Jump to content



 

 

Sejarah Pembantaian Sampit, Kalimantan


31 replies to this topic

#1 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 10 October 2007 - 05:38 PM

@all: ini berita gw dapatkan dari penelusuran di halaman www.google.com...
semoga ini juga dapat menambah wawasan kita sekalian yang belum banyak mengetahui
[url=http://duatentang kerusuhan yang sempat mengemparkan di Indonesia ini...

Halaman di bawah ini benar gak gue edit sedikit pun...
ini merupakan berita originalnya...

---- Original Message -----<br> From: nataLia warat<br> To: hore-hore@yahoogroups.com ; Abon Wendall ; adam doank ; Dicky ; dody <br> supriyadi ; eva ; Farah Sofa ; Kanaan Cianjur ; mamat dulhapit =3D abi ; <br> Muhammad BKC0072 Zulkifli ; Penabur Pesona ; sastro sartre ; <br> waseso@humaniinsia.com<br> Sent: Wednesday, February 28, 2001 11:48 AM<br> Subject: Fw: HASIL LIPUTAN KRU BII SAMPIT (yang ngga kuat mending jgn <br> liat attachmentnya yaa.... )<br> <br> <br> Teman-teman,<br> <br> Kayaknya kita musti lebih banyak berdoa lagi buat negara Indonesia <br> tercinta ini...<br> <br> Palangka Raya, 26 Februari 2001<br> <br> Kepada yth.<br> Sekretariat KWI<br> Jl. Cut Mutia 10<br> Jakarta<br> <br> <br> Dengan hormat,<br> <br> Melalui fax ini kami beritahukan perihal kerusuhan di Sampit dan <br> sekitarnya.<br> <br>



Hanya Tuhan yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Sampit &amp; <br> Sekitarnya&quot;<br> Darah dan air mata seakan tiada arti lagi. Jerit tangis terdengar <br> dimana-mana. Satu minggu lamanya pembantaian terus terjadi. ini berawal <br> ketika orang Madura mengamuk dengan sudah mempersiapkan lebih dahulu <br> berbagai senjata dan bom rakitan. Ini orang Madura buat untuk membalas <br> kerusuhan yang telah terjadi bulan Desember 2000 lalu di daerah Kereng <br> Pangi, Kab. Kotawaringin Timur + 100 km arah Selatan kota Palangka Raya. <br> <br> <br> Orang Madura mengadakan aksi pembalasan ini, tinggal hanya menunggu <br> waktu yang cocok. Dirasakan waktunya telah pas, maka pada hari Sabtu <br> tgl. 17 Februari malam, beberapa kelompok Madura menyerang orang Dayak <br> yang memang tiada persiapan apa-apa. Banyak orang Dayak kepanikan dan <br> lari mengungsi ke Palangka Raya, Banjarmasin atau ke pedalaman dan ada <br> juga yang meninggal (menurut informasi 6 orang). Orang Madura menguasai <br> kota Sampit sampai dengan hari Senin. Hari Selasa dan Rabu pagi masih <br> kelihatan orang Madura dengan berani menyerang sambil meletakkan bom di <br> beberapa tempat. Pada kesempatan hari-hari itu, orang Dayak datang dari <br> daerah alur sungai pedalaman Kalteng, daerah Barito, Pangkalan Bun, <br> Kaltim dan Kalbar. Sehingga pada hari Rabu sore, kota sampit sudah <br> dikuasai oleh orang Dayak. Dan memang, tanpa rasa belas kasih, orang <br> Madura yang belum sempat mengungsi dan kebetulan didapat/bertemu <br> langsung dibunuh. Rumah-rumah orang Madura dari Sampit sampai di <br> Palangka Raya, dibakar/dihancurkan. Menurut berita yang saya dengar dari <br> beberapa tokoh Dayak, mereka sudah mengumpulkan sampai dengan hari Sabtu <br> tgl. 24 Februari sebanyak 700 kepala manusia. Biasanya mereka membunuh <br> dengan memenggal kepala, maka kepala-kepala itu ditunjukkan kepada <br> pimpinan mereka. Mungkin juga digunakan untuk upacaya Tiwah. Saat ini <br> diperkirakan jumlah korban mencapai 2000 - 3000 orang, karena usaha <br> untuk mengkonfirmasikan jumlah korban itu mustahil sebab terutama <br> situasi yang terus menerus memanas. Puluhan ribu orang diungsikan ke <br> Pemda setempat dan Pos Polisi terdekat untuk dipulangkan ke daerah asal <br> mereka (Madura). Pengungsi tersebut dalam keadaan yang memprihatinkan. <br> Tempat terlalu sempit, tiada cukupnya tenda, sehingga banyak mereka <br> harus tahan terhadap panas teriknya matahari dan hujan. Enam (6) orang <br> di pengungsian telah meninggal. Satu ibu melahirkan anaknya dalam <br> situasi yang seperti ini. Selain itu mulai muncul macam-macam penyakit, <br> bahan pangan sudah tidak mencukupi terutama air. Menurut berita yang <br> saya peroleh telah ada 11 pengungsi telah dipulangkan/diberangkatkan ke <br> daerah asalnya (Madura/Jawa Timur). Bagi saya, tindakan memulangkan <br> pengungsi ini sudah terlalu terlambat. Orang Dayak tidak mau lagi mereka <br> (orang Madura) tinggal di Kalimantan. <br> Hari Minggu, 25 Februari mulai di kota Palangka Raya. Hanya untungnya di <br> Palangka Raya, banyak orang Madura sudah mengungsi. Namun tidak semua. <br> Bagaimana nasib mereka kami tidak tahu. Rumah tinggal mereka sudah <br> dihancurkan/dibakar. Menurut informasi, setelah Palangka Raya, mereka <br> menuju Pangkalan Bun Kab. Kotawaringin Barat.<br> Slogan Mereka: Orang Madura harus habis dari Kalimantan.<br> Itulah peristiwa yang kami saksikan dengan mata kepala sendiri dan dari <br> informasi yang kami terima. Hanya Tuhan yang tahu apa yang sesungguhnya <br> terjadi.<br> <br> <br> Semoga Tuhan mengampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka <br> perbuat.<br>

axehead.png axehead.png axehead.png
Hypnotized.gif Hypnotized.gif Hypnotized.gif

#2 Allelujah Haptism

    Rest In Pain

  • Banned[BANNED]
  • 13,828 posts
Click to view battle stats

Posted 10 October 2007 - 05:42 PM

Bah BigGrin.gif

Mengerikan sad.gif

#3 schizer

    Lunatic Schizophrenia

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,151 posts
Click to view battle stats

Posted 10 October 2007 - 05:45 PM

yah ..... smoga ga akan terjadi lg deh macam ini....

saling hormat menghormati , baik pendatang maupun tuan rumah....
antar suku atau agama jg...

hiks..... thanks bro !!!
nice post .... !!!!!

#4 last_virgin

    PERAWAN'NYA BLUEFAME

  • Moderator
  • 8,506 posts
Click to view battle stats

Posted 10 October 2007 - 05:50 PM

kejadian2 kayak gini tuh seharus'na ga perlu terjadi...

kita tinggal di tanah yang sama, bangsa yang sama

harus'na kita lebih bisa mengikat persamaan yang ada agar menjadi pondasi yang lebih kuat

dan perbedaan kita dekatkan agar tidak terjadi kesalahpahaman

gw suka sedih kalo liat pembantaian dan kerusuhan

karna gw sendiri pernah ngalamin sendiri waktu kejadian di ambon

kita berdoa aja, semoga kejadian kayak gini ga akan pernah terjadi lagi Praying.gif

#5 dewa chubby

    -= The Watcher =-

  • Super Moderator
  • 13,254 posts
Click to view battle stats

Posted 10 October 2007 - 05:54 PM

@lexius
Sorry bro, no offense,

Plis deh ah...kalo posting sejarah ya dituntasin. Kalo cm ini sih hanya berita aja. Sedang asal muasal kenapa terjadinya amuk massa malah tidak disebutkan disitu.

QUOTE
ini berawal <br> ketika orang Madura mengamuk dengan sudah mempersiapkan lebih dahulu <br> berbagai senjata dan bom rakitan. Ini orang Madura buat untuk membalas <br> kerusuhan yang telah terjadi bulan Desember 2000 lalu di daerah Kereng <br> Pangi, Kab. Kotawaringin Timur + 100 km arah Selatan kota Palangka Raya. <br> <br> <br> Orang Madura mengadakan aksi pembalasan ini, tinggal hanya menunggu <br> waktu yang cocok. Dirasakan waktunya telah pas, maka pada hari Sabtu <br> tgl. 17 Februari malam, beberapa kelompok Madura menyerang orang Dayak


Nah lho? Apa sebab terjadinya amuk massa (orang etnis madura) sehingga terjadi balas membalas dengan orang-orang etnis dayak dan menimbulkan pembantaian massal serta kerusuhan?
Ga ada penjelasannya kan?

Berarti ampe sekarang Sejarahnya ya ....Hanya Tuhan yang tahu gitu?

Btw, tolong dibatasi untuk pemberitaan yang menyinggung SARA macem begini (apalagi faktor sejarahnya/penyebabnya malah ndak ada).

Thx! Peace.gif

#6 Lexius1980

    Pemburu Cinta... Pencinta Wanita

  • Elite Member
  • 2,390 posts
Click to view battle stats

Posted 10 October 2007 - 06:00 PM

@dewa cabul: sori boss... berikutnya ane coba cari berita yang menjelaskan asal muasal terjadinya dendam antara kedua etnis ini deh...
btw, ini juga hanya dari penelusuran www.google.com boss...
ini juga merupakan original messagge boss... gak di edit sama sekali sama lexi...



#7 trefba

    BlueFame Hotter

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 418 posts
Click to view battle stats

Posted 10 October 2007 - 06:04 PM

bro, kebetulan bini gue orang dayak , pas kerusuhan di kampungnya banyak nyembunyiin orang madura , tapi banyak juga yang ketangkep . pada saat itu 3 orang temen gue lagi tinggal di kampungnya bini gue , apesnya lagi mereka semua ada keturunan maduranya . Untung aja mereka bisa survive karena disembunyiin ama keluarga bini gue . Selesai kerusuhan mereka langsung balik ke jakarta . Jadi sebenarnya gak semua orang dayak benci orang madura . Cuma karena memang sudah sama-2 terprovokasi terjadilah peristiwa tersebut . Sampe sekarang gue tetap berdoa buta mereka-2 yang jadi korban kerusuhan sampit , terlalu ngeri untuk dibayangkan dalam tempo yang singkat tapi efeknya menyamai kerusuhan ambon yang sudah berlangsung lebih lama . Dan mari kita saling ngingetin kalo kita ini semua saudara sebangsa setanah air .
Keep Indonesia in Peace Bro & Sis

#8 jaka_horny

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 207 posts
Click to view battle stats

Posted 12 October 2007 - 01:10 PM

ini pelajaran buat kita semua....

buat yang rantau di tanah orang, janganlah pernah untuk membawa-bawa budaya asal yang negatif... ane mencoba untuk tetap objektif dan ane juga bukan dari dayak maupun madura...
tapi pada umumnya, walau gak semua, orang madura terlalu membangga2kan budaya asalnya mereka, termasuk carok, hal itu mengapa pernah terjadi konflik antara betawi-madura, batak-madura (di jakarta) dan yang extrim di sampit...

seharusnya ini semua tidak perlu terjadi apabila kita bisa menyesuaikan kelakuan dengan daerah rantau yang kita tinggali...

faktor ekonomi juga berperan besar, kenapa masyarakat rantau (madura) lebih makmur dibandingkan dayak?? ini sudah sifat warga rantau bahwa mereka memang bekerja lebih keras untuk bisa survive di tempat yang asing, sehingga mereka menguasai ekonomi sampai pemerintahan... inilah yang menjadi sumber kecemburuan sosial... (sama aja ketika kita memandang cina, bukan?) Tounge.gif

karena itu, yang rantau harus tau diri dan yang pribumi juga jangan malas supaya tidak terpinggirkan...


bagaimana???

#9 geyong

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,117 posts
Click to view battle stats

Posted 13 October 2007 - 12:32 PM

semoga ALLAH mengampuni dosa2 yang telah kita perbuat.......AMIN

#10 bang momod

    BlueFame Flooder

  • Members
  • PipPipPipPipPipPip
  • 1,675 posts
Click to view battle stats

Posted 13 October 2007 - 08:51 PM

SETAGHPIRULLAH...

#11 fuRy

    ...LiVe tHe aDvEnTuRe...

  • Elite Member
  • 2,547 posts
Click to view battle stats

Posted 16 October 2007 - 06:55 PM

Pi jadi ingat beberapa bulan yang lalu daydreaming.gif
Pi ngajak temen Pi (keturunan Madura) maen ke Pampang, daerah yang biasa dpake wat perkemahan. Tapi dia ngga mau, soalna Pampang tu daerahnya Dayak.

Sedih ya, ampe sekarang trauma masih dirasakan sad.gif
Indonesia bersatulah crying_anim.gif

#12 eiger

    SS-Sturmscharführer

  • Retired MOD
  • 11,578 posts
Click to view battle stats

Posted 16 October 2007 - 07:36 PM

serem banget ya.. Devil.gif
nyawa manusia diperlakukan kayak main game komputer aja, bantai membantai. Pig.gif
bijimane ya perasaan tuh orang, memenggal & memajang kepala orang ? axehead.png
gw dulu pernah melihat video nya kerusuhan sampit ini. gak tega gw lihatnya... gw heran ma orang yg berani nonton adegan2 itu. film2 psikopat mengerikan aja gak mengambarkan adegan seseram itu. Hypnotized.gif

kita yg ada disini, selaku penonton, gak tau apa2, cukup mengambil hikmahnya saja.
jangan ampe manusia yg merupakan makhluk terhormat, berhati nurani, berakal pikiran, dan juga beragama, prilakunya bisa menjadi lebih rendah daripada binatang. naudzubillah.. Peace.gif

#13 Pancilok

    Orang Padang

  • Elite Member
  • 6,821 posts
Click to view battle stats

Posted 19 October 2007 - 04:26 PM

QUOTE(Lexius1980 @ Oct 10 2007, 05:38 PM) View Post
@all: ini berita gw dapatkan dari penelusuran di halaman www.google.com...
semoga ini juga dapat menambah wawasan kita sekalian yang belum banyak mengetahui
[url=http://duatentang kerusuhan yang sempat mengemparkan di Indonesia ini...

Halaman di bawah ini benar gak gue edit sedikit pun...
ini merupakan berita originalnya...

---- Original Message -----<br> From: nataLia warat<br> To: hore-hore@yahoogroups.com ; Abon Wendall ; adam doank ; Dicky ; dody <br> supriyadi ; eva ; Farah Sofa ; Kanaan Cianjur ; mamat dulhapit =3D abi ; <br> Muhammad BKC0072 Zulkifli ; Penabur Pesona ; sastro sartre ; <br> waseso@humaniinsia.com<br> Sent: Wednesday, February 28, 2001 11:48 AM<br> Subject: Fw: HASIL LIPUTAN KRU BII SAMPIT (yang ngga kuat mending jgn <br> liat attachmentnya yaa.... )<br> <br> <br> Teman-teman,<br> <br> Kayaknya kita musti lebih banyak berdoa lagi buat negara Indonesia <br> tercinta ini...<br> <br> Palangka Raya, 26 Februari 2001<br> <br> Kepada yth.<br> Sekretariat KWI<br> Jl. Cut Mutia 10<br> Jakarta<br> <br> <br> Dengan hormat,<br> <br> Melalui fax ini kami beritahukan perihal kerusuhan di Sampit dan <br> sekitarnya.<br> <br>



Hanya Tuhan yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Sampit &amp; <br> Sekitarnya&quot;<br> Darah dan air mata seakan tiada arti lagi. Jerit tangis terdengar <br> dimana-mana. Satu minggu lamanya pembantaian terus terjadi. ini berawal <br> ketika orang Madura mengamuk dengan sudah mempersiapkan lebih dahulu <br> berbagai senjata dan bom rakitan. Ini orang Madura buat untuk membalas <br> kerusuhan yang telah terjadi bulan Desember 2000 lalu di daerah Kereng <br> Pangi, Kab. Kotawaringin Timur + 100 km arah Selatan kota Palangka Raya. <br> <br> <br> Orang Madura mengadakan aksi pembalasan ini, tinggal hanya menunggu <br> waktu yang cocok. Dirasakan waktunya telah pas, maka pada hari Sabtu <br> tgl. 17 Februari malam, beberapa kelompok Madura menyerang orang Dayak <br> yang memang tiada persiapan apa-apa. Banyak orang Dayak kepanikan dan <br> lari mengungsi ke Palangka Raya, Banjarmasin atau ke pedalaman dan ada <br> juga yang meninggal (menurut informasi 6 orang). Orang Madura menguasai <br> kota Sampit sampai dengan hari Senin. Hari Selasa dan Rabu pagi masih <br> kelihatan orang Madura dengan berani menyerang sambil meletakkan bom di <br> beberapa tempat. Pada kesempatan hari-hari itu, orang Dayak datang dari <br> daerah alur sungai pedalaman Kalteng, daerah Barito, Pangkalan Bun, <br> Kaltim dan Kalbar. Sehingga pada hari Rabu sore, kota sampit sudah <br> dikuasai oleh orang Dayak. Dan memang, tanpa rasa belas kasih, orang <br> Madura yang belum sempat mengungsi dan kebetulan didapat/bertemu <br> langsung dibunuh. Rumah-rumah orang Madura dari Sampit sampai di <br> Palangka Raya, dibakar/dihancurkan. Menurut berita yang saya dengar dari <br> beberapa tokoh Dayak, mereka sudah mengumpulkan sampai dengan hari Sabtu <br> tgl. 24 Februari sebanyak 700 kepala manusia. Biasanya mereka membunuh <br> dengan memenggal kepala, maka kepala-kepala itu ditunjukkan kepada <br> pimpinan mereka. Mungkin juga digunakan untuk upacaya Tiwah. Saat ini <br> diperkirakan jumlah korban mencapai 2000 - 3000 orang, karena usaha <br> untuk mengkonfirmasikan jumlah korban itu mustahil sebab terutama <br> situasi yang terus menerus memanas. Puluhan ribu orang diungsikan ke <br> Pemda setempat dan Pos Polisi terdekat untuk dipulangkan ke daerah asal <br> mereka (Madura). Pengungsi tersebut dalam keadaan yang memprihatinkan. <br> Tempat terlalu sempit, tiada cukupnya tenda, sehingga banyak mereka <br> harus tahan terhadap panas teriknya matahari dan hujan. Enam (6) orang <br> di pengungsian telah meninggal. Satu ibu melahirkan anaknya dalam <br> situasi yang seperti ini. Selain itu mulai muncul macam-macam penyakit, <br> bahan pangan sudah tidak mencukupi terutama air. Menurut berita yang <br> saya peroleh telah ada 11 pengungsi telah dipulangkan/diberangkatkan ke <br> daerah asalnya (Madura/Jawa Timur). Bagi saya, tindakan memulangkan <br> pengungsi ini sudah terlalu terlambat. Orang Dayak tidak mau lagi mereka <br> (orang Madura) tinggal di Kalimantan. <br> Hari Minggu, 25 Februari mulai di kota Palangka Raya. Hanya untungnya di <br> Palangka Raya, banyak orang Madura sudah mengungsi. Namun tidak semua. <br> Bagaimana nasib mereka kami tidak tahu. Rumah tinggal mereka sudah <br> dihancurkan/dibakar. Menurut informasi, setelah Palangka Raya, mereka <br> menuju Pangkalan Bun Kab. Kotawaringin Barat.<br> Slogan Mereka: Orang Madura harus habis dari Kalimantan.<br> Itulah peristiwa yang kami saksikan dengan mata kepala sendiri dan dari <br> informasi yang kami terima. Hanya Tuhan yang tahu apa yang sesungguhnya <br> terjadi.<br> <br> <br> Semoga Tuhan mengampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka <br> perbuat.<br>

axehead.png axehead.png axehead.png
Hypnotized.gif Hypnotized.gif Hypnotized.gif


Tadi jam 9:00 ketemu ama temen gw yg kerja di Palangkaraya, udah 3 tahun dia di sana...trus ingat postingan #lexius

kata temen gw..
1. Emang orang madura ga bisa bersosialisasi dengan penduduk setempat (DAYAK).
2. Orang DAYAK itu pemalu dan baik-baik, kalo ktemu orang asing mreka akan masuk rumah ( kebanyakan yg perempuan)

Saat perang besar dengan madura.. bantuan yang datang dari dalam hutan (suku dayak dalam hutan) adalah suku DAYAK IBAN mreka membantu sodaranya perang dengan mengoleskan semacam minyak di jidat orang dayak yang akan ikut perang tentu juga menambah keberanian dalam berperang.

Kalo udah di olesin minyak itu, suku dayak akan melihat di kepala orang madura keluar tanduk dan orang madura mengeluarkan aroma/bau seperti sapi,bagi orang dayak sapi harus di bantai (potong kepala), jadi orang madura kalah.

dan kabar2nya... suku madura masih akan melakukan balas dendam..

semoga tidak terjadi..

Praying.gif

#14 disembodied

    Bluefame Heavy Equipment Mechanic

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 357 posts
Click to view battle stats

Posted 27 October 2007 - 10:54 PM

Gw pernah tinggal di Kalimantan dan berteman dengan beberapa keturunan dayak. Pada dasarnya orang dayak itu enak dijadiin temen. Setia kawan dan sangat solider.Permasalahan sampit menurut gw adalah permasalahan dendam dayak yang merasa di singkirkan oleh madura. Gak ada yang tau siapa yang bener atau salah. Yang jelas ini aib bagi bangsa kita. Dulu waktu SD kita belajar PMP (pendidikan Moral Pancasila), dan dari dulu ditanamkan pendidikan saling menolong, gotong royong, bhineka tunggal ika, persatuan dan kesatuan dan lainnya. Tapi seiring perkembangan zaman, pendidikan yang dulu kita pelajari ga' pernah diterapin. Jangankan disampit, dijakarta atau dikota-kota di Indonesia, Membakar orang yang ketauan nyopet aja pernah dan sering terjadi,kalo ga' salah pada saat Indonesia Krisis Moneter. Jadi kesimpulan gw, kesejarteraan mempengaruhi manusia untuk menjadi binatang atau kita sudah bosan dengan yang namanya Hukum atau emang sama sekali ga'percaya dengan yang namanya hukum di Indonesia.
Gw cuma bisa berdoa, permasalahan sampit-madura bisa menjadi pelajaran bagi kita. Pemerintah harus belajar dari hal ini dan kita rakyat-nya harus bisa selektif untuk menghadapi "PROVOKASI". Ga' akan ada asap kalo ga' ada api dan ga' akan ada kerusuhan kalo ga' ada yang PROVOKASI.

BTW, gw pernah dengar waktu kerusahan sampit banyak Parang orang dayak yang terbang nyabetin kepala madura, trus dayak bisa mencium bau orang dayak. Ada yang namanya Panglima Burung, panglima air dll. Ada yang bisa lengkapin cerita mengenai ini ga'??

#15 GadisSakaw

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,276 posts
Click to view battle stats

Posted 28 October 2007 - 02:13 AM

Mengungkap Akar Kerusuhan Sampit (1)

Madura Sempat Dua Hari Kuasai Kota
Bahari, Sampit
Kerusuhan Sampit dengan korban ratusan jiwa ternyata hanya bermula
dari perkelahian siswa SMK di Baamang. Perkelahian itu melibatkan anak
warga Dayak dan Madura. Perkelahian siswa itulah, yang kemudian memicu konflik antarkeluarga, antaretnis, hingga pembantaian sampai pengusiran puluhan ribu warga Madura.
Anak polah, bapa kepradah. Pepatah Jawa yang berarti anak berbuat, orang tua
ikut terlibat ini terjadi atas diri keluarga Matayo. Warga asal Madura yang sudah lama tinggal di Baamang, Sampit, ini tak terima anaknya berkelahi dengan anak warga Dayak. Tapi, keterlibatan Matayo atas perkelahian anaknya ini malah memicu kegeraman warga dayak. Lalu, dibuatlah perhitungan. Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 (18 Februari)
sekelompok pemuda Dayak menyerang dan membunuh Matayo. Tiga orang anggota
keluarganya ikut tewas.
Itu versi warga Madura.

Versi warga Dayak agak berbeda lagi.

Mereka bilang, eksekusi terhadap Matayo dan keluarganya terjadi karena yang
bersangkutan sering melakukan tindak kriminal. Warga setempat pun jengkel karena
sering dirugikan. Hanya empat jam, eksekusi Dayak terhadap Matayo ini
menyebar. Warga Madura tak bisa menerima. Sejumlah warga pendatang ini lantas
menyatroni ++++++++ Ketua Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak,
Seruyan Tengah, untuk membalas dendam.
Lengkap dengan berbagai senjata, warga Madura ini minta +++++Iniel
menyerahkan pembunuh Matayo yang bersembunyi di rumahnya. Mereka
mengancam akan membakar kalau pelaku tidak diserahkan. Tapi, 39 orang di dalam rumah Iniel tidak keluar. Warga Madura mulai tidak sabar. Mereka melemparkan apa saja ke pagar dan kaca rumah. Bahkan, ada yang berusaha membakar rumah. Mendengar ribut-ribut, polisi datang, lalu mengamankan 39 orang yang ada di rumah Iniel. Sebagian memang mengaku membunuh Matayo. Tapi, warga Madura tidak puas dan mengarahkan amarahnya ke warga Dayak yang lain. Beberapa rumah warga Dayak dibakar. Nasib tragis dialami Jihan atau Seyan, seorang purnawirawan TNI AD. Seyan beserta ketujuh anak dan cucunya yang kabarnya masih kerabat Iniel dibakar hidup-hidup dalam rumahnya. Sejak hari itu, warga Madura menguasai Sampit.

Dengan mengacung-acungkan senjata, puluhan warga Madura pawai
keliling kota. Mereka menggunakan berbagai kendaraan, mulai roda dua sampai
roda empat.
Mereka tak hanya berpawai. Setiap bertemu warga Dayak, mereka mengejar dan
membunuhnya. Sedikitnya, sepuluh rumah dibakar. ++++++ Tujuh orang tewas
saat warga Madura menguasai Sampit. Bahkan, seorang ibu muda hamil tujuh bulan ikut dibunuh dengan dirobek perutnya. "Itu fakta," kata Bambang Sakti, tokoh muda Dayak asal
Sungai Samba.
Situasi itu membuat Sampit Minggu malam mencekam. Listrik padam total. Pembakaran di perkampungan warga di Jalan Baamang berlangsung sporadis. Pengungsi mulai membanjiri gedung pertemuan di depan rumah jabatan bupati sampit. Tapi, kemudian dialihkan ke kantor bupati. Yang mengungsi bukan hanya warga Madura. Juga Dayak dan Cina. Mereka berdesak-desakan mengungsi. Ini terjadi karena mereka belum tahu betul siapa yang menguasai jalanan di Sampit malam itu: Madura atau Dayak. Di pengungsian, Madura dan Dayak malah rukun. "Saya saat itu ikut mengungsi,&rsquo; ujar seorang wartawan lokal.
Untuk menghadang orang Dayak keluar-masuk Sampit, warga Madura melakukan penjagaan di pertigaan Desa Bajarum yang mengarah kota Kecamatan Kota Besi.
Penjagaan juga terjadi di Perenggean, Kecamatan Kuala Kuayan, dan desa-desa pedalaman Hilir Mentayan. Selama berpawai itu, warga Madura terus berteriak-teriak
mencari tokoh Dayak. "Mana Panglima Burung? Mana tokoh Dayak?" tantang mereka. Tak hanya itu, seorang tokoh Madura melakukan orasi lewat pengeras suara, "Sampit akan jadi Sampang kedua, Sampit jadi Sampang Kedua". Mereka juga memasang spanduk: Selamat datang orang Dayak di kota Sampang, Serambi Mekkah. "Spanduk itu yang kami cari sekarang," kata Bambang Sakti.

Bambang juga bilang telah menemukan sejumlah bom di rumah-rumah warga Madura. "Ini bukan isapan jempol," tuturnya. Sedikitnya, pasukan Dayak sudah menyerahkan 300 bom yang ditemukan di rumah warga Madura. Begitu juga beberapa pucuk pistol. "Tidak tahu
bagaimana tindak lanjutnya," jelasnya. Kabarnya, bom-bom itu dirakit di Jawa, lalu dikirimkan ke Sampit. Tapi, sumber Jawa Pos menyebutkan, bom rakitan dibuat di Sampit. Lalu, didistribusikan ke berbagai warga Madura dikecamatan.
Mereka bilang bom itu untuk mempertahankan diri jika sewaktu-waktu diserang
warga Dayak. Tapi, karena bom itu pula, 112 warga Madura di Kecamatann Perenggean dibantai di lapangan kecamatan. Ini setelah warga Dayak menemukan bom di rumah seorang warga Madura. Melihat aksi penguasaan warga pendatang itu, warga Dayak tak tinggal diam.

Mereka lantas membawa bala bantuan pasukan dari Dayak pedalaman. Warga Dayak yang tiba lebih dulu melakukan perlawanan sporadis. Selasa malam (20 Februari), peta kekuatan mulai berbalik. Warga Dayak pedalaman dari berbagai lokasi daerah aliran sungai (DAS) Mentaya,seperti Seruyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan Barito berdatangan ke kota Sampit melalui hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan. Pasukan
Dayak pedalaman yang rata-rata berusia muda tak lebih 25 tahun membekali
diri dengan berbagai ilmu kebal. Jumlahnya sekitar sekitar 320 orang. Pasukan itu lalu menyusup ke daerah Baamang dan sekitarnya, pusat permukiman warga Madura. Meski dalam jumlah kecil, kemampuan bertempur pasukan khusus Dayak sangat teruji. Buktinya, mereka mampu memukul balik warga Madura yang terkosentrasi di berbagai sudut jalan Sampit. Dengan ilmu kebal, mereka melawan ribuan warga Madura. Bahkan, mereka sanggup menghadapi bom yang banyak digunakan warga Madura. Dalam bentrok terbuka, seorang warga Madura melemparkan bom ke arah pasukan Dayak. Tapi, bom dapat ditangkap dan dilemparkan kembali ke arah kerumunan Madura. Meledak. Puluhan warga Madura tewas seketika. Selain kebal senjata, pasukan Dayak pedalaman tidak mempan ditembak. Mereka justru memunguti peluru untuk dikantongi. Karena itu, polisi juga keder.
Sejak itu, mental Madura pun langsung down. Strategi yang diterapkan warga Dayak dalam serangan balik cukup jitu. Selain masuk lewat Baamang, sekitar empat perahu penuh pasukan dayak tidak langsung merapat ke bibir sungai. Mereka berhenti di seberang sungai Mentaya. Baru berenang menuju kota pinggir sungai di tepian kota Sampit. Strategi ini untuk menghindari
> >>> pengawasan orang Madura. Lantas, secara tiba-tiba, mereka muncul dan
> >>> menyerang permukiman Madura.
> >>> Madura pun dibuat kocar-kacir. Pasukan Dayak pedalaman terus bergerak
> ke
> >>> kantong-kantong tokoh Madura. Seperti, Jalan Baamang III, Simpong atau
> >>> dikenal Jalan Gatot Subroto, dan S. Parman. Rumah tokoh Ikatan
Keluarga
> >>> Madura (Ikama) Haji Marlinggi yang cukup megah di Jalan DI Panjaitan
> tak
> >>> luput dari sasaran. Banyak pengawal penguasa Pelabuhan Sampit itu yang
> >>> terbunuh. Sebagian lari. Sejumlah becak bekas dibakar berserakan di
> >>halaman
> >>> rumah yang hancur.
> >>> Rumah tokoh Madura lain seperti Haji Satiman dan Haji Ismail juga
> >>> dihancurkan. Tidak terkecuali rumah Mat Nabi yang dikenal sebagai
> jagonya
> >>> Sampit. Padahal, rumah tokoh-tokoh Madura yang berada di Sampit,
> Samuda,
> >>> maupun Palangkaraya tergolong cukup mewah. Serangan pasukan inti Dayak
> >>> kemudian diikuti warga Dayak lain. Mereka mencari rumah dan warga di
> >>> sepanjang kota Sampit. Ratusan warga Madura dibunuh secara
mengenaskan,
> >>lalu
> >>> dipenggal kepalanya.
> >>> Hari-hari berikutnya gelombang serangan suku Dayak terus berdatangan.
> >>> Bahkan, sebelum menyerang, seorang tokoh atau panglima Dayak lebih
dulu
> >>> membekali ilmu kebal kepada pasukannya. Karena itu, saat melakukan
> >>> serangan, biasanya mereka berada dalam alam bawah sadar.
> >>> Uniknya, mereka juga dibekali indera penciuman tajam untuk membedakan
> >>orang
> >>> Madura dan non-Madura. "Dari jarak sekitar 200 meter, baunya sudah
> >>tercium,"
> >>> ++++ ujar
> >>> Itu tak berlebihan. Saat ada evakuasi, di tengah jalan seorang warga
> >>Madura
> >>> disusupkan. Dia dikelilingi warga non-Madura. Sebelum masuk ke loksi
> >>> penampungan, mereka kena sweeping Dayak. Meski orang itu
> >>> ada di tengah pengungsi, masih juga tercium dan disuruh turun. Tanpa
> >>ampun,
> >>> laki-laki tadi dibantai.
> >>> Agar serangan ke perkampungan Madura terkendali, para komando warga
> Dayak
> >>> menggunakan Hotel Rama sebagai pusat komando penyerangan. Bahkan, di
> >hotel
> >>> itulah pasukan diberi ramuan ilmu kekebalan oleh para panglima. Saat
> >>> digerebek, aparat menemukan beberapa kepala manusia. Tapi, para
> tokohnya
> >>> sempat meloloskan diri. Kini, di depan hotel bertingkat dua itu
> >>dibentangkan
> >>> police line.
> >>> Berada di atas angin, pasukan Dayak lalu melebarkan serangan ke
> berbagai
> >>> kota Kecamatan Kotawaringin Timur. Sasaran pertama, Samuda, ibu kota
> >>> Kecamatann Mentaya Hilir Selatan, dan Parebok yang banyak dihuni warga
> >>> Madura. Samuda dan Parebok jadi sasaran setelah Sampit karena banyak
> >tokoh
> >>> Madura tinggal di daerah itu. Di Parebok juga ada Ponpes Libasu Taqwa.
> >>> Ponpes yang diasuh Haji Mat Lurah ini juga dijadikan tempat berlindung
> >>> banyak warga Madura.
> >>> Warga Madura di kecamatan lain pun tidak lepas dari buruan. Misalnya,
> >>Kuala
> >>> Kuayan. Ratusan korban jatuh dengan kepala terpenggal. Kini, warga
> Dayak
> >>> praktis menguasai hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Kecuali
> >>> Pangkalan Bun. Kota ini aman karena hampir tak ada warga Madura yang
> >>tingga
> >>> di semua kota kecamatan. Penghuninya, saat itu, banyak yang lari
> >>> menyelamatkan diri ke hutan, +++++ baik Palangkaraya, Sampit, maupun
> >>Samuda.
> >>> ..........
> >>>
> >>> (sampai di sini dulu, lanjutnya besok)
> >>>
> >>> +++++++++++++++++++
> >>> Sebenarnya, jauh sebelum kasus Sampit mencuat, sekitar 118 kilometer
ke
> >>arah
> >>> Palangkaraya, tepatnya di Desa Kerengpangi, Kecamatan Katingan Hilir
> >>terjadi
> >>> pembantaian tokoh pemuda Dayak setempat. Namanya, Sendung. Tepatnya,
di
> >>> lokalisasi WTS Kerengpangi.
> >>> Pada dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB (16 Desember 2000). Sendung
> >datang
> >>> ke lokasi perjudian. Saat itu ,ada tiga warga Madura Mat Sura, Kacung
> dan
> >>> Mat Suki sedang main judi dadu gurak.
> >>> Sebenarnya, antara Sendung dan ketiga warga Madura itu sudah saling
> >kenal.
> >>> Sendung dikenal sebagai tokoh pemuda Dayak yang disegani. Sedangkan
> tiga
> >>> Madura tadi dikenal sebagai penguasa lokalisasi.
> >>> Tiba-tiba, tangan Sendung menyenggol badan Mat Sura. Entah dipengaruhi
> >>> minuman atau balas dendam, Mat Sura tidak terima. Cekcok lantas tak
> bisa
> >>> dihindari. Emil, pemuda Dayak, saat itu berusaha melerai. Tapi, tak
> >>> dihiraukan. Mereka tetap saja cek cok. Kacung, salah satu teman Mat
> Sura
> >>> pulang ke rumah sekitar 75 meter dari lokasi semula untuk mengambil
> >>celurit.
> >>> Begitu sampai, tanpa ba bi bu lagi, Kacung membacokan ke tubuh
Sendung.
> >>> Sendung yang juga dikenal jagoan berusaha melawan. Tapi, karena
> >>> dikoroyok, Sendung pun tersungkur dengan tiga luka bacok. Dada, leher
> dan
> >>> perut. Sedangkan warga sekitarnya takut melerai. Versi keluarga
Sendung
> >>> berbeda. Kepada Jawa Pos, diceritakan bahwa saat itu, Sendung dijemput
> >>> beberapa orang ke lokalisasi. Kabarnya, ada judi. Sendung yang selama
> ini
> >>> getol melarang perjudian dadu gurak di wilayahnya datang. Tapi, Dewi,
> >>istri
> >>> Sendung sudah membaca sepertinya ada rekayasa penciptaan suasana agar
> ada
> >>> bentrokan. "Makanya, begitu warga Madura tersenggol langsung cek cok,"
> >>jelas
> >>> salah satu keluarga Sendung.
> >>> Esoknya, warga Dayak geger. Mereka pun ramai-ramai mencari tiga warga
> >>Madura
> >>> yang membunuh Sendung. Tapi, ketiganya sudah lolos. Untuk melampiaskan
> >>> kekesalnya, warga dayak membakari rumah karaoke, tempat perjudian,
> warung
> >>> makan dan rumah. Saat itu, ada sekitar 16 rumah ludes dilalap api.
> >>> Lokalisasi itu sebetulnya milik Akong. Namun, pengelolaannya
> sehari-hari
> >>> dipercayakan kepada tiga warga Madura tesebut. Kini, Akong melarikan
> diri
> >>> setelah terjadi insiden itu. Warga makin dongkol karena polisi
> >sepertinya
> >>> membiarkan pelakunya lolos. Bahkan, mereka mendengar kabar kalau sudah
> >>kabur
> >>> ke Pulau Madura. Kedongkolan warga Dayak makin memuncak karena itu
> bukan
> >>> kasus yang pertama.
> >>> Setiap kali, ada warga Madura membunuh warga Dayak selalu lolos dan
> lari
> >>ke
> >>> Madura. Kalau pun masuk bui tidak lama. Kawan atau keluarganya bisa
> >>menebus.
> >>> "Makanya, kekesalan warga Dayak sudah memuncak," kata tokoh Dayak
> Sabran
> >>> Akhmad kepada Jawa Pos.
> >>> Kerengpanggi sebenarnya hanya dusun kecil di tepi jalan raya Tjilik
> >Riwut,
> >>> Palangkaraya Sampit. Tepatnya, di kilometer 99 jalan Cilik Riwut.
Tapi,
> >>> setelah ditemukan tambang emas sekitar tahun 1980-an,
> >>> dusun yang sepi mulai menggeliat. Warga luar berdatangan mendulang
> emas.
> >>> Tidak terkecuali warga
> >>> Madura. Apalagi, sekitar tahun 1996 Sjamsul Nursalim lewat PT Ampahit
> Mas
> >>> Perdana membuka pendulangan emas secara besar-besran.
> >>> Dusun yang semula tenang menjadi ramai dengan hadirnya pasar, toko,
> >>karaoke,
> >>> mini market, bar, yang dilengkapi lokalisasi WTS. Seiring bertambahnya
> >>warga
> >>> yang mendulung emas, angka kriminalitas makin meningkat. Tiada hari
> >tanpa
> >>> perkelahian. Umumnya melibatkan warga Dayak dan Madura. Bahkan,
> >>Perengpangi
> >>> biasa disebut Texas-nya Kalteng. Pencurian, perkelahian, perampokan,
> >>> perebutan tanah adalah hal bisa di Krengpangi.
> >>> Terhadap kenyataan itu, aparat keamanan seakan tak berdaya. Jarang
> warga
> >>> Madura yang ditangkap akibat tindak kriminalnya. "Kekesalan itu
menjadi
> >>> terakumulasi hingga menimbulkan dendam kesumat bagi warga Dayak,"
> tandas
> >>> Sabran.
> >>> Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini
> >>sebagai
> >>> Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah
> >>> (KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang
> >>> merugikan harta dan nyawa orang Dayak.
> >>> Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian.
> Tapi,
> >>> setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. "Paling
> >>tidak
> >>> sudah ada 15 kali perdamaian. Tapi, hasilnya sama
> >>> selalu dilanggar warga Madura," kata Usop saat pertemuan tokoh
> masyarakat
> >>> Dayak dengan DPRD Kalteng. Bahkan, saat pembuatan jalan
> >>> Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit
> >Batu
> >>> tahun 1983. Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh
> >>Dayak
> >>> dengan tokoh Madura. Ada satu poin penting dalam perjanjian itu.
> Yakni,
> >>> Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika
> >>> melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali
> ada
> >>> pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak
> >>berdatangan
> >>> ke Kalimantan. "Dokumen itu yanh kini sedang kami cari," tambha Usop.
> >>> Tragedi pertumpahan darah di Kalimantan terjadi tahun 1967, pasca G 30
> >>> S/PKI. Tragedi itu tak lepas dari ekor G 30 SPKI. Saat itu
pemerintahan
> >>> Soeharto menuduh Cina di Kalimantan Barat adalah komunis.
> >>> Untuk mengenyahkan Cina komunis, Soeharto menggunakan salah satu etnis
> >>Dayak
> >>> untuk membunuh Cina yang komunis dan pendukung Pasukan Gerilyawan
> Serawak
> >>> (PGRS). Korban pun berjatuhan sebanyak 300 orang. Selebihnya, ratusan
> >ribu
> >>> Cina diungsikan. Setelah itu, bentrokan Dayak tidak dengan Cina, tapi
> >>dengan
> >>> Madura. Dayak menuding perilaku warga Madura tak terpuji. Suka
> kekerasan,
> >>> dan sering melakukan tindakan kriminal yang banyak merugikan warga
> Dayak.
> >>> Bentrokan kecil dan besar antara dayak dan Madura di Kalimantan Tengah
> >>sejak
> >>> 1983 sudah terhitung 15 kali. Tapi, selalu berakhir perdamaian.
Sebelum
> >>> kasus Kerengpangi dan Sampit, bentrokan besar terjadi tahun 1996 dan
> 1997
> >>di
> >>> Sangauleudo di Kalbar maupun Sambas. Dimana dua warga dayak ditusuk
> >>sam,pai
> >>> tewas oarang Madura. Kerusuhan pun pecah, sedikitnya 1000 korban
tewas.
> >>Dan
> >>> sebnayka 2000 warga Madura diungsikan. (bh)
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> 'Kuluk,... Kuluk,... Kuluk...',
> >>> Esoknya Semua Tanpa Kepala
> >>>
> >>>
> >>>
> >>> BOHONG, kalau Gubernur Kalteng Asnawi Agani mengatakan orang Madura
> yang
> >>> tewas 200 orang, meskipun itu informasi yang datang dari Posko Sampit.
> >Hal
> >>> ini dikatakan sejumlah orang Madura yang ikut naik KRI Teluk Ende 517.
> >>Dalam
> >>> pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa
> >melihat
> >>> puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah
bangunan
> >>> rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya
> >>yang
> >>> hangus.
> >>> Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT
> >>Sempagan
> >>> Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada
> >puluhan
> >>> yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan
> >>> tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. "Ini baru yang di sungai,
> >>belum
> >>> yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak
> kurang
> >>> dari 200 mayat," katanya.
> >>> Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat
yang
> >>> bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan
> batu
> >>> koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk
> >dimakamkan,
> >>> kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari
> >>kejaran
> >>> dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur.
> >>> Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi
> membedakan
> >>> siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura,
tapi
> >>kini
> >>> semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya
> >ditebas
> >>> lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong.
> >>> Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya
> >>lagi.
> >>> Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan
> senjatanya
> >>> disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan
> >>tidak
> >>> ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun
> >>> tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali
> >>> dengan suara kuluk,... kuluk,... kuluk,... sebentar kemudian pasukan
> >Dayak
> >>> muncul dan membunuhi warga Madura.
> >>> Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh.
> >>> Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara
> >>> kuluk..., kuluk..., sambung-menyambung muncul dari segala penjuru.
> >Esoknya
> >>> warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi.
> >>> Parebuk
> >>> Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56),
warga
> >>yang
> >>> banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada
> di
> >>> sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. "Saat ini di
> sana
> >>> yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak," kata Sopian.
> >>> Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai
> >>mengatakan,
> >>> dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup
> >>> lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat
beberapa
> >>> warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang
> >>tewas
> >>> melawan Dayak di Semuda. "Kalau masih hidup seharusnya perjalanan
> mereka
> >>> tidak lebih dari satu atau dua hari saja," kata Sopian.
> >>> Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku
masih
> >>> dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp
> >pengungsian
> >>> di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga
> >>> Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah
> >>> ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi.
> >>> Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan
> >>> geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi
> >orang
> >>> Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman.
> >>> Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang
> >Tengah
> >>> semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi
> >>kantor
> >>> Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50
> >Dayak,
> >>> Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong
> >tapi
> >>> justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ.
> >>> Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang
> >>Polsek
> >>> ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300
m
> >>> sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia
> >>> menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia
> pun
> >>> bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya.
> >>> Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada
peristiwa
> >>yang
> >>> sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit.
Sebanyak
> 4
> >>> truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas
> >>dengan
> >>> mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2,
> akhirnya
> >>> dibantai habis. Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan
> >Dayak,
> >>> orang Madura disuruh turun dan dibantai. "Jika tiap truk berisi 50
> >>pengungsi
> >>> berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai," kata Choiri.
> >>> Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak-anak.
> >Begitu
> >>> jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa,
> >>> justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh
> >>Brimob
> >>> dari Jakarta.
> >>> Liar
> >>> Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal
di
> >>Jl.
> >>> Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini
> >>ikut
> >>> pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya,
> >mengapa
> >>> orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang.
> >>> Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang
> >>Madura.
> >>> Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan
> atau
> >>> mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia
disuruh
> >>> minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya
> diolesi
> >>> dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud
> >>anjing
> >>> dan akhirnya harus diburu dan dibunuh.
> >>> Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini
> >>menurut
> >>> Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga
> >>> mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka
> >>> kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah
> >panglima
> >>> perang suku Dayak. (R Dewanto Nusantoro)

#16 GadisSakaw

    BlueFame Typer

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 1,276 posts
Click to view battle stats

Posted 28 October 2007 - 02:19 AM

Berita di atas menurut sumber dari jawa pos. maap tidak semuanya sempat gw edit jadi byk tanda >>>, cape ngeditnya nih. hihi

Sebagian klo dibaca keknya dayak sakti bgt ya, ama pasukan khususnya Prabowo menang ga tuh?

N gw pikir ini mirip bgt ama kerusuhan JKT. ga jelas siapa, kenapa, n ga ada penjelasan sampe sekarang. Saksi2pun udah terlalu takut, atau enggan mengingat, menceritakan kembali awal tragedi, penyebab ataupun situasi saat itu.

#17 OracleGate

    BlueFame Hotter

  • Elite Member
  • 428 posts
Click to view battle stats

Posted 28 October 2007 - 11:04 AM

yang jelas dikalimantan tengah,suku madura populasi nya sudah bisa dihitung dengan jari tuh.

#18 tomy_doank

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 58 posts
Click to view battle stats

Posted 29 October 2007 - 01:48 PM

Baru saja kita memperingati hari SUMPAH PEMUDA
Negara kita berbeda-beda tapi tetap SATU

Mengapa kita tidak dapat mensosialisasikan hal tersebut dalam kehidupan berbangsa kita???
Jangan karna kita berrbeda suku, agama..
lalu muncul permusuhan, pertikaian, apalagi pertumpahan darah
KITA SAUDARA

Mari berfikir dan bertindak dengnan kepala dingin.
Jangan biakan provokator bergembira dengan retaknya persaudaaan kita

AYO TEMAN..... SAUDARA ku...
BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH BigGrin.gif
peace

#19 jaka_horny

    Youth BlueFame

  • Members
  • PipPipPip
  • 207 posts
Click to view battle stats

Posted 01 November 2007 - 05:49 PM

udah, parah nih malah ribut di forum!!!

kayaknya bukan buat itu forum ini dibuat.....



buat bro @iphexxx, harap besar hati karena emang kenyataannya dayak "dijajah" ama madura.... cuman ini pelajaran juga buat semua pihak, apa pun sukunya....

Yang pendatang hormat dan tau diri sedangkan yang pribumi jangan malas, mentang2 di tanah sendiri...


saya juga pernah berpikir seperti bro @aquagelas, ketika saya memandang etnis cina, saya juga senang ketika dulu mereka dibantai...


tapi sekarang saya udah sadar, kalo itu smua gak ada gunanya, mending kompetisi secara sehat dan adil....

nb: setelah sadar, ane sempet punya cewek chinese loh... Tounge.gif


peace all... smile.gif

#20 OracleGate

    BlueFame Hotter

  • Elite Member
  • 428 posts
Click to view battle stats

Posted 07 November 2007 - 08:54 AM

aqua gelas,gw juga Orang dayak asli,kakek gw orang dayak Kahayan dan mami gw orang Dayak Ma'nyan , gw sependapat dan sehati ama lo!! gw juga mw memperingkatkan,kalo ada pendatang yang mw kasuk kalteng jangan lupa pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. jangan pernah berani menginjak2 suku Pribumi,suku pemilik asli kalimantan. orang dayak orang yang ramah,namun tak akan mentolerir semua pendatang yang menginjak2 harga diri suku kami,cukup tragedi sampit terjadi sekali saja. Peace.

OracleGate





BlueFame.Com A Blue Alternative Community for Peace, Love, Friendship, and Cyber Solidarity © 2006 - 2011
All Rights Reserved Unless Otherwise Specified

BlueFame Part Division
BlueFameStyle | BlueFame Upload | BlueFame Radio | BlueFameMail | Advertise here!

BlueFame DMCA Policy