Jump to content



 

 

Bahasa Indonesia


28 replies to this topic

#1 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 27 August 2010 - 04:30 PM

Peribahasa Indonesia


A


Spoiler

B


Spoiler

C


Spoiler

D


Spoiler

E


Spoiler

F


Spoiler

G


Spoiler

H


Spoiler

I


Spoiler

J


Spoiler

K


Spoiler

L


Spoiler

M


Spoiler

N


Spoiler

O


Spoiler

P


Spoiler

R


Spoiler

S


Spoiler

T


Spoiler

U


Spoiler

W


Spoiler

Y


Spoiler

Sumber



#2 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 28 August 2010 - 08:20 PM

Kata Serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang sudah diintegrasikan ke dalam suatu bahasa dan diterima pemakaiannya secara umum.

Daftar Kata Serapan dari Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia


A


Spoiler

B


Spoiler

C


Spoiler

D


Spoiler

E


Spoiler

F


Spoiler

G


Spoiler

H


Spoiler

I


Spoiler

J


Spoiler

K


Spoiler

L


Spoiler

M


Spoiler

N


Spoiler

O


Spoiler

P


Spoiler

R


Spoiler

S


Spoiler

T


Spoiler

V


Spoiler


kata-kata yang diserap secara utuh, kata-kata yang tidak mengalami penyesuaian kaidah


Spoiler

Sumber



#3 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2010 - 02:18 PM

Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia



Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) adalah uji kemahiran (proficiency test) untuk mengukur kemahiran berbahasa seseorang dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik penutur Indonesia maupun penutur asing. UKBI meliputi lima seksi, yaitu Seksi I (Mendengarkan), Seksi II (Merespons Kaidah), Seksi III (Membaca), Seksi IV (Menulis), dan Seksi V (Berbicara) .

UKBI dikembangkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional sejak tahun 1997, sebagai rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia III, dan diresmikan penggunaannya oleh Menteri Pendidikan Nasional, Dr. Bambang Sudibyo pada tahun 2006. Pada masa yang akan datang uji kemahiran ini akan digunakan sebagai instrumen penerimaan pegawai dan syarat bagi orang asing yang ingin belajar dan bekerja di Indonesia, seperti halnya TOEFL dalam Bahasa Inggris.


#4 explorer_muda

    ~ BlueFame Explorer ~

  • Elite Member
  • 2,261 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2010 - 03:06 PM

menarik...:Love:
UKBI merupakan langkah indonesia untuk menyandingkan bahasanya sebagai bahasa internasional.. semoga...:Praying:

btw, untuk postingannya terimakasih sekali ya om..
akan banyak membantu kelak dalam bidang penulisan... :speak_cool: :speak_cool: :speak_cool:

#5 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2010 - 03:39 PM

Sekilas tentang UKBI


Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)* dirintis melalui berbagai peristiwa kebahasaan yang diprakarsai Pusat Bahasa, Depdiknas. Gagasan awal terungkap dalam Kongres Bahasa Indonesia IV pada tahun 1983. Selanjutnya, dalam Kongres Bahasa Indonesia V pada tahun 1988 muncul pula gagasan tentang perlunya sarana tes bahasa Indonesia yang standar. Oleh karena itu, Pusat Bahasa mulai menyusun dan membakukan sebuah instrumen evaluasi bahasa Indonesia. Pada awal tahun 1990-an, instrumen evaluasi itu diwujudkan, kemudian dinamai dengan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).

Sejak saat itu UKBI dikembangkan untuk menjadi tes standar yang dirancang guna mengevaluasi kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia, baik tulis maupun lisan. Dengan UKBI seseorang dapat mengetahui mutu kemahirannya dalam berbahasa Indonesia tanpa mempertimbangkan di mana dan berapa lama ia telah belajar bahasa Indonesia. Sebagai tes bahasa untuk umum, UKBI terbuka bagi setiap penutur bahasa Indonesia, terutama yang berpendidikan, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Dengan UKBI, instansi pemerintah dan swasta dapat mengetahui mutu karyawan atau calon karyawannya dalam berbahasa Indonesia. Demikian pula, perguruan tinggi dapat memanfaatkan UKBI dalam seleksi penerimaan mahasiswa.

UKBI termasuk jenis tes kemahiran (proficiency test) untuk tujuan umum (general purposes). Sebagai sebuah tes kemahiran, UKBI mengacu pada situasi penggunaan bahasa pada masa yang akan datang yang akan dihadapi oleh peserta uji. Dalam pengembangan UKBI, ancangan tes yang diterapkan adalah pengukuran beracuan kriteria (criterion-referenced measurement). Kriteria yang diacu oleh UKBI berupa penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata penutur bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa dalam kehidupan nyata tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa ranah komunikasi yang merujuk pada ranah kecakapan hidup umum, yaitu ranah kesintasan dan ranah kemasyarakatan serta ranah kecakapan hidup khusus, yaitu ranah keprofesian dan ranah keilmiahan.

Materi soal UKBI diejawantahkan dari materi-materi penggunaan bahasa Indonesia lisan dan tulis dalam ranah-ranah komunikasi tersebut. Dalam penggunaan bahasa Indonesia lisan, UKBI mengukur keterampilan reseptif peserta uji dalam kegiatan mendengarkan dan mengukur keterampilan produktif peserta uji dalam kegiatan berbicara. Dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis, UKBI mengukur keterampilan reseptif peserta uji dalam kegiatan membaca dan mengukur keterampilan produktif peserta uji dalam kegiatan menulis. Selain menekankan pengukuran terhadap empat keterampilan berbahasa tersebut, UKBI juga mengukur pengetahuan peserta uji dalam penerapan kaidah bahasa Indonesia.


*) Melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 152/U/2003 tanggal 28 Oktober 2003, Menteri Pendidikan Nasional telah mengukuhkan UKBI sebagai sarana untuk menentukan kemahiran berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat. Selain itu, UKBI telah memperoleh Surat Pendaftaran Ciptaan Nomor 023993 dan 023994 dari Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia pada tanggal 8 Januari 2004.

Sumber



#6 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2010 - 03:44 PM

Materi UKBI


Materi UKBI berupa penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai situasi dan laras, seperti sejarah, kebudayaan, hukum, teknologi, dan ekonomi. Materi itu berasal dari berbagai sumber, baik wacana komunikasi lisan sehari-hari di masyarakat maupun wacana tulis di media massa, buku acuan, dan tempat umum.

Dengan materi itu, UKBI menguji kemampuan seseorang dalam berkomunikasi lisan dan tulis dalam bahasa Indonesia. Kemampuan itu dapat diukur dari keterampilan mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara, serta pengetahuan tentang kaidah bahasa Indonesia. Berkaitan dengan itu, UKBI tersusun atas lima seksi berikut.

Seksi I (Mendengarkan)
Seksi ini bertujuan mengukur kemampuan memahami informasi yang diungkapkan secara lisan, baik dalam bentuk dialog maupun monolog. Seksi ini terdiri atas 40 butir soal pilihan ganda dengan alokasi waktu 25 menit.

Seksi II (Merespons Kaidah)
Seksi ini bertujuan mengukur kemampuan merespons penggunaan kaidah bahasa Indonesia ragam formal, yaitu ejaan, bentuk dan pilihan kata, serta kalimat. Seksi ini terdiri atas 25 butir soal pilihan ganda dengan alokasi waktu 20 menit.

Seksi III (Membaca)
Seksi ini bertujuan mengukur kemampuan memahami isi wacana tulis. Seksi ini terdiri atas 40 butir soal pilihan ganda dengan alokasi waktu 45 menit.

Seksi IV (Menulis)
Seksi ini bertujuan mengukur kemampuan menggunakan bahasa Indonesia tulis berdasarkan informasi yang terdapat dalam diagram, tabel, atau gambar. Dalam seksi ini terdapat satu butir soal dengan alokasi waktu 30 menit untuk menulis wacana 200 kata.

Seksi V (Berbicara)
Seksi ini bertujuan mengukur kemampuan menggunakan bahasa Indonesia lisan berdasarkan informasi yang terdapat dalam diagram, tabel, atau gambar. Dalam seksi ini terdapat satu butir soal dengan alokasi waktu 15 menit untuk menyajikan gagasan secara lisan.

Sumber



#7 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 31 August 2010 - 02:22 PM

Daring dan Luring



# Dalam jaringan (disingkat: daring, Inggris: online) adalah keadaan di saat seseorang terhubung ke dalam suatu jaringan ataupun sistem yang lebih besar.

* Dalam percakapan umum, "saya sedang online", dapat berarti seseorang terhubung dengan jaringan (network) yang lebih besar seperti Internet, atau sedang terhubung dengan orang lain melalui sambungan telepon.

* Dalam sebuah sistem yang terkait pada aktivitas tertentu, sebuah elemen dari sistem tersebut dikatakan online jika elemen tersebut dalam keadaan beroperasional. Sebagai contoh, sebuah instalasi pembangkit listrik dikatakan online jika ia dapat menyediakan listrik pada jaringan elektrik.

* Dalam telekomunikasi, istilah online memiliki arti lain yang lebih spesifik. Suatu alat yang diasosiasikan dalam sebuah sistem yang lebih besar dikatakan online bila berada dalam kontrol langsung dari sistem tersebut–dalam arti jika ia tersedia saat akan digunakan oleh sistem (on-demand), tanpa membutuhkan intervensi manusia, namun tidak bisa beroperasi secara mandiri di luar dari sistem tersebut.

#Secara umum, sesuatu dikatakan di luar jaringan (luring) atau bahasa Inggrisnya offline adalah bila ia tidak terkoneksi/terputus dari suatu jaringan ataupun sistem yang lebih besar. Beberapa arti kata lainnya yang lebih spesifik:

* Dalam percakapan umum, jaringan/network yang lebih besar dalam konteks ini biasanya lebih mengarah pada Internet, sehingga 'offline' lebih pada menjelaskan status bahwa ia tidak dapat diakses melalui Internet.

* Secara lebih spesifik dalam sebuah sistem yang terkait pada ukuran dalam satu aktivitas tertentu, sebuah elemen dari sistem tersebut dikatakan offline jika elemen tersebut tidak dapat beroperasional secara normal seperti yang seharusnya.

* Dalam telekomunikasi, Istilah offline juga memiliki arti lain yang lebih spesifik. Suatu alat diasosiasikan dalam sebuah sistem yang lebih besar dikatakan sebagai offline apabila perangkat tersebut tidak berada dalam kontrol langsung dari sistem. Dalam arti perangkat tersebut tidak tersedia saat akan digunakan oleh sistem secara on-demand, sehingga membutuhkan intervensi manusia.

source



#8 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 31 August 2010 - 02:31 PM

Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus ekabahasa resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku. Hingga saat ini sejak KBBI terbit pertama kali pada tahun 1988 sudah mengalami tiga kali revisi. Edisi terakhir adalah edisi keempat yang cetakan pertamanya diterbitkan pada tahun 2008.

Sejarah penerbitan
* Edisi pertama: 1988
Edisi pertama adalah hasil pengembangan dari Kamus Bahasa Indonesia yang terbit pada tahun 1983. Kamus ini baru memuat 62.100 lema.
* Edisi kedua: 1991
Edisi kedua adalah revisi dengan edisi pertama dan memuat 72 ribu lema.
* Edisi ketiga: 2005
Edisi ketiga memuat 78 ribu lema. Menurut Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, kamus ketiga ini masih terasa banyak sekali kosakata yang belum masuk. Tetapi harap diingat bahwa KBBI adalah Kamus Umum berisi kosakata umum, sehingga dalam kamus tidak termasuk berbagai istilah. Untuk penggunaan kamus bidang ilmu tertentu Pusat Bahasa juga memiliki Kamus Istilah.
* Edisi keempat: 2008
Edisi keempat memuat lebih dari 90 ribu lema dan sublema.

sumber


Lema = Dalam linguistik, lema atau lemma adalah kata atau frase masukan dalam kamus berikut keterangan ringkas seperti kelas katanya, etimologinya dan lafalnya. Judul lema dapat berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata berulang, kata majemuk, frasa, atau akronim, dan itulah yang dijelaskan dalam batang tubuh kamus. Lema juga bisa berarti butiran masukan atau entri.


#9 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 31 August 2010 - 08:57 PM

Daftar Kata Serapan dari Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia [tambahan]



A - D


Spoiler

E - H


Spoiler

I - M


Spoiler

N - R


Spoiler

S - Z


Spoiler

Edited by calibans, 31 August 2010 - 08:58 PM.


#10 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 01 September 2010 - 01:57 AM

Ketakkonsistenan KBBI


Fonem au tetap au dan tidak disesuaikan menjadi o
Penerapan
* autobiography > autobiografi
* autocracy > autokrasi
* autopsy > autopsi
* autodidact > autodidak
* autograph > autograf
Anomali
* automotive > otomotif, bukan automotif
* automatic > otomatis, bukan automatis
* autonom, autonomous > otonom, bukan autonom


#11 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 04 September 2010 - 07:42 PM

Kata pasien dari bahasa Indonesia analog dengan kata patient dari bahasa Inggris. Patient diturunkan dari bahasa Latin yaitu patiens yang memiliki kesamaan arti dengan kata kerja pati yang artinya "menderita".

#12 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 05 September 2010 - 11:42 PM

Eponim


Eponim adalah nama orang (bisa nyata atau fiksi) yang dipakai untuk menamai suatu tempat, penemuan atau benda tertentu dikarenakan kontribusi atau peranan tokoh yang bersangkutan pada obyek yang dinamai tersebut. Dalam bidang sains dan teknologi, sebuah penemuan biasanya diberi nama sesuai dengan penemunya, contoh:

* Bilangan Avogadro (oleh Amedeo Avogadro),
* Mesin diesel (oleh Rudolf Diesel),
* Penyakit Parkinson (oleh James Parkinson),
* Komet Halley (oleh Edmond Halley),
* distribusi Gauss (oleh Carl Friedrich Gauss),
* Konstanta Planck (oleh Max Planck)


#13 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 06 September 2010 - 03:36 PM

Majas


Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis

Jenis-Jenis Majas


Majas Perbandingan
Spoiler


Majas Sindiran
Spoiler


Majas Penegasan
Spoiler


Majas Pertentangan
Spoiler


#14 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 15 September 2010 - 10:10 AM

kompas.com Rabu, 15 September 2010 | 03:21 WIB


Bahasa Indonesia Makin Digemari

Warga Polandia semakin banyak yang mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Hal ini, antara lain, didukung adanya keyakinan bahwa masa depan ekonomi kawasan Asia, termasuk Indonesia, jauh lebih cerah dibandingkan dengan kawasan lain.

”Indonesia amat menarik. Jika ada kesempatan, saya ingin hidup dan bekerja di sana,” kata Dawid Martin (28), warga Polandia, Selasa (14/9) di Warsawa, Polandia. Dia mengaku tertarik dengan Indonesia terutama setelah belajar di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, 2003-2004. Dia adalah salah seorang peserta program beasiswa Departemen Pendidikan Nasional. ”Yogyakarta tempat paling menarik yang pernah saya lihat,” tutur Dawid.

Timoer Poerwonggo, Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Polandia, menuturkan, besarnya minat warga Polandia belajar budaya dan bahasa Indonesia, antara lain, terlihat dari terus bertambahnya jumlah warga Polandia yang mengajukan beasiswa belajar di Indonesia. Tahun ini lebih dari 50 orang mengajukan beasiswa, padahal jatah hanya untuk 43 mahasiswa. ”Fenomena seperti ini tidak terjadi di negara Eropa lain,” tutur Timoer.

Hal ini terjadi karena warga Polandia menganggap peran Asia semakin penting, terutama di segi ekonomi. ”Apalagi setelah krisis di Amerika tahun 2008 dan disusul krisis di Yunani sehingga mencari pekerjaan di kawasan Eropa tidak semudah sebelumnya,” ungkap Timoer.

Terbatasnya jatah beasiswa mendorong sejumlah universitas membuka program studi kajian budaya Indonesia dan Melayu, misalnya Universitas Adam Mickiewicz di Poznan, Polandia, yang pada 2004 membuka program sejenis dan ada 18 mahasiswa angkatan pertama. Menurut Teja Gumilar, warga Indonesia pengajar senior di universitas itu, sampai kini peminatnya masih banyak. [M Hernowo dari Warsawa, Polandia]

Edited by calibans, 15 September 2010 - 10:11 AM.


#15 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 17 September 2010 - 08:49 AM

kompas.com Jumat, 17 September 2010 | 02:58 WIB


Bahasa Alay


Quote

[indent]RAINY MP HUTABARAT[/indent]
Suatu kali saya menanggapi fesbuk, istilah gaul bagi facebook, seorang teman yang juga senior saya di kampus ketika masih kuliah. Teman itu kemudian membalas dengan menuliskan kode D. Serta-merta ”D” saya artikan sebagai diam. Saya merasa sakit hati. Ketika itu saya terbilang orang baru di lingkungan media jejaring sosial, jadi belum paham benar maksud kode-kode yang digunakan.

Sejak itu, tiap kali membuka fesbuk, saya agak cemas bila ”bertemu” dengan teman itu. Lama-lama saya sadar, ternyata banyak yang menggunakan kode D di ruang komentar. Saya tanya adik saya apa arti ”D”. Ternyata artinya: tertawa lebar.

Kehadiran ponsel dan media jejaring sosial—fesbuk dan twitter—harus diakui telah ikut mendorong munculnya ragam bahasa tersendiri. Istilah populernya bahasa alay, akronim dari anak lebay, yakni bahasa tulis berupa campuran bahasa gaul lisan, bahasa asing khususnya Inggris, singkatan, kode, angka, dan visualisasi. Bahasa ini berkembang di kalangan remaja, namun dalam pergaulan media jejaring sosial juga digunakan orang dewasa bahkan lansia. Semakin lama bahasa ini kian berkembang sehingga seorang dewasa yang telat memiliki akun, seperti saya, perlu waktu adaptasi sebentar. Bahasa alay pada dasarnya memanfaatkan bahasa prokem anak muda Ibu Kota, ragam bahasa yang berkembang di akhir 1980-an, dan kemudian jadi ragam bahasa media jejaring sosial yang khas. Dalam pergaulan media jejaring sosial, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar malah membuat orang tampak aneh, kaku, dan lucu.

Di sini saya tak hendak menganalisis faktor penyebab pemunculan bahasa alay, apalagi mengangkat contoh kasus demi kasus yang bertaburan di media jejaring sosial. Tentu saya ikut prihatin karena bahasa alay banyak digunakan kalangan remaja, kelompok usia yang masih harus belajar disiplin berbahasa. Menurut data Kemenkominfo, pengakses internet terbanyak adalah remaja, mencapai 64 persen. Indonesia berada di peringkat tiga dunia sebagai pengguna media jejaring sosial (26 juta), setelah Amerika Serikat (130 juta) dan Inggris (28 juta). Bayangkan, 26 juta dari 234,2 juta penduduk Indonesia (Data BPS 2010) menggunakan bahasa alay, kendati frekuensi penggunaannya terbanyak di kalangan remaja. Bisa disimpulkan, selama media jejaring sosial dan SMS ponsel digunakan, bahasa alay akan terus berkembang.

Prinsip bahasa alay sederhana: yang penting teman-teman menangkap pesan yang disampaikan. Meski bahasa prokem juga tak seragam karena tergantung kepada daerah, misalnya bahasa prokem Tegal, masih ada aturan tak tertulis dalam penggunaannya. Penggunaan partikel untuk menekankan emosi tertentu (deh, nih, dong, sih) dan sisipan (-ok- pada bapak menjadi bokap, pada nyak jadi nyokap) masih bisa ditelusuri.

Dalam bahasa alay, orang bebas menyingkat bahasa resmi, Indonesia maupun Inggris, menambah unsur visual, angka, tanda, dan kode. Biasanya dalam menyingkat kata, unsur vokal dihilangkan, dan tatkala semua kata disingkat, teman harus paham. Tahu sama tahu.

Beberapa contoh bahasa alay: ”Aq ke rmhx hr ni” (aku pergi ke rumahnya sore hari ini), ”mkcih, ya” (terima kasih, ya), ”otw ke rmh” (on the way ke rumah), ”gapapa” (tidak apa-apa), ”))” (kode untuk senyum, sering ditulis pada akhir komentar, misalnya ”I luph u:))”), ”P” atau ”Piiis” (peace artinya ”damai, jangan marah, dong”). Masih banyak lagi.

Kesimpulan apakah yang bisa dipetik dari bahasa alay? Pemeo ”bahasa menunjukkan bangsa” tampaknya tak lagi berlaku, digeser pemeo ”bahasa menunjukkan media”.


Rainy MP Hutabarat Cerpenis

Edited by calibans, 17 September 2010 - 08:53 AM.


#16 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 23 September 2010 - 08:59 PM

Bahasa Ilmiah


[indent]Seno Gumira Ajidarma, Wartawan[/indent]
SAAT mengikuti penjelasan seorang dosen tentang bahasa ilmiah, beliau memberi contoh bahwa tidak dibenarkan menuliskan kalimat seperti berikut: "Menurut pendapat gue...."

Hehe. Waktu itu semua mahasiswa tertawa. Namun saya sempat berpikir, bagaimana kalau kita tidak hidup di Republik Indonesia, tetapi di Republik Betawi? Benarkah bahasa Betawi masih tidak layak dan tidak sahih menjadi bahasa ilmiah?

Barangkali perlu sedikit eksperimen seperti ini:

[indent]Kalo kite-kite melejit di luarnye langit sono noh nyang same aje cepetnye ame caye mentari, ntu ruang angkase bakalan ngerut ampe abis, padahal waktu bakalan kegeber omber kagak abis-abis; lantes nyang kite namain barang, kalo emang ade, ntu barang bakalan jadi gede banget kagak ade batesnye....[/indent]
Mereka yang hanya mendengar bahasa Betawi melalui lenong mungkin mengira ini salah satu lawakan Bokir, padahal ini terjemahan bebas dari nukilan teori relativitas Einstein. Mau dibolak-balik, dengan bahasa macam apa pun, itu adalah teori ilmiah yang merupakan tonggak dalam sejarah ilmu pengetahuan. Jika Einstein adalah warga Republik Betawi, lahir dan bekerja dalam lingkungan budaya Betawi, dapat diandaikan bahasa semacam itulah yang akan terdengar atau tertulis ketika menjelaskan teori tersebut.

Jadi soal bahasa ilmiah mana dan macam apa yang sahih digunakan untuk menuliskan pemikiran ilmiah adalah soal kuasa. Di Belanda, tesis boleh ditulis dalam bahasa Inggris. Jangan harap ini bisa terjadi di Prancis. Sama-sama bahasa Indonesia, bahasa gaul tidak mendapat hak menjadi bahasa skripsi, apalagi disertasi. Apa yang disebut bahasa ilmiah ditentukan melalui kesepakatan kelompok dominan, katakanlah "ilmuwan bahasa" begitu, sama sekali bukan karena memang ada bahasa canggih dan bahasa terbatas.

Bahasa ilmiah terbentuk langsung dari pemikiran ilmiah itu sendiri, sehingga tentunya bahasa apa pun memang dapat menjadi bahasa ilmiah, tergantung keterampilan berbahasa sebagai bagian dari penguasaan ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Betapapun, toh bahasa mana pun tak mungkin mandiri dalam isolasi total untuk menggenggam bahasa ilmiahnya, melainkan halal memanfaatkan istilah serapan.

Dalam teks ilmiah berbahasa Inggris pun tak kurang-kurangnya bertebaran istilah Prancis, Jerman, Rusia, dan Yunani, karena sejarah perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Driyarkara menuliskan definisi sebagai dhipinisi untuk buku kritik sosial berbahasa Jawa, Rerasan Owah Gingsiring Jaman (2007). Buku itu memperlihatkan bahwa bahasa Jawa ngoko (kasar) pun dapat digunakan untuk mengungkap gagasan abstrak:

[indent]Nek bab olehe gawe utawa ndhengungake diphinisi Agama, kena-kena bae! Ora kena wong liya nglarangi utawa ngluputake! Ning nek banjur nuntut supaya diphinisi mau diakoni Negara lan didadekake pathokan, apa iku dudu bebaya njiret dhemokrasi? Awit agama sing cengkah karo diphinisi mau, apa banjur arep dilarang? Nek ngono manut keyakinane dhewe-dhewe, apa ora jeneng digadhe karo sing padha netepake diphinisi mau? (Driyarkara, 1953: 66).[/indent]
Dalam bahasa Indonesia, discourse pernah muncul sebagai diskursus, tetapi sekarang kata wacana telah menggantikannya, meski terdengar seperti nama teman saya Watjono dari Yogya. Begitu dengan diskursus, begitu pula dengan berbagai kata "canggih" semacam konvergensi, disparitas, atau paradigma. Lama-lama saya sendiri cukup terbiasa juga, meski selalu ingin tertawa, dengan mangkus dan sangkil sebagai ganti efektif dan efisien, dan saya ingat betapa usaha membuat tulisan yang penuh istilah serapan asing, agar tulisan tampak "berbobot", sungguh merupakan perilaku puber yang memalukan.

Menjadi ilmiah atau kurang ilmiah bukan sekadar masalah penggunaan bahasa, melainkan cara berpikir dengan pendekatan ilmiah. Dengan demikian, sejauh suatu konstruksi pemikiran dapat bertahan dalam segenap pengujian ilmiah, bahasa apa pun yang digunakannya tentu tidak harus jadi masalah. Kecuali jika masalahnya lebih praktis, bahwa bahasa suatu tesis sebaiknya dikuasai setiap penguji. Disertasi Abdul Hadi W.M. di Malaysia tentang Hamzah Fansuri memang diuji orang Rusia, tetapi Braginsky adalah pakar estetika Melayu. Jika Anda menulis tesis S2 dengan bahasa Rote, dan tidak seorang pun mampu membimbing apalagi mengujinya, Anda sendiri yang berabe.

Jadi, sahihkah menulis dengan, "Menurut pendapat ogut..."? Menurut saya sahih. Namun adalah sekutu kuasa, alias power bloc birokrasi pendidikan tinggi, yang tidak membenarkan tesis jenial mana pun dalam bahasa gaul diluluskan dan mendapat ijazah.

tempointeraktif.com 30 Agustus 2010


Edited by calibans, 23 September 2010 - 09:03 PM.


#17 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 28 September 2010 - 05:01 PM

Terkait
oleh Uu Suhardi, Redaktur Bahasa Tempo
Tak bisa dimungkiri, terkadang kita mengalami kesulitan ketika hendak menentukan kata sambung (konjungsi) atau kata depan (preposisi) yang tepat untuk menghubungkan unsur-unsur dalam sebuah kalimat. Akibatnya, kata sambung "oleh", misalnya, sering dipertukarkan dengan preposisi "dari", "pada", dan "kepada" atau konjungsi "dengan". Kalimat "Tim Jerman kalah oleh Spanyol" masih bersaing dengan kalimat "Tim Jerman kalah dari Spanyol". Begitu pula antara "Lelaki tua itu terpesona oleh kecantikannya" dan "Lelaki tua itu terpe sona pada kecantikannya" atau antara "Kita terbelenggu oleh isu-isu politik yang sensasional" dan "Kita terbelenggu dengan isu-isu politik yang sensasional".

Karena kesulitan itu, tak jarang pewarta mengambil "jalan pintas" untuk menentukan pilihan kata yang dianggap pas. Salah satunya pemakaian kata "terkait" yang seolah dapat berfungsi sebagai konjungsi atau preposisi. Beberapa tahun belakangan ini, media cetak dan elektronik sangat produktif menggunakan kata yang sebenarnya masuk kategori kata kerja (verba) itu. Di bawah ini beberapa contohnya.

"Lawatan Valencia ke Madrid bakal berat terkait masih cederanya pemain lini pertahanan mereka". Kalimat ini ingin menunjukkan bahwa cederanya pemain belakang Valencia mengakibatkan beratnya lawatan tim itu ke Madrid. Ada hubungan sebab-akibat di sini. Itu berarti kata sambung yang tepat adalah "karena": "Lawatan Valencia ke Madrid bakal berat karena masih cederanya pemain lini pertahanan mereka".

"Kubunya tidak memberikan komentar terkait pernyataan Capello". "Memberikan komentar" dalam kalimat ini semestinya diikuti kata depan yang menandai arah, yaitu "terhadap": "Kubunya tidak memberikan komentar terhadap pernyataan Capello".

"Ia disangka menerima suap terkait kasus mafia hukum". Di antara "suap" dan "kasus mafia hukum" seharusnya diletakkan preposisi yang menandai sesuatu yang mengandung isi, yakni "dalam": "Ia disangka menerima suap dalam kasus mafia hukum".

Sering juga "terkait" secara sewenang-we nang mengisi posisi "tentang". Misalnya, "KPK akan meminta keterangan mereka terkait perkara Bank Century", "Juve tak pernah menghubunginya terkait rencana pembelian Kuyt", "Mahkamah Agung menolak permohonan peninjauan kembali terkait hilangnya mobil Toyota Kijang Super milik Anny R. Gultom", dan "Terkait hal itu, ia mengatakan tidak tahu-menahu".

Tentu saja, tidak terhitung pula jumlah tulisan yang menempatkan kata "terkait" secara tepat. Sebagai kata kerja, "terkait" masuk kategori verba intransitif, yakni verba yang tidak memerlukan obyek atau pelengkap penderita. Jika kata "terkait" diikuti pelengkap, agar kalimat menjadi sempurna, dibutuhkan partikel yang menghubungkan keduanya, biasanya kata "dengan". Contohnya, "Kerusuhan itu terkait dengan langkanya bahan pokok", "Tingkat ketergantungan para pembeli rumah terkait dengan kredit kepemilikan rumah", dan "Kelompok itu terkait dengan gerakan bersenjata yang sedang diburu polisi". Kata "terkait" dalam contoh terakhir bisa juga diganti dengan "berkaitan" untuk menunjukkan adanya hubungan timbal balik.

Bagaimana menurut kamus? Ternyata hanya Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) yang mencantumkan sublema "terkait", yang dimaknai sebagai "sudah dikait; tidak se ngaja mengait", "dapat dikaitkan", "bersangkut paut; berhubungan", dan "ada kaitannya; ada hubung annya". Kamus lain, seperti Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S. Poerwadarminta (1984) dan Kamus Umum Bahasa Indonesia J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain (1994), tidak menyertakan sublema "terkait" di bawah lema "kait".

Dalam Kamus Dewan Malaysia (2007), "terkait" dirujuk ke "terlibat": "terbebat, terbelit, terlipat, termasuk (dalam suatu hal), terbabit" tidak berkaitan dengan makna "terkait" dalam bahasa Indonesia. Adapun Te saurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko (2006) mencantumkan "terkait" sebagai verba dengan sinonim "tercangkel, tercantel, tercantol, tersangkut, teruit, tergantung, tersangsang, melekat, terikat, terpaut", yang sebenarnya bisa dilengkapi oleh "terhubung" dan "tersambung".

sumber: tempointeraktif


Edited by calibans, 28 September 2010 - 05:05 PM.


#18 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 01 October 2010 - 09:16 AM

"Z"


[indent]KASIJANTO SASTRODINOMO[/indent]
Pusat Bahasa mengukuhkan ejaan kata serapan dari bahasa asing yang berawal atau berunsur huruf z tetap ditulis atau diucapkan seperti adanya. Jadi, zenith, zirconium, dan zodiac disurat zenit, zirkonium, dan zodiak dalam ejaan Indonesia. Ada 184 kata berawal z yang dientri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, jauh lebih gendut ketimbang edisi sebelumnya yang hanya 82 kata. Suatu pengembangan materi kosakata yang layak diacungi jempol.

Dalam praktik berbahasa biasa muncul varian: z tak selalu tertulis atau terucap seturut patokan Pusat Bahasa. Pada sebagian penutur bahasa Jawa, misalnya, huruf itu menjelma berbagai wujud seperti j yang terdekat, atau d dan s. Faktor objektifnya cukup jelas: aksara Jawa tak mengenal z. Barulah ketika budaya luar berdatangan, terutama dari Arab dan Belanda, huruf itu ikut masuk. Maka, zaman jadi jaman seperti jaman edan yang tertulis dalam risalah ramalan Ranggawarsita. Zonder yang Belanda berubah sonder. Kelompok musik cadas memilih nama jamrud alih-alih zamrud. Seorang teman meminjam horijon. Yang dia maksud adalah majalah Horison, atau horizon menurut KBBI.

Ejaan Arab dz juga jadi medok dalam ucapan Jawa. Kata dzikir atau zikir dalam KBBI, misalnya, jadi dikir atau jikir. Demikian pula adzan bersulih adan atau ajan. Sebutan salat wajib tengah hari, zuhur atau dhuhur (Arab), pun sering terucapkan juhur dan makin menjauh jadi lohor ketika dijawakan. Kemudian nama bulan Arab Dzulqa’dah atau Zulkaidah pada KBBI dibunyikan Dulkangidah dalam penanggalan Jawa. Beberapa contoh acak perubahan aksara dan bunyi tersebut menunjukkan semacam domestikasi z dalam pengucapan Jawa, bahkan mungkin juga dalam bahasa daerah yang lain di Indonesia.

Namun, lafaz z tak boleh ditawar dalam pembacaan teks Alquran demi ketepatan makna. Itu sebabnya para pelantun ayat-ayat suci Alquran yang tekun—kaum santri contohnya—sangat fasih mengucapkan z. Penggunaan kata rizki sebagai nama diri menyiratkan penganggitnya lebih Islami dan sadar bagaimana harus mengeja nama itu. Sementara, (sri) rejeki mungkin jadi preferensi kaum ”priayi abangan” mengikuti kategorisasi Clifford Geertz. Mungkinkah pilihan atas z juga bertemali dengan kecenderungan linguistik di antara golongan sosial di Jawa model itu? Geertz luput mengamatinya.

Hampir semua kata berawal z pada KBBI merupakan serapan dari kata asing, terutama Arab, Belanda, Inggris, dan beberapa istilah teknis ilmiah dalam ilmu pengetahuan alam. Cukup sulit kita temukan kata berhuruf Latin terakhir itu yang ”asli” dalam khazanah bahasa Indonesia. Mungkin hanya komikus dan karikaturis yang berhasil memanfaatkan z secara tepat untuk mendeskripsikan orang tidur nyenyak: Zzzzz. Makin banyak z yang dijejerkan, makin lelap tidur orang yang digambarkan itu.

Tiba-tiba saya teringat akan Asmuni (almarhum), pelucu senior kelompok sandiwara Srimulat. Dalam aksi panggungnya sebagai pembantu rumah tangga, dia biasa bertanya kepada tamu yang datang, ”Mau minum susu atau zuzu?” Apa bedanya? Yang pertama cuèr, sedangkan yang kedua kenthel.

KASIJANTO SASTRODINOMO Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

kompas Jumat, 1 Oktober 2010



#19 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 07 October 2010 - 11:06 PM

Belajar Bahasa Jiran


Masihkah kita mau belajar dari jiran? Mungkin tidak. Persoalan yang acap kali membelit Indonesia Malaysia bisa menjadi batu sandungan. Tapi, jika kita masih ingin memberi porsi pada diskusi perbedaan bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Indonesia, simaklah ini. Apa yang te-bersit di benak kita dengan kalimat berikut ini: kita merasa seronok menonton rancangan bual politik di televisyen semalam. Ujaran semacam ini akan terdengar asing di sini karena ada beberapa kata yang bisa menimbulkan kesalahpahaman karena ke-taksaan makna kata, seperti seronok, rancangan, dan bual. Bukankah kalimat tersebut sangat sederhana?

Teman Malaysia saya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya apabila seseorang menyebut kata seronok, karena ia tahu bahwa kata ini mempunyai konotasi yang berkait dengan syahwat. Padahal di negeri tetangga, kata tersebut menunjukkan arti senang atau gembira, tidak lebih. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mendengar salah seorang anggota keluarga diplomat Indonesia menceritakan keterkejutannya karena mendengar ka-ta "yang kurang sopan" ini dalam sebuah pertemuan resmi untuk pertama kalinya. Namun, setelah lama bekerja di Malaysia, ia pun mafhum.

Sementara, rancangan merupakan terjemahan dari programme. Kata ini akrab di telinga warga negara jiran karena sering digunakan dalam percakapan dan tulisan. Keberhasil-an ini tentu merupakan buah kerja keras dari Dewan Bahasa dan Pustaka di sana, yang getol mencari padanan kata asing dalam bahasa Melayu dan tentu saja kekuatan media televisi dalam menyebarkan sebuah istilah. Tidak aneh jika kata asing banyak diterjemahkan ke dalam baha-sa tempatan berbeda dengan bahasa dan media Indonesia yang tak berusaha melakukan hal yang sama dan lebih suka menyerap begitu saja dari bahasa lain, seperti grup, bukan kumpulan, atau sepenuhnya menggunakan kata asing, seperti reporter, padahal di Malaysia masih menggunakan kata lama, yaitu pemberita.

Nah, yang membingungkan adalah perbedaan nuansa arti kata, seperti bual. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1988), lema ini ber-arti "omong kosong, cakap besar (sombong)". Sepertinya, kata bual hanya cocok untuk pengertian negatif. Sementara di Malaysia, bual bermakna percakapan yang tidak melulu "kosong", tetapi juga berisi. Tidak aneh jika sebuah acara televisi menggunakan kata bual untuk nama program diskusi di layar kaca, Bual Politik. Malah, kata temubual lebih sering digunakan dibanding kata yang mempunyai arti yang sama, wawancara.

Selain itu, istilah istilah teknis dalam penelitian akademik tidak luput dari proses alih bahasa ke dalam bahasa Melayu, seperti variabel (variable) yang diganti dengan pembolehubah, dan eksperimen (experiment) diterjemahkan dengan ujikaji. Dua kata ini sering saya temukan dan saya dengar dalam pelbagai kesempatan. Kaum terpelajar tidak kikuk mengucapkan kata kata tersebut, karena selain dibakukan, sering diucapkan dalam kegiatan pengetahuan. Sama de-ngan sejumlah kata lain yang secara sadar dimasyarakatkan, seperti facilitator dengan pemudahcara atau kata director dengan pengarah. Karena itu, jabatan Sri Mulyani di Bank Dunia diterjemahkan menjadi pengarah pengurusan (managing director), yang di sini diterjemahkan oleh pelbagai koran dengan direktur pelaksana.

Tentu, tugas kita bersama untuk memeriksa kembali penggunaan sejumlah kata yang diadaptasi dari bahasa asing, karena bahasa Indonesia mempunyai kosakata dan aturan turunan sendiri. Kata yang diserap dari bahasa asing begitu saja, seperti produsen, konsumen, dan distributor, telah menghilangkan kedigdayaan bahasa ini, karena sesungguhnya ia mempunyai aturan, yaitu imbuhan awal perkata dasar. Di negeri jiran, ketiga kata itu menjadi pengeluar, peng-guna, dan pengedar. Malangnya, di sini kata yang terakhir ini acap kali digunakan untuk penggiat penjualan narkoba. Demikian pula, orang Malaysia lazim menyebut pe-ngumpul sebagai ganti kata kolektor, di Indonesia kata pengumpul lebih memberi konotasi pada "pemulung barang bekas" atau "sampah".

Lalu, bagaimana dengan istilah fellow- yang berarti teman, rekan atau sahabat? Apakah saya harus membubuhkan kata teman peneliti pascadoktoral sebagai penanda pekerjaan? Di Malaysia, kata ini dengan mudah disebut felo, sesuai dengan pengucapan dalam bahasa asal. Memang di Malaysia, banyak kata yang berasal dari bahasa Inggris yang dimelayukan sebagaimana pelafalan dalam bahasa aslinya, seperti montage, menjadi montaj, dan prestige berubah prestij. Meski mempunyai akar serumpun, bahasa Indonesia tidak mempunyai kosakata yang berakhiran [j], apalagi [g], seperti kata beg, yang berasal dari bag.

Sementara, praktek penyerapan kata turunan yang acap kali melimpah adalah penambahan akhiran isasi di belakang sebuah kata dasar. Dengan demikian, kata bersangkutan menunjukkan proses, seperti sosialisasi yang juga bisa disepadankan sebagai pemasyarakatan. Sayangnya, kata yang terakhir jarang digunakan karena lebih dikenal untuk pembelajaran narapidana. Celakanya, dalam KBBI (1998: 286) kita menemukan istilah otomatisasi, padahal bahasa Inggrisnya automation, bukan automatization. Ternyata kita lebih bersemangat dari pemakai bahasa aslinya. Jadilah, imbuhan isasi itu telah menjadi milik kita yang digunakan sewenang wenang.


Ahmad Sahidah, Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia

tempointeraktif.com 04 Oktober 2010



#20 calibans

    BlueFame Flooder

  • Elite Member
  • 1,913 posts
Click to view battle stats

Posted 08 October 2010 - 09:47 AM

Perubahan dan Pengubahan


ANTON M MOELIONO
Dalam bahasa kita sehari-hari, kita memakai verba berubah dan mengubah dengan berselang-seling. Bentuk berubah berhubungan dengan subjek saja, seperti dalam cuaca dan iklim berubah, air mukanya berubah. Maknanya di sini cuaca, iklim, dan air muka menjadi lain dan berbeda dari keadaan semula. Penyebabnya dari dalam, atau tidak diketahui, atau tidak dikenal karena tidak dianggap penting.

Ada sejumlah konstruksi verba berubah yang ditambah keterangan yang merupakan idiom: berubah akal dengan makna ’gila’ dan berubah mulut ’ingkar janji’. Ungkapan itu disebut idiom karena maknanya tidak dapat dijabarkan dari makna harfiahnya.

Bentuk verba mengubah bertalian dengan subjek dan objek. Ada yang mengubah dan ada yang diubah, penyebabnya dapat dikenal, diketahui, atau dirunut. Beberapa contoh: mengubah teks Undang-Undang Dasar, mengubah warna dinding kamar itu. Bentuk berubah dan mengubah masing-masing mempunyai paradigma yang berbeda. Paradigma di sini diartikan pola dengan sejumlah kata yang mempunyai bentuk dasar yang sama. Untuk bahasa Melayu di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam serta bahasa Indonesia di Indonesia dan Timor Leste, paradigma verba berubah terdiri atas peubah ’yang berubah’ dan perubahan ’keadaan atau kejadian berubah’, sedangkan paradigma verba mengubah berunsur pengubah ’yang mengubah’, pengubahan ’perbuatan atau proses mengubah’, dan ubahan ’hasil mengubah atau yang diubah’.

Kedua paradigma itu memiliki daya terap yang luas dan mampu membedakan dengan cermat makna kata dengan afiks per-an dari kata dengan afiks peng-an. Contohnya Jakarta berubah dengan pesat bertalian makna dengan Perubahan Jakarta yang pesat, MPR mengubah Undang-Undang Dasar kita bertalian makna dengan Pengubahan Undang-Undang Dasar kita oleh MPR. Jadi, bukan perubahan Undang-Undang Dasar. Undang-undang dasar diubah dan tidak berubah dengan sendirinya. Hasil mengubah konstitusi itu ialah ubahan. Ubahan konstitusi itu disebut juga amandemen, amendment (Inggris) yang menjadi sumber penyerapan padanan Indonesianya.

Amend sebenarnya bermakna ’mengubah untuk mengoreksi, atau memperbaiki sesuatu’. Untuk makna yang terakhir ini dalam bahasa kita sebenarnya tersedia verba pinda dengan paradigma meminda, peminda, pemindaan, dan pindaan. Jadi, kita dapat berbicara tentang pindaan pertama, pindaan kedua, dan seterusnya.

Dengan menerapkan paradigma di atas, daya ungkap bahasa Indonesia masa kini dapat kita cermatkan. Melindungi kaum duafa bertalian dengan pelindungan kaum duafa, sedangkan Kami berlindung di tempat aman bertalian dengan Tempat aman itu perlindungan kami.

Kita harus bersyukur bahwa peranti bahasa kita memungkinkan kita berbicara tentang perairan ’tempat berair’ dan pengairan ’tindakan mengairi’; permukiman ’tempat bermukim’; dan pemukiman ’proses memukimkan’. Kita memakai bentuk pernikahan dan perkawinan karena di masa lampau orang dikatakan bernikah dan berkawin. Akhirnya perlu diluruskan paradigma berdosa dan bertobat yang bertalian dengan pedosa (bukan pendosa) dan perdosaan serta petobat (bukan pentobat) dan pertobatan.

Anton M Moeliono Pereksa Bahasa; Guru Besar Emeritus Linguistik Universitas Indonesia

Kompas Jumat, 8 Oktober 2010







BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy