Jump to content



 

 

Syekh Siti Jenar (abad XV)


180 replies to this topic

#55 meyda

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 27 posts
Click to view battle stats

Posted 24 January 2008 - 12:06 PM

DARI ZUHUD KE TASAWUF

A. PENDAHULUAN

Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu –ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi.

Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah.

Tulisan ini akan berusaha memberikan paparan tentang zuhud dilihat dari sisi sejarah mulai dari pertumbuhannya sampai dengan peralihannya ke tasawuf.

B. ZUHUD
Zuhud menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului tasawuf. Menurut Harun Nasution, station yang terpenting bagi seorang calon sufi ialah zuhd yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid, tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi [1].

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah [2].

Berbicara tentang arti zuhud secara terminologis menurut Prof. Dr. Amin Syukur, tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes [3]. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu station (maqam) menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya. Dalam posisi ini menurut A. Mukti Ali, zuhud berarti menghindar dari berkehendak terhadap hal – hal yang bersifat duniawi atau ma siwa Allah. Berkaitan dengan ini al-Hakim Hasan menjelaskan bahwa zuhud adalah “berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangannya dengan semedi (khalwat), berkelana, puasa, mengurangi makan dan memperbanyak dzikir” [4]. Zuhud disini berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan itu meskipun halal, dengan jalan berpuasa yang kadang – kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama. Semuanya itu dimaksudkan demi meraih keuntungan akhirat dan tercapainya tujuan tasawuf, yakni ridla, bertemu dan ma’rifat Allah swt.

Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam, dan gerakan protes yaitu sikap hidup yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dalam menatap dunia fana ini. Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridlaan Allah swt., bukan tujuan tujuan hidup, dan di sadari bahwa mencintai dunia akan membawa sifat – sifat mazmumah (tercela). Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya [5].

Zuhud disini berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya [6]. Lebih lanjut at-Taftazani menjelaskan bahwa zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi disaat yang sama diapun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman – firman Allah yang berikut : ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan” [7]. “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” [8]. Sementara dalam hadits disabdakan : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari” [9]

C. FAKTOR – FAKTOR ZUHUD
Zuhud merupakan salah satu maqam yang sangat penting dalam tasawuf. Hal ini dapat dilihat dari pendapat ulama tasawuf yang senantiasa mencantumkan zuhud dalam pembahasan tentang maqamat,meskipun dengan sistematika yang berbeda – beda. Al-Ghazali menempatkan zuhud dalam sistematika : al-taubah, al-sabr, al-faqr, al-zuhud, al-tawakkul, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla. Al-Tusi menempatkan zuhud dalamsistematika : al-taubah,al-wara’,al-zuhd, al-faqr,al-shabr,al-ridla,al-tawakkul, dan al-ma’rifah [10]. Sedangkan al-Qusyairi menempatkan zuhud dalam urutan maqam : al-taubah,al-wara’,al-zuhud, al-tawakkul dan al-ridla [11].

Jalan yang harus dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah. Jalan itu sulit,dan untuk pindah dari maqam satu ke maqam yang lain menghendaki usaha yang berat dan waktu yang bukan singkat, kadang – kadang seorang calon sufi harus bertahun – tahun tinggal dalam satu maqam.

Para peneliti baik dari kalangan orientalis maupun Islam sendiri saling berbeda pendapat tentang faktor yang mempengaruhi zuhud. Nicholson dan Ignaz Goldziher menganggap zuhud muncul dikarenakan dua faktor utama,yaitu : Islam itu sendiri dan kependetaan Nasrani, sekalipun keduanya berbeda pendapat tentang sejauhmana dampak faktor yang terakhir [12].

Harun Nasution mencatat ada lima pendapat tentang asal – usul zuhud. Pertama, dipengaruhi oleh cara hidup rahib-rahib Kristen. Kedua, dipengaruhi oleh Phytagoras yang megharuskan meninggalkan kehidupan materi dalamrangka membersihkan roh. Ajaran meninggalkan dunia dan berkontemplasi inilah yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam. Ketiga, dipengaruhi oleh ajaran Plotinus yang menyatakan bahwadalam rangka penyucian roh yangtelah kotor,sehingga bisa menyatu dengan Tuhan harus meninggalkan dunia. Keempat, pengaruh Budha dengan faham nirwananya bahwa untukmencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Kelima, pengaruh ajaran Hindu yang juga mendorong manusia meninggalkan dunia dan mendekatkandiri kepada Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman [13]

Sementara itu Abu al’ala Afifi mencatat empat pendapat parapeneliti tentang faktor atau asal –usul zuhud. Pertama, berasal dari atau dipengaruhi oleh India dan Persia. Kedua, berasal dari atau dipengaruhi oleh askestisme Nasrani. Ketiga, berasal atau dipengaruhi oleh berbagai sumber yang berbeda- beda kemudian menjelma menjadi satu ajaran. Keempat, berasal dari ajaran Islam. Untukfaktor yang keempat tersebut Afifi memerinci lebih jauh menjadi tiga : Pertama, faktor ajaran Islam sebagaimana terkandung dalam kedua sumbernya, al-Qur’an dan al-Sunnah. Kedua sumber ini mendorong untukhidup wara’ [14], taqwa dan zuhud.

Kedua, reaksi rohaniah kaum muslimin terhadap sistemsosial politik dan ekonomi di kalangan Islam sendiri,yaitu ketika Islam telah tersebar keberbagai negara yangsudah barang tentu membawa konskuensi – konskuensi tertentu,seperti terbukanya kemungkinan diperolehnya kemakmuran di satu pihak dan terjadinya pertikaian politik interen umat Islam yang menyebabkan perang saudara antara Ali ibn Abi Thalib dengan Mu’awiyah,yang bermula dari al-fitnah al-kubraI yang menimpa khalifahketiga, UstmanibnAffan (35 H/655 M). Dengan adanya fenomena sosial politik seperti itu ada sebagian masyarakat dan ulamanya tidak inginterlibat dalamkemewahan dunia dan mempunyai sikap tidak mau tahu terhadap pergolakan yang ada,mereka mengasingkan diri agar tidak terlibat dalam pertikaian tersebut.

Ketiga, reaksi terhadap fiqih dan ilmukalam, sebab keduanya tidak bisa memuaskan dalam pengamalan agama Islam. Menurut at-Taftazani, pendapat Afifi yang terakhir ini perlu ditelitilebih jauh, zuhud bisa dikatakan bukan reaksi terhadap fiqih dan ilmu kalam, karena timbulnya gerakan keilmuan dalamIslam, seperti ilmu fiqih dan ilmukalam dan sebaginya muncul setelah praktek zuhud maupun gerakan zuhud. Pembahasan ilmu kalam secara sistematis timbul setelah lahirnya mu’tazilah kalamiyyah pada permulaan abad II Hijriyyah, lebih akhir lagi ilmu fiqih,yakni setelah tampilnya imam-imam madzhab, sementara zuhud dan gerakannya telah lama tersebar luas didunia Islam [15].

Menurut hemat penulis,zuhud itu meskipun ada kesamaan antara praktek zuhud dengan berbagai ajaran filsafat dan agama sebelum Islam, namun ada atau tidaknya ajaran filsafat maupun agama itu, zuhud tetap ada dalam Islam. Banyak dijumpai ayat al-Qur’an maupun hadits yang bernada merendahkan nilai dunia, sebaliknya banyak dijumpai nash agama yangmemberi motivasi beramal demi memperoleh pahala akhirat dan terselamatkan dari siksa api neraka (QS.Al-hadid :19),(QS.Adl-Dluha : 4),(QS. Al-Nazi’aat : 37 – 40).

D. PERALIHAN DARI ZUHUD KE TASAWUF
Benih – benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari –hari ia berkhalwat di gua Hira terutama pada bulan Ramadhan. Disana Nabi banyak berdzikir bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pengasingan diri Nabi di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Sumber lain yang diacu oleh para sufi adalahkehidupan para sahabat Nabi yang berkaitan dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh sebab itu setiap orang yang meneliti kehidupan kerohanian dalam Islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi di abad – abad sesudahnya.

Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa sebelumnya. Konflik –konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai masa – masa sesudahnya.Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok Bani Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah.

Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah – khalifah BaniUmayyah secara bebas berbuat kezaliman – kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan politiknya yang paling gencar menentangnya.Puncak kekejaman mereka terlihat jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Alibin Abi Thalib di Karbala. Kasus pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti – hentinya itu membuat sekelompok penduduk Kufah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati Husein dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabun (kaum Tawabin). Untuk membersihkan diri dari apa yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah. Gerakan kaumTawabin itu dipimpin oleh Mukhtar bin Ubaid as-Saqafi yang terbunuh di Kufah pada tahun 68 H [16].

Disamping gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi sosialpun terjadi.halini mempunyai pengaruh yang besar dalampertumbuhan kehidupan beragama masyarakat Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat,secara umum kaum muslimin hidup dalam keadaan sederhana.KetikaBaniUmayyah memegang tampuk kekuasaan,hidup mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi di kalanganistana.Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah tampak semakin jauh dari tradisi kehidupan Nabi SAW serta sahabat utama dan semakin dekat dengan tradisi kehidupan raja – raja Romawi. Kemudian anaknya,Yazid (memerintah 61 H/680 M – 64 H/683M), dikenalsebagai seorang pemabuk. Dalam sejarah, Yazid dikenal sebagai seorang pemabuk. Dalam situasi demikian kaummuslimin yang saleh merasa berkewajiban menyerukan kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh,dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu. Diantara para penyeru tersebut ialah Abu Dzar al-Ghiffari. Dia melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayyah yang sedang tenggelam dalam kemewahan dan menyerukan agar diterapkan keadilan sosial dalam Islam.

