Jump to content



 

 

Wayang Asli Indonesia..


42 replies to this topic

#21 LionHeart

    BlueFame Gate Keeper

  • Retired MOD
  • 18,026 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 11:42 AM

yang kaya reply diatas gw nih yang bikin gw keki sama orang2 indonesia. udah cape2 diperjuangin jadi warisan buday asli indonesia malah ga tau apa2.. Hmmmph.gif *kayak gw sendiri tau.. haha.gif * axehead.png

well, semoga generasi muda indonesia bisa memperjuangkan semua budaya leluhur kita. Praying.gif

#22 jason voorhess

    BlueFame Holic

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 2,698 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 11:51 AM

hampir semua dari jenis wayang yang disebutkan gw gak tau,
mungkin gw termasuk anak muda indonesia yang kurang peduli dengan warisan budaya ini
tp gw berusaha untuk tetep melestarikan wayang,

yang paling gw tau tentang wayang, ya,..wayang golek dengan tokoh si cepot, ama kang asep sunarya
gw paling inget waktu kecil nonton cepot yang bisa muntah mie instant, hehehe, kocak banget

#23 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 01:30 PM

Sejarah Seni Pewayangan


Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.
Prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institute, Amsterdam, contoh prasasti ini dapat dilihat dalam lampiran buku Claire Holt Art in Indonesia:

Continuities and Changes,1967 terjemahan Prof.Dr.Soedarsono(MSPI-2000-hal 431).
Tertulis sebagai berikut:
Dikeluarkan atas nama Raja Belitung teks ini mengenai desa Sangsang, yang ditandai sebagai sebuah tanah perdikan, yang pelaksanaannya ditujukan kepada dewa dari serambi di Dalinan. Lagi setelah menghias diri dengan cat serta bunga-bunga para peserta duduk di dalam tenda perayaan menghadap Sang Hyang Kudur. “Untuk keselamatan bangunan suci serta rakyat” pertunjukan (ton-tonan) disakilan. Sang Tangkil Hyang sang (mamidu), si Nalu melagukan (macarita) Bhima Kumara, serta menari (mangigal) sebagai Kicaka; si Jaluk melagukan Ramayana; si Mungmuk berakting (mamirus) serta melawak (mebanol), si Galigi mempertunjukan Wayang (mawayang) bagi para Dewa, melagukan Bhimaya Kumara.

Pentingnya teks ini terletak pada indikasi yang jelas bahwa pada awal abad ke-10, episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana dilagukan dalam peristiwa-peristiwa ritual. Bhimaya Kumara mungkin sebuah cerita yang berhubungan dengan Bima boleh jadi telah dipertunjukan sebagai sebuah teater bayangan (sekarang: wayang purwa). Dari mana asal-usul wayang, sampai saat ini masih dipersoalkan, karena kurangnya bukti-bukti yang mendukungnya.

Ada yang meyakini bahwa wayang asli kebudayaan Jawa dengan mengatakan karena istilah-istilah yang digunakan dalam pewayangan banyak istilah bahasa Jawa. Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli Jawa. Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cempala, kepyak, wayang. Pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok sen-thong dan ruangan untuk pertujukan ringgit (pringgitan), dalam bahasa Jawa ringgit artinya wayang. Bagi orang Jawa dalam membangun rumahpun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang. Dalam buku Over de Oorsprong van het Java-ansche Tooneel - Dr.W Rassers mengatakan bahwa, pertunjukan wayang di Jawa bukanlah ciptaan asli orang Jawa. Pertunjukan wayang di Jawa, merupakan tiruan dari apa yang sudah ada di India. Di India pun sudah ada pertunjukan bayang-bayang mirip dengan pertunjukan wayang di Jawa.

Dr.N.J. Krom sama pendapatnya dengan Dr. W. Rassers,yang mengatakan pertunjukan wayang di Jawa sama dengan apa yang ada di India Barat, oleh karena itu ia menduga bahwa wayang merupakan ciptaan Hindu dan Jawa. Ada pula peneliti dan penulis buku lainnya yang mengatakan bahwa wayang berasal dari India,bahkan ada pula yang mengatakan dari Cina. Dalam buku Chineesche Brauche und Spiele in Europa – Prof G. Schlegel menulis, bahwa dalam kebudayaan Cina kuno terdapat pergelaran semacam wayang.
Pada pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 sebelum Masehi, ada pertunjukan bayang-bayang semacam wayang. Kemudian pertunjukan ini menyebar ke India, baru kemudian dari India dibawa ke Indonesia. Untuk memperkuat hal ini, dalam majalah Koloniale Studien, seorang penulis mengemukakan adanya persamaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokian), Wo-yong (Kanton), Woying (Mandarin), artinya pertunjukan bayang-bayang, yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa.
Meskipun di Indonesia orang sering mengatakan bahwa wayang asli berasal dari Jawa/Indonesia, namun harus dijelaskan apa yang asli materi wayang atau wujud wayang dan bagaimana dengan cerita wayang. Pertanyaannya, mengapa pertunjukan wayang kulit, umumnya selalu mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata? Dalam papernya Attempt at a historical outline of the shadow theatre Jacques Brunet, (Kuala Lumpur, 27-30 Agustus 19-69), mengatakan, sulit untuk menyanggah atau menolak anggapan bahwa teater wayang yang terdapat di Asia Tenggara berasal dari India terutama tentang sumber cerita. Paper tersebut di atas mencoba untuk menjelaskan bahwa wayang mempunyai banyak kesamaan terdapat di daerah Asia terutama Asia Tenggara dengan diikat oleh cerita-cerita yang sama yang bersumber dari Ramayana dan Mahabharata dari India. Sejarah penyebaran wayang dari India ke Barat sampai ke Timur Tengah dan ke timur umumnya sampai ke Asia Tenggara.
Di Timur Tengah, disebut Karagheuz, di Thailand disebut Nang Yai & Nang Talun, di Cambodia disebut Nang Sbek & Nang Koloun. Dari Thailand ke Malaysia disebut Wayang Siam. Sedangkan yang langsung dari India ke Indonesia disebut Wayang Kulit Purwa. Dari Indonesia ke Malaysia disebut Wayang Jawa. Di Malaysia ada 2 jenis nama wayang, yaitu Wayang Jawa (berasal dari Jawa) dan Wayang Siam berasal dari Thailand. Abad ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia, terutama para pedagangnya. Pada kesempatan tersebut orang-orang Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita maha besar India yaitu Mahabharata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit. Abad ke-9, bermunculan cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata atau Ramayana, yang telah diadaptasi kedalam cerita yang berbentuk kakawin tersebut, misalnya cerita-cerita seperti: Arjunawiwaha karangan Empu Kanwa, Bharatayuda karangan Empu Sedah dan Empu Panuluh, Kresnayana karangan Empu Triguna, Gatotkaca Sraya karangan Empu Panuluh dan lain-lainnya. Pada jamannya, semua cerita tersebut bersumber dari cerita Mahabharata, yang kemudian diadaptasi sesuai dengan sejarah pada jamannya dan juga disesuaikan dengan dongeng serta legenda dan cerita rakyat setempat. Dalam mengenal wayang, kita dapat mendekatinya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang terutama wayang kulit umumnya selalu diambil dari epos Mahabharata atau Ramayana. Kedua cerita tersebut, apabila kita telusuri sumber ceritanya berasal dari India. Mahabharata bersumber dari karangan Viyasa, sedangkan Epos Ramayana karangan Valmiki.

Peta Penyebaran Cerita Wayang dari Cina

(Lihat: buku Traditional Drama And Music of Southeast Asia – Edited by M.Taib Osman, Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Th. 1974 )


Hal ini diperkuat fakta bahwa cerita wayang yang terdapat di Asia terutama di Asia Tenggara yang umumnya menggunakan sumber cerita Ramayana dan Mahabharata dari India. Cerita-cerita yang biasa disajikan dalam wayang, sebenarnya merupakan adaptasi dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan cerita rakyat atau dongeng setempat. Dalam sejarahnya pertunjukan wayang kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara, misalnya untuk keperluan upacara khitanan, bersih desa, menyingkirkan malapetaka dan bahaya. Hal tersebut sangat erat dengan kebiasaan dan adat-istiadat setempat.Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada jaman raja-raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang tersebut seperti yang kita saksikan sekarang. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang. Hal ini juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang cukup tua. Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana bentuknya. Pertunjukan teater tradisional pada umumnya digunakan untuk pendukung sarana upacara baik keagamaan ataupun adat-istiadat, tetapi pertunjukan wayang kulit dapat langsung menjadi ajang keperluan upacara tersebut. Ketika kita menonton wayang, kita langsung dapat menerka pertunjukan wayang tersebut untuk keperluan apa. Hal ini dapat dilihat langsung pada cerita yang dimainkan, apakah untuk keperluan menyambut panen atau untuk ngruwat dan pertunjukan itu sendiri merupakan suatu upacara.
Wayang Cina, Muangthai, Kamboja




#24 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 01:41 PM

Jenis Wayang

Dapat kita temukan wujud bentuk wayang sejak dahulu, yaitu adanya wayang Rumput atau wayang Lontar (daun TAl) dan lain sebagainya. Jenis wayang tersebut dapat dilihat di Musium Wayang di Jakarta. Berbagai bentuk dan ragam wayang di Indonesia, di antaranya, yaitu:

1. Wayang Beber
Wayang Beber termasuk bentuk wayang yang paling tua usianya dan berasal dari masa akhir zaman Hindu di Jawa. Pada mulanya wayang Beber melukiskan cerita-cerita wayang dari kitab Mahabharata, tetapi kemudian beralih dengan cerita-cerita Panji yang berasal dari kerajaan Jenggala pada abad ke-XI dan mencapai jayanya pada zaman Majapahit sekitar abad ke-XIV hingga XV. Wayang ini populeritasnya memudar sejak zaman kerajaan Mataram, sehingga makin langka dan kini diancam kepunahanya. Wayang tersebut masih dapat kita jumpai dan sesekali dapat dipergelarkan. Pada pergelaran yang pernah dilangsungkan pada awal tahun 1983 di Surabaya digunakan wayang Beber dari desa Karangtalun Kelurahan Gedompol Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Wayang Beber ini dikenal dengan nama Wayang Beber Pacitan.
Wayang Beber Pacitan melukiskan cerita Panji Asmara Bangun dengan Dewi Sekartaji yang berjumlah 6 gulungan dengan setiap gulungan memuat 4 adegan. Jadi jumlah keseluruhan menjadi 24 adegan, tetapi adegan yang ke 24 tidak boleh dibuka, yang menurut kepercayaan pantangan untuk dilanggar. Sebagai salah satu warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang telah berusia sangat tua itu dan diakui sebagai hasil karya seni agung yang tiada duanya, maka Wayang Beber Pacitan ini perlu dilestarikan. Wayang Beber tersebut dicipta sesudah pemerintahan Amangkurat II (1677-1678) dan sebelum pemerintahan Amangkurat III (1703-1704) di Kartasura.
Sedangkan sumber lain menyatakan bahwa Wayang Beber Pacitan tersebut diterima oleh dalang Nolodermo dari kraton Majapahit sebagai hadiah atas jasanya setelah ia menyembuhkan putri raja. Cerita awal dari Wayang Beber ini adalah mengisahkan tentang Panji Asmara Bangun telah menyamar menjadi Panji Joko Kembang Kuning guna mengikuti sayembara menemukan Dewi Sekartaji, hingga sepasang pengantin bahagia bersanding di pelaminan yaitu Raden Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji. Cerita tersebut konon merupakan cerita sindiran tentang kerusakan kerajaan Mataram sampai berpindahnya pemerintahan ke Kartasura, yang disungging indah sekali dan dibuat pada tahun 1614 Caka dengan sengkalan: gawe srabi jinambah ing wong.

Wayang Beber Pacitan (Adegan dalam cerita Joko Kembang Kuning)




#25 GODStalker

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 973 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 01:48 PM

@IZRO'IL
nice info brader, lengkap sejarahnya speak_cool.gif

#26 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 01:51 PM

2. Wayang Purwa
Wayang Purwa adalah pertunjukan wayang yang pementasan ceritanya bersumber pada kitab Ramayana dan Mahabharata. Wayang tersebut dapat berupa wayang kulit, wayang golek atau wayang wong (orang).
Pendapat para ahli, istilah purwa tersebut berasal dari kata parwa yang berarti bagian dari cerita Ramayana atau Mahabharata. Di kalangan masyarakat Jawa, terutama orang-orang tua kata purwa sering diartikan pula purba artinya zaman dulu. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka wayang purwa diartikan pula sebagai wayang yang menyajikan cerita-cerita zaman dahulu. Pada wayang jenis ini banyak kita jumpai beberapa ragam, sejarah, asal mulanya antara lain:
2.1 Wayang Rontal (939)
Prabu Jayabaya dari kerajaan Majapahit, yang gemar sekali akan wayang, membuat gambar-gambar dan cerita-cerita wayang pada daun tal dalam tahun 939 Masehi (861 Caka dengan sengkalan: gambaring wayang wolu). Wayang tersebut dinamakan wayang Rontal (rontal yaitu daun tal dari pohon Lontar: Bali, Jakarta; Siwalan: Jawa)
2.1.1 Wayang Kertas (1244)
Karena gambar-gambar yang terdapat pada daun tal itu terlalu kecil untuk dipertunjukan, maka Raden Kudalaleyan atau yang disebut Prabu Surya Hamiluhur dari Pajajaran memperbesar gambar wayang tersebut di atas kertas pada tahun 1244 (1166 Caka, dengan sengkalan: hyang gono rupaning jalmo).

2.2 Wayang Beber Purwa (1361)
Prabu Bratono dari kerajaan Majapahit membuat wayang Beber Purwa untuk ruwatan pada tahun 1361 (1283 Caka, dengan sengkalan: gunaning pujangga nembah ing dewa). Pendapat tersebut tidak sesuai dengan ilmu sejarah, karena pada tahun 1350-1389 yang bertahta di Majapahit adalah Raja Hayam Wuruk; kecuali apabila Prabu Bratono adalah juga Prabu Hayam Wuruk. Wayang Beber Purwa dimaksudkan suatu pergelaran wayang mBeber cerita-cerita purwa (Ramayana atau Mahabharata).

2.3 Wayang Demak (1478)
Berhubung wayang Beber mempunyai bentuk dan roman muka seperti gambar manusia, sedangkan hal itu sangat bertentangan dengan agama dan ajaran Islam, maka para Wali tidak menyetujuinya. Penggambaran manusia merupakan kegiatan yang dinilai menyamai, setidak-tidaknya mendekati kekuasaan Tuhan. Hal tersebut di dalam ajaran Islam adalah dosa besar. Akhirnya wayang Beber kurang mendapat perhatian oleh masyarakat Islam dan lenyaplah wayang Beber tersebut dari daerah kerajaan Demak. Kemudian para Wali menciptakan wayang purwa dari kulit yang ditatah dan disungging bersumber pada wayang zaman Prabu Jayabaya. Bentuk wayang diubah sama sekali, sehingga badan ditambah panjangnya, tangan-tangan memanjang hampir mendekati kaki. Selain itu leher, hidung, pundak dan mata diperpanjang supaya menjauhi bentuk manusia. Yang tinggal hanya gambaran watak manusia yang tertera pada bentuk wayang purwa tadi. Hal ini dilakukan pada tahun 1518 (1440 Caka, dengan sengkalan: sirna suci caturing dewa). Dan pada tahun 1511 (1433 Caka, dengan sengkalan: geni murub siniraming wong), semua wayang Beber beserta gamelanya diangkut ke Demak, setelah kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa wayang Kulit Purwa seperti yang kita lihat sekarang ini merupakan penjelmaan dari hasil ciptaan para Wali Sembilan (Wali Sanga) dalam abad ke-XVI.

2.4 Wayang Keling (1518)
Wayang Keling merupakan satu-satunya jenis wayang di daerah pesisir utara pulau Jawa, yakni di Pekalongan. Munculnya wayang tersebut berkaitan dengan masuknya agama Islam di Jawa, menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit (1518 – 1522). Masa pergolakan Majapahit (Paregreg), membuat orang-orang yang kokoh mempertahankan agama Hindu-Budha-nya lari berpencar ke daerahdaerah lain dan keturunan-keturunan mereka kemudian menciptakan
seni budaya baru dengan cerita-cerita pewayangan baru. Meskipun dalam sepintas lalu wayang Keling tersebut mirip wayang kulit Jawa, namun perbedaan nampak menonjol pada gelung cupit urang yang tidak sampai pada ubun-ubun. Antawacananya memakai bahasa rakyat setempat, dan satu hal yang menarik dalam pagelaran wayang Keling tersebut ialah bahwa tokoh Wisanggeni dan Wrekodara bisa bertata krama dengan menggunakan bahasa halus (Kromo Inggil).
Keling, seperti yang disebutkan dalam buku karya dua penulis R. Suroyo Prawiro dan Bambang Adiwahyu, semula bermaksud mengenang nenek moyang mereka yang datang dari Hindustan masuk ke Jawa untuk pertama kalinya, di samping itu juga sebagai kenang-kenangan dengan adanya kerajaan Budha di Jawa yang disebut kerajaan Kalingga. Wayang Kelingpun jauh berbeda dengan Wayang Purwa.
Silsilah wayang tersebut rupanya paling lengkap sejak zaman Nabi Adam, Sang Hyang Wenang hingga Paku Buwono IV yaitu raja Surakarta (Th. 1788 – 1820). Hal tersebut kiranya kurang rasioanl, mengingat tidak adanya buku-buku atau catatan-catatan resmi yang menyatakan bahwa Sang Hyang Wenang adalah keturunan Nabi Adam. Dalam pementasan wayang Keling, dalang berfungsi pula sebagai Pendita atau Bikhu dengan memasukkan ajaran-ajaran dari kitab Weda ataupun Tri Pitaka dalam usaha melestarikan agama Hindu dan Budha. Dengan demikian sang dalang termasuk juga sebagai pengembang faham Jawa (Kejawen) di daerah Pekalongan dan sekitarnya.

#27 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 01:58 PM

@GODStalker.. oke bro..
Ane punya beberapa sumber ttg wayang, ane harap bisa melengkapi info dr TS.



#28 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 02:30 PM

2.5 Wayang Jengglong
Selain wayang Keling, di Pekalongan masih terdapat pula pedalangan wayang Purwa khas Pekalongan yang disebut wayang Jengglong. Pergelaran wayang Jengglong menggunakan wayang purwa wanda khas Pekalongan dengan iringan gamelan laras Pelog. Sumber cerita pada umumnya diambil dari buku Pustaka Raja Purwa Wedhoatmoko.

2.6 Wayang Kidang Kencana (1556)
Wayang ini diciptakan oleh Sinuwun Tunggul di Giri yang tidak jelas dimana letak kerajaannya pada tahun 1556 (1478 Caka, dengan sengkalan: salira dwija dadi raja). Wayang Kidang Kencana berukuran lebih kecil dari pada wayang purwa biasa. Tokoh-tokoh diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Dalang-dalang wanita serta dalang anak-anak pada umumnya memakai wayang-wayang tersebut untuk pergelaranya, karena wayang Kidang Kencana tidak terlalu berat dibanding dengan wayang pedalangan biasa.

2.7 Wayang Purwa Gedog (1583)
Raden Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya (1546 – 1586) dari kerajaan Pajang membuat Wayang Purwa Gedog pada tahun 1583 (1505 Caka, dengan sengkalan: panca boma marga tunggal). Sangat disayangkan budayawan-budayawan Indonesia tidak menjelaskan bagaimana bentuk tokoh-tokoh wayang serta cerita untuk pergelaran wayang tersebut.

2.8 Wayang Kulit Purwa Cirebon
Perkembangan seni pewayangan di Jawa Barat, terutama bentuk wayang kulitnya, berasal dari wayang kulit Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal itu terbukti dari bentuk wayang purwa Cirebon yang kini hampir punah, serupa dengan bentuk wayang Keling Pekalongan, yakni gelung cupit urang pada tokoh-tokoh seperti Arjuna, Bima, Gathotkaca dan lain-lainya tidak mencapai ubun-ubun dan tokoh wayang Rahwana berbusana rapekan seperti busana wayang Gedog.
Menurut para sesepuh di Cirebon, babon dan wayang kulit Cirebon memang mengambil cerita dari kitab Ramayana dan Mahabharata, tetapi sejak semula tersebut telah dikembangkan dan dibuat dengan corak tersendiri oleh seorang tokoh yang disebut Sunan Panggung. Cirebon berpendapat bahwa tokoh Sunan Panggung tersebut merupakan indentik dengan Sunan Kalijaga, seorang Wali penutup dari jajaran dewan Wali Sanga. Maka dengan demikian, jelaslah bahwa materi Ramayana dan Mahabharata yang Hinduis itu telah banyak diperbaiki dan diperbaharui serta disesuaikan dengan dasardasar ajaran Islam. Selain itu, satu hal yang relevan dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa para dalang wayang kulit ataupun dalang-dalang wayang Cepak di Cirebon memperoleh ajarannya dari cara-cara tradisional. Ia menjadi dalang dengan petunjuk ayahnya atau kakeknya yang disampaikan secara lisan, sehingga sulit bagi kita untuk menghimpun sastra lisan tersebut sekarang ini.
Di wilayah Jawa Barat sedikitnya terdapat empat versi kesenian wayang kulit, yakni versi Betawi, Cirebon, Cianjur, serta Bandung dan masing-masing menggunakan dialeg daerah setempat. Melihat akan wilayah penyebaran kesenian wayang kulit yang bersifat kerakyatan itu, maka nampaklah suatu rangkaian yang hampir saling bersambungan dengan wilayah Banyumas, Pekalongan, Cirebon, Purwakarta, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, hingga Banten.
Nampaknya kesenian Wayang Kulit Cirebon masih mendapat tempat baik di lingkungan masyarakatnya dan penyebaranya dengan bahasa Cirebon Campuran yaitu campuran Jawa dan Sunda yang meliputi daerah-daerah seperti Kuningan, Subang, Majalengka, bahkan sampai Kabupaten Kerawang bagian timur.
Suatu ciri khas pada pagelaran Wayang Kulit Cirebon adalah katerlibatan para penabuh gamelan (niyaga) yang bukan hanya melatar belakangi pertunjukan dengan alat musiknya, tetapi dengan senggakan-senggakan lagu yang hampir terus-menerus selama pergelaran berlangsung. Difusi kebudayaan tersebut berjalan lama serta mantap, dan peranan Wali Sanga sebagai faktor dinamik dan penyebar unsur peradaban pesisir tidak boleh dilupakan begitu saja. Contoh menarik peranan Wali Sanga yang berkaitan dengan Cirebon sebagai salah satu komponen peradaban pesisir adalah unsur kebudayaan dalam ungkapan kegiatan religi, mistik dan magi yang membaur dan nampak dalam pertunjukan wayang. Para Wali sangat aktif dalam penciptaan-penciptaan seni pedalangan dan memanfaatkan seni karawitan untuk mengIslamkan orang-orang Jawa. Simbolisme dan ungkapannya nampak paling kaya dari seni karawitan dan seni pedalangan yang dimanfaatkan dalam setiap dakwahnya. Satu hal yang khas pula dalam jajaran wayang Kulit Cirebon, ialah apabila jumlah panakawan di daerah lainnya hanya empat orang, maka keluarga Semar ini berjumlah sembilan orang yakni Semar, Gareng, Dawala, Bagong, Curis, Witorata, Ceblek, Cingkring, dan Bagol Buntung, yang semuanya itu melambangkan sembilan unsur yang ada di dunia serta nafsu manusia, atau melambangkan jumlah Wali yang ada dalam melakukan dakwah Islam.

a. Raden Kumbakarna b. Raden Indrajit c. Prabu Rahwana
Wayang gaya Cirebon, dalam cerita Ramayana


2.9 Wayang Kulit Purwa Jawa Timur
Seperti halnya dengan daerah-daerah lainnya, antara lain Cirebon, Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, dan Jawa Timur pun mempunyai wayang kulit dengan coraknya sendiri dan sering di sebut wayang Jawatimuran atau wayang Jek Dong. Sebutan Jek Dong berasal dari kata Jek yaitu bunyi keprak dan Dong adalah bunyi instrumen kendang. Meskipun menggunakan pola wayang Jawa Tengah sesudah zaman masuknya agama Islam di Jawa, wayang kulit Jawatimuran mempunyai sunggingan dan gagrag tersendiri dalam pergelaranya, sesuai dengan apresiasi dan kreativitas selera masyarakat setempat.
Bentuk dan corak wayang kulitnya condong pada gaya Yoyakarta, terutama wayang perempuan (putren). Hal ini membuktikan bahwa sejak runtuhnya kerajaan Majapahit, kebangkitan kembali wayang kulit Jawatimuran dimulai sebelum terjadinya perjanjian Giyanti yang membagi kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Konon tercatat bahwa wayang gagrag Surakarta merupakan perkembangan kemudian setelah perjanjian Giyanti terlaksana. Ciri khas wayang kulit Jawatimuran yang mencolok terdapat pada beberapa tokoh wayang yang mengenakan busana kepala (irah-irahan) gelung yang dikombinasi dengan makutha (topong atau kethu dewa). Ciri lain terdapat pada tokoh wayang Bima dan Gathotkaca, yang di Jawa Tengah berwajah hitam atau kuning keemasan, namun di Jawa Timur berwajah merah. Beberapa tokoh dalang Jawatimuran menyatakan bahwa warna merah bukan berarti melambangkan watak angkara murka namun melambangkan watak pemberani. Selain itu tokoh wayang Gandamana pada wayang Jawa Tengah memiliki pola penggambaran karakter (wanda) yang mirip dengan Antareja atau Gathotkaca, tetapi pada wayang kulit Jawatimuran Gandamana tampil dengan wanda mirip Dursasana atau Pragota.
Contoh bentuk wayang Jawatimuran terakhir sebelum mengalami perubahan bentuk (deformasi) diperlihatkan oleh bentukbentuk arca pada relief di dinding candi Sukuh di gunung Lawu sebelah barat, yang salah satu reliefnya menggambarkan perkelahian Bima melawan raksasa dengan menunjukkan angka tahun 1361 Caka atau 1439 masehi. Jadi masih dalam zaman pemerintahan Prabuputri Suhita, raja Majapahit ke IV (1429 – 1447). Pada masa peralihan ke zaman Islam, wayang kulit Purwa Jawatimuran Kuna sudah lama berkembang dengan sempurna, mengingat kekuasaan kerajaan Majapahit sebelumnya yaitu yang meluas ke seluruh Nusantara, maka pedalangan Jawatimuran-pun sudah populer di daerah Jawa Tengah.
Dalam pergelaran wayang kulit gagrag Jawatimuran mempunyai karakteristik tersendiri dengan memiliki empat jenis pathet, yaitu pathet Sepuluh (10), pathet Wolu (8), pathet Sanga (9), dan pathet Serang, sedangkan di Jawa Tengah lazim mengenal tiga pathet, yaitu pathet Nem (6), pathet Sanga (9), dan pathet Manyura. Jumlah panakawan wayang kulit Jawatimuran juga berbeda. Jumlah nakawan yang ada di wayang kulit purwa Cirebon dengan sebanyak sembilan panakawan, Jawa Tengah dengan empat panakawan, maka panakawan dalam wayang kulit Jawatimuran ini hanya memiliki dua panakawan, yaitu Semar dan Bagong Mangundiwangsa. Kedua tokoh panakawan yang bersifat dwi tunggal itu agaknya menjadi ciri khas dalam dunia wayang Jawatimuran.
Jumlah panakawan dalam wayang Jawatimuran lainya dapat kita jumpai pada cerita-cerita Panji yang menampilkan Bancak dan Doyok atau Judeh dan Santa (Jurudyah dan Prasanta), sedangkan dalam lakon Darmarwulan kita temui panakawan Nayagenggong dan Sabdapalon seperti nampak pada lukisan-lukisan relief candi di Jawa Timur. Dengan demikian terdapat suatu kesimpulan, bahwa tokoh panakawan tersebut pada mulanya hanya dua orang. Hal ini besar kemungkinan ada kaitanya dengan alam dan falsafah kejawen, bahwa pasangan panakawan Semar dan Bagong tersebut merupakan lambang alam kehidupan manusia yang bersifat roh dan wadag. Semar merupakan rohnya dan Bagong memanifestasikan kewadagannya. Namun dalam perkembangannya panakawan diwayang Jawatimuran bertambah, yaitu Besut dengan perwujudan seperti Bagong hanya lebih kecil. Besut dalam wayang Jawatimuran berperan sebagai anak Bagong.
Bangkitnya kembali wayang kulit Jawa Tengah yang ditunjang oleh kalangan atas yaitu kalangan kraton, berkembang pula seni pedalangan wayang kulit Jawatimuran pada perbedaan tingkat dan prosesnya. Ia berkembang bukan dari kalangan kraton malainkan dari tingkah bawah ke masyarakat banyak. Daerah perkembangan wayang kulit Jawatimuran meliputi daerah Surabaya, Sidoarjo, Pasuruhan, Malang, Mojokerto, Jombang, Lamongan dan Gresik.

Batara Bayu (Jawatimuran)

Bagong dan Semar menghadap Berjanggapati


#29 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 02:47 PM

2.10 Wayang Golek (1646)
Sesuai dengan bentuk dan cirinya yang mirip boneka, bulat yang dibuat dari kayu, maka disimpulkan bahwa, berdasarkan bentuk yang mempunyai ciri-ciri seperti boneka itu, sehingga benda tersebut dinamakan wayang Golek. Pada akhir pergelaran wayang kulit purwa, maka dimainkan wayang yang bentuknya mirip boneka dan di namakan Golek. Dalam bahasa Jawa, golek berarti mencari. Dengan memainkan wayang Golek tersebut, dalang bermaksud memberikan isyarat kepada para penonton agar seusai pergelaran, penonton mencari (nggoleki) intisari dari nasehat yang terkandung dalam pergelaran yang baru lalu. Mungkin berdasarkan kemiripan bentuk itulah sehingga dinamakan wayang Golek.
Wayang-wayang tersebut diberi pakaian, kain dan baju serta selendang (sampur), dan dalam pementasanya tidak menggunakan layar (kelir). Sebagai pengganti lampu penerang pada wayang (blencong), sering dipakainya lampu petromak atau lampu listrik. Boneka-bonela kayu ini diukir dan disungging menurut macam ragamnya, sesuai dengan tokoh-tokoh wayang dalam epos Ramayana dan Mahabharata. Wayang Golek yang terbuat dari kayu dan berbentuk tiga dimensi itu, kepalanya terlepas dari tubuhnya. Ia dihubungkan oleh sebuah tangkai yang menembus rongga tubuh wayang dan sekaligus merupakan pegangan dalang. Melalui tangkai itulah dalang dapat menggerakkan kepala wayang dengan gerakan menoleh, serta dalang dapat menggerakan tubuh wayang dengan gerakan naik-turun. Tangan-tangan wayang Golek dihubungkan dengan seutas benang, sehingga sang dalang dapat bebas menggerak-gerakannya. Dalam buku Wayang Golek Sunda, karangan Drs. Jajang Suryana, M.Sn, dikatakan:
“Munculnya wayang Golek Purwa di Priyangan secara pasti berkaitan dengan wayang Golek Menak Cirebon yang biasa disebut wayang Golek Papak atau wayang Golek Cepak”.
Kaitannya antara kedua jenis wayang itu hanya sebatas kesamaan raut golek yang tiga demensi (trimatra), sementara unsur cerita golek yang secara langsung akan menentukan raut tokoh golek, sama sekali berbeda. Golek Menak bercerita tentang Wong Agung Menak, Raja Menak atau Amir Hamsyah yang berunsur cerita Islam. Sedangkan Golek Purwa bercerita tentang kisah yang bersumber dari agama Hindu yaitu Mahabharata dan Ramayana. Cerita yang dipentaskan umumnya cerita Ramayana dan Mahabharata, namun ada jenis wayang Golek yang mementaskan cerita Panji atau cerita Parsi yang bernuansa Islam.
Daerah Jawa Barat yang pertama kali kedatangan wayang Golek adalah daerah Cirebon. Wayang tersebut kemudian masuk ke daerah Priangan dan mulai digemari masyarakat Sunda. Pementasan wayang Golek tersebut menggunakan bahasa masyarakat Pasundan Jawa Barat. Pada umumnya masyarakat Jawa Barat menyebut wayang itu wayang Golek Sunda atau Golek Purwa, yang dalam pementasanya mengambil cerita-cerita berdasarkan kitab Ramayana dan Mahabharata. Wayang tersebut telah ada sebelum wayang Golek Menak diciptakan, yakni pada masa pemerintahan Prabu Amangkurat I di Mataram (1646 – 1677).
Pada pembukaan seminar pedalangan Jawa Barat I pada tanggal 26-29 Februari 1964 di Bandung, telah diwujudkan dan diciptakan wayang Golek baru, yang sesuai dengan perkembangan zaman, kemudian atas keputusan para pengurus yayasan pedalangan Jawa Barat wayang dengan bentuk pemanggungan yang baru tersebut, diberi nama Wayang Pakuan. Dalam pergelaran wayang Golek Pakuan tersebut dipentaskan pula cerita-cerita Babad Pajajaran, penyebaran agama Islam di Jawa Barat dan datangnya bangsa asing di Indonesia. Dengan cerita-cerita tersebut di atas maka tokohtokoh dalam wayang Golek Pakuan di antaranya seperti Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran serta Jan Pieterzoon Coen atau Murjangkung, Gubernur Jendral Hindia Belanda.
Pada awal abad ke-XIX Pangeran Kornel seorang Bupati Sumedang, Jawa Barat, terkenal sebagai pencipta wayang Golek Purwa Sunda yang bersumberkan pada wayang Golek Cepak dari Cirebon. Sejak munculnya wayang Golek Purwa Sunda tersebut, maka kesenian itu menjadi sangat populer dan dapat merebut hati rakyat Jawa Barat umumnya serta orang-orang Sunda di daerah Priangan Khususnya. Di daerah Jawa Tengah terdapat wayang golek dengan berbagai macam jenis dan disesuaikan dengan lakon pergelarannya. Tetapi pada umumnya wayang golek tersebut berbentuk wayang Golek Menak. Cerita pada umumnya adalah cerita-cerita Menak Wong Agung Jayengrana, yang bersumber pada serat Menak. Wayang golek tersebut kemudian terkenal dengan sebutan wayang Thengul.
Di Jawa Barat-pun terdapat wayang Golek Menak dengan cerita yang sama, bernafaskan Islam, yaitu kisah Amir Hamzah (paman Nabi Muhammad s.a.w.) beserta tokoh-tokoh lainnya seperti raja Jubin, Adam Billis, Tumenggung Pakacangan, Suwangsa, Pringadi, Panji Kumis, Raden Abas dan Umarmaya. Wayang-wayang tersebut disebut wayang Bendo. Sesudah kerajaan Demak runtuh, kraton pindah ke Pajang dan sebagian wayang-wayang di bawa ke Cirebon karena kerajaan Cirebon mempunyai hubungan yang erat dengan Demak. Maka tidak mengherankan kalau di Cirebon terdapat wayang Golek Purwa bercampur dengan wayang Golek Menak, sehingga dalam pementasannya disebut wayang Cepak. Wayang Golek Cepak tersebut membawakan lakon Menak dan disamping itu membawakan pula cerita-cerita sejarah perkembangan agama Islam di Jawa. Seirama dengan perkembangan serta kemajuan zaman dalam modernisasi wayang, sejak tahun 70-an wayang Golek Sunda ini dilengkapi dengan pemakaian keris serta Praba yang terbuat dari kulit berukir (ditatah dan disungging) untuk tokoh-tokoh wayang tertentu, seperti Kresna, Gathotkaca, Baladewa, Rahwana dan lainnya.

Wayang Golek Pakuan
Adegan Jan Pieterszoon Coen dan Prabu Siliwangi


2.11 Wayang Krucil (1648)
Raden Pekik di Surabaya membuat wayang Krucil pada tahun 1648 (1571 Caka, dengan sengkalan: watu tunggangngane buta widadari). Wayang ini dibuat dari kayu pipih (papan) berbentuk seperti wayang kulit dan diukir seperlunya. Hanya tangan-tangannya terbuat dari kulit. Pertunjukan wayang ini dilakukan pada umumnya di siang hari dan tidak menggunakan kelir. Kemudian untuk seterusnya wayang Klithik ini digunakan untuk pergelaran cerita Damarwulan-Minakjingga, sedang wayang Krucil untuk cerita-cerita dari kitab Mahabharata, yang kemudian wayang tersebut disebut wayang golek Purwa. Cerita Damarwulan-Minakjingga adalah melambangkan pertentangan antara Damarwulan sebagai bulan dan Minakjingga sebagai matahari.
Wayang Klithik juga mengenal ciri-ciri menurut gayanya antara lain gaya Yogyakarta, gaya Surakarta, dan gaya Mangkunegaran. Pada gaya Yogyakarta bentuk wayang tersebut nampak kurang anatomis terutama pada pahatan kakinya, sehingga mengarah pada bentuk primitif.
Sedangkan gaya Surakarta dan gaya Mangkunegaran mendekati bentuk wayang kulit yang nampak arstistik dan mengarah pada sifat kehalusan dan ketenangan. Untuk mengiringi pertunjukan wayang Klithik dipakainya gamelan dengan laras Slendro yang berjumlah lima macam, yakni kendang, saron, kethuk-kenong, kempul barang dan gong suwuk-an. Irama gamelan pada umumnya sangat monotoon seperti irama kuda lumping (jathilan).
Pada setiap adegan jejeran ki dalang mengiringinya dengan tembang macapat seperti Dandang Gula, Sinom, Pangkur, Asmaradana dan lain sebagainya. Tembang-tembang tersebut berperan sebagai suluk dalam pertunjukan wayang kulit. Pada masa lalu pertunjukan wayang Klithik merupakan pertunjukan
ritual sakral tak ubahnya seperti pertunjukan wayang kulit Purwa. Namun karena kondisi dan vareasi pertunjukannya yang secara teknis terlalu statis serta dalang yang berpegang teguh pada aturan baku dan sangat terikat pada lakon tertentu, tanpa mau mengembangkannya, sehingga pertunjukan tersebut tidak mampu memenuhi selera zaman dan banyak penonton yang meninggalkannya. Selain itu ceritanyapun berkisar pada babad Majapahit tanpa timbulnya cerita-cerita carangan atau gubahan baru. Pengaruh modernisasi dan waktu memang membuat banyak upacara-upacara ritual yang sakral serta seni budaya tradisional makin lama makin lenyap karena telah kehilangan pamornya.

Wayang Golek Cirebon atau Wayang Cepak


#30 vbond15

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 102 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 06:28 PM

wow bnyk bngt wayangnya. nice post

#31 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 07:26 PM

2.12 Wayang Sabrangan (1704)
Paku Buwono I (1704 – 1719) membuat wayang Sabrangan atau tokoh dari daerah seberang dengan pemakaian baju pada tahun 1703 (1625 Caka, dengan sengkalan: buta nembah ratu tunggal).
Wayang tersebut merupakan salah satu jenis dari wayang purwa di samping jenis wayang raksasa (raseksa) dan kera (kethek).

2.13 Wayang Rama (1788)
Paku Buwono IV (1788 – 1820) membuat wayang Rama yang khusus diciptakan untuk mempergelarkan cerita-cerita dari kitab Ramayana. Dalam wayang tersebut terdapat banyak wayangwayang kera dan raksasa, yang dibuat pada tahun1815 (1737 Caka, dengan sengkalan: swareng pawaka giri raja).

2.14 Wayang Kaper
Wayang kaper adalah wayang yang ukurannya lebih kecil di banding wayang Kidang Kencana. Wayang ini pada umumya digunakan untuk permainan anak-anak yang mempunyai bakat mendalang. Yang membuat wayang kaper tersebut umumnya orang kaya atau kaum bangsawan untuk menghibur diri dan untuk permainan anak cucu mereka. Wayang tersebut disebut kaper karena kecil bentuknya, kalau dimainkan sabetan tidak begitu lincah dan hanya nampak menggelepar-gelepar saja. Bilamana kena cahaya lampu, geleparangeleparan itu bagaikan kupu-kupu kecil yang terbang dekat lampu di malam hari.
Pementasan wayang kaper tersebut menggunakan kelir dan blencong yang biasa dilakukan dalang anak anak (bocah) dengan mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata. Seperti halnya wayang kulit Purwa lainnya, wayang Kaper tersebut dibuat dari kulit yang ditatah dan disungging pula.

2.15 Wayang Tasripin
Tasripin almarhum seorang saudagar kaya yaitu pedagang kulit di Semarang, Jawa Tengah. Tasripin membuat wayang kulit gaya Yogyakarta dicampur gaya Pesisiran dengan ukuran luar biasa besarnya. Dibuat wayang tokoh Arjuna sebesar tokoh Kumbakarna, wayang terbesar dan tertinggi dari wayang pedalangan, sedangkan wayang-wayang lainnyapun ikut membesar dan sebanding dengan wayang Arjuna tadi.
Wayang-wayang sebesar itu tidak mungkin untuk dipentaskan karena terlalu besar dan berat serta tidak ada seorang dalangpun yang mampu memainkannya. Wayang-wayang tersebut dilapisi kertas emas (diprada), ditatah serta disungging, dan hanya untuk pameran belaka yang kemudian disebut wayang Tasripin.

2.16 Wayang Kulit Betawi atau Wayang Tambun.
Wayang Kulit Betawi ini merupakan satu-satunya teater boneka di kalangan masyarakat Betawi. Grup wayang kulit ini masih terdapat di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Wilayah Bekasi terutama Kecamatan Tambun merupakan wilayah yang paling potensial bagi wayang kulit Betawi tersebut, baik dalam arti kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat dimaklumi kalau ada beberapa orang yang menamakan teater ini dengan nama wayang Tambun.
Para ahli pedalangan berpendapat, bahwa wayang kulit Betawi berasal dari Jawa Tengah, yang kedatangannya di Jakarta dan sekitarnya dihubungkan dengan penyerangan Sultan Agung ke Batavia (Batavia = Jakarta) pada zaman Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen (1628 – 1629). Bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk wayang kulit di sepanjang pantai utara Jawa Barat mulai dari Cirebon, Indramayu, Pamanukan, Cilamaya, Karawang sampai Tambun dan Jakarta, nampak pada wayang kulit tersebut adanya persamaan yang cukup mencolok, sehingga pendapat yang mengatakan, bahwa wayang kulit Betawi merupakan suatu pengaruh yang beranting dari Jawa Tengah.
Adanya persamaan temperamen antara wayang kulit Betawi dengan wayang kulit Banyumas, ini dapat terlihat dengan adanya persamaan pada alat musik pengiring yang berupa gambang. Pada wayang kulit Betawi di masa lampau, alat musik gambang tersebut di buat dari bambu seperti gamelan Calung pada wayang kulit Banyumas.
Wayang kulit Betawi ini banyak mendapat pengaruh dari wayang Golek Sunda, baik dalam lagu, sabetan, dan lakonnya. Dalam hal lagu walaupun iramanya sepintas lalu Sunda, pada hakekatnya lagu-lagu ini adalah perpaduan antara Sunda dan Betawi, yang sejak semula sudah ada pada musik Gamelan Ajeng Betawi. Kaidah adalah apa yang mereka pelajari dari guru-guru mereka. Benar atau tidaknya ajaran tersebut, bilamana ditinjau dari kaidah dan yang ada di Jawa Tengah, tidaklah menjadi halangan bagi mereka. Wayang kulit Betawi pada hakekatnya benar-benar merupakan suatu seni rakyat yang unsur improvisasi dan spontannitasnya mengambil bagian yang terbanyak dari suatu pertunjukan. Keterlibatan penabuh gamelan terlihat sangat kental dan bahkan para penonton juga terlibat dalam pertunjukannya, hal tersebut terjadi secara spontan dan wayang kulit Betawi memang benar-benar menampilkan sesuatu yang spesifik dalam seni rakyat dimana pemain dan penonton melebur menjadi suatu totalitas yang akrab.
Cerita yang ada pada wayang kulit Betawi hanya mengandalkan apa yang mereka sebut Kanda Keling dan Kanda Mataram. Kanda Keling adalah apa yang diterima dari guru mereka, sehingga dua orang dalang yang berguru pada dua orang guru yang berlainan, bisa memainkan lakon yang berbeda pula. Sedangkan Kanda Mataram adalah lakon yang dikarang atau diciptakan ki dalang sendiri dengan memasukan hal-hal baru di dalamnya, dan dalang menutup pertunjukannya dengan lagu Wayangan Giro.
Dari segi sastra, wayang Tambun sudah sejak dulu memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya, yaitu bahasa Indonesia Kuna (Melayu) yang lazim dipakai masyarakat Tambun dengan corak iringan gamelan yang bernada ke-Sundaan. Bagi masyarakat Betawi, wayang Tambun ini disebut Wayang Kulit Tambun.

Wayang Kulit Betawi atau Wayang Tambun


2.17 Wayang Ukur
Tergugah oleh jiwa seninya pada masa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta, Sukasman merasa heran mengapa dalam Akademi tersebut, seni rupa wayang yang telah merupakan suatu masterpiece yang adiluhung itu tidak dimasukan kurikulum. Setelah memperhatikan bentuk-bentuk wayang dari zaman ke zaman yang telah diciptakan sejalan dengan pengungkapan jiwa manusia, maka terlihatlah bahwa wayang-wayang itu mendapatkan
perubahan-perubahannya, baik dalam bentuk tinggi besarnya maupun dalam ornamen-ornamennya, contoh, seperti yang terlihat pada tokoh Kresna. Pada gaya Surakarta tokoh tersebut dilengkapi dengan garuda mungkur pada irah-irahannya, sedang gaya Yogyakarta memakai merak mungkur. Demikian pula nampak jelas bila kita perhatikan ornamen-ornamen wayang kulit gaya pesisiran, antara lain wayang kulit Cirebon dan wayang kulit Pekalongan.
Terkesan oleh perubahan-perubahan bentuk serta ornamen-ornamen pada wayang, yang jelas nampak pada gaya Surakarta, Yogyakarta dan Cirebon serta Kedu, maka pada tahun 1964 Sukasman telah menciptakan jenis wayang baru yang dinamakan wayang Ukur, yang proses pembuatannya selalu diukur-ukur bentuk tinggi dan panjang pundak wayang-wayang ciptaannya itu. Berkalikali ia mengadakan perubahan-perubahan pada beberapa bagian bentuk wayangnya sampai ia merasa puas akan hasil ciptaanya yang cocok dengan rasa dan jiwa seninya. Dalam mengadakan perubahan perubahan tersebut ia membuat ukuran sendiri, sehingga berdasarkan teknik pembuatannya itu, maka wayang ciptaannya itu dinamakan wayang Ukur. Sunggingan serta tatahan wayang tersebut nampak lain dari wayang purwa biasa dan ini memang merupakan ciri khas dari wayang Ukur ciptaan Sukasman. Dalam pertunjukannya, wayang Ukur menggunakan kelir sebagai tempat memainkan wayang (jagadan wayang).

Batara Guru (Wayang Ukur)


#32 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 07:38 PM

2.18 Wayang Mainan (Dolanan)
Wayang sebagai karya seni mencakup seni rupa, seni ketrampilan, dan seni khayal. Harus diakui pula wayang yang konon lahir di India dan kini hidup serta berkembang di Jawa itu, sekarang telah menjadi milik bangsa Indonesia sebagai suatu karya seni tradisional Indonesia.
Anak-anak di desa sering dalam menggembalakan ternak meluangkan waktu untuk membuat boneka-boneka wayang dari tangkai-tangkai rumput atau tangkai daun singkong. Dianyamnya beberapa genggam batang rumput atau daun singkong tersebut hingga berbentuk wayang dan dimainkannya dengan berkhayal sebagai seorang dalang wayang yang pernah dilihatnya. Wayang-wayang tersebut biasa dinamakan wayang Suketan (rumput) atau wayang Domdoman (nama jenis rumput), karena rumput yang biasa mereka gunakan untuk membuat wayang tersebut adalah jenis rumput domdoman.
Selain dari bahan rumput atau daun singkong, dapat pula mereka membuatnya dari daun kelapa (blarak), tapi hasil karya wayang-wayang tersebut tidak dapat bertahan lama. Jika diinginkan hasil karya yang dapat bertahan agak lama, biasanya mereka membuat wayang Bambu. Wayang jenis ini dapat dijumpai di daerah Wonosari, Yogyakarta, yang dibuat dari irisan-irisan bambu yang dianyam, sehingga berbentuk boneka wayang. Akan tetapi, kini telah banyak diperdagangkan yaitu wayang yang terbuat dari kardus untuk mainan anak-anak. Wayang kardus ini bahan dasarnya adalah kardus atau karton bekas pembungkus yang di beri warna ala kadarnya dan ditatah sangat sederhana. Maka jelas bahwa wayang-wayang tersebut tidak dapat tahan lama dan mudah rusak.
Di Yogyakarta hingga tahun 1984 masih dapat dijumpai wayang-wayang kardus hasil pengrajin wayang. Wayang-wayang tersebut sering dipakai oleh siswa-siswa dalang atau untuk penguburan tokoh. Wayang yang perlu dikubur atau dihanyutkan di laut (dilabuh) setelah gugur dalam pementasan, antara lain: Kumbakarna, Durna, dan lain-lainnya. Untuk penguburan ataupun labuhan wayang-wayang tersebut diperlukan upacara tersendiri.
Wayang sebagai mainan anak-anak pernah pula dijumpai di Yogyakarta tempo dulu, bahkan sampai ke kota Batavia atau Betawi (Betawi = Jakarta) yang terbuat dari singkong, wayang tersebut dinamakan wayang Telo (singkong) di Yogyakarta, wayang Opak (Jakarta) yang terbuat dari parutan telo (ampas singkong) dan dibentuk seperti boneka wayang dan diberi gapit (tangkai wayang) dari bambu.

2.19 Wayang Batu atau Wayang Candi (856)
Dari uraian di atas, maka terdapatlah suatu dasar dalam pemberian nama jenis wayang yang antara lain karena ceritanya, sehingga wayang tersebut dinamakan wayang Purwa, wayang Menak, ataupun wayang Madya. Bila dilihat dari segi pertunjukannya atau pementasannya dengan membeberkan wayang-wayang tersebut maka wayang itu dapat dinamakan wayang Beber. Sedangkan kalau dilihat dari segi bonekanya, maka wayang itu dapat dibagi menjadi wayang Golek, wayang Kulit, wayang Wong (orang) dan sebagainya.
Dengan adanya cerita-cerita wayang yang tergambar secara permanen pada dinding candi sebagai hiasan, maka dikenal orang sebagai wayang Batu atau wayang Candi, yang antara lain terdapat pada candi atau tempat-tempat pemujaan sebagai berikut Candi Prambanan ( + tahun 856), 17 km dari Yogyakarta di tepi jalan raya Yogyakarta – Surakarta, memuat cerita tentang Kresna, Candi Lara Jonggrang ( + tahun 856) dalam kompleks Candi Prambanan, memuat cerita Ramayana, Pemandian Jalatunda, Malang, Jawa Timur ( + 977), memuat cerita Sayembara Drupadi, Gua Selamangkleng di Kediri, Jawa Timur abad ke-X memuat cerita Arjuna Wiwaha, Candi Jago di Tumpang, Malang, Jawa Timur ( + tahun 1343), memuat cerita Tantri, Kunjarakarna, Partayadna, Arjuna Wiwaha dan Kresnayana, Gua Pasir di Tulungagung, Jawa Timur, ( + 1350), memuat cerita Arjuna Wiwaha, Candi Penataran di Blitar ( + 1197 – 1454), memuat cerita Sawitri dengan Setiawan yang disertai panakawan gendut, dan cerita Ramayana, Candi Tegawang di Kediri ( + 1370), memuat cerita Sudamala, dengan Sadewa yang diiringi panakawan bertubuh gendut dan Durga diikuti oleh dua orang raseksi, Kedaton Gunung Hyang ( + 1370), memuat cerita abad ke-XV, yakni cerita tentang Rama, Bimasuci, Mintaraga, dan cerita Panji, Candi Sukuh dekat Tawangmangu ( + tahun 1440) 36 km dari Surakarta ke arah timur, memuat cerita Sudamala, Gameda, dan Bimasuci.

Wayang Candi


2.20 Wayang Sandosa
Sejak tahun 1984 Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) yang berkedudukan di Sala-Surakarta telah melakukan eksperimen baru dengan pergelaran wayang berbahasa Indonesia. Pentas wayang kulit tersebut dengan sistem pementasan yang menggunakan dua orang dalang atau lebih. Diilhami oleh pementasan wayang kulit Len Nang dari Kamboja, wayang eksperimen PKJT yang disebut wayang Sandosa tersebut, merupakan pergelaran yang tidak jauh berbeda dengan pergelaran wayang kulit biasa. Perbedaannya ialah, bahwa wayang Sandosa menggunakan beberapa orang dalang dan teknik mendalangnya dilakukan dengan cara berdiri, juga latar pakeliran wayang Sandosa dibuat lebih besar dan lebih tinggi dari pada pakeliran wayang kulit biasa.
Dalam pementasan wayang Sandosa yang diselenggarakan selama satu atau dua jam itu, tidak selalu dimulai dengan suluk ki dalang. Bunyi gamelan tidak lagi selaras pada pagelaran wayang kulit umumnya, tapi telah merupakan nada dan irama yang beraneka ragam. Hal tersebut karena cerita yang dipergelarkan dapat dimulai dari suasana perang dan diiringi gending yang berirama gobyog temporer.
Walaupun dari segi iringan telah keluar dari aturan-aturam gending tradisional dan atau wayang pada umumnya, justru mempunyai daya komunikasi yang lebih kuat pada kalangan muda. Peragaan wayang dilakukan sambil berdiri di balik layar yang luas dengan sorot cahaya lampu yang berubah-ubah serta berwarna-warni. Untuk memperoleh bayangan yang besar maka ki dalang menggerakkan wayang dengan mendekat ke lampu.
Bagaimanapun juga, ternyata wayang Sandosa yang bersifat kolektivitas dengan bentuk mirip teater di balik layar itu, telah menambah khasanah budaya bangsa kita.

2.21 Wayang Wong (Wayang Orang) (1757 – 1760)
Salah satu pengisian Kebudayaan Nasional pada pergelaran wayang serta untuk meresapi seni dialog wayang (antawacana) dan menikmati seni tembang, K.B.A.A. Mangkunegoro I (1757 – 1795) telah menciptakan suatu seni drama Wayang Wong yang pelaku-pelakunya terdiri dari para pegawai kraton (Abdi Dalem). Menurut K.P.A. Kusumodilogo dalam bukunya yang berjudul Sastramiruda tahun 1930 menyatakan, wayang wong tersebut dipertunjukan untuk pertama kalinya pada pertengahan abad ke-XVIII ( + 1760). Konon wayang ini mendapat tantangan yang hebat, bahkan dengan adanya perubahan bentuk tersebut diramalkan orang kelak akan timbul kesulitan
atau celaka dan penyakit, demikian menurut disertasi Dr. G .A.J. Hazeu di Leiden pada tahun 1897 dengan judulnya Bijdrage tot het Kennis van het Javaansche Tooneel. Ternyata pendapat tersebut adalah tidak benar, karena setelah pergelaran wayang wong ini di tangani sendiri oleh Mangkunegoro V pada tahun 1881, wayang tersebut menjadi hidup kembali.
Sesuai dengan nama atau sebutannya, wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang, melainkan menampilkan menusia-manusia sebagai pengganti boneka wayang. Kini nampak jelas, bahwa jenis-jenis wayang seperti wayang Purwa, wayang Gedog, mendapatkan namanya dari sifat cerita yang ditampilkan, sedangkan wayang Golek, wayang Wong berdasarkan ciri-ciri teknis ataupun bentuk pada boneka-bonekanya. Sebagai seni hiburan, wayang Wong telah tersebar luas dan dibeberapa kota besar telah berdiri perkumpulan-perkumpulan wayang orang dengan berbagai macam nama serta mutunya. Namun umumnya perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi wayang tersebut merupakan wayang orang Purwa, karena pementasannya menggunakan cerita epos Ramayana dan Mahabharata serta dengan iringan gamelan Jawa laras Slendro dan Pelog.

#33 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 07:54 PM

3 Wayang Madya
Wayang ini dicipta pada waktu Pangeran Mangkunegoro IV (1853 – 1881) berusaha menggabungkan semua jenis wayang yang ada menjadi satu kesatuan serta disesuaikan dengan sejarah Jawa sejak beberapa abad yang lalu sampai masuknya agama Islam di Jawa dan diolah secara urut. Semula Sri Mangkunegoro IV menerima buku Serat Pustaka Raja Madya dan Serat Witaradya dari Raden Ngabehi Ronggo Warsito (1802 – 24 Desember 1873) pada tahun 1870 (1792 Caka).
Buku tersebut berisikan cerita riwayat Prabu Aji Pamasa atau Prabu Kusumawicitra dari negeri Mamenang di Kediri, yang kemudian kerajaan tersebut pindah ke Pengging atau disebut Pengging Witaradya. Kesimpulan dari isi buku tersebut berkaitan dengan buku Serat Pustaka Raja Purwa, yang menceritakan riwayat dewa-dewa, riwayat para Pandawa sampai akhir perang Bharatayuda. Lalu timbullah gagasan Sri Mangkunegoro IV untuk membuat jenis wayang baru, yang dapat menyambung zaman Purwa dengan zaman Jenggala dengan cerita-cerita Panji. Dari gagasan tersebut maka terciptalah jenis wayang baru yang disebut wayang Madya. Wayang Madya adalah satu jenis wayang yang menggambarkan dari badan-tengah ke atas berwujud wayang Purwa, sedang dari badan-tengah ke bawah berwujud wayang Gedog. Wayang Madya tersebut memakai keris dan dibuat dari kulit, ditatah dan disungging. Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegoro IV membagi sejarah wayang dalam tiga masa yang disesuaikan dengan jenis-jenis wayang untuk ketiga masa tersebut, yaitu masa pertama dari tahun 1 – 785 Caka (tahun 78 – 863 Masehi), dari kedatangan Prabu Isaka (Ajisaka) sampai wafatnya Maharaja Yudayana di kerajaan Astina, yang disebut wayang Purwa, masa kedua dari tahun 785 – 1052 Caka (tahun 863 – 1130 Masehi), sampai Prabu Jayalengkara naik tahta, yang disebut wayang Madya (bahasa Sanskerta: madya = tengah), masa ketiga dari tahun 1052 – 1552 Caka (tahun 1130 – 1431 Masehi), sampai masuknya agama Islam, yang disebut wayang Wasana (bahasa Sanskerta: wasana = akhir)

Yudayaka (Wayang Madya)

Tokoh-tokoh wayang yang mendominasi akhir wayang purwa adalah putra-putra keturunan Pandawa antara lain Sasikirana anak Gathotkaca, Sangasanga anak Satyaki, Dwara anak Samba, serta anak-anak keturunan Parikesit, yaitu Yuda-yaka, Yudayana, dan Gendrayana. Gendrayana adalah cucu Perikesit yang merupakan tokoh terakhir dari wayang Purwa dan kemudian dilanjutkan oleh Prabu Jayabaya putra Gendrayana, sebagai tokoh Pemula dari wayang Madya.
Salah satu cerita wayang Madya bersumber pada Serat Anglingdarma yang aslinya terdapat di Sasana Pustaka Kraton Surakarta dengan tokoh-tokoh wayang seperti Angklingdarma dari kerajaan Malwapati serta Batik Madrim sabagai patihnya. Ciri khas wayang Madya adalah suatu kombinasi perwujudan wayang Purwa dengan wayang Gedog yang tidak satupun tokoh wayangnya menggunakan busana gelung cupit urang, sedang semua wayang Madya menggunakan rambut yang terurai ke bawah seperti pada tokoh wayang Purwa Lesmana Mandrakumara yaitu putra Prabu Duryudana dari negara Astina kelurga Kurawa.

4 Wayang Gedog
Arti istilah Gedog adalah, bahwa gedog tersebut berasal dari suara dog, dog yang ditimbulkan dari ketukan sang dalang pada kotak wayang yang terletak di samping dalang. Akan tetapi oleh sarjana-sarjana barat kata gedog ditafsirkan sebagai kandang kuda (bahasa Jawa: gedogan = kandang kuda). Dalam bahasa kawi gedog berarti kuda. Penafsiran lain kata gedog tersebut adalah batas antara siklus wayang Purwa yang mengambil cerita serial Ramayana dan Mahabharata dengan siklus Panji. Namun demikian sampai sekarang belum juga dapat ditafsirkan, mengapa kata gedog tersebut dipakai untuk suatu jenis wayang. Bentuk seni rupa wayang Gedog yang terbuat dari kulit yang ditatah dengan sunggingan yang serasi mengambil pola dasar wayang kulit Purwa jenis satriya sabrangan. Hanya empat jenis muka
yang terdapat pada wayang Gedog ini antara lain muka dengan mulut meringis bertaring (gusen), muka dengan mata kedondong muka dengan mata jahitan, dan muka dengan hidung besar di bagian depan (dempok). Dalam pementasan wayang Gedog ini tidak menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata, tetapi menggunakan cerita-cerita Panji.
Wayang Gedog tersebut terbuat dari kulit yang ditatah dan disungging, terdapat pula yang terbuat dari papan yang diukir dan disungging, tetapi tangan-tangannya masih terbuat dari kulit. Untuk pementasan wayang ini diambil cerita Darmarwulan – Minakjingga, dan wayang tersebut kemudian dinamakan wayang Klithik.

Wayang Gedog (Prabu Bromosekti, Raden Gunungsari, Ronggolawe, Prabu Klono
Madukusumo)


4.1 Wayang Klithik
Wayang Klithik mempunyai bentuk dan bahan khusus. Bentuknya menyerupai wayang kulit, yakni terdiri dari dua dimensi, dengan bahan yang terbuat dari kayu meskipun tidak sama dengan wayang Golek yang bentuknya tiga dimensi. Wayang Klithik tidak memakai gapit seperti wayang kulit sebab gapit-nya sekaligus merupakan lanjutan dari badan wayang yang terbuat dari kayu itu, dan berbentuk kayu pipih.
Menurut sejarahnya wayang Klithik terbuat seluruhnya dari kayu, namun karena berat selalu mendapat kesukaran untuk dimainkan, akhirnya wayang tersebut mengalami sedikit perubahan, yakni dengan dibuatnya tangan wayang dari kulit. Seperti halnya dengan pembuatan pada wayang Golek, wayang Klithik tersebut juga diukir dan disungging. Pergelaran wayang Klithik tidak menggunakan layar atau kelir, sehingga penonton dapat langsung melihat wajah sang dalang, tetapi pernah pula menggunakan kelir yang dibagian tengah terpaksa dilubangi selebar arena pergelaran. Sebagai tempat menancapkan wayang-wayang tersebut, maka dalam pergelaran wayang Klithik dipakainya kayu atau bambu tempat untuk menancapkan wayang (slanggan), yang diberi lubang sebesar tangkai wayang tersebut. Gamelan yang perlu disediakan untuk pergelaran wayang Klithik lebih sederhana, yaitu saron, kendang, kethuk-kenong, dan kempul barang tanpa menggunakan gong, karena kempul berfungsi sebagai gong. Untuk lampu penerang digunakannya blencong dengan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya, namun dewasa ini sudah sering digunakan lampu petromak atau lampu listrik.
Wayang Klithik menggunakan Babad Pajajaran dari kisah Ciungwanara sampai Majapahit. Keseluruhannya ada dua belas lakon dan lakon yang paling populer adalah lakon Damarwulan Ngenger sampai gugurnya Minakjingga. Motif dan bentuk wayang Klithik serupa dengan bentuk wayang kulit Gedog, sedangkan yang bermotif wayang kulit purwa lazim disebut wayang Krucil, yang dalam pergelarannya mengambil cerita Ramayana dan Mahabharata.

Wayang Klitik (Adegan Raden Damarwulan beserta abdi panakawan Sabdapalon dan Nayagenggong)


#34 jason voorhess

    BlueFame Holic

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 2,698 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 08:13 PM

wah, lengkap banget dari bro iszro'il
thanks, nambah pengetahuan nih,..

#35 bambu.ijo

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 48 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 08:58 PM

gw dirumah ada 1 replika wayang Arjuna buat hiasan...

#36 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 10:11 PM

4.2 Langendriyan
Pada akhir abad ke-XIX pada saat pergelaran wayang Klithik atau Krucil mendekati kepunahannya, maka muncullah kesenian Langendriyan. Pementasan Langendriyan bermula pada pengadaan acara mocopatan, yaitu membaca buku babad yang berbentuk tembang. Pembacaan tembang tersebut dilakukan seorang demi seorang secara bergilir yang ketika itu kisah Damarwulan merupakan kisah yang sangat digemari.
Langendriyan melibatkan unsur tata pentas, tata gerak (tarian), dan tata busana, seni suara (nyanyian). Bentuk kesenian tersebut semula bernama Mundringan, setelah disempurnakan oleh K.G.P.A. Mangkubumi pada tahun 1876 disebut Langendriyan. Menurut Ensiklopedi Indonesia, Langendriyan adalah suatu bentuk drama tari Jawa yang menitik beratkan pada unsur tari dan seni suara. Dialog dalam drama tari tersebut dilakukan dengan tembang, sehingga pentas tersebut boleh dikatakan semacam opera berbahasa Jawa, dengan cerita yang khusus mengenai Panji (Damarwulan-Minakjingga) dari zaman Majapahit.
Hingga dewasa ini, orang tidak dapat menyatakan dari mana Langendriyan itu berasal. Ada yang berpendapat bahwa kesenian tersebut semula berasal dari Mangkunegaran-Surakarta, yang diciptakan oleh K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV (1853 – 1881). Ada pula yang menyatakan bahwa Langendriyan tersebut berasal dari Makubumen-Yogyakarta, yang diciptakan oleh K.G.P.A. Mangkubumi, adik Sultan Hamengku Bhuwono VII (1877 – 1921). Berkat usaha K.G.P.A.A. Mangkunegoro VII, maka naskah-naskah Langendriyan Mangkubumen berhasil diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun
1953.

5. Wayang Menak
Kyai Trunodipo dari kampung Baturetno-Surakarta mencipta wayang Menak, setelah ia menjual wayang Madya hasil karyanya kepada Mangkunegoro VII. Wayang Menak ini terbuat dari kulit yang ditatah dan disungging seperti halnya dengan wayang kulit Purwa, sedang wayang Menak yang terbuat dari kayu dan merupakan wayang Golek disebut wayang Thengul. Maksud Kyai Trunodipo membuat wayang Menak adalah untuk mementaskan cerita-cerita yang bersumber pada serat Menak dengan tokoh-tokoh Menak seperti Wong Agung Jayengrana atau Amir Hambiyah, Umar Maya dan lain-lainnya. Wayang-wayang ini kemudian dibeli oleh R.M. Ng. Dutoprojo.
Dalam pementasan wayang Menak kita jumpai dua macam bentuk wayangnya antara lain yang berupa wayang golek dan wayang kulit. Pementasan wayang Menak di Jawa Tengah pada umumnya menggunakan wayang golek Menak yang disebut wayang Thengul. Pementasan wayang kulit Menak ini menggunakan kelir dan blencong. Sedangkan pakelirannya mengambil cerita berdasarkan serat Menak. Bentuk keseluruhan wayang kulit Menak dapat dikatakan serupa dengan wayang kulit Purwa, hanya raut muka wayang-wayangnya hampir menyerupai muka manusia. Tokoh-tokoh wayang dalam cerita tersebut mengenakan sepatu dan menyandang salah satu jenis senjata berbentuk pedang (klewang), sedangkan tokoh-tokoh raja mengenakan baju dan memakai senjata keris.
Cerita Menak semula bersumber dari kitab Qissai Emr Hamza, sebuah hasil kesusasteraan Persia pada zaman pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid (766 – 809). Di daerah Melayu kitab tersebut lebih dikenal dengan nama Hikayat Amir Hamzah. Berdasarkan hikayat itulah yang dipadu dengan cerita Panji, akhirnya lahir cerita Menak. Dalam cerita ini nama-nama tokohnya disesuaikan dengan nama Jawa, antara lain Omar Bin Omayya menjadi Umar Maya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi’ul Zaman menjadi Iman Suwongso, Mihrnigar menjadi Dewi Retno Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, Unekir menjadi Dewi Adininggar, dan lain-lainnya.
Cerita Menak pada garis besarnya, mengisahkan permusuhan Emr Hamza (Wong Agung Jayengrana) dari Mekah dengan raja Nushirwan (Nusirwan), mertuanya dari Medain (Medayin) yang masih kafir.
Kadis Makdum purwaking ginupit, ring sang duta kataman duhkita,.........demikian sebagain pembuka pada serat Menak, terbitan Balai Pustaka. Menurut sumber cerita dari Persia yang mengisahkan Wong Agung tidak hanya kembali ke Mekah, namun telah bertemu dengan Nabi serta terjadinya pertempuran hingga meninggalnya Wong Agung tersebut.
Memang banyak perbedaan-perbedaan yang terdapat pada serat Menak antara pengarang yang satu dengan yang lainnya, antara serat Menak karya tulis R.Ng. Yosodipuro dengan berpuluh-puluh naskah yang tersimpan dalam perpustakaan Bataviaasche Genootschap di Jakarta dulu, bila dibandingkan dengan naskah yang didatangkan dari Leiden-Belanda, yang berasal dari kraton Surakarta.
Cerita-cerita Menak banyak dipergelarkan dalam bentuk pentas wayang Golek yaitu wayang golek Menak Jawa atau wayang golek Sunda, yang masing-masing berbeda bentuk ukirannya atau-pun wayang kulit Menak dengan boneka-boneka wayang yang khusus untuk pentas tersebut dan jarang sekali dalam bentuk pentas wayang orang. Salah satu di antara pentas untuk Menak tersebut, ialah wayang kulit dari daerah Lombok yang lazim disebut wayang Sasak.

Wayang Kulit Menak (Prabu Lamdahur, Prabu Nusirwan, Dewi Muninggar, Wong Agung Jayengrono dan Umar Moyo)



Umarmoyo (Wayang Golek Menak dari Kebumen)



Wayang Sasak



Arjuna (Wayang Bali)


#37 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 16 September 2009 - 10:26 PM

6. Wayang Babad
Salain wayang Purwa, Madya, dan Gedog, para seniman Indonesia umumnya dan seniman Jawa khususnya telah menciptakan berbagai wayang baru yang pementasannya bersumber pada cerita-cerita sejarah (babad) setelah masuknya agama Islam di Indonesia antara lain kisah-kisah kepahlawanan dalam masa kerajaan Demak dan Pajang. Wayang-wayang tersebut disebut wayang Babad atau wayang Sejarah. Jenis wayang tersebut antara lain:

6.1 Wayang Kuluk (1830)
Sultan Hamengku Bhuwono V (1822 – 1855) dari Yogyakarta, ( + tahun 1830) menciptakan wayang yang dalam pergelarannya khusus mengambil cerita-cerita sejarah kraton Yogyakarta (Mataram). Wayang-wayang ini kemudian disebut wayang Kuluk.

6.2 Wayang Dupara
Wayang ini dicipta oleh R.M. Danuatmojo, seorang penduduk kota Sala dan tidak diketahui dengan pasti kapan wayang tersebut dibuat. Disebut wayang Dupara, karena asal dari kata Andupara yang artinya aneh dan dipergunakan untuk cerita-cerita babad Demak, Pajang, Mataram hingga Kartasura. Wayang Dupara tersebut dibuat dari kulit yang ditatah dan disungging, seperti halnya wayang kulit Purwa. Induk wayang Dupara ini adalah campuran, diubah pakaiannya dengan ditambah atau dikurangi, disesuaikan dengan selera pendapat penciptanya. Wayang-wayang tersebut kini disimpan di Musium Radya Pustaka di Surakarta.

Harya Panangsang (Wayang Dupara)


6.3 Wayang Jawa (1940)
Pencipta wayang tersebut adalah R.M. Ng. Dutodipuro, Abdi Dalem Mantri Panewu Gandek di kraton Surakarta, yang juga seorang guru dalang di Pasinaon Dalang Surakarta (Padasuka) berada di Musium Radya Pustaka-Surakarta. Wayang-wayang tersebut dibuat pada tahun 1940 dan keseluruhannya memakai baju lurik. Semua wayang raja-raja (katongan) berbaju kuning lorek hijau dan merah. Wayang satria (putran) berbaju hijau muda lorek hijau tua dan satria sedang mengembara (lelana) berbaju lengan pendek warna biru muda berlorek biru tua diselingi warna merah.
Pementasan wayang Jawa tersebut bermaksud mengisahkan babad Tanah Jawa, ialah sejarah Demak, Pajang, Mataram
sampai Kartasura. Wayang Jawa tersebut tidak ada wayang bernama khusus dan pakaian wayang tergantung selera sang dalang. Wayang-wayang tersebut dibuat dari kulit yang ditatah serta disungging dan pementasanya dapat memakai atau tanpa kelir. Sebagai gamelan pengiring wayang ini dipakai gamelan Pelog dan gending-gending (lagu-lagu) diciptakan khusus yang pada umumnya merupakan gending ciptaan baru, tahun 1973.

Wayang Jawa (Jaka Tingkir)


7 Wayang Moderen
Kebutuhan masyarakat akan sarana komunikasi sosial dalam media pewayangan kian meningkat. Wayang-wayang purwa, Madya, dan wayang Gedog hasil karya pujangga-pujangga kuna sudah tak sesuai lagi untuk keperluan yang khusus. Kemudian diciptakan wayang baru yang bisa memadai faktor-faktor komunikasi yang akan diperagakan seperti wayang Kancil untuk media pendidikan anak-anak, wayang Suluh untuk media penerangan, wayang Wahyu untuk media dakwah kerohanian dan wayang-wayang lainnya.

7.1 Wayang Wahana (1920)
R.M. Sutarto Harjowahono asal Surakarta pada tahun 1920 membuat wayang untuk cerita-cerita biasa yang bersifat wajar (realistis). Bentuk wayang seperti manusia yang digambar miring dan diberi pegangngan seperti wayang kulit. Karena pementasannya berdasarkan cerita-cerita zaman sekarang, maka wayang tersebut dapat dikatakan semacam wayang sandiwara. Kemudian wayang sandiwara tersebut menjadi wayang perjuangan dan ketika Kementerian Penerangan RI memanfaatkan sebagai sarana penerangan, wayang tersebut menjadi wayang Suluh (1946 / 1947).
Dewasa ini wayang Suluh sudah sangat jarang atau tidak pernah berpentas lagi dan tokoh-tokoh wayang tersebut terdiri antara lain Bung Karno Presiden RI pertama (Ir. Sukarno), Dr. Schermerhorn yaitu wakil kerajaan Belanda dalam zaman revolusi kemerdekaan RI, serta tokoh-tokoh TNI lainnya yang sudah lama meninggal.

Wayang Suluh (Bung Karno, Bung Hatta, Schermerhorn serta orang belanda lainya)


#38 DG_Community

    BlueFame Holic

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 4,543 posts
Click to view battle stats

Posted 17 September 2009 - 02:27 AM

nice info tq

#39 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 17 September 2009 - 05:23 AM

7.2 Wayang Kancil (1925)
Pencipta wayang Kancil ini adalah orang Cina yang bernama Bo Liem dan pembuatnya adalah Lie Too Hien pada tahun 1925. Pementasan wayang Kancil tersebut menggunakan kelir, yang pada sebelah kiri dan kanannya bergambar hutan. Wayang-wayangnya berbentuk binatang-binatang buruan, seperti macan, gajah, kerbau, sapi, binatang merangkak seperti buaya, kadal, binatang melata seperti ular, dan binatang unggas seperti semua jenis burung, serta binatang-binatang lainnya yang berhubungan dengan dongeng Kancil. Gambar berupa orang untuk wayang tersebut hanya sedikit dan jumlah wayangnya-pun sekitar 100 buah. Wayang-wayangnya terbuat dari kulit yang ditatah dan disungging serta digambar secara realistis, fantastis yang disesuaikan dengan pergelaran wayangnya.
Adapun cerita cerita untuk pergelaran wayang Kancil tersebut diambil dari kitab Serat Kancil Kridomartono karangan Raden Panji Notoroto atau dari karangan Raden Sosrowijoyo dari Distrik Ngijon di Yogyakarta.

7.3 Wayang Wahyu (1960)
Sejumlah 225 tokoh pria dan wanita dalam perjanjian lama dan perjanjian baru yang telah diwayang kulitkan, dipasang berjajar didepan layar. Jajaran sebelah kanan diawali tokoh Samson sebagai tokoh golongan putih, dan sebelah kiri diawali tokoh Goliot sebagai tokoh golongan hitam. Gunungan atau kayon mengandung makna diambil dari wahyu 22 (Yerosalim baru), perjanjian lama Sepuluh firman dan Yohanes 14:6 Akulah jalan kebenaran dan hidup.
Wayang Wahyu tersebut diciptakan khusus untuk cerita-cerita zaman para Nabi yang berkaitan dengan cerita-cerita dari kitab Injil oleh Broeder Temotheus Marji Subroto pada bulan Desember 1960. Cerita-ceritanya diambil dari Al Kitab perjanjian Lama dilanjutkan ke Kitab Perjanjian Baru untuk pendidikan umat Katolik. Pertunjukan wayang Wahyu diiringi gamelan dari karawitan Lembaga Pelayanan Kristen Indonesia (LEPKI). Grup ini mencoba mengaransir nada diatonik (musik) nyanyian gerejawi ke dalam nada pentatonik (gamelan). Suluk dan lainnya seperti pada wayang kulit umumnya.

Wayang Wahyu


7.4 Wayang Dobel
Pencipta wayang ini adalah Kyai Amad Kasman dari desa Slametan daerah Yogyakarta. Pementasan wayang Dobel ini berdasarkan cerita-cerita Islam yang diambil dari Serat Ambyah. Disebut wayang Dobel karena isi cerita dari negeri Arab, sedangkan bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa. Sebagai pengiring adalah gamelan, dan juga memainkan terompet dan rebana seperti orang selawatan. Pertunjukannya menggunakan kelir berwarna merah dengan garis tepi warna putih. Wayang yang dijajarkan sebelah kanan disimping adalah terdiri atas wayang-wayang Malaikat Jibril dan Malaikat Isra’il, sedangkan yang disamping sebelah kiri terdiri atas wayang-wayang Malaikat Ijra’il. Bentuk wayang Ijrail adalah berbadan tiga yang melekat menjadi satu, mempunyai tiga kepala, dan dua kaki bersila. Ketiga badan tersebut merupakan lambang Amarah, Mut Mainah, dan Supiah. Jadi wayang Dobel tersebut tidak jauh berbeda dengan wayang Wahyu, yang ceritanya berisikan tentang kisah para Nabi. Wayang Dobel menceritakan kisah-kisah dari Kitab Al Qur’an.

7.5 Wayang Pancasila (1948)
Suharsono Hadisuseno adalah seorang pegawai Kementerian Penerangan RI dari Yogyakarta telah membuat wayang yang disebut wayang Pancasila, yang dibuat dari kulit ditatah dan disungging berdasarkan wayang kulit Purwa. Wayang tersebut dipergelar kan untuk menyajikan ceirta-cerita yang berhubungan dengan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda serta peristiwaperistiwa Kemerdekaan RI dengan tujuan memberi penerangan mengenai
falsafah Pancasila, UUD serta GBHN. Wayang tersebut diberi baju, celana panjang, dan mengenakan peci tentara, bahkan menyandang pistol pula.
Nama-nama wayang berupa sindiran, seperti tokoh Jendral Spoor dari tentara kerajaan Belanda, diberi nama senopati Rata Dahana (spoor = kereta api). Pementasan wayang Pancasila dilaksanakan dengan menggunakan kelir serta blencong untuk menimbulkan bayangan.

Wayang Pancasila (Bima)


#40 IZRO'IL

    Mungkin Tukang JAGAL

  • Members
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 3,606 posts
Click to view battle stats

Posted 17 September 2009 - 05:28 AM

7.6 Wayang Sejati (1972)
Drs. Wisnu Wardhana telah mengadakan pergelaran wayang kulit dengan bahasa Indonesia. Disamping itu telah dipergelarkan pula secara terbuka pada tanggal 22 Maret 1973 di Yogyakarta untuk pertama kalinya, jenis wayang baru hasil ciptaannya ini yang kemudian disebut wayang Sejati.
Daris segi konsepsi, wayang Sejati ini mencerminkan konsepsi moderen yang berazaskan semangat kebangsaan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya serta cerita yang menghidupkan episode-episode sejarah tanah air.

7.7 Wayang Budha
Wayang Budha dengan seperangkat gamelan sebagai musik pengiringnya, dipergelarkan untuk pertama kalinya dalam Pekan Wayang Indonesia ke III. Pertunjukan tersebut diawali dengan nyanyian vokal tanpa iringan musik (bowo) sebagai pembuka lagu.
Pementasan wayang Budha dimainkan tiga orang dalang. Disamping sebagai dalang juga merangkap sebagai penari. Pertunjukan wayang Budha menggunakan kelir selebar + 8 meter serta beberapa wayang orang sekaligus sebagai dalang dan menarikan wayang-wayang kulit dalam bentuk besar-besar yang diterangi oleh beberapa penerangan dari api (obor).

7.8 Wayang Jemblung
Suatu jenis kesenian wayang yang dalam pergelarannya tanpa alat peraga wayang dan tanpa perlengkapan lainnya, maka wayang tersebut adalah wayang Jemblung, seperti juga salah satu kesenian tradisional daerah Banyumas (Jawa Tengah) yang disebut Dalang Jemblung. Wayang Jemblung menggunakan bahasa Jawa biasa untuk hal yang sama, selain itu pergelaran wayang Jemblung tersasa lebih sakral dan unik dengan sifatnya yaitu Jemblungan.
Ki Tumin Sumosuwito mengisahkan, wayang Jemblung tersebut timbul untuk pertama kalinya di kelurahan Semanu, Karangmojo, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kata Jemblung tersebut berasal dari julukan gemblung yang artinya edan atau gila. Cerita yang disajikan diambil dari cerita wayang Purwa, Panji, atau Menak bahkan cerita Ketoprak seperti babad tanah Jawa. Disamping melakukan dialog, dalang juga menyuarakan suara gamelan sebagai iringannya.

7.9 Wayang Sadat (1985)
Suryadi Warnosuharjo, 48 tahun (1986) Klaten, Jawa Tengah, selaku pencipta dan sekaligus dalang wayang Sadat, menyatakan “kalau umat Nasrani memiliki wayang Wahyu, maka umat Islam mempunyai wayang Sadat ”. Wujud wayang kulit Sadat, jelas bukan berbentuk wayang Purwa ataupun wayang Gedog, juga bukan berbentuk wayang Menak atau wayang Beber. Bentuk wayang Sadat ber-wanda mendekati realistis dan hampir serupa dengan wayang Suluh atau wayang Wahyu. Bahkan sebuah gending utama sengaja diciptakan untuk pergelaran tersebut bernama gending Istigfar.
Suryadi menciptakan wayang Sadat tersebut pada pertengahan tahun 1985 sebagai imbangan bagi umat Islam di Jawa yang berkaitan dengan pengembangan sejarah agama Islam dalam penyebarannya oleh para Wali, di samping itu untuk melanjutkan roh Islam yang pernah terdapat dalam sejumlah gubahan pakeliran wayang purwa di masa zaman Demak antara lain cerita Jimat Kalimusadha.
Kata Sadat berasal dari kata Syahadattain atau sebagai akronim dari kata dakwah dan Tabligh. Misi pergelarannya bernafaskan dakwah agama Islam serta melanjutkan tradisi para Wali yang pernah berdakwah pada perayaan Sekatenan di zaman kerajaan Demak. Sebagaimana diketahui, Sekatenan merupakan pembacaan Syahadat secara massal.

Wayang Sadat (Sunan Ampel dan Raden Patah)






BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy