Jump to content



 

 

SEJARAH-SEJARAH di MINAHASA


7 replies to this topic

#1 darkcrow

    Art of the CrowS

  • Elite Member
  • 4,317 posts
Click to view battle stats

Posted 17 January 2011 - 05:54 PM

salam saudara se tanah air..
melalui thread ini gw mo ngenalin sejarah dan budaya dari suku-suku yang ada di Minahasa Sulawesi Utara
sorry klo post gw selanjutnya mungkin akan acak..

klo ada yang mo menambahkan tentang sejarah dan budaya dari Minahasa silahkan ditambahkan
and jangan lupa rules room sejarah!!

=====

tentang Minahasa

Mina = Menjadi, Esa = Satu
Tanah Minahasa dulunya disebut Tanah Malesung teletak di Pulau Sulawesi bagian Utara pada posisi 0 derajat 55’ sampai 1 derajat - 55’ Lintang Utara, dan 124 derajat – 20” bujur timur.
Luas tanah Minahasa sekitar 5.273 km persegi, termasuk didalamnya Kota Bitung, Kota Manado, Kota Kotamobagu dan Kota Tomohon.
Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kep. Sangihe-Talaud dan sebelah Selatan dengan Kabupaten Bolaang-Mangondouw, batas timur dengan laut Maluku, dan batas barat dengan Laut Sulawesi.


====


SEJARAH WATU PINAWETENGEN-MINAHASA



Posted Image



Oleh Danny Gerungan

Minahasa merupakan salah satu bagian dari wilayah Prov. Sulawesi Utara, dimana sebelum dinamakan Minahasa, wilayah ini dikenal dengan nama tanah MALESUNG.

Keadaan geografi tanah malesung terdiri dari pegunungan dataran tinggi serta bukit-bukit. Menurut sejarah pada tahun 1428 menunjukan bahwa penduduk tanah Malesung pemukimannya terpencar-pencar dan hidup berkelompok sehingga satu sama lain tidak bisa berkomunikasi terlebih tidak ada saling bantu membantu dalam hidup kebersamaan, hal ini sering terjadi dikala para penduduk ini mempertahankan wilayahnya dari serangan / pengacau yang datang seringkali gagal, demikian halnya pada saat mereka mengolah pertanian atau lebih sering pada saat berburu selalu terjadi pertentangan karena ada penduduk yang telah memasuki wilayah lain sehingga masing-masing saling mempertahankan wilayahnya.

Menyadari akan hal ini sering terjadi permasalahan maka oleh leluhur atau para tonaas tanah malesung mencari suatu tempat untuk diadakan pertemuan para pemimpin suku guna mencari solusi mengatasi masalah yang terjadi di tanah Malesung, dan setelah mereka mencari tempat maka didapatlah suatu tempat yang terletak disebuah bukit yang bernama bukit Tonderukan nama lokasi ini ditemukan oleh J.G.F. Riedel pada tahun 1881 yang berdasarkan ceritera rakyat disebut “ Watu Rerumeran ne Empung “ atau batu batu tempat para leluhur berunding yang mana disitu terdapat sebuah batu besar dan ditempat inilah berkumpul para pemimpin sub etnis Tou Malesung berikrar untuk menjadi sastu yakni menjadi satu Tou Minahasa sebuah kata yang berarti “ Mina “ (menjadi), “ Esa “ (satu) dalam perkembangannya sehingga tercetuslah menjadi MINAHASA.

Watu Pinawetengan dalam sejarah sampai saat ini banyak penafsiran-penafsiran yang timbul melalui penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti yang antaranya mengataka bahwa Watu Pinawetengan itu adalah :

1. Tempat pertemuan para pemimpin Sub Etnis Minahasa untuk membagi-bagi Wilayah dan bahasa masing-masing etnis
2. Sebagai tempat pertemuan para pemimpin sub Etnis untuk bermusyawarah menjadikan tanah Minahasa
3. Sebagai tempat berunding para leluhur
4. Tempat berikrar untuk bersatu melawan gangguan dari luar seperti Tasikela (Spanyol) dll.

Melihat beberapa pandangan tentang pengertian dan fungsi Watu Pinawetengan maka dapat disimpulkan bahwa Watu Pinawetengan merupakan suatu tempat berunding para pemimpin sub etnik yang ada di Minahasa untuk berikrar bahwa sub etnik di Minahasa walaupun hidup berkelompok tapi berstu untuk menghalau para pengacau dari luar serta membangun wilayah-wilayah yang ada di Minahasa yang ditandai dengan coretan-coretan yang ada diatas patu tersebut..

Watu Pinawetengan sampai saat ini tidak akan dilupakan oleh Tou Minahasa baik yang tinggal di Minahasa maupun yang di luar Minahasa karena tempat ini merupakan legenda hidup masyarakat Minahasa yang memiliki nilai sacral sehingga tidak akan hilang dari hati Tou Minahasa.

Pakatuan Wo Pakalawiren

source : http://maengket.blog...n-minahasa.html


_DC_

#2 darkcrow

    Art of the CrowS

  • Elite Member
  • 4,317 posts
Click to view battle stats

Posted 18 January 2011 - 08:54 PM

Sejarah Waruga



Posted Image



Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.
[sunting] Sejarah

Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah. Baru sekitar abad IX Suku Minahasa mulai menggunakan waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga.

Kemudian di tahun 1870, Suku Minahasa mulai membuat peti mati sebagai pengganti waruga, karena waktu itu mulai berjangkit berbagai penyakit, di antaranya penyakit tipus dan kolera. Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Bersamaan dengan itu pula, agama Kristen mengharuskan mayat dikubur di dalam tanah mulai menyebar di Minahasa. Waruga yang memiliki ukiran dan relief umumnya terdapat di Tonsea. Ukiran dan relief tersebut menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di waruga yang bersangkutan sekaligus menggambarkan mata pencarian atau pekerjaan orang tersebut semasa hidup.

Di Minahasa bagian utara, pada awalnya waruga-waruga yang ada tersebar yang akhirnya dikumpulkan pada satu tempat. Saat ini waruga yang tersebar tersebut dikumpulkan di Desa Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara, yaitu sebuah desa yang terletak di antara Tondano (ibukota Kabupaten Minahasa) dengan Airmadidi (ibukota Kabupaten Minahasa Utara). Kini lokasi waruga-waruga di Desa Sawangan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Sulawesi Utara.

source : http://id.wikipedia.org/wiki/Waruga

=====

Megalit Minahasa



Oleh: Santoso Sugondo
Pasal 2: Waruga

Posted Image



Waruga Airmadidi

Waruga Sawangan
Waruga adalah istilah lokal untuk tinggalan megalit yang termasuk dalam jenis peti kubur batu di Minahasa. Benda ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian badan dan bagian tutup.Kedua bagian ini masing-masing terbuat dari sebuah batu utuh (monolith), umumnya berbentuk kotak segiempat (kubus) untuk bagian badannya dan hanya sedikit yang berbentuk segidelapan atau bulat. Selain itu, bagian tutupnya menyerupai atap rumah.

Posted Image



Isi Waruga
Waruga ini berfungsi sebagai wadah kubur bagi orang yang meninggal di dalam satu keluarga. Setiap waruga diperkirakan dipakai menguburkan beberapa orang dari anggota keluarga yang meninggal. Di dalam waruga biasanya ditemukan tulang-tulang manusia yang berasosiasi dengan benda lain seperti : keramik cina, perhiasan dan alat-alat logam, serta manik-manik. Tulang-tulang tersebut merupakan sisa-sisa tulang manusia yang pernah dikubur dengan disertai bekal kuburnya yang terdiri atas : piring, mangkuk, dan jenis-jenis keramik lainnya, gelang perunggu, kalung perunggu, pisau perunggu, parang perunggu, manik-manik, dan lain sebagainya.

Kebanyakan waruga dihiasi baik bagian wadah maupun bagian tutupnya. Adapun jenis-jenis hiasannya terdiri atas motif manusia, motif tumbuhan yang distilir (sulur-suluran), motif geometri (garis-garis, segitiga dan lain-lain), motif binatang dan lain sebagainya. Hiasan yang cukup menarik dari waruga ialah manusia kangkang dan manusia yang sedang melahirkan. Di antara waruga ada yang berukuran cukup besar yaitu : tinggi wadah 1,5 m, lebar wadah 1 m, dan tinggi tutup 1,45 m, sehingga tinggi keseluruhan mencapai hampir 3 meter. Peti kubur batu yang disebut waruga di Minahasa secara keseluruhan mencapai jumlah 1335 buah.

Posted Image



Waruga di Desa Kawangkoan
Waruga di Minahasa tersebar hampir di semua Wilayah Kerja Daerah Tingkat II Kabupaten Minahasa yaitu : Wilayah Kerja Tonsea, Tomohon, Tolour, Kawengkoan, dan Amurang. Di Wilayah Kerja Tonsea, waruga ditemukan di Desa Kokoleh, Likupang, Wangurer, dan Batu yang semuanya termasuk ke dalam Kecamatan Likupang; di Desa Matungkas, Paniki Atas, Paniki Bawah , dan Tatelu di Kecamatan Dimembe; di Desa Airmadidi Bawah, Sawangan, Kawengkoan, Kolongan, Tanggari, Kuwil, dan Di Maumbi di Kecamatan Airmadidi; di Desa Kasar, Tumaluntung, dan Kema di Kecamatan Kauditan. Waruga juga ditemukan di Wilayah Kerja

Posted Image



Waruga Sawangan
Kawangkoan yaitu : di Desa Palamba, Winubetan, Nimawale, dan Tompaso di Kecamatan Langowan; serta di Desa Kaneyan di Kecamatan Tareran; demikian juga di Desa kiawa, Kayuuwi, Kanonang, Talikuran dan Uner di Kecamatan Kawangkoan; selain itu di Wilayah Kerja ini waruga ditemukan dim Kecamatan Sonder.

Posted ImagePosted Image



Waruga di
Desa Kawangkoan
Di Wilayah Kerja Tolour waruga ditemukan di Desa Nimawale dan Koya di Kecamatan Tondano, serta di Desa Kakas di Kecamatan kakas. Waruga di Wilayah Kerja Tomohon ditemukan di Desa Kakas kasen, Woloan, Tara-Tara, Kayawu, Matani, Kolongan dan di Lansot di Kecamatan Tomohon, serta di Desa Lolah dan Ranowangko di Kecamatan Tombariri. Di Wilayah Kerja Amurang waruga ditemukan antara lain di Desa Lelema, Popontolen, Popareng dan tumpaan di Kecamatan Tumpaan; serta di desa Rumoong Bawah di Kecamatan Tombasian, dan di desa Radey, di Kecamatan Tenga.

source : http://www.theminaha...galithid02.html


_DC_

Edited by darkcrow, 18 January 2011 - 08:56 PM.


#3 darkcrow

    Art of the CrowS

  • Elite Member
  • 4,317 posts
Click to view battle stats

Posted 18 January 2011 - 11:14 PM

source = file:///D:/N/masyarakat%20minahasa%20kuno.htm

Masyarakat Minahasa Kuno



Oleh: Ramly Siwi, USA

Posted Image



Awu dan Taranak

Posted Image


Rumah Adat Minahasa



Keluarga batih sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat Minahasa di sebut Awu. Istilah itu sebenarnya berarti abu, juga di pakai dalam arti dapur. Sampai sekarang di Minahasa masih banyak di dapati tempat masak terbuat dari kayu atau bambu di isi dengan tanah atau abu.

Dalam hubungan masyarakat, istilah Awu dipakai dalam keluarga batih (rumah tangga) dan di pergunakan banyaknya penduduk di satu kampung. Dalam masyarakat Minahasa kuno sedapatnya seluruh keluarga baik yang sudah menikah atau belum tinggal di satu rumah besar berbentuk bangsal yang di dirikan di atas tiang tiang tinggi. Bangunan di atas tiang tinggi itu erat hubungannya dengan keamanan.

Dalam kunjungan Prof. Reinwardt tahun 1821 ke Tondano dia masih melihat rumah rumah yang tiang tiangnya sekitar dua pelukan orang dewasa. Kemudian laporan Dr. Bleeker pada tahun 1855 menulis bahwa kampung kampung di Minahasa di bangun di atas tiang tiang tinggi dan besar, dan di huni oleh empat keluarga bersama sama.

Menurut ketentuan adat, bila seorang anggota keluarga yang sudah dewasa membentuk rumah tangga baru, maka rumah tangga baru itu mendapat ruangan tersendiri di keluarga pria atau wanita. Ruangan terpisah itu dilengkapi dengan satu tempat masak sendiri, yang berarti yang menempatinya telah berdiri sendiri. Ruangan tempat masak itulah yang di sebut awu. Awu akhirnya di artikan sebagai rumah tangga. Karna itu pulalah orang yang sudah menikah saling menyebut Ka Awu (Ka = teman, kakak).
Anggota Awu terdiri dari ayah, ibu, dan anak anak.

Posted Image


Tondano sebelum 1880 © Het Geheugen van Nederland



Sebagai kepala dari Awu bertindak si Ama (ayah) dan bila ia meninggal dunia maka si Ina (ibu) yang menggantikannya. Beradanya fungsi kepala di sini dalam tangan sang ayah bukan berarti kekuasaan mutlak pengaturan rumah tangga berada di tangannya. Kepala di sini lebih dititik beratkan pada arti adanya rumah tangga dan kewajiban membela rumah tangga terhadap serangan dari luar. Dalam ketentuan adat untuk pengurusan rumah tangga si Ama dan Ina wajib bermusyawarah untuk mengambil keputusan dan menentukan kebijakan.

Dari perkawinan terbentuklah keluarga besar yang meliputi beberapa bangsal. Menurut kebiasaan, pembangunan bangsal baru harus berdekatan dengan bangsal lama. Hal ini menyangkut pengurusan kepentingan bersama, keamanan, dan masalah lahan pertanian bersama. Kompleks bangsal bangsal ini yang di huni oleh penduduk yang berhubungan kekeluargaan di namakan Taranak. Pimpinan Taranak di pegang oleh Ama dari keluarga cikal bakal yang di sebut Tu'ur. Tugas utama Tu'ur adalah melestarikan ketentuan ketentuan adat, meliputi hubungan antar Awu, mengatur cara cara mengerjakan lahan pertanian yang di miliki bersama, mengatur perkawinan anggota anggota Taranak, hubungan antar Awu dan Taranak sampai dengan mengadili dan menghukum anggota anggota yang bersalah. Tetapi apapun yang dikerjakannya bila hal itu menyangkut keamanan dan prestise Taranak, ia senantiasa minta pendapat dari para anggota Taranak, karena hal itu juga menjadi ketentuan adat.

Berlainan dengan di tingkat Awu yang mana pengurus berada dalam tangan Ama dan Ina bersama sama, pada tingkat Taranak peranan si Ina tidak terlalu menonjol.

Taranak, Roong / Wanua, Walak

Perkawinan perkawinan antara anggota Taranak membentuk Taranak Taranak baru. Bangsal bangsal mulai bertumbuh berkelompok, membentuk kompleks yang semakin luas . Batas penentuan sesuatu Taranak sebagai satu masyarakat hukum mulai menjadi kabur, dan arti Taranak sebagai satu kesatuan menjadi lebih abstrak. Untuk itu sebagai alat identifikasi para penghuni kompleks bangsal, dipakailah kesatuan teritorial. Dengan kata lain fungsi identifikasi mulai bergeser dari bentuk hubungan darah ke bentuk pemukiman.

Posted Image


Pemilihan Ukung 1900



Akibat proses ini terciptalah kompleks bangsal bangsal dalam satu kesatuan yang di sebut Ro'ong atau Wanua. Wilayah hukum Wanua meliputi kompleks bangsal itu sendiri dan wilayah pertanian dan perburuan sekitarnya yang merupakan milik bersama para penghuni Ro'ong atau Wanua itu. Pemimpin Ro'ong atau Wanua disebut Ukung yang berarti kepala atau pimpinan. Untuk pengurusan wilayah, Ro'ong atau Wanua di bagi dalam beberapa bagian yang disebut Lukar. Pada mulanya Lukar ini dititik beratkan pada keamanan sehingga akhirnya Lukar di ganti menjadi Jaga.

Sampai kini di sebagian tempat di Minahasa masih di pakai kata Lukar dalam arti orang orang yang melakukan keamanan di kampung atau di rumah dari lurah.

Para Ukung juga mempunyai pembantu yang di sebut Meweteng. Tugas mereka mulanya membantu Ukung untuk mengatur pembagian kerja dan pembagian hasil dari Ro'ong / Wanua. Pembagian ini sesuai dengan yang sudah disepakati bersama.

Selain itu pula ada pembantu Ukung yang berfungsi sebagai penasihat, terutama dalam hal hal yang sulit dalam masalah adat. Penasihat penasihat seperti ini adalah para tetua yang dihormati dan disegani yang dianggap bijaksana, tidak mempunyai cacat dan dapat dijadikan contoh di dalam Wanua, yang di namakan Pa Tu'usan (yang dapat dijadikan contoh).

Ro'ong / Wanua bertambah dari waktu ke waktu menjadi beberapa Wanua tertentu yang akhirnya disebut Walak.

Paesa In Deken

Posted Image
Pemerang Manado 1880© Het Geheugen van Nederland



Para pemimpin Minahasa sejak berabad yang lalu mendasarkan keputusannya pada apa musyawarah atau Paesa in Deken (tempat mempersatukan pendapat). Dari nama itu jelas terlihat bahwa seluruh keputusan yang diambil merupakan hasil dari musyawarah.

Sekalipun demikian faktor dominan yang sering menentukan dalam pengambilan keputusan adalah pendapat dari sang pemimpin. Telah menjadi suatu kelaziman bahwa pada setiap akhir pengutaraan pendapatnya, sang pemimpin senantiasa selalu mengatakan: " Dai Kua?" (bukankah begitu?) dan hampir selalu jawaban dari anggota adalah: " Taintu" (memang begitu). Hal tersebut di dasarkan pada pemikiran bahwa pendapat dari pemimpin adalah pendapat dari sebagian besar dari para anggota.

Sudah menjadi ketentuan bahwa semua ketentuan yang di putuskan harus di ikuti walau pun tidak di setujui oleh sebagian anggota. Sanksi atas penolakan dari Paesa in Deken ini sangat berat, yaitu : pengucilan dari masyarakat . Hukuman ini sangat berat sebab tidak seorang pun dari Taranak yang menghiraukan nasib dari terhukum. Bila ia menjadi incaran musuh, ia tidak dapat mengharapkan untuk mendapatkan pertolongan dari siapapun juga. Ketentuan inilah yang merupakan kewibawaan dari pada para kepala/tu'a di Minahasa pada zaman dulu.

Namun, bila pemimpin bertindak tidak sesuai dengan ketentuan adat atau meresahkan masyarakat maka para anggota masyarakat dengan sekuat tenaga akan menjatuhkan mereka. Hal ini telah di demonstrasikan oleh rakyat Minahasa sewaktu menghadapi para kepala Walak. Atas tekanan rakyat, kompeni dengan segala kekuasaannya tunduk dan memberikan persetujuan penggantian kedudukan.

Pada tahun 1679 Padtbrugge menulis:

"Diluar musyawarah resmi yang dipimpin oleh para Ukung adapulah musyawarah musyawarah lain orang orang Minahasa. Dan keputusan keputusan hanya dapat di ambil berdasarkan suara terbanyak, tanpa memperhitungkan perbedaan dan pengecualian para peserta; dalam hal ini mereka tidak akan berubah, dan tidak ada satu kekuatan apapun didunia yang dapat menggeser mereka setapak saja, biarpun hal itu akan merugikan dan membawa kehancuran bagi mereka."

Yang di maksud adalah musyawarah yang diadakan di luar para Ukung, bila keputusan atau kebijaksanaan para Ukung yang di anggap oleh bagian terbesar anggota masyarakat bertentangan dengan ketentuan ketentuan, adat istiadat yang berlaku. Sumber kekerasan hati mereka untuk mempertahankan keputusan musyawarah adalah keyakinan, bahwa para dewa ada di pihak mereka. Dalam hal demikian para Ukung telah di anggap telah melanggar peraturan para dewa. Keputusan yang mereka ambil, dan yang telah dimeteraikan dengan sumpah, di artikan bahwa sesuatu yang telah diserahkan kepada dewa yang selalu disebut dalam sumpah itu, bukan sekedar memohon pertolongan.

Dengan demikian sekalipun Paesaan in Deken mengandung benih otoriterisme, dan memberi kesempatan pada seorang pemimpin untuk itu, musyawarah seperti ini (yang di adakan di luar otoritas para Ukung) merupakan peringatan kepada para Ukung untuk tidak menyalahi ketentuan ketentuan adat. Inilah unsur demokrasi yang pernah ada di Minahasa.

Selain itu di Minahasa tidak pernah ada pewarisan kedudukan seorang kepala, bila seorang Tu'ur in Taranak meninggal dunia para anggota Taranak baik wanita maupun pria yang sudah dewasa, akan mengadakan musyawarah untuk memilih seorang pemimpin baru. Dalam pemilihan yang menjadi sorotan adalah kualitas. Bila ada dua orang yang kualitasnya sama dan sebagai ucapan terima kasih kepada pemimpin itu semasa kepemimpinannya. Itu berarti sang ayah dalam masa kepemimpinannya semasa hidupnya adalah pemimpin yang baik.

Kriteria Kualitas yang di perlukan itu ada tiga ( Pa'eren Telu):

1. Ngaasan - Mempunyai otak; hal mana dia mempunyai keahlian mengurus Taranak atau Ro'ong.
2. Niatean - Mempunyai hati; mempunyai keberanian, ketekunan, keuletan menghadapi segala persoalan, sanggup merasakan apa yang dirasakan oleh angota lain.
3. Mawai - Mempunyai kekuatan dan dapat di andalkan ; seorang yang secara fisik dapat mengatasi keadaan apapun, sanggup menghadapi peperangan .

Dengan demikian, jelas tidak mudah untuk diakui dan dipilih sebagai pemimpin dalam masyarakat Minahasa di masa lampau. Juga jelas bahwa fungsi pemimpin di Minahasa tidak pernah terjadi karena warisan.

Dr. Riedel menulis:

"Di Minahasa, setiap orang dapat di panggil (dipilih) untuk menjalankan pemerintahan. Sesuai dengan adat istiadat di daerah ini, para Paendon Tua, di pilih oleh para Awu. "
Mapalus (tolong menolong)

Dalam Mapalus, prinsip yang sama kelihatan yang mana para wanita memikul cangkul, sekop dll. Ketentuan ini bukan berarti wanita mempunyai kedudukan lebih rendah akan tetapi kaum pria mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan rombongan Mapalus itu, dan mereka di haruskan membawa parang, tombak dan alat perang lainnya.

Ketentuan organisasi Mapalus ini di jalankan dengan ketat sama dengan ketentuan adat lainnya. Pada waktu pembentukan pimpinan (dalam bahasa tontemboan Kumeter), sesudah teripilih, pemimpin harus di cambuk oleh salah satu pimpinan di kampung dengan rotan, sambil mengucapkan "sebagaimana kerasnya aku mencambukmu begitu juga kerasnya kau harus mencambuk anggota yang malas dan pelanggar peraturan".

Dan ketentuan ini masih berlangsung sampai sekarang di beberapa daerah di Minahasa.

Arti Mapalus telah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Pada mulanya dalam masyarakat kuno, Mapalus masih mempunyai arti yang sama dengan gotong royong karena tanah pertanian masih milik bersama. Akan tetapi karena perkembangan masyarakat selanjutnya, dimana milik perorangan telah tercipta dan menonjol, maka arti Mapalus berubah menjadi tolong menolong. Seperti sekarang setiap anggota Mapalus berhak untuk mendapat bantuan dari anggota anggota lain sebagai jasa karena dia sudah membantu anggota lain dalam melakukan pekerjaan baik di sawah, ladang, rumah dll.

Quote

Perhatian:

Terbit di SulutLink. Kiriman Ramly Siwi, USA. Disadur dari sebuah buku tua yang telah kehilangan halaman judul dan penulis untuk dapat dipertanggungjawabkan. Menurut sumber sumber yang terpercaya, isi buku sangatlah konsisten dengan oral tradisi para orang-orang tua dulu yang diteruskan pada anak cucu yang masih hidup sekarang ini. Kalau ada yang mengetahui identitas buku yang termaksud, silahkan kontak redaksi SL: Redaksi SulutlinkRedaksi Sulutlinkatau Webmaster The MinahasaWebmaster The Minahasa



_DC_

#4 darkcrow

    Art of the CrowS

  • Elite Member
  • 4,317 posts
Click to view battle stats

Posted 19 January 2011 - 05:41 PM

Sejarah Garis Waktu - 1499



Disusun oleh: Roderick C. Wahr

Posted Image



(4 juta tahun SM)
Indonesia sudah ada sejak masa Pleistocene ketika dihubungkan dengan daratan Asia sekarang.

500.000 SM
Manusia Java (Homo Erectus) ditemukan di Jawa Timur.

Penduduk kepulauan Indonesia sebelumnya berasal dari India atau Burma.

3000 SM
Migrant (orang Malayu) datang dari Cina Selatan dan Indocina, dan mereka mulai mendiami kepulauan.

Posted Image


Batu di Watu Pinawetengan



670
Sulawesi Utara tidak pernah membangun kekaisaran besar.
Di Sulawesi Utara pemimpin-pemimpin dari suku-suku yang berbeda, yang sama sekali bebicara bahasa yang berbeda, bertemu di batu yang dikenal sebagai Watu Pinawetengan. Disana mereka mendirikan perhimpunan negara yang merdeka, yang akan membentuk satu kesatuan dan tinggal bersama dan akan memerangi musuh manapun dari luar jika mereka diserang.

800
Kekaisaran Budha Sriwijaya dan Kerajaan Hindu Mataram muncul di Jawa dan Sumatra.

900
Keberadaan peradaban kuno di Sulawesi Utara bisa jadi berasal dari adanya batu pertama sarcophagi yang disebut Waruga.

1200
Pedagang Muslim dari Gujarat dan Persia mulai mengunjungi Indonesia dan mendirikan hubungan perdagangan antara negara ini dan India dan Persia.
Sepanjang perdagangan, mereka menyebarkan agama Islam diantara orang Indonesia, terutama sepanjang daerah pantai Jawa, seperti Demak.

1292
Kaisar Cina memberangkatkan banyak espedisi barang rongsokan ke Malaka, Jawa dan Maluku pada tahun 1292 - 1293. Ekspedisi Cina tersebut dilakukan untuk berperang atau untuk maksud berdagang. Ketika berdagang, kapal layar barang rongsokan ini membawa porselen keramik ke Minahasa. Mereka membawa keramik-keramik tersebut untuk ditukarkan dengan beras.

1293
Permulaan Kerajaan Majapahit.

Posted Image
Waruga



1335
Sekarang pemimpin-pemimpin penting dari suku Minahasa dikubur di sarcophagi, nisan yang berdiri, yang dinamakan Waruga.

1380
Jalur perdagangan Cina diikuti oleh pedagang-pedagand dari Arab. Salah seorang pedagang dari Arab, Sharif Makdon, pada tahun 1380, melakukan perdagangan dari Ternate, Wenang (sekarang Manado) dan lalu ke Philipina Selatan. Selain berdagang, pedagang-pedagang dari Arab ini melakukan penyebaran agama Islam di antara suku Manarouw Mangindanouw.

#5 turboduck

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 104 posts
Click to view battle stats

Posted 20 January 2011 - 01:56 PM

Mantap banget nih tulisannya. Lengkap dan jadi 'eye opener'. Berkualitas lagi. Beda banget sama tetangga sebelah yang biasanya cuma copas lewat google translate dan jadinya acakadut bahasanya. Salut! :speak_cool:

#6 darkcrow

    Art of the CrowS

  • Elite Member
  • 4,317 posts
Click to view battle stats

Posted 20 January 2011 - 07:53 PM

turboduck.. ini juga copas kok.. huehehhe kan source'nya gw sertaiin :chaong:

=====

Sejarah Garis Waktu 1500 - 1522

1500
Pedagang-pedagang Muslim mempengaruhi dan mengubah kerajaan Hindu menjadi Islam, yang pertama adalah Sultan Demak. Sultan Muslim ini yang kemudian menyebarkan agama Islam ke arah barat Cirebon dan Banten, dan kearah timur sepanjang pantai utara Jawa sampai kerajaan Gresik.

Posted Image
Manado Tua© B & A Trutnau



1511
Pedro Alfonso, seorang pelaut Portugal menemukan Ternate. Orang Portugis tiba di Indonesia, setelah penakhlukan mereka terhadap Kekaisaran Islam Malaka. Kemudian disusul oleh kapal Spanyol. Keduanya mulai menyebarkan agama Kristen dan yang paling berhasil adalah di Minahasa/Sulawesi Utara dan Maluku, yang juga dikenal sebagai Moluccas. Tetapi, tidak sampai kedatangan Belanda bahwa Kristen menjadi agama utama di Sulawesi Utara.
D'Abulquergue, pemimpin kapal-kapal Portugis membuka jalur laut menuju gugusan kepulauan Maluku.


Posted Image
Teluk di Manado



1512
Armada perdagangan Portugis secara resmi mengirim Antonio de Abreu ke Maluku. Pada tahun tersebut Portugis juga mengirimkan tiga kapal layar ke Manarow (Pulau Manado Tua). Dari pulau tersebut orang Portugis memina pertolongan dari suku Babontehu untuk memperkenalkan mereka kepada kepala Walak Wenang, Dotu Ruru-Ares. Orang Portugis sudah melihat banyak kapal barang rongsokan Cina di Teluk Manado. Selain itu, dari pelaut-pelaut Cina orang Portugis memperoleh lokasi Macao (dan kemudian ditemukan pada tahun 1523).

1518
Maksud kedatangan orang Portugis ke Wenang adalah untuk menyewa sebidang tanah. Tetapi tujuan untuk menyewa tanah di Wenang gagal karena kepala Walak Ruru-Ares tidak setuju untuk memberikan mereka sebuah tempat. Setelah kegagalan ini Portugis kemudian melakukan perjalanan ke Uwuran (sekarang Amurang) dan disana mereka mendirikan Benteng Amurang.
Ketika mereka tiba di Uwuran, Portugis yang saat itu membawa lebih banyak pedagang dan pimpinan rohani dari pada serdadu, belum berani memasuki daerah pedalaman. Mereka hanya mampu mendirikan benteng-benteng batu di tepi pantai dan pulau di sekitar Minahasa, seperti di Siauw.


Posted Image
Teluk di Amurang



1520
Sementara itu Sultan Demak di Jawa membawa kehancuran kerajaan Majapahit yang sangat kuat. Sebuah kekaisaran Muslim yang kuat berkembang dengan pusatnya di Melaka (Malaka) di Semenanjung Malayu.

Posted Image
Kelenteng Ban Han Kiong, Manado



1521
Jalur ke kepulauan Maluku baru didirikan oleh Portugal. Sebelumnya pemimpin kapal-kapal Spanyol, Ferdinand Magelhaens, menemukan sebuah jalur pelayaran seperti yang pernah dilakukan oleh Portugis. Perbedaannya adalah bahwa jalur ini dilakukan di sekitar tanjung Amerika Selatan melintasi Samudera Pasifik dan mendarat di Kepulauan Sangir Talaud di Laut Sulawesi.
Orang Spanyol mendirikan kantor perdagangan (Loji) di Wenang, yang berlokasi di pasar 45 (sekarang Pasar Jengky), dengan izin dari kepala Walak Wenang, yang pada waktu itu adalah Dotu Lolong Lasut. Sejak kantor perdagangan Spanyol sudah ada,
orang Cina mulai mendirikan tempat mereka dekat kantor tersebut. Sebelumnya orang Cina serta Portugis menurunkan barang-barang mereka di pulau Manarow, yang pada waktu itu lebih terkenal dengan Spanyol-Portugis daripada Wenang.
Spanyol menjadikan pulau Manarow sebagai tempat persinggahan untuk mengambil air minum. Dari pulau itu kapal-kapal Spanyol memasuki daratan Sulawesi Utara melalui Sungai Tondano (sekarang Sungai Manado).
Pengembara-pengembara Spanyol membuat kontak dengan penduduk melalui perdaganan ekonomi tukar menukar, yang dimulai di Uwuran (Amurang) di pinggir sungai Rano I Apo. Barang-barang yang ditukar adalah beras, damar, madu dan hasil hutan lainnya yang ditukar dengan ikan dan garam.


_DC_

#7 Ahli_macho

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 555 posts
Click to view battle stats

Posted 26 January 2011 - 02:43 PM

dulunya ngak tau, sekarang jadi terang benderang

#8 alter ego

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 778 posts
Click to view battle stats

Posted 02 February 2011 - 10:45 PM

ini thread bikinan gw dulu,

http://www.bluefame....st&p=1060920908

mudah2an versinya masih sama,

i yayat u santi !!!





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy