itu dimuat dalam surat kabar, warga Melugai dan sekitarya sempat gempar. Sebab sejak kemerdekaan, baru kali itulah, warga kampungnya masuk koran dan di layar teve. Wak Besi memang luar biasa, begitulah acungan jempol untuknya.

“Ayah harus jaga kesehatan. Sebaiknya, ayah duduk enak dan manis saja di rumah,” ujar Wartini anak kedua dengan lemah lembut.

“Seumur ayah, sudah tidak pantas lagi menempa besi. Kami ingin ayah menikmati hari-hari tua dengan rilek,” lanjut Rafitah menyelah.

“Jangan batasi apa yang aku kerja. Harap kamu tahu, yang penting, halal," tukas Wak Besi terlihat di atas angin.

***

BEBERAPA hari ini, Wak Besi merasa dadanya semakin membaik. Tarikan nafasnya mulai longgar. Kegemarannya membaca koran Pontianak Post, membuat benaknya tidak teramat kosong. Setidaknya dia tahu persis, bagaimana dahsyatnya tsunami di Aceh Desember 2006 yang lalu. Begitu juga dengan ganasnya lumpur Lapindo, serta penderitaan warga yang menjadi korban, sementara ganti rugi yang dijanjikan terkesan tarik ulur. Akibatnya, orang miskin bertambah banyak. Tapi Wak Besi tidak mau dicatat sebagai orang miskin, untuk memperoleh Bantuan Langsung Tunai waktu itu. Jujur saja, bukannya sombong. Karena menyadari sehari-hari mereka merasa cukup.

“Berita apa lagi,” tanya isterinya yang menyuguhnya segelas teh manis dan tiga potong ubi rebus pakai parutan kelapa sore itu. Hmmmm, enak nian rupanya.

“Macam-macam. Ada korupsi, ada politik, juga ada Pilkada,” sahut Wak Besi masih membaca Surat kabar.

“Korupsi dibaca. Baca yang bagus-bagus,” perempuan itu seperti menasehatinya. Wak Besi mendelik isterinya sambil meneguk teh manis yang disuguhkan.

“Korupsi, politik paling banyak diberitakan. Karena banyak disukai orang,” jelas Wak Besi. “Walau pun kita bukan orang politik, mengetahui tentang politik itu perlu,” lanjutnya. “Orang bilang politik itu, tidak ubahnya pedang bermata dua. Kata orang lagi, politik itu kotor,” lanjut Wak Besi menyambar sepotong ubi rebusnya.

“Korupsi itu, sejenis apa,” tanya isterinya konyol.

Wak Besi menghela nafas dalam. Korupsi yang terkenal itu tidak tahu juga? Wak Besi pun menjelaskan sedetilnya. Tahulah Taefah, korupsi itu upaya memperkaya diri sendiri, atau kelompoknya dengan menghalalkan segala cara. Jadi bukan sejenis kue ongol-ongol. "Makanya harus ada waktu untuk menyadap informasi," ketus lelaki tua itu dengan suara lantang. Kalau sampai buta informasi, mana bisa.

“Mudah-mudahan, anak kita tidak korupsi, ya," Wak Besi ngeri juga, makan uang Haram. Kelak akan dilaknat yang di atas.

“Yang korupsi itu siapa," tanya perempuan itu lebih jauh lagi..

Wak Besi menyebutkan, ada elit politik, pejabat negara, pengusaha. “Pokoknya, siapa saja bisa. Buktinya sudah banyak yang parkir di hotel prodeo," papar Wak Besi. Kalau sebagai pandai besi, mana bisa korupsi. Apanya harus dikorupsi. Artinya pandai besi, bukan lahan untuk korupsi. Korupsi besi, berarti makan besi. Belum korupsi saja, sudah berpanggang api. Wak Besi meneguk teh manisnya lagi. Tampak nikmat benar minumnya, ditemani koran yang dibelinya di terminal siang tadi.

Perempuan yang juga terbilang tua itu, tidak mau. kalah. "Aku dengar di teve tadi malam, seorang ibu sedang hamil dan seorang anaknya mati kelaparan," Taefah memegang kepalanya, hatinya seperti diiris-iris sembilu.

“Itu artinya, kamu sudah ada kemajuan,” puji Wak Besi, yang kesehariannya juga sering sebagai imam di masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Sehingga tidak berlebihan, jika lelaki yang satu ini dianggap sesepuh di Melugai.

***

MENEMPA besi kambuh lagi. Wak Besi merasa sudah sehat, sehingga dia memutuskan kembali ke alam jagat rayanya lagi. Suara lentingan besi hari pertama setelah sekian bulan sunyi senyap, bagaikan salam pembukaan.

Taefah kaget, aduh kenapa pula Wak Besi bekerja lagi. Didatanginya suaminya yang tengah memompa tungku. Dari tungku itu memuncar api yang memerah sedang memanggang sepotong besi. Perempuan yang menyayangi suaminya itu, bilang agar Wak Besi berhenti sekarang juga. Wak Besi beralasan, dia sudah menyanggupi pesanan tetangganya, memperbaiki dua buah parang.

“Mana mungkin aku membohongi mereka. Begitu selesai, aku pulang,” janjinya.

“Ingat, sebelum ashar, selesai atau tidak, harus berhenti,” ancam Taefah karena dia sangat khawatir akan terjadi yang tidak diinginkan pada suaminya.

“Ya, iya lah,” sahutnya enteng, seraya mengalihkan pembicaraan. “Efah, ikan lais yang kubeli tadi masak tempoyak, ye. Campur buah pelanjau," pintanya. “Sudah pergi sana," katanya mengusir isterinya. Perempuan itu berlalu dengan hati geram melihat tabiat suaminya yang tidak hendak berhenti dengan pekerjaannya itu.

“Janji ...... ,” ingat perempuan itu lagi.

“Pasti .......,” sanggup Wak Besi yang tengah mengikir salah satu parang yang diperbaikinya itu.

Taefah segera berlalu dari gubuk itu. Sesampai di rumah, dia langsung mengerjakan permintaan Wak Besi, sayur ikan lais tadi. Tidak lama berselang, suaminya datang tertatih-tatih sambil memegang dadanya. Wak Besi mengerang-erang, dadanya serasa ditusuk-tusuk dengan jarum. Wak Besi digiring isterinya ke kamar dan merebahkan badan yang kian ujur itu di pembaringan.

“Kan aku sudah bilang, jangan bekerja lagi,” perempuan itu tampak kesal, karena suaminya yang membandel. Taefah mulai tampak panik, melihat suaminya dalam kepayahan manakala menarik nafas.

“Minta air putih,” erang Wak Besi kepada isterinya. Suaranya bagai sangkut di kerongkongan. Taefah bergegas ke dapur dan kembali ke kamar, membawa segelas air yang diminta suaminya . Tidak lebih tiga teguk air putih masuk lewat kerongkongan, gelas di tangan terlepas dan pecah di lantai. Itulah saatnya perempuan yang setia itu terpekik, ketika melihat kepada Wak Besi terkulai ke sebelah kanan. Tangisnya pun berderai, sambil memeluk suaminya yang kaku.

Para tetangga pun berdatangan. Mereka menitikkan air mata, ketika mengetahui Manderauf, alias Wak Besi telah berpulang ke rahmatullah.

Pontianak, Februari 2008

(Sulaiman Pirawan, sastrawan, tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang H Nawawi 68 Pontianak)
mas_kabul
artikel nya lumanyan panjang bos.
eternal_eross
baguss.. keep posting bro
jovi_jos
luv melulu deh... smile.gif
eric_zamora
awwwww
ekaok
bagusss
sibaranun
bagus bro..
AWSANDI7
ciaamik
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.