Dari perubahan –perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW para sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah.Sejak saat itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau karena ketekunan mereka beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad) atau nasik (jamak : nussak) [17]

Zuhud yang tersebar luas pada abad –abad pertama dan kedua Hijriyah terdiri atas berbagai aliran yaitu :

1. Aliran Madinah
Sejak masa yang dini,di Madinah telah muncul para zahid.Mereka kuat berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-sunnah, dan mereka menetapkan Rasulullah sebagai panutan kezuhudannya. Diantara mereka dari kalangan sahabat adalah Abu Ubaidah al-jarrah (w.18 H.), Abu Dzar al-Ghiffari (w. 22H.), Salman al-Farisi (w. 32 H.), Abdullah ibn Mas’ud (w. 33 H.), Hudzaifah ibn Yaman (w. 36 H.). Sementara itu dari kalangan tabi’in diantaranya adalah Sa’id ibn al-Musayyad (w. 91 H.) dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H.).
Aliran Madinah ini lebih cenderung pada pemikiran angkatan pertama kaum muslimin (salaf),dan berpegang teguh pada zuhud serta kerendah hatian Nabi. Selain itu aliran ini tidak begitu terpengaruh perubahan – perubahan sosial yang berlangsung pada masa dinasti Umayyah, dan prinsip – prinsipnya tidak berubah walaupun mendapat tekanan dari Bani Umayyah.dengan begitu, zuhud aliran ini tetap bercorak murni Islam dan konsisten pada ajaran –ajaran Islam.
2. Aliran Bashrah
Louis Massignon mengemukakan dalam artikelnya, Tashawwuf, dalam Ensiklopedie de Islam ,bahwa pada abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat dua aliran zuhud yang menonjol. Salah satunya di Bashrah dan yang lainnya di Kufah. Menurut Massignon orang – orang Arab yang tinggal di Bashrah berasal dari Banu tamim. Mereka terkenal dengan sikapnya yang kritis dan tidak percaya kecuali pada hal – hal yang riil. Merekapun terkenal menyukai hal- hal logis dalam nahwu, hal – hal nyata dalam puisi dan kritis dalam hal hadits. Mereka adalah penganut aliran ahlus sunnah, tapi cenderung padaaliran – aliran mu’tazilah dan qadariyah. Tokoh mereka dalam zuhud adalah Hasan al-Bashri, Malik ibn Dinar, Fadhl al-Raqqasyi,Rabbah ibn ‘Amru al-qisyi, Shalih al-Murni atau Abdul Wahid ibn Zaid,seorang pendiri kelompok asketis di Abadan [18].
Corak yang menonjol dari para zahid Bashrah ialah zuhud dan rasa takut yang berlebih –lebihan.Dalam halini Ibn Taimiyah berkata : “Para sufi pertama –tama muncul dari Bashrah.Yang pertama mendirikan khanaqah para sufi ialah sebagian teman Abdul Wahid ibn Zaid, salah seorang teman Hasan al-Bashri.para sufi di Bashrah terkenal berlebih –lebihan dalam hal zuhud, ibadah, rasa takut mereka dan lain –lainnya, lebih dari apa yang terjadi di kota – kota lain” [19].Menurut Ibn Taimiyyah hal ini terjadi karena adanya kompetisi antara mereka dengan para zahid Kufah.

3. Aliran Kufah
Aliran Kufah menurutLouis Massignon, berasal dariYaman.Aliran ini bercorak idealistis, menyukai hal- hal aneh dalam nahwu, hal-hal image dalam puisi,dan harfiah dalam hal hadits.Dalam aqidah mereka cenderung pada aliran Syi’ah dan Rajaiyyah.dan ini tidak aneh, sebab aliran Syi’ah pertama kali muncul di Kufah.
Para tokoh zahid Kufah pada abad pertama Hijriyah ialah ar-Rabi’ ibn Khatsim (w. 67 H.) pada masa pemerintahan Mu’awiyah, Sa’id ibn Jubair (w. 95 H.), Thawus ibn Kisan (w. 106 H.), Sufyan al-Tsauri (w. 161 H.)
4. Aliran Mesir
Pada abad – abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat suatu aliran zuhud lain, yang dilupakan para orientalis, dan aliran ini tampaknya bercorak salafi seperti halnya aliran Madinah. Aliran tersebut adalah aliran Mesir. Sebagaimana diketahui, sejak penaklukan Islam terhadap Mesir, sejumlah para sahabat telah memasuki kawasan itu,misalnya Amru ibn al-Ash, Abdullah ibn Amru ibn al-Ash yang terkenal kezuhudannya, al-Zubair bin Awwam dan Miqdad ibn al-Aswad.

Tokoh – tokoh zahid Mesir pada abad pertama Hijriyah diantaranya adalah Salim ibn ’Atar al-Tajibi. Al-Kindi dalam karyanya, al-wulan wa al-Qydhah meriwayatkan Salim ibn ‘Atar al-Tajibi sebagai orang yang terkenal tekun beribadah dan membaca al-Qur’an serta shalat malam, sebagaimana pribadi – pribadi yang disebut dalam firmanAllah :”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam”. (QS.al-Dzariyyat, 51:17). Dia pernah menjabat sebagai hakim diMesir,dan meninggal di Dimyath tahun 75 H. Tokoh lainnya adalah Abdurrahman ibn Hujairah (w. 83 H.) menjabat sebagai hakim agung Mesir tahun 69 H.

Sementara tokoh zahid yang paling menonjol pada abad II Hijriyyah adalah al-Laits ibn Sa’ad (w. 175 H.).Kezuhudan dan kehidupannya yang sederhana sangat terkenal. Menurut ibn Khallikan, dia seorang zahid yang hartawan dan dermawan, dll [20]

Dari uraian tentang zuhud dengan berbagai alirannya, baik dari aliran Madinah, Bashrah, Kufah, Mesir ataupun Khurasan, baik pada abad I dan II Hijriyyah dapat disimpulkan bahwa zuhud pada masa itu mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Pertama : Zuhud ini berdasarkan ide menjauhi hal – hal duniawi, demi meraih pahala akhirat dan memelihara diri dari adzab neraka. Ide ini berakar dari ajaran –ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah yang terkena dampak berbagai kondisi sosial politik yang berkembang dalam masyarakat Islam ketika itu.
Kedua : Bercorak praktis, dan para pendirinya tidak menaruh perhatian buat menyusun prinsip – prinsip teoritis zuhud. Zuhud ini mengarah pada tujuan moral.
Ketiga : Motivasi zuhud ini ialah rasa takut, yaitu rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan secara sungguh –sungguh. Sementara pada akhir abad kedua Hijriyyah, ditangan Rabi’ah al-Adawiyyah, muncul motivasi cinta kepada Allah, yang bebas dari rasa takut terhadap adzab-Nya.
Keempat : Menjelang akhir abad II Hijriyyah, sebagian zahid khususnya di Khurasan dan pada Rabi’ah al-Adawiyyah ditandai kedalaman membuat analisa, yang bisa dipandang sebagai fase pendahuluan tasawuf atau sebagai cikal bakal para sufi abad ketiga dan keempat Hijriyyah. Al-Taftazani lebih sependapat kalau mereka dinamakan zahid, qari’ dan nasik (bukan sufi). Sedangkan Nicholson memandang bahwa zuhud ini adalah tasawuf yang paling dini. Terkadang Nicholson memberi atribut pada para zahid ini dengan gelar “para sufi angkatan pertama”.

Suatu kenyataan sejarah bahwa kelahiran tasawuf bermula dari gerakan zuhud dalam Islam.Istilah tasawuf baru muncul pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh Abu Hasyim al-Kufy (w.250 H.) dengan meletakkan al-sufy di belakang namanya. Pada masa ini para sufi telah ramai membicarakan konsep tasawuf yang sebelumnya tidak dikenal.Jika pada akhir abad II ajaran sufi berupa kezuhudan, maka pada abad ketiga ini orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap dalam kecintaan (fana fi mahbub), bersatu dalam kecintaan (ittihad fi mahbub), bertemu dengan Tuhan (liqa’) dan menjadi satu dengan Tuhan (‘ain al jama’) [21]. Sejak itulah muncul karya –karya tentang tasawuf oleh para sufi pada masa itu seperti al-muhasibi (w. 243 H.), al-Hakim al-Tirmidzi (w. 285 H.), dan al-Junaidi (w. 297 H.). Oleh karena itu abad II Hijriyyah dapat dikatakan sebagai abad mula tersusunnya ilmu tasawuf.

E. KESIMPULAN

• Zuhud adalah fase yang mendahului tasawuf.
• Munculnya aliran –aliran zuhud pada abad I dan II H sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar – pembesar negara sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Syiria, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Orang melihat perbedaan besar antara hidup sederhana dari Rasul serta para sahabat.
• Pada akhir abad ke II Hijriyyah peralihan dari zuhud ke tasawuf sudah mulai tampak. Pada masa ini juga muncul analisis-analisis singkat tentang kesufian. Meskipun demikian,menurut Nicholson,untuk membedakan antara kezuhudan dan kesufian sulit dilakukan karena umumnya para tokoh kerohanian pada masa ini adalah orang – orang zuhud. Oleh sebab itu menurut at-taftazani,mereka lebih layak dinamai zahid daripadasebagai sufi.


#56 meyda

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 27 posts
Click to view battle stats

Posted 24 January 2008 - 12:08 PM

SYARI'AT DAN TASAWUF


Penulis pada saat ini ingin menyuarakan pandangan hati berkenaan dengan hubungan antara syariat dan tasawuf di dalam Islam. Topik ini dirasakan amat signifikan memandangkan kepada wajah persekitaran kita yang kian membeku dewasa ini.



Nur Islam telah menyuluhi hidup al insan dan telah mengeluarkannya daripada kongkongan kegelapan kepada sinaran yang terang. Allah telah pun menyempurnakan Islam seperti dalam firmanNya yang bermaksud: “Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan aku telah cukupkan kepadamu nikmatku, dan aku telah diredhai Islam ini menjadi agamamu”(Al-Maidah:3)



Rasulullah telah diutuskan bersama-sama dengannya satu “pakej” yang lengkap. Allah telah menyebutkan di dalam surah Al-Ahzab, ayat 21, bahawa Muhammad itu adalah uswatun hasanah yakni contoh ikutan yang terbaik. Perutusan syariatnya yang dibawa dan tasawuf di jiwanya membentuk satu ikatan yang tidak mungkin dapat dirungkaikan.



Malangnya senario hari ini menyaksikan, kedapatan ramai manusia yang berusaha berlumba-lumba dalam mendalami ilmu fikah, tetapi dalam masa yang sama telah melupakan tasawwuf islamiy dan begitulah juga yang sebaliknya. Perbuatan ini pada pandangan penulis, adalah ibarat membaling najis ke langit, akhirnya terpalit pada wajah sendiri. Impaknya amat dasyat sekali kerana ia telah menjerumus ke arah pemahaman yang tempang lagi serong kepada penuntut ilmu tersebut.



Ini mengingatkan penulis kepada kata-kata Imam Malik r.a seperti yang dicatat di dalam buku Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil Hasan,ulama fikh, vol 2, m/s: 195;



“Barangsiapa mempelajari tasawuf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dan fikh dia meraih kebenaran”



Malah lebih berbahaya lagi jika dia menyebarkan risalah mengenai kefahamannya itu kepada masyarakat. Tambahan pula jika orang mendengar risalah itu tidak mempunyai asas yang kukuh, maka akan mudahlah ia terjerumus bersama-sama ke dalam serombong kesesatan.



Penulis ingin membawakan suatu riwayat kisah hidup seorang tokoh yang penulis rasakan beliau adalah contoh yang ideal untuk memahamkan kita bahawa adalah amat penting untuk mendalami segenap aspek ilmu di dalam Islam sebelum terjun kepada sesuatu konklusi atau keputusan.



Tokoh yang penulis maksudkan adalah Al Imam Hujjatul Islam, Al Ghazali. Beliau adalah seorang ahli teologi, ahli falsafah, dan di antara ahli sufi yang muktabar di dalam Islam. Lahir pada 450H/1058 M di kota Ghazalah, dekat Tus, Khurasan, Iran Utara. Nama sebenarnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Tusi al Ghazali. Susur galur ilmunya dimulai dengan mendalami ilmu fikah, kemudiannya ilmu kalam dan falsafah, diikuti dengan frasa ilmu yang terakhir yakni ilmu tasawuf.



Pada tahun 1091, beliau pernah menjadi Guru Besar Hukum kepada Nizam Al-Mulk (1018-1092), kemudian Perdana Menteri Sultan Maliksyah, dan kerajaan Saljuk di Madrasah Nizamiyah, Baghdad. Beliau mengajar di sana selama 4 tahun. Dalam waktu tersebut, beliau telah berjaya menghasilkan 2 karya yang amat berharga iaitu Maqasid Al-Falasifah (Maksud Ahli Falsafah) dan Tahafut Al Falasifah (Kecelaruan Ahli Falsafah).



2 karyanya itu telah membawa satu gelombang besar dalam dunia aliran falsafah dan ilmu kalam. Penulis amat kagum kerana Al Ghazali telah memberi tamparan yang hebat kepada ilmu logik akal yang cuba mengatasi Kalam Allah. Sesungguhnya Al Ghazali sememangnya Hujjatul Islam iaitu Pembela Islam.



Al Ghazali terus bersinar apabila berjaya menghasilkan Ihya’ Ulum Al-Din (Menghidupkan kembali ilmu Agama). Tidak salah jika penulis katakan bahawa Al Ghazali adalah sangat berpengaruh sehingga beliau disebut sebagai tokoh yang amat penting selepas zaman Rasulullah jika dilihat dari segi pengaruh dan peranannya dalam menata dan mengukuhkan nilai keagamaan.



Pada tahun 1095, Al Ghazali meninggalkan Baghdad dan mengembara dari satu negeri ke satu negeri kerana kehidupannya tergoncang oleh krisis kepercayaan. Pada mulanya beliau ke Damsyik, kemudian Hebron, Baitul Muqaddis, terus ke Makkah dan Madinah. Beliau menjalani kehidupan zuhud (asketisme) dengan mengembara selama 10 tahun.



Setelah itu, beliau kembali ke Nisabur pada tahun 1106 untuk mengajar di Madrasah Maimunah Nizamiyah. Tidak berapa lama, beliau pergi ke Tus, mendirikan HALAQAH (Sekolah Calon Sufi). Beliau mengasuh Halaqah sehingga ke penghujung usianya.



Perjalanan Intelektual dan Spiritual dalam menemukan kedamaian batin dan mengikut jalan sufi dicurahkan dalam autobiografinya yang bertajuk al-munqiz min al-dhalal (pembebas daripada kesesatan).



Al Ghazali telah mengkritik ahli falsafah dan akhirnya beliau memilih jalan tasawuf sebagai jalan menuju Allah. Dalam bukunya tahafut al-falasifah beliau sendiri telah menyanggah pandangan ahli falsafah yang membawa kepada kekufuran yakni hujah alam ini qadim, tuhan tidak mengetahui bahagian sekecil-kecil alam ini, dan ketiadaan kebangkitan jasmani pada hari Qiamat. Al Ghazali tega bangun ditengah-tengah gelanggang falsafah, dan merobek seluruh pemahaman yang songsang dan bercelaru itu.



Al Ghazali menemui kepuasan dan menemukan diri di dalam dunia tasawuf. Ternyata krisis hidupnya bukan bererti ragu, tetapi beralih arah dari dunia ke dalam batin.



Al Ghazali berkata, “Pada akhirnya saya sampai kepada kebenaran, bukan menerusi jalan akal budi serta pengumpulan bukti, melainkan menerusi cahaya yang dipancarkan oleh Allah ke dalam jiwaku.”



Berbahagialah Al Ghazali kerana telah berjaya mendamaikan antara syariat dan tasawuf. Jasanya itu amatlah besar di dalam ketamadunan Islam kerana beliau telah menzahirkan ilmu tasawuf pada jiwa umat Islam. Imam Al Ghazali juga telah berjasa dalam menyebarkan aliran As-Syairiyah yang dianut oleh majoriti Ahli Sunnah wal Jamaah (ASWJ).



Lihatlah wahai sahabatku, sesungguhnya usaha dalam pencarian ilmu ini amatlah jauh sekali. Janganlah sesekali kita menyangka bahawa pencarian ilmu itu sudah tamat. Sesekali tidak!! Pemahaman Islam itu memerlukan pengorbanan yang amat besar. Tidak malukah kita mendabik dada kononnya sudah menguasai sesuatu ilmu sedangkan al Ghazali sendiri pun, walau telah menghasilkan lebih daripada 280 buku, tetapi tidak pernah berasa cukup dalam penerokaannya mendalami ilmu Al Khaliq ini.



Penulis menyeru para netter semua dan diri penulis sendiri, agar jangan pernah berasa diri ini cukup, atau dengan bahasa mudahnya “berlagak pandai”. Kata orang tua-tua, jika kail panjang sejengkal, jangan diduga lautan dalam. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyertakan pandangan tokoh-tokoh yang dilihat kontroversi mengenai pendirian mereka tentang ilmu tasawuf ini.



Dalam volum 5 dari Muhammad ibn 'Abdul Wahhab yang bertajuk ar-Rasa'il ash-Shakhsiyyah, hal 11, serta hal. 12, 61, dan 64, dia menyatakan: "Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn 'Arabi atau Ibn al-Fari kerana interpretasi sufinya"



Lanjutan dari Ibn Qayyim Al Jauziyyah :"Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh.



Shaikh Rashid Ridha juga berkata, "tasawuf adalah salah satu dari tiang agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk meninggikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi"(Majallat al-Manar, p. 726)



Hayatilah perjalanan hidup, onak dan duri kisah suka duka perjuangan Al Imam Hujjatul Islam Al Ghazali. Semoga kita semua mendapat iktibar dan mencontohi adabnya dalam menuntun jalan ke arah pemurnian beragama. Memahami Al Quran dan Hadith tidak cukup jika berdasarkan literal semata-mata. Unsur-unsur balaghah, majaz, asbabun nuzul, nasakh dan mansukh dan pelbagai lagi aspek perlu diberi perhatian. Memang benar kita mahu mengikut Al Quran dan As Sunnah. Tetapi bagaimanakah kita mahu mencari petunjuk untuk meneroka ke arah jalannya? Sudah tentu dengan adab-adab ilmu. Ibarat mahu menaiki tangga. Dari anak tangga pertama, tidak boleh melompat terus ke anak tangga ke sepuluh. Semestinya akan tersungkur ke bawah. Seharusnya mesti mengikut langkah demi langkah. Tapak demi tapak. Itulah langkah perjalanan bagi mereka yang bersabar



Marilah kita menuju ke arah kejayaan seperti mana yang telah dikecapi oleh ulama salaf dan khalaf. Coretan sejarah perlu dilebarkan demi mendepani masa mendatang. Agar Islam terus bersinar dan gemilang di bawah Nur kalimah yang Hak.

#57 meyda

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 27 posts
Click to view battle stats

Posted 24 January 2008 - 12:11 PM

PANDANGAN YANG KELIRU TENTANG SYEKH SITI JENAR

"BUKU PUTIH ISLAM TANAH JAWA"

Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan oleh Prof. Hasanu Simon dan telah mendapat izin dari beliau untuk disebarluaskan. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang mungkin masih ada di dalam makalah tersebut, tentunya ini merupakan usaha yang patut didukung oleh da’i-da’i Islam yang lurus dan benar manhajnya.

Penyelenggara mengundang tiga orang pembicara yangmemang cukup berkompeten pada bidang tersebut bahkan merupakan ahlinya, yaitu Dr. Damarjati Supajar, Dr. Abdul Munir Mulkhan (pengarang buku tersebut) dan Prof. Hasanu Simon (guru besar sosiologi kehutanan dan lingkungan UGM).

Singkat cerita, pada diskusi tersebut dua pembicara pertama, yaitu Dr. Damarjati Supajar dan Dr. Abdul Munir Mulkhan berusaha untuk mendukung ajaran-ajaran Syeikh Siti Jenar. Hal tersebut dibuktikan dengan pembelaaan tanpa cela terhadap syekh tersebut dan juga pengajuan alternatif wacana terhadap para peserta bahwa ajaran tersebut silahkan bila mau diikuti, toh dalam dunia Islam tokoh seperti itu sudah pernah ada, seperti misalnya Al-Hallaj dan tokoh-tokoh sufi lain. Mereka juga memberi pilihan tersebut dengan alasan ajaran-ajaran Islam sendiri pada hakikatnya dipraktekkan sebagai rutinitas dan sebagai tafsir dari para pengikutnya, sehingga sholat dan syariat-syariat lainnya bisa saja diganti dengan bentuk-bentuk lainnya (jelas ini pendapat yang salah). Menurut mereka lagi, syariat dalam ajaran Syekh Siti Jenar itu dipraktekkan oleh orang yang hidup, sedangkan hidup yang sebenarnya bagi manusia itu adalah nanti di akherat. Sedangkan di dunia pada hakekatnya adalah mati. Sehingga sholat,puasa, zakat haji itu tidak perlu.

Ajaran tersebut nampak semakin subur diikuti oleh umat Islam dewasa ini, apalagi dengan pemimpin Indonesia pada saat itu (mantan Presiden Gus dur) termasuk yang menyetujui dan mendukung ajaran tersebut (sufi/kebatinan/kejawen). Pendukung yang lain yang cukup dikenal adalah Anand Khrisna. Bila terus dibiarkan, ajaran tersebut akan semakin mengaburkan Islam sebagai agama yang murni dari kesyirikan dan bid’ah , menjunjung tinggi akal manusia, dan menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sebagai andil dalam pemberantasan penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat), kami tampilkan sebuah tanggapan dalam acara tersebut.

Saya masuk Fakultas Kehutanan UGM tahun 1965, memilih jurusan Manajemen Hutan. Sebelum lulus saya diangkat menjadi asisten, setelah lulus mengajar Perencanaan dan Pengelolaan Hutan. Pada waktu ada Kongres Kehutanan Dunia VII di Jakarta tahun 1978, orientasi system pengelolaan hutan mengalami perubahansecara fundamental. Kehutanan tidak lagi hanya dirancang berdasarkan ilmu teknik kehutanan konvensional, melainkan harus melibatkan ilmu sosial ekonomi masyarakat. Sebagai dosen bidang itu saya lalu banyak mempelajari hubungan hutan dengan masyarakat sejak zaman kuno dulu. Disitu saya banyak berkenalan dengan sosiologi dan antropologi. Khusus dalam mempelajari sejarah hutan di Jawa, banyak masalah sosiologi dan antropologi yang amat menarik. Kehutanan di Jawa telah menyajikan sejaranh yang amat panjang dan menarik untuk menjadi acuan pengembangan strategi kehutanan sosial (socialforestry strategy) yang sekarang sedang dan masih dicari oleh para ilmuwan.

Belajar sejarah kehutanan Jawa tidak dapat melepaskan diri dengan sejarah bangsa Belanda. Dalam mempelajari sejarah Belanda itu, penulis sangat tertarik dengan kisah dibawanya buku-buku Sunan Mbonang di Tuban ke negeri Belanda. Peristiwa itu sudah terjadi hanya dua tahun setelah bangsa Belanda mendarat di Banten. Sampai sekarang buku tersebut masih tersimpan rapi di Leiden, diberi nama Het Book van Mbonang, yang menjadi sumber acuan bagi para peneliti sosiologi dan antropologi. Buku serupa tidak dijumpai sama sekali di Indonesia. Kolektor buku serupa juga tidak dijumpai yang berkebangsaan Indonesia.

Jadi, seandainya tidak ada Het Book van MBonang, kita tidak mengenal sama sekali sejarah abad ke-16 yang dilandasi data obyektif. Kenyataan sampai kita tidak memiliki data obyektif tentang Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijogo dan juga tentang Syekh Siti Jenar. Oleh karena itu, yang berkembang adalah kisah-kisah mistik bercampur takhayul, termasuk misteri Syek Siti Jenar yang hari ini akan kita bicarakan.

Walisongo Dalam Dunia Mitos

Kisah walisongo yang penuh dengan mistik dan takhayul itu amat ironis, karena kisah tentang awal perkembangan Islam di Indonesia, sebuah agama yang sangat keras anti kemusyrikan. Pembawa risalah Islam, Muhammad SAW. Yang lahir 9 abad sebelum era Walisongo tidak mengenal mistik. Beliau terluka ketika berdakwah di tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang uhud. Tidak seperti kisah Sunan Giri, yang ketika diserang pasukan majapahit hanya melawan tentara yang jumlahnya lebih banyak itu dengan melemparkan sebuah bolpoin ke pasukan majapahit. Begitu dilemparkan bolpoin tersebut, segera berubah menjadi keris sakti, lalu berputar-putar menyerang pasukan majapahit dan bubar serta kalahlah mereka. Keris itu kemudian diberinama keris kolomunyeng, yang oleh kyai Langitan diberikan kepada presiden Gus Dur beberapa bulan lalu yang antara lain untuk menghadapi Sidang Istimewa MPR yang sekarang sudah digelar dan ternyata tidak ampuh.

Kisah sunan Kalijogo yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk membuat tiang masjid dari tatal (serpihan potongan kayu) dan sebagai penjual rumput di Semarang yang diambil dari gunung Jabalkat. Kisah Sunan Ampel lebih hebat lagi dan heboh ; salah seorang pembantunya dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya untuk menentukan arah kiblat. Pembuat cerita ini jelas belum tahu kalau bumi berbentuk elips sehingga permukaan bumi ini melengkung. Oleh karena itu, tidak mungkin dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya.

Islam juga mengajarkan bahwa Nabi Ibrahim as, yang hidup sekitar 45 abad sebelum era Walisongo yang lahir dari keluarga penyembah berhala, sepanjang hidupnya berdakwa untuk anti berhala. Ini menunjukkan bahwa kisah para wali di Jawa sangat ketinggalan zaman dibandingkan kisah orang-orang yang menjadi panutannya, padahal selisih waktu hidup mereka sangat jauh.

Het Book van Mbonang yang telah melahirkan dua orang Doktor dan belasan Master bangsa Belanda itu memberikan petunjuk pada saya, pentingnya menulis sejarah berdasarkan fakta yang obyektif. Het Book van Mbonang tidak menghasilkan kisah keris Kolomunyeng, kisah Cagak dan tatal, kisah orang berubah menjadi cacing, dan sebagainya. Itulah ketertarikan saya dengan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari sejarah Islam di Indonesia. Saya tertarik untuk menulis tentang Syekh Siti Jenar dan Walisongo. Tulisan saya belum selesai, tetapi niat saya untuk terlibat adalah untuk membersihkan sejarah Islam di Jawa ini dari takhayul, mistik, khurofat dan kemusyrikan.

Itulah sebabnya, saya terima tawaran panitia untuk ikut membahas buku tentang Syekh Siti Jenar karya Dr. Abdul Munir Mulkhan ini. Saya ingin ikut mengajak masyarakat untuk segera meninggalkan dunia mitos dan memasuki dunia ilmu. Dunia mitos tidak saja bertentangan dengan aqidah Islamiyah, tetapi sudah ketinggalan zaman ditinjau dari aspek perkembangan ilmu pengetahuan.

Secara umum, dunia mitos telah ditinggalkan akhir abad ke-19 yang lalu, atau setidak-tidaknya awal abad ke-20. Apakah kita justru ingin kembali ke belakang ? Kalau kita masih berkutat dengan dunia mitos, masyarakat kita juga hanya akan menghasilkan pemimpin mitos yang selalu membingungkan dan tidak menghasilkan sesuatu.

Siapa Syekh Siti Jenar Itu

Kalau seorang menulis buku, tentu para pembaca berusaha untuk mengenal jatidiri penulis tersebut, minimal bidang keilmuannya. Oleh karena itu, isi buku dapat dijadikan tolak ukur tentang kadar keilmuan dan identitas penulisnya. Kalau ternyata buku itu berwarna kuning, penulisnya juga berwarna kuning. Sedikit sekali seorang yang berpaham atheis dapat menulis buku yang bersifat relijius karena dua hal tersebut sangat bertentangan. Seorang sarjana pertanian dapat saja menulis buku tentang sosiologi karena bidang pertanian dan sosiologi sering bersinggungan. Jadi, tidak mustahil kalau isi sebuah buku tentu telah digambarkan secara singkat oleh judulnya. Buku tentang berternak Kambing Ettawa menerangkan tentang seluk beluk binatang tersebut, manfaatnya, jenis pakan, dan sebagainya yang mempunyai kaitan erat dengan kambing Ettawa. Judul buku karya Dr. Abdul Munir Mulkhan ini adalah : “Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar”. Pembaca tentu sudah membayangkan akan memperoleh informasi tentang kedua hal itu, yaitu ajaran Syekh Siti Jenar dan bagaimana dia mati. Penulis juga setia dengan ketentuan seperti itu.

Bertitik tolak dari ketentuan umum itu, paragraf 3 sampai 6 pada bab 1 tidak relevan. Bab 1 diberi judul : “Melongok jalan sufi : Humanisme Islam Bagi Semua”. Mungkin penulis ingin mengaktualisasikan ajaran Syekh Siti Jenar dengan situasi kini, tetapi apa yang ditulis tidak mengena sama sekali. Bahkan di dalam paragraf 3-6 itu banyak pernyataan yang mencengangkan saya sebagai seorang muslim.

Pernyataan di dalam sebuah tulisan, termasuk buku, dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Pernyataan orang lain mesti disebutkan sumbernya ; oleh karena itu pernyataan yang tidak ada sumbernya dianggap oleh pembaca sebagai pernyataan dari penulis. Pernyataan orang lain dapat berbeda dengan sikap, watak, dan pendapat penulis, tetapi pernyataan penulis jelas menentukan sikap, watak dan pendapatnya. Pernyataan-pernyataan di dalam sebuah buku tidak lepas satu dengan yang lain. Rangkaiannya, sistematika penyajiannya, merupakan sebuah bangunan yang menentukan kadar ilmu dan kualitas buku tersebut. Rangkaian dan sistematika pernyataan mesti disusun menurut logika keilmuan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh masyarakat ilmu.

Untuk mengenal atau menguraikan ajaran Syekh Siti Jenar, adalah logis kalau didahului dengan uraian tentang asal usul yang empunya ajaran. Ini juga dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan (paragraf 1 bab 1 hal. 3-10). Di dalam paragraf tersebut, diterangkan asal usul Syekh Siti Jenar yang tidak jelas. Seperti telah diterangkan, karena tidak ada sumber obyektif maka kisah asal-usul ini juga penuh dengan versi-versi. Di halaman 3, dengan mengutip penelitian Dalhar Shodiq untuk skripsi S-1 Fakultas Filsafat UGM, diterangkan bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang putra raja pendeta dari Cirebon yang bernama Resi Bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Hasan Ali alias Abdul Jalil.

Kalau seseorang menulis buku, apalagi ada hubungannya dengan hasil penelitian, pembahasan secara ilmiah dengan menyandarkan pada logika amat penting. Tidak semua berita dikutip begitu saja tanpa analisis. Didalam uraian tentang asal-usul Syekh Siti Jenar di halaman 3-10 ini jelas sekali penuh dengan kejanggalan, tanpa secuil analisis pun untuk memvalidasi berita tersebut.

Kejanggalan-kejanggalan itu adalah :

1) Ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang raja pendeta yang bernama Resi Bungsu. Istilah raja pendeta ini tidak jelas. Apakah dia seorang raja, atau pendeta. Jadi, beritanya saja sudah tidak jelas sehingga meragukan.

2) Dihalaman 62, dengan mengutip sumber Serat Syekh Siti Jenar, diterangkan bahwa ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang elite agama Hindu-Budha. Agama yang disebutkan ini juga tidak jelas. Agama Hindu tidak sama dengan agama Budha. Setelah Islam muncul menjadi agama mayoritas penduduk pulau Jawa, persepsi umum masyarakat memang menganggap agama Hindu dan Budha sama. Padahal ajaran kedua agama itu sangat berbeda dan antar keduanya pernah terjadi perseteruan akut selama berabad-abad. Runtuhnya Mataram Hindu pada abad ke-10 disebabkan oleh perseteruan akut tersebut. Runtuhnya Mataram Hindu berakibat sangat fatal bagi perkembangan Indonesia. Setelah itu kerajaan-kerajaan Jawa terus menerus terlibat dengan pertikaian-pertikaian yang membuat kemunduran. Kemajuan teknologi bangsa Jawa yang pada abad ke-10 sudah di atas Eropa, pada abad ke-20 ini jauh di bawahnya. Tidak hanya itu, bahkan selama beberapa abad Indonesia (termasuk Jawa) ada di bawah bayang-bayang bangsa Eropa.

3) Kalau ayah Syekh Siti Jenar beragama Hindu atau Budha, mengapa anaknya diberi nama Arab, Hasan Ali alias Abdul Jalil. Apalagi seorang raja pendeta yang hidup di era pergeseran mayoritas agama rakyat menuju agama Islam, tentu hal itu janggal sekali.

4) Atas kesalahan yang dilakukan anaknya, sang ayah menyihir sang anak menjadi seekor cacing lalu dibuang ke sungai. Di sini tidak disebut apa kesalahan tersebut, sehingga sang ayah sampai tega menyihir anaknya menjadi cacing. Masuk akalkah seorang ayah yang raja pendeta menyihir anaknya menjadi cacing ? Ilmu apakah yang dimiliki raja pendeta Resi Bungsu untuk mengubah seorang menjadi cacing ? Kalau begitu, mengapa Resi Bungsu tidak menyihir para penyebar Islam yang pada waktu itu mendepak pengaruh dan ketentraman batinnya ? Cerita seorang mampu merubah orang menjadi binatang adalah cerita kuno yang mungkin tidak pernah ada orang yang melihat buktinya. Ini hanya terjadi di dunia pewayangan yang latar belakang agamanya Hindu (Mahabarata) dan Budha (Ramayana).

5) Cacing Hasan Ali yang dibuang di sungai di Cirebon tersebut, suatu ketika terbawa pada tanah yang digunakan untuk menambal perahu Sunan Mbonang yang bocor. Sunan Mbonang berada di atas perahu sedang mengajar ilmu Ghoib kepada sunan Kalijogo. Betapa luarbiasa kejanggalan pada kalimat tersebut. Sunan Mbonang tinggal di Tuban sedang cacing Syekh Siti Jenar di buang di daerah Cirebon. Di tempat lain, dikatakan bahwa sunan Mbonang mengajar sunan Kalijogo di perahu yang sedang mengapung di sebuah rawa. Adakah orang menambal perahu dengan tanah ? Kalau toh menggunakan tanah, tentu dipilih dan disortir tanah tersebut, termasuk tidak boleh tanah yang membawa cacing.

6) Masih di halaman 4 diterangkan, suatu saat Hasan Ali dilarang Sunan Giri mengikuti pelajaran ilmu Ghaib. Tidak pernah diterangkan bagaimana hubungan Hasan Ali dengan sunan Giri yang tinggal di dekat Gresik. Karena tidak boleh, Hasan Ali kemudian merubah dirinya menjadi seekor burung sehingga berhasil mendengarkan kuliah Sunan Giri tadi dan memperoleh ilmu Ghaib. Setelah itu Hasan Ali lalu mendirikan perguruan yang ajarannya dianggap sesat oleh para wali. Untuk apa Hasan Ali belajar ilmu Ghaib dari Sunan Giri, padahal dia sudah mampu merubah dirinya menjadi seekor burung ?

Alhasil, seperti dikatakan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan sendiri dan banyak penulis yang lain, asal-usul Syekh Siti Jenar memang tidak jelas. Karena itu, banyak pula orang yang meragukan, sebenarnya Syekh Siti Jenar itu pernah ada atau tidak. Pertanyaan ini akan saya jawab di belakang. Keraguan tersebut juga berkaitan dengan, tempat lahirnya, dimana sebenarnya tempat tinggal Syekh Siti Jenar. Banyak penulis selalu menerangkan bahwa nama lain Syekh Siti Jenar adalah : Sitibrit, Lemahbang, Lemah Abang. Kebiasaan waktu, nama, sering dikaitkan dengan tempat tinggal. Dimana letak Siti Jenar atau Lemah Abang tersebut sampai sekarang tidak pernah jelas ; padahal tokoh terkenal yang hidup pada zaman itu semuanya diketahui tempat tinggalnya. Syekh Siti Jenar tidak meninggalkan satupun petilasan.

Karena keraguan dan ketidakjelasan itu, saya setuju dengan pendapat bahwa Syekh Siti Jenar memang tidak pernah ada. Lalu, apa sebenarnya Syekh Siti Jenar itu ? Sekali lagi pertanyaan ini akan saya jawab di belakang nanti.

Kalau Syekh Siti Jenar tidak pernah ada., mengapa kita bertele-tele membicarakan ajarannya. Untuk apa kita berdiskusi tentang sesuatu yang tidak pernah ada. Apalagi diskusi itu dalam rangka memperbandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadits yang jelas asal-usulnya, mulia kandungannya, jauh kedepan jangkauannya, tinggi muatan IPTEKnya., sakral dan di hormati oleh masyrakat dunia. Sebaliknya, Syekh Siti Jenar hanya menjadi pembicaraan sangat terbatas di kalangan orang Jawa. Tetapi karena begitu sinis dan menusuk perasaan orang Islam yang telah kaffah bertauhid maka mau tidak mau lalu sebagian orang Islam harus melayaninya. Oleh karena itu, sebagai orang Islam yang tidak lagi ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an dan kerasulan Muhammad SAW, saya akan berkali-kali mengajak saudara-saudaraku orang Islam untuk berhati-hati dan jangan terlalu banyak membuang waktu untuk mendiskusikan ceritera fiktif yang berusaha untuk merusak aqidah Islamiyah ini.

Sunan Kalijogo

Semua orang di Indonesia, apalagi orang Islam, kenal dengan nama Sunan Kalijogo yang kecilnya bernama Raden Mas Said ini. Dikatakan dia adalah putera Adipati Tuban Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur yang beragama Islam. Silsilah Raden Sahur ke atas adalah Putera Ario Tejo III (Islam), putera Ario Tejo II (Hindu), putera Ario Tejo I, putera Ronggolawe, putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja, putera Adipati Ponorogo. Itulah asal-usul Sunan Kalijogo yang banyak ditulis dan diyakini orang, yang sebenarnya merupakan versi Jawa. Dua versi lainnya tidak pernah ditulis atau dijumpai dalam media cetak sehingga diketahui masyarakat luas (Imron Abu Ammar, 1992).

Di depan telah saya singgung bahwa kisah Sunan Kalijogo versi Jawa ini penuh dengan ceritera mistik. Sumber yang orisinal tentang kisah tersebut tidak tersedia. Ricklefs, sejarawan Inggris yang banyak meneliti sejarah Jawa, menyebutkan bahwa sebelum ada catatan bangsa Belanda memang tidak tersedia data yang dapat dipercaya tentang sejarah Jawa. Sejarah Jawa banyak bersumber dari catatan atau cerita orang-orang yang pernah menjabat sebagai Juru Pamekas, lalu sedikit demi sedikit mengalami distorsi setelah melewati para pengagum dan penentangnya.

Namun demikian sebenarnya Sunan Kalijogo meninggalkan dua buah karya tulis, yang salah satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Serat Dewo Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewo Ruci telah terkenal sebagai salah satu lakon wayang. Saya pertama kali melihat wayang dengan lakon Dewo Ruci pada waktu saya masih duduk di kelas 5 SD, di desa kelahiran ibu saya Palempayung (Madiun) yang dimainkan oleh Ki dalang Marijan. Sunan Kalijogo sendiri sudah sering menggelar lakon yang sebenarnya merupakan kisah hidup yang diangan-angankan sendiri, setelah kurang puas dengan jawaban Sunan Mbonang atas pertanyaan yang diajukan. Sampai sekarang Serat Dewo Ruci merupakan kitab suci para penganut kejawen, yang sebagian besar merupakan pengagum ajaran Syekh Siti Jenar yang fiktif tadi.

Kalau Serat Dewo Ruci diperbandingkan dengan Suluk Linglung, mungkin para penganut Serat Dewo Ruci akan kecelek (merasa tertipu). Mengapa demikian ? Isi Suluk Linglung ternyata hampir sama dengan isi Serat Dewo Ruci, dengan perbedaan sedikit namun fundamental. Di dalam Suluk Linglung Sunan Kalijogo telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan sholat dan puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali dalam Serat Dewo Ruci. Kalau Serat Dewo Ruci telah lama beredar, Suluk Linglung baru mulai dikenal akhir-akhir ini saja. Naskah Suluk Linglung disimpan dalam bungkusan rapi oleh keturunan Sunan Kalijogo. Seorang Pegawai Departemen Agama Kudus, Drs Chafid mendapat petunjuk untuk mencari buku tersebut, ternyata disimpan oleh Ny. Mursidi, keturunan Sunan Kalijogo ke-14. Buku tersebut ditulis di atas kulit kambing, oleh tangan Sunan Kalijogo sendiri menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa. Tahun 1992 buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saat ini saya sedang membahas kedua buku itu, dan untuk sementara saya sangat bergembira karena menurut kesimpulan saya, menjelang wafat ternyata Sunan Kalijogo sendiri menjadi kaffah mengimani Islam. Sebelumnya Sunan Kalijogo tidak setia menjalankan syariat Islam, sehingga orang Jawa hanya meyakini bahwa yang dilakukan oleh Sunan terkenal ini bukan sholat lima waktu melainkan sholat Da’im. Menurut Ustadz Mustafa Ismail LC, da’im berarti terus-menerus. Jadi Sunan Kalijogo tidak sholat lima waktu melainkan sholat da’im dengan membaca Laa ilaaha illallah kapan saja dan dimana saja tanpa harus wudhu dan rukuk sujud . Atas dasar itu untuk sementara saya membuat hipotesis bahwa Syekh Siti Jenar sebenarnya adalah Sunan Kalijogo. Hipotesis inilah yang akan saya tulis dan sekaligus saya gunakan untuk mengajak kaum muslimin Indonesia untuk tidak bertele-tele menyesatkan diri dalam ajaran Syekh Siti Jenar. Sayang, waktu saya masih banyak terampas (tersita) untuk menyelesaikan buku-buku saya tentang kehutanan sehingga upaya saya untuk mengkaji dua buku tersebut tidak dapat berjalan lancar. Atas dasar itu pula saya menganggap bahwa diskusi tentang Syekh Siti Jenar, seperti yang dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan ini, menjadi tidak mempunyai landasan yang kuat kalau tidak mengacu kedua buku karya Sunan Kalijogo tersebut.

Sebagai tambahan, pada waktu Sunan Kalijogo masih berjati diri seperti tertulis didalam Serat Dewo Ruci, murid-murid kinasih-nya berpaham manuggaling kawulo gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya), sedang setelah kaffah dengan tauhid murni, Sunan Kalijogo mengutus muridnya yaitu Joko Katong, yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas hingga sekarang, termasuk Kyai Kasan Bestari (guru R. Ng. Ronggowarsito), Kyai Zarkasi (pendiri PS Gontor), dan mantan Presiden BJ Habibie, termasuk Ny Ainun Habibie.

Walisongo

Sekali lagi, kisah walisongo penuh dengan cerita-cerita yang sarat dengan mistik. Namun Widji Saksono dalam bukunya “Mengislamkan Tanah Jawa” telah menyajikan analisis yang memenuhi syarat keilmuan. Widji Saksono tidak terlarut dalam kisah mistik itu, memberi bahasan yang memadai tentang hal-hal yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan aqidah islamiyyah. Widji Saksono cukup menonjolkan apa yang dialami oleh Raden Rachmat dengan dua orang temannya ketika dijamu oleh Prabu Brawidjaya dengan tarian oleh penari putri yang tidak menutup aurat. Melihat itu Raden Rachmat selalu komat-kamit, tansah ta’awudz. Yang dimaksudkan, pemuda tampan terus istighfar melihat putri-putri cantik menari dengan sebagian auratnya terbuka.

Namun para pengagum Walisongo akan kecelek kalau membaca tulisan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid. Kedua penulis menemukan sebuah naskah yang mengambil informasi dari sumber orisinal yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki. Menurut sumber tersebut, ternyata organisasi Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I. Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu, Sultan Muhammad I ingin mengirim tim yang beranggotakan sembilan orang, yang memiliki kemampuan diberbagai bidang, tidak hanya bidang ilmu agama saja. Untuk itu Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya minta dikirim beberapa ulama yang mempunyai karomah. Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu lalu dibentuk tim yang beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara (ahli tata negara) dari Turki. Berita ini tertulis dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al-Maghribi.

Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9 orang tersebut adalah sebagai berikut:

1) Maulana Malik Ibrahim, berasal dari turki, ahli mengatur negara (ahli tata negara).
2) Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3) Maulana Ahmad Jumadil Kubro dari Mesir.
4) Maulana Muhammad Al-Maghrobi, berasal dari Maroko.
5) Maulana Malik Isro’il, dari Turki, Ahli mengatur negara (ahli tata negara).
6) Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7) Maulana Hasanuddin, dari Palestina.
8) Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9) Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni oleh Jin jahat (ahli ruqyah).

Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Walisongo versi Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non jawa, seperti telah disebutkan di muka, tidak pernah diekspos, entah oleh Belanda atau siapa saja, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenarnya. Dengan Infromasi baru itu, menjadi Jelaslah apa sebenarnya Walisongo itu. Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam.

Latar Belakang Gerakan Syekh Siti Jenar

Tulisan tentang Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya bersumber pada satu tulisan saja, yang mula-mula adalah tanpa pengarang. Tulisan yang ada pengarangnya juga ada, misalnya Serat Sastro Gendhing oleh Sultan Agung. Buku berjudul “Ajaran Syekh Siti Jenar” karya Raden Sosrowardojo yang menjadi buku induk karya Dr. Abdul Munir Mulkhan itu sebenarnya merupakan gubahan atau tulisan ulang dari buku dengan judul yang sama karya Ki Panji Notoroto. Nama Panji Notoroto adalah samaran mantan Adipati Mataram penganut berat ajaran Syekh Siti Jenar.

Ki Panji Notoroto memberi informasi menarik, bahwa rekan-rekan adipati seangkatannya ternyata tidak ada yang dapat membaca dan menulis. Ini menunjukkan bahwa setelah era Demak Bintoro, nampaknya pendidikan klasikal dimasyarakat tidak berkembang sama sekali. Memahami Al-Qur’an dan Hadits tidak mungkin kalau tidak didasari dengan ilmu. Penafsiran Al-Qur’an tanpa ilmu akan menghasilkan hukum-hukum yang sesat belaka. Itulah nampaknya yang terjadi pada era pasca Demak, yang kebetulan sejak Sultan Hadiwidjojo, agama yang dianut kerajaan adalah agama Manuggaling Kawulo Gusti.

Disamping masalah pendidikan, sejak masuknya agama Hindu di Jawa ternyata pertentangan agama tidak pernah reda. Hal ini dengan jelas ditulis di dalam Babad Demak. Karena pertentangan antar agama itulah Mataram Hindu runtuh. Sampai dengan era Singosari, masih ada tiga agama besar di Jawa yaitu Hindu, Budha, dan Animisme yang sering disebut agama Jawa. Untuk mencoba meredam pertentangan agama itu, Prabu Kertonegoro, raja besar dan terakhir Singosari, mencoba untuk menyatukannya dengan membuat agama baru disebut agama Syiwa-Boja. Syiwa mewakili agama Hindu, Bo singkatan dari Budha dan Ja mewakili agama Jawa. Nampaknya sintesa itulah yang ditiru oleh politikus besar di Indonesia akhir dekade 1950-an dulu, yaitu Nasakom.

Dengan munculnya Islam sebagai agama mayoritas baru, banyak pengikut agama Hindu, Budha dan Animisme melakukan perlawanan secara tidak terang-terangan (sembunyi-sembunyi). Mereka lalu membuat berbagai cerita, misalnya Gatholoco, Darmogandhul, Wali Wolu Wolak-walik, Syekh Bela Belu, dan yang paling terkenal adalah Syekh Siti Jenar. Untuk yang terakhir itu kebetulan dapat di domplengkan kepada salah satu anggota wali songo yang terkenal, yaitu Sunan Kalijogo seperti yang telah disebutkan dimuka. Jadi Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya sebuah gerakan anti reformasi, anti perubahan dari Hindu-Budha-Jawa ke Islam.

Oleh karena itu isi gerakan itu selalu sinis terhadap ajaran Islam, dan hanya mengambil potongan-potongan ajarannya yang secara sepintas nampak tidak masuk akal. Potongan-potongan ini banyak sekali disitir oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan tanpa tela’ah (analisis) yang didasarkan pada dua hal, yaitu logika dan aqidah.

Pernyataan-Pernyataan

Masalah pernyataan yang dibuat oleh penulis buku ini (Dr. Abdul Munir Mulkhan) telah saya singgung dimuka. Banyak sekali pernyataan yang saya sebagai muslim ngeri membacanya, karena buku ini ditulis juga oleh seorang muslim, malah salah seorang tokoh organisasi Islam di Indonesia (Muhammadiyah). Misalnya pernyataan yang menyebutkan “ngurusi Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan semakin tidak manusiawi, kelompok syariah yang dibenturkan dengan kelompok sufi, orang beragama yang mengutamakan formalitas, dan sebagainya”. Setahu saya dulu pernyataan seperti itu memang banyak diucapkan oleh orang-orang dari gerakan anti Islam, termasuk orang-orang dari Partai Komunis Indonesia yang pernah menggelar kethoprak dengan lakon “Patine Gusti Allah” (matinya gusti Allah) di daerah Magelang pada tahun 1965-an awal. Bahkan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa syahadat, sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji itu tidak perlu. Yang penting berbuat baik untuk kemanusiaan. Ini jelas pendapat para penganut agama Jawa yang sedih karena pengaruhnya terdesak oleh Islam. Rasulallah SAW juga tidak mengajarkan pelaksanaan ibadah hanya secara formalistik dan secara ritual saja. Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk berbuat baik, karena kehidupan muslim harus memenuhi dua aspek, yaitu Hablumminallah wa hablum minannas (hubungan mahluk dengan Allah dan hubungan mahluk dengan sesamanya)

Di dalam buku, seperti saya sebutkan, hendaknya pernyataan disusun sedemikian rupa untuk membangun sebuah misi atau pengertian. Apa sebenarnya misi yang akan dilakukan oleh Dr. Abdul Munir Mulkhan dengan menulis buku Syekh Siti Jenar itu. Buku ini juga dengan jelas menyiratkan kepada pembaca bahwa mempelajari ajaran Syekh Siti Jenar itu lebih baik dibandingkan mempelajari Fiqih atau ilmu agama lainnya. Islam tidak mengkotak-kotakkan antara Fiqih, Sufi dan sebagainya. Islam adalah satu, yang karena begitu kompleknya maka orang harus belajar secara bertahap. Belajar tauhid merupakan tahap awal untuk mengenal Islam.

Penulis (Dr. Abdul Munir Mulkhan) juga membuat pernyataan tentang mengkaji Al-Qur’an : “Bukan hanya orang Islam dan orang yang tahu bahasa Arab saja yang boleh mempelajari Al-Qur’an”. Disini nampaknya Dr. Abdul Munir Mulkhan lupa bahwa untuk belajar Al-Qur’an ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu muttaqien (Al-Baqoroh ayat 2) dan tahu penjelasannya, yang sebagian telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi sebenarnya boleh saja siapapun mengkaji Al-Qur’an, tetapi tentu tidak boleh semaunya sendiri, tanpa melewati dua rambu penting itu. Oleh karena itu saya mengajak kepada siapapun, apalagi yang beragama Islam, untuk belajar Al-Qur’an yang memenuhi kedua syarat tersebut. Jangan belajar Al-Qur’an kepada pengikut ajaran Syekh Siti Jenar, karena pasti akan tersesat sebab Syekh Siti Jenar adalah Gerakan untuk Melawan Islam.

Catatan Kecil

Untuk mengakhiri tanggapan saya, saya sampaikan beberapa catatan kecil pada buku Syekh Siti Jenar Karya Abdul Munir Mulkhan ini :

1) Banyak kalimat yang tidak sempurna, tidak mempunyai subyek misalnya. Juga banyak kalimat yang didahului dengan kata sambung.
2) Banyak pernyataan yang terlalu sering diulang-ulang sehingga terkesan mengacaukan sistematika penulisan.
3) Bab 1 diakhiri dengan daftar kepustakaan, bab lain tidak, dan buku ini ditutup dengan Sumber Pustaka. Yang tercantum didalam Daftar kepustakaan Bab 1 hampir sama dengan yang tercantum dalam sumber pustaka.
4) Cara mensitir penulis tidak konsisten, contoh dapat dilihat pada halaman 2 yang menyebut : ……….. sejarah Islam (Madjid, Khazanah, 1984), dan di alinea berikutnya tertulis : …….. Menurut Nurcholis Madjid (Khazanah, 1984, hlm 33).
5) Pada bab 4, seperti diakui oleh penulis, merupakan terjemahan buku karya Raden Sosrowardoyo yang pernah ditulis didalam buku dengan judul hampir sama oleh penulis. Di dalam buku ini, bab tersebut mengambil hampir separoh buku (halaman 179-310). Karena pernah ditulis, sebenarnya di sini tidak perlu ditulis lagi melainkan cukup disitir saja.

Beberapa catatan lain memang kecil, tetapi patut disayangkan untuk sebuah karya dari seorang pemegang gelar akademik tertinggi, Doktor !.

Demikianlah tanggapan saya, kurang lebihnya mohon dima’afkan. Semoga yang saya lakukan berguna berwasiat-wasiatan (saling menasehati) didalam kebenaran sesuai dengan perintah Allah Subhanahuwata’ala dalam Surat Al-‘Ashar. Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi wabarookaatuh.


#58 Pundang

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 58 posts
Click to view battle stats

Posted 24 January 2008 - 03:30 PM

nah karena itu, apakah syekh siti jenar itu benar adanya? dan apakah pandangan kawan-kawan mengenai hal tesebut

#59 The Bandits

    Il Capitano

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 455 posts
Click to view battle stats

Posted 27 January 2008 - 08:41 PM

QUOTE (Sir Bilungakoe @ Jun 17 2007, 07:25 AM) <{POST_SNAPBACK}>
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa yang sangat kontroversial di Jawa, Indonesia. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya, di masyarakat, terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran - ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.

Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang bertentangan dengan cara hidup Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.

Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma'rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syech Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syech. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syech Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan 'syariat'. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap 'hakekat' dan bahkan 'ma'rifat'kepada Allah (kecintaan yang sangat kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata 'SESAT'.

Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.

Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.

Dan dalam ajarannya, 'Manunggaling Kawula Gusti' adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang penciptaan manusia ("Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)"). Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.

Perbedaan penafsiran ayat Al Qur'an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham 'Manunggaling Kawula Gusti'.

Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.

Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.

Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.

Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.

Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh para muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.

Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang, Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.

(sumber : Wikipedia Indonesia)

----

Notes :

Waduh gw belum ngerti banyak tentah Syekh Siti Jenar .... tetapi pandangan sufinya yang berani dan sikap konsistennya cukup menarik untuk dipelajari ya ....

Pandangan kaum sufi yang cenderung menabrak aturan formal (syariat) dan melaju menuju ke kalbu hakikat memang terkadang membuat gerah kaum yang sedang memegang kuasa. Saya yakin bahwa para wali (walisongo) bukanlah orang-orang yang suka membunuh atas nama agama ... tetapi saya yakin mereka terdesak oleh tabrakan antara KEBEBASAN kaum sufi a la Syekh Siti Jenar yang mengabaikan tatanan ... dengan keinginan para Wali untuk menegakkan hukum Islam di Demak.

Barangkali adalah tugas para pemikir muda seperti yang ada di warga BlueFame ini untuk mengkaji bagaimana mempertemukan kebebasan pribadi dalam olah pikir, olah rasa dan olah karsa yang mendalam dengan tatanan yang rapi dan teratur.

Kaum sufi memang bisa menjadi kontra-produktif terhadap negara ketika mereka mengabaikan semua perangkat aturan formal .... tetapi bukankah mereka patut dihargai dalam kebebasan yang memang memanusiakan-manusia. Dan biasanya penalaran dan pemahaman mereka terhadap keadaan alam sangat tajam ... istilahnya "ilmu titen" (sense of crisis-nya tinggi).

Kaum fungsional dalam agama memang juga bisa menjadi kontra-produktif terhadap perkembangan manusia ketika mereka atas nama tatanan mengeliminasi semua perbedaan. Ketidak mampuan membuka diri terhadap hakikat, karena terlalu sibuk dalam hal aturan formal akan membuat peradaban manusia berhenti (mandeg) dan dengan demikian akan musnah oleh peradaban lain yang terbuka. Lihat saja buku Pramoedya yang berjudul "Arus Balik" ... bagaimana bangsa nusantara (sisa-sisa majapahit) yang hebat ditaklukkan oleh portugis karena kekolotan tatanan yang ada.

Nah bisakah kita temukan formula JALAN TENGAH ? Thinking.gif
Selamat berpikir BigGrin.gif


klo kita cari jalan tengah, dari konteks mana kita akan mulai. Apakah dimulai dari jalan Sufi ato Syariat..Karna sebetulnya antara Syariat, Thoriqot, Hakekat, Ma'rifat adalah Sejalan krn sumbernya dari Nabi..nah skg tergantung kemampuan kita masing - masing..sudah dimanakah kita?...Persoalan Sang Syekh pada waktu itu bukan hanya persoalan sufi atopun ungkapan2 sufi belaka tapi banyak salah satunya Politik...nah ini biangnya karna sang guru ( Syekh Siti Jenar ) sudah tentu tidak mengajarkan Politik..Bagamana dengan muridnya yg punya latar belakang kekuasaan ( Politik )?...(silahkan cari literatur - literatur sejarah lainnya )
Intinya kita harus faham sikon pada masa itu..
Dan menurut gw jalan sufi adalah jalan tercepat untuk mengenal Tuhan ( Tauhid ).

menurut gw gitu..


#60 The Bandits

    Il Capitano

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 455 posts
Click to view battle stats

Posted 27 January 2008 - 09:27 PM

QUOTE (meyda @ Jan 24 2008, 12:00 PM) <{POST_SNAPBACK}>
1. Kata Tasawuf sekali pun tidak pernah disebut di dalam Al Qur'an dan Hadits yang sahih. Bukankah jika Tasawuf itu begitu penting dalam Islam tentu Allah dan Rasulnya akan memerintahkan manusia untuk belajar Tasawuf? Tidak mungkin Nabi yang bersifat "Balligh" (menyampaikan) menyembunyikan perintah Allah bukan?


Sebaliknya Nabi berkata bahwa setiap hal yang baru/diada-adakan (di bidang agama) adalah bid'ah dan sesat:

"Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ,dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap bid'ah adalah tersesat" ( H.R Muslim ) .

Allah mengatakan agama Islam sudah sempurna. Jadi tak perlu lagi ditambah bid'ah seperti Tasawuf:

"…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…." [Al Maa-idah:3]


Istilah tasawuf memang tidak ada di Al-Qur'an maupun Hadist..akan tetapi prakteknya ada sejak jaman Rasulullah S.A.W , Sahabat hingga skarang. Dan dianjurkan sekali di Al-Qur'an maupun Hadist..(silahkan cari di Al-Qur'an maupun Hadist ato lebih cepet datang ke Mursyid ( guru ) gw sarankan belajar dulu dari thoriqot Naqsabandiah ). Dan disini kita hanya mempersoalkan istilah bagamana dengan ajaran maupun praktek?..Perlu anda pelajari

Praktek - praktek maupun ajaran tasawwuf / sufi bukanlah hal baru ( silahkan cari literatur2 lainnya / di Al-Qur'an maupun Hadist ato kitab2 pendukung lainya ) berarti bukan bid'ah

Islam memang agama sempurna..Islam bukan agama baru tetapi peyempurna agama -agama terdahulu ( ada dalilnya silahkan cari ) Karna Islam adalah Rahmat bagi alam semesta...klo dijelaskan disini panjang skali


#61 Chi Boy

    Elite Ingusan

  • Elite Member
  • 1,180 posts
Click to view battle stats

Posted 29 January 2008 - 08:41 PM

QUOTE (dennyamz @ Jun 21 2007, 08:05 PM) <{POST_SNAPBACK}>
dalam tahapan hakikat : AGAMA ADALAH AMAL,TIDAK ADA CERITA
Jadi semua cerita wali songo , sitijenar dll , semua bisa dibuktikan oleh SETIAP priBAdi yang belajar
BARANG SIAPA MENCARI TUHANNYA, MAKA AKAN TERBUKA BAGINYA JALAN...
SESUNGGUHNYA TUJUAN ILMU SUFI ADALAH BAGAIMANA MANUSIA BISA BERDIALOG DENGAN TUHANNYA
SECARA NYATA,
Cerita wali songo dll merupakan hasil dr pendekatan mereka pd Tuhannya
NAH SELANJUTNYA sudahkah anda menemukan hasil anda dalam beragama selama ini ??, hasil tiap orang yg belajar akan berbeda tp ada kesamaan .................


Betul Skali Bro

Intinya Semesta Yang nota bene Ciptaan Tuhan akan kembali kepadaNYA

#62 pejalan

    Anak Ingusan

  • Members
  • Pip
  • 17 posts
Click to view battle stats

Posted 06 February 2008 - 02:49 AM

manunggaling kawula gusti intinya kan sesat,....masa sih qta bersatu ma Sang Pencipta,..ra beres,...cuma sekedar pemikiran gak ada kerjaan ,...eh para jin langsung iut bantuin

#63 ikancupang

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 56 posts
Click to view battle stats

Posted 22 March 2008 - 10:52 AM

nice post......

sori yah gwah ikut nimbrung ( JUST SHARING yah....)

menurut gw konsep keTuhanan yg diajarkan oleh Seh Siti Jenar pada dasarnya adalah suatu kebenaran. Intinya, Manusia dengan Tuhannya adalah suatu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan ( I BELIEVE That). cuman ada satu hal yang pada saat itu menjadi pertentangan dengan para Wali, karena Beliau ( Syech Siti Jenar /SSJ) mengajarkan ilmu tingkat tinggi ini kepada siapapun tanpa memandang dasar pengikutnya. Hal ini juga tidak bisa disalahkan karena Ilmu Muhammad adalah HAK setiap INSAN. tapi, tidak semua manusia DAPAT mencapai tingkatan ini. tetap harus melalui proses dari dasar. mengapa? karena manusia adalah makhluk yang mempunyai JASAD. jadi, otomatis yg namanya SYARIAT adalah suatu keharusan. tidak mungkin seseorang ( MUKMIN sekalipun) bisa langsung MAKRIFAT. kecuali manusia tertentu yang diridloi dan diberkahi ALLAH SWT.

hal inilah yang ditentang oleh Wali Songo. mengajarkan Ilmu Ketuhanan tingkat tinggi ke sembarang orang. Bahkan Sunan Kalijogo sendiri sampai dibawa ke tengah Danau oleh Sunan Giri Hanya untuk menurunkan rahasia ini.

ada yg bertanya, dimanakah TUHAN itu? apakah dilangit? di bumi? ato ada dimana-mana?...menurut gwa, ALLAH ada bersama AKU, seperti AIR dan Gelombangnya........

AKU berasal dari TUHANKU, dan UMATKU berasal daripada AKU.......

Belajar mengenai diri adalah belajar tentang Ilmu MUHAMMAD, karena dari dialah AKU berasal....

Belajar Ilmu ALLAH adalah seperti menaiki Bahtera yang berlayar tak berketepian....

Belajar Ilmu MUHAMMAD adalah TUJUAN HIDUP yang sesungguhnya... crying_anim.gif

untuk bro BF-er semuah ( yang MUSLIM & MUKMIN), marilah kita Bershalawat atas Jungjungan Nabi Kita, Nabi Besar Muahmmad SAW...semoga Beliau selalu memberikan Safaatnya bagi kita di dunia dan di akhirat besok..amien....

#64 marbun

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 847 posts
Click to view battle stats

Posted 23 March 2008 - 12:28 PM

siti siti.....ga ada habisnya nih, siti yang satu ini..................

#65 bantaisapi

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 45 posts
Click to view battle stats

Posted 23 March 2008 - 03:11 PM

wedew...
luengkap
wajib bukmark

#66 kadalmania

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 804 posts
Click to view battle stats

Posted 23 March 2008 - 04:12 PM

bahasanya ketinggian neh...
tp bwat nambah2 elmu ga papa deh

#67 williamzblue

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 306 posts
Click to view battle stats

Posted 26 March 2008 - 05:10 AM

QUOTE (pejalan @ Feb 6 2008, 02:49 AM) <{POST_SNAPBACK}>
manunggaling kawula gusti intinya kan sesat,....masa sih qta bersatu ma Sang Pencipta,..ra beres,...cuma sekedar pemikiran gak ada kerjaan ,...eh para jin langsung iut bantuin


sesat? bisa ya bisa tidak! dalam membahas manunggaling kawula gusti jarak antara sesat dan tidak sangat tipis sekali, dan sangat sering jin maupun setan bermain disana. Manuggaling kawula gusti tidak ada salahnya kita terjemahkan menjadi kembalinya (kesadaran sempurna) secara utuh hamba kepada Tuhannya, dalam konteks masih di dunia, dan disaat itu kedirian (ke aku an hilang menjadi ke AKU an). Karena pada prinsipnya ke aku an atau kedirian seseorang atau mm.. bahasa lain adalah ruh adalah rahasia besar dan <b>bagian<b> dari ke Tuhan an. Titik awal pelajaran adalah pertanyaan dimanakah aku ketika tidur? Padahal pada posisi tidur tersebut kedirian seseorang mendekati limit hilang, sehingga kadang untuk orang orang yg berhati bersih dapat menangkap tanda tanda kebesaran Tuhan tentang apa yang akan terjadi.

Yang sering kali tanpa kita sadari, kita sering meng AKU - aku. atau merasa bisa, merasa memiliki. Contoh: ini mobil(?)ku, padahal kita punya mobil karena Tuhan mengijinkan, tetapi orang tersebut merasa memiliki bahkan terkadang cenderung berlebihan dan berakibat kesombongan.

Apabila kita sudah bisa membedakan atau menghilangkan ke aku an disaat itu kita akan menembus ke dalam dunia Engkau. Karena Engkau ya Allah aku bisa punya mobil, atau karena Engkau ya Allah aku bisa bla bla bla.. disini kesadaran akan posisi antara mahluk dan Tuhan mulai jelas. Oleh karena itu, para sufi jarang sekali mengaku aku, apalagi memfonis kamu .. bla bla bla.. nah disaat ke aku an yg dilatih mendekati kesempurnaan, dan hilang maka atas seijin Tuhannya maka AKU akan muncul, dan kadang kadang itu hanya sesaat! yang kadang ditunjukkan dengan hal hal yang keluar dari kebiasaan atau bahkan luar biasa. Akan tetapi jangan tertipu oleh fenomena ini. karena atas bantuan jin dan setan pun hal yg luar biasa bisa timbul atau kadang sering disebut dg sihir. keikhlasan para sufi dalam beribadah jelas sangat berbeda dg orang yang baru mengenal agama. karena penekanan ibadah para sufi adalah karena Engkau. sehingga ego personalnya hilang atau berkurang.

disinilah beda dari ketinggian ibadah dengan ketekunan ibadah (kwalitas dan kwantitas).

karena kesadaran tentang posisi aku dan Tuhannya begitu tinggi maka tidak heran bahwa doa orang itu dikabulkan oleh Tuhannya yg kadang tidak masuk akal sekalipun. Dan para nabi sendiri karena mereka orang pilihan dan dekat dengan Tuhannya maka mereka dapat menunjukkan sesuatu yg tidak masuk akal termasuk menyampaikan tentang hal yang akan terjadi namun bukan dalam bentuk ramalan. banyak sekali perkataan perkataan para nabi yang diluar wahyu yg mengatakan apa yg akan terjadi yg jelas jelas itu dari Tuhan, buka bisikan setan atau jin.

manunggaling kawula Gusti bukannya seseorang menjadi Tuhan, selama kedirian mahluknya masih ada. dan itu harus dalam koridor kesadaran, karena kalo tidak yg ada adalah fenomena "kesurupan". Manunggaling kawula Gusti adalah kesadaran akan kedudukan aku dan Engkau dengan menekan ego ke aku an.

untuk ssj masalah yg muncul adalah masalah ibadah normatif yg menurut ceritanya tdak dikerjakan, dan itu perlu pembahasan tersendiri.

#68 ghetooman

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 453 posts
Click to view battle stats

Posted 26 March 2008 - 11:14 AM

@williamzblue: good explanation bro Applause.gif thumbsup_still.png
gw suka cara lu nge-jabarin nya. Gw sependapat ma lu soal inti dari ajaran "Manunggaling Kawula Gusti".

#69 israstamaniac

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 559 posts
Click to view battle stats

Posted 26 March 2008 - 12:57 PM

ga tau de sesat apa ga sesat tapi cara bro menjabarkan sangat lengkap dan pdat.....

#70 ikancupang

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 56 posts
Click to view battle stats

Posted 26 March 2008 - 01:28 PM

thumbsup_anim.gif Nice Post Bro...(mas @williamzblue....), mudah-mudahan tulisannya dapat menambah dan mempertebal keimanan kita kepada ALLAH SWT...Amien.. Praying.gif





#71 bocah_edan

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 248 posts
Click to view battle stats

Posted 07 April 2008 - 12:00 PM

Mungkin kalo loe baca bukunya Agus Mustofa yg judulnya TERPESONA DI SIDRATUL MUNTAHA lu bisa agak berfikir mengenai fahamnya Syekh Siti Jenar, ada sedikit persamaan persepsi. Tentang Manunggaling Kawulo Gusti, secara tidak langsung disitu dijelaskan secara ilmiah.


#72 inst369

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 204 posts
Click to view battle stats

Posted 07 April 2008 - 02:37 PM

Terimakasih infonya.
Menurut gw, tanpa bermaksud menghakimi syech siti jenar. rukun islam itu kan wajib bagi setiap orang yang mengakui islam sebagai agamanya.


#73 ipeh

    BlueFame ABG

  • Members
  • PipPip
  • 34 posts
Click to view battle stats

Posted 11 April 2008 - 11:45 PM

Terusin dong diskusinya... bagus kok. jadi banyak info yg kita2 dapet. thanx buat bro2 semua.. salut..

#74 sena909

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 98 posts
Click to view battle stats

Posted 05 June 2008 - 04:26 AM

sufi itu berat man , hati2 aja





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy