Jump to content


Salahkah Soekarno merekayasa teks Sumpah Pemuda?


9 replies to this topic

#1 Rakkana

    ~JengkolHolic Sebenarnya~

  • Moderator
  • 11,629 posts
Click to view battle stats

Posted 29 October 2012 - 09:49 AM

Salahkah Soekarno merekayasa teks Sumpah Pemuda?


Posted Image




Presiden Soekarno mengubah teks Sumpah Pemuda. Dia mengganti bait ketiga keputusan kongres pemuda tahun 1928. Kalimat "Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia." menjadi Kami putera-puteri Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Soekarno pun merekayasa peringatan Sumpah Pemuda untuk kepentingan politiknya. Saat itu periode 1950, Republik Indonesia menghadapi banyak gerakan separatis dan pemberontakan. Indonesia yang masih balita terancam terpecah-pecah. Dari luar muncul imperialisme, pemaksaan ideologis Blok Barat dan Blok Timur.

"Seperti manusia, negara tidak bisa bertahan hidup tanpa adanya mitos. Bagi Soekarno kita punya mitos ikatan batin, satu kesatuan lewat Sumpah Pemuda. Soekarno menggunakan sejarah untuk membangkitkan persatuan. Menafikan segala hasrat perbedaan sedang menghadapi tantangan zaman, yang bisa memecah belah balita Republik Indonesia," kata JJ Rizal saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (28/10).

Salahkah Soekarno?

"Ini sudah bukan salah atau benar. Bagaimana sejarah itu visinya yang diambil, bukan terus berkutat di sejarah itu sendiri. Kita bicara sumpah pemuda, bukan lagi sejarah tapi politik," tambah sejarawan muda ini.

"Soekarno bersama Yamin merekayasa teks hasil Kongres 1928 memberi muatan yang memperlihatkan tuahnya kesatuan," tambahnya.

Maka Sumpah Pemuda pun benar-benar digunakan Soekarno untuk menekankan pentingnya Sumpah Pemuda. Perayaan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober digelar besar-besaran.

Tahun 1958, pemerintahan Soekarno menghadapi pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia dan Perjuangan Rakyat Semesta di Sumatera dan Sulawesi (PRRI-Permesta). Maka Soekarno menggunakan Sumpah Pemuda untuk mengecam para pemberontak yang ingin lepas dari Republik Indonesia.

Harian Merdeka menulis soal pidato Soekarno yang disampaikan tanggal 28 Oktober 1958. Secara

tegas Soekarno mengutuk para pimpinan PRRI-Permesta. Cuplikan berita itu ditulis Keith Foulcher, dalam buku Sumpah Pemuda, Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan yang diterbitkan Komunitas Bambu,

"Presiden Soekarno menjatakan dengan tegas kalau dia seperti Ahmad Husein, Simbolon, Somba dan Warouw, dia akan merebahkan diri di dalam hutan dan minta ampun kepada Allah SWT karena telah mendurhakai kemerdekaan bangsa Indonesia dan mendurhakai Sumpah Pemuda yang keramat itu."

Soekarno pun menggunakan Sumpah Pemuda saat menghadapi konfrontasi dengan Belanda di Papua dan Inggris di Malaysia. Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa, membakar semangat para personel TNI dan sukarelawan untuk diterjunkan di belantara Papua dan Kalimantan.

Di era Orde Lama, Sumpah Pemuda adalah senjata paling kuat untuk menggalang kekuatan massa. Jargon persatuan dalam sumpah pemuda juga digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Harian Rakjat yang terbit tahun 1958 mencatat pidato Aidit soal sumpah pemuda dan tekanan-tekanan yang mulai dirasakan oleh PKI.

"Hikmah jang dapat kita petik dalam memperingati Sumpah Pemuda jalah bahwa dalam keadaan bagaimana pun dan di atas segala-galanja kita adalah satu nation. Tidak peduli apa agama, kejakinan politik dan golongannja. Nation kita adalah nation yang berdjuang, anti imperialisme, patriotik dan demokratis.

Uniknya, Soekarno juga menggunakan Sumpah Pemuda untuk meminta Indonesia kembali kepada kebudayaan aslinya. Soekarno meminta para orangtua tak menamai anak-anak berbau Belanda.

Maka Sumpah Pemuda pun melawan budaya barat yang disebut Soekarno sebagai kebudajaan asing jang gila-gilaan.


Sumber



#2 Rakkana

    ~JengkolHolic Sebenarnya~

  • Moderator
  • 11,629 posts
Click to view battle stats

Posted 29 October 2012 - 09:51 AM

Mana teks sumpah pemuda yang asli?





"Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Kami putera-puteri Indonesia, mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia."

Inilah isi Sumpah Pemuda yang kini banyak dipahami masyarakat Indonesia. Tiga kalimat ini dihapal dan dibaca setiap tanggal 28 Oktober untuk menghormati kesepakatan sakral yang dilakukan para pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928. Tapi sebenarnya bukan ini teks asli yang diikrarkan para pemuda kala itu. Ada perubahan naskah sumpah pemuda yang dilakukan untuk tujuan politis.

Dalam Kerapatan Pemoeda-pemoeda Indonesia di gedung Indonesische Clubgebouw, organisasi kepemudaan seluruh Indonesia berkumpul. Mereka menggelar 'kerapatan', istilah masa itu untuk kongres. Tahun 1926 mereka sudah berkongres untuk pertama kalinya, jadi kongres ini sering disebut Kongres Pemuda II.

Kongres dimulai tanggal 27 Oktober, berlanjut tanggal 28 Oktober. Duduk sebagai Ketua adalah Soegondo Djojopoespito dari PPPI, Djoko Marsaid dari Jong Java sebagai wakil ketua. Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond sebagai sekretaris dan Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond menjabat bendahara. Acara ini dihadiri sekitar 82 peserta dari berbagai organisasi.

Di akhir kongres mereka mengumumkan tiga hal. Inilah tiga ikrar itu dalam ejaan lama bahasa Melayu Hindia Belanda.

Pertama.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lihatlah poin ketiga, bunyi kalimat itu adalah mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Bukan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Kenapa kata menjunjung yang digunakan, bukan berbahasa satu, bahasa Indonesia?

Justru masalah menyatukan bahasa ini yang paling jadi masalah. Persoalan satu tanah air tak jadi masalah, begitu juga satu bangsa, tak jadi masalah. Mereka merasa satu. Hanya bagaimana soal bahasa?

Di kalangan rakyat jelata, bahasa Melayu pasaran sudah banyak digunakan. Tapi di kalangan cendekiawan dan orang terpelajar, jarang sekali. Mereka terbiasa berbahasa Belanda dan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

"Kebanyakan para tokoh pemuda itu berpendidikan Belanda. Mereka justru lebih terbiasa bercakap dalam bahasa Belanda daripada Melayu," kata sejarawan JJ Rizal saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (28/10).

Keith Foulcher, dalam buku Sumpah Pemuda, Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan yang diterbitkan Komunitas Bambu, mencoba menganalisa hal ini. Saat itu peserta Kongres yang berasal dari Jawa, Sunda dan suku lain, seperti menolak meninggalkan bahasa daerah mereka untuk bahasa Melayu.

Sementara itu, Muhammad Yamin yang telah berkampanye menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan di seluruh Sumatera.

Maka sebagai jalan tengah, maka kalimat yang disepakati adalah menjunjung bahasa persatuan. Menghormati bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tanpa meninggalkan bahasa ibu mereka.

Lalu siapa yang mengganti naskah Sumpah Pemuda seperti saat ini?

"Muhammad Yamin dan Soekarno yang mengubah teks itu tahun 1950an. Itu rekayasa politik Soekarno dan Yamin," kata JJ Rizal.

Yamin saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Pendidikan Soekarno merasa butuh mengubah teks sumpah pemuda untuk kepentingan politiknya. Saat itu Indonesia yang masih muda menghadapi separatis di mana-mana. Maka Soekarno melihat sumpah pemuda sebagai sebuah kekuatan yang dia bisa gunakan untuk mengikat.

"Karena keperluan itu, Soekarno mengubah teks. Dia berusaha menguatkan identitas persatuan. Maka kalimat menjunjung diganti menjadi satu bahasa Indonesia. Kalimat itu yang digunakan sampai sekarang."

"Sebenarnya sejak tahun 1930an dan kongres bahasa itu sudah ada satu bahasa, bahasa Indonesia. Tetapi hanya dari seminar ke seminar. Soekarno yang pertama merealisasikannya," tutup Rizal.


Sumber



#3 Rakkana

    ~JengkolHolic Sebenarnya~

  • Moderator
  • 11,629 posts
Click to view battle stats

Posted 29 October 2012 - 09:57 AM

Soekarno: Bahasa Jawa Jangan Jadi Bahasa Nasional




Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, ternyata pernah menentang bahasa Jawa dijadikan bahasa nasional. Penegasan ini disampaikan sejarawan Anhar Gonggong dan dimuat majalah Tempo edisi khusus Sumpah Pemuda pada November 2008 silam.

Kisahnya bermula ketika pada 1927, Bung Karno banyak mendorong persatuan berbagai kekuatan nasional dalam menghadapi kolonialisme. Ketika itu, banyak elemen bangsa menyadari pentingnya ada sebuah bahasa persatuan. Perdebatan ini mencapai puncaknya dalam Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928.

Abu Hanifah, pemimpin pemuda dalam periode Pergerakan Nasional yang pernah menjadi Sekretaris Umum Pusat Pemuda Sumatera (1927-1928), mengaku sempat mendengar usulan agar bahasa Jawa dijadikan bahasa nasional dalam kongres itu.

"Soal Tanah Air bersama, berbangsa satu, tidak terlalu banyak dalam pembahasan ..., yang agak menyukarkan waktu itu adalah tentang soal bahasa. Mula-mulanya keras suara supaya dipakai bahasa Jawa karena telah tersusun dengan baik. Tetapi banyak juga dari orang-orang Jawa sendiri tidak setuju karena dianggap feodal,” demikian tulisnya dalam "Renungan tentang Sumpah Pemuda" dalam Bunga Rampai Soempah Pemoeda, Balai Pustaka, 1978.

Menurut Abu Hanifah, Bung Karno termasuk yang paling tegas menentang pemakaian bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan. Abu, mengutip Bung Karno, berpendapat bahwa dalam bahasa Jawa, orang sukar kelak berbicara secara demokratis.

"Macam-macam bentuk bahasa Jawa itu menyusahkan buat bergaul secara bebas, lagi sukar dipahami oleh mereka yang tidak berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Apakah harus diatur lagi bahasa ngoko, kromo, atau kromo inggil, sehingga dapat dipakai oleh semua orang, rendah atau tinggi," kata Bung Karno, seperti dikutip Abu Hanifah.

Dalam situasi pelik penentuan bahasa persatuan itu, menurut Abu Hanifah, Prof Dr Poerbotjaroko memberikan nasihat supaya dipakai saja bahasa Melayu-Riau yang masih dapat berkembang seperti dulunya bahasa Inggris.

Semua peserta kongres sepakat dan bahasa Melayu-Riau menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.


Sumber



#4 von_braun

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 560 posts
Click to view battle stats

Posted 30 October 2012 - 11:14 AM

Asal demi kebaikan bangsa dan negara, ane rasa gak ada salahnya merekayasa sejarah....seperti juga dengan peristiwa di laut aru, dimana kata-kata terakhir Yos Soedarso yaitu "Kobarkan Semangat Pertempuran" dijadikan propaganda untuk menekan belanda lebih kuat lagi supaya irian barat dikembalikan pada indonesia.

#5 daokey

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 817 posts
Click to view battle stats

Posted 05 November 2012 - 08:44 PM

kalo ada minta sumber/ referensinya om........

#6 paparock10

    BlueFame Hotter

  • Elite Member
  • 772 posts
Click to view battle stats

Posted 06 November 2012 - 03:28 PM

So far so good.. its ok..


#7 Rakkana

    ~JengkolHolic Sebenarnya~

  • Moderator
  • 11,629 posts
Click to view battle stats

Posted 06 November 2012 - 03:32 PM

View Postdaokey, on 05 November 2012 - 08:44 PM, said:

kalo ada minta sumber/ referensinya om........

Silahkan lihat bagian kanan bawah dari ketiga artikel diatas, bertuliskan "Sumber" berwarna biru

#8 bambu

    Central Intelligence

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,410 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2012 - 12:14 PM

Quote

"Ini sudah bukan salah atau benar. Bagaimana sejarah itu visinya yang diambil, bukan terus berkutat di sejarah itu sendiri. Kita bicara sumpah pemuda, bukan lagi sejarah tapi politik," tambah sejarawan muda ini.

sejarawan goblok, pandai ngeles...
kalau ditanya salah atau benar, jawabannya pasti "salah". karena merekayasa berarti membuat kebohongan. bohong berarti dosa. dosa berarti neraka. berarti sukarno dan yamin masuk...?

btw, hal seperti ini selalu memunculkan pertanyaan klasik: apakah tujuan menghalalkan cara?

Edited by bambu, 07 November 2012 - 12:14 PM.


#9 SUTAN RAJO AMEH

    #Lamak Diawak Katuju Diurang#

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 387 posts
Click to view battle stats

Posted 22 December 2012 - 12:19 PM

Entah kenapa ambo merasa penggunaan kata "merekayasa" itu kok kurang tepat ya!

Sepantasnya menggunakan kata "merubah"

#10 titrino

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 168 posts
Click to view battle stats

Posted 08 February 2013 - 07:03 PM

Istilah yang mungkin lebih baik mungkin adalh memotivasi biar lebih bersatu





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy