Jump to content



 

 

Apa yang membuat orang jadi nyebelin?


11 replies to this topic

#1 GingerAle

    Youth BlueFame

  • Elite Member
  • 184 posts
Click to view battle stats

Posted 21 August 2011 - 06:25 PM

Siapa yang pernah merasa kalo di lingkungan kita (kantor, kelas, bahkan keluarga besar) ada orang-orang yang nyebelin?
Pasti banyak! :Applause: :Applause:

Nah, berikut ini adalah artikel yang membahas tentang penyebab dan cara menangani orang-orang nyebelin.




Memang sih, faktor untuk dibilang nyebelin itu banyak, tapi pada umumnya (berdasarkan riset dengan metode Grounded Theory) banyak orang setuju bahwa orang nyebelin memiliki sejumlah 'karakteristik umum' yang nantinya akan dibahas juga di bagian tengah tulisan ini. Dengan kata lain, ada orang-orang dengan karakteristik tertentu yang kita semua setuju bahwa dia nyebelin :chaong: :chaong: .

O ya, Sebelumnya, perlu diingat, bahwa kadar tentang bisa diterima/tidaknya orang dalam sebuah lingkungan sosial akan dipengaruhi oleh norma dan budaya lingkungan tersebut. Jadi, mohon maaf :Praying: jika saja anda merasa bahwa yang disampaikan di sini kurang sesuai dengan lingkungan anda. (Btw, tulisan ini dibuat berdasarkan riset yang saya lakukan dengan sampel hanya orang Indonesia dari Surabaya, Jogja, dan Jakarta, juga Singapore, Penang, dan Thailand Selatan).

OK, salah satu penyebab utama orang jadi nyebelin adalah: Self-Esteem.
Emang banyak orang yang menerjemahkan self-esteem sebagai 'kepercayaan diri' (orang 'awam') atau 'penilaian diri' (orang psikologi), dan mereka semua bukannya salah. Karena teori tentang self-esteem sudah (dan masih akan) berevolusi terus selama manusia belum punah. Self-esteem bahkan pernah menjadi topik yang paling banyak diteliti dalam satu dekade di jurnal-jurnal Eropa dan Amerika pada tahun 80an. Otomatis, perdebatan dan perbedaan pendapat tentang hal ini juga sudah berkobar sejak beberapa dekade. However, saya tidak ingin membawa Anda masuk ke perdebatan ilmiah yang bertele-tele itu. Kita main praktisnya aja, OK?

Pada tahun 2006, Joseph Mruk mengemukakan ide bahwa self-esteem adalah integrated sum of self-worth and self-competence, atau gabungan antara self-worth (saya berharga) dan self-competence (saya mampu). Sehingga akan ada kwadran berisi empat bidang, di mana semua orang tersebar ke dalamnya. Kwadran-kwadaran tersebut adalah:

Posted Image


Self-Worth Tinggi, Self-Competence Tinggi.
Orang-orang seperti ini akan memiliki self-esteem yang cukup (adequate), di mana ia akan cenderung bersikap wajar dan proporsional dalam menyikapi orang lain maupun diri sendiri. Tentu saja sikap tersebut akan dibawakan secara berbeda-beda, sesuai dengan karakteristik kepribadian yang dimilikinya. (Jadi pola kepribadian tidak berhubungan dengan self-esteem, FYI)


Self-Worth Rendah, Self-Competence Tinggi.
Orang seperti ini merasa 'kurang dihargai' namun juga merasa bahwa dirinya 'mampu' (dalam konteks apapun). Biasanya, jika perbedaan antara rendahnya self-worth dan tingginya self-competence begitu ekstrem, mereka akan cenderung menjadi: Si Penyendiri yang Ngotot, yaitu orang yang mempertahankan pendapat secara fanatik tanpa landasan yang jelas, dan secara halus atau kasar selalu menolak pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. Seringkali mereka merasa bahwa pendapatnya paling benar, tapi mayoritas orang tidak sependapat dengannya.


Self-Worth Tinggi, Self-Competence Rendah.
Orang seperti ini merasa dirinya 'kurang mampu' (dalam konteks apapun), namun sekaligus merasa bahwa dirinya 'dihargai' (punya banyak kawan, didengarkan bila bicara, dsb). Akibatnya, orang ini merasa perlu untuk 'menunjukkan pada dunia' bahwa dirinya mampu, dan mereka memiliki rasa takut untuk mendengarkan orang lain, karena ada kemungkinan dirinya jadi 'kalah hebat'. Itu sebabnya, jika mereka sudah mulai menceritakan pengalaman atau pendapatnya, jangan harap kita akan punya waktu untuk menyela, atau bahkan pergi ke toilet (Sebuah SMS atau telepon akan terasa seperti 'dewa penyelamat' untuk kita!)
Di titik ekstrem, mereka akan seringkali menasehati tanpa diminta, dibumbui dengan 'pengalaman pribadi' yang menunjukkan betapa hebat atau seniornya dia. Pendapat orang lain seringkali dianggap 'kurang lengkap' dan ia dengan senyum 'simpatik' akan mengatakan bahwa pendapat kita akan lebih lengkap jika dibumbui pendapatnya. Biasanya, orang macam ini jago menemukan kesalahan orang, dan sering mengatakan "Meskipun di kantor saya boss kamu, di luar kita sahabat, jadi nasehat saya ini penting buat kamu."


Self-Worth Rendah, Self-Competence Rendah.
Seperti dugaan Anda, orang ini tergolong 'Maha Nyebelin'. Sebenernya kasihan sih, mereka merasa diri mereka 'tidak mampu' (dalam konteks apapun), sekaligus 'tidak dihargai' hingga mereka akan cenderung mencari penghargaan dan pengakuan di saat yang sama. Tentu saja, cara orang membawakan sikap ini akan berbeda-beda sesuai dengan kepribadian mereka, namun secara garis besar, akan ada dua kategori orang seperti ini:

Pesimis-Negatif:
Selalu menolak peluang (untuk tampil di panggung, untuk memulai bisnis, untuk memulai kencan, bahkan untuk pergi jalan-jalan) dengan dalih resiko. Jika orang seperti ini berpendidikan cukup, mereka akan mengemukakan sejumlah contoh kasus yang gagal sebagai pembenaran bahwa 'tidak melakukan apa-apa' adalah baik. Versi lain dari orang seperti ini adalah tipikal orang yang kelewat sering menasehati "Pikir dulu baik-baik!" pada semua orang, sementara kehidupannya sendiri tidak pernah berubah.

Penghasut:
Ranking nomer satu untuk kategori nyebelin. Mereka bisa berada dalam satu kelompok dan menebar isu negatif tentang anggota kelompok yang kebetulan tidak hadir, untuk kemudian besoknya menelepon orang yang tidak hadir itu dan menceritakan bahwa seluruh anggota kelompok tidak menyukainya. Singkat cerita, kita yang mengenal sang penghasut akan sering mendapat cerita tentang betapa buruknya teman kita yang lain. (Wajar, jika kita sendiri juga akan diceritakan secara negatif pada orang lain).



Langkah-langkah bantuan, jika orang seperti ini adalah orang dekat Anda :
Bersifat non-profesional, jadi bisa dilakukan tanpa bantuan profesional di bidang psikologi/psikiatri

Self-Worth Rendah, Self-Competence Tinggi (Si penyendiri yang ngotot)
Seringkali tunjukkan 'kekaguman tidak beralasan' padanya, misalnya "Gak tau kenapa, tapi gua nyaman kalo ngobrol sama elo." Pujian/kekaguman ini memang harus tidak beralasan, karena jika anda mengemukakan alasan yang berbeda dengan pendapatnya, bisa jadi dia akan bersikap defensif. Yah, saya tau, ngomong gitu sama orang kaya gini rasanya berat banget dan perlu 'kerendahan hati'.

Self-Worth Tinggi, Self-Competence Rendah (Si penasehat yang susah berhenti)
Orang seperti ini perlu sering merasa mendapat 'pengakuan' dari lingkungannya. Untuk itu dia bisa sering diberi tugas yang 'penting'. Para ketua RT/RW yang cerdas, biasanya menggunakan orang-orang ini untuk menjadi ketua panitia 17Agustus, dan di akhir acara mereka akan dipuji betapa acara tahun ini adalah yang terbaik. (Nah, silakan menyesuaikan sendiri kasus 17Agustusan dengan kehidupan anda, hehehe).

Self-Worth Rendah, Self-Competence Rendah (Si maha nyebelin)
Saran pertama adalah, sebisa mungkin hindari atau jaga jarak dari orang seperti ini. Hampir tidak ada untungnya untuk memasukkan nama mereka ke dalam daftar kawan, bahkan di Facebook atau Twitter. Kalau anda punya pasangan seperti ini, ya... itu salah Anda juga, kok mau dapat yang seperti ini ( :Peace: peace!)
Tapi kalau memang ini adalah anak Anda, murid Anda, saudara Anda, atau orang lain yang Anda pedulikan, cara untuk mengurangi gejala ini adalah dengan menjadikan diri mereka sebagai 'penyebab' dari hal-hal yang terjadi pada mereka (baik maupun buruk). Misalnya, mereka harus sering diberi tahu bahwa mereka mendapat nilai baik di kampus/sekolah karena mereka belajar/bekerja keras untuk itu, bukan karena bernasib baik atau soalnya mudah. Jika mereka dapat nilai jelek, ingatkan bahwa penyebabnya adalah mereka kurang rajin belajar atau kurang pinter nyontek, bukannya karena nasib buruk atau si guru/dosen membenci mereka.
Jika mereka mulai 'sadar' bahwa dirinya adalah penyebab dari hal-hal yang terjadi di sekitarnya, mereka akan mulai lebih menempatkan diri secara lebih proporsional dalam masyarakat, dan akan menjadi lebih baik.


(Tapi sekali lagi gw ingetin, lawan yang beginian ini susah... buat yang psikolog, kalo bayarannya gak cukup, mending gak usah nanganin yang beginian deh, diserahkan pada Yang Kuasa aja :Praying: :Praying: )

#2 raydevont

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 362 posts
Click to view battle stats

Posted 23 August 2011 - 12:31 AM

Terus terang, sulit buat ngebantah isi article sist GA, its all there.. Tapi berhubung qta bicara ttg manusia, yg terlalu kompleks untuk bisa dipilah jadi 4 kwadran..
Aq mencoba sejujur2nya menempatkan diri di salah satu kwadran itu, tapi koq sulit ya..? Mungkin, aku berada persis diantara High-self-worth & low-self-competence sama High-self-worth & high-self-competence .. Cuma, contoh/perumpamaan dalam artikelnya sedikit terlalu ekstrim ya..? Dan memang, variable2 unik yg ada dalam diri masing2 manusia (pengalaman, daya pikir, lingkungan, pendidikan dll) membuat kwadran2 itu jadi tampak kurang spesifik.. Sist TS sendiri, apakah bisa menentukan di kwadran mana anda berada..? Palagi kita manusia, memiliki sedikit ini sedikit itu.. Sedikit sok tau, sedikit sok pamer, sedikit gak pede, sedikit ingin diakui.. Betul nggak? Contoh sederhana: Kita menghabiskan sejumlah waktu, mencari2 kata indah atau bijak untuk dikutip dan dipasang di Status.. Apa sih motivasinya? Kita ingin pengakuan, kita ingin diperhatikan, kita ingin dikenal cool, ingin di 'tepuk tangani'.. Well, gak ada yg salah dengan semua itu, manusia memang butuh pengakuan.. sesekali kita butuh 'tepuk tangan' untuk menyadarkan diri bahwa kita berharga, sekaligus mengajarkan kita juga buat menghargai..

Aku termasuk orang yg praktis.. menyadari manusia itu terlalu rumit untuk di manipulasi, di adjust, digeser kiri kanan.. Ketika aku merasa tidak nyaman dengan sikap seseorang, aku tak akan repot2 mempertanyakannya.. i'll just leave.. Begitu pula sebaliknya..

:Peace:

But you got my vote for the kwadran thing.. :Applause:

Edited by raydevont, 23 August 2011 - 12:39 AM.


#3 GingerAle

    Youth BlueFame

  • Elite Member
  • 184 posts
Click to view battle stats

Posted 24 August 2011 - 03:31 AM

View Postraydevont, on 23 August 2011 - 12:31 AM, said:


But you got my vote for the kwadran thing.. :Applause:



Hey, thanks.

Sebenernya memang contoh-contoh itu diambil ekstrimnya, karena tujuannya ngebahas orang 'nyebelin'. Orang2 yang tidak di sisi ekstrem biasanya tidak setiap saat nyebelin... atau tidak nyebelin banget, :chaong:

Terus terang tidak mudah untuk mengkategorikan orang ke dalam kwadran2 itu, kecuali pembacanya sendiri yang nyadar.
Karena sebenarnya apa yang gw tulis di atas itu cuma bagian dari riset gw yang sekarang belum selesai. Kurang lebih riset gw itu adalah tentang bagaimana mengangkat self-esteem di ruang kelas (untuk anak2 usia SMP-SMA), tapi gw yakin ntar kalo udah ketemu, akan bisa dipraktekkan ke orang dewasa juga, dengan sedikit penyesuaian.

Thanks lagi ya, Bro Ray... Buat respons dan komentarnya. :ciuman:

#4 raydevont

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 362 posts
Click to view battle stats

Posted 25 August 2011 - 10:55 PM

Bener juga, you got that right.. kalo mo ngebahas ttg perilaku manusia and stuff kudu ngasih contoh yg ekstrim, kalo nggak jadi kurang jelas apa yg di maksud..

Gak seperti dalam film ato sinetron yg karakter antagonisnya, tiap hari dari pagi ampe malem mukanya jutek, mata mendelik, penuh dengan rencana jahat dsb sebaliknya peran protagonis melulu dijahatin, nangis, pasrah, berdoa & sabar.. Kenyataannya dalam kehidupan sehari2 kita hidup dalam dunia abu2, paginya kita nolongin nenek2 nyebrang, siangnya kita ngomongin orang, sorean dikit booingin ortu demi uang jajan ekstra, magrib ngaji, malemnya download film bokep ( :axehead: ) wakkwkwkwkwk... :LMAO:

Btw, baca thread lo ini merangsang gw bwt bikin tulisan tentang makhluk yg namanya manusia..suueerrrr..! :Nerd:

Take care..

#5 GingerAle

    Youth BlueFame

  • Elite Member
  • 184 posts
Click to view battle stats

Posted 27 August 2011 - 02:45 PM

View Postraydevont, on 25 August 2011 - 10:55 PM, said:



Btw, baca thread lo ini merangsang gw bwt bikin tulisan tentang makhluk yg namanya manusia..suueerrrr..! :Nerd:

Take care..


Gapapa, Bro! Ayo kita sama2 nulis tentang orang. Kalo gw sih, nulis ttg 'manusia' karena emang kerjaan gw sehari2 ya cuman itu. :chaong: :chaong:

#6 eroge

    BlueFame Typer

  • Elite Member
  • 965 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2011 - 12:17 PM

jadi eeyore itu versi imut dari si maha nyebelin ya :D .

#7 GingerAle

    Youth BlueFame

  • Elite Member
  • 184 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2011 - 06:16 PM

View Posteroge, on 30 August 2011 - 12:17 PM, said:

jadi eeyore itu versi imut dari si maha nyebelin ya :D .

Hehe... iya juga sih... tapi coba lihat Tigger baik2 :D

#8 eroge

    BlueFame Typer

  • Elite Member
  • 965 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2011 - 06:34 PM

View PostGingerAle, on 30 August 2011 - 06:16 PM, said:

View Posteroge, on 30 August 2011 - 12:17 PM, said:

jadi eeyore itu versi imut dari si maha nyebelin ya :D .

Hehe... iya juga sih... tapi coba lihat Tigger baik2 :D


tapi Tigger itu kan masih mending dibanding Rabbit apalagi Owl :D
yg normal di geng itu cuma Kanga + Roo.

#9 GingerAle

    Youth BlueFame

  • Elite Member
  • 184 posts
Click to view battle stats

Posted 30 August 2011 - 11:09 PM

View Posteroge, on 30 August 2011 - 06:34 PM, said:

tapi Tigger itu kan masih mending dibanding Rabbit apalagi Owl :D
yg normal di geng itu cuma Kanga + Roo.


Di Pooh itu semuanya punya tendensi ekstrem sesuai kwadran di atas. Tapi emang, Eeyore itu yang paling parah.
Jeli juga ngamatin Pooh, Sis... :thumbsup:

#10 adas

    love, life, & music

  • Elite Member
  • 4,999 posts
Click to view battle stats

Posted 10 September 2011 - 10:53 PM

Saya sedih...ternyata saya masuk kategori maha nyebelin... :crying_anim:
Tapi, ane selalu lupa sama pelajaran ttg ini waktu kul dulu.. :axehead:

#11 GingerAle

    Youth BlueFame

  • Elite Member
  • 184 posts
Click to view battle stats

Posted 11 September 2011 - 12:37 AM

View Postadas, on 10 September 2011 - 10:53 PM, said:

Tapi, ane selalu lupa sama pelajaran ttg ini waktu kul dulu.. :axehead:


Elo kuliah tahun berapa, Adas? Two-dimensional model of self-esteem baru dipublish 2006 oleh Joseph Mruk.

Sebelumnya self-esteem dianggap diskrepansi (jarak) antara ideal-self dan actual-self, malah seringkali dihubungkan sama self-concept. Kalo ngikut teori yang lama sih, tinggal nanya aja ke diri sendiri (qualitative mode nih):
  • Menurut elo, kalo elo serius, elo bakal bisa sehebat apa?
  • Dengan asumsi lo tau mesti ngapain biar jadi sehebat poin no.1, kira-kira berapa lama jaraknya dengan hari ini?
  • Kalo jaraknya gak jelas (gak tau), baru disebut punya self-esteem rendah. Tapi kalo tau, meskipun lama, masih bisa dianggap adequate.

Btw, model self-esteem baru ini ternyata ada hubungannya dengan Locus of Control (tertarik ga buat ngebahas itu, Adas?)

#12 pushup500

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 208 posts
Click to view battle stats

Posted 29 July 2012 - 03:05 PM

Saya selalu takjub dengan psikologi manusia yang sekompleks alam semesta dan membaca teori ini sangat membantu untuk memahaminya. Really good post..





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy