Jump to content



 

 

Semua Tentang Upacara Adat Yang Ada Di Indonesia !


15 replies to this topic

#1 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2010 - 05:43 PM

Upacara Perkawinan pada Masyarakat Kubu
(Provinsi Jambi)



Orang Kubu tersebar secara mengelompok di daerah pedalaman (hutan) di 3 kabupaten dari 6 kabupaten/kota yang tergabung dalam Provinsi Jambi (Kabupaten: Bungo Tebo, Sarolangon, dan Batanghari). Ini artinya, hanya Kota Jambi, Kabupaten Kerinci, dan Tanjung Jabung yang “bebas” dari Orang Kubu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seseorang mendengar kata “Kubu”, maka apa yang terbayang di kepalanya adalah “Jambi”, walaupun Orang Kubu ada juga di daerah Sumatera Selatan, tepatnya di Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas, Indonesia (Melalatoa, 1995:38).

Populasi yang pasti tentang Orang Kubu sulit diketahui karena mereka hidup secara berkelompok dan berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain. Namun, sebagai gambaran di awal abad ke-20, tepatnya tahun 1907, diperkirakan jumlahnya mencapai 7.500 jiwa (Melalatoa, 1995:38). Masing-masing kelompok membentuk komunitas tersendiri. Di kawasan TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas) misalnya, di sana ada tiga kelompok, yakni kelompok yang ada di bagian selatan cagar biosfer (Air Hitam), kemudian yang ada di bagian utara dan timur (Kejagung), dan kelompok yang ada di sebelah barat (Makekal). Sebutan mereka disesuaikan dengan daerah di mana mereka berada. Oleh karena itu, mereka ada yang menyebut sebagai Orang atau Kelompok: “Air Hitam”, “Kejagung”, dan “Makekal”.

Banyak versi yang berkenaan dengan asal-usul orang Kubu, antara lain mereka berasal dari: Palembang (Sumatera Selatan), Sumatera Barat (Pagaruyung), perantau (Bujang Perantau), dan bajak laut. Lepas dari berbagai versi yang berdasarkan ceritera rakyat itu yang jelas bahwa kehidupan mereka tidak lepas dari hutan. Hutan bagi mereka tidak hanya berfungsi sebagai sumber penghidupan, tempat berlindung, dan sarana integrasi sosial, tetapi juga sebagai wahana untuk reproduksi sosial dan aktualisasi diri. Begitu pentingnya keberadaan hutan bagi mereka sehingga memerlukan pengembangan organisasi sosial, pengetahuan, dan pranata-pranata pengendaliannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka benar-benar menguasai seluk beluk setiap jengkal kawasan hutannya. Mereka tahu di mana harus berlindung dari sergapan binatang buas. Mereka tahu persis potensi hutan tempatnya bermukim dan bagaimana mengolahnya, serta tanaman dan binatang apa yang dapat dimanfaatkan. Bahkan, mereka tahu bagaimana melestarikannya (mempertahankan wilayahnya yang telah dikuasai dari generasi ke generasi, mengendalikan, menguasai, dan memanfaatkannya). Tidak sembarang bagian hutan boleh dibuka sebagai tempat berladang, meramu, berburu atau mendirikan perkampungan baru. Pendek kata, orang Kubu mengetahui persis luas hutan yang boleh dibuka dari tepi sungai hingga puncak bukit. Mereka juga tahu tumbuhan apa yang harus ditanam dan bagaimana caranya.

Tulisan ini tidak mengemukakan berbagai cara yang dilakukan oleh orang Kubu dalam melestarikan lingkungan alamnya. Akan tetapi, akan mengemukakan mengenai terintegrasinya seseorang dalam sistem sosial masyarakat Kubu melalui sebuah perkawinan, karena dengan perkawinan berarti seseorang telah dianggap sebagai anggota masyarakat yang penuh (mempunyai hak dan kewajiban sosial yang sama dengan anggota masyarakat lainnya). Melalui perkawinan akan terbentuk sebuah keluarga yang tidak hanya berfungsi sebagai kesatuan ekonomi, tetapi juga pendidikan dan pengembang-biakan keturunan. Untuk itu, sebuah keluarga di manapun dan pada masyarakat manapun, termasuk orang Kubu, didahului dengan perkawinan (berdasarkan agama dan atau adat-istiadat masyarakat yang bersangkutan). Perkawinan yang ideal di kalangan orang Kubu adalah perkawinan antara seorang pemuda dan gadis anak saudara laki-laki dari pihak ibu (cross causin). Sungguhpun demikian, seorang pemuda boleh memilih jodoh dengan siapa saja asal bukan seperut (sedarah).

Proses Perkawinan Orang Kubu

Perkenalan

Sebagaimana lazimnya proses perkawinan pada masyarakat Indonesia secara umum, perkawinan orang Kubu juga didahului oleh pertemuan antara dua remaja yang berlainan jenis. Pertemuan yang kemudian membuat mereka saling kenal dan saling tetarik ini bisa terjadi di ladang, sungai, hutan, atau di pesta perkawinan. Jika dalam pertemuan tersebut keduanya bersepakat untuk hidup bersama, maka pihak orang tua akan memberitahukannya kepada tetua tenganai (orang-orang tua yang berpengalaman). Jika mereka telah sepakat, maka peminangan dapat dilakukan.

Peminangan dan Pertunangan

Peminangan pada dasarnya adalah suatu kegiatan untuk membicarakan kemungkinan adanya suatu perkawinan. Kegiatan ini oleh orang Kubu disebut sebagai “moro”. Untuk itu, ayah sang pemuda menemui ayah sang gadis untuk memastikan apakah anak laki-lakinya dapat ditunangkan dengan anak gadisnya. Jika dalam pembicaraan itu keduanya sepakat, maka mereka menemui tetua tenganai terdekat. Kemudian, mereka menentukan kapan pertunangan dilakukan.

Ketika hari yang disepakati untuk bertunangan tiba, maka pihak keluarga laki-laki datang ke rumah keluarga perempuan dengan membawa bawaan yang terdiri atas: pakaian perempuan seperlunya, sirih pinang selengkapnya, dan selemak-semanis (beras dan lauk-pauk). Dengan diterimanya bawaan tersebut berarti sepasang remaja yang berlainan jenis telah bertunangan menurut adat mereka.

Lama dan singkatnya waktu pertunangan antara seorang jejaka dan seorang gadis Kubu bergantung kesepakatan orang tua (ayah) kedua belah pihak. Melalatoa (1995:39) menyebutkan 8--9 tahun. Malahan, terkadang sampai 10 tahun. Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa masa pertunangan mereka berlangsung dalam waktu yang relatif lama, yaitu umur dan kesiapan pihak keluarga laki-laki untuk memenuhi persyaratan upacara perkawinan yaitu mas kawin yang berupa kain panjang atau sarung sejumlah 140 buah, selemak semanis (bahan makanan yang berupa ubi dan beras), lauk-pauk yang berupa daging binatang buruan, dan masih banyak lainnya yang mesti diserahkan kepada pihak keluarga perempuan sebelum upacara perkawinan dilaksanakan.

Perlu diketahui bahwa umur ketika seorang jejaka menjadi pengantin (kawin) pada umumnya 11--14 tahun, sedangkan seorang gadis pada umunya berumur 17--21 tahun. Jadi, pada umunya calon suami lebih muda ketimbang calon isterinya. Sehubungan dengan itu, calon suami harus “didewasakan” dengan berbagai kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang dewasa. Dalam hal ini calon pengantin laki-laki harus menunjukkan ketangkasannya (uji tangkas). Misalnya, ia harus dapat meniti kayu yang telah dikupas kulitnya (licin) dan atau membangun balai1) (bangsal) dalam waktu setengah hari (dikerjakan sendiri mulai dari matahari terbit sampai dengan tengah hari). Jika ia dapat melakukannya (meniti kayu yang licin dan atau mendirikan balai), maka dianggap lulus dan perkawinan dapat dilangsungkan. Akan tetapi, jika tidak dapat melakukannya dengan baik alias gagal, bukan berarti bahwa perkawinan diurungkan atau gagal, tetapi calon pengantin laki-laki masih diberi kesempatan untuk mengulanginya pada hari berikutnya. Pendek kata, sampai calon pengantin laki-laki dapat melakukannya dengan baik (berhasil). Biasanya ujian tersebut dilaksanakan dua hari menjelang perkawinan (upacara perkawinan).

Sebagai catatan, meskipun jangka waktu pertunangan telah disepakati oleh kedua belah pihak, namun percepatan bisa saja terjadi. Hal itu bergantung pada kesiapan pihak keluarga laki-laki untuk melangsungkan perkawinan. Jika itu terjadi, biasanya pihak keluarga laki-laki yang mengusulkannya. Sedangkan, pihak keluarga perempuan sifatnya hanya mengikuti saja.

Upacara Perkawinan

Sebelum upacara perkawinan (akad nikah) dilaksanakan, pihak keluarga laki-laki menyiapkan dan menyerahkan semua persyaratan yang diminta oleh pihak keluraga perempuan. Persyaratan itu tidak hanya mas kawin dan selemak semanis, tetapi masih banyak lainnya, yaitu: seekor ayam berugo pikatan (ayam yang digunakan untuk memburu ayam hutan), seekor anjing yang mau (anjing yang pandai menggiring dan atau menangkap biawak, babi hutan, dan napo-napo (sejenis pelanduk), sebuah pesap atau ambat atau saok-saok (jaring ikan yang berukuran kecil), seekor burung puyul (puyuh) yang pandai berkelahi dengan sejenisnya, dan sepotong pakaian atau kain yang bagus. Jika permintaan yang sekaligus merupakan persyaratan itu dipenuhi, maka perkawinan bisa dilaksanakan. Akan tetapi, jika tidak bisa dipenuhi, maka perkawinan ditangguhkan atau bisa saja dibatalkan.

Upacara perkawinan itu sendiri biasanya bertempat di tengah-tengah pemukiman, sehingga mempermudah bagi sanak-saudara yang akan menghadirinya. Di sana sebelumnya telah dibangun sebuah pondok yang dilakukan secara gotong-royong. Luasnya 4 x 4 meter, atapnya daun rumbia, dan lantainya terbuat dari batang kayu yang garis tengahnya kurang lebih 5 cm. Lantai tersebut tingginya kurang lebih 60 cm dari permukaan tanah. Di pondok inilah kedua mempelai duduk saling berhadapan. Sementara, keluarga kedua belah pihak beserta undangan duduk melingkarinya. Temenggung, yang dalam hal ini bertindak sebagai “pejabat nikah”, duduk menghadap kedua pengantin. Dan memberi nasehat tentang kehidupan dalam sebuah rumah tangga. Kemudian, memegang tangan kedua pengantin dan mengucapkan kata-kata sebagai berikut: “Seko si ... kembali kepada seki si ..., semalam iko si ... nikah sampai menyeluat betongkat tebu seruas, lah lengok nyawo yang jantan maupun betino, nak sedingin air nak sepanjang rotan”. Selanjutnya, kedua tangan pengantin ditepukkan sejumlah tujuh kali. Setelah itu, kedua kening pengantin diadukan (dibenturkan) secara perlahan sejumlah tujuh kali pula. Dengan selesainya benturan itu berarti sepasang remaja yang berlainan jenis itu telah menjadi suami-isteri. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa upacara perkawinan selesai karena di kalangan orang Kubu ada kebiasaan penyelenggaraan suatu upacara perkawinan berlangsung kurang lebih tujuh hari. Jadi, setelah akad nikah dilaksanakan, maka pada malam berikutnya pihak keluarga pengantin perempuan mengadakan kendurian yang bertempat di rumah pengantin perempuan dan di balai yang dibuat oleh pengantin laki-laki ketika uji ketangkasan. Demikian juga pada malam-malam berikutnya sampai kurang lebih tujuh malam, mulai dari pukul 20.00--24.00 WIB. Mengingat bahwa kendurian memerlukan bahan makanan yang tidak sedikit, maka pihak keluarga pengantin laki-laki, melalui kegiatan yang disebut antaran, menyumbang kurang lebih separuh (50%) dari perkiraan kebutuhan.

Ada kebiasaan di kalangan orang Kubu bahwa setelah akad nikah pengantin baru pergi ke hutan selama kurang lebih tujuh hari. Di sana mereka tidak hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam sebuah keluarga, tetapi juga memperoleh binatang buruan. Binatang buruan, apakah itu biawak, babi hutan, atau napo-napo nantinya akan dibawa pulang kepada orang tuanya. Di kalangan orang Kubu hasil buruan yang didapatkan oleh pengantin baru yang pergi ke hutan selama kurang lebih tujuh hari adalah bukan sekedar “oleh-oleh”. Akan tetapi, itu sebagai suatu tanda bahwa kelak kehidupan rumah tangga pengantin baru tersebut banyak rezekinya (berlimpah).

Sepulangnya dari hutan (setelah menyerahkan hasil buruannya), pasangan pengantin baru tersebut mendirikan gubug yang letaknya berdampingan atau tidak jauh dari gubug orang tua laki-laki. Adat menetap seperti ini dalam ilmu antropologi disebut “virilocal”, yaitu adat yang menentukan bahwa pengantin baru menetap di sekitar tempat kediaman kerabat laki-laki (suami).

Catatan:

Jika pihak keluarga laki-laki tidak dapat memenuhi persyaratan suatu perkawinan yang relatif berat itu, maka bukan bahwa berarti anaknya tidak dapat membentuk keluarga baru (kawin). Ada cara lain yang disebut dengan kawin lari, yaitu sepasang remaja yang telah bersepakat untuk hidup bersama bertemu pada suatu tempat di malam hari. Oleh karena perginya secara sembunyi-sembunyi (tidak diketahui oleh siapapun), maka kedua sejoli itu dianggap hilang atau ada seorang gadis yang dibawa lari oleh seorang pemuda. Dengan tersebarnya berita itu, maka orang tua kedua belah pihak beserta masyarakat berusaha untuk mencarinya. Setelah ditemukan, pemuda yang membawa lari gadis orang itu dipukuli oleh keluarganya sendiri karena dianggap memalukan keluarga. Masyarakat pun segera menggelar sidang untuk menghukumnya. Dan, berdasarkan ketentuan adat, maka pihak keluarga laki-laki harus membayar denda yang berupa 200 lembar kain sarung kepada pihak keluarga perempuan. Dengan terbayarnya denda tersebut berarti kedua sejoli tersebut dianggap sah sebagai suami-isteri. Dan, upacara perkawinan tidak perlu diadakan, sehingga pihak keluarga laki-laki tidak perlu memenuhi berbagai persyaratan perkawinan sebagaimana lazimnya sebuah perkawinan di kalangan orang Kubu.

Nilai Budaya

Perkawinan, di manapun dan pada masyarakat manapun, termasuk masyarakat Kubu, adalah masalah sosial. Artinya, ia tidak hanya menjadi urusan individu-individu yang berlainan jenis semata (yang akan mendirikan sebuah rumah tangga). Akan tetapi, akan melibatkan berbagai pihak, yaitu: keluarga pihak laki-laki, keluarga pihak perempuan, dan masyarakatnya. Untuk itu, sebuah perkawinan mesti mengikuti ketentuan-ketentuan adat yang berlaku dalam masyarakatnya. Sistem perkawinan di kalangan orang Kubu, jika dicermati, mengandung nilai-nilai yang tidak hanya dapat dijadikan sebagai acuan bagi keluarga baru dalam menjalani kehidupan bersamanya, tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya. Nilai-nilai itu, antara lain: kerja keras, kerjasama, dan tanggung jawab.

Nilai kerja keras tidak hanya tercermin dari usaha calon pengantin (laki-laki) melewati kayu-bulat yang licin dan atau membuat balai dalam waktu yang relatif singkat (setengah hari), tetapi juga dalam hidup berdua selama kurang lebih tujuh hari di hutan dan sekaligus berburu sekuat tenaga untuk menemukan dan mendapatkan binatang buruan (biawak, babi hutan, atau napo-napo). Nilai kerjasama juga tercermin dalam kehidupan bersama selama tujuh hari di hutan. Untuk dapat bertahan, mereka mesti bahu-membahu (kerjasama), baik dalam memperoleh makanan maupun binatang buruan. Kemudian, nilai tanggung jawab tercerimin dalam makna simbolik dari binatang buruan yang diserahkan kepada mertuanya. (Pepeng)


1) Balai adalah bangunan yang bertiang kayu atau rotan dan beratap daun rumbia dengan luas balai 7x7 depa (kurang lebih 10x10 meter).


Sumber:
Spoiler

Edited by Pandito, 31 October 2010 - 12:19 AM.


#2 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2010 - 06:22 PM

Upacara Basuh Lantai (Daik-Lingga, Kepri)



Lingga adalah sebuah pulau yang sekaligus merupakan nama sebuah kabupaten yang terdapat dalam Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten ini beribukota di Daik. Nama ibukota dan pulau ini sering digabung menjadi satu, sehingga menjadi “Daik-Lingga”. Masyarakatnya adalah pendukung kebudayaan Melayu, yang sebagian besar beragama Islam, beradat-istiadat Melayu, dan berbahasa Melayu. Dalam kebudayaan Melayu, walaupun telah dilarang oleh agamanya (Islam), masyarakatnya masih percaya terhadap hal-hal yang bersifat animisme seperti: Jin, mambang, dewa (deo), jerambang, jembalang, dan orang bunian. Makhluk-makhluk tersebut oleh mereka disebut sebagai “orang halus”. Makhluk-makhluk ini dipercayai, disamping dapat mendatangkan kesejahteraan, juga dapat menimbulkan malapetaka. Untuk itu, harus diupayakan sedemikian rupa sehingga hal-hal yang tidak diinginkan (bencana atau malapetaka) tidak terjadi. Salah satu kegiatan yang berkenaan dengan kepercayaan itu adalah upacara.

Di kalangan orang Daik-Lingga ada sebuah upacara yang disebut sebagai “basuh lantai”. Secara etimologis nama upacara ini terdiri atas dua kata, yaitu basuh yang berarti “mencuci atau membersihkan” dan lantai yang berarti “alas rumah atau lantai”. Jadi, secara keseluruhan basuh lantai berarti “membersihkan lantai”. Bisa jadi, ini ada kaitannya dengan keadaan yang sesungguhnya, yaitu membersihkan lantai dari percikan darah pada saat seseorang melahirkan, karena upacara ini sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup individu), khususnya yang berkenaan dengan kelahiran. Lepas dari itu, yang jelas orang Daik-Lingga mempercayai bahwa lantai ada penghuninya. Untuk itu, jika terkena darah, khususnya darah perempuan yang sedang melahirkan, lantai tersebut harus “dibersihkan” dengan cara disiram dengan air, diminyaki, dibedaki, dan disisiri. Pendek kata, diperlakukan bagaikan manusia. Jika tidak, makhluk halus yang menempati lantai akan mengganggu, tidak hanya orang yang membantu kelahiran (Mak Dukun atau Mak Bidan), melainkan juga ibu dan atau bayinya. Misalnya, bayi akan menangis secara terus-menerus atau sakit-sakitan. Agar ibu dan anak yang dilahirkan serta dukun selamat, maka perlu diadakan suatu upacara. Dan, upacara itu, sebagaimana telah disebutkan di atas, bernama “basuh lantai”. Tujuannya bukan semata-mata agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang menempati lantai, tetapi juga sekaligus sebagai ungkapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena proses kelahiran dapat berjalan lancar.

Upacara ini dilaksanakan ketika bayi telah berumur 44 hari. Sebelum umur itu seorang ibu dan bayinya tidak diperbolehkan keluar rumah. Sebelum umur itu pula, Sang bayi tidak diperboleh turun ke tanah. Namun, jika satu dan lain hal, seorang ibu harus ke luar rumah, maka ia harus membawa kacip (alat yang dipergunakan untuk membelah sirih-pinang) atau pisau atau paku yang ujungnya disusuki bawang. Sementara itu, di sisi Sang jabang bayi yang ditinggal ibunya, juga harus ada peralatan yang berupa pisau, paku, atau sepotong besi yang berwujud apa saja. Tujuannya adalah agar berbagai makhluk halus tidak mengganggunya.

Hari yang dipilih untuk melaksanakan upacara ini adalah Jumat, karena menurut kepercayaan masyarakat setempat, hari tersebut adalah hari yang dirahmati Tuhan. Adapun waktunya, biasanya pada pagi hari karena siangnya (setelah sholat Jumat) dilanjutkan dengan acara kenduri. Uparacanya sendiri dilakukan di lantai sebuah kamar yang ketika itu digunakan sebagai tempat untuk melahirkan. Upacara yang biasanya dihadiri oleh kerabat dan tetangga ini, dipimpin oleh Mak Dukun/Bidan (yang dahulu membantu kelahiran) dan Pak Jantan (suami Mak Dukun). Sedangkan acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh ulama setempat.

Sebagai catatan, sebenarnya hubungan antara ibu yang sedang hamil dan Mak Dukun terjadi tidak hanya pada kelahiran dan upacara basuh lantai saja, tetapi juga ketika kandungan telah berumur 7 bulan. Ketika itu Sang suami datang ke rumah Mak Dukun dengan membawa telur dan pulut. Tujuannya adalah agar Sang dukun bersedia membantu isterinya dalam proses kelahiran. Pemberitahuan dan sekaligus permohonan ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai “menepah”, dengan telur dan pulut sebagai syaratnya. Sejak itu, suami dan isterinya yang sedang mengandung itu setiap hari Jumat datang ke rumah Mak Dukun. Mereka membawa sebotol air dan tiga buah limau untuk dimanterai. Air dan buah yang telah dimanterai itu kemudian digunakan untuk mandi selama tiga hari berturut-turut.

Peralatan Upacara

Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara basuh lantai ini adalah: (1) nampan yang berisi sepiring nasi/pulut kuning (beras ketan dengan kunyit sebagai pewarnanya), sepiring serabi dan kuahnya (kue yang terbuat dari tepung beras dicampur dengan santan kelapa), sepiring lauk ikan (dimasak dengan kuah); (2) satu buah kelapa yang sudah dibersihkan sebagian kulit luarnya; (3) sebuah lilin; (4) cermin dan sisir; (5) sebuah gunting; (6) benang warna putih yang panjangnya sekitar 7 meter; (7) seekor ayam1) (untuk bayi laki-laki berupa ayam betina, sedangkan untuk bayi perempuan berupa ayam jantan); (8) sepiring padi dan sepiring beras putih; (9) jeruk nipis; (10) semangkuk kecil minyak langi (terbuat dari gambir, asam, kapur, dan limau, kemudian ditumbuk); (11) semangkuk kecil asam; dan (12) air yang ditempatkan di wadah yang terbuat dari tanah liat (tempayan). Sedangkan, peralatan yang perlu dipersiapkan dalam kenduri adalah, 10 buah nampan (tergantung kemampuan penyelenggara upacara) yang masing-masing berisi sepiring ketupat (25 buah ketupat), sepiring ayam gulai, sepiring gulai udang, sepiring sambal kacang, sepiring serundeng, dan sepiring sambal kelapa. Bagi keluarga yang tidak mampu biasanya akan dibantu oleh para tetangganya. Bantuan itu bisa berupa uang atau bahan (beras, gula, kelapa dan lain sebagainya).

Jalannya Upacara
Setelah semua peralatan yang diperlukan dalam upacara basuh lantai ini tersedia, maka peralatan itu dibawa ke tempat upacara (kamar). Ibu dan bayi yang akan diupacarai duduk di tempat tidur. Sementara, Mak Dukun dan Pak Jantan duduk di lantai. Upacara diawali dengan pembacaan Al Quran (Surat Al Fatihah) oleh Pak Jantan. Setelah itu, ia berdoa agar ibu dan Sang Jabang Bayi, beserta keluarganya terhindar dari segala gangguan atau rintangan dalam kehidupannya. Sementara, Mak Dukun meletakkan tempayan yang berisi air di depan Pak Jantan. Di depan Mak Dukun sendiri telah tersedia sebuah nampan yang berisi: pulut (ketan) kuning sebanyak 4 kepal, secawan bubur merah, 2 buah jeruk nipis yang masing-masing terbelah empat, secawan kecil asam, 4 buah serabi, dan semangkuk minyak langi. Sembari mencuci tangan dengan air yang telah disediakan, Mak Dukun berdoa, kemudian mencuci lantai dengan cara mengguyur dan menggosok lantai yang pernah digunakan untuk proses kelahiran.

Setelah lantai dianggap bersih, Mak Dukun (sembari membaca mantera) mengolesinya dengan pulut, serabi, jeruk nipis, dan asam. Kemudian, disiram dengan minyak langi. Selanjutnya lantai disiram lagi dengan air untuk membersihkan sisa-sisa pulut, serabi, dan bahan-bahan lain yang telah dioleskan. Setelah itu lantai digoresi dengan sisir dan cermin.

Upacara diteruskan dengan pengguyuran (pemandian). Dalam hal ini bayi disiram oleh Mak Dukun dengan air yang telah dicampur perasan jeruk nipis, sebanyak tiga kali. Namun, sebelumnya Sang Dukun mentiup kedua telinga dan badan bayi masing-masing sejumlah tiga kali. Setelah itu, bayi diserahkan kepada ibunya. Di pangkuan ibunya, sebelum dimandikan lagi, lagi-lagi bayi ditiup telinga dan badannya sebanyak tiga kali. Kemudian, bayi diserahkan kepada neneknya untuk dihanduki (dikeringkan), dibedaki, dan diberi pakaian. Sementara itu, Sang ibu duduk di lantai dan dimandikan (diguyur dengan air yang telah dicampur dengan perasan jeruk nipis sebanyak 3 kali) oleh Mak Dukun. Setelah acara mandi selesai, Sang ibu kembali duduk di tempat tidur sambil menggendong bayinya. Lalu, Mak Dukun mendekatkan seekor ayam ke bayi. Jika ayam mematuk beras yang ada di telapak tangan Sang ibu, itu dianggap sebagai pertanda baik. Sebaliknya, jika ayam mematuk bayi, itu adalah pertanda buruk. Untuk itu, biasanya Sang ibu menjulurkan tangannya ke arah ayam, sehingga bayi terhindar dari patukan ayam.

Upacara dilanjutkan dengan acara lompat tiung (benang) yang bertempat di luar kamar. Acara ini dimulai dengan pengalungan benang pada leher Sang ibu yang dalam posisi berdiri dan menggendong bayinya. Sementara, Mak Dukun dan Pak Jantan ada di sebelah kiri dan kananya. Setelah pembacaan doa (oleh Pak Jantan) mereka saling melemparkan beras, padi dan uang logam ke kaki Sang ibu dan bayi yang digendongnya sejumlah tujuh kali. Makna simbolik dari pelemparan beras, padi, dan uang logam ke lantai adalah bahwa hidup di dunia hanya sementara. Suatu saat akan kembali kepada Tuhan. Untuk itu, diharapkan akan selalu ingat kepada-Nya. Selanjutnya, Sang ibu diminta oleh Mak Dukun dan Pak Jantan untuk melompati seutas tali atau benang sejumlah tiga kali. Makna simbolik yang ada dibalik lompatan ini adalah bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari berbagai rintangan atau halangan. Untuk itu, manusia harus selalu waspada (selalu hati-hati) agar bisa melewati berbagai rintangan. Ini artinya, kelak Sang bayi diharapkan dapat mengatasi berbagai rintangan dalam hidupnya.

Acara selanjutnya adalah pemutaran (pengelilingan) buah kelapa yang di atasnya ada lilin yang menyala. Pemutaran ini dilakukan oleh Mak Dukun dan Pak Jantan; masing-masing tiga kali (mengelilingi Sang ibu dari arah kanan ke arah kiri dan sebaliknya). Kelapa adalah tanaman yang dapat tumbuh di mana saja dan dapat dibuat apa saja (makanan dan minuman). Makna simbolik yang terkandung dari pemutaran buah kelapa ini adalah, agar Sang bayi kelak dapat hidup di mana saja dan berguna bagi masyarakatnya. Sedangkan makna simbolik yang ada di balik lilin adalah penerangan hidup. Ini artinya, Sang bayi kelak selalu dalam jalan yang benar karena apa pun yang terjadi ia tetap pada pedoman hidupnya.

Selanjutnya adalah pengolesan minyak langi pada ibu dan bayinya. Pengolesan ini dimaksudkan tidak hanya untuk membersihkan diri agar terhindar dari gangguan makhluk halus, tetapi juga sekaligus sebagai penolak bala. Setelah itu, dilakukan pemutusan kalung-benang dengan api. Makna simbolis yang terkandung adalah agar Sang bayi di kemudian hari dapat hidup dengan selamat (dapat melalui berbagai rintangan dalam hidupnya). Kemudian, bekas sumbu lilin yang terbakar diremas dan dioleskan pada alis ibu dan bayinya. Maksudnya adalah agar ibu dan anak selalu diberi jalan terang, lurus, selalu berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang jahat.

Acara diteruskan dengan pengguntingan ujung rambut Sang ibu dan anaknya serta merapikan dengan sisir. Makna simbolik yang terkandung di dalamnya adalah pembuangan hal-hal yang tidak baik pada diri ibu dan anaknya. Pemotongan ini juga sekaligus menandai, bahwa Si anak sudah diperbolehkan untuk keluar rumah dan menginjak tanah. Langkah selanjutnya adalah penumpahan beras ke badan bayi, pengguncangan buah kelapa ke telinga kanan dan kiri bayi. Penumpahan beras dimaksdukan agar di kemudian hari banyak rezekinya, sehingga hidupnya sejahtera. Sedangkan, pengguncangan buah kelapa ke telinga kanan dan telinga kiri sang bayi dimaksudkan agar selalu ingat bahwa hidup ini akan terus berjalan (ibarat tunas kelapa yang tumbuh terus), sehingga harus selalu hati-hati dan waspada dalam hidupnya.

Siang harinya, setelah sholat Jumat, dilanjutkan dengan acara kenduri. Acara yang diikuti oleh kerabat dan tetangga dekat ini dipimpin oleh ulama setempat (lebai). Upacara kendurian ini merupakan ungkapan terima kasih atau rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh lebai, maka kendurian diakhiri dengan makan bersama. Selanjutnya, ketika para tamu sudah pulang, tuan rumah memberikan hantaran yang berupa makanan berserta lauk-pauknya kepada Mak Dukun. Selain itu, juga seekor ayam, kain dan sejumlah uang sebagai ungkapan terima kasih.

Nilai Budaya

Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara basuh lantai. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, kerja keras, gotong royong, kehati-hatian, keselamatan, keteguhan, dan religius.

Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat (rumah yang punya hajat), duduk bersama di atas tikar, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kerja keras tercermin dalam serangkaian kegiatan yang disebut sebagai lompat tiung (lompat benang). Di sini ibu sang jabang bayi diminta oleh Mak Dukun untuk melangkah (melompat) ke belakang dan ke depan (mundur dan maju). Pelompatan benang ini, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, bermakna simbolis bahwa hidup penuh dengan berbagai rintangan dan karenanya harus bekerja keras.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, serta menyumbang, baik dalam bentuk uang maupun bahan (beras, kelapa, gula, dan teh), dan lain sebagainya.

Nilai kehati-hatian tercermin dalam pengguyuran atau penumpahan beras pada badan Sang bayi oleh Mak Dukun, yang dilanjutkan dengan pengguncangan buah kelapa pada telinga kanan dan kiri sang bayi. Arti simbolik dari kegiatan ini, pada hakekatnya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu, bahwa kehidupan akan berjalan terus, sebagaimana tunas kelapa yang akan terus bertumbuh. Oleh karena itu, Sang anak harus selalu waspada dan hati-hati di dalam menjalani kehidupannya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Basuh Lantai merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap kehidupan di masa kanak-kanak.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama pada penutup kendurian yang merupakan bagian akhir dari serentetan tahapan dalam upacara Basuh Lantai. Tujuannya adalah agar keluarga yang punya hajat selamat dalam segala hal dan ucapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang telah diperkenankan-Nya. Nilai ini juga tercermin dalam persyaratan yang disediakan pada upacara tersebut, yaitu seekor ayam betina jika yang diupacarai anak laki-laki, dan seekor ayam jantan jika, anak perempuan. Arti simbolik dari kedua jenis kelamin ayam tersebut bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini secara berpasangan.

Nilai keteguhan tercermin dalam makna simbolik dari pengolesan alis ibu dan bayinya dengan abu sumbu lilin, yaitu berpegang teguh pada aturan-aturan, norma-norma dan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang pada masyarakatnya. (Gufron)


1) Masyarakat Melayu-Daik percaya bahwa ayam adalah binatang yang paling peka terhadap makhluk halus. Selain itu, mereka percaya bahwa jembalang (hantu tanah) akan memaafkan dan tidak mengganggu bayi jika diberi “persembahan” dengan ayam.


Sumber:
Spoiler


#3 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2010 - 06:29 PM

Upacara Kelahiran pada Masyarakat Jambi



Jambi adalah salah satu provinsi yang berada di Pulau Sumatera, Indonesia. Masyarakatnya, sebagaimana masyarakat lainnya di Indonesia, mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya . Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu dengan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga masa-masa tersebut dapat dilalui dengan selamat. Dan, usaha itu adalah upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara di lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Jadi, upacara di lingkaran hidup individu ini sangat erat kaitannya dengan sistem kepercayaan pada umumnya, termasuk masyarakat Jambi. Dalam kesempatan ini, sesuai dengan judul, maka yang akan dibahas adalah upacara kelahiran.

Proses Upacara Kelahiran

1. Persiapan Kelahiran
Ketika masa kandungan seseorang telah mencapai usia 7 bulan, maka pihak keluarga yang bersangkutan memberitahu kepada dukun beranak yang berada di desanya. Pemberitahuan ini dimaksudkan agar pada saatnya (ketika melahirkan) dukun tersebut dapat membantunya. Pemberitahuan ini oleh masyarakat Jambi disebut sebagai menuak atau nuak. Caranya, pihak yang akan melahirkan memberi sejumlah makanan kepada dukun beranak yang berupa: nasi atau ketan kuning (nasi kunyit) beserta lauk-pauknya, seperti ayam panggang (bagi yang mampu) dan atau bumbuan kelapa goring (bagi yang tidak mampu). Dengan pengiriman atau pemberian manuak ini berarti seorang dukun telah dipesan untuk membantu keluarga yang bersangkutan dalam proses kelahiran.

2. Kelahiran
Menjelang kelahiran (biasanya usia kandungan telah mencapai 9 bulan1), sekali lagi pihak keluarga dari perempuan yang akan melahirkan mengirim manuak kepada dukun beranak yang membantu proses kelahiran. Maksudnya agar Sang dukun dapat bersiap-siap apabila sewaktu-waktu tenaganya dibutuhkan. Ketika saat-saat kelahiran tiba, maka dukun yang dipesan segera datang memberikan pertolongan. Biasanya dukun (perempuan) datang bersama pembantunya atau dukun laki-laki. Mereka membawa benda-benda atau barang-barang barang yang dipercayai mengandung magis, seperti: buah kundur, untaian jeringo bangle (sebagai jimat), dan pisau kecil. Kesemuanya ditaruh dekat tempat pelahiran. Kedua dukun itu, satu dengan lainnya, mempunyai tugas yang berbeda. Dukun perempuan bertugas melancarkan dan menyambut bayi dari rahim ibunya. Sedangkan, dukun laki-laki mengucapkan mantera-mantera di balik tabir (di luar tempat pelahiran), sehingga benda-benda yang mempunyai daya magis itu dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam hal ini roh-roh dan setan-setan tidak dapat mengganggunya, sehingga yang dilahirkan maupun yang melahirkan sama-sama selamat.

Sesuai dengan tugas dukun perempuan, maka ketika bayi telah keluar dari rahim ibunya, maka bayi tersebut disambutnya kemudian dibersihkan (dimandikan). Setelah itu, dipotong tali pusarnya dengan sembilu. Kemudian, ari-arinya ditempatkan pada suatu wadah yang terbuat dari tembikar, lalu ditanam di samping atau depan rumah.

3. Sesudah Kelahiran
Ketika bayi telah berumur 7 hari, ada suatu upacara yang oleh masyarakat Jambi disebut “turun mandi” yang bertempat di sebuah sungai. Upacara memandikan bayi ini dilakukan oleh dukun yang pernah menolongnya diserta dengan iring-iringan (orang-orang) yang menyertainya. Kemudian, pada malam harinya ada upacara pemberian nama. Dalam upacara ini juga ada mantera-mantera atau doa-doa yang tujuannya agar yang diberi nama dan keluarganya selalu dalam keadaan selamat dan sejahtera.

4. Nilai Budaya
Upacara kelahiran yang dilakukan oleh masyarakat Jambi yang berada di Provinsi Jambi, jika dicermati secara saksama, maka di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bersama, yaitu keselamatan dan kesesuaian dengan bidang keahliannya.

Nilai keselamatan tercermin dari apa yang dilakukan oleh pihak keluarga yang anggotanya sedang hamil kepada dukun beranak. Dalam hal ini, ketika kandungan telah mencapai usia 7 bulan dan 9 bulan, pihak keluarga yang bersangkutan memberitahu kepada dukun beranak yang berada di desanya. Pemberitahuan ini dimaksudkan agar pada saatnya (ketika melahirkan) dukun tersebut dapat membantunya, sehingga proses kelahiran diharapkan dapat berjalan lancar. Nilai ini juga tercermin pada penaruhan benda-benda atau barang-barang yang dipercayai mengandung magis, seperti: buah kundur, untaian jeringo bangle (sebagai jimat), dan pisau kecil.

Nilai kesesuaian dengan bidang keahliannya tercermin dari pembagian tugas dukun. Dalam hal ini dukun perempuan bertugas melancarkan dan menyambut bayi dari rahim ibunya. Sedangkan, dukun laki-laki mengucapkan mantera-mantera di balik tabir (di luar tempat pelahiran), sehingga benda-benda yang mempunyai daya magis itu dapat berfungsi sebagaimana mestinya. (gufron)

1. Pada masyarakat Jambi ada pantangan-pantangan yang mesti diperhatikan oleh sebuah keluarga yang isterinya dalam keadaan hamil. Pantangan-pantangan itu antara lain: menyembelih binatang, mengikatkan sesuatu pada leher, dan mandi di sungai pada malam hari. Pelanggaran terhadap perbuatan yang dipantangkan itu, menurut kepercayaan mereka, dapat mangakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya lahirnya bayi yang cacat dan atau sulitnya proses pelahiran, sehingga mengancam keselamatan, tidak hanya bagi yang akan dilahirkan, tetapi juga ibunya sendiri.


Sumber:
Spoiler


#4 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2010 - 06:32 PM

Upacara Tantulak pada Masyarakat Dayak Ngaju



Kalimantan Tengah adalah sebuah provinsi yang ada di Indonesia. Di sana ada beberapa masyarakat yang dikategorikan sebagai diupayakan berkembang (“masyarkat terasing”). Salah satu diantaranya adalah orang Dayak Ngaju. Sebagaimana masyarakat di Indonesia pada umumnya, mereka juga mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya . Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai daur hidup (upacara lingkaran hidup individu) yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara kematian di kalangan mereka yang disebut sebagai tantulak.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Upacara tantulak dilakukan tiga hari setelah upacara penguburan dengan tujuan untuk memindahkan arwah orang yang baru saja meninggal dari alam kubur ke tempat penantian bersama Nyai Bulu Indu Rangkang (sebelum dilaksanakannya pesta tiwah). Selain itu, upacara tantulak juga bertujuan untuk memulihkan keseimbangan magis, menjauhkan segala macam marabahaya dan menghilangkan segala kemalangan atau kesialan dan hal-hal yang tidak baik yang dapat timbul pada keluarga si mati maupun pada seluruh warga kampung.

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara tantulak ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut:
(1) tahap penyembelihan babi;
(2) tahap penaburan makanan di kuburan si mati;
(3) tahap menabur beras yang telah diasapi dengan kemenyan untuk mandurut sangiang (mengabarkan dan mengundang kehadiran Sangiang);
(4) tahap mangkang sangiang atau penyambutan Sangiang Raja Duhung Mama Tandang;
(5) tahap pengolesan darah babi dan ayam;
(6) tahap memapas nyalentup, yaitu tahap pengusiran kuasa jahat dan kesialan dari rumah si mati;
(7) tahap menghanyutkan daun sawang dan humbang ke sungai; dan
(8) tahap peramalan dengan tujuh butir behas hambaruang. Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan dari pagi hingga malam hari.

Tempat pelaksanaan upacara tantulak bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi penyembelihan babi, menabur beras yang telah diasapi kemenyan, penyambutan Sangiang Raja Duhung Mama Tandang, pengolesan darah babi dan ayam, memapas nyalentup, dan tahap peramalan dengan tujuh butir behas hambaruang, dilakukan di rumah orang yang meninggal dunia. Untuk prosesi penaburan makanan dilakukan di kuburan orang yang meninggal tersebut. Sedangkan, untuk prosesi penghanyutan daun sawang dan humbang dilakukan di sungai. Sebagian besar upacara ini dipimpin oleh seorang basir upu dan dibantu oleh dua orang basir lainnya. Sedangkan, acara penaburan makanan dan pemotongan babi dilakukan oleh anggota keluarga dari orang yang meninggal. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara tantulak adalah sanak kerabat dari orang yang meninggal dan warga masyarakat sekitarnya.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara tantulak adalah:
(1) satu ekor babi yang darahnya akan dibagikan pada setiap rumah yang ada di dalam kampung.
(2) tahap penaburan makanan di kuburan si mati.
(3) sebuah mangkuk tambuk yaitu mangkuk yang berisi beras.
(4) sebuah mangkuk lagi yang berisi behas hambaruang, yaitu beras yang dianggap bening dan tanpa cacat sebanyak tujuh butir.
(5) sebuah gong yang ditelentangkan dan di dalamnya ditaruh satu pasang pakaian si mati semasa masih hidup, sisir, minyak, cermin, dan sedikit air. Benda-benda tersebut dilambangkan sebagai pakaian yang nantinya akan dipakainya setelah Sangiang memandikan arwah si mati.
(6) sebuah kelapa yang ditancapkan sebilah tombak dan diikatkan jenjuang sawung, kemudian ditaruh dalam sebuah bakul (palundu). Kelapa tersebut nantinya akan dipakai oleh Sangiang Raja Duhung Mama Tarandang untuk memandikan arwah si mati setelah ia dihidupkan kembali. Namun, ada juga yang menyatakan bahwa kelapa yang ditaruh dalam palundu itu melambangkan si mati saat ia masih dalam kandungan ibunya.
(7) beberapa ruas bambu (humbang) yang di dalamnya diisi sedikit air dan dibungkus dengan kain hitam. Jumlah humbang itu tergantung dari jenis kelamin si mati. Apabila yang meninggal adalah perempuan, maka ruas bambunya berjumlah lima buah. Sedangkan, apabila yang meninggal adalah laki-laki, maka ruas bambunya berjumlah tujuh buah (humbang kanyalun liau).

Jalannya Upacara
Pada hari ketiga setelah upacara penguburan, keluarga orang yang meninggal dunia itu memulai upacara tantulak dengan menyembelih seekor babi. Darahnya diambil dan dicampur dengan beras, kemudian dibagikan kepada seluruh keluarga/rumah tangga yang ada di dalam kampung. Beras bercampur darah babi itu lalu diletakkan di atas sebuah batu asah dan diinjak secara bergiliran oleh setiap anggota keluarga. Cara menginjaknya, mula-mula dengan kaki sebelah kiri sambil menghadap ke arah matahari terbenam. Ini melambangkan bahwa seperti terbenamnya matahari, demikian juga segala kemalangan dan hal-hal yang tidak baik akan menjadi hilang atau lenyap. Sesudah itu, baru dengan kaki sebelah kanan dan menghadap ke arah timur. Ini melambangkan seperti terbitnya matahari, demikian juga datangnya untung, murah rezeki, panjang umur dan selalu dalam keadaan sehat tanpa gangguan apapun dalam hidup mereka.

Selepas tengah hari dan sebelum basir mulai balian, salah seorang anggota keluarga si mati datang ke kuburan untuk membawa sedikit makanan. Makanan tersebut kemudian ditaburkan dengan tangan kiri di atas kuburan si mati. Maksud dari tindakan ini adalah untuk memberitahukan kepada arwah yang baru meninggal agar ia mempersiapkan diri karena rohnya akan dipindahkan dari tempat itu ke “Bukit Pasahan Raung”. Selain itu, tindakan menabur makanan juga bermaksud untuk memberitahukan kepada roh-roh penjaga kuburan agar tidak mengganggu selama upacara tantulak berlangsung.

Pada pukul empat atau lima sore para basir yang dipimpin oleh basir upu mulai melakukan balian dengan cara duduk sambil menabur beras yang sudah diasapi kemenyan. Setelah beras ditaburkan, biasanya tujuh kali, barulah ketiga orang basir memukul alat upacara yang disebut katambung1. Pemukulan katambung ini dilakukan sebentar saja dengan maksud untuk mandurut sangiang (mengabarkan dan mengundang kehadiran Sangiang). Sedangkan, maksud dari tindakan menabur beras adalah untuk mengundang Sangiang Raja Duhung Mama Tandang beserta para pembantunya agar datang dalam upacara tentulak. Konon, Raja Duhung Mama Tandang ini nantinya akan turun dari dunia para dewa (Lewu Sangiang) dengan menggunakan kendaraan yang disebut lasang papan talawang teras jambu bahandang jintung muntei bulan. Dalam upacara tantulak, Raja Duhung Mama Tandang berperan menghidupkan arwah si mati dan membawanya ke tempat Nai Balu Indu Rangkung.

Pada malam harinya, ketiga basir itu melakukan balian lagi dengan duduk di atas bangku panjang, yang dalam bahasa Ngaju disebut katil. Balian tahap kedua ini disebut mangkang sangiang yang bertujuan untuk menyambut kedatangan Sangiang. Setelah Sangiang Raja Duhung Mama Tandang dirasa telah datang, maka ketiga basir tersebut melalukan balian lagi yang disebut puturan sangiang. Selanjutnya, ketiga basir tersebut mendatangi seluruh anggota keluarga si mati untuk mengoleskan darah babi dan ayam. Maksud dari tindakan pengolesan darah itu adalah untuk menghapus segala macam kesialan, penyakit dan pantangan-pantangan yang timbul akibat adanya kematian salah seorang anggota keluarga. Selain itu, darah babi dan ayam juga merupakan lambang bagi anggota keluarga yang ditinggalkan akan adanya kehidupan baru, murah rezeki, panjang umur dan selalu sehat serta terhindar dari segala macam marabahaya.

Setelah semua anggota keluarga diolesi dengan darah babi dan ayam, ketiga basir kemudian memapas nyalentup, yaitu balian yang dilakukan sambil berjalan berkeliling rumah dan mengambil beberapa daun sawang serta beberapa ruas bambu muda (humbang). Bambu itu kemudian dipanaskan secukupnya (imaru) lalu dipukulkan pada tiang-tiang rumah, ambang pintu, dan jendela sambil membaca doa-doa. Maksud dari balian memapas nyalentup ini adalah untuk mengusir segala kuasa jahat, kesialan dan kemalangan dari rumah si mati.

Usai memapas nyalentup, ketiga basir lalu menuju ke sungai yang diikuti oleh para peserta upacara. Dalam iring-iringan tersebut, salah seorang anggota keluarga si mati diserahi tugas untuk membawa daun sawang dan ruas bambu yang tadi telah dipakai dalam memapas nyalentup. Sesampainya di sungai, bambu dan daun sawang itu lalu dihanyutkan sebagai simbol bahwa telah hanyut pula segala kesialan, kemalangan dan penyakit yang hinggap pada keluarga si mati. Kemudian, atas instruksi basir upu, salah seorang anggota keluarga mengambil air dengan sebuah mangkuk dari ruang timba sebuah perahu. Selesai mengambil air, seluruh peserta upacara kembali ke rumah keluarga si mati.

Sesampai di rumah, air dari sungai yang dibawa dengan mangkuk tersebut dicampur dengan tengang (semacam bahan untuk tali). Sebelum basir upu memulai acara selanjutnya, para peserta upacara diperkenankan untuk mencelupkan atau mengelap muka mereka dengan air itu. Setelah itu, para basir merobek tengang yang ada di dalam mangkuk tadi menjadi sobekan-sobekan kecil dan mengikatkan ke tangan peserta upacara yang menghendakinya. Pengikatan tengang ke tangan ini merupakan lambang kuatnya jasmani dan rohani, seperti kuatnya tengang itu sendiri.

Selanjutnya, basir upu membuka bungkusan berisi tujuh butir behas hambaruang yang ada di dalam mangkuk. Menurut kepercayaan mereka, melalui ketujuh butir behas hambaruang yang dibungkus itu dapat dilihat apa yang akan terjadi dalam keluarga itu dalam waktu yang dekat. Apabila ketujuh butir beras yang mulanya bening tanpa cacat, setelah dibuka kemudian ternyata sebagian besar menjadi cacat, rapuh atau bahkan putus, maka pertanda akan ada hal-hal yang kurang baik terjadi dalam lingkungan keluarga tersebut. Namun sebaliknya, apabila sebagian besar utuh, maka hal itu merupakan pertanda baik. Dan, dengan berakhirnya tahap peramalan melalui behas hambaruang ini, berakhirlah seluruh rentetan dalam upacara tantulak.

Nilai Budaya

Upacara tantulak, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Tantulah merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kehidupan di dunia menuju ke kehidupan di alam yang lain.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh basir upu dengan tujuan agar si mati mendapat perlindungan dari Sangiang Raja Duhung Mama Tandang dan orang-orang disekitarnya terbebas dari kemalangan, kesialan dan hal-hal yang merugikan lainnya. ( gufron)

1 Alat musik “katambung” yang dalam bahasa Indonesia berarti “pukul”, konon sudah mulai dikenal dan berkembang di kalangan orang Dayak sebelum abad X Masehi. Katambung umumnya digunakan pada upacara yang berkaitan dengan upacara gawi belom (memotong pantan, yaitu sejenis kayu yang diletakkan melintang di pintu gerbang tempat upacara) dan gawi matey. Pada upacara gawi belom, katambung digunakan untuk mengiringi penyambutan tamu. Sedangkan pada gawi matey, katambung ditabuh pada saat upacara tiwah (kematian), termasuk pada upacara balian ngarahang tulang (mengangkat tulang belulang), balian tantulak (penguburan), dan balian untung (upacara syukuran setelah penguburan maupun mengangkat tulang-belulang).


Sumber:
Spoiler

Edited by Pandito, 30 October 2010 - 06:51 PM.


#5 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2010 - 06:56 PM

Upacara Menambak Kubur
(Upacara Tradisional Orang Talang Mamak di Provinsi Riau)



Talang Mamak adalah salah satu komunitas yang sering dikategorikan sebagai masyarakat terasing yang ada di Provinsi Riau. Mereka tersebar di beberapa kecamatan yang tergabung dalam Kabupaten Indragiri Hulu, yaitu Kecamatan: Pasir Penyu, Seberida, dan Rengat. Di Kecamatan Pasirpenyu mereka bermukim di desa: Talang Parit, Talang Perigi, Talang Gedabu, Talang Sungai Limau, Talang Selantai, Talang Tujuh Buah Tangga, dan Talang Durian Cacar. Kemudian, di Kecamatan Seberida mereka bermukim di sebagian desa Pangkalan Kasai, Anak Talang, Seberida, Sungai Akar, Talang Lakat, Siambul, Rantau Langsat, Durian Cacar, Parit Perigi, Sungai Limau, dan Selantai. Selain itu, ada yang menyebar di Belongkawang, Sungai Tedung, dan di sepanjang Sungai Kelawang. Sebagai catatan, kelompok Orang Talang Mamak di Durian Cacar, Parit Perigi, Sungai Limau, dan Selantai yang secara administratif tergabung dalam wilayah Kecamatan Siberida, menyebut dirinya sebagai “Suku Nan Enam”. Selanjutnya, di Kecamatan Rengat mereka bermukim di Talang Jerinjing dan Sialang Dua Dahan (Melalatoa, 1995: 817, Hidayah, 2000:253, dan Nursyamsiah, 1996: 6). Persebaran orang Talang Mamak tampaknya tidak hanya beberapa tempat di Kabupaten Inhu semata, tetapi juga di daerah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Bahkan, di daerah yang termasuk wilayah propinsi lain (Jambi), yaitu di daerah Bukittigapuluh (Hidayah, 2000: 253).

Sebagaimana masyarakat lainnya, orang Talang Mamak juga menumbuh-kembangkan kebudayaannya sebagai tanggapan aktif terhadap lingkungannya dalam arti luas (alam, sosial, dan binaan). Mengingat bahwa kebudayaan meliputi keseluruhan aspek kehidupan manusia, maka artikel ini hanya akan membahas salah satu unsur kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh mereka, yaitu sistem religi (sistem kepercayaan) yang ada di kalangan mereka, khususnya upacara menambak kubur.

2. Proses Upacara
Upacara ini relatif membutuhkan dana besar, sehingga memerlukan waktu. Minimal dua atau tiga bulan setelah seseorang meninggal. Jika uang sudah terkumpul dan dianggap cukup untuk menambak kubur, maka pada hari yang telah ditentukan para ahli waris dan handai taulan berkumpul di rumah duka. Sebuah patung manusia yang terbuat dari kayu lumpung dikafani. Kemudian, diletakkan di ruangan tengah. Patung itu, oleh mereka, dianggap sebagai pengganti orang yang meninggal (almarhum). Para ahli waris, termasuk yang hadir, meratap-tangisinya, sehingga kehening-sunyian terpecahkan. Bagi para ahli waris beserta handai tolannya, tidak boleh tidak, ratap-tangisnya harus sampai kuburan. Sedangkan, yang bukan termasuk kerabatnya tidak perlu sampai di sana, tetapi cukup di rumah duka saja.

Setibanya di perkuburan mulailah mereka membuat tambak kubur yang bertingkat tiga. Sementara, kambing dan atau ayam disembelih kemudian darahnya disiramkan ke kubur tersebut (di atasnya). Menambak kubur, bagi mereka, adalah sesuatu yang mesti dilakukan karena dengan melakukan itu sang Arwah akan berada di sisi Sang Penciptanya. Dalam hal ini adalah dunia yang abadi. Ini artinya, jika tidak dilakukan, maka Sang Arwah akan bergentayangan. Satu hal yang khas dalam upacara ini adalah peserta, satu dengan lainnya, memperlihatkan sikap dan tingkah laku yang “garang”, seperti saling menyerang (seakan-akan hendak bertarung betulan).

3. Bagian-bagian Kubur
Kuburan Orang Talang Mamak terdiri atas banyak unsur atau bagian, yaitu: birai pintu, tambak, pasak, tiang putar, balai terbang, penampak, anting-anting, burung enggang, burung cawai, bunga, lapik, sesajen, tempuyung, dan perokokon.

Birai Pintu
Birai pintu adalah pagar yang mengelili kuburan. Pagar ini terbuat dari kayu-kayu kecil yang telah dikuliti dengan diameter 2--3 sentimeter. Tinggi antara kuburan yang satu dengan lainnya tidak seragam. Namun, jika diambil rata-ratanya, maka tingginya tidak lebih dari 175 sentimeter. Kayu-kayu tadi diikat dengan tali yang terbuat dari kulit kayu. Demikian, sehingga membentuk pagar yang mengelilingi kuburan. Seseorang yang akan masuk ke kuburan itu, ia harus melalui pintu gerbang yang sengaja dibuat. Pada bagian atas pintu tersebut diberi dua lembar papan yang dilumuri dengan arang yang dicampur dengan kapur sirih, sehingga warnanya tidak begitu gelap sekali. Birai pintu, walaupun secara fisik bentunya sangat sederhana, namun bagi mereka mempunyai makna yang dalam. Bagi mereka pagar bukan hanya sekedar batas suatu kawasan (tempat), tetapi lebih dari itu. Ia merupakan pembatas antara dunia yang nyata dan dunia baru (alam lain). Jadi, birai pintu diibaratkan sebagai pintu gerbang yang harus dilalui oleh roh si mati agar dapat sampai ke tujuan dengan selamat. Oleh karena itu, sungguh aneh jika ada kuburan yang tidak memiliki birai pintu, karena dalam konsep mereka suatu kuburan yang tidak memiliki birai pintu berarti dunia lain yang akan dituju oleh roh si mati tidak jelas. Jika itu ada atau terjadi, maka roh si mati tidak akan sampai ke tujuan, sehingga tetap berada di tengah-tengah masyarakat dan akan selalu mengganggu ketenteraman masyarakat.

Tambak
Tambak adalah bahasa mereka yang dalam bahasa Indonesianya berarti “makam”. Bentuknya menyerupai kerucut dengan dasar empat persegi panjang. Empat persegi yang berada di bagian paling bawah lebih luas ketimbang yang berada di atas. Demikian, seterusnya sehingga menyerupai kerucut tadi. Ia terbuat dari papan pilihan. Artinya, bukan sembarang kayu, tetapi kayu yang mereka ketahui daya tahannya lama (kuat), seperti kayu: bulian, meranti, dan tembusu. Agar kayu tersebut menjadi lebih tahan maka dicat dengan arang sehingga berwarna hitam. Dalam Pembuatan tambak ada suatu upacara yang disebut sebagai “menaikkan tanah” yang menggunakan tiang tunggal. Rangkaian upacara ini adalah: menegakkan tiang tunggal, meratap atau menangis, menyabung ayam, memusingkan balai terbang, bertanya-tanya, memercikkan darah ayam ke makam, dan menutup pintu makam. Adapun makna yang terkandung dalam bentuk tambak yang bertingkat-tingkat itu, tidak hanya menyimbolkan sistem kemasyarakatan mereka (terutama yang berkenaan dengan status sosial seseorang), tetapi juga sistem kepercayaan yang mereka anut (animisme dan dinamisme). Jumlah dan atau tinggi-rendahnya tambak menunjukkan status sosial orang yang dikubur (meninggal). Ini bermakna bahwa semakin tinggi (banyak tingkatan) suatu tambak maka semakin tinggi status sosial yang bersangkutan. Oleh karena status sosial mereka, berdasarkan jabatan adat, adalah batin, maka tambak seorang batin lebih tinggi dari pada yang lainnya (kepala suku, manti, kumantan, dan apalagi orang kebanyakan). Untuk orang kebanyakan (rakyat biasa), jika ia meninggal dunia, maka tambaknya cukup hanya satu tingkat. Tambak, sebagaimana disebutkan di atas, juga menunjukkan sistem kepercayaan mereka. Hal itu tercermin dari bentuk tambak yang mengarah pada konsep punden yang berundak-undak. Dalam konsep ini tempat yang paling tinggi adalah tempat yang paling suci karena disitulah tempatnya roh si mati bertemu dengan para dewa. Oleh karena itu, jumlah tangga dan atau ketinggian suatu tambak sangat bermakna bagi seseorang yang meninggal dunia. Sebab semakin tinggi berarti semakin mudah untuk bertemu dengan para dewa. Dengan perkataan lain, jalannya menuju ke alam lain yang menjadi tujuan rohnya relatif lebih cepat.

Pasak
Pasak adalah pertemuan dua buah kayu pada setiap sudut dari setiap tingkatan tambak. Ia terbuat dari papan yang cukup tebal dari jenis kayu yang kuat dan tahan lama, seperti kayu bulian, meranti, dan tembusu. Agar kayu tersebut tidak cepat lapuk, maka ia dicat hitam dan putih. Warna hitam diperoleh dari arang, sedangkan warna putih diperoleh dari kapur sirih. Selanjutnya, ia diberi lukisan yang berupa bulatan-bulatan kecil dan simetris. Pasak tampaknya tidak hanya berfungsi sebagai nisan semata, tetapi ada makna lain yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks ini pasak adalah sebagai simbol perlindungan bagi roh si mati dalam perjalanannya menuju “dunia baru”. Menurut kepercayaan mereka perjalanan roh penuh dengan rintangan (gangguan). Gangguan-ganguan itu berasal dari makhluk-makhluk halus yang datang dari berbagai arah. Oleh karena itu, pasak dihadapkan pada berbagai arah, sehingga makhluk-makhluk halus pengganggu tadi tidak dapat berkutik.

Tiang Putar
Tiang putar adalah satu unsur dalam tambak juga. Ia berbentuk seperti penumbuk padi (antan) tetapi dalam ukuran yang lebih panjang. Bahannya dari kayu yang keras. Ia merupakan titik tengah (sumbu) balai terbang. Tiang ini bagi kepercayaan mereka dapat diibaratkan sebagai menhir. Sebagaimana kita tahu bahwa menhir pada masyarakat yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan pusat dari suatu alam gaib. Bagi masyarakat Talang Mamak, apa yang disebut tiang putar mempunyai fungsi kurang lebih sama. Dalam hal ini adalah sebagai suatu sarana untuk mempercepat perjalanan roh ke dunia baru (alam gaib).

Balai Terbang
Balai terbang adalah bagian atap kuburan yang terbuat dari kayu dan anak kayu yang telah dikuliti. Atapnya sendiri terbuat dari pohon nipah atau daun pohon enau. Pada pinggir atap bagian bawah dipasangi papan yang lebarnya kurang lebih 15 sentimeter. Papan tersebut dicat hitam dan putih yang bahannya dari arang dan kapur sirih. Salah satu ujungnya dipagari dengan anak-anak kayu yang telah dikupas kulitnya. Sedangkan, pada ujung lainnya dibiarkan terbuka. Di bagian bawahnya diberi lantai yang terbuat dari bambu sebagai tempat untuk meletakkan barang-barang yang dianggap berguna bagi si mati dalam kehidupan yang baru. Barang-barang itu antara lain: lapik, mangkok, tudung, tempuyung, dan perokokan. Balai ini berfungsi sebagai rumah bagi si mati yang sudah berpindah alam (tempat tinggalnya yang baru). Kehidupan di alam dunia dengan kehidupan di alam sana, menurut mereka, adalah sama. Oleh karena itu, walaupun seseorang sudah meninggal, orang tersebut tetap memerlukan berbagai peralatan sebagaimana ketika ia masih hidup. Salah satu diantaranya dan yang utama adalah rumah. Selain itu, orang yang sudah meninggal juga memerlukan hubungan dengan roh-roh lainnya. Dan, dalam berhubungan tersebut mereka (yang sudah mati) perlu menjamu tamu, pesta, tidur, berkeluarga, dan lain sebagainya, sebagaimana layaknya orang hidup di dunia.

Penampak
Penampak adalah dua buah kayu pipih yang dipasang menyilang pada kedua ujung atas balai terbang. Ia terbuat dari papan yang lebarnya kurang lebih 20 sentimeter dan panjangnya kurang lebih 2 meter. Bentuknya seperti sebuah dayung (bagian tangkai dan bagian yang agak lebar sama panjangnya). Bagian yang agar lebar dihiasi dengan ukiran yang simetris dan dicat dengan warna hitam dan putih. Warna hitam diambilkan dari arang, sedangkan warna putih diambilkan dari kapur sirih. Ia (penampak) merupakan lambang balai terbang yang berjumlah empat buah dan menjulang ke langit. Ini merupakan simbol empat penjuru angin dengan empat malaikat. Ini bermakna bahwa si mati mesti memohon kepada keempat malaikat yang berada di empat penjuru angin (di air, di darat, di langit, dan di akherat), agar seluruh dosa-dosa atau kesalahan-kesalahannya di dunia dapat diampuni.

Anting-anting
Anting-anting terbuat dari papan yang berbentuk segitiga dan sisi bagian bawahnya dibagi menjadi tiga, sehingga tampak seolah-olah bagaikan tiga buah gigi. Pada masing-masing gigi diberi rajutan (tali) dan manik-manik yang pada bagian ujungnya diikat dengan sebuah benda yang berbentuk bulat-panjang. Benda ini terbuat dari gulungan kain perca. Kemudian, papan segitiga tadi dan kain perca diberi warna hitam (dengan arang) dan warna putih (dengan kapur sirih). Pada kuburan, anting-anting ini digantungkan pada balai terbang. Jumlahnya kurang lebih 60 buah, atau malahan lebih dari itu. Sebab yang namanya anting-anting sekaligus menunjukkan status sosial orang yang mati. Dalam hal ini jika yang mati adalah orang yang terhormat dan kaya (semasa hidupnya), maka jumlah anting-antingnya lebih dari orang biasa. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa, menurut alam pikiran masyarakat Talang Mamak, kematian adalah proses kepindahan dari alam nyata ke alam lain (gaib). Mereka yakin bahwa kehidupan di alam sana tidak jauh berbeda dengan kehidupan nyata (dunia). Oleh karena itu, sangatlah wajar jika keluarga yang meninggal sengaja menyertakan kekayaan atau kebutuhan si mati, sehingga yang bersangkutan dapat hidup layak di sana. Penyertaan harta kekayaan si mata dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang ditanam bersama jazadnya, ada yang dibakar, dan ada pula yang digantung. Yang disebutkan terakhir inilah yang memudahkan bagi seseorang untuk mengetahui status sosial si mati (ketika ia masih hidup).

Burung Enggang

Patung burung Enggang merupakan patung burung yang terbuat dari kayu dan dicat dengan warna hitam dan putih. Warna hitam, sebagaimana telah disebutkan di atas, berasal dari arang, sedangkan warna putih berasal dari kapur sirih. Ia terletak di puncak balai terbang dan menghadap ke pintu gerbang. Dengan kata lain, letaknya sejajar dengan penampak. Patung burung enggang ini bagi masyarakat Talang Mamak berfungsi sebagai kendaraan bagi si mati untuk mencapai tujuan dengan selamat. Oleh karena itu, burung ini dianggap suci oleh mereka. Dan, karenanya pantang untuk dibunuh. Kepercayaan lain yang berkenaan dengan burung ini adalah burung tersebut diyakini dapat membawa berita baik dan sebalik.

Burung Cawai
Burung Cawai juga merupakan patung burung yang terbuat dari kayu. Burung ini juga dicat dengan warna hitam dan putih. Burung ini dipercayai sebagai sahabat burung enggang. Oleh karena itu, ia terletak di atasnya karena tidak dapat dipisahkan begitu saja. Burung ini, oleh orang Talang Mamak, dianggap mempunyai sifat yang cerdik tetapi bijaksana. Burung ini diibaratkan oleh mereka adalah si mati. Dengan demikian, si mati akan naik burung enggang untuk menuju ke alam yang baru. Oleh karena itu, sebagaimana halnya burung enggang, burung ini tidak boleh dimakan.

Bunga
Bunga ini terbuat dari sejenis kayu yang ringan (tempiris). Kayu tersebut kemudian diserut. Kemudian, serutan yang bergulung dan tipis ditata sedemikian rupa, sehingga membentuk bunga yang menyerupai ekor ayam. Ayam, dalam masyarakat Talang Mamak, merupakan simbol kebesaran, status sosial, dan bahkan harga diri. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam setiap upacara selalu diawali dengan sabung ayam.

Lapik
Lapik adalah tikar yang terbuat dari batang atau daun pandan. Ia dianyam dan dihiasi dengan kain perca yang berwarna merah. Dalam kehidupan sehari-hari, ia berfungsi sebagai alas untuk duduk dan istirahat (tidur). Selain itu, ketika ada tamu yang dianggap terhormat, tamu tersebut dipersilahkan duduk di atas lapik. Alat ini menjadi penting, tidak saja karena dapat dipakai sebagai pengganti kain kafan, juga termasuk salah satu bawaan si mati. Dalam konteks ini ia ditaruh di balai terbang.

Peralatan sesajen terdiri atas mangkuk, nampan pipih, dan tudung. Ia kemudian diisi oleh bertih, tembakau, kemenyan, dan lain sebagainya (pada nampan pipih). Tujuannya adalah agar roh-roh jahat tidak mengganggu si mati atau keluarga yang ditinggalkan. Sebagaimana telah mereka percayai bahwa kehidupan di dunia yang baru tidak selalu berjalan mulus. Ada kekuatan atau hal-hal lain yang mengganggu. Selain itu, sebagai anggota baru di alam yang baru, si mati memerlukan proses penyesuaian. Untuk itu, diperlukan upeti (sesajen) agar si mati dapat diterima oleh warga alam yang baru.

Tempuyung
Tempuyung adalah tanah liat yang berbentuk lonjong. Ia berasal dari bekas sarang semut. Pada masyarakat Talang Mamak, ia merupakan salah satu harta si mati yang diletakkan di lantai balai terbang. Benda ini berfungsi sebagai tungku agar si mati dapat melakukan masak-memasak.

Prokokan
Sesuai dengan namanya, perokokan adalah tempat rokok yang terbuat dari rotan. Ia dianyam sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi tempat untuk menyimpan tembakau dan tembakau yang telah siap dirokok. Pada masyarakat Talang Mamak perokokan merupakan salah satu wujud roh si mati dalam rangka menjadi hubungan yang harmonis di alam yang baru. (gufron)

Sumber:
Spoiler


#6 last_virgin

    PERAWAN'NYA BLUEFAME

  • Moderator
  • 8,452 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2010 - 09:45 PM

ahhh terimakasih om :Hug:

tambah lagi neh wawasan gw

#7 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2010 - 09:54 PM

View Postlast_virgin, on 30 October 2010 - 09:45 PM, said:

ahhh terimakasih om :Hug:

tambah lagi neh wawasan gw

syukur deh kalau memang thread saya ini bisa berguna :Hug:
thx ya :Hug:

nanti saya update terus kok :D

#8 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 31 October 2010 - 12:13 AM

Upacara Pelet Kandhung pada Masyarakat Madura
(Provinsi Jawa Timur)



Sebagian besar masyarakat di Indonesia mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (Koentjaraningrat, 1985; Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung atau pelet betteng (pijat perut) pada masyarakat Madura, khususnya yang berada di daerah Bangkalan dan Sampang.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Penyelenggaraan upacara pelet kandhung diadakan ketika usia kandungan seseorang telah mencapai tujuh bulan. Sebelum upacara diadakan, pada bulan pertama saat seorang perempuan mulai mengandung, diadakan upacara nandai. Pada saat upacara nandai selesai, akan ditaruh sebiji bigilan atau beton (biji nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut. Dan, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh biji bigilan yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan, maka diadakanlah upacara pelet kandhung atau pelet betteng. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung ini diadakan secara meriah hanya pada saat seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya. Pada masa kehamilan yang kedua, ketiga, dan seterusnya, upacara pelet kandhung tetap diadakan, namun tidak semeriah upacara pada saat mengalami kehamilan untuk pertama kalinya.

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut:
  • (1) tahap pelet kandhung (pijat perut)
  • (2) tahap penyepakan ayam
  • (3) tahap penginjakan kelapa muda dan telur
  • (4) tahap pemandian
  • (5) tahap orasol (kenduri).

Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat Isya, dengan pertimbangan bahwa malam bulan purnama adalah malam yang dirahmati Tuhan dan para peserta upacara telah terlepas dari rutinitas keseharian mereka.

Tempat pelaksanaan upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman belakang rumah. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine atau emba nyae (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai). Sedangkan, acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyae atau ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet betteng adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pihak suaminya. Di samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin.

Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara pelet betteng atau pelet kandhung adalah:
  • (1) kain putih sepanjang 1½ meter yang nantinya akan digunakan sebagai penutup badan perempuan yang akan diupacarai pada saat dimandikan
  • (2) air satu penay (belanga)
  • (3) berbagai jenis bunga (biasanya 40 jenis bunga) untuk campuran air mandi. Air dalam penay dan berbagai jenis bunga (komkoman) mengandung makna kesucian dan keharuman
  • (4) gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan gagangnya dari ranting pohon beringin yang masih ada daunnya
  • (5) sebutir telur ayam yang masih mentah dan sebutir lagi yang sudah direbus
  • (6) satu leper ketan kuning yang sudah masak
  • (7) seekor ayam muda
  • (8) minyak kelapa
  • (9) kemenyan Arab
  • (10) setanggi
  • (11) uang logam
  • (12) sepasang cengker kelapa gading yang digambari Arjuna dan Sembodro serta dibubuhi tulisan Arab atau Jawa; dan
  • (13) berbagai macam hidangan untuk arasol (kenduri) yang berupa: kuwe procut, ketan kuning yang dibalut daun berbentuk kerucut, jubada (juadah), lemeng (ketan yang dibakar dalam bambu), tettel (penganan yang terbuat dari ketan), minuman cendol, la’ang dan bunga siwalan (semacam legen).

Jalannya Upacara
Ketika masa kehamilannya telah mencapai tujuh bulan, maka keluarganya akan menghubungi dukun baji untuk memberitahukan dan sekaligus memintanya menjadi pemimpin upacara pelet kandhung. Selain itu, pihak keluarga juga menyampaikan undangan kepada para kerabat dan tetangga terdekat untuk ikut menghadiri upacara.

Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah perempuan yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran (Surat Yusuf dan Maryam) oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyae. Sementara mereka membaca ayat-ayat Al Quran, di dalam bilik perempuan yang mengandung itu mulai dilaksanakan prosesi pelet kandhung. Dukun baji mulai memelet atau memijat bagian perut perempuan tersebut dengan menggunakan minyak kelapa. Maksud dari tindakan ini adalah untuk mengatur posisi bayi di dalam kandungan.

Saat si perempuan hamil sedang dipelet, para kerabatnya yang perempuan, mulai dari emba nyae (nenek), matowa bine (mertua perempuan), ebu majadi (adik perempuan ayah dan ibunya), dan eper bine (saudara ipar perempuan), secara bergantian mendatangi dan mengusap perutnya. Sambil mengusap perut, mereka memanjatkan doa dan harapan agar si perempuan beserta bayi yang dikandungnya selalu dalam lindungan Tuhan.

Usai dipelet, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh sang dukun baji ke tempat seekor ayam yang sebelumnya telah diikat pada salah satu kaki tempat tidur. Saat berada di dekat ayam, si perempuan hamil diharuskan untuk menyepak hingga sang ayam kesakitan dan berbunyi “keok”. Selanjutnya ayam yang masih terikat itu dilepaskan dan dikurung di belakang rumah. Apabila upacara telah selesai, ayam itu akan diserahkan kepada dukun baji sebagai ucapan terima kasih.

Selesai menyepak ayam, perempuan hamil itu kemudian diselimuti dengan kain putih dan diminta untuk menginjak sebutir kelapa muda dengan kaki kanan. Selanjutnya, ia diminta lagi untuk menginjak telur mentah dengan kaki kiri. Apabila telur berhasil dipecahkan, maka bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin laki-laki. Namun, apabila telur tidak berhasil dipecahkan, sang dukun akan mengambil dan menggelindingkannya dari perut perempuan hamil itu. Saat telur pecah, orang-orang yang hadir di ruangan itu seretak berucap “jebing, jebing”, yang mengandung makna bahwa kelak bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin perempuan.

Selanjutnya, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh dukun baji ke belakang rumah untuk menjalani prosesi pemandian. Ia kemudian didudukkan di sebuah bangku kayu yang rendah dan di dekatnya disediakan air komkoman pada sebuah periuk tanah. Setelah itu, sang dukun baji sambil memegang gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan ranting beringin, memasukkan uang logam ke dalam komkoman dan mulai memandikan perempuan hamil itu. Sesudah dukun selesai mengguyur, maka satu-persatu perempuan kaum kerabatnya mulai bergiliran mengguyur hingga air di dalam komkoman habis.

Selesai dimandikan, ia dibawa masuk lagi ke kamarnya untuk dirias dan dipakaikan busana yang paling bagus. Kemudian, ia dibawa menuju ke ruang tamu untuk diperlihatkan kepada para hadirin. Saat itu, para hadirin akan mengucapkan kata-kata “radin, radin”, yang artinya “cantik”. Ucapan itu dimaksudkan sebagai persetujuan hadirin bahwa pakaian yang dikenakannya sudah serasi dan sesuai.

Setelah itu, acara diteruskan dengan penyerahan dua buah cengker yang telah digambari Arjuna dan Sembodro kepada Kyae untuk didoakan. Setelah selesai pembacaan doa yang diamini oleh segenap yang hadir, Kyae lalu menyerakan kedua cengker tersebut kepada matowa bine untuk diletakkan di tempat tidur menantu perempuannya yang sedang hamil itu. Sebagai catatan, cengker itu tetap ditaruh di tempat tidur hingga si perempuan melahirkan bayinya. Dan, dengan adanya cengker di sisi tempat tidurnya, maka sejak saat itu suaminya tidak diperkenankan lagi menggauli hingga bayi yang dikandungnya lahir dan telah berumur 40 hari.

Selanjutnya, perempuan hamil itu dibawa masuk lagi ke dalam kamarnya dan diberi minum jamu dek cacing towa yang ditempatkan dalam sebuah cengkelongan (tempurung gading). Setelah jamu dek cacing towa diminum, maka cengkelongan itu segera dilemparkan ke tanean (halaman). Apabila cengkelongan jatuhnya tertelentang, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan, apabila tertelungkup, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin perempuan.

Setelah itu, si perempuan hamil disuapi dengan sedikit nasi ponar (nasi kuning), ketan yang diberi warna kuning dan telur rebus. Makanan itu tidak dimakan sampai habis. Dengan berakhirnya tahap pemberian nasi ponar ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara pelet kandhung.

Sebagai catatan, sejak saat diadakan upacara nandai, pelet kandhung, hingga melahirkan, perempuan yang sedang hamil itu harus mematuhi berbagai macam pantangan, baik pantangan memakan makanan tertentu maupun pantangan melakukan perbuatan tertentu. Pantangan yang berupa makanan diantaranya adalah: pantang memakan juko lake (sejenis binatang yang bersengat), kepiting, bilang senyong, me eme parsong (sejenis cumi-cumi), daging kambing, ce cek (kerupuk rambak), petis, nenas muda, durian, tepu, mangga kweni lembayung, dan plotan lembur. Apabila pantangan ini dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti: keguguran, bayi yang dikandung terkena saban (sawan), proses melahirkan tidak lancar, dan banyak darah yang keluar pada saat melahirkan.

Sedangkan pantangan yang berupa tindakan atau perbuatan diantaranya adalah: tidak boleh kerja berat berat, bekerja secara tergesa-gesa dan mendadak, berjalan cepat, naik-turun tangga, menyiksa binatang, tidur melingkar, duduk di ambang pintu, etampe (makan sambil menyangga piring), san rasanan (bergunjing, mencela, menyumpah, dan bertengkar dengan orang lain), dan bersenggama pada hari-hari tertentu (Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu). Apabila pantangan-pantangan ini dilanggar, sebagian masyarakat Madura percaya bahwa kandungan yang nantinya akan dilahirkan akan mengalami cacat.

Nilai Budaya

Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara pelet kandhung. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Pelet kandhung merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh kyae atau ulama setempat, pada acara orasol (kenduri) yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara pelet kandhung. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Tuhan.

Sumber:
Spoiler


#9 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 31 October 2010 - 12:17 AM

Upacara Kematian pada Masyarakat Banjar
(Kalimantan Selatan)



PengantarKematian bagi masyarakat manapun, termasuk masyarakat Banjar yang berada di Kalimantan Selatan, merupakan masalah sosial karena ia tidak hanya melibatkan anggota keluarganya tetapi juga masyarakatnya. Oleh karena itu, jika ada kematian, seluruh warga kampung datang membantu keluarga yang sedang berkabung. Biasanya salah seorang perempuan dari setiap keluarga datang ke rumah keluarga yang sedang berduka cita sambil membawa sejumlah beras. Sementara itu, para lelakinya, disamping membantu dalam persiapan penguburan, juga mempersiapkan kayu-kayu yang diperlukan untuk masak-memasak dalam rangka selamatan (kendurian).

Orang yang meninggal, mayatnya ditutup dengan bahalai (kain panjang) kemudian dibaringkan dengan posisi membujur ke arah baitullah (kiblat). Di sisinya disediakan buku (Surat Yasin) atau Al Quran. Dengan demikian, siapa saja yang ingin mengirimkan doa kepada yang meninggal dapat mengambil dan membacanya. Sementara itu, pihak keluarga yang meninggal merundingkan mengenai proses pemakamannya, seperti: memandikan mayat, waktu pemakaman, dan orang-orang yang menyembahyangkan mayat. Sebagai catatan, jika ada ahli waris yang belum datang, maka penguburan ditunda. Namun demikian, tidak boleh lebih dari 14 jam terhitung dari saat seseorang meninggal. Jika yang ditunggu dalam waktu tersebut belum datang juga, maka penguburan dilakukan (tidak perlu lagi menunggu ahli waris yang belum datang).

Proses Upacara Kematian
Sebagai suatu proses, upacara kematian mesti dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Tahap-tahap itu adalah: memandikan mayat, menyembahyangkan mayat, turun tanah, meniga hari, dan meyeratus hari. Berikut ini adalah uraian yang lebih renci tentang tahap-tahap tersebut.

1. Tahap Memandikan Mayat
Orang-orang yang dipilih untuk memandikan mayat umumnya adalah orang-orang yang saleh atau para ulama atau orang-orang yang ahli dalam memandikan mayat. Jumlahnya biasanya ganjil (bisa 3 orang, bisa 5 orang, atau 7 orang). Dari jumlah itu ada yang disebut sebagai mirandu (ahli waris) yang dalam pemandian bertugas membersihkan dubur dan kemaluan mayat. Sebelum mayat dimandikan, ia dibaringkan di atas batang pohon pisang. Kemudian, mayat diwudlukan (seperti orang yang akan sholat), selanjutnya disiram dengan air sabun sejumlah tiga kali, lalu dengan air yang dicampur dengan kapur barus sejumlah tiga kali, dan akhirnya disiram dengan air bersih, juga sejumlah tiga kali. Setelah itu, mayat dilapisi dengan kain putih (tiga lapis). Selanjutnya, bagian-bagian tertentu, seperti: muka, tapak tangan, dan kemaluan ditutup dengan kapas yang telah ditetesi dengan minyak cendana. Sebagai catatan, sebelum muka mayat ditutup dengan kain kavan (kain putih), para keluarganya diberi kesempatan untuk melihat yang terakhir kalinya.

2. Tahap Menyembahyangkan Mayat
Setelah tahap memandikan mayat selesai, maka tahap berikutnya adalah menyembahyangkan mayat. Mayat yang telah dibaringkan dalam usungan (tandu) dibawa ke tempat peribadatan (langgar atau surau atau mesjid) untuk disembahyangkan. Jumlah orang yang menyembahyangkan minimal 40 orang. Jumlah tersebut oleh masyarakat Banjar disebut satu-dirian. Adapun yang menjadi imam adalah orang yang dipercayai atau ditunjuk oleh ahli waris.

3. Tahap Penguburan
Sebelum mayat diusung ke pemakaman, yaitu ketika dibawa keluar dari tempat peribadatan, anak dan atau cucunya disuruh untuk menyusup di bawah tandu. Maksudnya adalah agar anak dan atau cucunya tadi tidak sakit-sakitan dan umurnya panjang. Setelah itu, barulah mayat diusung ke tempat pemakaman (kuburan). Di sana telah dibuat liang kubur yang sesuai dengan ukuran mayat. Setelah sampai di kuburan, mayat dibaringkan dengan posisi miring ke kanan dan muka menghadap ke kiblat. Selanjutnya, liang kubur ditimbuni dengan tanah kembali (tanah bekas galian). Sebagai catatan, untuk daerah-daerah yang rendah (rawa-rawa), sebelum mayat dikebumikan, ia dimasukkan dalam sebuah peti yang oleh masyarakat Banjar disebut tabala. Oleh karena itu, ukuran liang lahatnya (kubur) lebih sempit dibandikan dengan liang lahat pada tanah tinggi atau non-rawa-rawa (biasanya hanya 1,5 depax3 jengkal).

Selanjutnya, liang lahat yang telah ditimbuni dengan tanah sehingga membentuk gundukan itu, diberi nisan dari pohon karambat atau kamboja. Setelah itu, mayat ditalqinkan oleh orang alim. Maksudnya adalah agar almarhum kelak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh malaikat. Dan, dengan berakhirnya talqin, maka berakhir sudah acara pemakaman. Dan, sebagai catatan pula, semua pakaian almarhum disedekahkan kepada fakir miskin dan orang-orang yang memandikan Selain itu, mereka juga diberi piring, mangkok, dan gelas. Sedangkan, penalqin diberi selembar tikar dan stoples yang berisi air yang telah “dimantrai” (dibacakan ayat-ayat suci).

4. Tahap Selamatan atau Kendurian
Bagi masyarakat Banjar, selamatan yang berkenaan dengan kematian tidak hanya dilakukan pada malam pertama (turun tanah) saja, tetapi juga malam ke-2 (mendua hari), ke-3 (meniga hari), ke-7 (memitung hari), ke-25 (mayalawi), ke-40 (mematang puluh), ke-50, 60, 70, 80, 90 yang disebut sebagai manyala ari, dan ke-100 hari (manyaratus hari) terhitung dari meninggalnya seseorang.

Selamatan atau kendurian, baik yang dilakukan pada hari pertama, kedua, dan seterusnya (ke-100 hari) pada dasarnya sama, yaitu diikuti oleh sanak saudara, tetangganya dan kenalannya; dimulai dengan tahlilan (zikir 100x), kemudian dilanjutkan doa yang maksudnya adalah agar dosa-dosanya dimaafkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, diterima amal baktinya, sehingga dapat diterima di sisi-Nya; dan diakhiri dengan penyantapan nasi beserta lauk-pauknya (daging ternak) dan apam surabi. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada perbedaan sama sekali. Perbedaan tetap ada, khususnya yang berkenaan dengan sajian yang dihidangkan pada hari yang ke-100. Hari yang ke-100 oleh masyarakat Banjar dianggap sebagai yang terpenting. Oleh karena itu, setiap orang akan berusaha untuk menyelenggarakannya secara lebih besar ketimbang hari-hari lainnya. Apalagi jika yang meninggal termasuk orang yang terpandang dan meninggalkan harta yang banyak (berlimpah). Dalam hal ini biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menyeratus dengan menyembelih kerbau atau sapi. Sebab jika tidak, keluarga tersebut akan dianggap sebagai keluarga yang rakus terhadap apa yang warisan oleh yang meninggal.

Nilai Budaya

Upacara kematian adalah salah satu upacara di lingkaran hidup individu. Upacara kematian yang dilakukan oleh masyarakat Banjar yang berada di Kalimantan Selatan ini, jika dicermati secara mendalam, maka di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bersama dan bekal kehidupan di kemudian hari. Nilai-nilai itu antara lain kegotong-royongan, kemanusiaan, dan religius.

Nilai kegotong-royongan tercermin dalam perilaku warga masyarakat di sekitar keluarga yang sedang berkabung. Dalam hal ini, tanpa diminta, setiap keluarga datang membantunya dengan mengirim salah seorang anggotanya (perempuan) ke rumah keluarga yang sedang berkabung sambil membawa sejumlah beras. Sementara itu, para lelakinya, disamping membantu dalam persiapan penguburan, juga mempersiapkan kayu-kayu yang diperlukan untuk masak-memasak dalam rangka selamatan (kendurian). (gufron)

Sumber:
Spoiler


#10 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 31 October 2010 - 12:22 AM

Upacara Rakeho pada Orang Kulawi
(Sulawesi Tengah)



Kulawi adalah salah satu etnik yang terdapat di Sulawesi Tengah, Indonesia. Di kalangan mereka ada sebuah upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran individu), khususnya upacara masa peralihan bagi seorang laki-laki dari masa anak-anak menuju dewasa. Upacara ini oleh mereka disebut sebagai “Rakeho” yang dalam bahasa Indonesianya adalah “meratakan gigi bagian depan atas dan bawah serata dengan gusi”.

Seorang laki-laki yang telah melalui upacara ini berarti sudah dianggap sebagai orang dewasa (bukan kanak-kanak lagi) dan karenanya yang bersangkutan diperbolehkan untuk membentuk sebuah keluarga. Melalui upacara ini juga yang bersangkutan pada gilirannya mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana anggota masyarakat lainnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara rakeho ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut:
(1) tahap pemakian pakaian yang terdiri dari baju biasa dan puruka (celana pendek atau cawat)
(2) tahap penyuapan makanan berupa ketan putili dan telur
(3) tahap meratakan gigi.

Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan dari pagi sampai sore hari. Sebagai catatan, penyelenggaraan upacara biasanya dilakukan setelah panen dengan pertimbangan bahwa sesudah panen orang tua dari si anak yang diupacarakan sudah memiliki dana yang cukup.

Tempat pelaksanaan upacara rakeho bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh si anak. Untuk prosesi pemakaian pakaian dan penyuapan makanan diadakan di dalam rumah. Sedangkan, prosesi meratakan gigi diadakan di tempat-tempat tertentu, seperti di bawah pohon yang besar atau di sebuah rumah yang telah dikosongkan sebelumnya. Upacara ini dipimpin oleh topekeho, yaitu seorang yang mempunyai keahlian khusus dalam meratakan gigi. Keahlian dalam meratakan gigi pada seorang topekeho biasanya diperoleh secara turun-temurun. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara rakeho adalah empat orang tadulako1 yang bertugas membantu topekeho dalam melaksanakan upacara dan para anggota kerabat dari anak yang diupacarakan, seperti taoma (orang tua si anak), ompi-ompi (paman), tumpu (nenek), dan tina lolo (bibi).

Peralatan
Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara rakeho ini adalah:
(1) lida (tikar)
(2) luna (bantal)
(3) baju
(4) celana pendek atau cawat (puruka) yang terbuat dari kulit kayu
(5) pengoaha (kikir besi)
(6) air hangat
(7) putili (ketan putih)
(8) parania mavau (sejenis rumput)
(9) kain nunu
(10) sebutir telur.

Jalannya Upacara
Ketika kedua orang tua menganggap bahwa anaknya telah dewasa, maka mereka kemudian mengadakan rapat dengan para kerabat terdekat untuk menentukan penyelenggaraan upacara rakeho. Jika telah ada kesepakatan, mereka akan menemui topekeho dan pembantu-pembantunya (para tadulako) untuk memberitahukan dan sekaligus meminta topekeho untuk menjadi pemimpun upacara.

Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah anak yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pemakaian baju dan puruka (celana pendek atau cawat) yang berwarna putih pada si anak oleh topekeho. Baju dan puruka yang berwarna putih itu mengandung maka keikhlasan hati keluarga anak yang diupacarakan untuk memberikan anaknya kepada topekeho untuk dirakeho.

Setelah pemakaian cawat, kegiatan dilanjutkan dengan penyuapan makanan oleh topekeho pada si anak dengan ketan putili dan telur. Ketan putili dan telur ini mengandung makna selain permohonan kepada Tuhan atas keselamatan anak yang diupacarakan, juga merupakan simbol keikhlasan dan kebulatan hati dari keluarga untuk melaksanakan upacara. Kemudian, topekeho, para tadulako, ayah-ibu beserta sanak keluarga, membawa si anak ke sebuah tempat khusus yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk melaksanakan upacara rakeho. Tempat khusus tersebut dapat di bawah sebuah pohon besar atau di sebuah rumah yang telah dikosongkan sebelumnya. Setiba di tempat upacara, maka ayah-ibu serta sanak keluarga yang mengantar tadi kembali ke rumah untuk menunggu selesainya upacara rakeho ini dilaksanakan.

Setelah itu, para tadulako mulai menghamparkan tikar dan meletakkan bantal di atasnya untuk tempat tidur. Selanjutnya, kedua mata anak yang diupacarakan itu ditutup dengan kain nunu lalu ditidurkan. Sesudah anak yang diupacarakan ditidurkan dalam keadaan terlentang, maka para tadulako mulai mengambil tempat masing-masing, yakni dua orang di samping bahu kiri dan kanan si anak dan dua orang lagi di bagian kaki kiri dan kanannya. Keempat tadulako tersebut bertugas memegangi si anak agar jangan sampai menggoyangkan tubuhnya (bergerak) pada saat giginya diratakan oleh topekeho. Apabila para tadulako sudah siap pada posisinya masing-masing, maka topekeho sambil memegang pongaha (kikir), berjongkok di samping si anak. Kemudian, ia mulai membaca mantera (gane): "Ane motomoleko potumpako, ane motumpako patumoleko, Bona nemo madea ra mehuko tiroi daka kami". Artinya, bila tidur tengadah dan tengkurap, bila tidur tengkurap dan tengadah, jangan sampai banyak darah, maka lihatlah kami. Selanjutnya, topekeho memasukkan pangaha (kikir) di antara bagian gigi atas dan bagian gigi bawah. Bersamaan dengan itu para tadulako mulai memegang erat tubuh dan bagian kaki si anak. Kemudian, topekeho mulai menggosokkan kikirnya pada bagian gigi atas sampai hampir serata dengan gusi. Setelah gigi bagian atas dianggap rata, gosokan pangaha beralih pada gigi bagian bawah.

Setelah gigi dianggap rata oleh topekeho, maka si anak diberi obat berupa air hangat untuk berkumur dan parania mavau (sejenis rumput-rumputan yang baunya sangat busuk) untuk digigit-gigit. Kemudian, sambil dibopong oleh para tadulako, si anak dibawa ke rumahnya kembali untuk diserahkan kepada orang tuanya. Dengan berakhirnya tahap meratakan gigi ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara rakeho. Sebagai catatan, orang yang baru saja melalui upacara rakeho ini tidak boleh memakan makanan yang keras dan minum air selama tiga hari. Apabila pantangan ini dilanggar, maka gusi akan membengkak dan proses kesembuhan menjadi lebih lama lagi.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara rakeho. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Rakeho merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Nilai religius tercermin dalam doa atau mantra yang dilakukan oleh topekeho, pada acara perataan gigi yang merupakan bagian akhir dari serentetan tahapan dalam upacara rakeho. Tujuannya adalah agar si anak mendapatkan perlindungan dari Tuhan dan roh-roh para leluhur. (gufron)

1 Tadulako adalah orang yang mempunyai kekuatan sakti berdasarkan tenaga dalam yang bertugas untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan (gangguan gaib) sewaktu pelaksanaan upacara.


Sumber:


#11 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 31 October 2010 - 12:27 AM

Upacara Rujena pada Masyarakat Nuaulu
(Provinsi Maluku)



Nuaulu adalah salah satu sukubangsa yang terdapat di Provinsi Maluku, Indonesia. Di kalangan mereka ada sebuah tradisi yang termasuk dalam upacara di lingkaran hidup individu, yaitu upacara yang berkenaan dengan masa peralihan, khususnya bagi laki-laki, dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa lampau kedewasaan seorang anak laki-laki sangat erat kaitannya dengan pengayauan (pemenggalan kepala).

Artinya, seorang anak laki-laki dianggap sebagai dewasa jika ia telah melakukan pengayauan, karena dengan berhasilnya memenggal kepala musuh berarti ia dianggap mampu melindungi warga masyarakatnya, khususnya anak-anak dan kaum perempuan. Dewasa ini tradisi itu tidak dilakukan lagi.

Sebagai gantinya, mereka mengembangkan tradisi baru dalam menentukan kedewasaan seorang anak laki-laki, yaitu keterampilan (kemahiran) dalam menggunakan tombak dan panah . Jadi, seorang anak laki-laki yang sudah dapat menggunakan panah dan tombak dengan baik (mahir), maka dianggap sudah dewasa.

Dan, untuk mengesahkan anak tersebut menjadi orang dewasa yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan orang dewasa lainnya, maka diadakanlah upacara rujena yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia berarti “pemakaian cawat”. Salah satu kegiatan yang bersifat simbolik dalam upacara ini adalah pemakaian cawat. Oleh karena itu, upacara ini disebut “upacara rujena”.

Seorang laki-laki yang telah melalui upacara ini berarti sudah dianggap sebagai orang dewasa (bukan kanak-kanak lagi) dan karenanya yang bersangkutan diperbolehkan untuk membentuk sebuah keluarga. Melalui upacara ini juga yang bersangkutan pada gilirannya mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana anggota masyarakat lainnya.

Mengingat pentingnya keahlian menombak dan memanah bagi seorang laki-laki Nuaulu, maka sejak dini (sekitar umur 5 atau 6 tahun) seorang anak laki-laki mulai diajari menombak dan memanah oleh orang tuanya. Ketika sudah agak besar (sekitar umur 9--13 tahun), biasanya diikutsertakan dalam perburuan. Oleh karena itu, anak laki-laki Nuaulu pada umur-umur tersebut biasanya sudah mahir dalam menombak dan memanah. Dan, karena dalam satu kampung biasanya anak laki-laki yang berumur 9--13 tahun lebih dari seorang, maka upacara rujena seringkali disatukan (dilakukan bersama-sama).

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Ada tiga tahap yang harus dilalui dalam upacara rujena, yaitu:
(1) tahap pemakaian cawat, tahap pataheri (pembunuhan hewan upacara)
(2) tahap pengesahan sebagai orang dewasa (pesta rujena).

Oleh karena itu, lama penyelenggaraannya bisa memakan waktu sampai tujuh hari. Pelaksanaan tahap-tahap tersebut dilakukan dari pagi sampai sore hari (menjelang terbenamnya matahari), kecuali acara pesta rujena yang dilakukan pada malam hari.

Tempat pelaksanaan upacara rujena bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan. Untuk prosesi pemakaian rujena dan pataheri misalnya, kedua kegiatan tersebut bertempat di waluno (bangunan upacara) yang berada di tengah-tengah hutan. Sedangkan, pengesahan sebagai orang dewasa bertempat di suwane (rumah/balai adat) dari kelompok kerabat (soa) ayah. Adapun suwane yang dipilih untuk dijadikan tempat pengesahan adalah suwane yang momo kanatenya (pemimpinnya) umurnya lebih tua dari momo kanate-momo kanate lainnya.

Pemimpin upacara juga bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan dalam upacara rujena. Pada tahap pemakaian rujena dan pataheri misalnya, kedua tahap ini dipimpin oleh momo kanate . Jadi, momo kanate-lah yang memimpin prosesi pemakaian cawat dan pembunuhan hewan upacara. Jika anak-anak yang akan diupacarai berasal dari soa-soa yang berbeda, maka momo kanate yang akan menjadi pemimpin upacara adalah momo kanate yang usianya paling tua diantara momo kanate-momo kanate dari soa-soa yang mengikuti upacara. Sementara, momo kanate-momo kanate lainnya bertindak sebagai pendamping dan sekaligus saksi bagi anak-anak yang masuk dalam kelompok kerabatnya masing-masing. Kemudian, dalam pengesahan sebagai orang dewasa yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah pinawasa (pendeta adat). Ia dibantu oleh maawaka (wakil pimpinan upacara) dan seorang kurupasa (pengawal upacara) serta seorang kamama (penjaga api upacara).

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara rujena adalah para laki-laki anggota kelompok kerabat dari soa ayah dan ibu dari masing-masing anak yang diupacarakan. Mereka ini mengikuti upacara yang diselenggarakan di waluno dan di suwane. Selain anggota kerabat, ada juga para mataken (pemuda yang telah terlebih dahulu diupacarakan). Namun, mereka hanya mengikuti upacara yang diselenggarakan di suwane. Sebenarnya, kerabat wanita dari masing-masing anak yang diupacarakan juga terlibat tetapi tidak secara langsung. Mereka hanya mempersiapkan perbekalan yang diperlukan bagi penyelenggaraan upacara di walano.

Peralatan
Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara rujena ini adalah:
(1) waluno
(2) rujena
(3) sehelai ikat pinggang yang terbuat dari kulit kayu
(4) dua helai kain berang (kain yang berwarna merah darah)
(5) 25 buah tagalaya (sejenis bakul untuk menyimpan makanan).

Waluno, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah bangunan yang dibuat khusus untuk tempat pelaksanaan upacara rujena. Bangunan yang pengerjaannya dilakukan secara gotong-royong oleh para laki-laki dewasa dari soa-soa yang anggotannya akan diupacarai ini didirikan di tengah-tengah hutan. Kaum perempuan tidak boleh mendekati bangunan ini. Hal itu disebabkan adanya kepercayaan bahwa jika ada perempuan yang mendekatinya, maka para laki-laki yang ada di daerah tersebut, khususnya anak-anak yang akan diupacarai, akan dihinggapi oleh kekuatan gaib yang bersifat destruktif.

Rujena adalah pakaian (dalam) yang akan dikenakan pada anak-anak yang akan diupacarai. Pakaian ini terbuat dari kulit sejenis pohon beringin yang berdaun kecil. Cara membuatnya, kulit kayu diambil sepanjang 3 meter dengan lebar 10--20 cm. Kemudian, ditumbuk dengan batu kali yang telah dipahat dengan motif garis-garis miring. Setelah itu, diberi hiasan medalion dengan gerigi sebanyak 5 buah. Medalion ini adalah simbol dari sistem kepercayaan yang dianut oleh orang Nuaulu (pemujaan terhadap matahari). Sedangkan, geriginya yang berjumlah 5 buah sebagai simbol bahwa Sukubangsa Nuaulu termasuk golongan atau kelompok pata lima .

Ikat pinggang yang terbuat dari kulit kayu pada dasarnya berfungsi sebagai pengencang rujena, sehingga tidak mudah melorot. Sementara itu, kain berang dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Nuaulu dan masyarakat daerah Maluku Tengah pada umumnya melambangkan keberanian, kejantanan dan kebulatan tekad.

Tagalaya adalah sejenis bakul. Wadah ini dalam upacara rujena digunakan sebagai tempat untuk makanan dan daging buruan. Setiap anak yang akan diupacarai memerlukannya sejumlah 25 buah. Jadi, jika ada 10 anak yang akan diupacarai, maka tagalaya yang harus disediakan berjumlah 250 buah.

Jalannya Upacara

Ketika para orang tua (laki-laki) menganggap bahwa anak-anaknya sudah mahir menggunakan tombak dan panah, maka mereka kemudian mengadakan rapat untuk menentukan waktu penyelenggaraan upacara rujena. Jika telah ada kesepakatan, mereka akan menemui momo kanate dari soa masing-masing untuk memberitahukan dan sekaligus meminta momo kanate untuk menjadi pemimpin soa-nya. Selain itu, pemberitahuan tentang upacara rujena juga disampaikan kepada pinawasa dan pembantunya. Ini penting karena merekalah yang akan mengesahkan kedudukan seorang anak laki-laki menjadi dewasa.

Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah rombongan menuju ke tempat upacara dipimpin oleh momo kanate yang tertua. Setiba di tempat upacara, anak-anak laki-laki yang akan diupacarakan dimasukkan ke dalam walano. Sementara itu, kaum pria dari masing-masing anak yang akan diupacarakan mulai melakukan perburuan hewan upacara yang berupa kusu (kuskus). Masing-masing kelompok diharuskan menangkap seekor tanpa boleh melukainya. Jumlah yang dibutuhkan harus dipenuhi pada hari itu juga. Jika jumlah yang diperoleh belum sesuai dengan kebutuhan, maka upacara akan ditunda pada keesokan harinya. Akan tetapi, jika jumlah kusu yang dibutuhkan terpenuhi, maka momo kanate yang tertua, yang bertindak sebagai pemimpin upacara, memerintahkan anak-anak yang akan diupacarakan membentuk sebuah lingkaran. Masing-masing didampingi oleh momo kanate dan seorang saksi dari soa-nya. Mereka ditelanjangi, kemudian dicawati oleh momo kanate masing-masing. Penelanjangan dan pemakaian cawat ini disaksikan oleh para saksi dan pada peserta upacara. Setelah itu, pengelilitan ikat pinggang pun dilakukan. Selanjutnya, ikat pinggang tersebut diselipi dengan sehelai kain berang (kain berwarna merah darah).

Kegiatan dilanjutkan dengan pembunuhan kusu. Dalam kegiatan ini setiap anak yang mengikuti upacara rujena diberi seekor kusu yang harus dipedang ekornya. Setelah itu, peserta upacara, kecuali momo kanate dan saksi dari masing-masing anak, meninggalkan waluno (masuk ke dalam hutan). Tujuannya adalah agar anak-anak mempunyai keberanian untuk membunuh kusu. Sebab, jika di tempat itu masih ada saudara-saudara soa-nya, dikhawatirkan ia akan berani membunuh hanya karena merasa mendapat dukungan moral (semangat) dari kerabatnya. Dengan demikian, pembunuhan kusu hanya disaksikan oleh momo kanate dan para saksi upacara. Dalam hal ini, mereka tidak hanya bertindak sebagai saksi, tetapi juga sekaligus sebagai penilai tentang: keberanian, kemampuan, dan keterampilan dari setiap anak dalam membunuh kusu. Jika seorang anak dapat membunuhnya dalam waktu yang relatif cepat, maka anak tersebut dianggap telah menjadi dewasa dengan tingkat “kejantanan” yang tinggi. Sedangkan, anak-anak yang menyelesaikan tugasnya (membunuh kusu) dalam waktu yang relatif lama, bukan berarti bahwa anak-anak tersebut belum menjadi dewasa. Mereka tetap dianggap sebagai dewasa, namun dengan kadar (tingkat) “kejantanan” yang rendah.

Sementara itu, para peserta yang sengaja pergi ke hutan, beberapa jam kemudian, kembali ke tempat upacara (walano) untuk melihat keberhasilan anak-anak yang mengikuti upacara rujena dalam pembunuhan kusu. Lamanya pembunuhan kusu itu memang sudah diperkiraan membutuhkan waktu beberapa jam, sehingga ketika mereka datang, semua kusu sudah terbunuh. Oleh karena semua hewan upacara sudah terbunuh, maka meja makan pun dipersiapkan. Semua perbekalan di dalam tagalaya dibuka dan diletakkan di atas meja makan tersebut. Kemudian, pemimpin upacara mempersilahkan semua peserta upacara (termasuk di dalamnya anak-anak yang diupacarakan) untuk memulai acara makan bersama. Dan, acara makan bersama yang merupakan pesta adat ini berlangsung selama 6 hari, sehingga setiap selesai acara makan bersama, anak-anak yang diupacarakan tetap tinggal di walano. Sementara itu, para momo kanate bersama peserta upacara memasuki hutan untuk berburu guna mengisi tagalaya yang telah kosong dengan daging-daging segar.

Pada hari keenam seluruh peserta meninggalkan waluno dan kembali menuju desa. Sebelum pergi, anak-anak yang diupacarai harus mengenakan karonum sebagai tanda pengenal bahwa yang bersangkutan baru saja selesai mengikuti upacara masa dewasa tahap I dan II. Setibanya di desa, mereka disambut oleh semua pria dewasa dan diantar menuju ke suwane. Akan tetapi, sebelum menuju ke suwane, mereka harus berkumpul di suatu tempat yang letaknya agak jauh dari suwane. Tempat tersebut dinamakan sanahana yang ditandai dengan sebatang pohon linggua (pterocarpus indica). Sementara itu, di suwane telah hadir pinawasa yang akan memimpin upacara pengesahan bersama pembantu-pembantunya, yaitu maawaka dan kurupasa. Pada saat yang sama api yang berada di dapur suwane dinyalakan oleh kamama. Api tersebut tidak boleh padam karena bagi orang Nuaulu, ia merupakan lambang keabadian. Oleh karena itu kamama tidak diperkenankan meninggalkan dapur suwane sebelum upacara dinyatakan selesai oleh pinawasa.

Saat api di dapur suwane telah menyala dan tifa mulai dibunyikan, pinawasa mengambil hati ayam yang telah dipersiapkan sebelumnya dan memasukkannya ke dalam sebuah mangkuk. Hati ayam yang dimasukkan itu telah dipotong-potong. Jumlah potongannya biasanya kurang dari jumlah anak-anak laki-laki yang akan diupacarakan. Selanjutnya, pinawasa memberi isyarat kepada momo kanate agar anak-anak ke suwane. Setelah tiba pada tempat yang telah ditentukan mereka diminta untuk memperebutkan hati ayam yang ditempatkan di dalam mangkuk. Sesudah itu, mereka memperagakan tarian cakalele (tarian perang) sambil mengelilingi pohon gadihu yang terletak dekat pintu masuk suwane sejumlah 5 kali. Pada pengelilingan yang terakhir (ke-5) mereka dilantik oleh pinawasa menjadi mataken , yaitu sebagai warga masyarakat yang dapat berdiri sendiri dan dapat bertanggung jawab bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dengan berakhirnya pelantikan oleh pinawasa, maka berakhir sudah seluruh rentetan upacara rujena.

Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara rujena. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian dan gotong royong. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat di suatu tempat (pada saat acara pesta rujena di suwane), makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan secara cermat, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian. Tanpa ketelitian tidak mungkin upacara akan terselenggara dengan baik dan lancar.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling membantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, menghadiri pesta rujena, dan lain sebagainya. Tanpa semangat gotong-royong, upacara rujena tidak dapat terselenggara dengan baik. (Pepeng)

Sumber:
Spoiler


#12 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 31 October 2010 - 12:33 AM

Upacara Pinamou pada Orang Nuaulu
(Maluku)



Nuaulu adalah salah satu etnik yang terdapat di Provinsi Maluku, Indonesia. Di kalangan mereka ada sebuah upacara tradisional yang sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran individu), khususnya upacara masa peralihan bagi seorang perempuan dari masa anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan kedatang-bulanannya (menstruasi) yang pertama. Tradisi ini oleh mereka disebut sebagai “Pinamuo” yang dalam bahasa Indonesia berarti “gadis bisu”. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa upacara itu hanya ditujukan kepada perempuan yang menyandang tunarungu, melainkan suatu penyebutan terhadap perbuatan yang dilakukan oleh perempuan yang diupacarai. Dalam hal ini, ketika prosesi berlangsung, perempuan yang sedang menjalani upacara tidak diperbolehkan mengeluarkan sepatah kata pun. Keadaan itu menyerupai gadis yang bisu. Oleh karena itu, upacara ini disebut sebagai pinamou. Upacara yang sama, tetapi untuk laki-laki (lihat Upacara Rujena).

Seorang perempuan yang telah melalui upacara ini berarti sudah dianggap sebagai orang dewasa (bukan kanak-kanak lagi) dan karenanya yang bersangkutan diperbolehkan untuk membentuk sebuah keluarga. Dengan upacara ini juga, yang bersangkutan pada gilirannya mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Sebagaimana upacara pada umunya, upacara pinamou ini juga dilakukan secara bertahap. Lamanya bergantung pada penyelesaian setiap tahapnya. Jadi, bisa satu minggu atau lebih. Bahkan, lebih dari satu bulan.

Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) memasukkan si gadis ke dalam posuno/tikosuno
(2) meratakan gigi (papar gigi)
(3) pelumuran wajah dan badan dengan becek (balabor peci)
(4) membersihkan diri (karisa pinamou)
(5) pemberian pakaian dan suguhan sirih- pinang (apapua)
(6) pesta pinamou
(7) pemandian terakhir. Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan dari pagi sampai sore hari (sebelum terbenamnya matahari), kecuali acara pesta pinamou yang biasanya diselenggarakan pada malam hari.

Sebagian besar tahapan upacara tidak boleh dilaksanakan pada malam hari karena dipercaya roh-roh jahat akan bergentayangan dan berakibat buruk bagi diri si gadis (pinamou) dan para laki-laki yang ada di dalam negeri (desa).

Tempat pelaksanaan upacara pinamou tergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh si gadis. Untuk prosesi papar gigi dan pelumuran dengan becek diadakan di dalam posune/tikosune. Upacara kirasa pinamou diadakan di hutan dekat dengan hulu sungai (di daerah Nuaulu ada sebuah sungai yang bernama Sungai You). Apapua dan pesta pinamou diadakan di rumah soa dari kerabat ibu si gadis. Sedangkan, pemandian terakhir diadakan di Sungai You (bukan di hulu sungai, melainkan di suatu tempat yang jaraknya tidak jauh dari tempat kediaman si gadis).

Pemimpin upacara bergantung dari tahapan-tahapan yang ada dalam upacara pinamou, diantaranya adalah:

(1) saudara perempuan ibu (kakak perempuan ibu) yang akan memimpin prosesi memasukkan anak perempuan ke dalam posuno/tikosuno
(2) seorang dukun desa perempuan yang akan memimpin prosesi papar gigi
(3) isteri kepala soa pihak ibu yang akan memimpin prosesi karisa pinamou atau pemberian pakaian serta perhiasan pada si gadis
(4) isteri dari penjaga rumah soa kelompok kerabat dari pihak ibu (jou onate) yang akan memimpin prosesi apapua atau penyuguhan sirih-pinang dan penyuapan beberapa jenis makanan.

Selain keluarga dan para pemimpin upacara, pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pinamou adalah anggota kelompok kerabat dari pihak ayah dan ibu si gadis dan warga masyarakat beserta tokoh-tokoh adatnya. Keterlibatan para anggota kelompok kerabat adalah sebagai pelaksana kegiatan upacara dan penyedia bahan-bahan makanan untuk pesta pinamou. Sedangkan, warga masyarakat dan juga tokoh-tokoh adat terlibat dalam acara pesta pinamou. Pesta adat yang diadakan dalam upacara pinamou merupakan pernyataan bahwa di dalam masyarakat telah bertambah seorang perempuan dewasa yang telah siap untuk berumah tangga.

Peralatan
Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara pinamou ini adalah:
(1) posuno/tikosune, yaitu sebuah bangunan khusus yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengasingan sementara bagi perempuan yang sedang haid, tetapi juga sebagai tempat pelaksanaan upacara
(2) arang untuk melabur wajah dan tubuh sebelum memasuki posuno
(3) sebuah batu kali (koral) yang digunakan untuk menggosok gigi Si gadis agar menjadi rata dalam prosesi papar gigi
(4) becek untuk melumuri wajah dan tubuh sebelum dibawa ke Sungai You
(5) 10 ruas bambu yang diisi air yang akan digunakan untuk memandikan Si gadis pada acara membersihkan diri (karisa pinamou)
(6) kunyit dan minyak kelapa untuk mengoleskan tubuh Si gadis setelah dimandikan
(7) daun sirih
(8) kain sebagai pakaian Si gadis
(9) manik-manik yang digunakan sebagai perhiasan. Sedangkan, peralatan yang perlu disiapkan dalam pesta pinamou adalah beberapa jenis makanan yang dibuat dari sagu (tutupola, alu-alu, sagu tumbu, dan papeda), daging babi dan kusu (kus-kus), buah pisang, air putih dan teh.

Jalannya Upacara
Ketika seorang perempuan mengetahui bahwa ia telah mendapat haid untuk pertama kalinya (nibae hitae), maka ia segera memberitahukan hal itu kepada salah seorang keluarganya yang perempuan (perempuan dewasa) atau langsung kepada ibunya. Setelah itu, ia akan melarikan diri dan bersembunyi di semak-semak yang ada di sekitar rumahnya. Perempuan yang tadi telah diberitahu oleh Si gadis, kemudian akan mengumpulkan seluruh perempuan anggota kerabat dari pihak ibu Si gadis untuk secara bersama-sama membersihkan posuno yang pada gilirannya dijadikan sebagai tempat pengasingan sementara bagi Si gadis. Posuno sebenarnya bukan hanya tempat untuk perempuan yang baru pertama kali haid, melainkan juga untuk seluruh perempuan Nuaulu yang sedang haid. Letak posuno biasanya berada di dalam hutan yang agak jauh dari desa. Daerah di sekitar posuno tersebut adalah daerah terlarang bagi kaum pria karena dianggap mengandung banyak kekuatan gaib yang bersifat destruktif. Kekuatan gaib yang destruktif itu disebabkan oleh darah yang dikeluarkan oleh perempuan selama masa haidnya. Itulah sebabnya mengapa isteri seorang pria Nuaulu ketika mendapat haid atau telah dekat waktunya untuk melahirkan harus diasingkan dari rumah tempat kediamannya ke posuno.

Setelah posuno siap digunakan, rombongan kerabat yang dipimpin oleh kakak perempuan ibu akan menuju ke semak-semak tempat persembunyian. Sebelum dibawa berjalan meninggalkan semak-semak menuju ke posuno, pemimpin rombongan melaburi seluruh wajah dan badan gadis tersebut dengan arang. Tujuan dari pelaburan tersebut adalah agar Si gadis terhindar dari pengaruh roh-roh jahat yang dapat merasuki dirinya. Dalam perjalanan ke posuno, Si gadis sedapat mungkin tidak berpapasan dengan seorang pria karena dapat berakibat buruk bagi pria tersebut.

Begitu sampai di depan pintu posuno, kakak perempuan ibu membuat semacam api unggun kecil (hamasa). Tujuannya adalah sebagai tanda permulaan masa kedewasaan Sang gadis. Api mempunyai arti dan peranan penting dalam kehidupan perempuan Nuaulu, khususnya bagi kaum perempuan yaitu untuk mengolah semua hasil yang diperoleh suami menjadi makanan. Setelah hamasa padam, Si gadis kemudian dibimbing dan diantarkan masuk ke dalam posuno. Selama berada dalam posuno Si gadis harus mematuhi beberapa aturan yang tidak boleh dilanggar, yaitu:
(1) harus memakan makanan yang diolah dengan cara dibakar
(2) harus meminum air yang telah direbus dalam periuk yang terbuat dari tanah liat (seluruh makanan dan minuman tersebut dipersiapkan oleh ibu dan saudara-saudara perempuan ibu)
(3) tidak diperkenankan berada di luar, kecuali bila hendak diupacarakan
(4) sebelum semua persiapan di posuno tersedia, Si gadis tidak diperkenankan meninggalkannya, walaupun masa haidnya telah lama berakhir.

Dalam mengisi waktu-waktu luangnya di posuno, biasanya si gadis akan membuat bakul-bakul dari anyaman nyiru yang nantinya akan digunakan sebagai tempat meletakkan makanan pada acara pesta pinamou. Bakul-bakul tersebut juga digunakan untuk membuktikan bahwa Si gadis telah mencapai tingkat kedewasaan secara fisik dan mental, dan dapat membentuk sebuah rumah tangga.

Setelah Si gadis berada dalam posuno, barulah seluruh anggota kelompok kerabat dari ayah dan kerabat laki-laki pihak ibu si gadis diberitahukan. Pemberitahuan kepada seluruh kerabat perlu dilakukan karena mereka inilah yang akan mempersiapkan bahan-bahan makanan yang diperlukan dalam pesta pinamou. Kaum pria dari kerabat ayah dan ibu akan pergi ke hutan untuk berburu babi hutan dan kusu (kuskus). Sedangkan, kaum perempuan yang berasal dari kerabat ayah akan mengumpulkan sagu dan memetik buah pisang. Bahan-bahan makanan tersebut pada saatnya akan diolah menjadi jenis-jenis makanan tertentu. Yang lazim disajikan adalah tutupola, alu-alu, papeda (diolah dari tepung sagu), pisang masak serta daging babi dan kusu (hasil perburuan). Untuk mengumpulkan dan mengolah bahan-bahan tersebut memerlukan waktu yang lama, sehingga mempengaruhi lamanya proses upacara pinamou bagi seorang gadis.

Selain anggota kerabat, pemberitahuan mengenai akan diadakannya upacara pinamou juga dilakukan kepada para dukun desa dan tokoh-tokoh adat setempat. Pemberitahuan kepada para dukun, terutama dukun perempuan, dilakukan oleh ibu pinomau (Si gadis) agar para dukun tersebut bersedia menetapkan waktu yang dianggap baik bagi pelaksanaan upacara dan menjadi pemimpin pada beberapa tahapan upacara. Sedangkan para tokoh adat diberitahukan agar mereka menghadiri acara pesta pinamou dan sebagian juga menjadi pemimpin pada beberapa tahapan upacara pinamou.

Upacara diawali dengan pelaksanaan papar gigi atau meratakan gigi, yang dipimpin oleh seorang dukun perempun dan disaksikan oleh kerabat perempuan dari pihak ibu dan ayah di dalam posuno. Dalam hal ini permukaan gigi Si gadis digosok dengan batu kali (koral), sampai seluruhnya dianggap rata. Kemudian, Si gadis diharuskan untuk menggigit sepotong uha di antara gigi gerahamnya agar gigi-gigi yang terasa nyeri akibat digosok tidak sampai mengigit lidah. Selesai papar gigi, rombongan meninggalkan posuno dan kembali ke desa. Arti simbolik dari papar gigi adalah kedewasaan karena, menurut orang Nuaulu, seorang perempuan baru dianggap dewasa jika giginya sudah diratakan (papar gigi).

Keesokan harinya rombongan yang masih dipimpin oleh seorang dukun perempuan tersebut akan kembali lagi ke posuno. Setelah berada di posuno, Si gadis (pinamou) akan dilabur seluruh wajah dan badannya dengan becek. Tujuannya sama dengan pelumuran arang, yaitu melindungi Si gadis dari pengaruh roh-roh jahat karena perempuan yang dalam masa peralihan (dari anak-anak ke dewasa) dianggap kondisinya lemah (baik fisik maupun non-fisik) dan karenanya mudah dipengaruhi oleh roh-roh jahat.

Karisa pinamou dilakukan di hulu Sungai You yang letaknya di tengah hutan dan jaraknya agak jauh dari perkampungan orang Nuaulu. Lokasi tersebut dipilih karena mempunyai sebuah batu besar yang khusus diperuntukkan bagi prosesi upacara kirasa pinamou, yaitu hatu pinamou (batu Si gadis bisu). Daerah di sekitar hulu sungai ini adalah daerah yang tidak boleh didekati oleh kaum laki-laki, karena mengandung kekuatan gaib yang dapat dapat mencelakainya. Si gadis didudukkan di atasnya (batu besar) kemudian dimandikan oleh seluruh rombongan dengan menggunakan 10 ruas bambu yang berisikan air Sungai You. Tujuan karisa pinamou adalah untuk membersihkan diri Si gadis karena ia dianggap “kotor” selama masa haidnya, sehingga mudah dipengaruhi oleh roh-roh jahat.

Kegiatan dilanjutkan dengan acara menggosok seluruh tubuh Si gadis dengan minyak kelapa dan kunyit yang telah dihaluskan. Setelah itu, Si gadis digosok wajahnya dengan sisa-sisa kunyit dan kelapa oleh dukun dan anggota kelompok kerabatanya. Selanjutnya, adalah pemakaian pakaian yang dipimpin oleh isteri kepala soa dari soa Si gadis. Pakaian yang dikenakan adalah semacam pakaian adat yang dinamakan kaeng timor yang berasal dari daerah Timor atau kain dari daerah Kisar, Maluku Tenggara. Dahulu pakaian yang dikenakannya hanya sebuah “kain” yang dibuat dari anyaman daun-daun midan yang diberi motif orang-orangan dengan warna hitam, merah dan kuning. Adapun perhiasan yang dikenakan adalah seraie (konde) yang dibuat dari rangkaian manik-manik (warna-warni) dan rangkaian kulit bias kecil (jenis kulit siput tertentu). Manik-manik tersebut dirangkai dan disusun sedemikian rupa pada sebatang lidi yang dibuat dari bambu, sehingga menyerupai sebatang pohon yang berdaun lebat. Pada lehernya dikenakan pula manik-manik yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh dadanya. Sedangkan, tangan dan kakinya diberi gelang manik-manik yang jika digerakkan akan mengeluarkan suara. Setelah acara pemberian pakaian dan perhiasan selesai, Si gadis diantarkan menuju ke rumah soa oleh peserta upacara sambil berkapata (bernyanyi sambil berpantun), yang liriknya sebagai berikut:


Pinamou ita tani
Nusa yamana ninia sou
Heilete nunu sala heilalo
Hia-hia, hoe-hoe salu-salu yaniholo lete yai sioo


Terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut:
Gadis bisu menangis
Desa berbicara banyak
Musuh jatuh, salah dan tidak mati
Anak-anak, mari-mari sampai di sini kita berhenti.



Setelah rombongan tiba di rumah soa (numaonate), Si gadis diterima oleh isteri jou onate (isteri penjaga rumah soa). Isteri jou onate tersebut kemudian menyuguhkan sirih pinang (apapua) untuk diambil dan dikunyah oleh Si gadis. Selesai acara makan sirih (apapua), sang gadis kemudian disuapi oleh isteri jou onate dengan jenis-jenis makanan yang telah dipersiapkan di dalam nyiru. Semua jenis makanan yang disuapi itu harus dimakan sedikit-sedikit saja. Makna dari acara makan sirih dan penyuapan beberapa jenis makanan oleh isteri jou onate adalah bahwa Si gadis telah diakui oleh masyarakat sebagai orang dewasa, karena kegiatan makan sirih di Nuaulu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa. Setelah acara suapan ini selesai, semua peserta upacara diundang untuk ambil bagian dalam acara makan bersama.

Pada malam harinya semua peserta upacara kembali lagi ke rumah soa (numaonate) untuk mengambil bagian dalam pesta pinamou. Dalam pesta tersebut, selain sajian berupa makanan tradisional dan minuman, juga diramaikan dengan tarian mako-mako yang dimainkan oleh para peserta upacara sendiri. Pesta pinamou baru berakhir menjelang terbitnya matahari. Pesta pinamou pada dasarnya merupakan pernyataan bahwa di dalam masarakat telah bertambah seorang wanita dewasa yang telah siap untuk berumah tangga. Dalam hal ini, orang tua dari Si gadis secara tidak langsung telah mempersiapkan diri untuk menghadapai kenyataan bahwa setelah anak gadisnya melalui upacara pinamou, akan segera datang pinangan yang dilakukan oleh seorang matakan (pemuda). Dikatakan demikian, sebab tidak lama setelah upacara pinamu usai biasanya akan ada lamaran yang ditujukan kepada orang tua Si gadis.

Pada pagi harinya Si gadis (pinamou) akan diantarkan ke kembali jalur lintasan Sungai You yang berada di sekitar tempat tinggalnya (bukan ke hulu Sungai You lagi) untuk mengadakan acara pemandian terakhir. Lokasi yang dipilih untuk melaksanakan prosesi tersebut adalah di tepi sungai yang di sekitarnya terdapat batu-batu besar dan ditumbuhi oleh pohon-pohon yang berukuran besar. Setelah menemukan lokasi yang cocok, Si gadis kemudian didudukkan di atas sebuah batu di tepi sungai untuk dimandikan oleh isteri kepala soa. Upacara pemandian terakhir yang dipimpin oleh isteri kepala soa ini disaksikan oleh kelompok kerabat perempuan dari pihak ayah dan ibu pinamou. Mereka berdoa kepada Upu kuanahatana dan roh-roh para leluhur agar gadis yang diupacarai selamat. Pemandian terakhir dalam rentetan upacara pinamou bagi seorang gadis merupakan acara pengesahan si gadis sebagai perempuan yang telah dewasa dan telah dapat bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan diakui haknya untuk menikah. Dengan berakhirnya upacara pemandian terakhir ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara pinamou.

Pada masa haid berikutnya tidak diadakan lagi upacara pinamou. Dalam hal ini, Si gadis hanya diharuskan mengasingkan diri ke posuno selama berlangsungnya masa haid. Sesudah masa haidnya berakhir, Si gadis baru diperbolehkan meninggalkan posuno, dan kembali ke tengah-tengah masyarakat ramai tanpa harus diadakan upacara lagi.

Nilai Budaya

Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara pinamou. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat (pada saat acara pesta pinamou), makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, menghadiri pesta pinamou, dan lain sebagainya.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Pinamou merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dilakukan oleh kelompok kerabat perempuan Si gadis, pada acara pemandian terakhir yang merupakan bagian akhir dari serentetan tahapan dalam upacara pinamou. Tujuannya adalah agar si gadis mendapatkan perlindungan dari upu kuanahatana dan roh-roh para leluhur, sebelum disahkan menjadi seorang perempuan dewasa. (Pepeng)

Sumber:
Spoiler


#13 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 31 October 2010 - 12:37 AM

Upacara Kelahiran pada Masyarakat Banjar
(Kalimantan Selatan)



Sebagaimana provinsi lainnya di Indonesia, provinsi Kalimantan Selatan didiami oleh berbagai sukubangsa (Melalatoa, 1995). Salah satu diantaranya adalah sukubangsa Banjar. Mereka mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (Koentjaraningrat, 1985, Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga masa-masa tersebut dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara kelahiran pada masyarakat Banjar.

2. Peralatan dan Fungsi
Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upacara kelahiran pada masyarakat Banjar adalah: upiah pinang (pelepah pinang), kapit (wadah tembikar yang bentuknya menyerupai pot bunga kecil), sembilu, sarung, kain batik, tepung-tawar, madu, kurma, garam, kukulih (bubur yang terbuat dari beras ketan), seliter beras, sebiji gula merah, sebiji buah kelapa, dan rempah-rempah untuk memasak ikan.

Upiah pinang digunakan untuk membungkus tembuni (tali pusat). Kapit digunakan sebagai tempat menyimpan tembuni. Sembilu digunakan untuk memotong tali pusat. Sedangkan, sarung atau kain batik digunakan untuk membersihkan tubuh bayi ketika tali pusatnya telah dipotong. Tepung-tawar digunakan untuk menaburi tubuh bayi agar terlepas dari gangguan roh-roh jahat. Madu, kurma atau garam lebah digunakan untuk mengoles bibir bayi. Dan, seliter beras, sebiji gula merah, sebiji buah kelapa, rempah-rempah untuk memasak ikan diberikan kepada dukun bayi sebagai ungkapan rasa terima kasih.

3. Jalannya Upacara
a. Persiapan Kelahiran
Ketika umur kehamilan seorang ibu telah mencapai 9 bulan1, maka pihak keluarga harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyambut kedatangan "warga baru" (sang jabang bayi), antara lain selembar upih pinang (pelepah pinang) dan sebuah kapit (wadah yang terbuat dari tembikar yang bentuknya menyerupai pot bunga kecil). Wadah ini pada saatnya akan digunakan sebagai tempat untuk menyimpan tembuni (potongan tali pusat). Selain itu, pihak keluarga juga mengadakan selamatan dengan membuat kukulih (bubur yang terbuat dari beras ketan). Bubur tersebut diberi doa, kemudian diputarkan (dikelilingkan) di atas kepala ibu yang sedang hamil. Setelah itu bubur baru boleh dimakan oleh seluruh keluarga. Tujuannya adalah agar proses kelahiran dapat berjalan lancar.

b. Kelahiran
Proses kelahiran itu sendiri dibantu oleh dukun beranak. Setelah bayi lahir, tali pusatnya dipotong dengan sembilu (bilah bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga tajam). Potongan tali pusat itu kemudian ditaruh (dimasukkan) ke dalam kapit dan diberi sedikit garam. Kemudian, ditutup dengan daun pisang yang telah diasap (dilembutkan). Selanjutnya diikat dengan bamban, lalu ditanam di bawah pohon besar atau di bawah bunga-bungaan atau dihanyutkan di sungai yang deras airnya. Ini ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Banjar yang menganggap bahwa jika tali pusat ditanam di bawah pohon yang besar, kelak bayi yang bersangkutan (diharapkan) akan menjadi "orang besar". Kemudian, jika di bawah bunga-bungaan maka kelak namanya akan menjadi harum. Dan, jika dihanyutkan ke sungai, maka akan menjadi pelaut. Selain itu, ada pula yang mengikatkan tembuni pada sebatang pohon. Maksudnya adalah agar kelak (setelah dewasa) tidak merantau (keluar kampung). Jadi, penanaman tembuni bergantung pada apa yang diinginkan oleh orang tua terhadap bayinya dikemudian hari. Sebagai catatan, tidak seluruh tali pusat yang diputus akan ditanam, dihanyutkan atau diikat pada sebatang pohon besar, melainkan (sisanya) ada yang disimpan baik-baik untuk dihimpun menjadi satu bersama tali pusat saudara-saudaranya yang lain. Maksudnya adalah agar kelak (setelah dewasa) tidak saling bertengkar. Dengan perkataan lain, agar sebagai saudara selalu hidup rukun dan damai.

Setelah pemotongan pusat, maka bayi dibersihkan dengan beberapa lapis sarung atau kain batik, lalu diletakkan di atas talam yang didasari oleh sarung atau kain batik pula. Selanjutnya, bayi tersebut, oleh ayahnya, diadzankan dan diqomatkan. Maksudnya agar suara yang pertama kali didengar adalah kalimat Allah. Dengan demikian, kelak bayi tersebut akan menjadi orang yang taqwa (menjalani ajaran-ajaran agama Islam dan menjauhi larangan-laranganNya). Setelah itu, bibir bayi diolesi dengan gula atau kurma dan garam. Maksudnya adalah agar kelak Sang jabang bayi dapat bermulut manis dan bertutur kata manis (semua kata-katanya diperhatikan dan diikuti orang).

c. Sesudah Kelahiran
Setelah bayi diadzankan, diqomatkan, dan bibirnya diolesi gula atau kurma, ada satu upacara lagi yang disebut bapalas-bidan. Sesuai dengan namanya, maka yang berperan dan sekaligus memimpin upacara ini adalah dukun beranak atau bidan. Dalam hal ini dukun beranak mengucapkan berbagai mantera dan menepung-tawari sang bayi. Maksudnya adalah agar Sang jabang bayi selalu didampingi oleh saudaranya yang empat1 dan terhindar dari gangguan-gangguan roh halus. Selain itu, juga agar ibunya selamat dan sejahtera. Upacara diakhiri dengan makan bersama. Sedangkan, sebagai ungkapan terima kasih keluarga kepada sang dukun beranak, ia diberi sasarah berupa: seliter beras, sebiji gula merah, sebiji kelapa, dan rempah-rempah untuk memasak ikan.

Setelah bayi berumur satu minggu atau lebih, ada upacara yang disebut tasmiah (pemberian nama), dengan susunan acara sebagai berikut: pembacaan Ayat-ayat Suci Al Quran (Surat Ali Imran), pemberian nama oleh mualim atau penghulu, dan barjanji. Sebagai catatan, dalam barjanji itu, ketika dibaca kalimat asyrakal semua hadirin berdiri, kemudian bayi dikelilingkan. Mereka, termasuk mualim atau penghulu, diminta untuk menepung-tawari si bayi dengan baburih-likat. Dengan berakhirnya upacara tasmiah ini, maka berakhirlah rangkaian upacara kelahiran pada masyarakat Banjar.

4. Nilai Budaya
Upacara kelahiran adalah salah satu upacara di lingkaran hidup individu. Upacara kelahiran yang dilakukan oleh masyarakat Banjar yang berada di Kalimantan Selatan, Indonesia ini, jika dicermati secara saksama, maka di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bersama. Nilai-nilai itu antara lain: ketaqwaan, kesopan-santunan dan kewibawaan, dan kerukunan.

Nilai ketaqwaan tercermin dalam perbuatan ayah sang jabang bayi ketika bayi telah dipotong tali pusatnya, kemudian dimandikan (dibersihkan), lalu diletakkan di atas talam. Pada tahap ini sang ayah mengucapkan azdan dan qomat. Pengucapan tersebut dimaksudkan agar suara yang pertama kali didengar oleh bayi adalah kalimat Allah, sehingga diharapkan kelak akan menjadi seorang muslim yang taat terhadap agama-nya (menjalani ajaran-ajaran agama Islam dan menjauhi larangan-laranganNya).

Nilai kesopan-santunan dan kewibawaan tercermin pada pemolesan gula atau kurma dan garam pada bibir bayi, dengan maksud agar kelak sang jabang bayi dapat bermulut manis dan bertutur kata manis (semua kata-katanya diperhatikan dan diikuti orang).

Nilai kerukunan tercermin pada penyimpanan tali pusat Sang jabang bayi. Dalam hal ini tali pusat disimpan baik-baik untuk dihimpun menjadi satu dengan tali pusat saudara-saudaranya. Maksudnya adalah agar kelak (setelah dewasa) tidak bertengkar, selalu hidup rukun dan damai. (ali gufron)

Sumber:
Spoiler


#14 Pandito

    M.33 ۩ Manunggaling Kawulo Gusti

  • Banned[BANNED]
  • 16,072 posts
Click to view battle stats

Posted 05 November 2010 - 12:03 PM

Upacara masa kehamilan pada Suku Bangsa Nuaulu (Maluku)


1. Pengantar
Nuaulu adalah salah satu sukubangsa yang ada di Provinsi Maluku, Indonesia. Mereka mendiami salah satu pulau yang tergabung dalam provinsi tersebut, yaitu Pulau Seram yang termasuk dalam wilayah Maluku Tengah. Di kalangan mereka ada suatu tradisi yang termasuk dalam upacara lingkaran hidup individu, yaitu upacara yang berkenaan dengan masa kandungan seseorang apabila telah mencapai usia sembilan bulan.

Kehamilan bagi masyarakat Nuaulu dianggap sebagai suatu peristiwa biasa, khususnya masa kehamilan seorang perempuan pada bulan pertama hingga bulan kedelapan. Namun pada saat usia kandungan seorang perempuan telah mencapai sembilan bulan, barulah mereka akan mengadakan suatu upacara. Upacara baru diadakan pada usia kandungan telah mencapai sembilan bulan karena masyarakat Nuaulu mempunyai anggapan bahwa pada saat usia kandungan seorang perempuan telah mencapai 9 bulan, maka pada diri perempuan yang bersangkutan banyak diliputi oleh pengaruh roh-roh jahat yang dapat menimbulkan berbagai bahaya gaib. Bukan saja bagi dirinya sendiri dan anak yang dikandungnya, tetapi juga orang lain di sekitarnya, khususnya kaum laki-laki. Dan, untuk menghindari pengaruh roh-roh jahat tersebut, si perempuan hamil perlu diasingkan dengan menempatkannya di posuno.

Selain itu mereka juga beranggapan bahwa pada hakekatnya kehidupan seorang anak manusia itu baru tercipta atau baru dimulai sejak dalam kandungan yang telah berusia 9 bulan. jadi dalam hal ini (masa kehamilan 1-8 bulan) oleh mereka bukan dianggap merupakan suatu proses dimulainya bentuk kehidupan.

2. Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Penyelenggaraan upacara kehamilan diadakan ketika usia kandungan seorang perempuan telah mencapai sembilan bulan. Patokan yang dipakai untuk mengetahui usia kandungan seorang perempuan adalah dengan meraba bagian perut perempuan tersebut yang dilakukan oleh dukun beranak (irihitipue). Apabila irihitipue menyatakan bahwa usia kandungan perempuan tersebut telah mencapai 9 bulan, maka ia akan mengisyaratkan kepada seluruh perempuan dewasa anggota kerabat perempuan tersebut untuk segera mempersiapkan perlengkapan, peralatan dan bermusyawarah untuk menentukan waktu penyelenggaraan upacara (dapat pagi, siang atau sore hari). Musyawarah penentuan hari oleh perempuan dewasa anggota kerabat perempuan yang sedang mengandung itu dinamakan mawe. Jadi, penentuan kapan akan dilaksanakan upacara kehamilan tergantung dari hasil mawe tersebut. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan tidak boleh dilaksanakan pada malam, karena malam hari dianggap saat-saat bergentayangan berbagai jenis roh jahat yang dapat menyusup ke tubuh ibu maupun sang jabang bayinya, sehingga bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (buruk) pada anak yang bersangkutan. Sedangkan tempat pelaksanaan upacara kehamilan sembilan bulan dilakukan di rumah perempuan yang sedang mengandung dan di posuno.

Penyelenggaran upacara kehamilan sembilan bulan melibatkan di dalamnya pemimpin upacara dan peserta upacara. Pemimpin upacara adalah irihitipue (dukun beranak). Irihitipue adalah suatu gelar khusus bagi seorang perempuan yang bertugas membantu dalam proses melahirkan. Dengan kata lain, irihitipue dapat disebut sebagai bidan tradisional atau dukun bayi. Selain sebagai dukun, irihitipue juga dianggap sebagai orang yang berpengetahuan tentang hal-hal gaib yang berkisar di sekitar dunia roh. Oleh karena itu, dia biberi hak dan tanggung sebagai penyelenggara teknis upacara bagi perempuan, baik upacara haid pertama, kehamilan, maupun upacara setelah melahirkan.

Sedangkan peserta upacara adalah para perempuan dewasa dari soa (kelompok kerabat) perempuan yang hamil dan suaminya. Mereka akan mengikuti prosesi upacara, baik di rumah maupun di posuno. Selain itu mereka jugalah yang menyediakan segala perlengkapan, menentukan waktu akan dilangsungkannya upacara dan sebagai saksi pelaksanaan upacara.

3. Peralatan

Peralatan yang perlu dipersiapkan dalam upacara kehamilan pada suku bangsa Nuaulu hanyalah sebuah posuno. Posuno adalah bangunan yang dibuat khusus untuk pelaksanaan upacara yang didirikan di tengah-tengah hutan. Tujuan dari pendirian bangunan tersebut adalah untuk pengasingan bagi kaum perempuan apabila akan melahirkan dan bagi perempuan yang sedang haid. Kaum laki-laki tidak boleh mendekati bangunan ini. Hal itu disebabkan adanya kepercayaan bahwa jika ada laki-laki yang mendekatinya, maka laki-laki tersebut akan dihinggapi oleh kekuatan gaib yang bersifat destruktif.

4. Jalannya Upacara
Ketika seorang perempuan yang masa kehamilannya telah mencapai 9 bulan, maka ia akan diantar oleh irihitipue (dukun beranak) dan kaum perempuan yang ada di dalam rumah atau tetangga yang telah dewasa menuju ke posuno. Pada waktu perempuan tersebut berada di depan pintu posuno, irihitipue membancakan mantra-mantra yang berfungsi sebagai penolak bala. Mantra tersebut dibaca oleh irihitipue dalam hati (tanpa bersuara) dengan tujuan agar tidak dapat diketahui oleh orang lain, karena bersifat sangat rahasia. Hanya irihitipue dan anggota keluarga intinya saja yang mengetahui mantra tersebut.

Selesai membaca mantra, perempuan hamil tersebut diantar masuk ke dalam posuno. Rombongan kemudian pulang meninggalkan wanita tersebut. Dia setiap saat dikunjungi oleh irihitipue untuk memeriksa keadaan dirinya. Semua keperluan wanita hamil ini dilayani oleh wanita-wanita kerabatnya. Sebagai catatan, dia akan tetap berdiam disitu tidak hanya sampai selesainya upacara kehamilan 9 bulan, tetapi sampai tiba saat melahirkan hingga 40 hari setelah melahirkan.

Setelah si perempuan hamil berada di posuno, maka pihak keluarga akan memberitahukan kepada seluruh perempuan dewasa dari kelompok kerabat (soa) perempuan hamil tersebut dan dari kelompok kerabat suaminya untuk berkumpul di rumah perempuan tersebut dan selanjutnya pergi menuju ke posuno untuk mengikuti upacara masa hamil sembilan bulan. Sebelum mereka menuju ke posuno, para perempuan dewasa tersebut akan berkumpul berkeliling di dalam rumah untuk memanjatkan doa kepada Upu Kuanahatana agar si perempuan yang sedang hamil selalu dilindungi dan terbebas dari pengaruh roh-roh jahat.

Usai memanjatkan doa di dalam rumah, mereka menuju ke posuno bersama-sama dan dipimpin oleh irihitipue. Setelah sampai di posuno, mereka kemudian duduk mengelilingi si perempuan hamil tersebut, sedangkan irihitipue mendekati si perempuan dan duduk di sampingnya. Perempuan hamil tersebut kemudian dibaringkan oleh irihitipue lalu diusap-usap perutnya sambil irihitipue mengucapkan mantra-mantra yang tujuannya adalah untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari Upu Kuanahatana. Pada saat irihitipue mengusap-usap perut perempuan hamil tersebut, para kerabatnya yang duduk mengelilingi pun juga memanjatkan doa-doda kepada upu kuanahatana.

Dengan selesainya pembacaan mantra, maka selesailah pula pelaksanaan upacara masa kehamilan sembilan bulan. Para kerabat dan irihitipue kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sementara si perempuan hamil tetap tinggal di posuno hingga melahirkan dan 40 hari setelah masa melahirkan. Untuk keperluan makan dan minum selama berhari-hari di posuno, pihak kerabatnya sendiri (soanya) akan selalu mengantarkan makanan dan minuman kepadanya.

5. Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara masa kehamilan sembilan bulan. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, gotong-royong, keselamatan, dan religius.

Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota keluarga dan masyarakat dalam suatu tempat (pada saat acara pesta suu anaku) untuk makan bersama. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman bagi perempuan yang hamil dan menjadi pemimpin upacara.

Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa pada masa usia kehamilan yang telah mencapai sembilan bulan adalah masa yang dianggap kritis bagi seorang perempuan, karena pada masa inilah ia dan bayi yang dikandungkan rentan terhadap bahaya-bahaya gaib yang berasal dari roh-roh jahat yang dapat berakibat buruk pada keselamatan dirinya sendiri maupun bayinya. Untuk mengatasi gangguan-gangguan roh-roh halus tersebut, maka perlu diadakan suatu upacara untuk mencari keselamatan keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dilakukan oleh kelompok kerabat perempuan, baik sebelum berangkat ke posuno maupun pada saat berlangsungnya upacara. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Upu Kuanahatana dan roh-roh para leluhur. (ali gufron)

Sumber:
Spoiler


#15 bluesuan

    BlueFame Flooder

  • Members
  • PipPipPipPipPipPip
  • 1,820 posts
Click to view battle stats

Posted 28 November 2010 - 02:25 PM

keren Bro.. menambah wawasan cinta tanah air... betapa kayan adat istiada di Indonesia

#16 andinimagdalena

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 29 posts
Click to view battle stats

Posted 06 January 2011 - 07:28 PM

wah panjang bner,
emang hebat negeri ini,punya banyak upacara adat,tapi disatukan di 17 agustus.





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy