Jump to content



 

 

pemain sepak bola legendaris Indonesia


14 replies to this topic

#1 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 18 August 2010 - 11:49 PM

Daftar Pemain Sepak bola Legendaris Indonesia versi Copa Indonesia April 2007



Maulwi Saelan ; Kiper ; 1951 - 1958 ; Benteng Beton
Yudo Hadianto ; Kiper ; 1961 - 1974 ; Papi
Yuswardi ; Bek Kanan ; 1967 - 1974 ; Ajo
Simson Rumahpasal ; Bek Kanan ; 1975 - 1982 ; Palang Pintu
Yohanes Auri ; Bek Kiri ; 1975 - 1985 ; Black Silent
Didik Darmadi ; Bek Kiri ; 1978 - 1986
Anwar Ujang ; Stopper ; 1965 - 1978 ; Beckenbauer
Robby Darwis ; Stopper ; 1985 - 1997 ; Irung
Ronny Pattinasarany ; Libero ; 1970 - 1982 ; Si Kurus
Herry Kiswanto ; Libero ; 1985 - 1993 ; Akang
Iswadi Idris ; Gelandang ; 1968 - 1980 ; Si Bos/Boncel
Junaedi Abdillah ; Gelandang ; 1968 - 1983 ; Pet
Zulkarnaen Lubis ; Gelandang ; 1983 - 1986 ; Maradona
Rully Nere ; Gelandang ; 1977 - 1989 ; Jean Tigana
Nobon Kayamudin ; Gelandang ; 1971 - 1979 ; Biang Kerok
Surya Lesmana ; Gelandang ; 1963 - 1972 ; Jango Jakarta
M. Basri ; Gelandang ; 1962 - 1973 ; Teta
Thio Him Tjiang ; Gelandang ; 1951 - 1958
Risdianto ; Penyerang ; 1971 - 1981 ; Gayeng
Bambang Nurdiansyah ; Penyerang ; 1979 - 1986 ; Gerd Muller
Ricky Yacobi ; Penyerang ; 1982 - 1993 ; Paul Marinir
Widodo C. Putra ; Penyerang ; 1991 - 1996
Ramang ; Penyerang ; 1952 - 1962


julukannya keren keren neh,,,,,.........

Edited by calibans, 24 September 2010 - 10:36 AM.


#2 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 19 August 2010 - 12:01 AM

Ronny Pasla
Kiper Legendaris Indonesia
Kiper Indonesia Yang Pernah Menahan Tembakan Penalti Pele



Ronny Pasla kiper Indonesia (PSSI) legendaris kelahiran Medan, 15 April 1947. Dia berkiprah sebagai kiper tim nasional Indonesia tahun 1966 sampai 1985. Peraih Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968), Atlet Terbaik Nasional (1972) dan Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974), itu memulai karir sepak bolanya dari Medan.

Sebenarnya, Ronny lebih awal meminati olahraga tennis sampai sempat meraih juara pada Kejuaraan Tenis Nasional Tingkat Junior di Malang, 1967. Namun ayahnya, Felix Pasla menyarankannya ke sepakbola. Jadilah dia andalan di klub Dinamo, Medan, Bintang Utara, Medan dan PSMS Medan. Kemudian hijrah ke Persija Jakarta dan Indonesia Muda, Jakarta. Selama berkiprah di PSMS, Ronny dan rakan-rekannya meraih prestasi sebagai Juara Piala Suratin (1967) dan Juara Nasional (1967).

Kiprahnya sebagai penjaga gawang andalan Tim Nasional Indonesia (PSSI) juga meraih prestasi sebagai Juara Piala Agakhan di Bangladesh (1967), Juara Merdeka Games (1967), Peringkat III Saigon Cup (1970) dan Juara Pesta Sukan Singapura (1972).

Atas prestasinya yang gemilang sebagai kipper PSMS, Ronny berdarah Manado yang dijuluki Macan Tutul bertinggi badan 183 cm itu mendapat penghargaan sebagai Warga Utama Kota Medan (1967). Kiprahnya di sepakbola dan Timnas PSSI sebagai kiper andalan sejak 1966 hingga pensiun 1985 dalam usia 38 tahun dianugerahi Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968), Atlet Terbaik Nasional (1972), Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974).

Selama karir sebagai kiper tentu banyak pengalaman Ronny yang amat berkesan. Salah satu di antaranya, tatkala Timnas Brazil yang diperkuat pesepak bola legendaris Pele, tur ke Asia termasuk Indonesia pada 1972. Dalam laga Timnas Indonesia dan Brazil itu Ronny berhasil menahan eksekusi penalti Pele, kendati Indonesia akhirnya kalah 1-2.

Setelah pensiun dari dunia sepak bola pada usia 40 tahun di Indonesia Muda (IM), Jakarta, Ronny lebih banyak menggumuli olahraga tennis lapangan sebagai pelatih. Bahkan dia memiliki sekolah tenis lapangan bernama Velodrom Tennis School di Jakarta.

Namun belakangan, tepatnya Juni 2007, bersama dua rekannya, Andjas Asmara dan Ipong Silalahi, Ronny Pasla mulai menggarap pembentukan tim sepak bola impian melalui reality show pencarian bakat sepak bola bertajuk My Team.

Posted Image Posted Image

Karier Sepakbola
- Dinamo, Medan
- Bintang Utara, Medan
- PSMS Medan
- Persija Jakarta
- Indonesia Muda, Jakarta
- Timnas Indonesia (PSSI)

Prestasi:
- Juara Kejuaraan Tenis Nasional Tingkat Junior di Malang, 1967
- PSMS Medan, Juara Piala Suratin, 1967
- PSMS Medan, Juara Nasional, 1967
- Timnas Indonesia, Juara Piala Agakhan di Bangladesh, 1967
- Timnas Indonesia, Juara Merdeka Games, 1967
- Timnas Indonesia, Peringkat III Saigon Cup, 1970
- Timnas Indonesia, Juara Pesta Sukan Singapura, 1972

Penghargaan:
- Warga Utama Kota Medan, 1967
- Piagam dan Medali Emas dari PSSI, 1968
- Atlet Terbaik Nasional, 1972
- Penjaga Gawang Terbaik Nasional, 1974

Edited by calibans, 24 September 2010 - 10:49 AM.


#3 dhullon

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 187 posts
Click to view battle stats

Posted 19 August 2010 - 01:28 AM

legendaris.........sama dengan tinggal kenangan,...........kadang oleh pemerintah kita hanya dikenang tanpa diperhatikan nasibnya, banyak tuh di tv seperti para veteran pahlawan yang laku kalo ada peringatan tertentu................:crying_anim: :crying_anim: :crying_anim: :crying_anim: :crying_anim: :ShameOnYou:

#4 --FREY--

    bukan pemaen bola

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 731 posts
Click to view battle stats

Posted 24 August 2010 - 12:12 PM

Ricky Yakobi striker yang fenomenal menurut gw, menurut gw dia adalah striker yang belum tertandingi di Indonesia

#5 badjob

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 704 posts
Click to view battle stats

Posted 18 September 2010 - 04:40 PM

widodo emang keren banget...bangga aq sebagai org cilacap punya kamu....gol di piala asia bisa mengantar widodo menjadi "player's of the day" versi cnn

#6 zero zero one

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 308 posts
Click to view battle stats

Posted 22 September 2010 - 11:49 PM

Danurwindo dan Mark Timisela kok gak masuk ya ? padahal mereka hidup di zaman emas sepakbola kita.

#7 dastorm

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 2,123 posts
Click to view battle stats

Posted 23 September 2010 - 05:11 PM

nice thread nih...keep update cerita history satu2 tuh....kayak Rony Pasla di atas....:thumbsup:

#8 one^neo

    ---memang pembelah duren---

  • Elite Member
  • 9,737 posts
Click to view battle stats

Posted 23 September 2010 - 10:49 PM

ho oh ni nice thread...bnyak yg ga gw kenal..
update lagi dunk..

#9 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 24 September 2010 - 11:20 AM

[indent]Ronny Pattinasarany, Kapten yang Penuh Kasih[/indent]
ERA 70-an hingga 80-an, sepakbola Indonesia menjadi salah satu raksasa di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia. Orang yang ikut melambungkan nama tim merah-putih itu adalah Ronny Pattinasary.

Pria berdarah Ambon yang lahir di Makassar itu menorehkan namanya sebagai sosok pemain papan atas. Buktinya, dia bukan cuma mendapat kehormatan untuk memakai ban kapten tim nasional, namun dirinya juga menyabet beberapa trofi.

Penghargaan yang diperolehnya seperti Pemain All Star Asia tahun 1982, Olahragawan Terbaik Nasional tahun 1976 dan 1981, Pemain Terbaik Galatama tahun 1979 dan 1980, dan meraih Medali Perak SEA Games 1979 dan 1981.

Menjadi bintang sepakbola merupakan obsesi Ronny sejak dia masih kanak-kanak. Karena mendapat dukungan semangat dari ayahnya, Nus Pattinasarany, yang dikenal sebagai pesepakbola tangguh di era sebelum kemerdekaan, dia pun bisa mewujudkan impiannya tersebut.

Perjalanan kariernya sebagai pemain bola dimulai bersama PSM Junior pada tahun 1966. Tak perlu waktu lama bagi pria kelahiran 9 Februari 1949 itu untuk menembus level senior tim PSM Makassar, karena dua tahun berselang dia sudah masuk skuad "Ayam Jantan dari Timur".

Dari Makassar, Ronny hengkang ke klub Galatama, Warna Agung, yang dibelanya dari tahun 1978 hingga 1982. Nah, di sinilah kariernya mulai menanjak sehingga dia pun terpilih masuk timnas--dan jadi kapten--, serta menyabet beberapa penghargaan.

Tahun 1982, Ronny hengkang ke klub Tunas Inti. Hanya setahun di sana, dia pun memutuskan untuk gantung sepatu dan beralih profesi sebagai pelatih.

Ada beberapa klub yang pernah merasakan sentuhan tangannya, yakni Persiba Balikpapan, Krama Yudha Tiga Berlian, Persita Tangerang, Petrokimia Gresik, Makassar Utama, Persitara Jakarta Utara dan Persija Jakarta. Namun prestasi terbaik yang pernah ditorehkan Ronny adalah ketika menangani Petrokimia Putra.

Pasalnya, dia sukses mempersembahkan beberapa trofi bagi klub tersebut yang saat ini sudah bubar dan melebur dalam Gresik United (GU). Ya, Ronny membawa Petrokimia meraih Juara Surya Cup, Petro Cup, dan runner-up Tugu Muda Cup.

Tapi kariernya sebagai pelatih tak berlangsung lama karena dia dihadapkan pada sebuah dilema: tetap berkarier atau memikirkan masa depan anak-anaknya. Ya, dua putranya yang sedang terjerat dunia narkoba perlu bimbingan sang ayah agar bisa keluar dari masalah tersebut.

Akhirnya, Ronny memutuskan untuk berhenti sebagai pelatih demi mengapteni keluarganya. Dia meletakkan jabatannya sebagai pelatih Petrokimia dan konsentrasi menyembuhkan anak keduanya, Henry Jacques Pattinasarany yang akrab disapa Yerry, yang menjadi pecandu narkoba jenis putaw--waktu itu Yerry baru berusia 15 tahun.

"Saya dihadapkan dua pilihan yang sangat sulit, sepak bola atau anak. Saya akhirnya memutuskan meninggalkan sepakbola meski saat itu tidak tahu apa yang akan saya lakukan," kenang Ronny.

Setelah Yerry sembuh, badai kembali menghampiri keluarga Ronny. Kali ini putra pertamanya, Robenno Pattrick Pattinasarany yang akrab dipanggil Benny, juga jatuh ke jurang yang sama. Bahkan Benny lebih lagi karena memakai narkoba di luar rumah.

Meskipun demikian, Ronny tetap sabar dan penuh kasih membimbingnya. Dia menganggap semua itu sebagai cobaan sekaligus teguran. Menurut pria yang memperistrikan Stella Maria tersebut, selama berkarier di dunia sepakbola, dia merasa menjauh dari sang Pencipta.

Setelah kesadarannya itu muncul, Ronny pun mendekatkan dirinya lagi kepada Tuhan. Benny dan Yerry pun dituntun untuk lebih mendalami kehidupan rohani dan usaha tersebut berhasil, karena kehidupan keluarganya kembali seperti dulu.

Dari sana, Ronny kembali terjun ke sepakbola, dunia yang membesarkan namanya. Meskipun bukan sebagai pelatih lagi, namun dia aktif dalam kegiatan yang mendukung kemajuan sepakbola Indonesia, seperti menjadi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI (2006), Wakil Ketua Komdis (2006) dan Tim Monitoring Timnas (2007).

Tapi kinerja Ronny yang termasuk perokok berat itu terganggu oleh penyakit yang menggerogotinya. Dia terserang kanker hati sehingga sejak bulan Desember 2007, Ronny harus menjalani pengobatan di Guangzhou dan sudah empat kali ke kota yang terletak di China tersebut.

Sayang, Tuhan berkehendak lain. Meskipun segala upaya telah dilakukan, tetapi maut akhirnya menjemput pria yang gencar melawan narkoba tersebut dan keluarganya pun telah ikhlas melepas kepergian sang pahlawan.

Pada Jumat (19/9) sekitar pukul 13.30 WIB, Ronny meregang nyawa di Rumah Sakit Omni Medical Center Pulomas, Jakarta Timur. Jenazahnya akan disemayamkan di rumah duka, Jalan Pulomas Blok III B/9, Pulomas, Jakarta Timur, selanjutnya akan dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat, pada Minggu (21/9).

Selamat jalan Ronny, jasamu kan selalu dikenang dan perjuangan hidupmu semoga bisa menjadi inspirasi untuk kemajuan sepakbola Indonesia.
Posted Image
KOMPAS/DANU KUSWORO

Profil singkat



Nama: Ronny Pattinasarany
Lahir: 9 Februari 1949

Karier
- Pemain:
[indent]PSM Junior (1966)
PSM Makassar 1968-1976
Timnas (1979-1985)
Warna Agung (1978-1982)
Tunas Inti (1982)[/indent]
- Pelatih:
[indent]Persiba Balikpapan
Krama Yudha Tiga Berlian
Persita Tangerang
Petrokimia Gresik
Makassar Utama
Persitara Jakarta Utara
Persija Jakarta[/indent]
- Lain-lain:
[indent]Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI 2006
Wakil Ketua Komdis 2006
Tim Monitoring Timnas 2007[/indent]

Prestasi
- Pemain: [indent]Pemain Asia All Star (1982)
Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981)
Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980)
Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981)[/indent]
- Pelatih: [indent]Petrokimia Juara Surya Cup
Petrokimia Juara Petro Cup
Petrokimia menjadi runner-up Tugu Muda Cup[/indent]

kompas.com Jumat, 19 September 2008 | 19:58 WIB


Edited by calibans, 24 September 2010 - 11:22 AM.


#10 one^neo

    ---memang pembelah duren---

  • Elite Member
  • 9,737 posts
Click to view battle stats

Posted 25 September 2010 - 01:42 AM

om roni sangar juga ya mudanya..
syg dah pergi dlu pdahal program pmbinaan sepakbola berjenjang yg jadi visi bliau blom terlaksana smua..

#11 Sanoo

    Ahli Pedang dan Ahli Strategi No 1

  • Elite Member
  • 10,636 posts
Click to view battle stats

Posted 26 September 2010 - 02:31 AM

wah seru bgt niy thread...semoga ditambahin...seneng nglyt pemain2 legenda dr Indonesia :speak_cool:

#12 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 27 September 2010 - 02:08 AM

Iswadi Idris: Si Boncel yang Ditakuti Asia


Posted Image


MESKI pendek, tapi serbabisa dan produktif. Lebih 100 gol sudah dia cetak. Itulah salah satu kisah manis sepak bola Indonesia di masa lalu atas nama Iswadi Idris.

Membicarakan kebesaran sejarah sepakbola Indonesia, tak bisa melupakan era akhir 1960-an sampai akhir 1970-an. Saat itu Indonesia menjadi kiblat Asia. Dan, salah satu tokoh kebesaran itu adalah Iswadi Idris. Pemain yang dijuluki Boncel karena pendek (tinggi 165 cm) ini, termasuk pemain paling berbakat yang dimiliki Indonesia.

Karena kehebatannya pula, dia termasuk pemain yang ditakuti Asia. Meski pendek, Iswadi pemain ulet dan cerdas. Dia juga serbabisa. Mengawali karier sebagai bek kanan, tapi dia juga sering dipasang sebagai gelandang kanan. Bahkan di akhir kariernya di timnas tahun 1980, dia malah diplot sebagai sweeper.

Hebatnya, dia bisa menjalani semua posisi itu dengan baik. Bersama Sutjipto Suntoro, Jacob Sihasale dan Abdul Kadir, dia punya popularitas besar di Asia. Itu semua berkat permainan mereka yang memang luar biasa. Bahkan, empat sekawan ini dinilai sebagai penyerang tercepat.

Di masa itu, sepakbola Indonesia sangat dihormati Asia. Bahkan, bersama Burma (sekarang Myanmar, Red), Indonesia merupakan kekuatan utama. Apalagi, timnas Indonesia saat itu sudah biasa bertemu tim-tim besar seperti PSV Eindhoven, Santos, Fiorentina, Uruguay, Sao Paulo, Bulgaria, Jerman, Uni Soviet dan masih banyak lagi.

“Jepang, Korea Selatan dan tim Timur Tengah belum punya cerita. Kekuatan besar dimiliki Indonesia dan Burma,” jelas Iswadi dalam wawancara di PSSI tahun lalu.

Tentang berbagai posisi yang dia jalani, Iswadi mengaku bisa menikmatinya. “Posisi yang sering saya perankan adalah sayap kanan. Saya suka menusuk ke gawang lawan. Entah sudah berapa gol yang saya ciptakan, yang jelas lebih dari 100 kalau dijumlah dari awal sampai akhir karier,” jelas Iswadi Idris yang kini menjadi pengurus PSSI itu.

Bakat yang dimiliki Iswadi memang istimewa. Dia tak hanya punya kecepatan lari, tapi juga teknik sepakbola yang baik. Selain itu, visi permainan Iswadi juga luas, ditopang kemampuannya memimpin rekan-rekannya. Wajar jika dia segera dijadikan kapten timnas sejak awal 1970-an sampai 1980.

Menjadi pemain sepakbola yang lama membela timnas dan dikenal luas sampai seantero Asia, sebenarnya tak pernah dipikirkan Iswadi. Awalnya dia malah menyukai atletik, karena punya kecepatan lari. Baru pada 1961, dia membaca temannya memperkuat Persija Junior di koran Pedoman Sport. Iswadi yang sejak umur 4 tahun tinggal di Kramat Lima, Jakarta Pusat, kemudian tertarik bermain bola. Awalnya bergabung dengan Merdeka Boys Football Association (MBFA), kemudian ke Indonesia Muda (IM).

“Kebetulan rumah saya dekat Taman Ismail Marzuki (TIM). Dulu masih berupa kebon binatang. IM berlatih di Lapangan Anjing, tempat melatih anjing. Akhirnya saya pindah ke klub itu,” katanya.

Iswadi pun semakin menikmati sepakbola, bahkan serius menggelutinya hingga menjadi salah satu legenda Indonesia. “Sepakbola hobi yang berharga. Dulu kami bermain ingin terkenal, juga demi pengabdian kepada bangsa. Jadi semangatnya berlebihan,” terangnya.

Selama kariernya sebagai pemain sepakbola, bukan sebuah gol indah yang membuat Iswadi Idris kepikiran sampai sekarang. Justru kegagalannya mencetak gol. Itu terjadi tahun 1972, ketika Indonesia menjamu Dynamo Kyiv dalam partai uji coba di Senayan.

“Kiper Dynamo adalah penjaga gawang terbaik abad ini, Lev Yashin. Saya bertekad menaklukkannya agar menjadi kenangan terindah. Kesempatan ada, tapi tak saya manfaatkan. Itu penyesalan yang masih terpikir sampai sekarang,” tutur Iswadi.

Waktu itu, dia menerima umpan terobosan dari Sutjipto. Dalam keadaan bebas dengan posisi yang sama, dia biasanya menendang bola ke gawang dan hampir selalu gol. “Tapi karena karisma Lev Yashin, saya seperti tak melihat ada celah untuk mencetak gol. Saya justru mengumpankan bola ke Jacob Sihasale. Dia tak siap, karena biasanya saya menendang sendiri dan gol. Habis pertandingan, pelatih Djamiat Dahlar pun kecewa karena saya menyia-siakan kesempatan,” sesalnya lagi.

Posted Image
Iswadi Idris (tengah) dalam aksinya menjebol gawang lawan. KOMPAS


DIISUKAN KENA SUAP
Menjadi bintang besar memang menyenangkan. Tapi, tak selamanya selalu penuh puja-puji. Demikian juga yang dialami Iswadi. Dia dan rekan-rekannya pernah syok karena diisukan terkena suap, saat membela Indonesia di babak Pra Piala Dunia 1978 lawan Singapura.

Pada pertandingan di Singapura, 9 Maret 1977, Indonesia secara mengejutkan dikalahkan tuan rumah 0-4. Padahal Singapura tim kecil dibanding Indonesia. Sebelumnya, koran-koran Indonesia dan Singapura meniupkan isu bahwa Iswadi dan kawan-kawannya menerima suap.

“Oleh sebuah koran, saya diceriterakan menyelinap lewat jendela keluar dari hotel pemain. Katanya saya mendatangi Karpak, sebuah nightclub di Singapura, dan menerima suap. Itu tak pernah terjadi. Saya dan teman-teman tak pernah menerima suap. Sueb Rizal (pemain seangkatannya, Red) tahu persis saya tak ke mana-mana, karena saya sekamar dengannya. Saya kira, isu suap sengaja diembuskan pihak Singapura agar mental kami turun dan tim Indonesia kacau,” tuturnya.

Kasus itu ternyata berbuntut panjang. Seminggu kemudian, Iswadi memperkuat Persija di Piala Marahalim di Medan. “Kebetulan, sebagian besar pemain timnas Indonesia memperkuat Persija. Begitu kami masuk lapangan, langsung dlempari benda keras oleh penonton. Kami mencoba tabah meski dituduh menerima suap,” jelasnya.

Untungnya, Persija tampil memukau. Setelah mengalahkan juara bertahan dua kali (Australia), kemudian menundukkan Thailand. Para penonton Medan pun akhirnya kembali memberikan dukungan penuh, apalagi PSMS Medan sudah teringkir.

“Di final lawan Jepang, kami seperti membawa nama Indonesia. Penonton memberi dukungan penuh dan kami menang 1-0. Itu pengalaman yang menyenangkan, sekaligus sangat memuaskan. Kami bisa menunjukkan sebagai pemain yang disiplin, meski dihantam isu suap,” ceritanya.

Iswadi sendiri tampil memukau di Piala Marahalim. Tapi, itu hanya salah satu pembuktian atas kehebatannya. Selama 12 tahun kariernya di timnas (1968-1980), dia ikut membuat sepakbola Indonesia disegani di Asia. Sebutannya boleh Boncel, tapi prestasinya mengangkasa. (Hery Prasetyo)

Posted Image


Profil Singkat


[indent]Nama lengkap: Iswadi Idris
Julukan: Boncel, Bos
Lahir: Banda Aceh (Indonesia), 18 Maret 1948
Posisi: Gelandang/bek kanan
No. Kostum: 13
Karier klub: MBFA (1957-1961), IM Jakarta (1961-1968, 1970-1974), Pardedetex (1968-1970), Western Suburb Australia (1974-1975), Jayakarta (1975-1981), Persija (1966-1980)
Karier timnas: 1968-1980
Prestasi: Juara TIM Cup (1968), Merdeka Games (1969), Pesta Sukan (1972), Anniversary Cup (1972), Pemain Terbaik Piala Marahalim 1973[/indent]

sumber: kompas



#13 dull

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 100 posts
Click to view battle stats

Posted 25 March 2011 - 03:34 PM

Ramang pemain indonesia yang dulu pernah ikut piala dunia kan ya? kereenn

#14 pedagangciu

    Anak Ingusan

  • Members
  • Pip
  • 23 posts
Click to view battle stats

Posted 16 June 2011 - 07:20 AM

Ramang,pemain legendaris yg dilupain..sayangnya

#15 PeNgO

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,219 posts
Click to view battle stats

Posted 05 July 2011 - 05:05 PM

RONY PASLAH is the best





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy