Jump to content



 

 

SEJARAH KELAM BANGSA INDONESIA


35 replies to this topic

#1 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 03 July 2008 - 10:50 AM

Tujuan saya menulis artikel ini adalah sebagaimana saya mengenang bangsa Indonesia ini yang saya cintai, meski saya merupakan warga keturunan, namun saya merupakan anak bangsa Indonesia yang lahir dan dibesarkan di Negara Indonesia.
Saya sangat berharap sekali kepada mereka-mereka yang nantinya membaca buku ini dapat mengambil hikmat dari buku ini. Semoga dari seluruh tulisan saya ini bisa bermanfaat dan berguna untuk membangun citrarasa bangsa Indonesia ini kembali seperti sediakala seperti Indonesia yang dahulu. Indonesia yang ramah tamah, Indonesia yang penduduknya selalu murah senyum dan berhati luhur kepada siapa saja. Indonesia yang cinta akan kedamaian saling tolong menolong dalam menyelesaikan segala permasalahan meski persoalan yang bertubi-tubi menhujam bangsa ini.
Seperti hal-nya saya hanya’lah manusia biasa. Apalagi hanya sebagai orang awam yang begitu iba melihat segala bencana dan kejadian yang menimpa bangsa ini bangsa yang kita sayangi.
Dimana bangsa yang pernah membuat kagum setiap turis yang berkunjung ke Indonesia. Dimana bangsa yang telah membesarkan kita. Tak satupun dari mereka (orang asing) berkomentar jelek tentang bangsa ini. Mereka sungguh mengagumi segala kebudayaan dan alam Indonesia yang asri serta penduduknya yang sangat baik dengan tutur kata dan berhati luhur. Murah senyum kepada setiap orang. Kemana perginya sifat orang Indonesia yang membanggakan itu, kemana hilangnya citrarasa keaslian penduduk Indonesia ini.

Indonesia negeri indah yang dilintasi garis khatulistiwa. Negeri dimana terdiri dari beribu-ribu kepulauan yang membujur dari pulau Sabang hingga pulau Merauke. Mendengar membujur dari Sabang hingga Merauke, pastinya kita akan menyadari betapa luasnya Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Negera yang memiliki berjuta penduduk tersebar hingga pelosok Nusantara. Beraneka ragam kebudayaan, adat istiadat, suku bangsa, bahasa, dan agama. Namun tetap teguh kokoh meski tak berasal dari satu suku bangsa.
Keindahan panorama alam Indonesia yang asri mampu membuat berjuta-juta para turis berbondong-bondong datang ke Indonesia, yang hanya ingin menikmati keasrian alam Indonesia dan keramah tamahan penduduknya. Sungguh bukanlah sebuah dongeng dan isapan jempol cerita yang sering digunakan untuk menina bobo-kan anak kecil di waktu malam bahwa Indonesia adalah negara terindah akan alam dan kebudayaannya yang terkenal hingga ke mancanegara sampai saat ini.
Sebagai bagian dari bangsa ini sepatutnya bangga dan senang bahwa kita telah dilahirkan dan dibesarkan ditanah air tercinta ini. Mengapa kita harus malu mengakui bahwa kita adalah warga negara Indonesia, malu’kah kita bila memang benar kita adalah anak bangsa Indonesia, malu’kah kita bila kita mencintai Indonesia yang kaya akan segala yang terkandung didalam perut Ibu Pertiwi yang selama ini membesarkan kita, atau malu’kah kita bila mengakui bangsa kita merupakan rakyat yang ramah dengan segala keluguannya. Tidak!!! Kita sebagai bagian dari Indonesia mengapa kita harus malu akan negara kita sendiri, negara yang sekian abad lamanya diperjuangkan oleh pejuang-pejuang yang menumpahkan darah dan nyawa mereka hanya demi memberikan kebebasan bagi anak cucunya sebagai bangsa penerus cita-cita dan keinginan mereka dimasa yang akan datang sekarang ini.

Sepatutnya kita malu akan segala apa yang telah kita perbuat sekarang untuk bangsa ini. Saat ini kita bisa dengan bebas menghirup udara kebebasan hasil dari darah nenek moyang kita, kita bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya tanpa ada larangan atau peraturan seperti pada jaman penjajahan yang pernah terjadi di masa bangsa ini di jajah oleh kekuatan asing. Hanya bagi darah bangsawan yang boleh mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Namun dengan segala yang kita dapatkan, apa yang mampu kita berikan? apa yang telah kita persembahkan untuk menjaga keberlangsungan bangsa ini? Tidak ada satu pun dapat kita berikan untuk bangsa ini! selain malah menghancur luluh lantahkan tanah air Indonesia ini sendiri. Seberapa luas tanah Indonesia ini yang telah diperkosa oleh tangan-tangan kotor perusak penerus bangsa.

Apa yang bisa kita persembahkan bagi bangsa ini bila saat keadaan yang semakin suram menyelubungi masa depan bangsa ini? Apakah kita hanya akan berdiam tanpa ada tindakkan yang kita berikan! Apakah kita hanya pintar berkomentar tanpa ada gerakan untuk merubahnya! apakah kita hanya dapat berunjuk rasa menyuarakan keinginan kita tanpa berusaha meyakinkan dari apa yang kita suarakan!

Lalu bagaimana dengan setiap mereka yang duduk nyaman di bangku kebanggaan mereka, sementara tepat diluar sana di tengah-tengah rakyatnya sedang kesulitan, apakah mereka hanya berpura-pura tak melihat dan tak mendengar atas segalanya itu, apakah mereka hanya pintar menarik perhatian dan simpatik rakyat demi jabatan mereka dan melupakan segala mulut bulusnya akan tugas mereka sebagai penyuara hati rakyat, saat tunggirnya telah merasakan kenyamanan kursi dan sejuknya ruangan yang memanjakan, sampai terlelap dalam mimpi indah saat Presiden yang sedang membicarakan kepentingan rakyatnya. Apa ini yang disebut reformasi menuju Indonesia Baru. Tidak!!! Ini namanya “REFORMASI MENUJU KEHANCURAN”.

Semenjak tahun 1997 saat Indonesia mengalami peristiwa yang disebut dengan krisis moneter dimana inflasi harga rupiah di pasar dunia menurun dan bahan pokok yang merupakan bahan kebutuhan sehari-hari pun ikut menjulang tinggi. Bangsa ini mulai goyang dalam segala aktivitasnya. Banyak perusahaan yang mulai gulung tikar karena kehilangan dana pembiayaan operasionalnya karena dampak krisis moneter ini. Tahun 1998 hingga saat ini, Indonesia diberi cobaan yang berat dalam segala segi kepemerintahan.
Rakyat yang dahulu lugu dan dikenal akan keramah tamahannya hanya tinggal beberapa persen dari jumlah seluruhnya. Yang masih tetap berpegang teguh pendirian akan adat istiadatnya hanya mereka yang sungguh menghargai bangsa ini. Namun mereka yang merasa dirinya benar selalu berkelakuan sombong dan menginjak hak dan martabat bangsanya sendiri.
Berlomba-lomba memenangkan dirinya dan memuaskan segala nafsu dunia akan kekuasaan dan harga diri tanpa memikirkan kepentingan rakyat kecil yang memilihnya, hingga mereka dapat meraih nikmat dan hidup senang menerima segala kenyamanannya hingga saat ini. Sedangkan rakyat hanya menunggu janji yang tak pernah kunjung datang seperti apa yang dijanjikan sebelumnya. Semuanya seakan kata dan janji busuk para mereka penikmat dunia.

“Tong kosong nyaring bunyinya” begitu’lah kira-kira pribahasa yang cocok mengambarkan sifat mereka yang berhati bulus. Memang tak seluruh dari mereka yang berjuang untuk dirinya sendiri, ada beberapa dari mereka yang dengan tulus memperjuangkan teriakan rakyat kecil, hanya saja ruang gerak mereka terbatas dari segala segi, ketidakmampuan mereka mungkin dikarenakan dari berbagai aspek yang menekan mereka, seperti hal yang terjadi pada salah satu aktivis yang jujur yang dalam langkahnya memperjuangkan suara rakyat, Munir. Meninggal dengan sejuta tanda tanya, seseorang disana menginginkan mulutnya terbungkam untuk selamanya. Mungkin Munir telah membongkar kebusukannya atau permainan licik atas segala tindakan yang merugikan untuk negara ini. Hingga akhirnya Munir pun dijadikan sasaran keji mereka para lintah bangsa.
Dalam politik hal seperti ini memang kerap terjadi di kalangan petinggi negara, semua yang bicara adalah materiil. Siapa yang lebih kaya maka dia’lah yang dianggap sebagai pemenang, sedangkan mereka para penyuara rakyat hanya kalah dan terinjak-injak. Segalanya memang sangat mungkin terjadi dimana saja. Tak hanya di atas sana yang saling menjatuhkan demi merebut kursi jabatan. Di tengah-tengah kebisingan Ibukota Jakarta pun tak jauh beda.

Bersama berjalannya waktu, rakyat yang dulu hanya mengangguk patuh dengan segala hal dan sopan dalam segala prilaku, kini berubah seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern. Mungkin juga karena sudah terlalu kenyang lapar jiwanya yang hanya menerima janji-janji dari orang yang picik hatinya. mereka (rakyat) berangsur menyadari atas segala kebohongan mereka karena selama ini hanya mengangguk dan terima segala kebohongan yang disuguhkan. Saat membutuhkan dukungan suara dalam pemilihan dari berbagai kampanye, rakyat dielus-elus demi mendapat dukungan suara, namun saat kampanye selesai maka selesai pula sandiwara yang dimainkan saat kampanye. Satu persatu janji hilang dan dilupakan begitu saja. Tanpa ada rasa salah sedikitpun mereka melupakan segala janji yang mencuat dari mulut mereka. Mempermainkan rakyat yang telah memberi mereka makan, pakaian, serta hidup mewah yang berasal dari pajak sebagai pendapatan pemerintah setiap tahunnya.

Beragam musibah dan peristiwa yang terjadi silih berganti menimpa dan menhujani bangsa ini terus menerus hingga akhirnya bangsa ini menjadi liar tak terkendali. Satu persatu rakyat mulai bergerak dari diamnya. Tak ingin merasa dilecehkan seperti sedia kala, merasa tak ingin di bohongi lagi dari segala janji manis yang berujung kekecewaan. Kini rakyat tak hanya berani berkomentar namun rakyat lebih berani dalam melakukan segala hal yang mungkin menyinggung hati mereka.
Apakah semua kejadian yang terjadi di negara ini merupakan sifat dari anak bangsa yang dulu pernah dibanggakan oleh negara lain, atau semua ini karena anak bangsa yang kian hari terlalu sering menghirup racun yang terbawa oleh orang asing yang sengaja menjatuhkan bangsa ini didalam keterpurukkan hingga perlahan semakin hilang moral dan martabatnya kepada bangsa dan negaranya.

Bangsa Indonesia merupakan negara yang kayaraya akan hasil alamnya, yang pernah dikatakan bahwa kekayaan bangsa Indonesia tidak akan habis-habisnya digunakan hingga keturunannya. Segala hasil bumi dan bahan tambang terkandung melimpah di tanah Ibu pertiwi Indonesia ini, namun pertanyaannya adalah apakah dari segala hasil kekayaan bangsa ini dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia, Tidak! Yang merasakan nikmatnya hanya mereka yang berlidah manis dengan kepintarannya memikat hati orang orang yang suka disanjung akan kehebatannya. Sedangkan rakyat hanya dapat melihat dan mengagumi segala hasil itu tanpa bisa berbaur. Mereka yang merasa dirinya hebat selalu menyeringai sombong terhadap rakyat yang berada di bawahnya, hingga bila kita perhatikan di tengah bisingnya ibukota Jakarta ini, begitu banyaknya pengemis yang mengais rasa kasihan atas lembaran rupiah yang kusam di balik saku celana kita. Mereka berjuang dibawah teriknya matahari yang menyengat diantara bisingnya lalu lintas kepadatan kota Jakarta yang kejam, di tengah deru debu yang keluar dari asap knalpot kendaraan roda dua dan roda empat.
Segalanya mereka lakukan hanya demi secuil rejeki yang tak pernah dapat ditakar. Terkadang mereka tak jarang harus menahan lapar yang mengeragoti perut mereka berhari-hari hingga mendapatkan selembaran rupiah untuk membeli secuil makanan penganjal perut mereka telah lapar berhari-hari lalu.
Bisa kita lihat hingga sekarang ini, hampir disetiap sudut lampu merah kota Jakarta di bawah tiang lampu lalu lintas. Anak-anak kecil yang masih mengenahkan seragam putih merah rela berpanas-panasan membantu orang tua mereka yang juga berada bersama mereka. Tak lain adalah menjadi pengemis sepulang sekolah mereka, ada yang menggamen (menyanyikan beragam lagu di dalam kendaraan umum atau di mobil-mobil pribadi yang tengah berhenti di lampu merah), ada pula yang membawa kain pembersih. Menawarkan jasa membersihkan kaca jendela mobil dengan upah seikhlasnya, namun tak jarang pula mereka hanya menerima pandangan sinis dari pemilik mobil yang takut cat mobil mahalnya lecet atau tergores karena di senderi (menempelkan badan ke sebuah bidang) oleh mereka yang mencoba membersihkan kaca jendela atau juga hanya berupa bahasa tangan yang mengusir mereka. Mungkin dari sekian banyak mobil yang mereka datangi hanya satu sampai dua kendaraan saja yang menghargai mereka sebagai manusia yang sama derajatnya di mata Tuhan Yang Maha Esa.

Semua ini bukanlah keinginan mereka. Mereka tak dapat memilih atas nasib yang mereka jalani. Mereka juga berkeinginan yang sama seperti kita, sebagai bagian dari bangsa ini. Bisa hidup tentram dan berpendidikan tinggi seperti layaknya anak-anak lain yang sedang senang-senangnya di masa kanak-kanaknya. Berlari kesana kemari, tertawa lepas bersama teman-teman sebayanya. Mereka juga manusia yang bercita-cita tinggi, yang berkeinginan seperti yang kita inginkan, hanya saja mereka berada dalam garis nasib yang berbeda dengan orang lain yang hidup serba berkecukupan.
Tak jauh berbeda juga dengan anak-anak kecil yang berseragam merah putih hilir mulir di antara mobil-mobil pribadi sambil mengulurkan kedua tangannya yang kotor hitam bercampur keringat dan kotornya debu jalanan. Ini bukan profesi mereka, ini hanya sekedar membantu beban orang tuanya yang mencari nafkah untuk anggota keluarganya. Tak jarang mereka juga terpaksa menunda segala kebutuhan mereka disekolah karena terbatasnya biaya. Ada pula teman-teman mereka yang terpaksa berhenti sekolah dan memupuskan segala cita-cita mereka. Segala cita-cita yang sempat terlintas, namun mereka secara perlahan sadar akan keterbatasan dan kemampuan keluarga mereka.

Tak jarang anak-anak yang putus sekolah karena tak mampu atas biaya sekolah. Memang pemerintah selalu mencanangkan wajib belajar “sembilan tahun”, biaya sekolah gratis bagi keluarga yang memiliki kartu keluarga miskin, biaya buku pelajaran gratis sering. Tak jarang acap kali sering kita suka saksikan program iklan yang pemerintah keluarkan tentang pendidikan gratis bagi mereka yang kurang mampu. Kenyataannya memang mungkin pemerintah memberikan santunan biaya kepada masyarakatnya, namun sayangnya pemerintah kita kurang mampu mengawasi dana biaya yang disalurkan itu berjalan. Tak seperti yang kita bayangkan dalam jalur penyampaian dana santunan itu. Dana yang dikeluarkan pemerintah dapat berupa sekian juta saja sampai pada tujuan padahal dana yang dianggarkan bisa sepuluh kali lipat dari yang sampai. Semua itu dikarenakan bangsa ini sudah terkena sebuah penyakit yang mengakar. Tak segan-segan mereka yang rakus melahap semua dana santunan yang seharusnya mereka berikan kepada keluarga yang tak mampu.
Tak segan-segan tanpa ada rasa malu mereka merampas hak orang miskin yang tak mampu yang lebih membutuhkannya.

Bangsa ini semakin terpuruk moralnya. Kesalahan siapakah ini semua? Siapa yang patut bertanggung jawab atas segalanya? Kita semua yang merasa sebagai anak bangsa dan bagian dari bangsa ini yang bertanggung jawab membenahi tata pemerintahan Indonesia yang telah bobrok dari tahun ke tahun.

*****

DAFTAR ISI

Kerusuhan Medan dan Sekitarnya

Tragedi Trisakti

Kerusuhan Mei 1998

Kerusuhan Poso

Kerusuhan Sampit

Terorisme

Bom Bali I, Kuta Bali
Bom Bali II, Kuta Bali
Bom JW Marriott, Mega Kuningan
Bom Kedutaan Besar Australia

***




Kerusuhan Medan dan Sekitarnya


Aksi unjuk rasa yang dikumandangkan setiap hari di berbagai kota besar Indonesia sudah mendekati titik puncaknya. Masyarakat sudah tidak dapat menahan emosi dan rasionalis lagi. Dalam keadaan seperti ini masyarakat akan sangat mudah untuk dipengaruhi dan diajak melakukan tindakan yang tidak terpuji. Mereka kehilangan kesabaran karena harus menunggu sangat lama reaksi dari wakil rakyat atas kehendak mereka yang disuarakan oleh mahasiswa. Mereka sangat yakin dan selalu mendukung mahasiswa, sayangnya tidak dengan wakil rakyat.

Mahasiswa Medan sangat aktif dan terus reaktif atas tindakan pasif wakil rakyat yang tidak mendengar suara mereka. Padahal mereka melakukan aksi hampir setiap hari dan sudah turun ke jalan bersama masyarakat untuk menuntut Reformasi di segala bidang. Keberhasilan mahasiswa Medan turun ke jalan manyampaikan aspirasinya bergabung dengan masyarakat memiliki efek samping. Masyarakat Medan terlanjur tak terkendali dan mulai melakukan keonaran.

Medan merupakan kota besar pertama yang dilanda kerusuhan besar berkaitan dengan Reformasi. Mulai dari hari Senin, 4 Mei 1998 pecah kerusuhan sampai hari Kamis 7 Mei 1998. pembakaran, perusakan dan penjarahan terhadap toko-toko, dan kendaraan terjadi selama beberapa hari. Tampaknya mahasiswa tidak mampu mengendalikan perusuh, tidak juga aparat keamanan.

Kerusuhan ini menjalar terus sampai ke luar kota Medan seperti Lubuk Pakam kabupaten Deli Serdang dan kota-kota kecil lainnya disekitar Medan. Kerusuhan kasih berlanjut walau dalam skala lebih kecil pada hari Kamisnya juga.

Dampak dari kerusuhan adalah lumpuhmya perekonomian kota Medan dan sekitarnya. Penduduk Medan keturunan cina juga pergi meninggalkan kota karena merasa keamanan mereka tidak terjamin, walau ada juga yang tinggal untuk melindungi harta benda mereka supaya tidak dijarah. Selama beberapa hari masyrakat kesulitan mendapat bahan makanan pokok.

Setelah peristiwa kerusuhan 13 Mei 1998 di Jakarta, dibentuk TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta), yang juga mengeluarkan rekomendasi mengenai keterkaitan peristiwa kerusuhan di Medan ini dengan kerusuhan di berbagai daerah lainnya selama bulan Mei 1998. disebutkan pula keterlibatan provokator yang mengajak masyarakat untuk melakukan kerusuhan dengan pola yang sama yang terjadi di berbagai daerah. Rupanya niat suci manusia dan yang lebih hebat lagi orang-orang ini memiliki jaringan ‘nasional’.



Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II

Bagaimana pun juga sebuah peristiwa yang terjadi disebuah tempat atau daerah yang melibatkan lebih dari 1 orang dalam kejadian itu serta mampu meliputi dibeberapa tempat dan teringat oleh banyak orang maka dengan sendirinya peristiwa tersebut akan disebut dengan sejarah. Namun dalam spesifikasi kata sejarah dapat juga terbagi menjadi dua bagian yang terpisah yang juga memiliki arti tersendiri. Pertama sejarah yang selalu dikenang karena peristiwa yang mengagumkan banyak orang karena peristiwa yang mengkisahkan kepahlawanan seseorang tokoh atau tempat. Sedangkan sejarah kelam, kelam dapat diartikan dengan pengartian gelap atau tak terlihat atau tak ingin di lihat. Dalam sejarah kelam ini biasanya sejarah mencatat sebagai sebuah peristiwa yang dikenang oleh orang banyak akan peristiwa yang terjadi didalamnya, namun dalam kenangan tersebut bukan sebuah kenangan yang menyenangkan, tapi lebih tepatnya dikenang karena dalam peristiwa atau sejarah tersebut terdapat orang-orang atau anggota keluarganya terlibat didalamnya hingga menghilangkan nyawa yang melebihi dari satu jiwa. Banyak peristiwa atau sejarah yang pernah terjadi di bangsa Indonesia ini, terutama sejarah yang kelam pada sisi bangsa Indonesia. Bagaimanapun juga dan karena sebab apa pun, sebuah sejarah yang terjadi, patuhnya kita menghargai sejarah itu, tanpa sejarah itu maka tanpa ada pula perubahan yang terjadi. Bagaimanpun juga sejarah tersebut telah terlanjut terukir dan tertulis di dalam sejarah negara Indonesia. Lalu pada diri kita sendiri, mari kita mengambil hikmat dari cobaan yang diberikan kepada negara ini. Siapa yang patut disalahkan?, dan siapa yang patut bertanggung jawab? Hingga saat ini tidak ada diantara kita yang mampu menjelaskan. Patutnya kita kembali bersatu padu dalam menyelesaikan segala persoalan yang telah memperkeruh persatuan dan kesatuan bangsa ini. Siapapun juga yang menjadi dalang atas terjadinya peristiwa ini, tentunya mereka ingin menghancurkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terkenal akan ketegaran dan kekuatannya dalam keyakinan berbangsa dan bertanah air. Seperti contoh sejarah kelam yang sekitar 10 tahun yang lalu pernah terjadi dan mencoreng bangsa Indonesia di mata dunia Internasional atas tindakannya yang membabi buta menghabisi anak bangsa-nya sendiri. Anak bangsa yang bahwa kelak nanti membawa bangsa ini sendiri ke Indonesia di masa depan. Bagaimana pun juga semua itu merupakan hal dan peristiwa yang telah berlalu dan meski sangat amat disayangkan dialami oleh bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai bangsa yang sopan dan baik hati.

Kejatuhan perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini supaya dapat keluar dari krisis ekonomi. Pada bulan Maret 1998, MPR saat itu walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagai Presiden RI. Tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Cuma ada jalan demonstrasi supaya sura mereka didengarkan.

Demonstrasi digulirkan sejak sebelum Sidang Umum MPR 1998 diadakan oleh mahasiswa Yogyakarta dan menjelang serta saat diselenggarakan SU MPR 1998 demonstrasi mahasiswa semakin menjadi-jadi di banyak kota di Indonesia termasuk Jakarta, sampai akhirnya berlanjut terus hingga Mei 1998. insiden besar pertama kali adalah pada tanggal 2 Mei 1998 di depan kampus IKIP Rawamangun Jakarta, karena mahasiswa dihadang Brimob dan di Bogor karena mahasiswa non-IPB ditolak masuk ke dalam kampus IPB sehingga bentrok dengan aparat. Saat itu demonstrasi gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta merencanakan untuk secara serentak melakukan demonstarasi turun ke jalan di beberapa lokasi sekitar Jabotabek. Namun yang berhasil mencapai jalan hanya di Rawamangun dan di Bogor sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka dan masuk rumah sakit.
Setelah keadaan semakin panas dan hampir setiap hari ada demonstrasi tampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap mahasiswa apalagi sejak mereka berani turun ke jalan.

Pada tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa Trisakti melakukan demostrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden Indonesia saat itu yang telah terpilih berulang kali sejak awal orde baru. Mereka juga menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak tahun 1997.
Mahasiswa bergerak dari kampus Trisakti di Grogol menuju ke gedung DPR/MPR di Slipi. Namun mahasiswa dihadang oleh aparat kepolisian yang mengharuskan mereka kembali ke kampus dan sore harinya terjadilah penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Penembakkan itu berlangsung sepanjang sore hari dan mengakibatkan empat mahasiswa Trisakti meninggal dunia dan puluhan orang lainnya baik mahasiswa dan masyarakat masuk rumah sakit karena terluka.

Keempat mahasiswa Trisakti yang menjadi korban penembakkan yang berujung meninggalnya mahasiswa tersebut, antara lain adalah :

1.Elang Mulya Lesmana

2.Heri Hertanto

3.Hafidin Royan

4.Hendriawan Sie

( 20 tahun, Mahasiswa Trisakti, Jakarta. Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998)
Lahir tahun 1978, adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti yang meninggal karena ditembak sewaktu berlangsungnya demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi atas pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998. peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Trisakti.
Hendriawan Sie ditembak pada bagian lehernya ketika ia berdiri dibalik pagar, di lingkungan kampus Trisakti. Ia segera dibawa ke rumah sakit Sumber Waras yang tidak jauh dari kampus tersebut, namun nyawanya tidak tertolong. Hendriawan dikebumikan di TPU Islam Al Kamal, Jakarta Barat.
Kematian Hendriawan bersama tiga rekannya disusul oleh “Peristiwa 13 Mei” yang diwarnai oleh pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran terhadap sejumlah perempuan Tionghoa Indonesia. Bersamaan dengan itu terjadi pula pembakaran atas sejumlah gedung, toko dan pusat perbelanjaan yang menelan ribuan korban jiwa yang ikut terbakar di dalamnya.

Kronologis Tragedi Trisakti
Betapa brutalnya aparat keamanan pada saat insiden ini berlangsung. Aparta keamanan yang seharus dan semestinya tugasnya adalah mengamankan keadaan dan menjaga ketertiban, namun disini dapat kita lihat sifat asli dari para aparat tersebut. Dengan membabi buta aparat menembakki para mahasiswa yang hanya bersenjatakan jas almaternya melawan aparat keamanan yang terlatih dengan bersenjata lengkap.
Layaknya binatang mereka menembaki para anak bangsa yang berlarian menghindari kegilaan aparat. Bagaikan alat negara yang hilang akal sehatnya, mereka menginjak-injak martabat dan hak asasi manusia.

•10.30-10.45
Aksi damai civitas akademika Universitas Trisakti yang bertempat di pelantaran parkir depan gedung M (Gedung Syarif Thayeb) dimulai dengan pengumpulan segenap civitas Trisakti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan universitas serta karyawan. Berjumlah sekitar 6000 orang di depan mimbar.

•10.45-11.00
Aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama oleh peserta mimbar bebas, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa Indonesia sekarang ini.

•11.00-12.25
Aksi orasi serta mimbar bebas dilaksanakan dengan para pembicara baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut terus berjalan dengan baik dan lancar.

•12.25-12.30
Massa mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas (jalan layang) dan menuntut untuk turun (long march) ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang arah Jalan S. Parman.

•12.30-12.40
Satgas mulai siaga penuh (berkonsentrasi dan melapis barisan depan pintu gerbang) dan mengatur massa untuk tertib dan berbaris serta memberikan himbauan untuk tetap tertib pada saat turun ke jalan.

•12.40-12.50
Pintu gerbang dibuka dan massa mulai berjalan keluar secara perlahan menuju Gedung MPR/DPR melewati kampus Untar.

•12.50-13.00
Long march mahasiswa terhadang di depan pintu masuk kantor Walikota Jakarta Barat oleh Barikade aparat dari kepolisian dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.

•13.00-13.20
Barisan satgas terdepan menahan massa, sementara beberapa wakil mahasiswa (Senat Mahasiswa Universitas Trisakti) melakukan negosiasi dengan pimpinan komando aparat (Dandim Jakarta Barat, Letkol (Inf) A Amril, dan Wakapolres Jakarta Barat). Sementara negosiasi berlangsung, massa terus berkeinginan untuk terus maju. Di lain pihak massa yang terus tertahan tak dapat dihadang oleh barisan satgas samping bergerak maju dari jalur sebelah kanan. Selain itu pula masyarakat mulai bergabung di samping long march.

•13.20-13.30
Tim negosiasi kembali dan menjelaskan hasil negosiasi di mana long march tidak diperbolehkan dengan alasan oleh kemungkinan terjadinya kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan kerusakan. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya tersebut merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju. Dilain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) sejumlah 4 truk.

•13.30-14.00
Massa duduk. Lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan. Aksi damai mahasiswa berlangsung didepan bekas kantor Walikota Jabar. Situasi tenang tanpa ketegangan antara aparat dan mahasiwa. Sementara rekan mahasiswa membagikan bunga mawar kepada barisan aparat. Sementara itu pula datang tambahan aparat dari Kodam Jaya dan satuan kepolisian lainnya.

•14.00-16.45
Negosiasi terus dilanjutkan dengan komando (Dandim dan kapolres) dengan dicari pula terobosan untuk menghubungi DPR/MPR. Sementara mimbat terus berjalan dengan diselingi teriakan yel-yel maupun nyanyian-nyanyian. Walaupun hujan turun massa tetap tak bergeming. Yang terjadi akhirnya hanya saling diam dan saling tunggu. Sedikit demi sedikit massa mulai berkurang dan menuju ke kampus.

•16.45-16.55
Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negosiasi dimana hasil kesepakatan adalah baik mahasiswa dan aparat keamanan sama-sama mundur. Awalnya massa menolak tapi setelah dibujuk oleh Bapak Dekan FE dan Dekan FH Usakti, Adi Andojo SH, serta ketua SMUT massa mau bergerak mundur.

•16.55-17.00
Diadakan pembicaraan dengan aparat yang mengusulkan mahasiswa agar kembali ke dalam kampus. Mahasiswa bergerak masuk kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut agar pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Kapolres dan Dandim Jakarta Barat memenuhi keinginan mahasiswa. Kapolres menyatakan rasa terima kasih karena mahasiswa sudah tertib. Mahasiswa kemudian membubarkan diri secara perlahan-lahan demikian pula aparat. Namun tiba-tiba seorang oknum yang bernama Mashud yang mengaku sebagai alumni (sebenarnya tidak tamat) berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut dikira salah satu aparat yang menyamar.

•17.00-17.05
Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara aparat dan massa mahasiswa. Pada saat petugas satgas, ketua SMUT serta Kepala Kamtibpus Trisakti mengadakan negosiasi kembali dengan Dandim serta Kapolres agar masing-masing baik massa mahasiswa maupun aparat untuk sama-sama mundur.

•17.05-18.30
Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, diantara barisan aparat ada yang meledek dan menertawakan serta mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian massa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan tetapi dapat diredam oleh satgas mahasiswa Trisakti.
Pada saat bersamaan barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Pada saat kepanikan tersebut terjadi, aparat melakukan penembakan yang membabi buta, pelemparan gas air mata di hampir setiap sisi jalan, pemukulan dengan pentungan dan popor, penendangan dan penginjakkan, serta pelecehan seksual terhadap para mahasiswi. Termasuk ketua SMUT yang berada diantara aparat dan massa mahasiswa tertembak oleh dua peluru karet dipinggang sebelah kanan.
Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan layang Grogol. Sementara aparat yang lainnya sambil lari mengejar mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya beberapa mahasiswa dan mahasiswi, lalu membiarkan begitu saja mahasiswa dan mahasiswi tergeletak di tengah jalan. Aksi penyerbuan aparat terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan yang terarah ke depan gerbang Trisakti. Sementara aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan tembakkannya ke arah mahasiswa yang berlarian ke dalam kampus.
Lalu sebagian aparat yang ada di bawah kampus menyerbu dan merapat ke pintu dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakkan yang terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik korban luka atau korban meninggal dunia. Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang dan satu orang lainnya di rumah sakit memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Aparat terus menembaki dari luar. Puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam kampus.

•18.30-19.00
Tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa mulai membantu mengevakuasi korban yang ditempatkan di beberaoa tempat yang berbeda-beda menuju RS.

•19.00-19.30
Rekan mahasiswa kembali panik karena terlihat ada beberapa aparat berpakaian gelap disekitar hutan (parkir utama) dan sniper (penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun. Mahasiswa berlarian kembali ke dalam ruang kuliah maupun ruang ormawa ataupun tempat-tempat yang dirasa aman seperti musholla dan dengan segera memadamkan lampu untuk bersembunyi.

•19.30-20.00
Setelah melihat keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani untuk keluar dari ruangan. Lalu terjadi dialog dengan Dekan FE untuk diminta kepastian pemulangan mereka ke rumah masing-masing. Terjadi negosiasi antara Dekan FE dengan Kol. Pol Arthur Damanik, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan syarat pulang dengan cara keluar sedikit demi sedikit (per lima orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman.

•20.00-23.25
Walau masih dalam keadaan ketakutan dan trauma melihat rekannya yang jatuh korban, mahasiswa berangsur-angsur pulang.
Yang luka-luka berat segera dilarikan ke RS. Sumber Waras. Jumpa Pers oleh pimpinan universitas. Anggota Komnas HAM datang ke lokasi.

•01.30
Jumpa pers Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin di Mapolda Metro Jaya. Hadir dalam pers itu Pangdam Jaya Mayjen TNO Sjamsoeddin, Kapolda Mayjen (Pol) Hamami Nata, Rektor Usakti Prof. Dr. Moedanton Moertedjo, dan dua anggota Komnas HAM AA Baramuli dan Bambang W Soeharto.

Dari insiden berdarah atas penembakkan mahasiswa Trisakti yang mengakibatkan gugurnya anak bangsa ini. Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Hamami Nata menyatakan kepada para wartawan, bahwa kematian enam mahasiswa itu masih diteliti, sambil menunggu hasil visum et repertum. Karena menurutnya polisi hanya menggunakan tongkat pemukul, peluru kosong, peluru karet, dan gas air mata.
Sebuah penuturan yang sungguh mengelitik. Bagaimana tidak! Insiden ini jelas-jelas berasal dari tembakkan yang berasal dari senapan mesin aparat yang ditembakkan berkali-kali tanpa melihat lawannya berdaya atau tidak, laki-laki atau wanita. Semua di serang secara membabi buta.
Disini saya tidak mengatakan atau menyatakan siapa yang salah atau siapa yang patut disalahkan. Namun yang coba saya ungkapkan keganjilan-keganjilan dari kronologis insiden ini, antaranya :

•Dalam suatu barikade atau kesatuan, tentunya ada suara yang mengerakkan penembakkan ini atau yang sering dikenal dengan komando utama.

•Pada saat terjadi penembakkan pertama, dimana keberadaan Komandan barisan yang memberikan aba-aba tersebut, atau komando tersebut adalah berasal darinya. Bila bukan aba-aba dari Komandan barisan, mengapa ia (Komandan atau Perwira Tinggi yang memiliki wewenang atas memerintah barisannya) tak menghentikan aksi penembakkan gila yang menjatuhkan korban dari massa mahasiswa untuk memberikan perintah “menghentikan aksi penyerangan tersebut”. Atau barangkali Komandan yang memang sedang tidak berada di tempat (absen).

•Sebuah pasukan tak akan berani mengambil tindakkan atas penyerangan kepada siapa saja kalau tak dibebankan perintah atau komando dari Komandannya. Tak mungkin pula suatu kesatuan keamanan (tersebut mengambil inisiatif sendiri untuk menyerang massa mahasiswa yang pada saat itu berada dalam kampus Trisakti). Mengapa, karena setiap anggota dari kesatuan mana pun mereka. Pada dasarnya mereka pasti telah mengetahui dengan pasti pelanggaran apa yang akan menimpa mereka, bilamana mereka (anggota kesatuan) melanggar perintah dari atasannya.

•Siapa yang memberikan komando lanjutan untuk melakukan penyerangan, padahal saat itu para mahasiswa telah berada di dalam kampusnya. Padahal dalam peraturan peperangan, siapapun lawan kita, bila ia telah tak berdaya atau menyerah atas suatu penyerangan. Maka tak berhak kita terus melakukan penyerangan atau penganiayaan yang berujung kematian atau hilangnya suatu nyawa seseorang.

Apakah dari insiden diatas terjadi karena adanya oknum yang berusaha menungganginya, atau merupakan insiden murni antara aparat keamanan dan massa mahasiswa. Bagaimana pun juga amat disayangkan insiden dengan tewasnya anak bangsa ini terjadi, mengapa semua ini harus mewarnai tanah bangsa Indonesia ini!, mengapa aparat keamanan kita terlalu cepat mengambil suatu tindakkan yang akhirnya memberikan air mata kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya pada saat insiden Trisakti ini. Dalam hal ini dapat juga kita kaji sebuah keteledoran pihak kepolisian dalam menkoordinir pasukannya serta memeriksa kelengkapan pasukan. Misalnya;

•Bagaimana mungkin bisa pasukan yang dikirim ke lokasi kejadian insiden Trisakti ini di bekali oleh peluru tajam. Padahal diantara mereka pasti menyadari keberadaan mereka disana hanya untuk membarikade gerakkan massa mahasiswa yang ingin berunjuk rasa menuju Gedung DPR/MPR yang berada di daerah Slipi.

•Bagaimana bisa pihak kepolisian menempatkan pasukan pengintai dan pasukan snipernya di setiap sudut kampus Trisakti. Apakah aparat keamanan menganggap mahasiswa (anak bangsa) ini sebagai pemberontak terhadap pemerintahan atau sebagai musuh negara. Hingga mengepung mahasiswa sedemikian rupa layaknya sedang melakukan penyergapan terhadap penjahat.

•Untuk apa aparat keamanan berkali kali mendatangkan pasukan tambahan yang diterjunkan ke depan kampus Trisakti. Padahal pada saat itu jelas sekali keadaan sudah terkendali dan aman. Antara aparat dan mahasiswa hanya berdiam, malah mahasiswa memberikan sekuntum bunga mawar kepada aparat yang berbaris. Disini kita dapat melihat bahwa keadaan memang sudah aman dan terkendali, antara kedua pihak telah menunjukkan sikap yang sportif. Yang disayangkan mengapa harus menambah sejumlah pasukan. Apakah insiden ini memang telah di rencanakan sebelumnya, hingga terus menerus sampai tiga kali kedatangan pasukan bantuan yang entah dikirim dari mana mereka?, atas perintah siapa?, dan oleh siapa?

Seperti contoh yang dialami oleh salah satu keluarga korban Semangi I yang terjadi pada bulan November 1998 tepatnya enam bulan setelah Insiden Trisakti.

Arif Priyadi, ayah dari Norma Irawan, salah satu korban yang jatuh saat terjadinya Insiden Semangg I. Beragam usaha dilakukan Arif untuk menuntut keadilan atas kematian anaknya Norma Irawan.
Wawancara ini saya kutip dari Elsam yang telah melakukan wawancara secara langsung dengan Bapak Arif Priyadi.

“Raut arif melukiskan kelelahan panjang mencari keadilan. Karena perjuangannya untuk mengungkap pelanggaran berat HAM pada peristiwa Semanggi—yang merenggut nyawa putranya—itulah, ia pernah digebuk (dipukuli, dianiaya) petugas saat demo ke istana. “yang tidak waras, mereka berani menendang kami yang orang tua ini, tanpa ampun. Kalau tidak ada yang menyuruh mana mungkin mereka melakukan ini,” sendu lelaki berusia 42 tahun ini. Bagaimana Arif yang berjuang pengaduannya ke Kejaksaan Agung dan Komnas HAM. Berikut penuturan Arif dalam wawancara tersebut:

Apa persepsi Anda soal penembakan Irawan?
Khusus kasus Semanggi, menurut saya, jelas merupakan pelanggaran HAM berat. Kesimpulan itu berdasar bukti-bukti yang kami dapat dari hasil investigasi kami tim relawan. Tragedi Semanggi jelas sekali direncanakan, termasuk target-target siapa yang harus dihabisi.

Apa buktinya?
Bukti yang saya alami sendiri adalah sepekan sebelum Irawan ketembak (ditembak), dia gelisah dan menyatakan ke saya bahwa ia mendapat informasi dari temannya bahwa ia sekarang menjadi salah satu target utama yang harus dihabisi. Teman Wawan (Irawan) yang menginformasikan itu, saudaranya bekerja di BAIS TNI. Persisnya, menurut Wawan, ada file yang mencantumkan lima nama. Lima nama itu dari Tim Relawan untuk kemanusiaan semua.

Wawan sempat hilang cemasnya karena saat itu seorang temannya menyatakan bahwa nama Wawan sudah dihapus dari target, berkat upaya orang dalam BAIS sendiri. Waktu itu Wawan cerita ke saya. Itu tidak saya abaikan kerena merasa itu tidak mungkin terjadi. Nah, fakta membuktikan dia kemudian tertembak. Bahkan belakangan saya menemukan puisi yang dia buat, yang meminta agar kedua orang tuannya tabah apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kelihatannya perjuangan Anda menemukan keadilan semakin rumit?
Saya merasa, kasus ini seperti hendak diburamkan secara sistematis, baik oleh pelaku maupun pihak yang berwenang menangani kasus ini. Karena sebelum UU tentang Pengadilan HAM terbit, dalam bayangan kami kasus ini akan segera ditangani pengadilan militer. Tapi ternyata kami harus menelan ludah. Kami manuai kekecewaan untuk kedua kalinya.

Bahkan Pomdam Jaya menyatakan kepada kami bahwa kasus Semanggi susah di proses ke pengadilan karena kurangnya alat bukti dan tidak adanya tersangka. Lho, ini kan aneh. Katanya pelurunya sudah tidak bisa diidentifikasi, meski sudah diuji balistik sampai ke luar negeri. Tidak bisa diidentifikasi keluar dari senjata yang mana, apalagi pelaku penembaknya juga sudah susah ditemukan. Kesimpulan saya mereka memang sengaja ingin memburamkan kasus.

Sampai sejauh mana perjuangan Anda mencari keadilan?
Kami sudah mendatangi banyak instansi dengan harapan bisa menekan secara politik agar kasus ini diangkat dan masuk ke pengadilan. Kami sudah mendatangi semua DPP Politik kecuali Golkar, juga frajsi-fraksinya. Kami juga mendatangi Perwakilan PBB, Puspom, dan Pomdan Jaya. Ke Komnas HAM sidah lima kali lebih. Saat ke Dephankam untuk menghadap Wiranto, dia menolak. Waktu itu kami ingin ke Istana. Saat itu presidennya masih Habibie, tapi tidak pernah berhasil.

Atas nama apa Anda melakukan serangkaian kunjungan itu?
Atas nama Paguyuban Korban dan keluarga kasus Semanggi, kasus Mei, dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan. Waktu itu kami dari korban Semanggi bergabung dengan korban Mei dan Tim Relawan untuk kemanusiaan. Dari sana kami membuat Paguyuban.

Korban Trisakti tidak bergabung?
Waktu itu kami kontak dengan mereka. Karena Trisakti saat itu ditangani oleh Tim 12, diantaranya Adi Addojo dan pengacaranya Akbar Lubis. Para korban itu, menurut saya, tidak keberanian untuk bersikap dan bersuaran menyatakan secara pribadi. Apalagi setelah terbit UU No. 26 Tahun 2000 dimana sangat dimungkinkan dibentuknya pengadilan ad hoc, tampaknya Trisakti lebih memilih melalui Pengadilan Militer.

Apa hasil serangkaian perjuangan Anda itu?
Memang klimaks dari perjuangan kita adalah terbentuknya Pansus DPR. Padahal sebelumnya saat kami melobi beberapa fraksi, mereka sempat ragu apakah perlu ada Pansus.

Menurut Anda, bagaimana hasil kerja Pansus?
Hasilnya memang mengecewakan. Kami dari pihak korban berharap agar kasus ini bisa dibawa ke Pengadilan HAM ad hoc. Pengadilan ini bisa ada kalau ada usulan dari DPR kepada presiden agar mengeluarkan Keppres soal pengadilan ad hoc. Nah, ternyata hasil kerja Pansus menyimpulkan bahwa itu bukan pelanggaran HAM berat bahkan mereka menilai ini sebatas pidana. Dan mereka menyarankan agar diselesaikan melalui Pengadilan Militer. Bagaimana mau diadili secara militer, wong pihak Puspom menyatakan tidak ada tersangka dan tidak ada alat bukti yang cukup.

Selama Pansus Paguyuban memasok data ke Panitia Pansus?
Oh, banyak sekali. Terutama hasil investigasi Tim Relawan. Juga dari keluarga korban. Misalnya, kejadian penembakan mobil kami yang saat itu mengangkut korban dari Rumah Sakit Jakarta ke RSCM untuk diotopsi. Informasi seperti itu sudah kami berikan.

Sekarang proses pembentukkan KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) berjalan, komentar anda?
Dalam persepsi saya, komisi ini akan mengungkap kebenaran yang ujung-ujungnya untuk kepentingan rekonsiliasi. Di situ saya melihat antara mengungkap kebenaran dan rekonsiliasi dijadikan satu paket. Rekonsiliasi menjadi satu tujuan. Saya khawatir pihak korban akan dirugikan kerena terus terang saja kondisi korban dalam posisi rentan dalam segala hal. Secara ekonomi dan financial segitu, tidak punya jaringan kuat. Sementara pihak pelaku, mereka kuat—financial maupun jaringan.

Saya khawatir, kemampuan KKR untuk mengungkap kebenaran saja bukan perkara mudah. Bisa saja hasil kerjanya bias, berupa kebenaran semu. Tapi saya khawatir, hasilnya dipaksakan yang akhirnya harus direkonsiliasi. Dengan begitu akan muncul produk rekonsiliasi yang tidak berangkat dari kebenaran sejati. Dalam posisi seperti ini, kami sulit menerima logika rekonsiliasi. Kalau ini yang terjadi, pihak korban akan menjadi korban kembali untuk kesekian kalinya. Ini yang berat.

Jadi korban berat pada sisi rekonsiliasi?
Rekonsiliasi, menurut saya, sebenarnya suatu proses yang saling memberi. Ini bisa jalan kalau proses keadilan melalui jalur hukum sudah lebih dulu diselesaikan. Jadi proses hukum tetap berjalan. Dengan begitu pihak korban pun tidak merasa sangat dipojokkan atau dirugikan. Jadi menurut saya, KKR mestinya perlu ditambah satu ‘K’ lagi, menjadi “Komisi Kebenaran, Rekonsiliasi, dan Keadilan”.

Faktor apa yang menyebabkan Anda berat melakukan rekonsiliasi?
Karena di tingkat pengungkapan fakta sangat mungkin terjadi rekayasa. Apalagi kalau digelindingkan sekarang, kurang menguntungkan para korban. Mau tidak mau satu komisi itu harus berpihak pada kepentinagn korban. Posisi korban jelas. Tinggal pelakunya yang harus dijelaskan posisinya, dan mereka harus mau meminta maaf.

Makanya saya kaget ketika membaca RUU KKR kok ada istilah: “Setelah mereka saling memaafkan...” kata saling memaafkan itu kan berarti si korban juga dipinta minta maaf. Lho, kami ini salah apa. Ini yang menurut saya kurang adil.

KKR tetap penting asal keadilan juga dijalankan?
Menurut saya begitu. Dan, itu harus melalui pengadilan HAM ad hoc, kan sudah ada UU-nya.

Ada harapan lain selain dengan KKR?
Kami pernah mendatangi MA, diterima Wakil Ketua MA dan lima hakim yang menangani kasus HAM. Mereka menyarankan agar kami tidak menggubris hasil Pansus DPR. MA juga menjamin bahwa jika hasil Pansus masuk ke MA, maka MA tidak akan menggunakan itu. Karena keputusan Pansus itu tidak mengikat secara hukum apalagi keputusan itu merugikan para korban. Kami cukup lega dengan sikap MA ini.

Kami juga berharap Komnas HAM bisa bekerja secara lurus dengan Komisi yang telah dibentuknya KPP HAM untuk menyelidiki kasus HAM Trisakti, Semanggi I dan II. Saya berharap, karena yang duduk di KPP HAM adalah orang-orang yang punya komitmen untuk menegakkan HAM, kami hanya mengingatkan kepada mereka bahwa banyak kendala yang akan mereka hadapi.

Jujur saya pesimis juga. Karena dalam teknis penyelidikan nanti pasti banyak hambatan. Terutama dari pihak tersangka, dari pihak militer. Mereka sampai sekarang sudah berhasil mengaburkan barang bukti, bahkan menghilangkan tersangka.

Jika KPP HAM bisa menyimpulkan bahwa kasus-kasus itu merupakan pelanggaran HAM berat, itupun masih sebatas hasil kerja KPP HAM yang masih perlu dirapatkan dalam rapat Pleno Komnas HAM. Kita tahu, sebagian besar anggota Komnas HAM adalah pendukung status quo. Dari 18 anggota 11 orang itu status quo. Ini yang membuat kami pesimis. Belum lagi posisi DPR yang harus campur tangan dalam usulan pembentukan Pengadilan HAM ad hoc. Jadi dalam perjuangan ini saya merasakan betul bakal panjang dan rumit.

***

Dari wawancara diatas ini bisa kita lihat dengan jelas sekali. Dimana korban yang bisa dibilang awam dalam hal hukum dipermainkan oleh pihak-pihak tertentu yang pada saat itu berusaha menghilangkan atau memburamkan kasus penembakan yang menimpa anaknya, salah satu korban Semanggi dan mungkin ada pula kasus lainnya yang tidak pernah terpublikasi. Disini juga bisa kita lihat betapa lemahnya badan legislatif hukum di negara ini, dimana pelaku bebas berkeliaran dan tertawa atas penderitaan korbannya dari segala aksi yang telah ia lakukan. Jelas sekali dasar hukum pada negara ini telah kotor oleh orang-orang tak bertanggung jawab, hingga kekuatan sebuah hukum tak bisa lagi memberikan rasa aman kepada rakyat yang membutuhkannya.

Sedangkan korban yang menuntut keadilan atas haknya sebagai warga negara Indonesia dipermainkan. Hukum bagaikan permainan. Bersalah atau tidaknya tergantung tebal dan tipisnya anggaran belanja yang kita sisipkan dibalik jas hitam khas hakim pengadilan yang biasa memvonis tersangka di dalam pengadilan.
Pengadilan hanya badan hukum yang menjadi pagar ayu layaknya pengantin, yang menghias kelengkapan sebuah negara yang dikatakan berdasarkan hukum. Tak heran bila begitu banyaknya mafia-mafia hukum yang berkeliaran bebas menjual-belikan hukum kepada siapa saja yang mampu membelinya. Tinggal mereka (rakyat jelata) yang termangun gigit jari harus merelakan hak mereka di rampas oleh orang lain atas kalahnya perkara kasus mereka di pengadilan.
Siapa yang kuat maka dia lah pemenangnya, dan yang lemah hanya menjadi bahan tawaan mereka yang berkuasa karena telah berani melawan mereka yang ber-uang dan berkuasa.
Seperti halnya yang saya kutip dari buku dari seorang penulis yang bernama Firdaus Arifin yang saat ini sedang studi Program Pascasarjana di Unpad, Bandung. Dalam bukunya yang berjudul “Menyikap Tabir Mafia Peradilan”, didalam buku ini dikatakan bahwa hukum Indonesia pada tahun 1998 semakin tinggal harapan dari hari ke hari. Dimana semua harapan hanya tinggal angan-angan yang tak pernah terwujudkan. Begitu banyak faktor penyebab terpuruknya hukum di Indonesia ini, diantaranya;

1.Peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini hanya lebih merefleksikan kepentingan penguasa ketimbang merefleksikan kepentingan rakyat.
2.Rendahnya Integritas Moral, Kredibilitas, Profesionalitas dan Kesadaran Hukum Aparat Penegak Hukum dalam Menegakan Hukum.
3.Minimnya Sarana dan Prasana yang Mendukung Kelancaran Dalam Proses Penegakan Hukum.
4.Tingkat Kesadaran Masyarakat yang masih rendah.
5.Budaya Hukum Masyarakat yang masih kurang Respon dan Respek terhadap Hukum.

Dimana orang yang terpandang dan yang memiliki kekayaan yang mampu membeli hukum Indonesia dan bebas dengan mudah dari jeratan hukum. Dengan mudah mereka membalikkan kemungkinan kasus mereka atas kemauan mereka sendiri. Selama hukum diperjual-belikan, maka jangan terlalu berharap mendapatkan keadilan. Sebuah keadilan akan mahal harganya bagi kita yang berada dalam garis taraf bawah.
Sedang mereka yang sehari nyenyak tidur dan nyaman kehidupannya, harga dari keadilan hanyalah jajanan kecil bagi mereka, kapan saja mereka sanggup membelinya. Bagi mereka hukum itu hanyalah badan pencari uang tambahan bagi para hakim-hakim yang haus akan kekayaan dan kehidupan yang makmur. Tak hanya cukup dengan perut buncit dan bermobil mewah dengan harga yang selangit mahalnya. Mereka tak pernah ada kata puas dalam meraup kekayaan demi kemakmuran mereka. Tanpa memperdulikan akibat yang terjadi. Seakan segala yang mereka dapatkan di dunia akan mereka bawa serta ke dalam liang kubur mereka yang hanya berukuran sepanjang badan mereka.
Begitu mahalnya harga hukum yang berlaku di negara ini, hingga untuk mendapatkan sebuah keadilan saja harus mengais-ngais bagaikan orang yang bersalah. Padahal belum tentu yang bersalah melakukan hal yang serupa dengan korban yang dirugikan.

***

sementara segini dulu... gw tunggu comment all semua... tujuan semua ini hanya untuk mengenang seberapa kelamnya bangsa kita...



#2 bozan

    The Coolest

  • Elite Member
  • 3,333 posts
Click to view battle stats

Posted 03 July 2008 - 11:09 AM

panjang banget .... makasih bro tulisannya ... emang kita jangan melupakan sejarah kelam bangsa kita karena dari situlah kita dapat belajar untuk lebih baik ---> walaupun sakit harus kita hadapi Peace.gif

btw walaupun fren @lexius1980 adalah warga keturunan its Ok BigGrin.gif
menurut gue loe adalah orang indonesia ... dan loe punya hak dan kewajiban yang sama seperti gue yang ngakunya pribumi ini ... Peace.gif



#3 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 03 July 2008 - 11:27 AM

thank's Bro @Bozan: karena kita bangsa Indonesia... gak ada yang beda... karena kita sama sama dibesarkan di tanah air Indonesia... dan mati pun di tanah air Indonesia...

ini belum 1/4 dari total artikel gw bro... masalahnya blom lengkap semuanya...
nanti isi dari artikel adalah menurut daftar isi yang telah gw buat di atas...

btw ini semua gak bermasuk SARA all... hanya ingin share...



#4 de frag

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 356 posts
Click to view battle stats

Posted 03 July 2008 - 12:48 PM

yeps, terusin aja brow

#5 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 03 July 2008 - 01:26 PM

Kerusuhan Mei 1998

Dalam kasus ini saya ingin mengungkap segala kejadian yang mungkin tak pernah dipublikasikan di media televisi dan media surat kabar. Segala sumber saya coba untuk mengali segala kesaksian-kesaksian dari mereka yang mengalami secara langsung atau dari para keluarga korban.
Bagaimana pun juga dalam tragedi kerusuhan ini sungguh mencoreng citra bangsa Indonesia di mata dunia Internasional. Dimana saat kejadian ini hampir dibeberapa kota besar di Indonesia terjadi secara serentak yang seakan ada yang menunggangi atas terjadinya kerusuhan yang hebat ini.
Puluhan korban berjatuhan pada kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13 sampai 15 Mei 1998, dimana sebagian besar mayoritas wanita keturunan yang menjadi sasaran kebiadaban mereka-mereka yang berhati nurani. Setelah mereka puas melampiaskan nafsu syahwatnya. Tanpa sungkan sungkan mereka menghabisi nyawa korbannya dengan membakar tubuh mereka dalam keadaan hidup-hidup dalam kobaran api.

Bila kita melihat dan menelusuri setiap kejadian yang terjadi pada saat itu, kejadian ini seperti yang terjadi pada jaman pemerintahan Adolf Hitler, Kanselir Jerman pada jaman perang dunia II, dimana pada masa kepemimpinannya Hitler melakukan pemusnahan massal terhadap bangsa Yahudi pada jamannya. Dimana Hitler menangkap kaum Yahudi hingga ke Austria dan dipenjarakan di kamp yang dibangunnya dan di berikan nama Kamp. Konsentrasi. Dimana kamp tersebut dibangun untuk pemusnahan ras Yahudi.

Pemusnahan yang dilakukan terbilang sadis. Bagaimana tidak! Sejumlah tawanan yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi dimasukkan ke dalam ruangan yang menyerupai kamar mandi yang besar, lengkap dengan pancuran air layaknya kamar mandi pada umumnya.
Dengan dalil tersebut, Hitler mengumpulkan mereka dalam satu ruangan yang mampu menampung sekitar enam ratus orang. Lalu dari sela-selah kisih lubang udara disalurkan gas beracun yang mematikan, hingga dalam sekejap waktu para tahanan Yahudi mati dalam keadaan mengenaskan karena menghirup hawa beracun yang disalurkan melalui kisi-kisi lubang udara.
Setelah itu, mayat-mayat kaum Yahudi itu di bawa ke sebuah tempat krematorium, tempat dimana mayat-mayat kaum Yahudi tersebut dibakar didalam tungku besar.

Mendengar atau membaca kisah kesadisan Hitler pada jamannya yang zalim terhadap kaum bangsa Yahudi saja kita akan merasakan betapa sadisnya seseorang yang bernama lengkap Adolf Hitler.
Lalu bagaimana dengan kesadisan yang terjadi pada bulan Mei 1998 yang melebihi kesadisan Hitler pada jamannya. Pada saat “Kerusuhan Mei 1998”, terjadi pemerkosaan terhadap kaum wanita Cina keturunan dengan cara bergilir. Lebih bejatnya korban yang sudah tak berdaya itu di lemparkan ke dalam kobaran api yang menyala dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tak bernyawa. Entah mengapa mereka melakukan hal sekeji ini kepada kaum wanita. Apa mereka tak berhati dan tak ber’ibu’, dimana ia pernah dilahirkan dan diasuh oleh seorang ibu yang merupakan seorang wanita juga.

Kerusuhan yang diawali oleh insiden Trisakti ini telah mendampak buruk kepada masyarakat keturunan Cina di Indonesia. Warga yang mengetahui tentang kebrutalan aparat keamanan yang telah menembak mati empat mahasiswa fakultas Trisakti Grogol. Keesokkan harinya tepat tanggal 13 Mei 1998, entah awalnya dari mana. Segerombolan massa mulai brutal turun ke jalan dan melakukan aksi yang anarkis, seperti membakar ban mobil, berteriak-teriak yel-yel tertentu, dan melakukan aksi penjarahan pada toko-toko yang berada disekitar mereka. Terakhir aksi yang benar-benar mencoreng adalah melakukan pelecehan seksual, kekerasan seksual, serta pemerkosaan yang berakhir dengan membakar korbannya.

Entah mengapa mereka melampiaskan segala amarah mereka kepada warga keturunan yang sesungguhnya tak mengetahui apa-apa tentang hal politik. Mereka tak jauh berbeda dengan warga yang lainnya. Mereka lahir dan dibesarkan di atas tanah Ibu Pertiwi. Berjuang bersama-sama atas demokrasi bangsa ini. Namun mengapa setiap permasalahan harue warga keturunan yang menanggung imbas pahit atas segalanya.

Kejadian yang berturut-turut menimpa bangsa ini memang telah mencoreng wajah Indonesia di mata dunia Internasional. Namun patut juga kita telusuri di beberapa negara di luar sana. Kejadian yang serupa dan mungkin lebih brutal dibandingkan kejadian yang terjadi di Indonesia. Namun pada akhirnya negara tersebut dapat menyelesaikan permasalahan internal negaranya, meski memakan waktu yang panjang, namun mereka berusaha untuk menuntaskan masalah yang menjadi penghalang.
Dalam suatu negara yang demokrasi sudah sepantasnya antara pemerintah dan rakyat harus ada tali komunikasi yang terikat. Guna bila suatu saat nanti dimana pemerintah membutuhkan bantuan atau tenaga rakyat, maka dengan cepat rakyat dapat mengkonfirmasi segala hal tersebut.

Karena pada saat kerusuhan terjadi. Antara pemerintah dan rakyat seakan hilang satu tali komunikasi antara keduanya. Yaitu kepercayaan. Sebuah kepercayaan sangat susah untuk diraih, terlebih lagi bila kepercayaan tersebut ada pada rakyat dalam suatu negara yang terbilang memiliki jumlah penduduk yang berjuta-juta dalam kepulauan yang tersebar hingga berupa kepulauan di Nusantara.

Dalam hal ini bukan maksud saya ingin mengali kembali kekelaman bangsa Indonesia kembali ke atas permukaan, yang sebelumnya terkubur hingga 10 tahun lamanya. Namun saya hanya bertujuan untuk membahas kejadian kelam bangsa Indonesia dengan mengambil beberapa kejadian untuk di ulas yang tak lain gunanya untuk memberikan pandangan kepada kita semua bahwa kejadian ini merupakan tamparan yang sakit untuk bangsa Indonesia terlebih lagi kepada mereka warga keturunan yang mengalaminya secara langsung.
Mencoba menelusuri beberapa kesaksian dari korban atau keluarga korban yang memang pada saat itu mengalami langsung atau yang hanya menyaksikan kejadian dengan mata dan kepalanya sendiri.

Kiranya ini semua adalah pelajaran yang sangat bernilai bagi bangsa Indonesia yang terkenal akan keberadabannya pada masa dahulu. Perlahan kita membangun kembali masa emas Indonesia yang dikenal dengan bangsa yang ramah tamah, baik hati , serta murah senyumnya.
Saya sangat yakin sekali bahwa pada setiap insan pasti memiliki sisi baik dalam hatinya, meskipun pada kenyataannya mereka merupakan seorang pembunuh, penjahat kakap, pemerkosa, dan yang mungkin juga merupakan seorang teroris yang selama ini dicari-cari oleh beberapa negara di penjuru dunia ini.
Namun setiap hati sanubari manusia pasti ada sisi dimana yang disebut dengan pembagian sifat dasar dunia yang tak terpisahkan. “BAIK dan JAHAT” disini kata jahat dan baik tak selamanya memiliki takaran yang sama antara keduanya. Terkadang sifat Baik lebih besar persentasenya dibandingkan sifat Jahat, begitu juga dengan sebaliknya. Dua sifat dasar pada manusia ini terkadang dapat dipengaruhi dalam kehidupan manusia. Lingkungan, cara didikan keluarga, norma susila, dll.
Bila dalam kehidupannya seseorang itu mendapatkan segala kemungkinan hal baik dalam lingkungan, didikan, norma, maka secara garis besar persentase sifat Baik akan lebih menonjol dibandingkan dengan sifat Jahat nya, sebitu juga kemunculan sifat jahat pada seseorang.

Perlu diketahui juga bahwa sejahat dan seburuk-buruknya seseorang yang melakukan segala aktivitas kejahatannya diluar sana. Sesungguhnya satu sisi didalam hatinya berat melakukan segala tindakan yang bertentangan dengan hati kecilnya. Beberapa hal yang patut kita pertanyakan dari segala tindakan yang mereka (pelaku kejahatan), antaranya :

1.Mengapa mau melakukan pekerjaan kotor ini, yang jelas-jelas melanggar hukum dan hak asasi manusia sebagai warga negara. Sudah tentu juga mereka menyadari tak ada satu agama pun yang diakui di setiap negara di dunia ini menghalalkan tentang tindakan mereka.

2.Apa yang menjadi sebab mereka melakukan tindakan ini. Karena dalam hukum sebab-akibat memaparkan bahwa dalam suatu kejadian tak akan ada akibatnya bila sebelumnya tak diawali oleh sebab dari kejadian ini. Sebagai contoh, seseorang yang terlibat hutang akan rela melakukan apa saja, bila ada pihak ketiga yang mau melunaskan hutang-piutang nya kepada pihak pertama(terhutang). Maka dengan adanya perjanjian seperti ini, kemungkinan besar dapat terjadi suatu kejadian yang diberikan oleh pihak pelunas kepada pihak kedua (penghutang).

3.Adakah kemungkinan pihak tertentu yang menunggangi aksi dari kejadian tanggal 13 Mei 1998 ini, dengan tujuan menjatuhkan sebuah pemerintahan atau menghancurkan rasa persatuan bangsa ini.

4.Adakah kemungkinan seseorang yang sedari dulu membenci kehadiran warga keturunan Cina yang tinggal di Indonesia, hingga pada tanggal 13 Mei 1998 merupakan waktu yang tepat untuk meluapkan segala kebenciannya.

5.Mungkinkah adanya suatu gerakan sparatis yang terselubung dengan menyusup didalam pemerintahan, guna memata-matai dan menghancurkan Indonesia dari dalam. Misalnya memberikan segala argumen-argumen yang pintar serta memutar balikkan segala fakta hingga akhirnya anggota dewan menerimanya. Sama hal nya dengan kejadian atas insiden Trisakti,

•Bila dewan mau sedikit memberikan waktu untuk mahasiswa mengeluarkan inspirasinya, tentunya kejadian-kejadian penembakkan yang terjadi akan dapat diatasi.
•Bila dewan mau coba terjun ke jalan dan temuwicara langsung dengan para mahasiswa. Tentu mahasiswa akan beranggapan bahwa dewan masih ada yang mau menerima dan mendengarkan visi dan misi para mahasiswa, yang ingin berjuang bersama-sama pemerintah dalam menyelesaikan kemelut perekonomian Indonesia pada saat itu.

Namun dari semua kemungkinan awal terjadi kerusuhan Mei 1998 ini sangat besar awalnya dari krisis moneter pada tahun 1997 dan yang disusul dengan aksi penembakan anak bangsa mahasiswa Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa dan beberapa korban luka-luka, kisah kelam biar lah menjadi sebuah sejarah, meski pernah menjadi pengalaman yang pahit bagi kita dan bangsa ini. Namun biarlah kejadian itu hanya kenangan atas segala yang pernah terjadi.
Bagaimana pun juga sebuah sejarah merupakan awal dari sebuah perubahan menuju ke masa depan yang lebih baik. Semoga mereka, saudara kita, sahabat kita, orang tua kita, anak kita, dan cucu kita, merupakan saksi atas segala perubahan yang terjadi di negara ini. Biarlah kita yang menempuh masa sulit dalam bangsa ini dan berusaha membenahi segala masalah, agar nanti dimasa depan anak bangsa penerus Indonesia tak terbebani seperti Indonesia saat ini yang penuh dengan kemelut permasalahan.

Kemarahan masyarakat terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada Orang Indonesia sendiri, terutama sasarannya adalah mereka warga negara keturunan (Cina). Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam dari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei 1998 siang hari disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa yang ditembak oleh aparat keamanan.
Sampai pada tanggal 15 Mei 1998 di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko maupun rumah di kota-kota Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko maupun rumah di kota-kota Indonesia hancur lebur dirusak dan dibakar massa. Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah.

Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke-20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa dimana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa. Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini.

Akhirnya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa yang memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti gugurnya Pahlawan Reformasi. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh. Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negeri. TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut untuk membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu.


Mungkin diantara kita belum seluruhnya mengetahui apa yang menjadi isi bahan laporan dari Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk untuk menyidik terjadinya kerusuhan pada tanggal 13 – 15 Mei 1998 di Jakarta dan kota-kota lainnya yang menjadi target TGPF mencari data-data kebenaran tersebut.


LAPORAN TIM GABUNGAN PENCARI FAKTA (TGPF)

BAB 1 : PENGANTAR
BAB 2 : ORGANISASI DAN TATA KERJA
BAB 3 : PELAKSANAAN KEGIATAN
BAB 4 : TEMUAN
BAB 5 : ANALISA
BAB 6 : KESIMPULAN
BAB 7 : REKOMENDASI
BAB 8 : STATUS HUKUM
BAB 9 : PENUTUP


BAB 1
PENGANTAR


1.1 Umum

Berdasarkan Keputusan bersama Mentri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita, dan Jaksa Agung, telah dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada tanggal 23 Juli 1998. Tim Gabungan ini bekerja dalam rangka menemukan dan mengungkap fakta, dari unsur-unsur pemerintah, Komisi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia (Komnas HAM), LSM, dan Organisasi Masyarakat lainnya.

Sejak dibentuk dalam masa 3 (tiga) bulan TGPF telah melaksanakan tugas-tugasnya yang berakhir pada tanggal 23 Oktober 1998. ringkasan Eksekutif ini merupakan ringkasan dari Laporan Akhir, sedangkan Laporan Akhir terdiri dari Ringkasan Eksekutif ini dengan semua lampiran yang terdiri dari seri 2: Data-data Kerusuhan, seri-3 Foto-foto dan laporan Kemajuan (Progress Report), seri-4: Fakta Korban, seri-5: Testimoni dan seri-6: Verifikasi Dalam Laporan Akhir, bahan-bahan disusun dan dianalisa menurut wilayah peristiwa (Jakarta, Solo, Surabaya, Medan, Palembang, dan Lampung), yang disusun secara tersendiri, Laporan Akhir ini merupakan dokumen aktual sebagai pertanggung jawaban TGPF.

1.2.Abstraksi

TGPF berkeyakinan, bahwa peristiwa tanggal 13-15 Mei 1998 tidak dapat dilepaskan dari konteks keadaan dan dinamika sosial-politik masyarakat Indonesia pada periode waktu itu, serta dampak ikutannya. Peristiwa-peristiwa sebelumnya seperti Pemilu 1997, Penculikan sejumlah aktivis, Krisis Moneter (ekonomi), Sidang Umum MPR-RI 1998, unjurasa/demontrasi mahasiswa yang terus-menerus, serta tewas tertembaknya mahasiswa Universitas Trisakti, semuanya berkaitan erat dengan peristiwa tanggal 13-15 Mei 1998. kejadian-kejadian tersebut merupakan rangkaian tindakan kekerasan yang menuju pada pecahnya peristiwa kerusuhan yang menyeluruh pada tanggal 13-15 Mei 1998. TGPF berkeyakinan, bahwa salah satu dampak utama peristiwa kerusuhan tersebut adalah terjadinya perantian kepemimpinan nasional pada tanggal 21 Mei 1998. Dampak ikutan lainnya adalah berlanjutnya perkosaan yang berhubungan dengan kerusuhan 13-15 Mei 1998.

Di semua wilayah yang dikaji oleh TGPF didapat adanya kesamaan waktu pecahnya kerusuhan. Kedekatan, bahkan kesamaan pola kejadian mengindikasikan kondisi dan situasi sosial-ekonomi-politik yang potensial memungkinkan pecahnya suatu kerusuhan, Kondisi objektif tersebut pada gilirannya sebagaian memang pecah secara alamiah dan sebagian lagi dipecahkan melalui sarana-sarana pemicu. Pola kerusuhan bervariasi, mulai dari yang bersifat spontan, lokal, sporatis, hingga yang terencana dan terorganisir.
Para pelakunya pun beragam, mulai dari massa ikutan yang mula-mula pasif tetapi kemudian menjadi pelaku aktif kerusuhan, provokator, termasuk ditemukannya anggota aparat keamanan.

1.3.Skala Kerusuhan

TGPF mendefinisikan bahwa kerusuhan adalah keseluruhan bentuk dan rangkaian tindak kekerasan yang meluas, kompleks, mendadak dan eskalatif dengan dimensi-dimensi kuantitatif dan kualitatif. Skala kerusuhan 13-15 mei 1998 mencakup aspek-aspek sosial, politik, keamanan, ekonomi bahkan kultural. Dilihat dari kerangka waktu (Time Frame), kerusuhan ini membawa dampak ikutan. Dengan demikian, rentang kerusuhan harus dirujuk pada dinamika krisis nasional, hingga dampak-dampak pasca kerusuhan, dalam lingkup geografis yang berskala nasional. Enam kota yang dikaji merupakan contoh dari skala nasional kerusuhan yang terjadi. Secara ringkas, kerusuhan 13-15 Mei 1998 harus diletakkan dalam rentang waktu sebelum dan sesudahnya, dimensinya menyeluruh dan multi aspek, serta wilayah cakupannya bersifat nasional. Dari sudut aktivitas, klasifikasi kerusuhan, penjarahan, pembakaran, kekerasan seksual, penganiayaan, pembunuhan, penculikan, dan intimidasi yang menjurus menjadi teror.

1.4.Prosedur dan Arah Penyelidikan

Penyelidikan TGPF diawali dugaan pengumpulan informasi, fakta, dan data lapangan (pada aras massa), guna menemukan kembali jejak-jejak rangkaian peristiwa dan hubungan antar subjek dalam peristiwa itu berikut waktu (tempus) dan tempat (locus) peristiwanya. Dengan prosedur ini dapat ditemukan kembali, dan direkonstruksi, kronologi peristiwa di setiap lokasi. Tahap tersebut dilanjutkan dengan rekonstruksi makro (pada aras pengambilan keputusan) melalui rangkaian wawancara dan temu konsultasi dengan para pejabat terkait pada saat kerusuhan, lembaga masyarakat, dan organisasi profesi. Tahap berikutnya berupa pemetaan hubungan, jika ada, antara kedua arah penyelidikan.


BAB II
ORGANISASI DAN TATA KERJA


2.1. Organisasi

2.1.1. Organisasi

TGPF dirancang bersifat fungsional dan masing-masing bagian, termasuk setiap anggota, tidak berkedudukan subordinat terhadap bagian atau anggota lainnya. Struktur dan susunan organisasi adalah sebagai berikut :

1. Ketua/Anggota :Marzuki Darusman SH (Komnas HAM)
2. Wakil Ketua I/Anggota :Mayjen Pol Drs Marwan Paris MBA (Mabes ABRI)
3. Wakil Ketua II/Anggota :K.H. Dr Said Aqiel Siradj (NU)
4. Sekretaris/Anggota BigGrin.gifr Rosita Sofyan Noer MA (Bakom-PKB)
5. Wakil Sekretaris I/Anggota :Zulkarnain Yunus SH (Depkeh)
6. Wakil Sekretaris II/Anggota :Asmara Nababan SH (Komnas HAM)
7. Anggota : Sri Hardjo SE (Kantor Menperta)
8. Anggota : Drs. Bambang W. Soeharto (Komnas HAM)
9. Anggota : Prof. Dr. Saparindah Sadli (Komnas HAM)
10. Anggota : Mayjen TNI Syamsu D SH (Mabes ABRI)
11. Anggota : Mayjen Pol Drs. Da’i Bacthiar (Mabes ABRI)
12. Anggota : Abdul Ghani SE (Deplu)
13. Anggota : I Made Gelgel SE (Kejakgung)
14. Anggota : Dunidja D (Depdagri)
15. Anggota : Romo I Sandyawan Sumardi SJ (Tim Relawan)
16. Anggota : Nursyahbani Katajsungkana SH (LBH-APIK)
17. Anggota : Abdul Hakim Garuda Nusantara SH, LLM (Elsam)
18. Anggota : Bambang Widjojanto SH (YLBHI)
19. Anggota : Ita F. Nadya (Tim Relawan, mengundurkan diri sejak permulaan)

2.1.2.Dalam Rangka Penyelidikan

TGPF membentuk 3 Subtim, sebagai berikut :

1. Subtim Verifikasi : Sri Hardjo SE (Ketua)
2. Subtim Testimoni : Dr. Bambang W Soeharto (Ketua)
3. Subtim Fakta Korban: Prof. Dr. Saparinah Sadli (Ketua)

2.2.Sekretariat

Untuk memperlancar tugas-tugas, TGPF membuka 3 sekretariat sebagai berikut :

1.Departemen Kehakiman
Jalan Rasuna Said Kav 4-5, Kuningan. Sekretariat ini dikoordinasi oleh Zulkarnain Yunus SH dibantu Muljanto SH, K. Suparlan SH, Demak Lubis dan Bambang Pamungkas.

2.Jalan Hang Tuah Raya No. 3
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sekretariat ini dikoordinasi oleh Dr. Rosita Sofyan Noer dibantu Dra Hetty S, Indra Kusuma SH, dan Sri Rahajeng SH.

3.Komnas HAM
Jalan Latuharhary 4B, Jakarta Pusat. Sekretariat ini dikoordinasi oleh Asmara Nababan SH.

2.3.im Asistensi

Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, TGPF dibantu oleh satu Tim Asistensi sebagai berikut :

1.Ketua/Anggota:Hermawan SulistyoPhD
2.WakilKetua/Anggota:LetkolPolDrsRusbagioIshak
3.Anggota : Drs M. Riefqy Muna M. Def,Stud
4.Anggota : Drs Mohammad Rum
5.Anggota : Dra Hargyaning Tyas
6.Anggota : Lettu Pol Andi Nurlia
7.Anggota : Lettu Pol Pandra Arsyad SH
8.Anggota : Robertus Robert S.Sos
9.Anggota : Juliadi Karmandito S.Sos
10.Anggota : Moch. Nurhasim S.Ip
11.Anggota : Ir Sri Palupi
12.Anggota : Dra Ruth Indiah Rahayu

2.4.Tata Kerja

Dalam rangka membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan informasi, TGPF membuka satu kotak pos dan 5 Hotlines. Selain itu, TGPF membangun komunikasi untuk penyampaian hasil kepada masyarakat melalui media massa, TGPF juga membangin kerja sama dengan beberapa lembaga/instansi pemerintah maupun pihak lain. Proses kerja TGPF mengikuti tahapan sebagai berikut :

1.Pengumpulan dan pengolahan data dari berbagai sumber.
2.Melakukan verifikasi atas data dari berbagai sumber tersebut.
3.Mengadakan wawancara dengan sejumlah pejabat dan mantan pejabat, baik sipil maupun ABRI.
4.Mengadakan perkumpulan konsultatif dengan lembaga profesi dan saksi ahli.
5.Mengadakan kunjungan lapangan ke daerah-daerah.
6.Menyusun ulang gambaran alur peristiwaserta melakukan analisis.
7.Menyimpulkan temuan-temuan dan mengungkapkan duduk perkara sebenarnya.
8.Menyusun rekomendasi kebijakan dan kelembagaan.


BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN


3.1.Mengumpulkan dan Mengolah Data dari Sumber-Sumber :

1.Tim Relawan
Data korban kerusuhan dan analisisnya (korban jiwa, luka-luka, penjarahan, kekerasan seksual) di Jakarta, Palembang, Solo, dan Surabaya. Pola kerusuhan yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, status penjarah dalam kerusuhan, pengaduan, dokumentasi, informasi, video, dan lain-lain.

2.Bakom PKB
Data penyerangan seksual, foto, video, transkript hotlines berupa informasi dan pengaduan.

3.Komnas HAM
Data dan analisa kerusuhan di Jakarta dan sekitarnya.

4.YLBHI
Data penculikan pada waktu kerusuhan.

5.Polri
Data korban kerusuhan, berupa korban jiwa dan material.

3.2.Kotak Pos dan Hotlines yang dibuka untuk menampung informasi sebagai berikut :

1.Kotak Pos
Menerima 146 surat berisi informasi, pengaduan, opini dan lain-lain.

2.Hotlines

2.1Departemen Kehakiman
Jalan Rasuna Said : 32 kontak berupa pengaduan dan informasi, isi bervariasi.

2.2Sekretariat Tim Relawan
Jalan Arus Dalam I : 41 kontaj berupa informasi, pengaduan, ancaman dan pertanyaan seputar eksistensi serta hasil temuan TGPF,

2.3Mabes Polri
12 kontak berupa pengaduan dan informasi

2.4Jalan Hang Tuah Raua No.3
33 kontak berupa pengaduan dan informasi.

2.5YLBHI
5 kontak berupa pengaduan dan Informasi.

3.3.Dalam Rangka Penyelidikan, tiga Subtim TGPF Melaksanakan Kegiatan sebagai berikut :

1.Subtim Verifikasi

1.1. Menyelenggarakan verifikasi data korban hasil pengolahan oleh Tim Asistensi, Subtim Verifikasi telah meminta kesaksian dan keterangan dari saksi mata, saksi ahli, korban, keluarga korban, dan pendamping korban sebanyak 24 orang di Jakarta dan lebih dari 100 orang yang dimintakan keterangannya di lapangan baik oleh TGPF maupun Tim Asistensi.

1.2.Menyelenggarakan wawancara untuk memperoleh tertimoni dengan pejabat dan tokoh masyarakat di Surakarta, Surabaya, Lampung, Palembang, dan Medan, para pejabat dan tokoh masyarakat yang dapat diminta keterangan adalah Gubernur KDH TK. I, Panglima daerah Militer, Kepala Daerah Kepolisian, Komandan Korem, Kepala Kepolosian Wilayah, Komandan Kodim, Kepala Kepolisian Tabes/Resort. Walikotamadya, Camat, LBH, Bakom, PKB, Pimpinan Parpol/Ormas.

2.Subtim Testimoni


Hingga tugas-tugas TGPF berakhir, Subtim Testimoni telah meminta keterangan/kesaksian sepuluh pejabat (sebagian bersama atau beserta stafnya) terkait yang bertanggung jawab pada saat kerusuhan 13-15 Mei 1998 yang terjadi di Jakarta. Mereka adalah :

• Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin (Pangdam Jaya pada saat kerusuhan).
• Mayjen Pol Hamami Nata (Kapolda Metro Jaya pada saat kerusuhan).
• Mayjen TNI Sutiyoso (Gubernur KDKI Jakarta).
• Mayjen TNI Zacky Anwar Makarim (Ka BIA)
• Mayjen TNI (Mar) Soeharto (Dankormar)
• Letjen TNI Prabowo Subianto (Pangkostrad pada saat kerusuhan).
• Fahmi Idris (Tokoh Masyarakat).
• Brigjen TNI Sudi Silalahi (Kastaf Kodam Jaya).
• Kolonel Inf Tri Tamtomo (Asops Kodam Jaya).
• Jenderal TNI Subagyo H.S (KASAD/Mantan ketua DKP).

3.Subtim Fakta Korban

Subtim Fakta Korban tidak hanya menyajikan ulang, data kerugian fisik akibat kerusuhan, tetapi memberikan penekanan khusus pada korban manusia. Perspektif Subtim Fakta Korban adalah sisi penderitaan manusia akibat kerusuhan tersebut, sekalipun bukan berarti mengabaikan atau tidak menghitung aspek kerugian fisiknya. Subtim Fakta Korban juga memberi perhatian dan perlakuan secara khusus atas laporan-laporan kekerasan seksual termasuk perkosaan selama kerusuhan berlangsung. Dalam proses melakuakan verifikasi, subtim telah meminta keterangan dari saksi korban sebanyak 25 orang, saksi ahli 20 orang, saksi mata/keluarga 36 orang, dan Rohaniawan/Pendamping 20 oranng. Kecuali itu Subtim Fakta Korban juga meminta keterangan dari aparat keamanan tentang korban. TGPF juga mengunakan prosedur yang disebut Protokol Minesota yang disesuaikan dengan ruang lingkup korban kerusuhan. Prosedur ini dinyatakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang melaksanakan protokol ini sebagai Protokol Jakarta.


BAB IV
TEMUAN

4.1.Pola Umum Kerusuhan


Kerusuhan mempunyai pola umum yang dimulai dengan berkumpulnya massa aktif yang terdiri dari massa lokal dan massa pendatang (tak dikenal), kemudian muncul sekelompokan provokator yang memancing massa dengan berbagai modus tindakan seperti membakar ban atau memancing perkelahian, meneriakkan yel-yel yang memanasi situasi, merusak rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya. Setelah itu, provokator mendorong massa untuk mulai melakukan pengrusakan barang dan bangunan, disusul dengan tindakan menjarah barang, dan di beberapa tempat diakhiri dengan membakar gedung atau barang-barang lain. Di beberapa lokasi ditemukan juga variasi, dimana kelompok provokator secara langsung melakukan perusakan, baru kemudian mengajak massa untuk ikut merusak lebih lanjut.

Para pelaku Kerusuhan 13-15 Mei 1998 terdiri dari dua golongan yakni, pertama, massa aktif (massa pendatang) yang karena diprovokasi berubah menjadi massa aktif, dan kedua, provokator. Provokator umumnya bukan dari wilayah setempat, secara fisik tampak terlatih, sebagian memakai seragan sekolah seadanya (tidak lengkap), tidak ikut menjarah, dan segera meninggalkan lokasi setelah gedung atau barang terbakar. Para provokator ini juga yang membawa dan meyiapkan sejumlah barang untuk keperluan merusak dan membakar, seperti jenis logam pendongkel, bahan bakar cair, kendaraan, bom molotov, dan sebagainya.

Dari sudut urutan peristiwa, TGPF menemukan bahwa titik picu paling awal kerusuhan di Jakarta terletak di wilayah Jakarta Barat, tepatnya wilayah seputar Universitas Trisakti pad tanggal 13 Mei 1998, kerusuhan meluas dengan awalan titik waktu hampir bersamaan, yakni rentang antara pukul 08.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB. Dengan demikian untuk kasus Jakarta, jika semata-mata dilihat dari urutan waktu, ada semacam aksi serentak. TGPF mendapatkan, bahwa faktor pemicu (triggering factor) terutama untuk kasus Jakarta ialah tertembak matinya mahasiswa Trisakti pada sore hari tanggal 12 Mei 1998.

Dalam derajat yang lebih rendah, tertembaknya mahasiswa Trisakti tersebut juga menjadi faktor pemicu kerusuhan di lima daerah yang dipilih TGPF, terkecuali kerusuhan Medan dan sekitarnya yang telah terjadi sebelumnya. Sasaran kerusuhan adalah pertokoan, fasilitas umum (pompa bensin, tanda-tanda lalu lintas dan lain-lain), kantor pemerintah (termasuk kantor polisi) yang menimbulkan kerusakan berat termasuk pembakaran gedung, rumah dan toko, serta kendaraan bermotor umum dan pribadi. Sasaran kerusuhan kebanyakan etnis cina.

4.2.Pelaku

Para pelaku kerusuhan dapat dibagi atas tiga kelompok sebagai berikut :

4.2.1.Kelompok Provakator
Kelompok inilah yang menggerakkan massa, dengan memancing keributan, memberikan tanda-tanda tertentu pada sasaran, melakukan pengrusakan awal, pembakaran, mendorong penjarahan. Kelompok ini datang dari luar tidak berasal dari penduduk setempat, dalam kelompok kecil (lebih kurang belasan orang), terlatih (yang mempunyai kemampuan terbiasa menggunakan alat kekerasan), bergerak dengan mobilitas tinggi, menggunakan sarana transport (sepeda motor, mobil/Jeep) dan sarana komunikasi (HT/HP). Kelompok ini juga menyiapkan alat-alat perusak seperti batu, bom molotov, cairan pembakar, linggis dan lain-lain. Pada umumnya kelompok ini sulit dikenal, walaupun di beberapa kasus dilakukan oleh kelompok dari organisasi pemuda (contoh di Medan ditemukan keterlibatan langsung Pemuda Pancasila). Diketemukan fakta keterlibatan anggota aparat keamanan, seperti di Jakarta, Medan, dan Solo.

4.2.2.Massa Aktif

Massa dalam jumlah puluhan hingga ratusan, yang mulanya adalah massa pasif pendatang, yang sudah terprovokasi sehingga menjadi agresif, melakukan perusakan lebih luas termasuk pembakaran. Massa ini juga melakukan penjarahan pada toko-toko dan rumah. Mereka bergerak secara terorganisir.

4.2.3.Massa Pasif
Pada awalnya massa pasif lokal berkumpul untuk menonton dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Sebagian dari mereka terlibat ikut-ikutan merusak dan menjarah setelah dimulainya kerusuhan, tetapi tidak sedikit pula yang hanya menonton sampai akhir kerusuhan. Sebagian dari mereka menjadi korban kebakaran.


4.3.Korban dan Kerugian

4.3.1 Kategori

Tentang korban, selama ini dirasakan adanya kecenderungan dari pemerintah, masyarakat termasuk mass media memusatkan perhatian pada korban akibat kekerasan seksual semata-mata. Fakta menunjukkan bahwa yang disebut korban dalam kerusuhan Mei 1998 adalah orang-orang yang telah menderita secara fisik dan psikis karena hal-hal berikut, yaitu: kerugian fisik/material (rumah atau tempat usaha dirusak atau dibakar dan hartanya dijarah), meninggal dunia saat terjadinya kerusuhan karena berbagai sebab (terbakar, tertembak, teraniaya, dan lain-lain), kehilangan pekerjaan, penganiayaan, penculikan dan rnenjadi sasaran tindak kekerasan seksual.

Dengan demikian, korban dalam kerusuhan Mei lalu dibagi dalam beberapa kategori sebagai berikut:

1. Kerugian Material
Adalah kerugian bangunan, seperti toko, swalayan, atau rumah yang dirusak, termasuk harta benda berupa mobil, sepeda motor, barang-barang dagangan dan barang-barang lainnya yang dijarah dan/atau dibakar massa. Temuan tim menunjukkan bahwa korban material ini bersifat lintas kelas sosial, tidak hanya menirnpa etnis Cina, tetapi juga warga lainnya. Namun yang paling banyak menderita kerugian material adalah dari etnis Cina.

2. Korban Kehilangan Pekerjaan.
Adalah orang-orang yang akibat terjadinya kerusuhan, karena gedung atau tempat kerjanya dirusak, dijarah dan dibakar, membuat mereka kehilangan pekerjaan atau sumber kehidupan. Yang paling banyak kehilangan pekerjaan adalah anggota masyarakat biasa.

3. Korban Meninggal Dunia dan Luka-luka.
Adalah orang-orang yang meninggal dunia dan luka-luka saat terjadinya kerusuhan. Mereka adalah korban yang terjebak dalam gedung yang terbakar, korban penganiayaan, korban tembak dan kekerasan lainnya.

4. Korban Penculikan.
Adalah mereka yang hilang/diculik pada saat kerusuhan yang dilaporkan ke YLBHI/Kontras dan hingga kini belum diketemukan, mereka adalah:

4.1.Yadin Muhidin (23 tahun) hilang di daerah Senen.
4.2. Abdun Nasir (33 tahun) hilang di daerah Lippo Karawaci;
4.3. Hendra Hambali (19 tahun), hilang di daerah Glodok Plaza;
4.4. Ucok Siahaan (22 tahun), hilang tidak diketahui di mana;

4.3.2. Jumlah Korban dan Kerugian
Sulit ditemukan angka pasti jumlah korban dan kerugian dalam kerusuhan. Untuk Jakarta, TGPF menemukan variasi jumlah korban meninggal dunia dan luka-luka sebagai berikut :

1. Data Tim Relawan, 1190 orang akibat terbakar/dibakar, 27 orang akibat senjata/dan lainnya, 91 luka-luka.

2. Data Polda, 451 orang meninggal, korban luka-luka tidak tercatat.

3. Data Kodam, 463 orang meninggal termasuk aparat keamanan, 69 orang luka-luka.

4. Data Pemda DKI, 288 meninggal dunia, 101 orang luka-luka.

Untuk kota-kota lain di luar Jakarta variasi angkanya adalah sebagai berikut :

1. Data Polri, 30 orang meninggal dunia, 131 orang luka-luka, dan 27 orang luka bakar.

2. Data Tim Relawan, 33 meninggal dunia, 74 orang luka-luka.

Opini selama ini terbentuk adalah bahwa mereka yang meninggak akibat kesalahannya sendiri, padahal ditemukan banyak orang meninggal bukan karena kesalahannya sendiri. Perbedaan jumlah korban jiwa antara yang ditemukan tim dengan angka resmi yang dikeluarkan pemerintah terjadi karena pada kenyataannya begitu banyak korban yang telah dievakuasi sendiri oleh masyrakat, sebelum ada evakuasi resmi dari pemerintah. Korban-korban ini tidak tercatat dalam laporan resmi pemerintah.

4.4.kekerasan Seksual

4.4.1.Kategori Korban


Dengan mengacu Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual didefinisikan sebagai tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Sementara bila di pakai rujukan dari hukum positif Indonesia maka semua peristiwa kekerasan seksual tak dapat dijelaskan secara memadai dan adil. Bentuk-bentuk kekerasan seksual yang ditemukan dalam kerusuhan Mei 1998 lalu, dapat dibagi dalam beberapa kategori, yaitu: perkosaan, perkosaan dengan penganiayaan, penyerangan seksual/penganiayaan dan pelecehan seksual.

4.4.2. Jumlah Korban

Dari hasil verifikasi dan uji silang terhadao data yang ada, menjadi nyata tidak mudah data yang akurat untuk menghitung jumlah kekerasan seksual, termasuk perkosaan. TGPF menemukan adanya tindak kekerasan seksual di Jakarta dan sekitarnya, Medan dan Surabaya.

1. Yang langsung didengar : 3 Orang korban.
2. Yang diperiksa dokter secara medis : 9 orang korban.
3. Yang diperoleh keterangan daru orang tua korban : 3 orang korban.
4. Yang diperoleh dari saksi (perawat, psikiater, psikolog) : 10 orang korban.
5. Yang diperoleh melalui kesaksian rohaniawan/pendamping (konselor): 27 orang.

4.4.2.1. Korban perkosaan dengan penganiayaan

14 orang korban :

1. Yang diperoleh dari keterangan dokter: 3 orang korban.

2. Yang diperoleh dari keterangan saksi mata (keluarga): 10 orang korban.

3. Yang diperoleh dari keterangan konselor: 1 orang korban.

4.4.2.2. Korban penyerangan/penganiayaan seksual

10 orang korban :

1.Yang diperoleh dari keterangan korban: 3 orang korban.
2.Yang diperoleh dari keterangan rohaniawan: 3 orang korban.
3.Yang diperoleh dari keterangan saksi (keluarga): 3 orang korban.
4.Yang diperoleh dari keterangan dokter: 1 orang korban;

4.4.2.3. Korban pelecehan seksual

9 orang korban :

1. Yang diperoleh dari keterangan korban; 1 orang korban
2. Yang diperoleh dari keterangan saksi: 8 orang korban (dari Jakarta dan Surabaya)

4.5.Aspek Pertanggungjawaban Keamanan

Dari hasil verifikasi saksi dan korban, testimoni para pejabat ABRI dan mantan pejabat terkait, dari aspek keamanan TGPF menemukan fakta bahwa koordinasi antara satuan keamanan kurang mamadai, adanya keterlambatan antisipasi, adanya aparat keamanan di berbagai tempat tertentu membiarkan kerusuhan terjadi, ditemukan adanya di beberapa wilayah clash (bentrokan) antarpasukan dan adanya kesimpangsiuran penerapan perintah dari masing-masing satuan pelaksana. Di beberapa tempat didapatkan bukti bahwa jasa-jasa keamanan dikomersilkan. Begitu pula TGPF menemukan adanya kesenjangan persepsi antara masyarakat dan aparat keamanan. Masyarakat beranggapan bahwa di beberapa lokasi telah terjadi vakum kehadiran aparat keamanan, atau bila ada tidak berbuat apa-apa untuk mencegah atau meluasnya kerusuhan. Sebaliknya, para pejabat keamanan berkeyakinan tidak terjadi vakum kehadiran aparat keamanan, meskipun disadari kenyataan menunjukkan bahwa untuk lokasi tertentu masih tetap terjadi kerusuhan (di luar prioritias pengamanan), hal ini disebabkan oleh karena terbatasnya kekuatan pasukan.



BAB V
ANALISA


5.1. Aras Makro
Peristiwa kerusuhan tanggal 13-l5 Mei 1998 tidak dapat dilepaskan dari konteks dinamika sosial politik masyarakat Indonesia pada masa itu, yang ditandai dengan rentetan peristiwa Pemilu 1997, krisis ekonomi, Sidang Umum MPR RI Tahun 1998, demonstrasi simultan mahasiswa, penculikan para aktivis dan tertembaknya mahasiswa Trisakti. Pada peristiwa inilah rangkaian kekerasan yang berpola dan beruntun yang terjadi secara akumulatif dan menyeluruh, dapat dilihat sebagai titik api bertemunya dua proses pokok yakni proses pergumulan elit politik yang intensif yang terpusat pada pertarungan politik tentang kelangsungan rezim Orde Baru dan kepemimpian Presiden Suharto yang telah kehilangan kepercayaan rakyat dan proses cepat pemburukan ekonomi.
Di bidang politik terjadi gejala yang mengindikasikan adanya pertarungan faksi-faksi intra elit yang melibatkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam pemerintahan maupun masyarakat yang terpusat pada isu penggantian kepemimpinan nasional. Hal ini tampak dari adanya faktor dinamika politik seperti yang tampak dalam pertemuan di Makostrad tanggal 14 Mei 1998 antara beberapa pejabat ABRI dengan beberapa tokoh masyarakat, yang menggambarkan bagian integral dari pergumulan elit politik. Di samping itu dinamika pergumulan juga tampak pada tanggung jawab Letjen TNI Prabowo Subianto dalam kasus penculikan aktivis.
Analisa ini semakin dikuatkan dengan fakta terjadinya pergantian kepemimpinan nasional satu minggu setelah kerusuhan terjadi, yang sebelumnya telah didahului dengan adanya langkah-langkah ke arah diberlakukannya TAP MPR No. V /MPR/1998.
Di bidang ekonomi terjadi krisis moneter yang telab mengakibatkan membesarnya kesenjangan sosial ekonomi, menguatnya persepsi tentang ketikdakadilan yang semakin akut dan menciptakan dislokasi sosial yang luas yang amat rentan terhadap konflik vertikal (antarkelas) dan horizontal (antargolongan).
Di bidang sosial, akibat krisis bidang politik dan ekonomi, nampak jelas gejala kekerasan massa yang eksesif yang cenderung dipilih sebagai solusi penyelesaian masalah, misalnya dalam bentuk penjarahan di antara sesama penduduk di daerah. Begitu pula adanya sentimen ras yang laten dalam masyarakat telah merebak menjadi rasialisme terutama di kota-kota besar. Di samping itu identitas keagamaan telah terpaksa digunakan oleh sebagian penduduk sebagai sarana untuk melindungi diri sehingga menciptakan perasaan diperlakukan secara diskriminstif pada golongan agama lain. Mudah dipahami bahwa latar belakang kekerasan-kekerasan itu telah menjadikan peristiwa penembakan mahawiswa Universitas Trisakti sebagai pemicu kerusuhan berskala nasional.

5.2. Aras Mikro

Pada aras mikro (massa) dapat dianalisis bahwa dari satuan unit wilayah (enam lokasi kota yang dipilih TGPF), terdapat beberapa kesamaan, kemiripan, maupun variasi pola kerusuhan.
Pertama, di Jakarta pola umum kerusuhan terjadi dalam empat tahap, yaitu:

(a) tahap persiapan/pra perusakan meliputi aktivitas memancing reaksi dengan cara membakar material tertentu (ban, kayu, tong sampah, barang bekas) dan atau dengan cara membuat perkelahian antar kelompok/pelajar juga dengan meneriakan yel-yel tertentu untuk memanasi massa/menimbulkan rasa kebencian seperti: "mahasiswa pengecut", "polisi anjing;"

(b) tahap perusakan meliputi aktivitas seperti: melempar batu, botol, mendobrak pintu, memecahkan kaca, membongkar sarana umum dengan alat-alat yang dipersiapkan sebelumnya;

© tahap penjarahan meliputi seluruh aktivitas untuk mengambil barang atau benda-banda lain dalam gedung yang telah dirusak;

(d) tahap pembakaran yang merupakan puncak kerusuhan yang memberikan dampak korban dan kerugian yang paling besar.

Kedua, di Solo, TGPF menemukan fakta yang selain memberi petunjuk jelas mengenai keterlibatan para preman termasuk organisasi pemuda setempat, juga dari kelompok yang berbaju loreng dan baret merah sebagaimana yang digunakan kesatuan Kopassus, dalam mengkondisikan terjadinya kerusuhan. Kasus-kasus Solo, mengindikasikan keterkaitan antara kekerasan massa di tingkat bawah dengan pertarungan elite di tingkat atas. Penumpangan kasus Solo melalui provokator lokal dipermudah oleh kenyataan, bahwa aksi-aksi mahasiswa Solo sebelum kerusuhan sudah menimbulkan bentrokan dan korban fisik, bahkan pada masa-masa sebelum mahasiswa di kota lain berdemontrasi.

Ketiga, Surabaya dan Lampung dan dikelompakkan menjadi satu kategori, karena beberapa ciri yang serupa. Di kedua kota ini, kerusuhan relatif berlangsung cepat dan segara dapat diatasi, skalanya relatif kecil dengan korban dan kerugian yang tidak begitu parah. Sekalipun pada kasus kedua kota ini juga didapati "penumpang gelap" (free rider) dan provokator lokal tetapi keduanya menunjukkan lebih menonjol sifat lokal, sporadis, terbatas, dan spontan.

Keempat, kasus Palembang lebih tidak bersifat spontan dibanding Surabaya dan Lampung. Para "penumpang gelap" atau provokator lokal lebih berperan dan mengarah pada kerusuhan terencana dan terorganisir dalam skala yang lebih besar.

Kelima, sedangkan kasus Medan, unsur-unsur penggerak lokal dengan ciri preman kota lebih menonjol lagi. patut diingat, bahwa kerusuhan di Medan sudah terjadi sepekan sebelum kerusuhan tanggal 13-15 Mei 1998 di lima kota lainnya, namun Medan merupakan titik awal rangkaian munculnya secara nasional.
Dari uraian di atas, TGPF menemukan bahwa kerusuhan di Jakarta, Solo, Medan mempunyai kesamaan pola. Sedangkan kerusuhan di Palembang secara umum memiliki kesamaan dengan kerusuhan di Jakarta, Solo, Medan namun memiliki ciri spesifik di mana provokator dan "penumpang gelap" sukar dibedakan. Adapun kerusuhan yang terjadi di Lampung dan Surabaya, pada hakekatnya menunjukkan sifat-sifat yang lokal, sporadis, terbatas dan spontan.

5.2.1. Korban Kekerasan Seksual

1.Besarnya jumlah korban jiwa selama kerusuhan disebabkan oleh telah terkumpulnya secara berpola terlebih dahulu jumlah massa yang besar disekitar gedung-gedung pusat pertokoan yang kemudian pada awalnya didorong memasuki gedung-gedung tersebut meninggal di dalam gedung yang terbakar. Bahwa jumlah korban jiwa yang besar juga diakibatkan oleh sangat lemahnya upaya penyelamatan, baik oleh masyarakat maupun instansi/aparatur. Faktor kebakaran dan skala kerusuhan yang telah terjadi merupakan penyebab utama dari kerugian materiil yang sangat besar.

2. Dari segi intensitas kekerasan terhadap sebagian korban yang menjadi sasaran serangan, dimensi sentimen anti rasial terhadap golongan etnik Cina yang latent merupakan faktor penyebab dominan yang mudah diekspolitir untuk menciptakan kerusuhan. Faktor lain yang telah menyebabkan penyerangan terhadap kelompok etnis Cina karena penyerangan awal yang ditujukan terhadap toko-toko dan rumah- rumah milik golongan etnis tersebut yang terkonsentrasi di beberapa wilayah tertentu.

3. Kekerasan seksual telah terjadi selama kerusuhan dan merupkan satu bentuk serangan terhadap martabat manusia yang telah menimbulkan penderitaan yang dalam serta rasa takut dan trauma yang luas. Kekerasan seksual terjadi karena adanya niat tertentu, paluang, serta pembentukan psikologi massa yang seolah-olah membolehkan tindakan tersebut dilakukan sehingga melipatgandakan terjadinya perbuatan tersebut.

4. Sosial Ekonomi. Tekanan dan kesenjangan sosial ekonomi yang diperparah oleh kelangkaan bahan pokok yang dialami masyarakat, rawan terhadap pengeksploatasian sehingga melahirkan dorongan-dorongan destruktif untuk melakukan tindak-tindak kekerasan (perusakan, pembakaran, penjarahan dan lain-lain). Sebagian besar mereka yang terlibat ikut- ikutan dalam kerusuhan pada dasarnya adalah korban dari keadaan serta struktur yang tidak adil. Mereka berasal dari lapisan rakyat kebanyakan.

5. Adanya kesimpangsiuran di masyarakat tentang ada tidaknya serta jumlah korban perkosaan timbul dari pendekatan yang didasarkan kepada hukum positif yang mensyaratkan adanya laporan korban, ada/tidaknya tanda-tanda persetubuhan dan atau tanda-tanda kekerasan serta saksi dan petunjuk. Di pihak lain, keadaan traumatis, rasa takut yang mendalam serta aib yang dialami oleh korban dan keluarganya, membuat mereka tidak dapat mengungkapkan segala hal yang mereka alami.
Dari korban kekerasan seksual, khususnya korban perkosaan yang berjumlah 14 orang, setelah diverifikasi terdapat dua kelompok korban ditinjau dari sudut pendekatan positif dan empirik yaitu:

1.Fakta yang berasal dari korban langsung dan IDI yang berdasarkan sumpah jabatan dan Protokol Jakarta sebanyak 3 orang.
2.Fakta yang berasal dari keluarga korban, saksi, psikater/psikolog maupun rohaniwan/pendamping sebanyak 11 orang.

5.2.2. Aspek Pertanggungjawaban Keamanan

Kurang memadainya koordinasi antar satuan pengaman, adanya keterlambatan antisipasi, adanya aparat keamanan yang membiarkan kerusuhan terjadi dan adanya kesimpangsiuran penerapan perintah dari masing-masing satuan pelaksana, begitu juga perbedaan persepsi tentang adanya vakum kehadiran aparat keamanan dimungkinkan karena:

1.Adanya kelemahan komando dan pengendalian yang berakibat pada ketidaksamaan, ketidakjelasan/kesimpangsiuran perintah yang diterima oleh satuan/pasukan di lapangan.

2.Pemilihan penetapan prioritas penempatan pasukan pengaman sentra-sentra ekonomi dan perdagangan yang tidak memadai untuk dapat segara meredakan keadaan telah menyebabkan banyak korban, bertalian dngan kondisi keterbatasan pasukan di wilayah jakarta serta dihadapkan dengan ekskalasi kerusuhan yang tidak mampu diantisipasi.

3.Komunikasi antar pasukan pengamanan tidak lancar yang disebabkan oleh keanekaragaman spesifikasi alat-alat komunikasi yang digunakan , yang semakin dipersulit oleh banyaknya gedung bertingkat tinggi.

4.Sesuai dengan doktrin ABRI rakyat bukanlah musuh, sehingga secara hukum aparat keamanan tidak boleh mengambil tindakan berupa penembakan terhadap rakyat/masyarakat. Secara psikologi aparat keamanan menghadapi dilema untuk mengambil tindakan efektif oleh karena banyaknya anggota masyarakat dan adanya pasukan lain yang berada di sekitar lokasi.

5.Adanya perbedaan pola tindak dan bentrokan di lapangan antara yang mencerminkan kondisi kurangnya koordinasi dan saling kepercayaan akan tugas untuk menghadapi tekanan arus massa yang besar.
Kurang/terbatasnya satuan operasi Polda maupun Kodam Jaya dihadapkan pada luasnya wilayah tanggung jawab serta banyaknya tempat-tempat yang bernilai strategis (obyek wisata), Seharusnya Kapolda ataupun Pangdam Jaya mengambil skala prioritas dalam mengalokasikan atau menempatkan satuan/pasukan pengaman, sehingga ada beberapa tempat/wilayah terpaksa tidak dialokasikan satuan/pasukan pengaman.

BAB VI
KESIMPULAN


1. Sebab pokok peristiwa Kerusuhan 13-14 mei 1998 adalah terjadinya persilangan ganda antara dua proses pokok yakni proses pergumulan elit politik yang bertalian dengan masalah kelangsungan kekuasaan kepemimpinan nasional dan proses pemburukan ekonomi moneter yang cepat. Di dalam proses pergumulan elit politik itu, ada pemeran-pemeran Makostrad tanggal 14 Mei 1998, patut diduga dapat mengungkap peranan pelaku dan pola pergumulan yang menuju pada kerusuhan yang terjadi.

2. Peristiwa kerusuhan 14 Mei 1998 adalah puncak dari rentetan kekerasan yang terjadi dalam berbagai peristiwa sebelumnya, seperti penculikan yang sesunguhnya sudah berlangsung lama dalam wujud kegiatan inteljen yang tidak dapat diawasi secara efektif dan peristiwa Trisakti. Dapat disimpulkan bahwa peristiwa penembakan mahasiswa di Trisakti telah menciptakan faktor martir yang telah menjadi pemicu (triggering factor) kerusuhan.

3. Dari fakta di lapangan terdapat tiga pola kerusuhan, yaitu:
Pertama, Kerusuhan bersifat lokal, sporadis, terbatas dan spontan, berlangsung dalam waktu relatif singkat dan dengan skala kerugian serta korban yang relatif kecil. Kerusuhan dengan pola seperti ini terjadi karena situasi sosial-ekonomi-politik yang secara obyektif sudah tidak mungkin dicegah.

Kedua, Kerusuhan bersifat saling terkait antar-lokasi, dengan model yang mirip Provokator dalam jenis kerusuhan ini berperan lebih menonjol dibanding jenis kerusuhan pertama. Mereka bukan berasal dari lokasi yang bersangkutan. Kemudian, ada kemiripan, atau bahkan keseragaman waktu dan urutan-urutan kejadian. Karena jenis kerusuhan ini skalanya besar, dan beberapa tempat, bahkan mengindikasikan berlangsung secara berurutan secara sistematik. Namun, belum ditemukan indikasi bahwa kerusuhan jenis ini direncakan dan pecah secara lebih luas daripada sekedar bersifat lokal yang berurutan. Terdapat mata rantai yang terputus (missing link) bagi pembuktian bahwa kerusuhan ini terjadi kondisi objektif. Kerusuhan jenis ini skalanya besar dan didapati semua tempat.
Ketiga, Terdapat indikasi bahwa kerusuhan terjadi karena sengaja. Unsur kesengajaan lebih besar, dengan kondisi objektif yang sudah tercipta. Jenis kerusuhan ini umumnya mirip dengan jenis kedua, tetapi unsur penumpangan situasi jauh lebih jelas. Pada jenis atau pola ketiga ini, diduga kerusuhan diciptakan sebagai bagian dari pertarungan politik di tingkat elite. Sebagaimana halnya pada kerusuhan jenis kedua, terdapat sejumlah mata rantai yang hilang (missing link) yaitu bukti-bukti atau informasi yang merujuk pada hubungan secara jelas antara pertarungan antar elite dengan aras massa.

4. Dari temuan lapangan, banyak pihak yang berperan di semua tingkat, baik sebagai massa aktif maupun provokator unytuk mendapatkan keuntungn pribadi maupun kelompok atau golongan, atas terjadinya kerusuhan. Kesimpulan ini merupakan penegasan bahwa terdapat keterlibatan banyak pihak, mulai dari preman lokal, organisasi politik dan massa, hingga adanya keterlibatan sejumlah anggota dan unsur di dalam ABRI yang di luar kendali dalam kerisuhan ini. Mereka mendapatkan keuntungan bukan saja dari upaya secara sengaja untuk menumpangi kerusuhan, melainkan juga dengan cara tidak melakukan tindakan apa-apa. Dalam konteks inilah, ABRI tidak cukup bertindak untuk mencegah terjadinya kerusuhan, padahal memiliki tanggung jawab untuk itu. Di lain pihak, kemampuan masyarakat belum mendukung untuk turut mencegah terjadinya kerusuhan.

5. Angka pasti korban jiwa secara nasional tidak dapat diungkapkan, karena adanya kelemahan dalam sistem pemantauan serta prosedur pelaporan. Korban jiwa terbesar diderita oleh rakyat kebanyakan. Mereka sebagian besar meninggal karena terbakar. Mereka tak dapat dipersalahkan begitu saja dengan stigma penjarah. Begitu juga nilai kerugian material secara pasti tak dapat dihitung, hanya dapat diperkirakan.

6. Bedasarkan fakta yang ditemukan dan informasi dari saksi-saksi ahli, telah terjadi kekerasan seksual, termasuk perkosaan, dalam peristiwa Kerusuhan tanggal 13- 14 mei 1998. Dari sejumlah kasus yang dapat diverifikasi dapt disimpulkan telah terjadi perkosaan yang dilakukan terhadap sejumlah perempuan oleh sejumlah pelaku di bebagai tempat yang berbeda dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan, dapat terjadi secara spontan karena situasinya mendukung atau direkayasa oleh kelompok tertentu untuk tujuan tertentu. Korban adalah penduduk indonesia dengan berbagai latar belakang, yang diantarannya kebanyakan adalah etnis Cina.

7. Belum dapat dipastikan bahwa kekerasan seksual yang terjadi merupakan kegiatan yang terencana atau semata ekses dari kerusuhan. Tidak ditemukan fakta tentang adanya aspek agama dalam kasus kekerasan seksual. Juga disimpulkan, bahwa perangkat hukum positif tidak memadai dan oleh karena itu tiadak responsif untuk memungkinkan semua kasus perkosaan yang ditemukan atau dilaporkan dapat diproses secara hukum dengan segera.

8. Peristiwa kerusuhan ini semakin meluas oleh karena kurang mamadainya tindakan-tindakan pengamanan guna mencegah, membatasi dan menanggulangi pecahnya rangkaian perbuatan kekerasan yang seharusnya dapat diantisipasi dan yang kemudian berproses secara eskalatif. Dapat disimpulkan bahwa adanya kerawanan dan kelemahan operasi keamanan di Jakarta khususnya bertalian erat dengan kerusuhan pengembangan tanggung jawab Pangkoops Jaya yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana yang seharusnya. Gejala kerawanan dan kelemahan keamanan dalam gradasi yang berbeda-beda di berbagai kota lain di mana terjadi kerusuhan, juga bertalian dengan masalah pergumulan elit politik pada tingkat Nasional.

9. Ditegaskan korelasi sebab-akibat dari peristiwa-peristiwa kekerasan yang memuncak pada peristiwa kerusuhan 13-14 mei 1998, dapat dipersepsi sebagai suatu upaya ke arah penciptaan situasi darurat yang memerlukan tindakan pembentukan kekuasaan konstitusional yang ekstra, guna mengendalikan keadaan, yang persiapan-persiapan ke arah itu telah dimulai pada tingkat pengambilan keputusan tertinggi.

BAB VII
REKOMENDASI


Dari kesimpulan di atas TGPF menyampaikan rekomendasi kebijakan dan kelembagaan sebagi berikut:

1. Pemerintah perlu melakukan penyelidikan lanjutan terhadap sebab-sebab pokok dan pelaku utama peristiwa kerusuhan 13-14 Mei 1998, dan kemudian menyusun serta mengumumkan buku putih mengenai peranan dan tanggung jawab serta keterkaitan satu sama lain dari semua pihak yang bertalian dengan kerusuhan tersebut. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan penyelidikan terhadap pertemuan di Makostrad pada tanggal 14 Mei 1998 guna mengetahui dan mengungkap serta memastikan peran Letjen. Prabowo dan pihak-pihak lainya, dalan seluruh proses yang menimbulkan terjadinya kerusuhan.

2. Pemerintah perlu sesegera mungkin menindaklanjuti kasus-kasus yang diperkirakan terkait dengan rangkaian tindakan kekerasan yang memuncak pada kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang dapat diungkap secara yuridis baik terhadap warga sipil maupun militer yang terlibat dengan seadil-adilnya, guna menegakkan wibawa hukum, termasuk mempercepat proses Yudisial yang sedang berjalan. Dalam rangkaian ini Pangkoops Jaya Mayjen Syafrie Syamsoeddin perlu dimintakan pertanggung jawabannya. Dalam kasus penculikan Letjen Prabowo dan semua pihak yang terlibat harus dibawa ke pengadilan militer. Demikian juga dalam kasus Trisakti, perlu dilakukan berbagai tindakan lanjutan yang sungguh-sungguh untuk mengungkapkan peristiwa penembakan mahasiswa.

3. Pemerintah harus segera memberikan jaminan keamanan bagi saksi dan korban dengan membuat undang-undang dimaksud. Sementara undang-undang tersebut belum terbentuk, pemerintah segera membuat badan permanen untuk melaksanakan program perlindungan terhadap para korban dan saksi (victim and witness protection program).

4. Pemerintah harus memberikan rehabilitas dan kompensasi bagi semua korban dan keluarga kerusuhan. Pemerintah juga untuk mengurus surat-surat berharga milik korban. Terhadap gedung-gedung yang terbakar, pemerintah perlu segera membantu pembangunan kembali gedung-gedung tersebut, terutama sentra-sentra ekonomi dan perdagangan serta fasilitas-fasilitas sosial.

5. Pemerintah perlu segera meratifikasi konvensi internasional mengenai anti-diskriminasi rasial dan merealisasikan pelaksanaanya dalam produk hukum positif, termasuk implementasi konvensi anti penyiksaan.
6. Pemerintah perlu segera membersihkan segala bentuk premanisme yang berkembang di semua lingkungan, lapisan dan profesi masyarakat sesuai dengan hukum yang berlaku, dan menetapkan secara hukum pelarangan penggunaan seragam-seragam militer atau yang menyerupai seragam militer bagi organisasi massa yang cenderung menjadikannya sensasi organisasi para militer.

7. Pemerintah perlu segera menyusun undang-undang tentang intelejen negara yang menegaskan tanggung jawab pokok, fungsi dan batas ruang lingkup pelaksanaan operasi intelejen pada badan pemerintah/negara yang berwenang, sehingga kepentingan keamanan negara dapat dilindungi dan di pihak lain hak asasi manusia dapat dihormati. Yang tak kurang penting adalah bahwa kegiatan operasi intelejen dapat diawasi secara efektif oleh lembaga-lembaga pengawas, sehingga tidak berubah menjadi instrumen kekuasaan bagi kepentingan politik dari pihak tertentu.

8. Pemerintah perlu membentuk mekanisme pendataan lanjutan yang dapat menampung proses pemuktahiran data-data tentang semua aspek yang menyangkut kerusuhan tanggal 13-15 Mei 1998.


BAB VIII
STATUS HUKUM


1.Keseluruhan bahan-bahan dan dokumentasi serta Laporan Akhir Tim Gabungan Pencari Fakta diserah terimakan kepada pemerintah cq Menteri Kehakiman pada saat berakhirnya tugas TGPF.
2.Dengan berakhirnya tugas Tim Gabungan Pencari Fakta, maka secara hukum segala hak, kewajiban dan tanggung jawab sebagai anggota berakhir.


BAB IX
PENUTUP


Peristiwa Kerusuhan 13-15 Mei 1998 adalah tragedi nasional yang sangat manyedihkan dan merupakan satu aib terhadap martabat dan kehormatan manusia, bangsa dan negara secara keseluruhan. Pemerintah maupun masyarakat harus secara sungguh-sungguh mengambil segala tindakan untuk mencegah terulangnya peristiwa semacam kerusuhan tersebut. Adalah mendesak bahwa perhatian dan solidaritas semua pihak diwujudkan secara nyata kepada para korban dan keluarga korban, sehingga pemulihan hak-hak sebagai satu bangsa yang beradab juga ditentukan sejauh mana bangsa kita dapat mengkoreksi kelemahan dan kekurangannya, secepat apa kita menghilangkan rasa takut dan mewujudkan rasa tenteram dan aman untuk setiap orang tanpa terkecuali.


***


#6 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 03 July 2008 - 01:51 PM

Korban Pemerkosaan

Pada peristiwa Kerusuhan Mei 1998 ini banyak para kaum wanita yang menjadi sasaran kebrutalan yang merendahkan martabat wanita Indonesia pada saat itu. Beribu kecaman datang dari pendemo di negara-negara lain yang mengecam Indonesia sebagai bangsa yang mengintimidasikan rakyat minoritasnya terutama kepada warga negara keturunan (Tionghua). Antara pendemo banyak dari kaum wanita yang peduli atas nasib sesamanya yang mengalami pelecehan seksual, kekerasan seksual, dan pemerkosaan yang berujung kesebuah pembunuhan.
Kesengsaran dan penderitaan dialami oleh korban pemerkosaan. Trauma yang berkepanjangan, hingga tak menutup kemungkinan jiwanya terganggu atas segala peristiwa yang pernah menimpanya. Tak sedikit dari mereka yang lebih memilih merubah identitas dirinya dan pergi meninggalkan negara yang kejam seperti Indonesia ini, pindah menjadi warga negara yang mau menerimanya tanpa melihat dan menilai dari mana dia dan dari bangsa apa dia.

Sesungguhnya dalam hal mengintimidasikan warga keturunan Cina di Indonesia sudah berlangsung lama sekali, entah awal penyebabnya apa, hingga kini tak ada yang dapat memberikan jawaban yang tepat untuk mengungkap sikap intimidasi warga Indonesia terhadap warga keturunan Cina yang telah jelas-jelas menjadi warga negara resmi Indonesia. Hingga yang lahir dan besar di tanah Indonesia ini pun masih tetap di kucilkan oleh warga yang lainnya.

Menurut salah seorang yang berhasil saya minta informasinya tentang mengapa warga pribumi terlalu mengintimidasikan warga keturunan yang menetap dan tinggal di Indonesia ini.
Menurutnya :

“Karena orang Cina itu sifatnya terlalu menyendiri dan tak suka berbaur dengan warga yang lain. Orang Cina kaya-kaya, misalnya lihat saja rumahnya rata-rata gedongan, mobilnya paling sedikit tiga... yah mungkin dari sisi ini, warga yang lain merasa membenci mereka.”

Dari penuturan diatas terlihat sangat jelas rasa iri yang dilukiskan oleh orang tersebut yang tak menyukai warga Cina Indonesia. Namun apa salahkah mereka apabila mereka memperoleh kekayaannya dari hasil jerih payah mereka sendiri, bukan seperti para pejabat-pejabat yang berlomba-lomba menghisap darah rakyat perlahan-lahan layaknya lintah yang tak pernah kenyang meminum darah mangsanya hingga kering.
Sebenarnya yang harus dikecam adalah mereka yang telah menipu dan memperdayai kepercayaan rakyatnya. Jelas menindas rakyat namun selalu terbebas dari jeratan hukum yang berlaku.

Korban perkosaan sampai kini tetap membisu karena traumanya lebih besar daripada pembunuhan. Kemala Chandra Kirana (Ketua Komnas Perempuan) mengatakan. Ketika membisu, orang lain padahal dapat mempolitisasi dan mengatasnamankan korban.
Menurut Saparinah Sadli, mantan anggota TGPF yang menyelidiki kerusuhan Mei 1998, perkosaan memang mempunyai dampak yang sangat kompleks. Laporan TGPF juga menyebutkan kondisi umum para korban antara lain ketika diperiksa menangis, gemetar, dan sangat takut; korban dan ibunya mengalami goncangan jiwa, bengong, dan pandangan mata kosong.

Selain itu, ada pula kondisi kejiwaannya destruktif, sering mengamuk terutama bila bertemu laki-laki. Ada yang hampir bunuh diri, tapi ada juga yang meninggal setelah disuruh ibunya meminum cairan pembasmi serangga. Selain itu, ada seorang remaja berumur 14 tahun hamil setelah diperkosa (kisahnya telah dituangkan di halaman berikutnya pada “Kesaksian Kasus Perkosaan Mei 1998).

Data TGPF menunjukkan, jumlah perkosaan mencapai 50 (lima puluh) orang di Jakarta dan sekitarnya, 1 (satu) orang di Medan, 2 (dua) orang di Surabaya; perkosaan dengan penganiayaan 14 (empat belas) orang di Jakarta dan sekitarnya, penyerangan seksual/penganiayaan 9 (sembilan) orang di Jakarta dan sekitarnya, 1 (satu) orang di Medan; pelecehan seksual 5 (lima) orang di Jakarta dan sekitarnya, 8 (delapan) orang di Medan, dan 6 (enam) orang di Surabaya. (pada data ini bisa anda lihat selengkapnya pada data “Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta”).

Jumlah korban perkosaan dan pelecehan seksual menjadi perdebatan paling kontroversial. Dalam tubuh TGPF sendiri terjadi perdebatan panjang yang sempat menimbulkan konflik dalam proses penyelidikan terhadap korban. Namun anehnya, dokumen asli yang disimpan TGPF di kantor Komnas HAM di Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Hilang.

“Dokumen asli TGPF yang disimpan di Komnas HAM hilang. Yang ada hanya fotokopian. Dan setelah kita telusuri, 90 persen alamat yang tertera di dalam data tersebut hilang,”ungkap Ester Indahyani Jusuf, salah satu penulis buku “Kerusuhan Mei 1998”.


Kejadian Yang Mulai Dilupakan

Sangat dramatis sekali kedengarannya, bila suatu kejadian yang pernah mencoreng luka serta meninggalnya beribu-ribu warganya dalam suatu negara hingga kecaman-kecaman berbagai negara luar menuding terhadap negara tersebut. Namun amat disayangkan bila suatu negara tersebut hanya mengindahkan tudingan tersebut dengan melakukan beberapa tindakkan yang tak berarti. Kasus yang tak pernah selesai, pelaku yang tak pernah terungkap. Seakan akan hilang terlupakan begitu saja seiring dengan berjalannya waktu.
Bagaimana nasib para korban yang telah mengalami tekanan jiwa atas kejadian itu. Mereka juga manusia yang ingin sebuah keadilan ditegakkan atas segala peristiwa yang menimpa dirinya dan keluarganya. Bukan sebuah hukum yang seakan-akan hanya dibuat-buat atau direkayasa hanya untuk menina bobo kan mereka-mereka yang tak henti-hentinya meminta pemerintah menyelesaikan kasus perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Kasus ini bukan merupakan kasus yang kecil masalahnya bagi sebuah negara. Bila sebuah perkara kasus yang telah melibat kan berbagai instansi dan hingga menimbulkan kematian yang massal. Maka kasus ini bisa dikatakan kasus yang serius bagi suatu negara. Entah bagaimana cara negara tersebut mengatasinya dalam menyelesaikan kasus yang telah berlarut-larut tak berujung membuahkan hasil yang memuaskan.
Bagaimana rakyat mempercayai kinerja kerja suatu pemerintahan, bila dalam memecahkan suatu kasus manusiawi seperti pada “Kerusuhan Mei 1998” ini. Kita dapat melihat bagaimana pemerintah Indonesia terlalu menganggap ringan kejadian ini, hingga mengatakan bahwa penembakkan yang menghilangkan nyawa mahasiswa Trisaksi itu bukan merupakan pelanggaran HAM berat. Dari penuturan ini saja sudah sangat jelas sekali bahwa berbagai upaya diusahakan untuk ditenggelamkan atau dihilangkan. Sedangkan dalam hal pelecehan seksual yang dialami oleh kaum wanita keturunan Cina yang juga merupakan warga negara Indonesia resmipun hanya berjalan beberapa bulan setelah berakhirnya masa kerja TGPF yang ternyata fungsinya hanya mengumpulkan data dan informasi atas kerusuhan serta perkosaan tanpa langsung menindak lanjuti perkara memalukan itu ke meja hijau.

Tindakkan ini sungguh-sungguh memalukan. Betapa kejinya mereka yang menganggap kejadian ini hanya cerita lama atau dongeng belaka saja. Yang hingga mengatakan bahwa kejadian pemerkosaan itu hanya rekayasa. Bagaimana mereka bisa mengatakan sedemikian rupa atas kejadian yang benar-benar terjadi. Jelas pada isi Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta yang di bentuk untuk mengungkapkan kebenaran kejadian kerusuhan, telah jelas menjabarkan sejumlah korban pelecehan seksual, hingga pemerkosaan terhadap wanita etnis Cina pada umumnya (dapat anda temukan di isi Laporan TGPF).

“Jadi upaya pelupaan ini sangat sistematis. Kami percaya ini sebagai upaya pelaku kerusuhan 13-15 Mei 1998. maka tekad kami untuk melawan pelupaan ini,” kata Ester. Itulah salah satu hambatan dalam proses pembuatan buku setebal 470 halaman yang diterbitkan oleh SNB dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (APHI) itu. Belum lagi, tidak ada data yang bisa diakses dari TNI, Polri, dan pemerintah. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga tidak mau memberi kesaksian secara terbuka atas kerusuhan di Jakarta.
Menjelang penerbitan buku, malah ada surat dari Komnas HAM. Menurut Ester, Sriyana dari Komnas HAM menilai buku tersebut membongkar rahasia pekerjaan di Komnas HAM, padahal, menurut Ester, isi buku itu merupakan data laporan TGPF serta hasil investigasi SNB, APHI dan masyarakat Korban.

Pengamat politik dari Center for Strategy and International Studies (CSIS), J Kristiadi, mengakui adanya intrik-intrik dalam tubuh militer, politis, intelejen dan lain-lain yang menyulitkan penulisan buku tersebut. Buku itu, seperti kata Saparinah Sadli, padahal mendorong pemerintah dan DPR untuk menyelidiki kasus Mei.
Saparinah berpendapat kasus Mei memenuhi unsur sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan karena telah dirancang, meluas (tidak hanya terjadi di satu kota), dan di biarkan berangsung (aparat keamanan tidak menunjukkan kuatnya penyangkalan dari penguasa.
Di lain pihak, dosen Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri pesimistis kasus Mei akan terungkap. “Mengapa? Saat ini yang berkuasa Orde Baru Jilid II (mungkin maksud dari dosen UI ini dengan Orde Baru Jilid II adalah pemerintahan baru yang digerakkan oleh oknum tertentu yang memiliki kekuasaan lebih besar dari MPR yang sebagai lembaga kekuasan tertinggi di Indonesia). Tidak akan terungkap kalau orang-orang yang terlibat itu memegang kekuasaan,“ ia mengingatkan. Dan jika kasus ini tidak dapat dipertanggungjawabkan, tidak ada jaminan kasus ini tidak akan terulang lagi.


Kesaksian Kasus Perkosaan dan Kerusuhan Mei 1998

Kekelaman pada suatu sejarah bangsa ini telah membuat akhlak bangsa ini menjadi binatang yang tak bermoral, rakyat yang menjajah bangsanya sendiri. Merusak segala fasilitas yang terdapat dibeberapa tempat. Tak hanya itu saja, dalam kerusuhan ini berlangsung beberapa wanita etnis Cina pun harus mengalami berbagai pengalaman pahitnya menjadi warga keturunan yang tinggal di Indonesia.
Padahal kemarahan mereka juga sama dengan kemarahan rakyat lainnya yang telah semena-mena dengan bangsa ini. Namun entah mengapa mereka menjadi sasaran amuk massa yang tak beralasan jelas ini. Hingga berbagai kejadian pun terjadi.

Pada bagian ini saya akan coba telusuri berbagai pengakuan dari saksi korban yang hidup maupun saksi keluarga korban yang mengalami kejadian secara langsung dengan mata dan kepalanya sendiri. Perlu diketahui dalam cerita dibawa ini, akan sedikit saya edit namun masih dalam satu alur cerita aslinya. Hanya memberikan beberapa kalimat agar dalam cerita ini bisa mudah dimengerti. Namun saya tidak bermaksud sedikitpun merubah atau menganti jalur cerita tersebut.

Ibu Farida Gunawan
Pada tanggal 13 Mei 1998 saya berada di Cengkareng, tidak bisa pulang. Sekitar jam 18.00 sebenarnya saya sudah diingatkan tidak lewat jalan itu, tapi saya nekat. Benar saja, di Jalan. Daan Mogot banyak massa. Saya lihat ada mobil dicegat massa. Akhirnya saya balik, mobil saya tinggal, ngasih yang 15.000 (lima belas ribu rupiah). Kemudian saya naik ojek ke Jalan. Peta. Saya kemudian naik mikrolet. Sampai diperempatan Cengkareng, kendaraan di stop massa, penumpang disuruh turun. Kaca mobil dipecah-pecahin. Bapak-bapak kemudian bilang “Ayoh, ibu-ibu ke sini”. Kita kemudian dikurung. Orang makin banyak berdatangan dari berbagai penjuru. Toko-toko sudah tutup, mulai ada kebakaran. Sebelum gelap. Datang mobil Taft yang juga distop massa. Ada yang bilang “Ada cinanya nggak?” saya melihat seorang gadis ditarik dari mobil dan berteriak-teriak. “Mama, mama”. Anak gadis itu langsung disergap dan digerayangi, yang laki-laki dipukulin. Ada seorang laki-laki yang mulai mencoba menyentuh kemaluan gadis itu, tetapi diteriaki “He... punya cina haram”. Kemudian anak gadis itu kemaluannya disodok dengan mengunakan kayu. Nggak ada yang berani menolong mereka. Setelah korban ditinggalkan massa, ada seorang bapak mencoba menolong dengan memanggilkan taksi. Tapi tak ada taksi yang mau menolong. Akhirnya ada juga supir taksi yang berbaik hati menolong dan berhenti. Kemudian mereka membawanya ke RS. Graha Medika.

Saya menginap di Citra III dan baru pulang hari Jum’at. Pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 1998 saya pergi ke RS. Graha Medika untuk menengok anak gadis itu. Tetapi mereka tak saya temukan. Saya coba cari ke UGD. Di sana saya melihat seorang bapak dan istrinya dengan anak gadisnya yang wajahnya ditutup oleh sprei. Mereka bicara pakai bahasa Mandarin “Kita pulang kemana?” Mereka mondar mandir kebingungan. Kemudian saya menawarkan bantuan untuk mengantar mereka pulang, karena pada waktu itu sulit mencari kendaraan. Saya tanya kepada mereka “Rumah kamu kebakar?” Mereka mengangguk. Kemudian saya menawarkan kepada mereka untuk menginap di rumah saya. Setelah berunding, mereka menerima tawaran bantuan dari saya dengan janji akan membayarnya kemudian. Saya mengantar mereka di rumah kosong milik saya di daerah Serpong.

Pada hari Minggu saya datang menengok mereka dan menanyakan apakah ada masalah dengan anak perempuannya. Kalau mau saya bawakan dokter. Mereka setuju saya membawa dokter untuk anaknya. Dokter yang saya bawa bersedia menolong, asal dia tidak dilibatkan dalam masalah ini.

Pada hari Kamis, saya mengurus visa untuk mereka. Akhirnya mereka bersama 2 (dua) keluarga lainnya berangkat ke Perth, Australia. Saya hanya mengantar mereka sampai bandara. Dalam perjalanan anak gadis itu selalu menutup wajahnya dengan sprei, sama sekali tidak berbicara. Mereka disana dijemput anak saya dan tim relawan yang ada disana. Dua bulan kemudian mereka menelphone saya, bertanya mengapa saya tidak datang. Mereka pesan untuk dibelikan celana dalam ketat 2 (dua) lusin warna hitam.

Pada tanggal 2 Juli saya berangkat ke Perth. Sesampai di rumah dimana mereka tinggal, saya melihat begitu banyak celana dalam dijemur. Setelah bertemu dengan saya, ibu itu menangis. Saya melihat anak gadis itu masih menutup mukanya. Setelah bertemu dengan saya, gadis itu langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Pada saat itu saya mendapat laporan dari konselor yang menangani kasus gadis itu. Konselor itu kewalahan dan menyerah karena korban sama sekali tidak kooperatif. Saya minta supaya diganti konselor lain yang bisa berbahasa Indonesia. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis melihat anaknya seperti itu. Saya minta anak itu menuliskan saja apa yang ingin dia katakan. Tapi dia hanya mampu menulis “Ke...,” Dan kemudian marah-marah. Saya menduga dia sebenarnya ingin menulis “Kenapa”. Ibunya mengatakan kalau ingin pulang. Saya kasihan melihat mereka, rasanya pertolongan saya sia-sia. Mereka di sana jadi terasing. Di sana mereka juga tidak berani keluar rumah. Waktu itu saya rencananya akan pulang tanggal 16 Agustus.

Tanggal 15, saya datang lagi ke tempat mereka. Gadis itu sudah mulai mau bicara, tapi bicaranya sangat keras dan tidak jelas apa yang dikatakannya, karena dia masih juga tidak mau membuka mulutnya. Mulutnya tetap terkatup ketika ia bicara. Sekali lagi saya meminta dia menuliskan apa yang ingin dikatakannya. Dia bukannya menulis, tapi malah memukul-mukulkan pensil itu ke meja. Sementara ibunya kelihatan seudah seperti orang gila, rambutnya gembel dan jarang makan. Kerjanya mondar-mandir dan tangannya gemetar tiap memegang sesuatu. Gadis itu kembali marah-marah, masuk kamar dan mengunci pintu. Ibunya mengatakan kalau anaknya ingin bunuh diri. Pada waktu itu saya sangat marah dan kecewa. Saya kasihan kepada mereka, sebab mereka bukannya tertolong tapi semakin menderita. Akhirnya sore itu saya beli racun: racun tikus, baygon dan tali. Kemudian terdengar gadis itu berteriak-teriak dari dalam kamar “Kenapa saya!” Saya kemudian menyuruhnya keluar. Dia keluar dengan mukanya tidak lagi ditutup oleh kain sprei. Ibunya berlari hendak menolong tapi malah ditendang. Kemudian saya mengatakan kepadanya. “Makan ini racun. Kamu berhak memilih hidup atau mati. Saya menyesal menolong kamu. Banyak orang mengantri untuk memperoleh Visa, bahkan yang kakinya buntung menyeret-nyeret diri berkeinginan hidup, tapi kamu malah tidak tahu terima kasih. Biarkan mamamu pulang sama aku. Sebelum kamu matoi, bayar hutang kamu. Lihat, ayah kamu kerja jadi tukang rumput di sini. Kamu benar-benar durhaka.” Saya jengkel sekali waktu itu dan tidak tahu harus berbuat apa. Biarlah kalau ada apa-apa saya siap menanggung. Setelah saya berteriak, gadis itu marah, masuk kamar dan kemudian mengunci pintu.

Malam itu saya tidak bisa tidur. Saya khawatir kalau racun itu benar-benar di minumnya. Esok harinya sekitar jam 7.00 pagi saya datang ke tempat korban. Ibu gadis itu sudah tidak lagi menangis. Saya lihat racun itu masih utuh. Saya mengetuk kamarnya, tapi kamarnya tidak terkunci. Saya masuk ke kamarnya. Saya lihat kamarnya berantakan, celana dalam ada dimana-mana (di kursi, di ranjang), padahal di jemuran sudah banyak celana dalam. Ternyata dia memakai celana dalam rangkap-rangkap. Ketika mandupun ternyata pakai pakaian lengkap (tidak telanjang). Saya melihat tubuh, muka dan tangan gadis itu penuh dengan luka. Mukanya lebam-biru. Dia mau berbicara meski masih dengan mulut terkatup. Dia katakan, kalau ingin ganti nama. Dia juga ingin potong rambut. Saya kemudian mengajak dia jalan-jalan.

Ketika saya ajak jalan, saya belikan dia hotdog. Dia malah muntah-muntah melihat hotdog yang tengahnya ada sosisnya. Demikian juga ketika melihat mie. Dia ingin makan tapi sulit menelan. Dia hanya bisa makan biskuit. Kemudian saya tanyakan padanya. “Apakah kamu digituin (disetubuhi) pada waktu jadi korban. Dia marah, memalingkan mukanya dan berkata dengan mulutnya yang masih terkatup “Tapi saya lain!” Pada akhirnya dia menceritakan apa yang dialaminya pada saat kerusuhan itu. Dia diperkosa dirumahnya oleh 4 (empat) orang pria. Satu orang memegang kaki kirinya, satu orang memegang kaki kanannya, satu orang menindihi badannya dan memperkosanya dan satu orang lagi diatas kepalanya, berusaha memasukkan penisnya ke dalam mulut gadis itu. Cairan sperma menetes-netes ke muka gadis itu. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat. Akhirnya saya mengerti kemudian, mengapa dia selalu mengatupkan mulutnya dan tidak mau berbicara.

Sekarang ini gadis itu masih berada di Australia, sudah ganti nama dan diangkat anak oleh keluarga di sana. Ibunya kembali bersama saya dan sekarang bersama anaknya di luar Jawa.

Ibu Edith Witoha
..., memang saya menangani mereka, tetapi kalau saya ditanya seperti itu tadi seperti bapak menanyakan. Saya tidak bisa menjawab, dan saya tidak mau menjawab, karena saya tidak boleh menjawab. Misalnya ditanya nama, saya tahu namanya, saya tahu dimana mereka berada, saya tahu. Tapi saya tidak boleh membuka. Karena saya adalah seorang konselor, dokter dalam bidang konseling, yang terkait sumpah.
Tetapi saya mengatakan bahwa korban itu ada, saya menangani 3 orang. Ketiga-tiganya hamil. Dua digugurkan dan satu keguguran. Dan salah satu anak berumur 14 tahun.dan salah satu akibat dari perkosaan itu adalah ketiga0tiganya agak seakan-akan pikirannya hilang (blank), tetapi yang paling parah adalah anak yang berusia 14 tahun ini, anak ini sperti menjadi gila. Tapi dengan penanganan saya bukan hanya secara psikis saja, tetapi penanganan secara kerohanian. Jadi waktu mereka datang pada saya (bukan pada hari yang sama) pada bulan Juli. Saya menangani secara kerohanian dan dari situ, dari cerita mereka yang membawa pendamping mereka (orang tua, saudara) mereka ini adalah korban pemerkosaan tanggal 14 Mei 1998.

Korban pertama, Anak berusia 14 tahun ini diperkosa di rumahnya. Korban kedua diperkosa di rumah calon suaminya. Ketiga diperkosa di tengah jalan, dan ketiga-tiganya hamil semua. Pada waktu didoakan (ditangani secara kerohanian) terjadi manifestasi yang tidak sama dengan manifestasi pada orang yang diperkosa secara biasa.

Jadi entah itu karena pergaulan bebas atau apa. Lain sekali manifestasinya. Dimana gerak-gerakkan tubuhnya seakan-akan ada yang... (tidak jelas). Pengulangan kejadian itu, terjadi lengkingan-lengkingan yang sangat menakutkan, sehingga tanpa diberitahu bahwa mereka diperkosa, kita bisa tahu kok bahwa mereka ada korban. Jadi saya tahu identitas mereka, pertama anak yang berusia 14 tahun saya kirim keluar dari Jakarta, saya sendiri yang mengirim, saya suruh keluar dari Jakarta. Yang satu masih di Jakarta, dan yang terakhir saya kirim ke luar negeri. Yang di Jakarta dan yang berada di luar negeri melakukan aborsi untuk menghilangkan aib akibat pemerkosaan tersebut. Sedangkan yang terakhir tidak melakukan aborsi karena pada saat dua minggu setelah mereka datang anak itu mengalami keguguran yang tidak diketahui penyebabnya.

Jadi itu yang bisa saya berikan. Sebagai seorang konselor, saya tidak boleh membuka rahasia itu. Saya tidak bisa memberikan namanya, alamatnya, identitas, hanya umurnya saja yang saya beritahukan. Kalau dibilang mereka semua dari keluarga berada, terutama anak kecil dari keluarga yang sangat sangat tidak punya. Hanya satu yang berasal dari keluarga berada, sangat kaya, yang diperkosa di tengah jalan itu. Pelaku pemerkosanya berpakaian rapi, rapi namun tidak seperti orang batak, gelap pekat, berkeringat, dan bau alkohol yang menyengat. Pelakunya dua orang. Waktu terjadinya menjelang Maghrib, sore hari.

Diskusi
Sri Hardjo : Terima kasih untuk informasinya. Saya mau bertanya...
Saksi : Kalau diintrogasi saya tidak mau.
Apa yang saya ketahui, belum tentu dapat diyakini oleh orang-orang. Sebenarnya Tim Pencari Fakta ini kan tidak menyidik, hanya menuangkan hasil ini di dalam laporan. Berita-berita itu begitu santer, bahwa di Indonesia ini ada perkosaan massal lagi. Dan berita ini sangat memalukan bangsa Indonesia, bukan hanya itu, mungkin untuk generasu mendatang, kita menjadi bangsa pemerkosa. Apa benar? Kalau ada, kita akui dengan dada yang lapang... atau yang Ibu ketahui, ibu pasti yakin, tapi kita ini. Bagaimana sih ciri-cirinya, bukan maksudnya akan membeberkan keluar begitu supaya menambah keyakinan anggota, dan tidak akan menanyakan siapa namanya dan dimana alamatnya, apabila akan mendatangi, kan itu tidak mungkin. Tidak mungkin, justru Pak Sri akan mengucapkan terima kasih karena akan menambah data. Karena mengumpulkan data inilah, tujuan daripada Tim TGPF, bukan untuk mengajukan ke Sidang, bukan... jadi kalau saya bertanya itu tadi sebenarnya supaya di dalam laporan, korbannya ada.

Saksi : Mungkin karena Bapak dari kejaksaan, jadi sampai alamat, bapak menanyakan.

Penanya : ..., (kurang jelas). Ada 3 (tiga) korban, satu 14 tahun, 32 tahun, dan yang terakhir 28 tahun. Nah yang masih di Indonesia yang mana Bu?
Saksi : Yang berusia 14 tahun dan yang berusia 32 tahun.
Gelgel : Bisa tidak korban menceritakan bagaimana kejadiannya?
Saksi : Bisa, karena didampingi oleh keluarga mereka yang mereka mendengar dari korban sendiri. Dan korban pun bisa diajak bicara, jadi dia bisa menceritakan. Kalau yang 28 tahun dia dalam... pulang dari suatu tempat, melewati jalanan yang dia tidak tahu keadaannya, naik mobil kemudian diberhentikan oleh dua orang itu (pelaku pemerkosa), lalu langsung ditarik keluar. Supirnya tidak bisa ngomong apa-apa (tak berkutik), karena dia diancam oleh yang lain. Kemudian waktu korban dijatuhkan dan diseret dari mobil, dan kemudian ditelanjangi disitu dan akhirnya korban pingsan. Sekeliling korban berteriak-teriak semua seperti orang yang melihat suatu kejadian dan mereka suka, tepuk tangan teriak-teriak.

Yang satunya (32 tahun) itu mungkin lebih sial lagi nasibnya, ia datang ke rumah calon suaminya, justru rumah calon suaminya dijarah,dan dia diperkosa di situ. Jadi calon suaminya tahu itu, dan yang paling mengerikan adalah anak 14 tahun ini. Ibunya tidak ada waktu kejadian, Cuma ada korban dengan adiknya berusia 8 tahun, laki-laki. Dan waktu diperkosa, oleh banyak orang dia (cerita adiknya). Adiknya harus melihat, harus nonton sehingga kata-kata yang dikeluarkan waktu itu, “loe jangan ngomong-ngomong”, “loe jangan cerita-cerita”. Jadi anak itu masih punya rasa malu kalau adiknya bercerita begitu.

Ibunya waktu kembali kira-kira pukul 23.00 (sebelas malam), dia menemukan dua anaknya di pojokan, dengan darah dimana-mana, yang karena dia tidak mau, ya mereka tidak membawa ke dokter, mereka hanya membersihkan, dan diberikan obat-obatan cina biasa, untuk menghentikan pendarahan. Tetapi ternyata kemudian anak itu menjadi gila, dia tidak bisa ngomong apa-apa selain dia mengatakan “Jangan ngomong-ngomong”, selalu begitu.

Korban mengalami trauma akut. Pada waktu dibawa kepada saya, dalam keadaan tidak waras. Semua keluarganya di Jakarta. Perbuatan perkosaan dilakukan massal ketiga-tiganya, mereka menjarah, dan membakar rumah itu sampai habis.

Penantian Panjang Sebuah Kebenaran
Ruminah
JAKARTA—Tok... tok... tok... pintu rumah Ruminah diketuj berulang-ulang di pagi yang masih gulita itu. Jarum jam masih bertengger di angka 02.00 WIB. Maka bergegaslah Ruminah membukakan pintu. Tetapi begitu pintu terbuka, tidak ada seorang pun yang terlihat. Lalu sebauh bayangan berkelebat di balik gorden. Namun ketika kain gorden disibakkan, lagi-lagi tak ada orang di luar sana.
Hari-hari berikutnya, terdengar suara langkah sepatu “tanpa pemilik” mondar-mandir di balik rumah. Kejadian ini membuat perasaan Ruminah campur aduk antara takut dan jengkel. Ternyata ini pun belum cukup, kerena tiba-tiba telephone rumah berdering.

“Ini ibunya Gunawan, ya?” suara lelaki terdengar diseberang telephone.
“Iya,” jawab Ruminah.
“Anak ibu yang mati di Yogya Mal, Klender?” tanya lelaki itu, dan Ruminah kembali menjawab “Iya”. Kalau ada orang yang datang ke rumah ibu, diamkan saja!” bentak lelaki itu lalu menutup telephone.

Ini rupanya, teror yang dialami Ruminah pada Mei 1998. belum lagi pertanyaan lugu dari tetangganya, yang khawatir jangan-jangan orang yang mengedor-gedor pintu itu adalah hantunya Gunawan (13 tahun).
“Aduuh, saya sedih sekali,” tutur Ruminah ketika ditemui SH pada peluncuran dan bedah buku “Kerusuhan Mei 1998” di Goethe Haus, Jakarta, Kamis (10/5) malam.

Teror itu dialaminya setiap hari mulai tanggal 13 Mei 1998, dan berhenti total pada tanggal 22 Mei 1998, sehari setelah President Soeharto mundur. Namun ketakutannya akan terulangnya peristiwa keji itu masih membayangi Ruminah hingga saat ini. “Saya khawatir terjadi lagi, kalau pelakunya tidak diadili,” kata Ruminah yang hanya menemukan baju dan gesper bertuliskan “Gunawan” di antara mayat-mayat yang gosong di RS. Cipto Mangunkusumo, pada tanggal 14 Mei 1998.


Berikut merupakan penuturan langsung yang berhasil saya dapatkan dari email, namun dari penuturan kesaksian ini belum dapat sepenuhnya dianggap kebenaran, karena ini hanya berupa tulisan dan tidak bisa dijadikan bukti yang kuat dalam menuding siapa dalang sesungguhnya dari kerusuhan Mei 1998 ini. Namun ini hanya menjadi sebuah masukkan untuk kita semua, karena bagaimanapun juga tak ada yang mengetahui selain sang pelaku tersebut...

Kesaksian Seorang Bapak Tentang Dalang Kerusuhan Mei dan Perkosaan
KESAKSIAN SEORANG BAPAK, Anaknya diduga mati terbakar di Mega M, Lippo Karawaci-Tangerang.

Bapak ini sedang duduk lesu di sebuah taman di depan Mega Mall, Lippo Karawaci, ketika seorang berusia 28-29 tahun menghampiri dan merangkulnya. Pagi itu tanggal 16 Mei 1998, lokasi bekas kebakaran itu cukup ramai, karena sebentar lagi akan dilakukan evakuasi korban kerusuhan 14 Mei.
Tak semua orang bisa mendekat ke lokasi, yang dijaga ketat pasukan berseragam loreng (ABRI).
Praktis, hanya anggota ABRI dan satu-dua kerabat (termasuk bapak ini) yang bisa mendekat.

Sip bapak ini menatao tajam lelaki yang menghampirinya. Perawakannya tinggi atletis, berkumis tipis seperti habis cukur, muka bulat, kulit kuning, dan berambut cepak. Ia memakai kaos berkerah, jins biru, dan sepatu lars (potongan penampilan tentara pada umumnya). Dia bertanya kepada saya, “Kenapa bapak disini?” Saya bilang,
“Anak saya mungkin ada didalam, terjebak kerusuhan dan mungkin sudah terbakar dengan kayu, saya dengar di televisi, anak saya disangka menjarah.”

Mendengar ucapan bapak ini, lelaki itu mendadak menangis. Matanya, yang sudah sembab, langsung memerah. Lalu dia bilang, “Pak, saya minta tolong, demi Allah saya minta tolong. Saya mau ceritakan suatu rahasia, dan tolong sampaikan kepada wartawan atau siapa. Ini amanah saya kepada bapak. Kalau tidak diungkap, di akherat kita sama-sama masuk neraka.”

Bapak ini kaget, kenapa begitu? Dia jawab,” sebab, perbuatan saya sangat jahat. Semua pembakaran, penjarahan dan perkosaan kemarin (14 Mei), kami melakukan.”

Belum lagi si bapak bereakis, lelaki itu membuka dompetnya. Warnanya loreng, dengan simbol baret merah dan pisau. Ia juga menunjukkan kartu identitas. “Tapi., karena mata saya buran, ndak (tidak) bisa melihat tulisannya. Dia kemudian bilang, dirinya anggota Kopassus.

Mereka lantas berbicara hingga 2 (dua) jam lebih, sambil menunggu buldozer untuk membantu evakuasi. Belakangan diketahui tentara ini strees berat, karena anggota keluarganya ikut hilang akibat kerusuhan Mei tersebut. Dia mengaku dimusuhi keluarganya, dianggap telah membunuh saudaranya sendiri. Bahkan, istrinya tak mau lagi bicara dengannya. Dia sampai bilang;
“Kalau bunuh diri itu ngak (tidak) dosa, saya sudah lakukan, saya percaya bahwa orang itu jujur. Makanya, saya ingat betul apa saja yang dia katakan,” ujar bapak ini kepada Tajuk, Minggu (30/8).

Berikut cerita si anggota Kopassus tadi, yang dituturkan ulang oleh bapak malang itu:

Kerusuhan ini sebenarnya sudah lama direncanakan. Jadi, 2 (dua) bulan sebelumnya, pada 1 Maret 1998, ada apel di kesatuan kami di Kopassus. Sehabis apel, perwira piket mengumumkan bahwa anggota dari regu ‘... ...’ (dirahasiakan) diharuskan ikut ke Kodam Jaya (ketika ditanya kenapa di bilang titik titik (nama kesatuan regu yang menjadi alat penyebab kerusuhan Mei 1998), dijawab: Saya tidak bisa mengatakan regunya. Jangan-jangan bapak nanti ditangkap tentara, lalu dipaksa bicara, sehingga saya bisa ditelusuri. Kalau ini terjadi bisa habis keluarga saya. Dia mau bongkar rahasia ini karena, katanya, dia tidak kuat menanggung beban (dosa) ini.

Kami diangkut dengan dua truk, dan langsung menuju aula Kodam. Di sana, sudah ada satu kompi dari Kostrad dan satu kompi lagi Kodam Jaya. Acaranya sendiri dimulai pukul 10.00, untuk mendengar briefing dari beberapa perwira tinggi. Di situ, ada Pak Prabowo (saat itu masih Danjen Kopassus), Pangdam Sjafrie Sjamsoeddin, dan beberapa kepala direktorat. Sjafrie bicara duluan.

Dia bilang: “Saudara-saudara dikumpulkan di sini karena kita akan membentuk tiga kompi pasukan khusus yang tidak terlihat. Kami nanti disuruh pakai baju preman pakai wig, tapi tetap bawa senjata. Pak Sjafrie juga mengatakan: Negara sedang dalam keadaan genting. Kita diperintahkan Pak Soeharto (president RI pada saat itu) untuk melakukan ini-ini, dan untuk itu kita bentuk 3 (tiga) kompi ini.

Ada 2 (dua) tugas dari kompi-kompi ini,
1. Negara genting, karena mahasiswa akan menghancurkan Orde Baru, harus diculik.
2. Kalau keadaan tidak bisa diatasi lagi, mahasiswa akan dibunuh.

Tugas Saudara-saudara bukan membunuh atau menyusup dan megacaukan.
Lalu, ada juga merencanakan memeperkosa PEREMPUAN ETNIS TIONGHUA.

(Si Bapak bertanya, kenapa harus ada perkosaan? Dia bilang, ada unsur politik di balik itu. Intinya, ini bagian dari rekayasa untuk menaikkan Prabowo sebagai Pangab. Dia menyebut-nyebut soal peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1998).

Pada 20 Mei 1998, kami dengar bahwa mau ada demonstrasi besar-besaran. Untuk menyambutnya, sudah direncanakan untuk menyediakan 20 tank. Setiap tank akan diisi satu regu tentara yang dikasih 3.000 (tiga ribu) sampai 5.000 (lima ribu) biji (butir peluru). Jadi, nanti, ketika mahasiswa jalan menuju ke Monas, kompi ini akan menyusup memakai jaket mahasiswa. Lalu, mereka pura-pura berkelahi.
Setelah terjadi keributan, regu ini akan membuka jaketnya, dibuang, lalu mundur dan menghilang.

Begitu mereka mundur, tank-tank itulah yang akan membabat habis semua mahasiswa. Dengan begitu, mahasiswa bisa dianggap membikin onar dan makar terhadap negara.
Kalau mahasiswa sampai berhasil jatuh semua. Hancur. Makanya kamu harus membela, agar konstelasi yang ada tetap utuh (Bapak ini mengaku tidak tahu, apa yang dimaksud dingan konstelasi di sini.)

Jadi, kalau betul anak bapak terbakar di Mega Mall, itu kerjaan regu yang berseragam dinas hitam dan pakai tutup kepala kayak (seperti) ninja. Itu bukan regu saya. Tugas regu saya spesial memimpin orang-orang untuk menjarah dan membakar (Cerita tentang keberadaan pasukan ninja dibenarkan seorang penjarah dan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Cuma, kata mereka kepada Tajuk, ninja itu bersenjata celurit. Bukan senjata api. Para penjarah juga banyak bukan orang situ (bukan penduduk setempat ). “Orangnya hitam keriting, mirip orang Indonesia Timur.”)

Yang dilibatkan dalam operasi ini tidak seluruhnya tentara. Ada 200 (dua ratus) orang binaan dari Timot Timur, 200 (dua ratus) orang dari Irian Jaya, dan 200 (dua ratus) orang lagi dari Sumatra. Mereka diangkut ke Jakarta pakai pesawat, kecuali yang dari Sumatra naik mobil. Kalau ditambah preman-preman se-Jabotabek yang dilibatkan, seluruhnya ada 10.000 (sepuluh ribu) orang. Mereka tidak diberi janji, tapi iming-iming. Kalau tugas berhasil, jarahan boleh diambil. Preman itu dikumpulkan di dodiklat (komando pendidikan dan latihan), seminggu sebelum kerusuhan.

Pada tanggal 12 Mei, tiga kompi ini kembali dikumpulkan. Mereka ditugasi untuk cari tahu dimana ada mahasiswa yang berdemostrasi. Tampaknya Pak Harto memberikan lampu hijau kepada Prabowo, supaya mulai membabat mahasisw. Tapi, karena susah cari-cari kesalahan, baru di Trisakti rencana dijalankan. Waktu itu, banyaj yang pegang HT (handy talky), karena mereka koordinasi ke Kodam. Kompi-kompi ini menunggu berita dari Makodam.

Tugas tiga kompi ini sudah dibagi-bagi. Ini pakau motor, ini pakai baju hitam dinas, dan itu untuk tang tidak terbentuk. Hari itu (12 Mei), kamu semua sibuk memantau bagaimana, apa sudah ada kerusuhan? Belum, gimana, sedikit lagi. Nah, baru, setelah ada peluang untuk bikin rusuh, regu bermotor berangkat ke sana (Trisakti). Seluruh motor di taruh di Kodim Jakarta Barat.

Regu ini kemudian menyamar pakaina polisi. Senjatanya dilipat, dimasukkan ke dalam jaket, lalu mereka berbaur dengan polisi. Jadi, begitu polisi mulai menembak dengan peluru kosong, mereka ikut menembak. Habis menembak, mereka ambil motornya, lalu menghilang (Ketika saya tanya mengapa mahasiswa ditembak, dia bilang, supaya mahasiswa mengamuk).

Setelah berhasil di Trisakti, besoknya (13 Mei), 10.00 pasukan itu disiapkan untuk memancing mahasiswa di terminal Grogol. Sejak pagi, mereka kumpul-kumpul di terminal menunggu mahasiswa. Tapi, rencana ini bocor, karena semua mahasiswa ternyata pakai jaket dan tidak mau bergabung.

Mereka terus menunggu sampai sebelas malam, tapi mahasiswa tidak juga bergabung. Akhirnya, komandan terpaksa membagi-bagi pasukan. Seribu orang ke Jakarta Utara, seribu orang ke Glodok, seribu orang ke Jakarta Timur, dan seribu lagi ke Jakarta Selatan. Masing-masing rombongan dipimpin satu regu yang tidak terbentuk ini (sampai pada cerita ini, tentara itu menangis).

Pada tanggal 14 Mei 1998, sebelum menjarah dan membakar, dilakukan pemerkosaan lebih dulu.
Pokoknya dimana da cewek Tionghua, dinaikkan. Yang memperkosa bukan tentara, tapi para preman yang didatangkan dari luar daerah. Sehingga, korban yang diperkosa tidak kenal, karena bukan orang situ. Secara bersamaan, toko-toko mulai dijarah, lalu dibakar, setelah barang ludes diambil (Tentara itu mengaku menyesali perbuatannya. Dia tahu, perbuatan itu laknat, tapi sebagai seorang tentara dia tidak berani menolak perintah).

Sore hari, setelah bikin rusuh, ketiga kompi langsung ke Kodam. Sedangkan, preman-preman ditarik ke baraknya. Di Makodam, setiap kompi diminta laporan. Berapa orang yang diperkosa, berapa toko yang dijarah, dan lainnya. Dari situ, diketahui jumlah seluruhnya. Jadi, orang yang mati di Jakarta kurang lebih 5.000 (lima ribu) orang, ratusan orang diperkosa. Sebagai korban perkosaan yang masih hidup dibuang ke api.

Seluruh rencana memang dipersiapkan matang. Operasi ini bahkan sudah diberi nama “Gerakan 12 Mei Orde Baru”, karena tugasnya melindungi Orde Baru, agar jangan hancur. Sejak dua bulan sebelum kerusuhan, orang-orang binaan ini sudah direkrut dan dilatih Kopassus yang ada di sana. Mereka baru dikirim ke Jakarta seminggu sebelum kerusuhan.

Di Lippo Karawaci, tempat regu saya bertugas, aksi dimulai pukul 14.00. Kami berteriak-teriak, menyuruh orang (massa) melempar batu dan menjarah. Lalu, Lippo kita bakar, tapi Mega Mall sengaja dibiarkan dan dijaga regu lain yang berpakaian dinas. Ini disengaja, untuk menjebak. Pukul 18.00, preman-preman yang masuk regu saya ditarik ke Jakarta. Semuanya sepuluh truk. Malamnya mereka langsung dipulangkan ke daerahnya. Untuk yang ke Timtim dan Irian, mereka berkereta ke Surabaya, baru dari sana dibawa pakai pesawat.

Setelah preman-preman dipulangkan ke Jakarta, ada empat truk lain yang mengantikan. Dua truk diantaranya lebih dulu merampok tabung-tabung gas elpiji di toko-toko. Jumlahnya sekitar 30 (tiga puluh) tabung. Kompi saya masih disitu, tapi sudah ngak (tidak) ikut tugas. Tugas kami selesai sampai dengan memulangkan preman-preman itu.

Setibanya di lokasi, pasukan di empat truk langsung menodong kerumunan penonton. Mereka berteriak, “Hayo, tiarap semua...” Yang ngak mau tiarap ditembak kakinya. Masyarakat yang ngak tahu langsung tiarap, sedangkan yang lainnya tunggang-langgang. Yang tiarap ada 500-an. Sementara sekitar 3.000 lain lari dan menonton dari kejauhan.

Tak lama, orang-orang yang bertiarap ini disuruh berdiri. Lalu, dengan tangan dibelakang, mereka digiring ke Mega Mall, yang belum terbakar. Satpam diperintahkan membuka gembok. Rolling door-nya diangkat setengah, lalu 500-an orang disuruh masuk. Begitu semua masuk, tretet... te, mereka langsung diberondong tembakan ke arah kaki.

(Kepada Tajuk, Robaini, satpam Mega Mall, menolak cerita ini. Katanya, seluruh satpam waktu itu tidak berseragam sehingga sulit dibedakan massa. “Ndak ada juga perintah membuka rolling door, mana dia tahu kita ini satpam,” kata Robaini. Namun, cerita seorang penjarah di Mega Mall, yang enggan disebut namanya, membenarkan versi sang oknum Kopassus tadi, misalnya, ada tembakan serta ada sejumlah korban mati terkena senjata tajam)

Setelah tembakan berhenti, tabung-tabung elpiji diturunkan, ditaruh di dalam dan diledakkan.
Begitu api mulai berkobar, pintu ditutup dan digembok kembali. Lalu oleh pasukan berseragam hitam, selongsongan peluru dikumpulkan dan disapu bersih. Sehabis itu, mereka naik truck dan menghilang. Secara keseluruhan, tugas ketiga kompi memang Cuma sampai disitu. Setelah melapor ke Makodam, kompi-kompi dikembalikan ke kesatuan masing-masing, dan menganggap bahwa tak pernah terjadi apa-apa. Tapi semua yang bertugas-Kostrad, Kopassus, maupun Kodam-tetap diawasi. “Saya ke sini juga setelah menyelinap lewat dapur.”

Pembicaraan terhenti setelah buldozer datang. Tapi, bapak ini tak langsung menyampaikan amanat si tentara. Takut, ia Cuma kirim surat kaleng ke Amien Rais, memberi tahu agar tidak membawa mahasiswa ke Monas pada tanggal 20 Mei. Bapak itu khawatir, rencana tentara menghabisi mahasiswa jadi dilaksanakan. “Surat itu saya kirim ke Muhammadiyah. Entah sampai atau tidak ke tangan Pak Amien.”

Kesaksian Romo Sandyawan (salah satu anggota TGPF)
“Pelaku Kerusuhan Memakai HT dan Bersenjata Pistol”


Surabaya (Bali Post)—Rohaniawan Romo Sandyawan S.J mengatakan kerusuhan yang terjadi di seluruh Indonesia, Mei lalu mempunyai kemiripan modus operandi satu dengan yang lainnya. Disinyalemen, pelaku kerusuhan itu digerakkan oleh kelompok yang terlatih dan profesional.
Hal ini dikemukakannya ketika berbicara dalam diskusi dengan tema “Kekerasan dan Pemberdayaan Masyarakat” yang digelar oleh kelompok Kerja Solidaritas Rakyat Peduli di sekretariat PW NU Jatim Minggu (12/7) kemarin. Selain Sandyawan, pembicaraan lainnya adalah Trimoelja D. Soerjadi, advokad senior asal Surabaya.

Romo kemudian menceritakan pengalamannya dalam melakukan investigasi ketika terjadi kerusuhan di Jakarta pada tanggal 13 dan 14 Mei lalu. “Untuk bisa menembus barikade aparat keamanan, saya melakukan investigasi dengan cara menyamar sebagai petugas Palang Merah Indonesia (PMI),” katanya.
Menurutnya, penyamaran berhasil dengan baik, ketika dirinya, wartawan dan pengacara sama-sama menyamar sebagai dokter PMI membawa mobil dengan leluasa melakukan investigasi. Baik ketika di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) maupun di lokasi kejadian.
“Ketika melakukan penyamaran saya juga membawa beberapa nasi bungkus. Saya memasuki wilayah kerusuhan di Jakarta bersama wartawan perang asal Inggris,” tambahnya. Dalam melakukan investigasi itulah, ia mempunyai beberapa kesimpulan, yakni, pelaku kerusuhan sudah menyusun rencana secara rapi dan berlapis. Mereka memakai seragam putih abu-abu dan orangnya sudah lanjut usia, berseragam dan memakai jaket mahasiswa, bertampang seram seperti preman, berambut cepak, dan memakai seragam lengkap, membawa HT dan bersenjata pistol.

Ketika investigasi memasuki RSCM, menurut dia, korban kerusuhan ada 970 orang yang tewas. “Dari jumlah itu sekitar 80 persen korbannya adalah kaum Urban,” ujarnya.


#7 ilongkow

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 325 posts
Click to view battle stats

Posted 04 July 2008 - 02:34 PM

bro, akurat data yang ada.... kiranya yang merasa bertanggung jawab dalam hal ini tunjukan bahwa anda bertanggung jawab... patriot namanya, kalo anda gent..... katakan akulah pelakunya...anda tidakakan dibunuh.... keluarga anda tidak akan diintimidasi... kami anak bangsa akan kagum bahwa anda mau jujur... kami anak bangsa tahu.. anda juga suruhan, tapi jangan karena itu anda bungkam.... kasihan orang yang menjadi korban.... dia juga butuh kearifan dari anda...dia juga ingin hidup damai...

#8 ghetooman

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 453 posts
Click to view battle stats

Posted 04 July 2008 - 05:06 PM

@Lexius1980: great posting bro, gw ijin meng-copy and memperbanyak. Boleh ga bro??buat file pribadi doang. Gw lagi seneng ngumpulin artikel science, politics, religion, and sastra

Sudah saatnya "borok" itu diungkap..Lebih baik "sakit" mencium bau itu dari hidup dengan kebohongan...


#9 Mangeben

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 232 posts
Click to view battle stats

Posted 05 July 2008 - 11:03 AM

menarik sekali artikel ini....
very good article, bro...


#10 monty

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 310 posts
Click to view battle stats

Posted 05 July 2008 - 12:26 PM

biarpun kelam dan pahit tetap harus dihadapi dan dicatat sebagai lembaran sejarah
bangsa yang besar adalah bangsa yang sanggup belajar dari kesalahan dan tidak akan jatuh lagi di lubang yang sama

#11 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 05 July 2008 - 01:47 PM

all artikel ini blom lengkap karena nanti akan gw bongkar hingga kasus kerusuhan di Indonesia dan aksi bom bunuh diri yang pernah menguncang bangsa ini...

jadi belom lengkap... sementara yang udah gw posting artinya dah selesai, namun belom semuanya...

gw hanya berharap perwakilan rakyat yang duduk enak di bangku singgasananya ikut membaca dan menyadari kelamnya bangsa kita ini, dan bukan hanya tertidur lelap saat Presiden Pidato bicara soal Rakyat.
bagaimanapun juga mereka harus sadar kalau baju, makanan dan kemewahan yang sekarang mereka miliki adalah pemberian dari rakyat. bukan hasil keringat kotor mereka.

silahkan kalau mau di copy... karena sejarah ini bukan milik saya sendiri namun miliki anak bangsa Indonesia yang mau tahu akan nasib bangsanya...

thank's all atas commentnya... sementara akan gw continues terus artikel ini hingga selesai... untuk saat ini baru 189 lembar kertas ukuran A4... tapi gw rasa belum selesai atau belum lengkap semuanya... jadi yang udah selesai akan langsung gw posting disini...



#12 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 05 July 2008 - 02:28 PM

Kerusuhan Poso

Hancurnya negeri ku itu’lah kalimat yang akan terucap bila kita melihat betapa leburnya Indonesia ini, khususnya wilayah Poso, Sulawesi Tengah. Berbagai permainan orang berkuasa berperan memecahkan kerusuhan dengan mengatasnamakan agama. Demi kepuasan dan kedengkian hati mereka. Mereka telah gelap mata mengorbankan rakyatnya sendiri, dimana rakyat Poso yang sebagian besar tidak mengetahui apa-apa dari kerusuhan tersebut. Beribu-ribu jiwa bergelimpangan di tanah Poso ini. Bagaimana bisa mereka merendahkan dan mengecilkan nyawa dari setiap manusia, hingga seorang Nabi pun menghargai nyawa dari seekor semut kecil yang hampir beliau injak. Bagaimana seorang manusia begitu keji kepada sesamanya. Dalam satu bangsa dan satu tanah kelahiran.

Selalu agama dan kepercayaan yang selalu disangkut pautkan demi sebuah ketenaran atau demi mengapai sesuatu hal dengan tangan kotornya. Tak ber’hati’ kah mereka yang dengan mudahnya menghabisi satu persatu nyawa yang tak berdosa, hingga wanita dan anak-anak pun serasa tak luput dari ancaman.

Dalam ini tolong bagi kita semua yang membaca artikel yang saya buat berdasarkan penelusuran yang saya peroleh dari beberapa sumber, dapat digunakan untuk pandangan Indonesia kedepan. Jangan kita melihat hanya dengan hati penuh dendam dan kedengkian semata-mata muncul. Namun patutlah kita melihat dari dampak yang akan terjadi pada keluarga kita, sanak saudara kita, masa depan anak bangsa, dan masa depan Indonesia ini.

Sampai kapan agama yang sesungguhnya selalu mengajarkan kebajikan dan kebaikkan dipermainkan oleh beberapa oknum tak berprikemanusiaan. Kalau bukan pada diri kita sendiri untuk lebih waspada akan hasutan, lalu siapa lagi yang akan membangun dan membesarkan bangsa kita sendiri.

Agama apapun saudara kita yang disana atau yang dekat dengan kita. Ia tetap saudara dalam satu bangsa. Sudah sepatutnya rakyat Indonesia menjadi pintar atas segala kejadian yang terjadi di tanah pertiwi ini.
Hentikan sudah air mata para ibu yang menangis kehilangan anak atau anggota keluarganya yang menjadi korban kebiadaban manusia-manusia setan yang berkulit manusia.

Mari kita bersama... mari kita sekat air mata darah yang mengalir di setiap retak tanah Indonesia ini dengan kebersamaan dan rasa cinta kita. Mari kita sama-sama saling merangkul saudara kita, Muslim, Kristen, Katolit, Budha, dan Hindu... mereka semua sama... Merah dan Putih menyatu menjadi Bendera kebangsaan kita. Jangan kita pecahkan kembali kesatuan ini karena niat keserakahan seseorang.

Mengharap Senyum Tuhan di Poso
Tanah Poso diciptakan Tuhan seakan-akan “tak layak tersenyum”. Kecemasan dan kekhawatiran seolah selalu menyelimuti benak masyarakat di sana. Tak kurang selama kurun waktu delapan tahun konflik di Poso tidak mereda. Sepanjang tahun 1998-2006, Poso berada dalam taufan konflik yang melibatkan kaum Muslim dan Kristen. Selama itu masyarakat Poso dicekam rasa teror dan kekerasan sehingga kekerasan seakan-akan terpelihara subur disana.

Ditengah situasi yang cukup mencekam itu, orang khawatir kehilangan sanak saudaranya entah karena bom yang sewaktu-waktu dapat meledak atau karena baku tembak yang tak kunjung usai. Puncak kerusuhan bermula saat pecah konflik bernuansa SARA Mei-Juni 2000 dan pembantaian di Buyung Katedo Juni 2001 yang mengakibatkan lebih 1.000 orang terbunuh dan hilang dan sekitar 17.000 bangunan hangus terbakar. Korban tewas terbesar adalah penghuni Pondok pesantren Walisongo di kelurahan Sintuwu lembah dan penduduk muslim yang bermukim di sekitarnya.
Sejak saat itu, kekerasan di Poso kemudian menjadi makanan sehari-hari. Bom meletus dimana-mana hingga di tempat-tempat yang menjadi fasilitas umum seperti tempat ibadah (Masjid, Gereja), sekolah, bahkan yang lebih tragis rumah-rumah penduduk juga tak luput dari sasaran bom. Bertahun-tahun konflik ini tak kunjung usai, 10 Maret 2006 pukul 07.45 WITA ledakan bom terjadi di kompleks Pura Agung Jagadnata, kelurahan Toini, kecamatan Poso Pesisir Utara, Sulawesi Tengah. Akibatnya, di akhir Januari tahun 2007 ini kekerasan kembali terjadi. Baku tembak di jalan Pulau Irian, kota Poso, Sulteng, telah menewaskan seorang polisi dari Detasemen Khusus (Densus) 88 dan dua warga sipil. Bahkan menurut sumber yang lain, terdapat 14 korban meninggal.

Teringat kembali, dan masih segar dalam benak kita bagaimana pembantaian besar-besaran yang terjadi, mulai dari pembantaian santri di pesantren Walisongi, kilometer 9, Poso tahun 2000, hingga pembantaian di Buyung Katedo Juni 2001. kepala manusia ditebas dengan ganas, anak-anak kecil yang tak tahu permasalahan dibantai dengan keji, mayat-mayat bergelimpangan tanpa kepala, dengan tangan terpotong, ada yang batok kepalanya berlubang, serta ada pula tulang kaku dan tangan retak, kemungkinan terkena benda keras dan sebagian pemandangan ganjil mengenai tubuh manusia yaitu banyak ditemukan mayat yang bergelimpangan dan penuh luka bacok serta terkena peluru senjata api. Nyawa manusia seolah sudah tak berharga lagi. Naluri kemanusiaan tak ada, yang ada hanyalah mengedepankan ego masing-masing kelompok atau golongan.

Ketika terjadi konflik sosial, maka yang segera terlintas dibenak kita adalah bagaimana nasib masyarakat sipil khususnya anak-anak kecil yang menjadi korban konflik. Dengan umur yang relatis muda mereka sudah dipaksa menyaksikan pemandangan yang akan menjadi ketakutan, trauma, beban psikologis, peristiwa yang akan menghujam tajam dibenak mereka sepanjang masa. Bagaimana nasib dan masa depan mereka yang selamat dari pembantaian yang sebelumnya telah menyaksikan teman-teman dan saudaranya harus tewas mengenaskan?

Awal terjadinya kerusuhan di Poso memang mempunyai beragam motif, mulai dari pemuda mabuk sampai politis. Namun entah mengapa, pada akhirnya kerusuhan berujung pada konflik keagamaan. Berbagai upaya telah dilakuakan pemerintah, saat Yusuf Kalla masih menjabar sebagai Menkokestra, pernah diadakan Deklarasi Malino tanggal 20 Desember 2001, tapi deklarasi tersebut belum bisa mendatangkan angin besar ditengah musim kemarau. Konflik yang sedang berlangsung malah tidak mereda. Benarkah sentimen keagamaan menjadi unsur utama meletusnya kekerasan di Poso? Atau hanya mengatasnamakan agama. Masalah yang sebenarnya hanya konflik personal meningkat membawa ke masalah golongan hingga konflik keagamaan.

Berdasarkan data demografi 1998, Poso mempunyai: luas wilayah (28.000 kilometer persegi), jumlah penduduk (400.264 Jiwa), Islam (245.322), Protestan (143.249), Hindu (8.030), Buddha (1.597), Katolik (2.166) tetapi Poso seperti bukan mencerminkan masyarakat agamis. Padahal dalam ajaran agama manapun, mengajarkan kasih sayang dan perdamaian “Welas Asih terhadap Sesama”?
Bukankah unsur penting lain dalam perilaku beradab ialah menyayangi seluruh makhluk Allah, baik yang dekat maupun yang jauh, Muslin ataupun non-muslim, manusia ataupun hewan?. Allah telah menjadikan rahmat dan kasih sayang sebagai risalah Rasullulah SAW: “dan Aku tidak akan mengutusmu keculai menjadikan rahmat bagi seluruh alam” (al-anbiya:107).

Ajaran toleransi berbuat baik kepada sesama baik muslim maupun non-muslim juga kental dalam Islam, dalam hadist riwayat Bukhari dijelaskan: “Jawablah salam kepada siapapun; baik itu orang Yahudi, Nasrani, ataupun majusi. Karena Allah berfirman ‘apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa) (al-Nisa:86).

Artinya “agama” bukan motif satu-satunya dalam konflik. Hanya saja ajaran agama belum diwujudkan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Mereka hanyalah oknum-oknum dari agama yang belum memiliki kesadaran penuh tentang moral beragama yaitu ajaran agama semata-mata menganjurkan umatnya untuk beribadah mutlak kepada Tuhan tetapi bagaimana dapat berbuat baik kepada sesama; Yaitu dengan kebersamaan menjalani rutinitas mencari keagungan Tuhan lewat kehidupan sosial bermasyarakat.

Poso menjadi masalah yang perlu diperhatikan kita semua. Memang redanya konflik dikembalikan pada kesadaran masing-masing pihak yang bertikai, yaitu menjadi keharusan untuk masyarakat poso apapun latar belakang agamanya, para tokoh agama dan adat duduk bersama “bertemu” merumuskan solusi-solusi untuk perdamaian bersama dengan meninggalkan rasa dendam yang menganak pinang di hati, tanpa terlalu berharap banyak dengan pemerintah yang sampai saat ini belum bisa menciptakan rasa aman bagi warga masyarakat.

Fina Mazida Husna, Mahasiswa Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Jogja.

***
Poso—Kerusuhan Poso pada tahun 2000 lalu ternyata masih menyisakan cerita duka. Setidaknya, itulah yang dialami puluhan keluarga korban kerusuhan itu di desa Kopampa, Poso, Sulawesi Tengah (SulTeng). Mereka kini hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Korban kerusuhan Poso tersebut terpaksa tinggal di gubuk-gubuk dan setempat untuk membangunkan rumah dan menyediakan bahan makanan bagi mereka hanya isapan jempol semata.
Pagi hari warga dipengungsian sudah mengendong wadah dari pelepah daug sagu berisi sagu yang baru saja mereka ramu. Di antara mereka, ada pula yang mencukur kelapa. Rupanya, itulah makanan mereka sehari-hari.
Di antara warga itu adalah seorang lelaki tua berusia 60 tahun, namanya Levi Bagu. Ia adalah salah seorang di antara korban kerusuhan yang saat itu mengungsi ke Tentena, sekitar 56 kilometer dari Poso.
Dia memilih ke kampung halamannya yang luluh lantak karena dilanda konflik suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) pada tahun 2000 silam karena pemerintah Kabupaten (PemKab) Poso menjanjikan membangunkan rumah tinggal serta mencukupi kebutuhan bahan makanan mereka.

Sepasang suami-istri itu tinggal sementara di gubuk beratap dan berdinding rumbia dengan rangka dari bambu sejak April 2006.
“Saya ini sudah tua sehingga memilih pulang kembali ke kampung halaman setelah Poso sudak agak aman. Saya juga pulang karena dijanjikan rumah dan ditanggung makanan selama kami belum punya, tapi ternyata tidak ada, “tutur Levi Bagu.
Dia menuturkan akibat kerusuhan Poso; Mei-Juni 2000, rumahnya dan ribuan rumah warga luluh lantak dibakar massa yang tengah bertikai di Poso. Ribuan jiwa pun berjatuhan. “Untung saya masih selamat,” kata Levi Bagu, polos.
Levi bersuku Pamona, suku asli Poso. Ia beragama Kristen Protestan. Agama yang terbanyak penganutnya di Poso. “Bulan Mei 2000, kami sekeluarga harus mengungsi ke Tentena. Jaraknya 56 kilometer dari kota Poso. Kami hanya bisa menyelamatkan pakaian yang melekat di badan. Seluruh rumah dan harta benda yang lain musnah terbakar, saat massa membakar perkampungan,” katanya mengenang peristiwa yang mengerikan itu.
Levi Bagu dan istrinya hampir lima tahun mengungsi di Tentena. “Susah hidup kami di barak pengungsi. Tapi mau apa lagi. Nyawa lebih berarti dari segalanya. Kami makan dari bantuan-bantuan pemerintah. Susah sekali,” tuturnya.

Dia mengaku sangat rindu dengan kampung halaman, tapi takut kembali. Nanti setelah ada jaminan dari pemerintah bahwa kondisi sudah aman, dia beserta istrinya baru berani kembali, apalagi pemerintah berjanji akan membangunkan rumah dan membantu mencukupi makanan mereka sampai bisa mandiri.
“Saya kembali ke Kopampa sejak April lalu. Untuk sementara, saya tinggal digubuk-gubuk. Sudah tiga bulan ini, kami hanya makan sagu. Kamu tidak punya duit untuk membeli besar dan lauk-pauk. Untuk sementara, kami menanam jagung dan ubi kayu untuk persiapan bahan makanan,” tambahnya.

Nasib serupa juga dialami Grace Pamimbi, perempuan paruh baya. Hingga kini, dia masih juga menanti janji pemerintah untuk membangun rumahnya serta menyediakan makanan. Grace Pamimbi mengaku saat ini dirinya hanya bisa memakan sagu yang diramu dari hutan-hutan setempat.
“Dorang (mereka) Cuma bisa be janji-janji, tapi tidak ada buktinya,: kata Grace penuh kegusaran.
Levi Bagu dan Grace Pamimbi adalah potret kehidupan ratusan korban kerusuhan Poso yang hampir lima tahun mengungsi ke daerah lain. Lalu, saat mereka kembali ke daerah asalnya, mereka tersadar bahwa tidak mempunyai apa-apa lagi.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Pemerintah Kabupaten Poso, Amirullah Sia mengatakan pemerintah tidak lagi bisa memenuhi bantuan pembangunan rumah bagi mereka.
“Mereka sudah bukan pengungsi lagi. Lagi pula sebagian besar mereka sudah diberikan bantuan pembangunan rumah tinggal ketika masih berada di pengungsian,” katanya singkat.
Tentu saja, Amirullah Sia lupa bahwa hampir 100 milliar dana bantuan bagi pengungsi Poso juga sudah dikorupsi oleh sejumlah pejabat saerah setempat. Sampai-sampai mantan Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Pemerintah Kabupaten Poso, Andi Azikin Suyuti, menjadi pesakitan, termasuk pula mantan Gubernur Sulteng Aminuddin Ponulele. Keduanya menjadi tersangka kasus korupsi dana bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Poso.
Namun, buru-buru Amiryddin menambahkan: “Ya, kalau misalnya mereka benar-benar membutuhkan bantuan, kita akan tetap bantu.”
Jadi memang dengan alasan apapun puluhan keluarga korban kerusuhan Poso di Kopampa dan ratusan korban lainnya tetap harus diperhatikan oleh pemerintah setempat. Kerusuhan Poso ternyata menyisakan senandung pilu.

Kasus Tibo
Adalah sebuah kasus mengenai penyelesaian Kerusuhan Poso. Tibo sendiri merupakan salah satu terdakwa dari tiga terdakwa dalam kasus ini. Tiga orang terdakwa dalam kasus ini adalah Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu. Mereka ditangkap pada Juli dan Agustus 2000. dan dijatuhi vonis mati pada April 2001 di Pengadilan Negeri Palu, dan ditegaskan kembali dengan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara pada 17 Mei 2001.
Pengadilan memutuskan bahwa mereka bersalah atas tuduhan pembunuhan, penganiayaan, dan perusakan di tiga desa di Poso, yakni Desa Sintuwa, Kayamaya, dan Maengko Baru.

Kasus vonis mati mereka menimbulkan banyak kontroversi sehingga menyebabkan rencana vonis mati mereka tertunda beberapa kali. Ketiganya dieksekusi mati pada dinihari 22 September 2006 di Palu.

Tiga Tedakwa Kerusuhan Poso

Fabianus Tibo
Lahir di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada 5 Mei 1945. Tibo yang berpendidikan kelas dua Sekolah Rakyat sehari-harinya bekerja sebagai petani.
Ketika berusia 17 tahun, Tibi merantau ke Sulawesi Tengah dan berusaha membangun kehidupan dan rumah tangga di desa Beteleme. Menikah dengan wanita setempat, dan dikarunia tiga orang anak. Di samping menunjang kehidupan keluarganya sebagai seorang petani sederhana, Tibo juga bekerja sampingan sebagai pengrajin topi dan rotan. Semuanya itu dilakukan dengan tangan yang memiliki jari-jari yang tidak lengkap. Ia tidak memiliki ibu jari (Jempol) pada tangan kanannya, padahal segala sesuatu dikerjakan dengan tangan kanan sebagai tumpuan utama.

Dominggus da Silva
Lahir di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur tanggal 7 Agustus 1967. setamat STM ia merantau ke Sulawesi Tengah pada tahun 1987. mendengar ada banyaj transmigran asal Flores di Beteleme, Dominggus berusaha mengadu nasib ke Dusun Jamur Jaya. Sehari-hari Dominggus, yang sampia akhir hayatnya membujang, bekerja sebagai sopir angkutan umum jurusan Betemele-Jamur Jaya.

Marinus Riwu
Lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 27 Juli 1957. tahun 1987 lelaki yang hanya bersekolah sampai kelas dua Sekolah Rakyat itu bersama istri dan anak-anaknya transmigrasi ke Sulawesi Tengah, persisnya ke Dusun Molores Kecamatan Lembo yang berjarak 250 kilometer dari kota Poso. Untuk menghidupi keluarganya Marinus sehari-hari bekerja sebagai petani.

Desa Jamur jaya, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah tempat tinggal Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Don Marinus Riwu berjarak sekitar 250 kilometer dari kota Poso. Sebelum kerusuhan Poso I (1998), Poso II (1999), dan Poso III (2000), Dusun Jamur Jaya dalam suasana aman. Masyarakat yang sebagian besar petani hidup dalam ketentraman tanpa terusik sedikitpun dengan berbagai bentuk friksi sosial dan politik. Mereka hidup berdampingan dalam semangat kebersamaan dan toleransi. Ketentraman penduduk Jamur Jaya baru mulai terusik pada tanggal 15 Mei 2000 datang seorang tamu tak diundang yang mengaku berasal dari Poso bernama Yanis Simangunsong memprovokasi dengan mengabarkan berita bahawa gereja Santa Theresia Poso dan Komplek Sekolah/Asrama akan dibakar serta anak-anak Asrama (85 orang berasal dari Desa Beteleme), pastor, para suster, dan para guru akan dibunuh. Informasi tersebut menggerakkan hati Tibo untuk menyelamatkan anak-anak sekolah di asrama tersebut (anak-anak yang berasal dari Beteleme, Kampung Tibo) dan juga suster, pastor dan guru yang tinggak di asrama St. Theresia Poso.

Petani ini ditangkap Satuan Unit TNI Cinta Damai di Desa Jamur Jaya, Betemele, Kabupaten Morowali, pada akhir Juli 2000. lima hari kemudian Dominggus da Silva (42 tahun) menyerahkan diri ke Polsek Bateleme.

Sidang
Ketiga terdakwa ‘Kerusuhan Poso’ sejak awal persidangan di Pengadilan Negeri Palu awal tahun 2001 selalu membantah terlibat kerusuhan Poso III. Kedatangan mereka ke Poso pada tanggal 22 April 2000 dari kampung mereka di Beteleme, Kabupaten Morowali, sekitar 250 kilometer dari Poso, hanya untuk menolong puluhan anak-anak sekolah St. Theresia Poso beserta para guru, suster, dan pastor yang tengah berada dalam kepungan massa. Aksi penyelamatan anak-anak itu mereka lakukan tanpa berkonfrontasi dengan massa.

Seluruh proses persidangan Tibo CS (sebanyak 17 kali) penuh dengan tekanan massa, bahkan Fabianus Tibo pernah dipukul oleh salah satu saksi dalam proses persidangan di ruang sidang pengadilan negeri Palu. Tuduhan jaksa yang mengatakan mereka telah memimpin pembunuhan terhadap warga Kelurahan Moengko Baru, Kelurahan Kayamanya, dan desa Sintuwulemba, Poso, tidak pernah terbukti di persidangan.

Pada sidang PK kedua di PN Palu, penasihat hukum Tibo CS menghadirkan sembilan saksi baru yang mengatakan bahwa Tibo tidak terlibat sejumlah penyerangan dan pembunuhan warga Poso pada tanggal 23 Mei—1 Juni 2000 sebagaimana dituduhkan jaksa penuntut umum. Sembilan saksi melihat Tibo cs menyelamatkan puluhan anak-anak sekolaha St. Theresia Poso, suster, pastor, dan sejumlah guru dari kepungan massa.

Hukuman Mati
Tibo cs divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Palu pada tanggal 5 April 2001. putusan itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara pada 17 Mei 2001. Mahkamah Agung membenarkan putusan hakim Pengadilan Negeri Palu, yang menyatakan Tibo cs bersalah atas sangkaan pembunuhan, penganiayaan, dan perusakan di tiga desa di Poso, yakni Desa Sintuwu Lemba, Kayamaya, dan Maengko Baru. Majelis Pengadilan Negeri Palu, yang dipimpin hakim Sudarmo, meyakini sejumlah saksi yang mengaku melihat ketiganya memimpin dalam penyerangan itu. Hukuman diperberat karena Tibo (61 tahun), pernah dihukum empat tahun dalam kasus pembunuhan seorang transmigran asal Bali, pada tahun 1994.
Tibo lalu tiga kali mengajukan grasi kepada presiden dan dua kali peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung dan semuanya ditolak.

Rencana Eksekusi
Seperti diberitakan, Kejaksaan Negeri Palu Sulawesi Tengah telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada pihak keluarga mengenai waktu pelaksanaan eksekusi. Tibo cs dijadwalkan dieksekusi 12 Agustus 2006 pukul 00:15 WITA yang diperkuat oleh surat No. SR.65/R.2.10/Buh.1/8/2006.

Pada Sabtu 12 Agustus 2006, Tibo, Silva, dan Riwu dilaporkan telah hampir dihukum mati, namun pada detik-detik terakhir menjelang pelaksanaannya, pemerintah Indonesia mengeluarkan perintah penundaannya. Penundaan ini datang beberapa jam setelah Paus Benediktus XVI mengeluarkan imbauan khusus kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut pemerintah, penundaan ini akibat adanya “alasan teknis”.
Menjelang jam eksekusi, tiga peti mati dan satu tim tenaga medis diangkut ke Kejaksaan Tinggi, yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Lembaga Pemasyarakatan Petobo, tempat ketiga terpidana diisolasi tiga hari sebelumnya. Jaksa penuntut umum kasus Tibo, La Anatara dan Iskandar Sukirman, tampak dikantor Jaksa Tinggi. Kepala Kejaksaan Negeri Palu, Basri Akib, juga terlihat di sana. Mereka menanti jemputan regu penembak Brimob dari Polda Sulawesi Tengah.

Menurut Pastor J. Mangkey MSC yang mendapat informasi dari Roy Jening, sebelum dieksekusi Tibo cs melalui kuasa hukum dan penasehat rohani menyampaikan empat permintaan terakhirnya jika harus dieksekusi. Keempat permintaan itu adalah;

1.Akan menyampaikan pesan terbuka kepada Presiden SBY melalui konfrensi Pers.
2.Meminta Antonius Sujata, Romo Nobert Bethan, Pst Jimmy Tumbelaka dan Roy Jening mendampingi pada saat eksekusi.
3.Meminta agar jenazahnya disemayamkan di Gereja Katolik St. Maria Palu dan meminta Uskup Manado Mgr Josephus Suwatan untuk memimpin misa arwah.
4.Dominggus da Silva meminta jenazahnya dimakamkan di Flores Maumere sedangkan Tibo dan Marinus di Beteleme Morowali.

Salah satu seorang penasihat rohani Tibo cs, Pst Jimmy Tombelaka yang akan mendampingi proses eksekusi ketika dihubungi mengatakan kalau memang eksekusi dilakukan maka Tibo cs akan mendapatkan hak-hak mereka sebagai orang Katolik. Sehari menjelang eksekusi tepatnya Jum’at mereka akan menerima sakramen tobat dan sakramen ekaristi. Selanjutnya sepuluh sampai lima belas menit sebelum eksekusi pada Sabtu, mereka akan menerima sakramen perminyakan suci yaitu sakramen yang diterima oleh orang yang akan meninggal. Sesudah dieksekusi mereka akan disemayamkan di Gereja St. Maria Palu untuk menerima Misa Arwah yang akan dipimpin oleh Uskup Suwatan. Satu jam sebelum eksekusi, berita dari Jakarta mengenai penundaan eksekusi mulai tersebar. Basri Akib lalu mengontak Jaksa Tinggi Yahya Sibe, yang sedang berada di Jakarta, dan membenarkan kabar penundaan tersebut.

Jenderal Polisi Sutanto kemudian menyatakan, eksekusi ditunda hingga setelah 17 Agustus. Alasannya, untuk memberi waktu kepada masyarakat dan pejabat di daerah merayakan hari kemerdekaan. Eksekusi akan tetap dilakukan selambat-lambatnya akan ditentukan tiga hari setelah 17 Agustus. Wewenang menentukan waktu yang baru di tangan Jaksa Tinggi dan Kapolda setempat.

Penundaan eksekusi atas info terpidana ini sudah keenam kalinya. Eksekusi seharusnya dilakukan segera setelah Maret 2004, setelah permohonan PK para terpidana kelahiran Nusa Tenggara Timur itu ditolah Mahkamah Angung. Hukuman ditunda karena mereka mengajukan grasi ke Presiden. Ketika grasi ditolak, september 2005, mereka mengajukan lagi permohonan PK kedua.

Ketika semua upaya hukum dipastikan kandas, pada April 2006, ketiganya tak juga dieksekusi. Brigjen Oegroseno berencana untuk mengkonfrontasi ketiga terpidana dengan 16 nama yang disebut Tibo sebagai dalang sebenarnya kerusuhan Poso. 16 nama tersebut adalah :

1.Paulus Tungkanan (Purn. TNI)
2.Limpadeli (Pensiunan PNS)
3.Ladue (Purn. TNI)
4.Erik Rombot (PNS Kehutanan)
5.Theo Manjayo (Purn. TNI)
6.Edi Bunkundapu (PNS Pemda Tk. II Poso)
7.Yahya Patiro (PNS Pemda Tk, II Poso)
8.Sigilipu H.X (Pegawai Perhubungan)
9.Obed Tampai (Pegawai Perhubungan)
10.Rungadodi Zon (PNS Guru SD)
11.Janis Simangusong
12.Ventje Angkou
13.Angki Tungkanan
14.Heri Banibi
15.Sarjun alias Gode
16.Guntur Tarinje

Pada tanggal 18 September pengacara Tibo cs, Roy Bening, telah menerima surat Kejaksaan tentang waktu hukuman mati mereka yang akan dilaksanakan pada tanggal 21 September 2006. surat pemberitahuan eksekusi sudah disampaikan kepada Fabianus Tibo cs oleh pihak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah (Kejati SulTeng) di lembaga Pemasyarakatan Kelas II Petobo, Palu.

Eksekusi Mati
22 September 2006, dini hari, Fabianus Tibo Cs menjalani eksekusi mati di Poso, Provinsi Sulawesi Tengah di hadapan regu tembak dari kesatuan Brimob Polda setempat. Mereja menjalani eksekusi mati secara serentak selama kurang dari lima menit mulai pukul 01:10 WITA di sebuah tempat yang masih dirahasiakan di pinggiran selatan kota Palu. Berselang beberapa menit kemudian, jazad ketiga terpidana yang benar-benar telah dinyatakan meninggal dunia segera dimandikan oleh puluhan petugas yang sudah bersiaga di tempat kejadian perkara (TKP). Lalu, masing-masing mereka dipakaikan setelan jasa yang sudah dipersiapkan. Selanjutnya, jenazah para terpidana dimasukan ke dalam peti mati yang tiga bulan lalu dipersiapkan pihak Kejaksaan Negeri Palu selaku pelaksanaan eksekutor.

Sementara itu, kawasan Bandara Mutiara di pinggiran selatan kota Palu yang sejak Kamus malam hingga Jum’at dini hari telah disterilkan serta mendapatkan pengamanan ekstra ketat oleh ratusan aparat keamanan bersenjata lengkap hingga pukul 05:30 WITA belum dibuka untuk umum. Kuar dugaan sebuah banguan di salah satu bagian bandara terbesar di provinsi Sulteng ini dijadikan tempat menyemayamkan jenazah Tibo dkk, sebelum dibawa ke tempat penguburannya.

Jenazah Tibo dan Marinus akan diterbangkan ke Soroako, SulSel, mengunakan pesawat udara. Selanjutnya dari Soroako diseberangkan ke Danau Towuti, untuk kemudian dibawa melalui perjalanan darat ke desa Beteleme, ibukota Kecamatan Lembo di kabupaten Morowali, guna dikebumikan di tempat domisili keluarganya. Sementara jenazah Dominggus langsung diangkut ke pekuburan Kristen Poboya, Palu Timur.

Kejaksaan Agung menggelar jumpa Pers, disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, I Wayan Pasek Suartha menjelaskan pelaksanaan eksekusi dipimpin pelaksanaan harian Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, Mahmud Manan, dengan pelaksana kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Ketiga terpidana dijemput dari LP kelas II Petebo. 01.00 WITA. Ketiga terpidana tiba di tempat pelasanaan eksekusi. Selang 15 menit kemudian terpidana mendapat bimbingan doa dari rohaniawan Katolik, Yosep Katilitaba.

Eksekusi dilaksanakan di Desa Poboya, Kecamatan Palu Selatan, kota Pali, Jum’at 22 September, pukul 01.45 WITA atau pukul 00.45 WIB. Eksekusi dilaksanakan secara serentaj di hadapan regu tembak dari Brimob Polda Sulteng yang terdiri dari tiga regu, masing-masing regu terdiri dari dua belas personil. Pukul 02.00 WITA, tim dokter yang terdiri dari enam orang yang dipimpin dokter Haris menyatakan ketiga terpidana benar-benar meninggal.

Pukul 04.00 WITA jenazah dikenakan pakaian jas lengkap dan dimasukkan ke dalam peti jenazah. Prosesi pemakaman Dominggus da Silva dilaksanakan atau diselenggarakan negara di pemakaman Poboya, Palu Selatan, Palu, pukul 04.15 WITA. Sementara, jenazah Fabianus Tibo dan Matinus Riwu pada pukul 06.00 diberangkatkan ke Morowali, menggunakan pesawat helikopter milik Polda Sulawesi Tengah.
Permintaan Dominggus da Silva untuk dimakamkan di Maumere tidak dipenuhi atas penentuan Kajati setempat, dan pemakaman Dominggus diselenggarakan negara.

Permintaan Terakhir Ditolak
Kejati Palu menolak semua permintaan terakhir Tibo dkk. Kejati Palu tidak memberi kesempatan jenazah Tibo dkk disemayamkan di Gereja St. Maria Palu untuk misa Requeiem. Menurut pihak kejaksaan, setelah dieksekusi, jenazah Tibo dan Matianus langsung diterbangkan ke Morowali, sedangkan jenazah Dominggus dikebumikan di Palu.

Tibo dkk telah meminta semua keperluan setelah eksekusi hingga ke pemakaman itu dipersiapkan oleh pihak keluarga dan orang-orang yang perduli terhadap mereka. Berdasarkan Pasal 15 Penetapan Presiden RI No.2 Tahun 1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati, penguburan diserahkan kepada keluarga atau sahabat terpidana.

Dimakamkan Sepihak
Komisi untuk orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Sulawesi mengecam keras sikap kepolisian yang langsung memakamkan jasad Dominggus da Silva, setelah eksekusi mati, di daerah Poboya, Palu, dekat Markas Brimob, tanpa memberitahu pihak keluarga. Tidak lama setelah melakukan eksekusi terhadap ketiga terpidana mati kasus Poso, dekat kepolisian selaku eksekutor langsung memakamkan jasad Dominggus da Silva tanpa memberitahu pihak keluarga yang sudah menanti di Gereja St. Maria, Palu. Dengan penguburan sepihak itu, keluarga tidak sempat melihat jasad Dominggus. Dalam amanat terakhirnya Dominggus meminta pihak keluarga memakamkan jazadnya di tempat asalnya, Nusa Tenggara Timur.

Polisi pun ingkar janji untuk membawa jazad Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marianus Riwu ke Gereja St. Maria, rencananya pihak keluarga akan melakukan misa requem, misa yang dipimpin oleh Pastor Gereja St. Maria, Melky Toreh, berlangsung selama 45 menit. Foto tiga terpidana mati dipajang di dalam gereja dengan tiga peti mati kosong. Dini harinya pihak kepolisian yang diwakili oleh Victor Batara sepakat memenuhi permintaan keluarga para narapidana agar menghadirkan jasad mereka pada misa pukul 09.00 WITA. Namun ternyata polisi langsung menerbangkan jasad Fabianus Tibo dan Marianus Riwu ke Beteleme dengan pesawat kepolisian pada pukul 06.00 WITA. Tidak ada alasan yang jelas dari kepolian kepada keluarga atas pengingkaran janji itu.

Bupati Sikka Alexander mengurus membawa pulang jenazah Dominggus da Silva dimakamkan di kampung halamannya, di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bupati mengambil keputusan ini setelah diperoleh kesepakatan dengan keluarga Dominggus da Silva, di kediaman bapak angkat Dominggus, Ansel da Silva, di jalan Nong Meak, Kampung Kabor, Kecamatan Alok. Sebelum kesepakatan, warga Maumere berunjuk rasa di kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Sikka. Mereka menuntut jenazah Dominggus yang telah di eksekusi dimakamkan di kampung halamannya.

Kontroversi
Tuntutan untuk penangguhan, bahkan pembatalan eksekusi terhadap ketiga terpidana mati itu terutama dipelopori oleh masyarakat Kristiani yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Maluku, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Mereka berdemonstrasi di Jakarta, Makassar, Palu, dan Manado. Sementara itu, tuntutan agar eksekusi segera dijalankan datang dari ratusan pemuda dan mahasiswa Muslim yang mendatangi Mapolda dan Kejati Sulteng di Palu, hari Rabu, 5 April 2006. mereka berasal dari PMII, IPNU, IPPNU, DDI, dan Badan Eksekutif Mahasiwa STAIN Datokarama, Palu.

Pihak yang menuntut penundaan atau pembatalan eksekusi Tibo cs beralasan bahwa ada bukti ketiga terpidana mati itu tidak melakukan serangkaian pembunuhan seperti yang dituduhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Palu. Sembilan saksi baru dalam sidang PK II perkara Tibo dkk yang berlangsung di PN Palu, 9 Maret lalu, membantah tuduhan jaksa, bahwa Trio itu memimpin sekitar 130 orang untuk membunuh penduduk keluarahan Moengko baru dan Kayamanya, pada tanggal 23 Mei 2000, pukul 03.30 WITA. Mereka sebaliknya menyaksikan Tibo dkk berada di kompleks gereja dan sekolah St. Theresia, Poso, antara tanggal 22-23 Mei 2000, untuk melindungi dan mengevakuasi puluhan anak sekolah di malam hari ke desa Temabaru.

Sebaliknya, pihak yang menuntut supaya eksekusi segera dijalankan, berdalih sebagai wujud ketaatan terhadap hukum maka eksekusi Tibo dan kawan-kawan harus dipercepat seperti kata M. Subhan, Koordinator Cabang pengerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tengah, dikutip oleh koran Tempo, 6 April 2006. kepada koran yang sama ia mengulangi keterangan polisi tentang “Pengakuan-pengakuan” Tibo dan Dominggus, tentang banyaknya orang Muslim Poso yang mereka bunuh.

Ada juga tuntutan pengangguhan eksekusi yang datang dari kalangan lintas agama. Lima pemuka agama, yakni KH. Abdurahman Wahid, Julius Kardinal Darmaatmadja, Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, Bhikku Dharmawimala, dan Ws. Budi S. Tanuwibowo memohon kepada Presiden SBY untuk menunda eksekusi terhadap Tibo, Riwu, dan Dominggus dengan pertimbangan sebagai berikut.

•Alasan kemanusiaan, mengingat ketiga terpidana mati itu mempunyai hak menunggu untuk mengajukan grasi kembali selama dua tahun, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
•Untuk menjaga kerukunan di wilayah Poso dan sekitarnya.
•Keputusan pemerintah yang terkesan tergesa-gesa akan menimbulkan pertanyaan besar
•Demi terciptannya suasana adil dan damai di Poso dan Palu, ketiga terpidana mati itu seharusnya dipindahkan ke tempat lain.

Sikap yang juga tidak diwarnai keberpihakan kepada salah satu komuniitas agama, ditunjukkan oleh Poso center, aliansi 30 ornop di Palu, Poso, dan Tentena, yang lahir dari kampanye bersama untuk menyeret para pelaku korupsi dana bantuan kemanusiaan pengungsi Poso ke meja hijau. Mereka pun menuntut supaya eksekusi mati terhadap Tibo cs ditunda dulu.

Saat eksekusi belum dilakukan, Keuskupan Manado dan kalangan Katolik akan terus berusaha agar pelaksanaan eksekusi tidak dilakukan. Hal ini ditegaskan langsung Uskup Manado Mgr. Josephus Suwatan MSC. Menurut Suwatan hingga kini mereka tetap belum yakin bahwa Tibo cs memang bersalah dan layak dihukum mati. Karena sejumlah bukti justru meringankan mereka.

Senada dengan Suwatan, ketua Umum Pucuk Pimpinan KGPM Gembala Tedius Batasina, Ketua SAG Sulutteng Pdt. J. Sumakul, ketua Umu Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Pdt Dr. Lefrant Lapian, Ketua Dewan Sangha Budha Sulut dan Indonesia Bhikku Dharma Surya Maha Sthavhira sama-sama berpendapat bahwa penghukuman mati adalah hal Tuhan karena Ia yang menciptakan manusia.

Tiga pemimpin agama di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah juga menyampaikan seruan kemanusiaan, minta pihak berwenang dan khususnya Presiden SBY untuk mempertimbangkan kembali rencana pelaksanaan eksekusi mati terhadap Tibo cs. Alasannya karena Novum (Bukti Baru) yang ditemukan melalui sidang Pengadilan Negeri Palu tertanggal 9 Maret 2006 lalu sampai hari ini belum dipakai oleh penegak hukum guna mencari kebenaran materiil atas kasus tersebut. Dalam surat seruan kemanusiaan tertanggal 10 Agustus 2006, ketiga tokoh agama Sulawesi Utara, masing-masing Uskup Manado yang sekaligus membawahi wilayah pelayanan Sulawesi Utara dan Tengah Mgr Joseph Suwatan, Ketua Majelis Ulama Indonesia ulama Sulawesi Utara KH. Arifin Asegaf dan President of Asia Fellowship of Mission 21 Partner Churches Dr. Nico Gara menyampaikan seruan yang menyatakan menolak pelaksanaan hukuman mati Tibo cs yang diyakini belum berkeadilan dan belum didapati kebenaran materiil. Antara lain tidak dipertimbangkannya ‘Novum’ dalam sidang Peninjauan kembali yang dilaksanakan oleh Tim Lima Hakim Agung pada tanggal 9 mei 2006, dan lebih sunggu tidak masuk akal menuduh Tibo cs menyerang kompleks Moengko, yang notabene adalah kompleks peribadatan itu sendiri. Demikian juga tempat sekola dan asrama anak-anak mereka sendiri. Dengan demikian sekurang-kurangnya materi tuduhan tentang peristiwa di kompleks Moengko pada tanggal 23 Mei 2000, pasti tidak benar.

Menurut Undang-Undang Grasi No. 22 tahun 2002, Tibo cs masih mempunyai hak untuk mengajukan grasi kedua. Dan, pada pasal 3 UU itu disebutkan bahwa permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana, kecuali dalam hal putusan pidana mati.

Tokoh Agama dan LSM minta Eksekusi Tibo cs ditunda
Para tokoh agama dan LSM yang tergabung dalam Poso center meminta kepada pemerintah dan aparat kepolisian untuk segera menghentikan penyiksaan terhadap Ipong dan Yusuf, dua warga Poso, yang diduga melakukan berbagai tindakkan kekerasan di Poso.

“Saya mendapat pengakuan dari Ipong dan Yusuf bahwa mereka telah disiksa, digebuki (dipukuli), dan kemaluannya disetrum di penjara Polda Metro Jaya,” kata KH Adnan Arsal, Ulama Kharismatis di Poso.

Hal tersebut disampaikannya ketika bersama tokoh agama lainnya melaporkan kondisi Poso kepada mantan presiden dan tokoh natdatul Ulama KH Abdurrahman Wahid, Direktur Eksekutif PBHI Hendardi, dan Direktur Eksekutif Kontras Usman Hamid, di Jakarta , Jum’at.
Didampingi Ketua PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) Sulawesi Tengah Rynaldy Damanik, Paroki Poso Jimmy Tumbeleka, dan Direktur Eksekutif yayasan Tanah Merdeka Arianto Sangaji, KH Adnan Arsal mengatakan bahwa Ipong dan Yusuf dengan sukarela menyerahkan diri ke kepolisian Poso.

Namun tanpa seizin orang tua mereka ternyata dibawa ke Jakarta dengan alasan tidak aman. “Siapa bilang tidak aman di Poso, jika aparat kepolisian merasa tidak aman maka minta tolonglah ke masyarakat. Kami akan turut mengamankan. Ketika akan dibawa ke Jakarta, polisi berjanji tidak akan melakukan siksaan, ternyata mereka disiksa,” kata KH Ustad Adnan.

Selain itu, tokoh agama Nasrani pendeta Rinaldy Damanik dan pastor Jimmy Tumbeleka meminta kepada pemerintah agar menunda eksekusi mati terhadap terpidana mati Fabianus cs. Pengadilan Negeri Poso, tahun 2001, telah memutuskan vonis menghukum mati Fabianus Tibo Cs divonis mati berkaitan dengan pembunuhan sekitar 200 santri pesantren Wali Songo, di Poso, tahun 2001.

“Fabianus Tibo cs bukanlah pelaku utama. Mereka adalah pelaku lapangan. Namun tokoh intelektualnya masih bebas berkeliaran. Kami heran mengapa aparat kepolisian tidak mengejar 16 orang yang disebutkan Febianus Tibo cs sebagai otak pelaku kerusuhan di Poso,” kata Pendeta Rinaldy.

Tibo cs itu baru masuk ke Poso pada tanggal 16 Mei 2000, sedangkan kerusuhan Poso itu dimulai sejak tahun 1998. sejak 1998-2000 korban kekerasan di Poso mencapai 1.000 jiwa meninggal. Hal ini berarti bahwa Tibo cs bukanlah pelaku utama. Ia hanya pelaku lapangan,” ujar Rinaldy seperti dikutip Antara.
Sementara itu, Direktur Eksekutif PBHI Hendardi menyetujui pembentukan Tim Indenpenden seperti Poso center yang melibatkan tokoh agama, pemuka masyarakat dan LSM di Poso, guna melakukan penyelidikan berbagai tindakan kekerasan di Poso.

“Pemerintah seharusnya memberikan legalitas kepada tim independen ini untuk melakukan tugasnya guna mendapatkan akses informasi dari semua lembaga pemerintahan. Jika tidak maka tim pencari fakta independen ini akan menghadapi kesulitan dan mengumpulkan informasi dan data mengenai berbagai aksi kekerasan di Poso,”katanya.

Hendardi juga mendukung penundaan eksekusi mati terhadap Tibo cs. “selaku kuasa hukumnya, pemerintah dan aparat kepolisian seharusnya menjadikan Tibo cs sebagai pintu masuk guna menangkap dalang atau aktor utama kerusuhan di Poso bukan malah melenyapkannya,”katanya.

Sebelumnya dua pemuka agama Poso, Sulawesi Tengah, Ustadz Adnan Arsal dan Pendeta Rinaldy Damanik menemui Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Kamis, meminta dukungan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu terkait upaya pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) indenpenden Kerusuhan Poso.

Seruan dari Dunia Internasional
Pemerintah Indonesia juga menerima keberatan maupun seruan anti-hukuman mati dari dunia internasional, termasuk dari Tahta Suci Vatikan serta sejumlah negara Eropa, terkait dengan rencana pelaksanaan hukuman mati pada Sabtu 12 Agustus 2006 dinihari bagi Tibo cs. Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengaku menerima keberatan-keberatan, seruan-seruan, tidak hanya dari pemerintah atau Tahta Suci atau Organisasi internasional, tapi juga pribadi-pribadi.

Selama Agustus 2006, kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tengah di Palu, menerima ratusan surat dari berbagai elemen masyarakat di luar negeri, yang sebagian besarnya meminta institusi ini tidak melaksanakan hukuman mati terhadap Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marianus Riwu. Surat-surat yang ditulis dalam bahasa Inggris itu umunya berasal dari LSM, organisasi keagamaan dan pemerintah, serta perorangan dari negara-negara di Eropa dan AS.

Aksi
Sejak awal Agustus 2006 bendera setengah tiang berkibar di seluruh penjuru Tentena, ibukota Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Lapangan bola di kota itu juga dipenuhi massa, yang tiap hari menggelar protes atas rencana eksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marianus Riwu. Para pengunjuk rasa tidak terima ketiga pria itu dihukum sebagai penggerak kerusuhan Poso. Gelagat ancaman kerusuhan ini membuat Kepala Polda Sulawesi Tengah, Brigjen Oegroseno, berkunjung ke Tentena dari Palu, Rabu 9 Agustus untuk memantau keamanan langsung di lapangan. Ratusan warga dari Pendolo, wilayah di perbatasan Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, ikut bergabung. Mereka melempari kantor polisi di Tentena, juga menggembok pintu keluar di Kantor Cabang Kejaksaan Negeri Poso di Tentena, sekalian menyandera mathius, kepala Cabang Kejaksaan Negeri di Tentena. Malam harinya, sejumlah pohon di daerah Pamona Utara dan Selatan ditebang untuk merintangi jalan.

Pada tanggal 4 September 2006 sekitar 4000 warga muslim Poso mengadakan protes penuntutan pelaksanaan hukuman mati Tibo cs dilaksanakan dengan segera. Demo ini menyebabkan sekolah, pasar, dan pusat bisnis lainnya tutup.

21 September 2006, di berbagai kota, Jakarta, Palu, Nusa Tenggara Timur, dll sejumlah organisasi masyarakat, lembaga swadaya, rohaniawan, tokoh masyarakat, dan masyarakat setempat berkumpul untuk berdoa dan menanti saat-saat eksekusi Tibo cs. Di Palu masyarakat berkumpul di gereja St. Maria, Jalan Tangkasi. Ratusan warga Desa Beteleme, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mengelar doa bersama bagi Tibo cs. Hingga dini hari, umat Katolik di Manado berbaur dengan komponen dari GMIM dan Pantekosta menyatu menggelar doa bersama di Gereja Kathedral Manado, Jalan Sam Ratulangi. Sejumlah warga yang ditemui menyatakan penyesalan atas penolakan permintaan terakhir Tibo cs untuk melaksanakan Misa Requiem untuk arwah mereka di gereja St. Maria. Di aula seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng dan di gereja Hati Tersuci Maria Katedral, ratusan umat Katholik berkumpul untuk mendoakan Tibo cs, bahkan turut hadir dalam doa bersama tersebut di hadiri perwakilan dari semua agama. Sementara itu, di sejumlah daerah di Flores, Nusa Tenggara Timur, ribuan orang melakukan aksi damai menolak eksekusi terhadap Tibo dkk. Aksi dilakukan kalangan rohaniwan, pelajar, lembaga swadaya masyarakat, partai politik, dan organisasi kepemudaan. Aksi berlangsung di Kabupaten Manggarai, Ende, Ngada, dan Sikka. Di Jakarta, masyarakat berkumpul dan menyalakan lilin di Tugu proklamasi dan di halaman kantor Komnas HAM.

Kerusuhan Setelah Eksekusi Tibo cs
22 September 2006, Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Atambua dan rumah dinas Kepala Kejaksaan Negeri Atambu, NTT, menjadi sasaran amuk massa yang memprotes eksekusi Tibo cs, yang dilaksanakan dini hari. Ribuan warga Atambua mengamuk merusak kantor kejari Atambua di Jalan Timor Raya, kota Atambua, Nusa Tenggara Timur, pukul 08.00 WITA. Massa merusak kaca-kaca dan investaris kantor seperti bangku dan meja. Kaca-kaca hancur berantakan dan meja serta kursi pun patah-patah. Tidak hanya itu, massa langsung menuju rumah dinas Kepala Kejaksaan Atambua Saut Simanjuntak, yang berjarak 50 kilometer dari Kantor Kejari. Rumah itu ditimpuki (dilempari) batu dan dirusak lalu dibakar.
Rumah tahanan (Rutan) Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sekitar pukul 09.00 WITA, dibobol massa simpatisan Fabianus Tibo cs sehingga sebanyak 190 orang napi dan tahanan kabur.
Massa yang mengamuk, merusak gedung perkantoran, warung-warung, pso polisi hingga SPBU. Meski sudah ada pengarahan dari uskup Atambua, Kapolda NTT, Bupati dan tokoh agama lain, kerusuhan masih saja berlangsung. Hingga pukul 14.00 WITA, massa terus beringas sehingga aparat polisi berusaha menghentikan dengan mengeluarkan tembakan gas air mata dan peluru karet. Warga yang terkena peluru karet terakhir dilarikan ke RSUD Atambua. Massa yang berjumlah sekitar 5000 lebih mengempur kota Atambua. Sebuah hotel berbintang, King Star, juga rusak. Upaya massa untuk membakar beberapa warung milik warga pendatang dan sebuah rumah ibadah berhasil digagalkan petugas pemadam kebakaran yang telah disiagakan. Sebuah mobil dinas Kejaksaan Negeri Atambua yang dibakar massa di depan Kantor Kejaksaan.

Kontroversi di Balik Dana Bantuan Kerusuhan Poso
83 Mantan Narapidana Kerusuhan Poso Berharap Bantuan. Sebanyak 83 orang mantan narapidana kasus kerusuhan Poso di Sulteng berharap bantuan permodalan dari pemerintah untuk kelangsungan hidup mereka.
Seluruh mantan narapidana asal kecamatan Pamona Selatan, kabupaten Poso ini belum pernah menikmati se-persen-pun dari sekian banyak program pemulihan bagi korban kerusuhan dengan dana ratusan miliar rupiah.

Lima perwakilan mantan napi kerusuhan Poso tahun 2000 ini bertandang ke kantor Poso Center, Palu, Senin, dengan tujuan meminta bantuan fasilitas pertemuan dengan Pemprov (Pemerintah Provinsi) Sulteng.

Mereka adalah Charles Arima (43), Acah Purasongka (35), Ranga Mosinta (35), Sion Mbude (40), Agustian Kimi (25). Charles mengatakan sebanyak 83 warga Pamona Selatan dari sejumlah desa ditangkap aparat keamanan pada tanggal 8 Juli 2000 atas tuduhan melanggar UU Darurat No. 12 Tahun 1951 dan Pasal 170 KUHP soal ketertiban umum.

Atas tuduhan tersebut, mereka divonis penjara bervariasi antara satu sampai dua tahun. Kecuali Charles divonis 10 tahun dan baru bebas 17 Agustus 2007 ini setelah mendapat beberapa kali remisi khusus.

“Padahal dalam situasi konflik, hampir dipastikan masyarakat mempersenjatai diri untuk bertahan dari serangan musuh. Semua ini terjadi karena kegagalan Negara, dalam hal ini aparat keamanan memberi perlindungan kepada rakyatnya. Kami juga korban konflik,” katanya.

Menurut Charles, seluruh 83 mantan narapidana yang telah kembali ke masyarakat ini hidup dalam kondisi memprihatinkan karena secara ekonomi tidak berdaya.

“Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kami terpaksa kerja serabutan,” ujarnya.

Hal senada diungkap Acah. Ia mengatakan selama proses persidangan sampai menjalani hukuman tahanan, harta termasuk lahan perkebunan dan pertanian milik para keluarga mantan napi ini habis terjual.
Selain untuk membiayai kebutuhan selama persidangan sampai menjalani tahanan, uang hasil pernjualan harta mereka digunakan membiayai kebutuhan hidup sehari-hari anggota keluarga yang ditinggal.

***
Pada tanggal 1 February 2006 detiknews.com mengeluarkan berita bahwa sebanyak 16 (enam belas) orang yang menjadi otak kerusuhan Poso di setor ke Mabes Polri. Mereka dianggap telah melakukan tindak pidana melanggar pasal 187, 338, 340 dan 351 KUHP tentang pembunuhan dan penganiayaan.

Mereka oleh warga Poso yang dikenal dengan nama kelompok merah. Sesuai dengan penuturan Roy Rening, Roy yang sendirinya merupakan koordinator pengacara tiga terpidana mati kasus kerusuhan Poso Jilid III tahun 2000, yakni Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu. Ke-16 orang yang menjadi dalang kerusuhan tersebut.

1.Janis Simangunsong
2.Paulus Tungkanan
3.Angki Tungkanan
4.Lempa Delli
5.Erik Rombot
6.Yahya Patiro
7.Sigilipu
8.Ladue
9.Obet Tampay
10.Sarjun
11.Heri Banidi
12.Guntur Saridji
13.Ventje Angkau
14.Theo Mandayo
15.Son Ruwagadi
16.Base lateka.

Bahwa pada pertengahan Mei 2000, Janis yang mengaku sebagai utusan dari Tentena mendatangi Tibo di Morowali dan mengatakan Gereja Katolik St. Theresia di Poso akan dibakar, selain pastor serta anak-anak penghuni panti asuhan akan dibunuh oleh kelompok putih.

Tibo yang anaknya berada di panti asuhan tersebut langsung menuju Poso bersama Marinus dan Dominggus serta yang lainnya hingga saat terjadinya kerusuhan. Kedatangan Tibo ke Poso tak lain adalah ingin menyelamatkan anak-anak penghuni panti asuhan dan para guru, serta pastor dan suster.
Karena kerusuhan, mereka (Tibo, Marinus, dan Dominggus) tidak bisa kembali, karena dihadang pasukan. Akhirnya mereka terpaksa terpeta konflik dalam kasus ini.
Roy juga menambahkan, ada upaya untuk melibatkan kaum transmigran oleh otak kerusuhan dalam konflik Poso ini. “Tibo itu transmigran dari NTT dan tinggal di Morowali telah 30 tahun. Dia itu petani dan jempolnya putus. Bagaimana seorang petani yang tak memiliki jempol pada tangan kanannya bisa memegang parang untuk membunuh?” cetus Roy.


Jangan Sok Pahlawan di Poso!

Interview
Author : Angga Haksoro
Fri, 10 Nov 2006—14:04:42 +0700


Poso masih terus berkecamuk. Serangkaian teror dan kekerasan masih saja terjadi hingga kini. Bahkan, korban jiwa jatuh tak terelakkan. Polri telah mengumumkan dua puluh sembilan nama tersangka pelaku kerusuhan Poso. Mereka akan segera diproses secara hukum.
Namun apakah penegak hukum yang direncanakan polisi bisa mengakhiri kekerasan di pantai timur Sulawesi itu? Berikut petikan wawancara dengan mantan ketua Gereja Kristen Sulawesi Tengah, Pendeta Rinaldy Damanik seputar perkembangan situasi di Poso.

Melihat situasi Poso sekarang melalui perkembangan yang terjadi, bagaimana Pendeta melihat kondisi Poso ke depan?
Poso ke depan bagi saya masih menjadi sesuatu yang bermasalah. Masih menjadi Poso yang bermasalah. Apalagi secara kualitas tindakan kekerasan di Poso semakin meningkat, terutama dengan peristiwa dibunuhnya Pendeta Irianto Kongkoli, Ketua Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang merupakan representasi dari GKST.

Jadi, Pendeta menyimpulkan ada kecenderungan Poso ke depan semakin mencekam?
Ya, jika pemerintah dan aparat keamanan ragu-ragu untuk menerapkan hukum secara tegas. Bagi kami yang penting sebenarnya adalah penegakan hukum yang benar-benar menyentuh rasa keadilan masyarakat, yang transparan, terbuka,. Yang pasti begitu.

Jadi, kunci pulihnya perdamaian di Poso adalah ketegasan dari polisi?
Penegakan hukum, ya. Jadi, salah satu hal yang paling penting sebenarnya adalah sampai saat ini belum jelas apa sebenarnya yang terjadi di Poso, dalam arti agar Poso benar-benar pulih maka kasus Poso sejak Desember 1998 itu harus ada bukti-bukti, data yang kuat, dan seterusnya. Misalnya belum ada keseragaman tentang kronologis kerusuhan Poso sejak Desember 1998 sampai sekarang. Dan kemudia juga belum ada keseragaman tentang korban. Dan kemudian juga belum jelas siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab, paling bertanggung jawab sebagai pelaku dalam kerusuhan Poso sejak awal. Itu juga yang harus diungkap kalau benar-benar ingin menjadikan Poso yang aman dan damai. Tanpa mengungkap itu saya kira Poso ini menjadi negeri pendusta, negeri dusta bagi saya.

Sebelum Tibo dieksekusi terdapat sedikit titik terang dalam pengungkapan kasus kerusuhan Poso. Apakah setelah Tibo dieksekusi menjadi tertutup jalan terang mengungkap kasus kerusuhan itu?
Sebenarnya tidak. Jika semuanya mau terbuka sebenarnya tidak, ya. Justru saya berpikir bahwa dengan mengungkap kasus ini sejak awal ini merupakan juga salah satu poin nantinya yang akan merehabilitasi nama baik Tibo walaupun ia sudah dieksekusi. Dan kemudian membuktikan bahwa kasus hukum terhadap Tibo itu salah.

Apakah kesamaan visi antara kelompok Kristen dan Islam mengenai perdamaian di Poso sekarang sudah terjadi?
Kesamaan visi itu sudah ada sejak awal. Saya mengingat tahun 2001 kami telah bertemu dengan beberapa pihak di Palu. Pertemuan inisiatif yang bukan diprogram oleh pemerintah. Sekitar bulan Juni 2001 kita membentuk Poso Media Center yang sebenarnya adalah berupaya untuk mengungkapkan fakta sejak Desember 1998, tapi kemudian itu menjadi macet karena eskalasi peristiwa-peristiwa di Poso itu semakin meningkat. Kami sibuk dengan evakuasi dan sebagainya. Kemudian pada bulan Mei 2005 kami bertemu dengan Ustadz Adnan Arsal di Poso. Kami berbicara di situ dan kami bersepakat untuk bersama-sama meminta kepada pemerintah untuk membentuk Tim Pencari Fakta Indenpenden untuk kasus Poso. Jadi, itu dibahas sedemikian rupa saat itu. Tapi mengherankan bahwa ini tidak mendapat respons dari pemerintah. Karena kami berharap ini adalah legitimasi bagi presiden melalui Kepres yang memungkinkan tim ini masuk ke segala lini untuk melakukan investigasi. Kenapa ide seperti ini tidak direspons oleh pemerintah? Ini yang menjadi pertanyaan kami sebenarnya.

Jika sedemikian kuat motivasi dari kedua kelompok untuk mencari jalan keluar dari konflik ini, berarti kuncinya ketidakseriusan pemerintah?
Ya, ketidakseriusan. Bahkan saya blak-blakan menyebutkan mengapa TPF tidak direspons oleh pemerintah, karena nantinya akan terungkap siapa sebenarnya biang keladi dari semuanya ini. Sekali lagi ini bukan konflik agama, tapi kemudian agama dipakai untuk kepentingan kekuasaan dan sebagainya.

Siapa sebenarnya orang yang bermain dibelakang konflik Poso?
Kita tidak bisa berspekulasi siapa otaknya. Bahwa ini semua terjadi, pastilah akibat dari tidak terungkapnya kasus Poso sejak awal siapa pun yang melakukan itu dan berbagai peristiwa yang lain. Harus dicatat satu hal. Desember 1998 konflik itu terjadi, momen politikny adalah pada saat pergantian Bupati Poso, momen religius yang dipakai pada saat saudara-saudara muslim melaksanakan ibadah puasa dan saat Kristen merayakan Natal. Tidak tuntas pengusutan pada kasus itu. Kemudian terulang lagi pada April tahun 2000. Momen politiknya adalah pergantian Sekretaris Daerah Kabupaten Poso. Momen religiusnya adalah pada saat umat Kristen merayakan Paskah dan menjelang dilaksanakan MTQ Nasional. Momen-momen ini yang dimainkan. Jadi, ada kepentingan di sana yang harus diungkap. Saya mau mengatakan bahwa Bupati Poso saat itu dan pihak-pihak yang terkait itu harus diperiksa.

Berarti ada kepentingan politik yang menggunakan momen-momen religius untuk melakukan kerusuhan?
Ya! Saya memastikan. Kalau itu saya memastikan bahwa ada kepentingan politik di situ. Kepentingan politik ini tidak lepas dari kekuasaan, kepentingan ekonomi, proyek, dan sebagainya. Dua jabatan penting, Bupati dan Sekretaris Daerah, jelas itu menjadi sangat penting dalam proyek dan sebagainya di sana. Dan Poso adalah daerah yang kaya raya, berkembang, yang sarat dengan pembangunan-pembangunan pada tahun-tahun itu. Kemudian sekarang, dengan kerusuhan ini, semakin banyak lagi proyek-proyek segala macam masuk ke sana, termasuk korupsi yang marak, dan sebagainya.

Berkaitan dengan penunjukan oleh polisi kepada Ustadz Adnan (Ketua Forum Silaturahmi Umat Islam Poso) untuk menyerahkan 29 tersangka kerusuhan, apakah tindakan itu tepat?
Tidak tepat. Sebenarnya saya ingin bertemu dengan beliau bagaimana melihat soal ini. Itu bukan “job” beliau. Job seorang tokoh agama adalah mengimbau saja, memberikan pemahaman-pemahaman. Misalnya kalau melarikan diri akibatnya begini-begini, kalau menyerahkan diri akibatnya begini-begini. Tapi kalau untuk menyerahkan, itu nggak bisa dong. Saya menganggap ini sejenis tekanan yang sangat luar biasa untuk Pak Adnan. Saya kasihan melihat dia. Tapi kalau sebatas memediasi, barangkali bisa. Tapi kalau dia didesak untuk menyerahkan diri, ini menjadi soal yang lain. Itu bukan tugas dia. Itu tugas polisi. Jangan diobok-oboklah masyarakat ini. Apalagi nama DPO 29 orang itu kenapa harus diumumkan? Kalau mau tangkap, ya tangkap saja. Dengan diumumkan, ini membuat sesuatu yang kemudian menimbulkan antipati lagi dari pihak Kristen kepada Muslim, misalnya. Apalagi menyebut Tanah Runtuh (basis Islam terbesar di Poso). Padahal bukan mereka semua di Tanah Runtuh. Saya tidak setuju itu diumumkan seperti itu. Apa memang begitu pola kerja intelijen?

Apakah pengumuman nama-nama tersangka kerusuhan Poso akan memperuncing hubungan dua kelompok agama di sana?
Ini yang sebenarnya harus dikaji oleh pihak aparat. Jangan membuat sesuatu yang kemudian merusak kondisi yang sudah mulai terbangun baik di sana. Kalau aparat salah langkah, dia melakukan tindak kekerasan, apalagi pelanggaran HAM, tidak prosedural dalam penangkapan itu, ini dampaknya bisa negatif sekali. Bisa saja dampaknya ada gereja yang dibakar lagi, ada orang kristen yang dibom lagi. Dan ini belum tentu oleh yang mau ditangkap ini, tapi dari pihak ketiga yang memainkan kondisi ini. Ini yang tidak kami inginkan. Jangan kami diadu domba lagi dengan hal-hal seperti ini. Karena itu, lakukan proses hukum, tapi dengan cara yang benar, terhormat, dan kemudian tetap dalam asas praduga tak bersalah.

Tanggapan umat Kristen terhadap penunjukan Ustadz Adnan?
Belun ada tanggapan. Yang saya dengar tentang itu, tapi yang ada adalah tanggapan dari masyarakat, polisi tangkap saha siapa pun yang bersalah. Lagi-lagi proses penegakan hukum yang harus dilaksanakan maksimal dan kami berharap pihak keamanan dapat berkerja lebih profesional, menghargai kebiasaan-kebiasaan masyarakat, religinya juga.

Apakah dengan penunjukan Ustadz Adnan untuk menyerahkan tersangka kerusuhan Poso menunjukkan polisi berusaha melimpahkan tanggung jawab?
Iya dong. Sudah pasti itu. Jadi, ungkapan-ungkapan seperti itu sekaligus mau mengatakan bahwa yang paling bertanggung jawab disana itu Pak Adnan. Apa betul? Yang perlu dianalisa, misalnya, okelah jika dianggap Ustadz Adnan yang paling bertanggung jawab, tapi saya tetap melihat bahwa beliau ini adalah korban. Korban sesuatu yang tidak beres di negara ini. Siapa yang membuat tidak beres? Nah, ini yang harus dilihat. Kalau memang Pak Adnan bersalah tentu beliau juga bersedia untuk diproses secara hukum, termasuk saya juga, siapa pun juga tidak perduli. Kalau memang aparat bersalah, ngaku dong bersalah. Pemerintah bersalah, ngaku dong. Jangan pemerintah menempatkan diri sebagai pihak ketiga yang menjadi malaikat, seolah-olah bersih dari kesalahan dan kemudian kesalahannya ini dituduhkan hanya kepada kelompok muslim dan kristen. Saya tidak setuju itu.

Mengenai pelimpahan tanggung jawab kepada masyarakat sipil di Poso, apakah terkait dengan tuntutan masyarakat agar Brimob ditarik dari Poso?
Jadi, soal BKO ini, sebenarnya kami sangat menghormati semua keputusan negara yang berusaha untuk menciptakan keamanan. Tapi persoalan-persoalan yang muncul di Poso adalah ketika aparat-aparat yang ditempatkan di sana tidak komunikaktif terhadap masyarakat, kurang pendidikan, kurang wawasan, tidak memahami lingkungan. Sebenarnya persoalannya di situ. Bukan tolak-menolak BKO ini.

Ada tuntutan untuk menarik Brimob dari Poso, sedangkan TNI tidak. Apakah da indikasi pertarungan internal antara Polri dengan TNI untuk mengamankan Poso?
Saya harus menjawab ini begini. Jangan ada kelompok siapa pun di sana sok pahlawan, tapi bekerja sama’lah dengan baik semua pihak. Jangan ada seolah-olah kesatuan ini yang harus paling unggul, kesatuan lain nggak boleh. Jadi, saya tidak mau mengatakan mengapa itu ada konflik di antara mereka, karena itu butuh bukti. Tetapi yang paling penting adalah tunjukkan bahwa tidak ada persoalan di antara mereka.

Berarti selama ini belum ditunjukkan kerja sama antara TNI dan Polri dalam mengamankan Poso?
Iya kelihatannya seperti itu, ketika ada yang disuruh keluar, ada yang tidak. Ini gimana? Itu faktanya begitu.

Harapan Poso ke depan?
Harapan yang paling penting adalah ungkapan kasus Poso sejak awal, sesuai dengan koridor-koridor yang bisa diterima semua pihak. Dan kemudian visinya adalah rekonsiliasi. Dan pemerintah hendaknya jangan selalu melihat persoalan ini adalah persoalan kelompok ini, kelompok kristen dan muslim, misalnya.
Tapi lihatlah diri sendiri bagaimana berperan dalam hal ini. Sama seperti kami melihat diri kami. Misalnya ada dari warga Gereja Kristen Sulawesi Tengah melakukan tindakan-tindakan anarkis, saya juga harus berintripeksi sebagai pemimpin umat. Jadi, semua harus berintropeksi. Yang paling penting bahwa proses-proses keamanan, pembangunan, recovery, dan sebagainya di sana itu adalah tanggung jawab pemerintah dan petugas keamanan. Buktikan itu kepada kamu semua. Saya sangat tersinggung sebenarnya. Di beberapa tempat di Poso sana ada tugu didirikan lantas ada gambar di situ berjabatan tangan antara pendeta dengan ulama, lantas di tengahnya ada TNI berdiri dengan senjata. Saya minta itu segera dikeluarkan dari Poso gambar-gambar seperti itu. Seolah-olah mereka juru selamat bagi Poso. Tunggu dulu, bukan di situ persoalannya. Jadi, selalu menunjukkan ini konflik agama, kemudian ada aparat di tengahnya.

Imbauan kepada Masyarakat Poso?
Dalam proses-proses ini sangat tidak ada gunanya melakukan tindakan kekerasan. Sebab, dengan melakukan itu maka akan menutup upaya-upaya investigasi, justru akan mengalihkan isu. Karena itu, semua pihak harus waspada dengan upaya-upaya provokasi. Dan juga tentunya masyarakat juga harus bisa berupaya mengamankan dirinya sendiri. Jangan juga terlalu berharap aparat, nanti anda akan dimainkan lagi.


#13 anakharamonline

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 750 posts
Click to view battle stats

Posted 11 July 2008 - 11:51 PM

sampai detik inipun kerusuhan demi kerusuhan dan huru hara masih melanda negeri kita ini...

#14 lopis

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 103 posts
Click to view battle stats

Posted 12 July 2008 - 02:12 PM

Sebenernya berita gini penting ya penting... tapi kalo kita liat dosis yang seperti ini kok makin lama makin banyak ya. Jadi kesannya kok kayak di bombardir denga berita2 negatif
No offense lah, tapi kalo ada yang mau nulis sejarah cerah bangsa kita di persilahken ...

#15 tumben

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 135 posts
Click to view battle stats

Posted 13 July 2008 - 10:36 AM

Thanks atas data untuk menulis makalah. Keep Posting.

#16 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 13 July 2008 - 11:13 AM

Berikut penuturan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan RI yang mengatakan bahwa anggota TNI tidak terlibat dalam kerusuhan Poso.

Jum’at 17 Oktober 2003
Topik : Pertahanan


“Saya tegaskan hingga saat ini tidak ada anggota TNI terlibat dalam kasus penyerangan di Poso,” katanya kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis, menanggapi adanya isu keterlibatan TNI pada kerusuhan bersenjata di Poso beberapa hari lalu.
Menurutnya, tim penyidik mengalami kesulitan mengungkap siapa di balik kerusuhan tersebut, karena para pelaku kini telah berbaur dengan masyarakat. Namun demikian, masalah kasus kerusuhan Poso tersebut kini tengah ditangani pihak kepolisian.

Sebelumnya, Kapolda Sulteng Brigjen Pol Drs Taufik Ridha di Poso mengatakan, saat melakukan olah TKP di Poso Pesisir, pihaknya menemukan lebih 20 butir selongsong buatan PT Pindad (Perusahaan Industri Persenjataan TNI-Angkatan Darat).
Namun, menurut Danrem 132/Tadulako, Kol Inf Slamet, puluhan selongsong amunisi itu, tidak dapat dijadikan indikasi keterlibatan TNI khususnya Angkatan Darat, sebab amunisi serupa juga digunakan di kalangan personil Marinir dan Brimob.

“Dugaan adanya oknum anggota TNI terlibat perdagangan amunisi pun kecil kemungkinannya, sebab sistem pengawasan masuk-keluarnya amunisi dalam tubuh TNI sangat ketat,” ujarnya.
Juga, katanya, sistem kontrol atas penggunaan amunisi oleh personil TNI begitu sangat ketat, karena setiap peluru yang ditembakkan harus dipertanggung jawabkan kepada atasan langsung,” tuturnya menambahkan.

Slamet yang mantan Komandan Operasi Pemulihan Keamanan “Cinta Damai” ketika Poso bergolak pada pertengahan 2000 hingga awal 2001, juga mengatakan, pasokan amunisi yang beredar di tangan warga sipil di Poso dan Morowali bisa saja berasal dari luar wilayah Sulteng, seperti bekas daerah konflik Maluku.
“Karena itu, terlalu sumir bila penemuan selongsong amunisi buatan Pindad di Poso Pesisir itu langsung dihubung-hubungkan dengan oknum TNI, terlebih anggota TNI dan lembaganya,” kata dia.

Ia juga mengatakan, aksi penyerangan bersenjata yang dilakukan orang atau kelompok tertentu masih akan terus berlanjut, sebab TNI menduga masih banyak warga sipil setempat menyimpan senjata eks kerusuhan beberapa waktu lalu.

Poso Berdarah

Poso Menangis, Ratusan Nyawa Melayang di Pesantren Walisongo
Selasa, 13 Juni 2000
Kota Poso sedemikian mencekamnya. Kabar duka dari desa Togolu, Kecamatan Lage, Poso, begitu menggetarkan hati semua warga. Ratusam nyawa telah melayang di pesantren Walisongo yang terletak di wilayah itu, belum lagi mereka yang luka-luka dan melarikan diri penuh dengan ketakutan.
Begitu kesaksian Nyonya ani, istri Kodim 1307 Poso saat dihubungi KCM per telepon di kediamannya di Poso. “Sejak meletus kerusuhan, saya tidak berani ke mana-mana,” tuturnya.

Nyonya Ani lalu menuturkan, untuk belanja pun ia tak berani pergi ke pasar. “Biasanya saya beli bahan-bahan untuk dimasak kepada pengungsi yang banyak berlindung di kantor Kodim. Ayam, kambing. Harganya terserah kita,” haru Nyonya Ani menuturkan, betapa kemanusiaan sudah sebegitu murahnya di tanah Poso.

Letkol Inf. Budiarjo, Komandan Kodim 1307 Poso sampai berita ini belum berhasil dikonfirmasi mengenai perkembangan terakhir di wilayahnya.
“Mayat yang sudah terindentifikasi sekitar 200 orang,” demikian Nyonya Ani menjelaskan.

Sementara, kantor Berita Antara menuturkan, ratusan penghuni pesantren Walisongo di kilometer sembilan (desa Togolu) kecamatan Lage, kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, “hilang” dan diduga kuat lari menyelamatkan diri saat kelompok perusuh melakukan penyerangan tanggal 28 Mei 2000.

Sejumlah saksi mata yang ditemui Antara di Palu dan Poso—205 kilometer timur Palu Senin mengatakan, penyerangan kelompok perusuh hari Minggu itu di pondok pesantren tersebut mengakibatkan banyak korban tewas, namun beberapa di antaranya berhasil menyelamatkan diri lari ke hutan di sekitar pesantren itu.

Para saksi mata tidak merinci jumlah korban yang dibantai di tempat itu, namun mereka memperkirakan sebagian besar dari puluhan mayat yang hanyut di sungai Poso adalah penghuni pondok pesantren Walisongo.
Bahkan salah satu aparat keamanan setempat mengatakan lima dari puluhan mayat penuh bacokan sekujur tubuhnya dan terikat menjadi satu yang ditemuakn mengapung di sungai Poso kemungkinan adalah penghuni pondok pesantren itu.

Komandan Kodim 1307 Poso Letkol Inf Budihardjo kepada Antara di Poso Senin, saat mendampingi Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro mengatakan, belum dapat memastikan nasib ratusan penghuni pesantren itu.
Namun ia membenarkan bahwa jika mengacu kepada laporan stafnya di lapangan memang benar terjadi penyanderaan dan pembantaian di pesantren Walisongo.

Pasukan TNI yang bergabung dalam “Operasi Cinta Damai” kini sibuk mengumpulkan bukti-bukti pembantaian di sekitar pesantren itu dan menurut Dandim Budihardjo akan segera ditindak-lanjuti setelah pihak TNI melakukan operasi pembersiham di kawasan itu.

Budihardjo mengatakan TNI-Polri juga masih melakukan penyelidikan intensif terhadap mayat-mayat yang belum diidentifikasi petugas sekalipun sebagian besar sudah dikuburkan di pemakaman Tegal Rejo.

Ketika ditanya jumlah mayat yang ditemukan petugas di Pesantren Walisongo, Budihardjo mengatakan belum tahun pasti sebab setiap ada mayat yang ditemukan setelah dirawat seadanya langsung dimakamkan.

“Saya memperkirakan mayat-mayat yang ditemukan hanyut di Sungai Poso berasal dari sana (Pesantren Walisongo) sebab lokasi pesantren tersebut berada di bagian hulu sungai Poso,” katanya.

Berdasarkan data sementara, jumlah mayat yangd ditemukan penduduk sudah mencapai 146 sosok dan 60 sosok diantaranya ditemukan penduduk mengambang di sungai Poso, dan yang lainnya ditemukan penduduk di tiga titik bentrokan, yakni kelurahan Sayo, keluarahan Mo’engko dan desa Malei di pinggiran selatan kota Poso.

Wartawan Antara melaporkan dari Poso bahwa hingga Senin di lokasi pesantren itu masih tercium bau bangkai. Bau sangat menyengat juga tercium disepanjang poros jalan Poso-Parigi di kecamatan Poso Pesisir terutama di daerah rawa yang ditumbuhi banyak pohon sagu.

Panglima Kodam VII Wirabuana, Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro mengatakan bahwa pihaknya sudah memerintahkan Kodim Poso untuk mengusut tuntas kasus pembantaian di pesantren Walisongo itu.

“Saya telah memerintahkan Dandim 1307 Poso (Letkol Inf Budihardjo) untuk mengusut tuntas kasus ini,” kata Jenderal Berbintang dua itu.

Jejak Kelelawar Hitam, Pembantai Muslim Poso...
Ratusan Muslim Poso dibantai, pelakunya adalah kelompok orang yang terlatih yang dikenal dengan Kelalawar Hitam. Investigasi Sahid di lapangan menunjukkan selain dipicu persoalan politik lokal ada keterlibatan tokoh-tokoh di Jakarta.
Puluhan warga pesantren Walisongo itu dibariskan menghadap sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, enam atau delapan orang. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel listrik, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling dutautkan.

Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segarpun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai.

Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri.

Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian umat Muslim di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300’an orang yang tinggal. Mulai dari Ustadz, santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya.
Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren itu. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah. Pesantren Poso hanya tinggal puing-puing belaka.

Ilham (27 tahun) satu-satunya Ustadz Pesantren Walisongo yang turut dibantai namun selamat setelah mengapung beberapa kilometer mengikuti aliran sungai Poso, menuturkan kepada Sahid, sebelum dibantai mereka mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Mereka dikumpulkan di dalam Masjid Al Hirah. Di sanalah warga pesantren Walisongo yang sudah menyerah dibantai. Ada yang ditebas lehernya, dipotong anggota badannya, sebelum akhirnya diangkut truk ke pinggir sungai Poso.
Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian umat Muslim, khususnya warga pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka hanyut di sungai Poso dan terbawa entah sampai kemana. Belum ada angka yang pasti jumlah korban dalam pembantaian itu.

Seorang warga kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, Syahrul Maliki, yang daerahnya dilewati aliran sungai Poso dan terletak sembilan kilometer dari ladang pembantaian, menuturkan kepada Sahid. Dari pagi hingga siang saja, saya menghitung ada tujuh puluhan mayat yang hanyut terbawa arus, berikutnya saya tidak menghitungnya lagi, katanya. Sementara Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) melaporkan jumlah mayat yang ditemukan di sungai Poso tidak kurang dari 165 orang.
Tidak hanya laki-laki dewasa, banyak juga yang perempuan, orang tua, dan anak-anak. Biasanya mayat wanita disatukan dengan anak-anak. Ada yang cukup diikat, ada pula yang dimasukkan karung, kata Syahrul. Sebagian besar mayat sudah rusak akibat siksaaan.

Menurut Ilham, sebelum diserang, warga pesantren diteror oleh ‘Pasukan Merah’ ini. Komplek Pesantren Walisongo sering dipanah. Hingga saat ini bekas panah tersebut masih terlihat jelas.
Pembantaian sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal sebagai Pasukan Kelalawar Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepada merah. Karena itu pula mereka sering disebut pula Pasukan Merah. Pembantaian itu puncak dari hubungan umat Muslim dan Kristen yang kurang harmonis di kawasan itu.

Tercatat Sekitar 200-400’an Orang yang Tewas Terbantai
Dalam laporannya, pihak gereja melalui ‘Crisis Center GKST untuk Kerusuhan Poso’ mengakui dikalangan mereka ada kelompok terlatih yang berpakaian ala ninja ini. Mereka menyebutnya sebagai ‘Pejuang Pemulihan Keamanan Poso’.
Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah menyerang. Meraka selalu mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam, semua tertutup kecuali mata. Mereka juga mengenakan atribut salib di dada dan ikat kepala merah. Mayat-mayat juga ditemukan selalu dalam kondisi rusak akibat siksaan atau sengaja dicincang hingga tidak dikenal identitasnya. Dalam berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas angin. Karena itu sebagian besar korbannya adalah orang-orang Muslim.

Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan pembantaina juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim kempungnya hancur dan dibakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Maleri. Dari arah barat hingga Tamborana.
Temuan Komite Penanggulanngan Krisis (Kompak) Ujungpandang yang melakukan investigasi di Poso menunjukkan adanya keterlibatan gereja dalam beberapa kerusuhan. Buktinya sebelum mereka melakukan penyerangan, mereka menerima pemberkatan dari gereja, kata Agus Dwikarna, ketua Kompak Ujungpandang.
Misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di gereja Silanca pada tanggal 8 Juni 2000 dan Pendeta Rinaldy Damanik di halaman Puskesmas depan gereja Sinode Tentena. Selain kepada pasukan Kelelawar Hitam, pemberkatan juga diberikan kepada para perusuh. Pemberkatan ini memberikan semangat dan kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada umat Muslim.

Yang menarik menurut Agus, meskipun mereka mengakui telah membumi hanguskan seluruh perkampungan umat Muslim dan membantai masyarakatnya, pendeta Rinaldy Damanik dan Advent Lateka mengadukan umat Muslim sebagai provokator.
Kini Kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau terbesar ini nyaris seperti kota mati karena ditinggal penduduknya yang mengungsi, bangunan yang ditinggalkan hanya tersisa puing-puing yang beserakan.

Penyerangan terhadap umat Muslim yang berlangsung sejak tanggal 23 Mei lalu, merupakan pertikaian ketiga antara Muslim Kristen di Poso. Pertikaian I berlangsung pada Desember 1998.
Enam Belas bulan kemudian, 15 April 2000 pertikaian meledak lagi, yang dipicu perkelahian pemuda Kelurahan Kayamanya (Muslim) dengan Lambogja (Kristen).
Dalam penyerangan kali ini kelompok merah yang bergabung dalam pasukan kelelawar hitam dipimpin oleh Cornelis Tibo asal Flores menyerang kampung Muslim Kayamanya. Mereka memukul-mukul tiang listrik hingga memancing kemarahan umat Muslim. Selanjutnya mereka menganiaya umat Muslim di situ dan membunuh Serma Komaruddin.

Umat Muslim yang marah mengejar Pasukan Kelelawar Hitam yang lari ke Gereja Katolik Maengkolama. Karena bersembunyi di gereja itu umat Muslim yang marah membakar gereja yang dijadikan tempat persembunyian itu.
Salah satu yang dianggap menjadi penyebab pertikaian adalah konflik politik lokal. Perebutan jabatan Bupati Poso pada Desember 1998 merupakan salah satunya. Herman Parino, tokoh Kristen, gagal merebut jabatan. Namun Herman Parino dan pendukungnya menuduh Arif Patangga, Bupati yang hendak digantikannya, Muslim, merekayasa gagalnya Parino.

Karena jengkel, Parino menggalang massa untuk menyerang rumah Patangga. Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya, para pendukung patangga tidak diam dan bersiap menyambut. Bentrokan tidak terelakkan lagi. Dua hari kemudian giliran pendukung Patangga menyerang rumah Parino di desa Tentena. Dalam kerusuhan itu polisi langsung menangkap tokoh dari kedua belah pihak, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik kandung Arif Patangga yang dianggap memprovokasi massa.

Nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan tokoh Kristen yang dihormati membuat pendukungnya kecewa. Apalagi Herman lantas dijatuhi hukuman, meskipun Agfar juga dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri Poso. Kasus inilah yang menjadi api dalam sekam. Maka ketika terjadi perkelahian pemuda Muslim dan Kristen yang mabuk pada pertengahan April 2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat dihindarkan.
Dipicu kerusuhan pada bulan April tanggal 23 Mei 2000 pasukan merah melakukan penyerangan ke beberapa perkampungan Muslim. Pertikaian tidak hanya sebatas pendukung Herman Parino dan Arif Patangga. Perkampungan Muslin yang tidak ada kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya ikut dihancurkan, warganya dibantai, perempuannya diperkosa.

Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan bahwa kerusuhan di Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh Jakarta. Salah satu kekuatan yang bermain itu adalah kelompok Soeharto. Indikasinya jika proses hukum Soeharto meningkat, tingkat kerusuhan meningkat. Temuan di lapangan menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan TNI dalam melatih Pasukan Merah. Karena itulah Pasukan Merah sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata api maupun tangan kosong.
Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang berkepentingan terhadap kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana yang kuat. Kasus beredarnya milyaran uang palsu dan hilangnya dua kontainer kertas uang yang hingga kini belum ditemukan juga sangat terkait dengan berlangsungnya kerusuhan di Poso ini.

Info sumber intelejen tersebut juga dibenarkan oleh Wakapolda Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang menyatakan keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam anggota TNI AD dalam kerusuhan itu. Mereka kini sedang ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Agus Dwikarna tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso hanya persoalan gagalnya Herman Parino menjadi Bupati. Kalau hanya karena perebutan kursi Bupati kenapa Umat Muslim yang dibantai, tanya Agus. Ia yakin ada upaya melenyapkan umat Muslim dari bumi Poso.

Adapun penyebabnya, kerusuhan Poso menyebabkan trauma yang mendalam di kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak kerusuhan itu ribuan umat Muslin menjadi pengungsi di negerinya sendiri.


#17 kalapedan

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 161 posts
Click to view battle stats

Posted 13 July 2008 - 12:00 PM

baca tragedi semanggi jadi inget lagi ama sodara gw
aa Hafidin royan moga" kau tenang di alam sana ....AMieennnn....

#18 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 13 July 2008 - 12:49 PM

QUOTE (lopis @ Jul 12 2008, 02:12 PM) <{POST_SNAPBACK}>
Sebenernya berita gini penting ya penting... tapi kalo kita liat dosis yang seperti ini kok makin lama makin banyak ya. Jadi kesannya kok kayak di bombardir denga berita2 negatif
No offense lah, tapi kalo ada yang mau nulis sejarah cerah bangsa kita di persilahken ...


pertama thanks atas koment anda... perlu diketahui mengapa saya membuat artikel dengan judul "sisi kelam bangsa Indonesia" semata-mata mengingatkan kepada kita semua tanpa ada satu pun kata pengecualian. dalam hal ini kelam merupakan suatu kejadian yang seakan-akan berusaha dikubur, ditutup-tutupi kebenarannya.

untuk apa bila kita hidup didunia hanya mau mengetahui dan merasakan kecap'nya rasa nikmat dan manis tanpa mau perduli dengan pahit hidup ini.

bagaimanapun juga tidak semua orang mengetahui dengan jelas dan pasti bagaimana sebuah peristiwa yang dikatakan kelam itu dapat terjadi. maka dari itu, dari forum ini di dalam warga Bluefame. com saya hanya ingin membagi sebuah pengetahuan sejarah. buruk, bagus... baik, jahat... kita semua patut mengetahuinya... meski sepengal-demi-sepengal bahan yang saya kumpulkan.

thank's to u're comment

regard,



lexius1980


#19 kurang-piye

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 125 posts
Click to view battle stats

Posted 13 July 2008 - 01:08 PM

salut-salut...

jadi tau nich...

apa arti dari kelam...

thanks bro....

#20 chansky69

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 134 posts
Click to view battle stats

Posted 15 July 2008 - 10:30 AM

gile tuh yg di poso..tapi kok gak terblow up yah beritanya?
apa ada konspirasi?





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy