Jump to content



 

 

Pemberontakan PETA Blitar


12 replies to this topic

#1 baliant

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 890 posts
Click to view battle stats

Posted 12 August 2008 - 02:51 PM



Pemberontakan PETA Blitar pecah pada 14 Februari 1945. Sejatinya, pemberontakan dilakukan lebih awal, yakni 5 Februari 1945 saat dilakukan latihan bersama (Daidan) batalyon PETA Jawa Timur di Tuban. Namun, rencana ini gagal, karena Jepang mendadak membatalkan jalannya latihan. Perwira PETA yang terlanjur datang ke Tuban dipulangkan masing-masing ke kotanya.

Rencana pemberontakan PETA sendiri sesungguhnya datang dari akumulasi kekecewaan para kadet PETA terhadap Jepang. Di lapangan, mereka kerap menjumpai tindak sewenang-wenang tentara Jepang kepada pribumi, sementara dalam latihan ketentaraan, Jepang selain keras juga melakukan diskriminasi, seperti keharusan menghormat tentara Jepang meski pangkatnya lebih rendah.

Adalah Supriyadi yang menjadi motor rencana pemberontakan. Sebetulnya ia hanya seorang Shudanco (komandan peleton). Atasannya masih ada Cudanco (komandan kompi) Ciptoharjono dan Daidanco (komandan batalyon) Soerahmad. Namun, tak bisa dipungkiri, inisiatif dan otak pemberontakan ada di tangan Supriyadi. Ia menggandeng beberapa rekan Shudanco yang sepaham.

Syahdan pada 9 Februari 1945, Supriyadi menemui guru spiritualnya, Mbah Kasan Bendo. Ia mengutarakan maksud untuk melawan Jepang. Konon, saat itu Kasan Bendo memintanya untuk bersabar dan menunda gerakan hingga 4 bulan. "Tapi kalau ananda mau juga melawan tentara Jepang sekarang, saya hanya dapat memberikan restu kepadamu, karena perjuanganmu itu adalah mulia."

Pesan itu disampaikan Supriyadi kepada rekan-rekannya. Setelah sempat menemui pimpinan PUTERA, Soekarno dan gagal mendapat restu, Supriyadi mengadakan rapat terakhirnya 13 Februari 1945 di kamar Shudanco Halir Mangundjidjaja. Hadir Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono. Hasilnya, pemberontakan akan dilakukan besok. Mereka masing-masing tahu risikonya bila gagal, paling ringan disiksa dan paling berat hukuman mati.

Rencana ini terkesan tergesa-gesa karena Supriyadi dan rekan-rekannya khawatir tindak tanduk mereka telah dimonitor Jepang. Shudanco Halir menceritakan di Blitar baru saja datang satu gerbong anggota Kempetai yang baru datang dari Semarang. Mereka menginap di Hotel Sakura. Supriyadi cs menduga, kedatangan Kempetai untuk menangkap dirinya dan rekan-rekannya.

14 Februari 1945, pukul 03.00, senjata dan peluru dibagi-bagikan ke anggota PETA. Jumlah yang ikut serta 360 orang. Setengah jam kemudian, Bundanco Soedarmo menembakkan mortir ke Hotel Sakura. Hotel direbut dan tentara PETA menurunkan slogan "Indonesia Akan Merdeka" (janji proganda Jepang) dan menggantinya dengan spanduk "Indonesia Sudah Merdeka." Merah putih juga dikibarkan.

Pasukan PETA melucuti senjata para polisi dan membebaskan tawanan dari penjara. Beberapa orang Jepang yang ditemui dibunuh. Mereka lalu bergerak menyebar ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun entah kenapa, rencana penyebaran malah gagal. Seluruh pasukan PETA seusai serangan justru berkumpul di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri.

Sejak awal, Jepang berhati-hati dalam menangani pemberontakan PETA. Mereka tidak terlalu ofensif dan cenderung menggunakan jalan persuasif untuk menjinakkan Supriyadi dan rekan-rekannya. Hal ini dilakukan demi menghindari tersulutnya kemarahan Daidan (Batalyon) PETA yang lain yang bisa saja malahan membuat pemberontakan meluas dan merembet ke mana-kemana.

Setelah kota Blitar berhasil diduduki kembali, langkah diplomasi pun dibuat. Kolonel Katagiri yang ditunjuk untuk memimpin operasi penumpasan mendatangi pasukan Supriyadi yang bertahan di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri. Di Sumberlumbu, Katagiri bertemu dengan Muradi, salah satu pemimpin pemberontak. Pasukan PETA menawarkan penyerahan diri bersyarat. Adapun syaratnya adalah:

1. Mempercepat kemerdekaan Indonesia

2. Para tentara PETA yang terlibat pemberontakan takkan dilucuti senjatanya.

3. Aksi tentara PETA yang dilakukan pada 14 Februari 1945 di Kota Blitar
takkan dimintai pertanggungjawaban.

Katagiri menyetujui syarat tersebut. Sebagai tanda sepakat, ia menyerahkan pedang perwiranya kepada Muradi untuk disimpan. Muradi beserta seluruh pasukannya kembali ke Blitar.

Nah, pada saat kembali dari Ngancar inilah, Supriyadi terakhir kali terlihat. Persisnya ia hilang di dukuh Panceran, Ngancar. Ada dugaan dia diculik secara diam-diam dan dibunuh Jepang di Gunung Kelud, namun berkembang juga isu bahwa Supriyadi sengaja melarikan diri. Mungkin ia memang sudah tak yakin Jepang akan memenuhi syarat yang diajukan PETA.

Jika itu yang ia rasakan, Supriyadi benar. Kesepakatan Sumberlumbu ternyata tak diakui oleh pimpinan tentara Jepang di Jakarta. Mereka meminta Kempetai tetap memproses para pelaku diproses. Dari hasil pilah memilah dan negosiasi, diberangkatkanlah 78 tentara PETA ke Jakarta untuk menghadapi pengadilan militer Jepang. Anggota lain yang terlibat hanya dikarantina di mess.
Hasil dari sidang militer, sebanyak 6 orang dijatuhi hukuman mati, 6 orang diganjar hukuman seumur hidup dan sisanya dihukum antara beberapa bulan sampai beberapa tahun. Tak lama kemudian, Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Shudanco Halir Mangkoedjidjaja, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono menjalani eksekusi mati dengan dipenggal kepalanya di Eereveld, Ancol.

Bagaimana dengan Supriyadi? Sejak ia menghilang, ia tak pernah menunjukkan batang hidungnya kembali. Supriyadi sendiri pernah berpesan kepada ibunya beberapa hari sebelum pecahnya pemberontakan, apabila ia tidak kembali ke rumah dalam waktu 5 tahun, itu tandanya dirinya sudah meninggal dunia.

Apa benar Supriyadi telah gugur? Yang jelas, fakta bahwa jasadnya tak pernah diketemukan berbanding dengan penunjukannya sebagai panglima tentara Indonesia yang pertama menjadi bahan menarik sebagai komoditi misteri hingga kini. Komoditi yang juga sama dengan kasus raibnya Tan Malaka sebelum dipecahkan oleh sejarawan Belanda, Dr Harry Poeze

#2 baliant

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 890 posts
Click to view battle stats

Posted 12 August 2008 - 02:52 PM

Pemerintah Belum Dapat Laporan Misteri Supriyadi
Hingga saat ini pemerintah belum mendapat laporan mengenai adanya seorang pria sepuh bernama Andaryoko Wisnu Prabu yang mengaku sebagai Supriyadi. Yang jelas, pemerintah sudah menetapkan Supriyadi sebagai pahlawan nasional.

"Belum ada laporan apa-apa," kata Mensesneg Hatta Rajasa saat dihubungi detikcom, Selasa (12/8/2008). Hatta ditanya mengenai apakah pemerintah sudah mendapat laporan mengenai adanya pemunculan Supriyadi, pejuang PETA yang menghilang sejak 63 tahun lalu.

Menurut Hatta, selama ini yang ia ketahui bahwa Supriyadi telah gugur. "Itu yang saya dapat sejak sekolah dulu. Kalau ada orang yang mengaku Supriyadi, saya baru dengar," kata Hatta. Dia membenarkan bahwa pemerintah telah memberikan gelar pahlawan bagi Supriyadi.

Saat ditanya lebih lanjut apakah pemerintah akan membentuk tim khusus untuk meneliti pengakuan Andaryoko Wisnu Prabu atau malah akan memanggil Andaryoko, Hatta belum berani berkomentar. Sebab, saat ini memang Hatta belum mendapat laporan mengenai hal itu.

Andaryoko Wisnu Prabu membuka identitas asli ke publik di usia 89 tahun. Selama ini dia menyembunyikan identitasnya sebagai Supriyadi, pejuang PETA. Dia memiliki bukti-bukti kuat bahwa dirinya memang Supriyadi.

#3 baliant

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 890 posts
Click to view battle stats

Posted 12 August 2008 - 02:57 PM

Bendera Proklamasi dari Gordyn, Tiang Bambu Bekas Jemuran

Menjelang kemerdekaan 17 Agustus 1945, situasi serba darurat. Kain putih yang digunakan sebagai bendera berasal dari gordyn, sedangkan tiang bendera merupakan bambu bekas jemuran pakaian.

Demikian penuturan Andaryoko Wisnuprabu yang mengaku sebagai pejuang PETA, Supriyadi, ketika ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).

"Saat itu kan pagi-pagi sekali. Tidak mungkin ada penjual kain atau bambu. Akhirnya, kain putih diambilkan dari gordyn dan bambu jemuran sebagai tiang benderanya," katanya.

Andaryoko tidak ingat betul darimana kain merahnya. Namun ia yakin itu juga kain bekas. Bendera itu dijahit oleh Fatmawati.

Rencananya proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas, Jakarta). Namun ternyata lapangan tersebut diblokir tentara Jepang.

"Kurir yang dikirim Bung Karno menjelaskan, lapangan tersebut dipenuhi tentara Jepang. Ini artinya, info (rencana proklamasi) sudah bocor," jelasnya.

Akhirnya, pembacaan proklamasi dilakukan di halaman rumah Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur No 56. Microphone kecil yang dipakai dalam upacara itu adalah milik Bung Karno yang diambilkan dari radio

#4 virgin_hunter

    Metalhead

  • Elite Member
  • 4,930 posts
Click to view battle stats

Posted 12 August 2008 - 03:58 PM

supriyadi masi idup sbg andaryoko? well itu cuman kemungkinan aja sih,bener ga benernya kita liat aja nanti

@baliant
enakan diedit di post pertama aja bro,lebi enak bacanya smile.gif

#5 **L@RZz~H4ti**

    ŢħĔ qŨƏĘʼnz ǿF ŵăR

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 311 posts
Click to view battle stats

Posted 12 August 2008 - 05:59 PM

Kira2 siapa ya yg mau menyelidiki 'keaslian' supriyadi?

#6 yudosyaf

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 403 posts
Click to view battle stats

Posted 13 August 2008 - 08:36 AM

harusnya pemerintah yang pro aktif dalam kasus "aku-mengaku" ini.
sangatlah mungkin bila pemerintah melakukan penyelidikan mendalam tentang sejarah bangsa ini....

#7 baliant

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 890 posts
Click to view battle stats

Posted 13 August 2008 - 09:12 AM

sorry bro kalo post nya ada yang double sayang gua kagak bisa ngedit, please bong mod edit ya HeHe.gif HeHe.gif HeHe.gif

#8 CaMpFrEd

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 137 posts
Click to view battle stats

Posted 16 August 2008 - 12:43 PM

Wah saatnya sejarah sesuai hati nurani jangan lagi sejarah yang diajarkan merupakan komoditi penguasa yang sedang berjaya atau berkuasa E.q sejarah ketika jaman soeharto berkuasa

#9 Guest_sempronk_*

  • Guests
Click to view battle stats

Posted 19 August 2008 - 08:47 PM

kan masih ada sodara dr supriyadi yg masih hidup ngapain susah-susah test DNA kan abis perkara

#10 El_Tuerto

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,072 posts
Click to view battle stats

Posted 21 August 2008 - 09:20 AM

misteri Supriyadi belum selesai.

MISTERI SUPRIYADI DARI SALATIGA

Wednesday, 13 August 2008

Sejarawan Dr Fx Baskara Tulus Wardaya menilai, kehadiran sosok Andaryoko Wisnuprabu yang mengaku sebagai Supriyadi tidak bisa dipahami semata-mata sebagai sosok pahlawan yang sudah menghilang sekian puluh tahun kemudian muncul lagi. Ia mengharapkan publik memberi kesempatan memberikan ruang baginya memberikan narasi sejarah perjuangan yang pernah ia jalani untuk diceritakan lewat tulisan.

“Saya berjumpa beliau itu sekitar April 2008 dalam sebuah penelusuran sejarah. Saya ingin mencari pelaku-pelaku baru. Saya kemudian menemukan beliau dan wawancara, belakangan beliau baru mengaku sebagai Supriyadi,” tutur Baskara yang menulis buku buku 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Presiden' itu.

Dari interaksi dengan Andaryoko alias Supriyadi, Baskara mendapati sesuatu yang berbeda. Menurut dia, beberapa orang yang sebelumnya mengaku sebagai Supriyadi biasanya memiliki beberapa ciri.

Di antaranya, selalu dikaitkan dengan mistis, hanya berpusat pada sosok dirinya, dan tidak bisa mengaitkan sejarah dengan perkembangan pasca kemerdekaan dan zaman kekinian.
“Tetapi Andaryoko ini, sekalipun mungkin saja dia berbohong, namun dia orangnya rasional dan spiritual. Dia bisa mengaitkan sejarah tempo dulu dan sekarang. Ia juga kritis terhadap situasi saat ini,” katanya.

Ia mencontohkan, misalnya narasi mengenai peran pemuda menuju kemerdekaan yang sangat besar. Sebagai pelaku sejarah, Andaryoko menyebut, pemuda pada zamannya sudah memiliki kesadaran politik yang besar. Mereka sadar, pemberontakan yang akan mereka lakukan pada tentara Jepang saat itu pasti tidak ada gunanya karena kalah persenjataan.

“Tapi, toh itu tetap mereka lakukan karena mereka sadar bahwa perjuangan perlu simbol. Mereka melakukan itu karena gundah melihat kekejaman tentara Jepang terhadap rakyat di luar,” urai kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma Jogjakarta itu.

Narasi semacam inilah, lanjut Baskara yang tidak banyak dalam rekaman sejarah produk masa lalu. Apalagi, Andaryoko yang dikenal sebagai tokoh kebudayaan itu juga tak mau sekadar membeber kisah perjuangannya secara lisan. Ia ingin narasi hidupnya ditulis dalam sebuah buku.

Tak Pernah Ketemu
Jika Supriyadi adalah Andaryoko, apakah ia pernah berjumpa sosok Utomo Darmadi, adik tirinya dari Blitar dan memberikan penjelasan ? Baskara menyebut Andaryoko bukan Supriyadi yang tertulis dalam sejarah besar di Blitar. Ia warga Salatiga yang kini tinggal di Jl Mahesa no 101, Pedurungan, Semarang. “Tentu belum ketemu (dengan Utomo, red), karena Andaryoko ini bukan orang Blitar. Dia dari Salatiga,” bebernya.

Andaryoko lahir 23 Maret 1920. Saat masuk PETA, usianya 'dituakan' tiga tahun. “Sehingga ia mengikuti pendidikan tentara saat berusia 25 tahun. Jika dirunut sampai tahun 1945, maka pemberontakan yang dilakukan wajar bisa dilakukan, karena usianya relatif muda,” ungkapnya.
Di rumah Andaryoko yang kini ia tinggali, juga tidak terdapat banyak peninggalan. Saat melarikan diri, sebut Baskara, ia hanya mengenakan satu baju tanpa membawa peralatan lain. “Ia hanya punya foto semasa muda waktu masuk PETA dan sebuah samurai asli tentara Jepang. Katanya, itu milik tentara yang dia bunuh,” ujarnya.

Baskara berpendapat, misteri Supriyadi belum selesai. Kalau Supriyadi yang berasal dari Blitar dianggap lebih asli dari Supriyadi Andaryoko asal Salatiga, ia pun mempertanyakan mengapa pemerintahan Jepang kala itu tidak pernah mengumumkan kematiannya.

“Menjadi kelaziman, tentara republik yang menjadi pemberontak Jepang yang gagal, kalau mati pasti diumumkan. Itu untuk men-discourage (mematahkan) perjuangan tentara lainnya. Tapi kita ingat, sampai sekarang tidak pernah dikabarkan kapan ia mati dan di mana makamnya,” tegasnya.
Andai setelah kemunculan Andaryoko ini muncul polemik, Baskara melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Ia mengajak keluarga Supriyadi yang ada di Blitar atau daerah lain atau para sejarawan lain ikut mendiskusikan masalah itu dalam kerangka akademis. tof

Sumber : http://www.surya.co.id/web/index.php?optio...&Itemid=150

#11 williamzblue

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 306 posts
Click to view battle stats

Posted 28 August 2008 - 07:13 PM

QUOTE (yudosyaf @ Aug 13 2008, 08:36 AM) <{POST_SNAPBACK}>
harusnya pemerintah yang pro aktif dalam kasus "aku-mengaku" ini.
sangatlah mungkin bila pemerintah melakukan penyelidikan mendalam tentang sejarah bangsa ini....


betul... pemerintah seharusnya care.. terlebih bila didapat data awal yg cukup untuk landasan penelitian/penyelidikan.

terlebih lagi aku cermati perkembangan andaryoko ini, dari analisa psikologis dan gerak tubuh, serta minggu lalu aku baca bukunya... sangat meyakinkan...

btw, beberapa tahun yg lalu aku bersama seseorang yg punya indera ke 6 ketika melewati rumah lama si andaryoko ini mengatakan, kalo di rumah itu dulunya adalah rumah menteri pertahanan. jelas gwe ngakak.. eh nggak tahunya setelah berbilang tahun dalam buku si andaryoko disebut juga rumah itu..

QUOTE (CaMpFrEd @ Aug 16 2008, 12:43 PM) <{POST_SNAPBACK}>
Wah saatnya sejarah sesuai hati nurani jangan lagi sejarah yang diajarkan merupakan komoditi penguasa yang sedang berjaya atau berkuasa E.q sejarah ketika jaman soeharto berkuasa


bicara bapak kita soeharto emang jagonya ngarang buku komik! he.he.. he.. dia emang hebat hanya saja sayaang.. takdir bicara sisi mata uang..

QUOTE (sempronk @ Aug 19 2008, 08:47 PM) <{POST_SNAPBACK}>
kan masih ada sodara dr supriyadi yg masih hidup ngapain susah-susah test DNA kan abis perkara


menurut andaryoko, dia emang nggak ada hubungan dengan darmadi bupati blitar, hanya karena ada simpati dg andaryoko, karena sering bertemu, ingin mengangkat andaryoko sebagai anak angkat, dan itu lazim pada jaman itu... jadi kalo test DNA nggak ada gunanya...

yg perlu dipelajari adalah mengapa keluarga darmadi menjadi pewaris pahlawan nasional, padahal hingga saat ini dari pihak keluarga tidak bisa memberikan bukti konkret korelasi supriyadi dg keluarga mereka, dan bahkan bila ditanya bukti, mereka mengatakan sudah dirampas jepang. ataukah ini juga permainan dari pak harto? (tanya ken apa?)

adalah hal aneh bila si andaryoko mengemukakan jatidirinya.. yg jelas kontroversial, yg mengungkapkan bahwa sebenarnya si supriyadi bukan orang blitar, melainkan orang salatiga (jawa tengah).. jelas ini menimbulkan perdebatan.. dan dari sinilah kadang kita harus teliti bahwa sejarah kadang tidak seperti yg kita pikirkan, bahkan akan terasa menyakitkan apabila yg kita yakini selama ini salah disaat bukti baru ditemukan.. berani menerima kenyataan?

dari runtutan cerita dengan keterbatasan daya ingat dan daya visual (mata) kita dapat pelajari apakan yg dikatakan adnaryoko benar atau salah...

contoh misalnya ketika ditunjukkan foto komandannya secara sesaat, dia mengatakan tidak mengenal.. artinya dia secara alamiah mengatakan apa yg harus dia katakan, bukannya mencermati dulu maksud dari foto itu, trus gimana kalo salah komentar.. disinilah kejujuran andaryoko terbukti... bukan hanya nyari selamat..

mengaenai saksi sejarah yg mengungkapkan sisi lain dari andaryoko, atau menyanggah adaryoko, perlu diketahui bahwa orang orang itu merupakan orang orang yg disebutkan oleh andaryoko sebagai pihak yg tidak dipercaya pada waktu itu..


disebutkan pada hal 115 bahwa adam malik waktu itu adalah "wartawan klilingan" yg tidak punya kantor dan keliling kesana kemari dan dialah yg memperkenalkan ratna sari dewi (orang jepang dan akhirnya diperistri oleh soekarno..

catatan: dulu saya pernah ke rumah seorang kiai (tua)NU yg pada saat soekarno berjaya dia ikut mendampingi.. dan ketika dia akan menikahi rsd kiai itu mengatakan kalo bisa jangan, karena rsd adalah jalan "apes"nya soekarno, dan ternyata soekarno nekat, terjadilah apa yg harus terjadi.. ini merupakan tinjauan lain yg tidak perlu dibahas disini (bicara ttg takdir dan komponen)..

dalam buku andaryoko pun disinggung tth hal itu.

kembali ke masalah adam malik, dalam sumber lain (the straits times) disebutkan bahwa adam malik adalah orangnya CIA dan dibayar oleh CIA.

dalam tv one dimunculkan kesaksian seseorang yg berseberangan dg andaryoko, padahal di dalam buku si andaryoko ini orang tersebut adalah orangnya soeharto bahkan yg membelikan cendana sebagai tempat kediaman soeharto..

terlepas dari semua ini, kita emang harus berhati hati membaca sejarah, yg kadang apa yg kita yakini ternyata di kemudian hari tidak seperti terjadi, pertanyaannya apakah kita siap?

#12 bunugh

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 92 posts
Click to view battle stats

Posted 02 September 2008 - 10:12 PM

setuju berat bro...yang paling aman adalah mengambil info dari keluarga yang masih hidup siapa pelaku ..kedua membuka buku2 lama tentang masalah yang berkaitan dengan sejarah ini....

#13 loginku

    BlueFame CRaZy

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPipPip
  • 7,754 posts
Click to view battle stats

Posted 04 September 2008 - 10:22 PM

gw pribadi masih nunggu perkembangan kasus ini,,tapi kaya kasus2 misteri laen yang berhubungan dengan sejarang di Indonesia,,,semua berakhir tanpa kejelasan,,ketutup gegap gempitanya kampanye yang mengutamakan artis artis dangdut,,
Worried.gif





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy