Jump to content



 

 

Ask : Apakah benar Prabowo mau bikin kudeta tahun 1998?


20 replies to this topic

#1 aatea

    Mungkin Tukang Spam

  • Members
  • 8 posts
Click to view battle stats

Posted 03 November 2008 - 06:41 PM

Di awal-awal masa kepresidenan BJ Habibie, Prabowo diberhentikan dari jabatannya sebagai Pangkostrad. Dalam bukunya, Habibie menyebutkan bahwa Wiranto (saat itu Panglima ABRI) melaporkan adanya gerakan-gerakan tentara di sekitar kediaman Habibie yang di luar kendalinya dan didalangi oleh Prabowo. Hal itu pernah disangkal oleh Prabowo. Sekarang dua mantan jendral yang terlibat (Prabowo dan Wiranto) sama-sama berancang-ancang untuk menjadi capres di pilpres 2009. Apakah ada bro yang tahu lebih detail mengenai kejadian tersebut? Apakah benar Prabowo ingin melakukan kudeta? Ataukah Wiranto yang melakukan hasutan? Atau itu sekedar alasan Habibie yang ingin melepaskan diri dari keterkaitan dengan Cendana?

#2 barkih

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 204 posts
Click to view battle stats

Posted 04 November 2008 - 02:12 AM

ga tau ah...

#3 The Great Kangemen

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 283 posts
Click to view battle stats

Posted 05 November 2008 - 08:12 AM

Saya sempat denger ada dua versi: pertama, ada yang bilang memang Danjen Kopassus Prabowo waktu itu sempat bawa tentaranya mendekati istana merdeka tetapi dia wiranto yang waktu itu jadi Pangab sudah siap menghadang Prabowo dgn menggunaka Pasukan dari luar Jawa, Versi Kedua, malah sebaliknya??? manah WTF.gif yang bener ada yang tau gak??? ngeri juga yah??

#4 mansz

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 744 posts
Click to view battle stats

Posted 05 November 2008 - 11:37 AM

wah ... sebetulnya topik seru nich .. tapi hal hal kek gini nich yang susah pembuktiannya sbb pasti klo menyangkut TNI susah dah di klarifikasinya

apa ada yang tau .... ?

#5 metallic

    Anak Ingusan

  • Members
  • Pip
  • 20 posts
Click to view battle stats

Posted 05 November 2008 - 12:51 PM

hanya waktu yang akan menjawabnya....... kadangkala dalam sejarah yang terjadi belum terlalu lama dan orang orang yang terlibat masih hidup malah akan mempersulit pembuktiannya

#6 actionz

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 459 posts
Click to view battle stats

Posted 05 November 2008 - 01:06 PM

wah mantap nh thread. ditunggu nh aspirasinya. gua juga penasaran masalahna

#7 Toni_Montana

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 192 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2008 - 02:51 AM

wah, ribet juga ya.. kalo emang bener dulu prabowo kudeta, harga BBM sekarang brp ya.. ??? chaong.gif

#8 fairry

    ..:: [ Nonik I Love U ] ::..

  • Members
  • PipPipPip
  • 66 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2008 - 03:26 AM

Ma'af bro hal seperti ini memang msih susah untuk dijelaskan tanpa bukti yang riil dan saksi.
semua masih dalam konteks omongan doang dari Habibie, Wiranto and Prabowo...

#9 indonesianegaraku

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 232 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2008 - 08:28 PM

kalo ditanya ke masin2 pasti pada bela diri..

#10 aLLe

    LüçKÝ«©»STåR

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 690 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2008 - 09:17 PM

Kerusuhan Mei dari Perspektif Berbeda (1)

Prabowo dan Kerusuhan Mei 1998 (1)

Siapa Biang Kerok Sesungguhnya ?

Oleh : Jose Manuel Tesoro *)

Anggota Komnas HAM Saparinah Sadli berada dalam tim gabungan pencari
fakta atas kerusuhan bulan Mei 1998, yang mengkaitkan peran mantan
Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto. Saparinah secara terus
terang mengakui bahwa pihak TGPF tanpa sadar telah terpengaruh pada
cerita-cerita seputar peran Prabowo. Dia mengakui tak satupun bukti yang
ditemukan TGPF mengarah kepada Prabowo. Saparinah mengakui bahwa mungkin
saja Prabowo cuma korban.
Ia juga mengungkapkan bahwa tekanan yang serupa dapat dialami pada
penyelidikan mengenai kekacauan Timor Timur tahun lalu yang juga
dikait-kaitkan dengan Prabowo. Sebenarnya, katanya, sebagai anggota TGPF
dia kini terpengaruh untuk berfikir bahwa bagaimanapun Wiranto berada di
belakangnya. Dan apakah mantan Pangab itu sesungguhnya berada di
belakang tragedi kerusuhan Mei 1998 ? Tentu semua perlu bukti.

KAMBING HITAM
Versi yang beredar di Internet (baca : opini publik) : Malam hari
tanggal 21 Mei, 1998, ratusan tentara bersiap-siaga di sekeliling Istana
Merdeka Jakarta dan kediaman BJ Habibie di tengah kota. B.J. Habibie
kurang dari 24 jam sebelumnya telah menjadi presiden Indonesia yang ke
tiga. Komandan pasukan ini adalah si kejam Letnan Jenderal Prabowo
Subianto.
Seminggu sebelumnya, ia menyusun kekuatan terselubung untuk keperluannya
-- orang-orang pasukan khusus, penjahat-penjahat perkotaan, kaum radikal
tertentu -- untuk membunuh, memperkosa, menjarah dan menebarkan
kebencian etnis di tengah Jakarta.
Tujuannya : untuk menggoyahkan saingannya, Panglima ABRI Jenderal
Wiranto, dan memaksa bapak mertuanya, Soeharto, untuk menjadikannya
Panglima ABRI-selangkah lebih dekat, pada saat kerusuhan, bagi Prabowo
sendiri untuk menjadi seorang presiden.
Pengunduran diri Suharto yang terlalu dini sebagai presiden merupakan
halangan bagi ambisi Prabowo. Maka ia melampiaskan kekecewaannya pada
Habibie. Malapetaka bagi Indonesia -- dan sebuah mimpi buruk bagi Asia
Tenggara -- mungkin akan terjadi, bila tidak karena sebuah perintah dari
Wiranto yang mencopot jenderal yang sudah tak terkendalikan dan
berbahaya ini dari posisinya sebagai komandan.
Dengan kemarahan, Prabowo membawa pasukannya ke istana dan mencoba
menerobos dengan bersenjata ke ruangan Habibie. Tetapi ia pada akhirnya
dapat dikalahkan. Percobaan kudetanya ini merupakan puncak dari drama 10
hari yang melingkup jatuhnya Suharto, pemimpin Indonesia selama tiga
dekade. Masalahnya tidak semua dari cerita tersebut benar. Mungkin
bahkan tidak ada kebenarannya sama sekali.
Dan ini versi yang sama sekali berbeda, dan kini mulai diyakini banyak
orang, bahkan Presiden Gus Dur percaya bahwa versi ini lebih mendekati
kebenaran : Sangat dapat dipercaya bahwa Prabowo tidak pernah mengancam
Habibie. Apakah Prabowo merencanakan kerusuhan Mei terhadap etnis Cina
di Indonesia untuk menjatuhkan Wiranto atau Suharto? "Saya percaya dia
tidak berada di balik kerusuhan tersebut. Itu kebohongan besar," kata
seorang petinggi politik di Jakarta.
Dan jawaban Prabowo pribadi kepada saya juga menyatakan begitu. Dia
menjawab dengan tegas, lantang dan tanpa ragu-ragu. "Saya tidak pernah
mengkhianati Pak Harto. Saya tidak pernah mengkhianati Habibie. Saya
tidak pernah mengkhianati negara saya, karena saya adalah seorang
patriot. Dan saya siap diadili untuk itu," tukas Prabowo.
Prabowo, 48 tahun, bukan seorang suci. Selama 24 tahun, ia merupakan
bagian militer Indonesia, yang dengan setianya mengikuti
perintah-perintah presiden. Ia membangun pasukan khususnya yang elit -
Kopassus -untuk melawan pemberontakan dan terorisme internal.
Prabowo juga menikahi putri ke dua Suharto dan menikmati kekayaan,
kekuasaan dan kebebasan dari tanggung jawab hukum yang diberikan oleh
keluarga negara (Keluarga Cendana). Ia mengakui bertanggung jawab atas
penculikan sembilan aktivis yang dilakukan anak buahnya di Kopassus di
awal tahun 1998, beberapa diantaranya mengalami penyiksaan.
Kira-kira selusin lainnya yang diyakini diculik dalam operasi yang sama
masih tetap tidak diketahui keberadaannya. Tetapi apakah Prabowo
merupakan seorang iblis? Bulan Agustus 1998, pengadilan kehormatan
militer mendakwanya bersalah karena salah mengartikan perintah dan
diberikan sanksi-sanksi atau pengadilan militer.
Prabowo kemudian dibebaskan. Dalam laporan bulan Oktober 1998, Tim
Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pemerintah atas kerusuhan bulan Mei
meminta penyelidikan terhadap Prabowo atas kerusuhan tersebut.
Media nasional di Indonesia dan asing sejak saat itu menghubungkan
namanya dengan kata-kata seperti "dalang," "kejam dan liar," "fanatik
yang haus kekuasaan."
Sebuah harian Asia bahkan tega menulis: "Menurut kabarnya ia membenci
bangsa Cina." Entah kabarnya siapa ? Tetapi banyak orang di dunia
apalagi lewat tulisan bias yang tersebar via internet percaya kisah ini
dan menelannya mentah-mentah tanpa merasa perlu mencek lagi. Alasannya
hanya karena Prabowo menantu Soeharto, musuh semua orang.
Keyakinan bahwa ia memulai kerusuhan tersebut dan tidak berhasil
mengendalikannya telah tercatat dalam buku-buku sejarah. "Saya monster
dibalik segalanya, begitulah yang ada di benak semua orang. Dan saya
hanya bisa menangis karena tak punya kesempatan membela diri di
Pengadilan yang fair," kata Prabowo, getir.
Walaupun demikian hampir dua tahun sejak pengunduran diri Suharto, tak
ada bukti ditampilkan yang menghubungkannya dengan kerusuhan-kerusuhan
tersebut yang memicu pengunduran diri Suharto. Aneh tetapi nyata.
Prabowo memang cuma sekedar kambing hitam dari mereka yang sesungguhnya
bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan itu.
Gambaran utuh mengenai hari-hari itu tetap tidak jelas dengan
cerita-cerita yang bertentangan dan sumber-sumber yang tidak dijelaskan.
Bulan September 1998, Marzuki Darusman, yang saat itu merupakan ketua
TGPF dan sekarang menjadi Jaksa Agung, mengungkapkan pikirannya pada
para reporter : "Saya rasa bukan hanya Prabowo saja yang terkait dengan
kejadian tersebut. Menurut saya ia memegang rahasia. Dan ia dapat
didorong untuk mengungkapkannya bila terpaksa."
Prabowo telah dihakimi oleh pendapat umum dan didakwa bersalah. Sesuatu
yang sebetulnya sungguh tidak adil. Dan dia tidak pernah mendapat
kesempatan untuk memberikan pendapatnya. Dia sekarang menghabiskan
seluruh waktunya di luar negeri, walaupun suratkabar-suratkabar lokal
mengatakan ia melakukan perjalanan singkat kembali pada bulan Januari,
pertama kalinya dalam 15 bulan. (Istrinya tetap berada di Indonesia,
sementara anak laki-laki mereka belajar di Amerika Serikat)
Kini, banyak pemikir-pemikir Indonesia mengakui bahwa Prabowo barangkali
merupakan sasaran yang mudah tetapi bukan merupakan sasaran penting.
Aristides Katoppo, seorang jurnalis kawakan mengatakan: "Ia dijadikan
kambing hitam bagi banyak kesalahan yang tidak dilakukannya. Dia mungkin
menuntut banyak hal. Tetapi melakukan kudeta? Tidak benar. Itu merupakan
suatu pengingkaran penerangan (disinformasi)."
Prabowo sendiri percaya bahwa tuntutan atas dirinya mempunyai suatu
alasan. Ada sekelompok orang tertentu dengan ambisi politik tertentu
pula yang ingin menjadikan dirinya sebagai kambing hitam, mungkin untuk
menyembunyikan keterlibatan mereka. Dan Prabowo percaya bahwa semua itu
telah dilakukan secara tidak adil.
Apa yang timbul dari cerita Prabowo sendiri, bersama dengan penyelidikan
mandiri yang dilakukan oleh majalah ini, merupakan suatu cerita yang
jauh berbeda, lebih bernuansa dari penilaian yang telah diterima bahwa
kejatuhan Suharto merupakan akibat pertentangan antara kebaikan dan
kejahatan-dan bahwa Prabowo merupakan pihak yang jahat. Kisah ini
merupakan laporan dari dan mengenai jangkauan-jangkauan tertinggi dari
politik Indonesia, pengungkapan sifatnya yang berubah-ubah secara tak
terduga dan kekompleksan para pelakunya. (bersambung)

*) Jose Manuel Tesoro, Wartawan Asia Week yang mewawancarai mantan
Pangkostrad Prabowo akhir Februari th 2000 lalu

*sumber : http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/22/0016.html

---------------------------------------------------------------------------

terlalu banyak kesimpulan2 yg dibuat (ntah mana yg benar) ... kapan kita sebagai warga negara RI ini tau kebenaran dari peristiwa Mei 1998 yg notabene sebagai Sejarah Buruk Bangsa Kita ??

#11 aLLe

    LüçKÝ«©»STåR

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 690 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2008 - 09:23 PM

ada lagi nie .... sumber : http://blog.tempointeraktif.com/?p=233


SISI-SISI GELAP PRAHARA MEI

Siang itu lusinan payung hitam terbentang di halaman depan Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta. Payung duka yang menandai teriakan ribuan korban kerusuhan Mei 1998. Ruminah, 49 tahun, berkata dalam aksi diam Kamisan yang telah digelar 64 kali itu. “Ini cara kami berseru: jangan diam…!”

Jangan diam untuk apa? “Untuk semua kejahatan pelanggaran hak asasi manusia,” kata Ruminah di tengah aksi Kamisan, tiga pekan lalu. Bajunya yang serba hitam menegaskan sebuah drama. “Sudah habis air mata saya,” kata Ruminah, yang tinggal di Klender, Jakarta Timur.

Gunawan Subianto adalah nama anak ketiganya. Umur sang putra baru 13 tahun saat Jakarta dibakar angkara, 13 Mei 1998. Gunawan hilang entah ke mana. “Saya hanya menemukan bajunya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,” kata Ruminah, “tak ada raganya.”

Sepuluh tahun telah berlalu sejak Ruminah menemukan baju Gunawan. Sejuta pertanyaan masih menyesaki dadanya. Ke mana dia harus mencari jasad anaknya? Siapa yang harus dia mintai pertanggungjawaban? “Itu permainan orang gedean. Saya nggak ngerti,” kata ibu lima anak ini.

Teriakan Ruminah adalah teriakan bangsa ini. Telah satu dasawarsa tragedi kerusuhan, 13-15 Mei 1998, berlalu. Namun, apa yang terjadi di hari-hari gelap itu masih tak terungkap. Berkas penyelidikan perkara kerusuhan pun cuma dilempar bolak-balik oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Kejaksaan Agung (lihat: “Penantian Panjang Keluarga Korban”).

Dinding tebal misteri kerusuhan Mei belum goyah. Fakta-fakta yang dikumpulkan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), kemudian ditelusuri lagi oleh Komnas HAM, tenggelam tanpa daya di tengah riuh-rendah pertarungan politik.

Tragedi Mei bukanlah peristiwa tunggal. Krisis ekonomi, ketimpangan sosial yang makin kentara, telah membuat kekecewaan rakyat menggumpal pekat. Seusai Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Maret 1998, ribuan mahasiswa turun ke jalan. Seperti gelombang, demonstrasi mahasiswa susul-menyusul tak kunjung putus (lihat: “Perjalanan Menuju Derita”).

Pada 9 Mei 1998, di tengah hiruk-pikuk demonstrasi, muncul informasi mengejutkan. “Ada yang bilang akan ada martir dari kalangan mahasiswa. Kami harus hati-hati,” kata Sukma Widyanti, 33 tahun, aktivis Keluarga Besar Universitas Indonesia ketika itu. Jaringan aktivis mahasiswa memutuskan menggelar minggu tenang. “Tak boleh ada demonstrasi minggu itu,” kata Sukma.

Tanpa diduga, mahasiswa Universitas Trisakti bergerak mengabaikan seruan duduk manis di rumah. Nahas. Pada 12 Mei itulah, Elang Mulya Lesmana, Hendrawan Sie, Heri Hertanto, dan Hafidin Roiyan gugur diterjang peluru tajam. Martir telah jatuh.

Laksana api disiram bensin, kerusuhan berkobar cepat. Laknat melanda. Jakarta berubah menjadi belantara barbar. Laporan TGPF menunjukkan ada 1.190 orang mati terpanggang, 27 orang meninggal karena senjata tajam, 52 korban pemerkosaan, dan 850 bangunan terbakar.

Sayang, deretan angka itu tak sanggup menggerakkan penguasa untuk menuntaskan penyelidikan. Sampai hari ini tak ada seorang pun yang diperiksa, apalagi dimintai pertanggungjawaban di pengadilan.

Koran Tempo berusaha menyingkap tabir tebal itu. Sebuah ikhtiar, yang harus diakui, tidak gampang. Sepuluh tahun tidak membuat saksi-saksi kunci bersedia membuka mulut, terutama karena tak ada jaminan perlindungan saksi. Seorang pensiunan tentara membatalkan janji wawancara. “Bos saya masih ada di posisi penting. Tak mungkin saya bisa aman kalau bicara,” katanya.

Di tengah kebuntuan dan ketakutan bersaksi, reporter kami membuka beberapa penggal jalan. Maria Hasugian menelusuri Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, tempat tiga jenazah yang diduga adalah Bimo Petrus, Wiji Thukul, dan Dedi Hamdun dibuang. Penculikan, penghilangan, dan pembunuhan aktivis adalah satu dari serangkaian peristiwa yang diyakini turut mematangkan proses menuju goro-goro kerusuhan 1998.

Dari kamar mayat RSCM, Istiqomatul Hayati mewawancarai Dr Djaja Surya Atmadja, ahli forensik, yang bersiaga penuh sejak 10 Mei 1998. Tim Djaja (14 dokter forensik dan puluhan mahasiswa praktek) bekerja keras mengidentifikasi 500-an jasad yang masuk ke RSCM dalam kondisi gosong. Tak sedikit jasad yang tangannya masih mendekap lembaran uang atau belasan baju lengkap dengan gantungannya (lihat: “Kisah dari Bilik Kematian”).

Kami juga menelusuri jejak kasus pemerkosaan massal. Inilah titik penting yang banyak diragukan kebenarannya lantaran tak satu pun korban mau bersaksi. Kepercayaan publik bahkan luntur ketika beredar kisah gadis bernama samaran Vivian di situs VOICE (Victimization of Indonesian Chinese Ethnicity), situs yang dibuat komunitas Cina internasional untuk mempersoalkan kerusuhan Mei. Vivian diperkosa lima pria di Apartemen Mitra Bahari di Jakarta Utara. Mereka konon berteriak “Allahu Akbar” saban kali hendak memerkosa Vivian.

Kontan cerita Vivian mengguncang jagat. Para jurnalis belingsatan memburu kebenaran berita ini. Nihil. Vivian hanya sosok fiktif. Harian Asia Wall Street Journal membongkar bahwa foto yang dipajang VOICE adalah manipulasi gambar pemerkosaan di tempat lain. Pengelola Mitra Bahari juga membantah tudingan terjadi pemerkosaan di gedung mereka pada hari-hari itu (majalah Tempo, 12 Oktober 1998).

Kisruh jumlah korban pun menjadi poin krusial penyulut keraguan. Data Tim Relawan untuk Kemanusiaan dan TGPF terus-menerus berubah. Awalnya disebut ada 168, kemudian 92, 85, dan akhirnya angka resmi yang dirilis TGPF adalah 52 korban pemerkosaan. “Bukan karena salah hitung, tapi lebih karena perbedaan definisi,” kata Romo Sandyawan Sumardi, Sekretaris Tim Relawan.

Sandyawan menjelaskan, hukum di negeri ini hanya mendefinisikan pemerkosaan sebagai penetrasi alat kelamin secara paksa. Padahal, “Banyak kasus tidak seperti itu,” kata Sandyawan. “Ada korban yang puting payudaranya dipotong sampai mengalami perdarahan hebat.”

Keraguan akan adanya pemerkosaan menghebat ketika kepolisian menuntut bukti dan saksi. Letjen Roesmanhadi, Kepala Kepolisian RI saat itu, berkata, “Selama tidak ada bukti, tidak ada pemerkosaan.” Dia mengancam menyeret para aktivis ke pengadilan jika terus menggembar-gemborkan soal ini.

Tapi apakah kesaksian korban adalah mutlak? “Tidak,” kata Sandyawan, “itu membangkitkan trauma. Sama halnya kita memerkosa mereka lagi dan lagi.”

Dr Wimpie Pangkahila, ginekolog Universitas Udayana, Denpasar, berpendapat senada. Kepada Komnas HAM, Wimpie bersaksi telah mendampingi keluarga yang putrinya menjadi korban perkosaan. Wimpie menyerukan agar kasus pemerkosaan massal ditangani dengan melibatkan profesional. “Sikap yang apriori dan hanya menuntut adanya bukti korban, bila perlu yang masih meraung-raung, bukanlah sikap yang benar,” kata Wimpie. “Ini hanya akan menghambat pengungkapan.”

Seorang ginekolog akhirnya bersedia bertutur kepada Koran Tempo. Tiga korban pemerkosaan dia tangani. “Ada satu korban yang sampai hamil, tapi kemudian janinnya gugur,” katanya. Dokter yang pada waktu itu bertugas di RS Medika Griya, Sunter, ini tak mau disebutkan identitasnya. Berulang kali dia menerima ancaman, baik berupa pesan pendek maupun telepon. “Penelepon gelap itu mau membunuh saya kalau cerita rinci terungkap ke media,” katanya.

Tim kami juga bergerak menelusuri keganjilan dalam pembakaran dan penjarahan mal. Lagi-lagi tembok tebal menghadang. Berminggu-minggu tim Koran Tempo menghubungi berbagai kelompok pemuda dan preman. Kami berupaya menemukan orang-orang sangar yang, menurut laporan TGPF, telah “digunakan” untuk memprovokasi massa. Pencarian tak kunjung menemukan hasil.

Para provokator digambarkan berambut cepak, berbadan tegap, bertato, dan gahar. Mereka inilah yang aktif memanasi massa. Mereka berteriak, “Ayo, tidak dijaga. Ini hak kalian, ambil, jangan takut.” Provokasi begitu efektif hingga massa masuk ke mal dan mengambil apa saja. Tiba-tiba, entah bagaimana, api berkobar dan orang-orang pun terpanggang hidup-hidup. “Saya menyaksikan sendiri ada dua truk berisi orang-orang tak dikenal memprovokasi massa di Pasar Minggu,” kata Sayed Junaidi Rizaldi, 33 tahun, kala itu mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional.

Ke mana gerangan perginya para provokator itu? Entahlah. “Mereka bergerak cepat. Hilang begitu massa terpancing masuk mal,” kata Sayed. Ratusan provokator itu seperti lenyap ditelan bumi. Dan sampai hari ini tak ada selembar pun berkas perkara pemeriksaan dilakukan. Yang diamankan polisi hanyalah remaja ingusan yang ikut-ikutan menjarah barang remeh.

Tiga hari setelah kerusuhan, Sandyawan berkata bahwa dia bersama beberapa aktivis mendatangi Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Ada 180-an tahanan berdesakan di Polda Metro Jaya. “Pak Hamami (Mayor Jenderal Hamami Nata, Kepala Polda waktu itu) mengatakan, ‘ini kiriman dari kodim di seluruh Jakarta. Tapi kami bingung mau diapain? Lha mereka cuma ambil Coca-Cola atau sepatu yang kiri semua.’”

Hamami (meninggal pada 2003) meminta Sandyawan memilih 90-an remaja ingusan untuk dibebaskan. “Harus ada yang tetap ditahan supaya nggak ada masalah,” kata Hamami, seperti ditirukan Sandyawan. Bermasalah dengan siapa? Entahlah. Tak ada penjelasan dari Hamami.

Misteri, ketakutan bersaksi, keengganan pihak berwenang untuk menyelidiki, melengkapi kegelapan peristiwa Mei. Yang tampak jelas hanyalah pola kerusuhan yang nyaris sama. Provokasi, penjarahan, pembakaran mal di berbagai tempat begitu serupa. Amuk massa di Jatinegara Plaza, Slipi Plaza, Yogya Plaza, Supermal Karawaci, dan puluhan lokasi lainnya semua berpola sama. “Tak mungkin cuma kebetulan,” kata Stanley Adi Prasetya, anggota Komnas HAM.

Hasil penelitian Komnas HAM, menurut Stanley, menguatkan kecurigaan ada skenario besar yang memandu seluruh kerusuhan. “Ada pihak yang ingin menggiring situasi hingga gawat dan terjadi peralihan kekuasaan,” kata Stanley.

Siapa itu? Kecurigaan banyak mengarah pada keterlibatan militer. Nama yang paling kerap disebut adalah Letnan Jenderal (Purnawirawan) Prabowo Subianto, yang pada saat itu menjadi Komandan Pasukan Khusus.

Kepada majalah Tempo, edisi 25 Mei 2003, Prabowo mencurigai adanya konspirasi di balik kerusuhan Mei. “Saya dapat laporan kerusuhan itu kok agak terorganisasi,” kata Prabowo. “Saya dengar ada kelompok yang keliling dari toko ke toko. Ada yang menyiapkan bahan bakar dan sebagainya.”

Namun, Prabowo menolak tudingan keterlibatan dirinya dalam huru-hara demi menjatuhkan Soeharto. “Saat itu mungkin ada 70 lebih batalion yang akan ikut saya kalau hal itu (kudeta) saya lakukan,” katanya. “Tapi coba pikir. Kok saya tidak melakukan?”

Petinggi militer lain yang juga kerap disebut adalah Jenderal Wiranto, Panglima ABRI saat itu. Nama Wiranto dikaitkan dengan misteri acara serah-terima pasukan Kostrad di Malang, Jawa Timur. Pertemuan yang aneh karena digelar pada 14 Mei 1998 ketika Jakarta sedang berteriak minta tolong. Ketika ditemui Fanny Febiana dari Koran Tempo dua pekan lalu, Wiranto hanya berkata, “Saya nggak tertarik mengomentari kerusuhan Mei.”

Wiranto melanjutkan, rakyat di negeri ini sudah terlalu banyak berkorban. “Jangan selalu melihat ke masa lalu. Lihat masa depan,” katanya. “Masa lalu hanya perlu diambil yang baik-baik saja,” kata Wiranto, yang kini merintis jalan menuju Pemilihan Umum 2009 melalui Partai Hanura.

Ibunda Elang, Hery, Hendrawan, dan Hafidin tentu tak sepakat dengan Wiranto. Begitu pula dengan korban pemerkosaan dan ribuan ibu dari jasad-jasad yang terpanggang pada hari-hari itu. Mereka berhak mendapatkan jawab atas jutaan pertanyaan yang menggantung sepuluh tahun ini.

Asvi Warman Adam, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menekankan bahwa pengungkapan kerusuhan Mei bukan sekadar untuk memenuhi rasa keadilan untuk keluarga korban. “Jangan sampai jejak berdarah bangsa ini dihapus untuk kepentingan politik pihak tertentu semata,” katanya. “Jangan sampai tragedi semacam ini terulang lagi di masa depan.”

Bangsa ini, menurut Asvi, sudah terlalu lelah dengan sejarah yang setengah gelap, dari huru-hara Gerakan 30 September, penculikan aktivis, sampai kerusuhan Mei. Mengungkap kebenaran, kata Asvi, adalah bagian dari upaya untuk lebih kukuh melangkah menuju masa depan.

#12 aLLe

    LüçKÝ«©»STåR

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 690 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2008 - 09:29 PM

nie juga .. sumber: http://www.kontras.org/penculikan/index.ph...rita&id=149


Wiranto vs Prabowo
Wiranto dalam bukunya, Bersaksi di Tengah Badai, yang diterbitkan tahun 2003 di halaman 32 menyebutkan soal kepergiannya ke Malang.

"Sebagaimana sudah saya katakan berkali-kali bahwa informasi yang benar janganlah diputarbalikkan. Keberangkatan saya sebagai Panglima TNI ke Malang untuk timbang terima PPRC adalah atas permintaan Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo sendiri.... Bahkan, saya juga sangat menyayangkan kalaukemudian ada yang mengatakan bahwa Letjen Prabowo Subianto yang waktu itu menjadi Panglima Kostrad telah meminta saya membatalkan acara ini dengan cara menelepon saya berkali- kali. Menurut saya, pernyataan yang mengatakan bahwa saya ditelepon berkali-kali ini rasanya aneh, sebab setiap telepon yang masuk selalu tercatat di sekretaris pribadi atau ajudan. Kenyataannya, permintaan pembatalan ini tak ada dalam catatan sekretaris pribadi atau ajudan saya...."

Argumentasi Wiranto disanggah Fadli Zon yang dikenal dekat dengan Prabowo Subianto. Dalam buku Politik Huru Hara Mei 1998, Fadli Zon di halaman 117 menulis berdasarkan wawancaranya terhadap Prabowo tanggal 26 Desember 2003, sebagai berikut:
"Ada peristiwa aneh yang terjadi pada pagi hari 14 Mei 1998. Hari itu, di tengah kerusuhan yang melanda Jakarta dan sekitarnya, Panglima ABRI Jenderal Wiranto memboyong jenderal-jenderal penting ke Malang untuk menghadiri sebuah acara peralihan Komando Pengendalian Pasukan Pemukul Reaksi Cepat... Sehari sebelumnya, Prabowo berkali- kali menghubungi Wiranto untuk membatalkan acara tersebut karena keamanan Ibu Kota dalam bahaya. Kalaupun harus pergi, Prabowo minta izin agar ia tetap berjaga-jaga berada di Jakarta membantu Pangdam Jaya mengatasi kerusuhan. Setelah kurang lebih delapan kali menghubungi Wiranto, hasilnya sama saja, Prabowo harus ikut ke Malang bersama Wiranto...."

Soal tidak adanya catatan ajudan atau sekretaris pribadi Wiranto yang membuktikan ada tidaknya telepon Prabowo kepada Wiranto, Fadli mengungkap soal itu di halaman 119 berdasarkan wawancaranya dengan Letkol Fuad Basya, sekretaris pribadi Panglima Kostrad, sebagai berikut:
"Menurut sespri Pangkostrad, Letkol Fuad Basya, Prabowo menelepon beberapa kali hingga malam tanggal 13 Mei. Ia sangat yakin bahwa Prabowo berbicara dengan Wiranto untuk penundaan acara karena perkembangan situasi Jakarta. Fuad dengan tegas mengatakan bahwa ia yangmenghubungi langsung sekretaris pribadi Panglima ABRI Letkol Muktianto. Ditelepon, Fuad mendengar Prabowo mengatakan, sebaiknya jangan meninggalkan Jakarta...."

Pelaku melenggang
Problem utama dari tidak terungkapnya tragedi kerusuhan Mei 1998 ini bukan karena tak ada bukti ataupun saksi. Alat bukti masih mungkin diperoleh, mengingat waktu masih berlalu delapan tahun lalu. Bahkan, keterangan Prabowo maupun Wiranto dalam buku mereka dapat menjadi petunjuk peristiwa itu. Hal ini untuk menjawab pertanyaan besar, ada apa di balik tragedi Mei itu?

Koordinator Kontras Usman Hamid mengatakan, peluang penyelesaian tragedi Mei masih besar, terutama dengan adanya upaya dari Komnas HAM untuk menyelidiki kasus orang hilang. Pada saat tragedi Mei terjadi terdapat tiga orang yang masih hilang, yakni Yadin Muhidin (alumnus sekolah pelayaran), Ucok Munandar Siahaan (mahasiswa), dan Abdun Naser (kontraktor). Hal ini dipermudah dengan beberapa fakta yang muncul dan bisa menjadi petunjuk terungkapnya kasus tragedi 14-15 Mei 1998 ini. "Hilangnya tiga orang ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengusut tragedi Mei 1998. Bahkan, titik terang terlihat dalam kasus hilangnya Yadin yang berdasarkan kabar terakhir ia sempat berada di sebuah pos polisi di daerah Jakarta Utara. Itu kontak terakhir," kata Usman.

Usman mengatakan, problem sulitnya pengungkapan kasus tragedi Mei 1998 ini sepenuhnya terletak pada tidak adanya kemauan presiden untuk menyelesaikan tragedi ini. Bahkan, dari tahun ke tahun terkesan kental tragedi ini "sengaja" dilupakan.

Ketidakmauan mengungkap tragedi Mei telah menambah panjang daftar kegagalan Indonesia menyelesaikan persoalan pelanggaran HAM masa lalu. Walau begitu, korban dan keluarga korban tidak boleh menyerah, meski reformasi sudah delapan tahun. Memori kolektif akan kesedihan mendalam-di saat harus kehilangan secara paksa orang yang dicintai- harus tetap dibiarkan menyala.

#13 pradanafajar

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 112 posts
Click to view battle stats

Posted 10 December 2010 - 05:26 AM

wahh menarik nih..

#14 p0ker

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 37 posts
Click to view battle stats

Posted 10 December 2010 - 10:06 AM

lanjutin lagi donk..... waktu itu ane sempet liat foto2 korbannya tuh... serem banget deh..

#15 cahpga40

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 105 posts
Click to view battle stats

Posted 10 December 2010 - 03:32 PM

selama si dalang masih punya kuasa atau duit ya susah buat ungkapin semuanya secara gamblang..

#16 denny

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 401 posts
Click to view battle stats

Posted 10 December 2010 - 03:39 PM

jd penasaran

#17 leosusilo

    BlueFame Flooder

  • Members
  • PipPipPipPipPipPip
  • 2,261 posts
Click to view battle stats

Posted 13 December 2010 - 11:31 AM

antara bingung, penasaran, gak percaya mana yang benar hanya Tuhan lah yang tahu !!!

#18 van Baso

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,178 posts
Click to view battle stats

Posted 14 December 2010 - 08:59 AM

"Jangan percaya apa yg anda dengar atau yg anda baca kecuali anda mengalaminya sendiri"
Tulisan di atas yg selalu jadi pegangan gua atas semua kejadian yg ada di dunia

#19 axilion

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 102 posts
Click to view battle stats

Posted 14 December 2010 - 10:05 AM

sengaja di diamkan tu kasusnya,biar ilang di telan bumi kasus HAM nya.

#20 MLTR

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 151 posts
Click to view battle stats

Posted 14 December 2010 - 11:27 AM

wallahualam.. :Confused:





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy